Tampilkan postingan dengan label Zuhud. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zuhud. Tampilkan semua postingan

Ikhlas dan Perjalanan Hati — Tentang Melepaskan, Bertumbuh, dan Mencintai Tanpa Syarat


Ikhlas dan Perjalanan Hati — Tentang Melepaskan, Bertumbuh, dan Mencintai Tanpa Syarat

Ada perjalanan yang tidak ditulis oleh langkah kaki, melainkan oleh getar hati yang perlahan belajar menerima hidup apa adanya. Ikhlas dan Perjalanan Hati adalah kisah tentang bagaimana manusia pulih — bukan dengan melupakan, tapi dengan memahami setiap luka sebagai bagian dari cinta yang lebih luas.

Dalam rangkaian lima seri puitis-romantis ini, pembaca diajak menelusuri jalan sunyi menuju kedewasaan rasa. Dari titik di mana kita belajar melepaskan tanpa kehilangan diri, menatap kehilangan tanpa tenggelam, hingga menemukan keberanian untuk mencintai lagi setelah hati remuk oleh waktu. Semua berjalan lembut, seperti aliran sungai yang tidak pernah tergesa namun selalu sampai di laut.

Ikhlas digambarkan bukan sebagai pasrah tanpa daya, melainkan kebijaksanaan batin yang tumbuh dari pengalaman. Ia adalah kemampuan untuk memeluk yang pernah menyakitkan tanpa membenci, untuk mencintai tanpa menggenggam, dan untuk berdiri tegak meski dunia tidak selalu memihak. Setiap seri membuka pintu makna baru—tentang kesendirian yang menenangkan, tentang cinta yang memberi ruang, tentang keberanian yang tumbuh dari kesabaran.

Luka dan kehilangan tidak lagi dilihat sebagai kutukan, tapi sebagai guru yang lembut. Dari keduanya, kita belajar membangun rumah di dalam diri sendiri—tempat hati bisa pulang kapan pun tanpa takut kehilangan arah. Di sanalah kita mengerti bahwa cinta sejati tidak mengikat, tapi menguatkan; tidak menuntut balasan, tapi menyalakan cahaya agar kita tetap mampu berjalan.

Serial ini bukan hanya tentang cinta romantis, melainkan juga tentang hubungan kita dengan hidup, dengan waktu, dan dengan diri sendiri. Ia mengajarkan keseimbangan antara memberi dan menjaga batas, antara pasrah dan berjuang, antara menerima dan berani memulai lagi. Setiap halaman terasa seperti cermin: kadang jujur hingga membuat kita menunduk, kadang lembut hingga membuat kita tersenyum di tengah perih.

Dan pada akhirnya, Ikhlas dan Perjalanan Hati mengingatkan kita bahwa keindahan sejati tidak terletak pada akhir yang sempurna, tetapi pada keberanian untuk tetap mencintai meski pernah patah. Bahwa di balik setiap luka, selalu ada cahaya kecil yang menuntun kita pulang — ke diri sendiri, ke cinta yang tulus, ke harapan yang tidak pernah benar-benar padam. 


Disarikan dari: Jingganews.com


READ MORE - Ikhlas dan Perjalanan Hati — Tentang Melepaskan, Bertumbuh, dan Mencintai Tanpa Syarat

Islam Hanya Akan Takluk Apabila Kaum Muslim Telah Cinta Dunia dan Takut Mati


Sekitar tahun 1989 kita mengenal televisi swasta pertama yaitu RCTI, stasiun televisi swasta yang dikenal luas dimiliki oleh anggota Keluarga Cendana. Demikian pula sekitar tahun 1990, muncul SCTV, tahun 1991 muncul TPI dan terus bermunculan Indosiar dan ANTV. Kehadiran mereka sedikit banyak menyajikan tayangan alternatif yang sesuai dengan selera masyarakat. Namun pembatasan mengenai apa yang boleh dan yang tak boleh ditayangkan masih terasa. Program diskusi yang mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah masih sangat kurang –untuk tidak mengatakan tidak ada.

Revolusi 1998 yang melengserkan simbol Orde Baru yaitu Soeharto (lahir tahun 1921) dari jabatannya sebagai Presiden kedua Republik Indonesia, mengubah banyak hal. Berbagai hal-hal yang sekian lama dinilai tabu dibahas pada periode kekuasaannya begitu cepat diungkap atau disebar luas, semisal berbagai praktek pelanggaran HAM dan praktek KKN. Gairah masyarakat untuk lebih berpartisipasi menentukan nasib bangsa dan negara –yang tentu terkait dengan nasib mereka sendiri– seakan mendapat “angin surga”. Para pejabat dan aparat –baik sipil dan militer– yang sekian lama cenderung dinilai sewenang-wenang sempat terpojok dan menjadi obyek sikap kritis masyarakat, terutama LSM.

Angin surga kebebasan tersebut merambah pula ke dalam dunia pertelevisian kita. Program-program yang disajikan lebih bervariasi dan “berani”. Beberapa stasiun televisi baru muncul.

Namun perkara berani atau bervariasi agaknya makin lama makin melampaui batas, kian jauh dan menyimpang dari ukuran yang patut. Penulis menilai bahwa betapapun variatifnya acara televisi, program-program yang disajikan agaknya dapat dibagi dalam beberapa kelompok semisal telenovela, film India, sinetron, musik dangdut dan tayangan misteri. Acara-acara demikian nyaris ada pada setiap stasiun. Seiring perjalanan waktu, mulai ada yang mengkritisi hal demikian.

Sebagai contoh, kita simak tayangan musik dangdut dan misteri. Jika kita mencermatinya, nyatalah bahwa penampilan para artis dangdut makin lama makin berani dalam arti pamer aurat dan gerak-geriknya cenderung erotis. Pada umumnya mereka adalah generasi muda. Penampilan tersebut sempat menimbulkan keprihatinan para seniornya. Para senior merasa telah bersusah payah mengangkat martabat musik dangdut dari musik yang dinilai pinggiran atau kampungan menuju level terhormat di pentas nasional, bahkan internasional. Penampilan seronok para artis muda tersebut dinilai dapat menjerumuskan musik dangdut hingga menjadi musik comberan.

Mengenai tayangan misteri, ini tak terlepas dari peradaban kita (Timur) yang meyakini sesuatu yang ghaib. Ini mungkin dapat difahami, bahwa perkara ghaib sangat terkait dengan agama yang memang lahir di Timur semisal Hindu, Budha, Konghucu, Nasrani dan Islam. Bahkan sebelum ada agama, manusia –terutama di Timur– meyakini bahwa di balik segala yang tertangkap panca indera juga terdapat alam yang misteri, yaitu alam yang terdapat kekuatan atau kuasa besar mengatur segala yang ada –yang lazim disebut Tuhan atau Dewa/i, ruh, setan atau hantu. Kepercayaan itulah yang agaknya dieksploitasi habis-habisan oleh (setiap) stasiun TV. Bahkan untuk pembuktian alam ghaib, beberapa orang bersedia menjadi peserta “survey” dengan istilah seperti “uji nyali” dan lain - lain. Si peserta ditinggal sendirian di tempat yang dinilai angker pada malam hari, umumnya berakhir jam 05.00.

Dalam konteks Indonesia yang notabene mayoritas Muslim, tak pelak bahwa tayangan tersebut merusak mental masyarakat. Masyarakat seakan dituntun untuk percaya alam ghaib melenceng dari batasan yang ditetapkan agama Islam –lazim disebut syirik– dan umbar aurat. Tayangan tersebut boleh dibilang menguntungkan stasiun bersangkutan ditinjau dari banyak iklan yang menghiasi acara tersebut, perkara dampak terhadap masyarakat itu soal lain. Serahkan saja pada diri masing-masing penonton.

Bagi yang cermat menyimak, tayangan yang dinilai merusak mental masyarakat adalah hasil dari peradaban kapitalisasi global yang berfokus mencari untung (materi) belaka tanpa peduli dampak moralnya. Jika menyebut kapitalis, hampir pasti bahwa yang teringat adalah dunia Barat. Bahkan ada yang menilai bahwa tayangan yang disajikan kepada masyarakat Indonesia bukan sekadar mencari untung, tapi terselip suatu misi tertentu yaitu penjajahan budaya atau norma atau pernah penulis baca dengan istilah penetrasi budaya. Memang penetrasi di bidang budaya merupakan bagian dari imperialisme Barat selain dominasi di bidang politik dan eksploitasi di bidang ekonomi. Walaupun cara dan wujudnya mungkin berbeda sesuai dengan perjalanan zaman namun dasarnya tetap sama.

Untuk menghadapi penjajahan model itu, bukanlah dengan cara militer yang didukung persenjataan paling canggih, karena norma adalah sesuatu yang abstrak tetapi hidup atau ada di masyarakat. Maka harus dihadapi dengan cara yang abstrak pula.

Sejauh ini agama adalah cara yang tepat untuk menangkal dampak merusak dari tayangan TV, baik diberikan di rumah/keluarga –dan ini yang paling dasar– juga diberikan di lembaga pendidikan. Dinilai sebagai cara yang tepat karena agama memiliki serangkaian hukum atau moral yang bila dilanggar akan menemui akibat yang lazim disebut dosa, semacam noda atau cacat yang harus dibereskan oleh hukuman dalam tempat yang sering digambarkan secara mengerikan yang lazim disebut neraka.

Dalam ghaib, Tuhan menjelaskan bahwa yang pertama dan utama ghaib adalah Tuhan itu sendiri. Manusia dituntut percaya ghaib dengan mendahulukan percaya kepada Tuhan, Dzat yang Maha Ghaib. Dengan kepercayaan dasar demikian manusia diarahkan percaya bahwa Tuhan mampu menciptakan makhluk ghaib.

Untuk menutup kemungkinan manusia memperlakukan perkara ghaib melenceng dari batasan yang ditetapkan-Nya, Tuhan menjelaskan bahwa makhluk ghaib juga dibebani kewajiban mengabdi kepada Tuhan dan segala perilakunya juga dimintai pertanggung jawaban, sama halnya dengan manusia. Setahu penulis, antara makhluk ghaib dan manusia diizinkan saling berhubungan dalam lingkup tauhid, bukan syirik.

Mengenai seni, agama menjelaskan bahwa Tuhan adalah Maha Pencipta. Tentu saja mampu menciptakan yang indah-indah semisal hutan hijau, langit cerah serta sungai yang bagai berlenggak-lenggok. Manusia hanya meniru ciptaan tersebut dengan menyimak alam sekitar. Manusia diizinkan mengungkapkan rasa indahnya dengan tujuan makin mencintai sumber keindahan yaitu Tuhan sendiri. Mengumbar gerakan dan pakaian seronok tentunya tidak termasuk yang mendapat izin Tuhan.

Tetapi maksud akhir agama bukanlah untuk menuntun orang menggembirakan dengan surga dan menakuti dengan neraka, tetapi menuntun manusia untuk hidup dan mati sesuai kehendak Tuhan sebagai rasa syukur terhadap nikmat yang diberikan kepada kita, termasuk nikmat hiburan. Dan hal tersebut memiliki peluang berguna menyikapi berbagai tayangan TV yang telah merambah ruang privat kita yaitu kamar tidur atau (mungkin) WC kita.

Kaum Muslim jelas mendapat tanggung jawab berat menyelamatkan Indonesia dari dekadensi moral karena mayoritas penonton adalah kaum Muslim pula. Sikap kritis terhadap tayangan TV perlu ditampilkan, bagaimanapun orang membuat stasiun TV dan menyusun acaranya tidak terlepas dari perhitungan dagang, jika bicara soal dagang orang cenderung lebih mengutamakan untung –tentu dalam arti materi– tanpa atau sedikit mempedulikan dampak moral. Sadar atau tidak sadar para pemilik modal melaksanakan agenda imperialis. Gerakan imperialis menetapkan bahwa penjajahan dapat dilaksanakan melalui media elektronik –hampir pasti menjadikan kaum Muslim sebagai target utama, di Indonesia telah tersedia para anteknya yang siap melaksanakan program tersebut. 

Kegagalan imperialis Barat dalam perang salib (1095-1291) disimak dengan cermat. Kaum Muslim sulit dijajah kalau imannya belum diperlemah atau moralnya belum dirusak. Media elektronik dapat berperan ampuh menyebarkan faham yang mengagungkan nikmat lahir atau duniawi, yang lazim disebut hedonisme. Tepat peringatan Muhammad menjelang akhir hayat bahwa kaum Muslim akan takluk karena cinta dunia dan takut mati. Dua perasaan itulah yang menjadi target bidik untuk di tumbuh-kembangkan oleh imperialis Barat.
Koleksi buku Indraganie

READ MORE - Islam Hanya Akan Takluk Apabila Kaum Muslim Telah Cinta Dunia dan Takut Mati

“La ilaha illa l-lah”, Tidak Ada Tuhan Selain Allah


Konsep pokok yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw adalah “La ilaha illa l-lah”, tidak ada tuhan selain Allah. Jadi, yang pertama sekali di ajarkan Nabi Muhammad Saw adalah negasi, yaitu ‘tidak ada tuhan’, tidak ada yang menjadi tujuan akhir. Negasi ini penting sekali dalam perjalanan hidup ini. Tanpa negasi, manusia akan terbelenggu oleh berbagai ilah, atau tuhan - tuhan yang sudah menjadi kepercayaan masyarakat. Selanjutnya, harus dilakukan ‘peneguhan’ atau konfirmasi, bahwa tujuan manusia adalah Allah. Tidak mungkin hidup tanpa tujuan! Dan satu - satunya tujuan adalah “Yang Maha Benar”, yaitu Allah. Yang Maha Benar tentunya cuma satu. Dia-lah Allah atau Tuhan [tuhan dengan ‘T’ besar dalam ejaan bahasa Indonesia].

Dalam berpikir pun harus didahului oleh ‘negasi’, agar kita dapat menemukan yang benar. Yaitu, kita harus berpikir yang bebas dari takhyul. Bila hidup kita masih terbelenggu takhyul maka kita tak akan dapat menemukan kebenaran. Nah, dari tahapan berpikir, pada pelajaran zuhud yang terakhir, kita sudah sampai ditangga ‘penalaran’. Dan setiap kali kita menapaki tangga ini harus berpegangan pada ‘zikir kepada Allah’ atau dzikru l-lah. Jadi, berpikir dan berzikir itu seperti ‘tangga’. Anak tangganya adalah berpikir, dan ibu tangganya yang menjadi pegangan ketika menaiki anak tangga adalah berzikir. Ini penting sekali diperhatikan! Sebab, setiap kali kita menggunakan pikiran, bisikan takhyul itu datang.

Lho, dari mana takhyul itu datang jika kita berpegang teguh pada asas pikiran? Tentu saja dari dorongan emosi kita, dari batin kita, yang disebut “hawa” dalam bahasa Arab, dan diindonesiakan menjadi ‘hawa nafsu’. Hawa nafsu adalah dorongan batin yang sangat kuat untuk bertindak tanpa dilandasi pikiran. Sedangkan ‘nafsu’ adalah dorongan untuk meredakan ketegangan dalam diri.

Hal ini penting untuk diketahui agar kita bisa memahami arti masing - masing. HS [sexual intercourse] adalah nafsu. Tetapi jika tindakan HS itu tanpa dilandasi kebenaran [just do it], maka tindakan HS tersebut berarti hanya untuk memenuhi hawa nafsu. Salah satu makna ‘hawa’ adalah jatuh. Maka orang yang memenuhi hawa nafsunya berarti mendorong jatuh dirinya. Banyak orang yang berbuat dengan memperturutkan hawa nafsunya. Dan hal ini di dalam Al Quran disebut perbuatan syirik atau musyrik [orangnya].

Nah, mari kita perhatikan ayat - ayat yang berkaitan dengan hawa nafsu [baik ayat utuh maupun hanya bagian ayat yang dikutip].
4:135 Hai orang - orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar - benar menegakkan keadilan, menjadi syuhada’-nya meskipun terhadap dirimu sendiri, ibu - bapakmu, atau kerabatmu; baik ia kaya atau miskin. Allah lebih [mempunyai hak] atas mereka. Maka janganlah mengikuti hawa nafsu sehingga kamu berlaku tidak adil.
38:26 “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan engkau khalifah di bumi. Maka berikan keputusan yang benar di antara manusia, dan jangan engkau mengikuti hawa nafsu; karena hawa nafsu itu menyesatkan engkau dari jalan Allah. Barangsiapa yang menyimpang dari jalan Allah niscaya akan tertimpa azab yang keras. Mereka sesungguhnya telah melupakan hari perhitungan.”

7:175 Dan bacakan kepada mereka tentang orang - orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat - ayat Kami. Lalu, mereka menarik diri dari [ayat] itu. Kemudian, setan mengikutinya sehingga ia tersesat.

7:176 Dan bila Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan dia dengan [ayat] itu. Tetapi, dia ingin menetap di bumi, dan memperturutkan hawa nafsunya. Perumpamaannya bagaikan anjing, engkau halau atau biarkan, tetap menjulurkan lidahnya. Inilah perumpamaan orang yang mendustakan ayat - ayat Kami. Sampaikan kisah ini untuk mendorong mereka mau berpikir.

18:28 ... Dan jangan engkau mengikuti orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari berzikir kepada Kami, dan dia [cuma] mengikuti hawa nafsunya, dan selalu melampaui batas dalam urusannya.

18:29 Kemudian katakan, “Kebenaran itu dari Tuhanmu! Barangssiapa yang menghendaki keimanan maka hendaklah dia beriman, dan barangsiapa yang menghendaki kekafiran maka hendaklah dia kafir. ....

28:50 ... Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah? Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang - orang zalim.

25:43 Tahukah engkau orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Akah engkau [Muhammad] sebagai pelindungnya?

45:23 Adakah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkan sesat berdasarkan ilmu? Dan Dia menutup pendengaran dan hatinya, dan menjadikan sebuah tutup bagi penglihatan [abshar]-nya. Selain Allah, siapakah yang menunjuki-nya? Mengapa kamu tidak bertazakur?
Nah, ada sembilan ayat tentang peranan hawa nafsu yang akan dikupas dan diulas dalam pelajaran hari ini.

Pertama, orang - orang beriman diperintah Tuhan untuk menegakkan keadilan. Adil, baik terhadap ibu - bapak maupun kerabat! Perhatikan kaitan antara keimanan dan keadilan. Itulah sebabnya dari awal ditegaskan bahwa keimanan bukanlah semata - mata ‘kepercayaan’. Orang beriman harus berusaha hidup adil, termasuk kepada orang tua dan kerabatnya. Adil dalam kehidupan nyata yang disebut sebagai syuhada’ Allah. Sengaja kata syuhada’ tidak saya terjemahkan. Karena syuhada’ adalah orang yang menyaksikan dan disaksikan Allah. Menyaksikan Allah berarti menyaksikan kebenaran itu sendiri. Disaksikan oleh Allah berarti disaksikan oleh Yang Maha Benar, karena itu adil terhadap siapa pun [yang kita cintai dan kita benci]. Inilah salah satu unsur pokok orang yang beriman!

Kedua, keadilan dipertentangkan dengan hawa nafsu. Orang yang mengikuti hawa nafsunya akan bertindak atau berbuat tidak adil. Mengapa demikian? Karena adil itu bersifat ‘fair’, bersikap seimbang dan proporsional terhadap semua orang. Adil itu tidak berat sebelah! Adil tidak berpihak kepada seseorang karena hubungan kekerabatan atau kekayaannya. Dan untuk dapat berlaku adil manusia harus mampu menimbang dengan benar. Untuk itu diperlukan pikiran!

Sering kita mendengarkan kalimat “kita harus menggunakan akal sehat” atau “menurut akal sehat” dan lain sebagainya. Kalau kita perhatikan kalimat tersebut, ada pengertian bahwa ada ‘akal yang tidak sehat’. 

Yang benar adalah akal selalu sehat. Akal adalah representasi Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan adalah Akal Yang Maha Agung! Karena itu Tuhan bersifat Maha Mengetahui. Orang yang bodoh, orang yang tidak mampu menimbang sesuatu dengan benar, tidak berarti akalnya tidak sehat atau sakit. Ia adalah orang yang tidak mampu menggunakan akalnya. Karena itu orang harus dilatih menggunakan akalnya. Ia harus diajari bagaimana mengasah pikirannya. Pikiran yang diasah dengan benar akan menjadi tajam, mudah tanggap terhadap sesuatu. Lalu, pikiran yang tajam itu harus digunakan dengan benar, sehingga bisa memberikan solusi yang tepat dalam kehidupan ini.

Ketiga, berdasarkan ayat 38:26 suatu keputusan yang benar adalah keputusan yang tidak timbul dari hawa nafsu. Artinya, keputusan akan benar bila dilandasi dengan pemikiran yang benar. Hawa nafsu akan menyesatkan manusia dari jalan yang benar, yaitu jalan Allah. Hawa nafsu adalah tindakan tanpa pikiran. Yang penting keinginan terpenuhi tanpa peduli cara dan akibatnya. Karena itu hawa nafsu menyesatkan manusia dari jalan yang benar. Ia membawa manusia ke jalan yang salah!

Nah, setelah memahami ketiga uraian di atas, sampailah kita pada kesimpulan bahwa prasangka, takhyul, hawa nafsu, dan setan, sesungguhnya adalah wajah - wajah dari ‘thaghut’, yaitu sikap yang melampaui batas! Semuanya adalah sisi - sisi dari thaghut yang sama. Mengikuti hawa nafsu juga disebut sebagai ‘mengikuti setan’. Dan pada ayat 38:26 tersebut dikatakan bahwa orang yang mengikuti hawa nafsu adalah orang yang melupakan hari perhitungan, melupakan konsekuensi perbuatannya. Orang itu lupa bahwa setiap perbuatan itu ada akibatnya! Dikiranya suatu perbuatan itu tak ada bekasnya dalam perjalanan hidup ini.

Kembali kepada langkah - langkah dalam berpikir. Pertama, harus kita tinggalkan prasangka [syak]. Kedua, harus kita bebaskan dari takhyul. Lalu, kita bingkai dengan sabar dan zikir. Agar proses melihat, mendengar, dan mengingat itu bekerja dengan jernih. Sebab kegugupan, keraguan, dan ilusi akan mempengaruhi persepsi kita pada kenyataan yang kita indrawi itu.  

Keempat, kita lakukan penalaran, reasoning. Jangan emosi, atau hanya mengikuti hawa nafsu. Penalaran adalah upaya memahami sebab - akibat pada objek yang menjadi perhatian kita. Kita perhatikan relasi antara objek - objek yang ada di sekitar kita ini. Kemudian, penalaran itu kita bingkai dengan tazakur, yaitu perenungan dan penjernihan pikiran.

Lho, apa bisa orang awam diajak berpikir? Tentu saja bisa! Yang penting setiap orang harus dirangsang dan didorong untuk menggunakan pikirannya sesuai dengan kapasitas otaknya atau kapabilitasnya. Seseorang tak perlu dibebani melebihi takaran kemampuannya. Dan, yang paling pokok adalah umat harus dibebaskan dari belenggu prasangka, takhyul, dan hawa nafsu ( pth ). Inilah modal dasar umat untuk berpikir! Dengan bebas dari ‘pth’ umat bisa dituntun untuk melihat kebenaran. Dengan modal dasar itu umat bisa dibawa maju, tidak jumud [mandek].

Dengan cara berpikir yang benar, kesadaran bisa ditingkatkan. Perlu diperhatikan kembali bahwa tingginya pengetahuan yang dicapai seseorang tak ada kaitannya dengan kesadaran. Karena pengetahuan didapat dari luar, sedangkan kesadaran diperoleh dari dalam diri seseorang itu sendiri. Kesadaran berkaitan dengan keimanan. Sedangkan pengetahuan adalah tahap awal bagi keimanan. Jadi, setinggi - tingginya pengetahuan tidaklah sama dengan ‘ain atau telah mengalami sendiri. Tetapi pengetahuan yang tinggi disertai pengalaman mengantarkan seseorang naik ke tahap ‘haqq al-yaqin’.

Apa artinya 

“pengetahuan yang tinggi + pengalaman” => keyakinan yang haq? 

Saya tak perlu membuat definisinya. Tetapi Anda bisa memahami bagaimana sekiranya anak kecil mengalami sesuatu tanpa pengetahuan atau orang yang berpengetahuan tanpa pengalaman. Anak kecil tidak mengerti apa yang dialaminya. Berpengetahuan tanpa pengalaman berarti tak ada penghayatan kebenaran. Kita memiliki pengetahuan tentang rasa daging, tetapi tanpa mengecapnya, bagaimana kita mengetahui kebenaran rasa daging itu sendiri? Kita memiliki pengetahuan tentang khusyu’, tetapi kita tidak pernah mengalami khusyu’, bagaimana kita bisa mengerti kebenaran khusyu’?

Sekarang marilah kita perhatikan ayat 7:175-176. Apa saja yang ada yang bisa kita tangkap dengan indera adalah ayat - ayat Tuhan. Ayat - ayat yang kasat mata adalah pijakan bagi ayat - ayat kitabiyah. Tanpa mengerti ayat - ayat kauniyah [kasat mata] sulit untuk dapat mengerti kandungan ayat - ayat kitabiyah. Jika kita tidak menghayati arti sebuah kemiskinan atau kekalahan, bagaimana kita bisa menegakkan keadilan? Bila kita tidak mengerti hukum Tuhan yang digelar di alam ini bagaimana kita bisa memutuskan kebenaran? Jika kita tidak mengerti makna sebuah perjanjian, bagaimana kita dapat menghormati kerja sama?

Memahami ayat - ayat Tuhan, baik yang kauniyah maupun yang kitabiyah, adalah tangga untuk dapat kembali kepada Tuhan. Jika seseorang memperturutkan hawa nafsu, tak peduli terhadap lingkungannya, maka setanlah yang mengikuti tingkah lakunya. Dan selanjutnya, setanlah yang ada di depan menuntunnya. Jika setan yang menuntun, ya akan keluar dari jalur yang benar. Apabila seseorang memalingkan diri dari kebenarn, maka setanlah yang mengikutinya. Lalu setannya siapa? Ya dirinya sendiri yang terjebak ‘pth’ dalam hidup ini. Jadi, jangan cari - cari bentuknya setan!

Lalu, ayat 176 menyebutkan bahwa Tuhan menghendaki derajat yang tinggi bagi hamba-Nya yang tidak mau melekat [menetap] di bumi! Untuk dapat memahami arti “melekat (menetap) di bumi” memerlukan penalaran dan perenungan. Apa artinya “tetapi ia ingin menetap di atau cenderung kepada bumi”, wa lakinnahu akhlada ila l-ardhi? 

Tanpa menggunakan pikiran, kita tak bisa memahami ayat ini. Yang jelas, Tuhan tidak meninggikan derajat atau kedudukan orang yang cenderung kepada bumi atau dunia. Tentu ini pun bukan bermakna harfiah, dalam arti naik pangkat, menjadi kaya materi dan lain - lain. Tetapi ini bermakna batiniah, seperti jiwanya tercerahkan, dirinya terbebas dari jeratan materi atau kesementaraan. Kalimat ingin menetap di bumi atau cenderung kepada dunia disambung dengan mengikuti hawa nafsu, artinya lebih memilih kehidupan sementara, atau kehidupan jangka pendek, ketimbang kehidupan jangka panjang atau kehidupan di masa depan!

Orang yang lebih mementingkan kehidupan dunia atau jangka pendek in bagaikan anjing, dihalau atau dibiarkan lidahnya tetap terjulur. Artinya, diberi pelajaran atau tidak, sama saja. Pelajaran atau peringatan tak akan mengubah sikap hidupnya. Ayat ini merupakan rangkaian ayat yang menuturkan kehidupan komunitas Yahudi. 

Pada zaman Musa ada seorang hamba yang menguasai pengetahuan keagamaan [lahir - batin]. Ia adalah Baal Am bin Baura, dan paham betul tentang kebenaran hidup ini. Tetapi ia iri kepada Musa, ia merasa tersingkir dengan datangnya Nabi Musa. Sehingga ia bersama dengan para pengikutnya berusaha menyingkirkan Musa. Mengapa tindakan itu dia lakukan? Karena Baal Am [atas desakan pengikutnya] lebih memilih kehidupan jangka pendeknya daripada jangka panjangnya. Ia tinggalkan kebenaran, dan ia ikuti hawa nafsunya. Sehingga malanglah nasibnya. Ia tidak lagi menjadi orang yang tercerahkan, tetapi justru konfrontasi dengan Nabi Musa. Ayat itu ditutup dengan kalimat “ceritakan kisah itu agar mereka berpikir”.

Jelaslah sudah suatu kisah, hikayat, sejarah, disampaikan kepada generasi berikutnya itu bukan hanya untuk dipercaya, tapi dipikirkan pesan - pesan dan kandungannya agar manusia bisa melangkah dengan benar ke masa depannya. Apa mutiara hikmah yang ada di dalam suatu kisah atau sejarah, atau bahkan legenda, itulah yang harus ditimba. Jadi, dengan berpikir kita tidak hanya terpaku pada fakta. Tetapi kita lebih melihat makna yang terkandung, sehingga kisah, sejarah, mitos, legenda itu dapat digunakan sebagai tongkat untuk menyongsong hari depan kehidupan manusia. Dengan berpikir manusia dapat mencari makna dan realita di balik fakta - fakta dan data. Kita bisa memahami kebenaran yang terselubung oleh bentuk objek-objek yang tercerap oleh indera.
Di sini perlu difahami agar konsep 'berpikir' menjadi jelas. Para nabi bukanlah orang-orang yang bodoh. Bahkan mereka adalah manusia - manusia yang sungguh-sungguh merenungkan [berpikir mendalam] kebenaran di alam ini. Mereka merenung agar bisa menemukan solusi dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Dan solusi itu untuk kesejahteraan manusia, baik sebagai individu maupun komunitas.
Sekarang mari kita lanjutkan ulasan ayat 18:28-29. Kita diperingatkan untuk tidak mengikuti orang-orang yang melalaikan hatinya untuk berzikir. Dengan kata lain, kita jangan termasuk orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu. Bagaimana kita bisa menjadi tenang dan berpikir jernih jika yang kita ikuti itu orang-orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai pimpinannya.  

Orang-orang yang mengedepankan hawa nafsu mereka itu lebih mementingkan pribadi dan golongan mereka. Bukan kebenaran yang menjadi perhatian atau kepedulian mereka, tetapi 'kepentingan'. Karena itu orang demikian disebut 'selalu melampaui batas' dalam urusannya. Orang demikian memang sudah tidak kenal dan tahu lagi batas-batas yang harus dipatuhi. Nah, kalau hidup tanpa batas, kemana lagi perginya kalau tidak semakin melenceng.

Kebenaran sudah pasti datangnya dari Tuhan. Semua ini diciptakan berdasarkan kebenaran, dan bukan kebatilan. Tentu saja yang mengetahui hakikat sesuatu adalah Tuhan, karena Dia-lah pencipta segala sesuatu. Tetapi, di bumi ini, cuma manusia yang dianugerahi "al-qalam", atau akal. Dengan al qalam manusia dapat mengetahui sesuatu yang tidak diketahui sebelumnya. Dengan berbagai kelengkapan yang diberikan Tuhan, manusia diberi kebebasan untuk membuktikan kebenaran itu. Karena itu manusia diberi amanat dan akan dituntut tanggungjawab dan akuntabilitasnya.

Dalam ayat 28:50 ditegaskan bahwa orang yang mengikuti hawa nafsunya tidak akan mendapat petunjuk dari Tuhan. Orang yang menuruti hawa nafsu disebut juga sebagai 'orang zalim', orang yang menganiaya. Dan, petunjuk Tuhan tak akan datang pada si zalim. Celakanya jika si zalim ini menjadi 'penggede', pejabat tinggi, elite, atau mala'. Petunjuk Tuhan tak akan sampai pada mereka. Akibatnya, rakyat bawahan akan menjadi sengsara. Tetapi, percayalah, jika di tengah suatu komunitas masih ada orang-orang yang 'berzikir dan berpikir' suatu saat pasti ada orang yang menjadi juru ingat! 

Di tengah deru kezaliman masyarakat industri di Eropa abad ke-19, muncullah Nietzsche [meskipun kita dididik keliru dalam melihat dia]. Di tengah kezaliman komunisme Soviet, muncullah Gorbachov yang mendengungkan 'glasnost' dan 'perestroika'. Tentu saja, tidak cukup hanya munculnya sang juru ingat. Tetapi perlu ada tindakan! Dan tindakan itu harus bisa diterapkan berdasarkan 'POAC', perencanaan, pengorganisasian, pengaktualisasian, dan pengawasan yang benar. Penegakan moral dan keadilan tidak cukup hanya dengan modal niat. Harus disertai kemauan, kehendak, dan kepiawaian. Karena kebenaran tidaklah berjalan dengan sendirinya.

Puncak dari mengikuti hawa nafsu adalah menjadikannya tuhan. Yaitu, menjadikan hawa nafsu itu sebagai tuhan yang disembah dan dipatuhi! Inilah syirik yang tidak tampak, tetapi lebih dahsyat dari berhala. Kalau berhala berupa patung, hanya orang bodoh yang memuja. Tetapi berhala 'hawa nafsu', orang yang berpengetahuan 'sundul langit' [setinggi langit] pun bisa menjadi pengikutnya. 

Jika orang memperturutkan hawa nafsu, maka Allah membiarkannya tersesat. Pendengaran dan hatinya dibiarkan tertutup karat. Nasihat, petunjuk, petuah tak mempan lagi. Bahkan penglihatannya pun ada tutupan. Sehingga jerit derita masyarakat tidak tampak lagi. Semuanya bagaikan angin lalu. Dianggap seperti kentut, bau sebentar dan hilang. Mau cari petunjuk dari siapa lagi, kalau tidak kembali kepada Allah? Agar pemikiran kita tidak masuk ke jurang setan, maka kita harus "berpikir + berzikir". Manakala kita sudah membuang pemikiran, maka artinya, " kita sedang menunggu bencana"

READ MORE - “La ilaha illa l-lah”, Tidak Ada Tuhan Selain Allah

Pencitraan Tak Selamanya Sesuai Dengan Kenyataan


Selama sebulan terakhir, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi bulan-bulanan media. Diawali kasus impor daging sapi, nama petinggi partai berslogan bersih, peduli, dan profesional itu terseret.

Kendati nama tuhan sempat dibawa-bawa, tokoh PKS itu ujung-ujungnya menjadi tersangka juga. Walhasil, slogan bersih, peduli, dan profesiona l PKS berganti menjadi cinta, kerja, dan harmoni.

Baru juga berganti slogannya dengan kata cinta, giliran skandal cinta dikaitkan dengan PKS. Media mulai meniupkan ABG bernama Darin Mumatazah yang diduga merupakan teman dekat salah satu petinggi PKS.

Isu pun seakan digeser. Dari kasus hukum menjadi kasus wanita. Bergesernya isu kasus tak terlepas dibukanya rekaman telepon eks petinggi PKS, Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) dengan Ahmad Fathanah di Pengadilan Tipikor.

Di sela berbincang soal daging sapi, LHI dan Fathanah meyelipkan obrolan soal pustun. Usut punya usut, pustun yang dimaksud adalah wanita berdarah Afghanitan atau Pakistan. Isu soal pustun ini yang kemudian "digoreng" habis-habisan oleh banyak pihak.

Di saat citranya coba dirusak, PKS melawan. Strategi untuk memulihkan citra pun dilakukan. Kali ini, PKS bukan bersuara di media, melainkan lewat spanduk. Momen PKS untuk bersuara ada di isu kenaikan BBM oleh pemerintah.

PKS coba menyampaikan pesan pada masyarakat. Pesan bahwa mereka adalah partai yang peduli rakyat, bukan partai yang peduli pustun. Karena itulah, berbagai spanduk mereka sebar ke penjuru Kota Jakarta yang menyampaikan pesan bahwa PKS menolak kenaikan harga BBM.

Banyak yang kemudian bertanya, apa motif PKS berspanduk ria terkait penolakan naiknya BBM? Dalam sebuah diskusi di layar kaca, salah satu kader PKS Ecky Awal Muharam berujar, pilihan tebar spanduk dipilih karena media massa kurang menyorot sikap PKS soal BBM.

Sah-sah saja memang pandangan itu. Sebab, publikasi media soal pustunmemang jauh melebihi publikasi soal PKS yang menolak kenaikan BBM. Dan sah-sah juga bila PKS berstrategi dengan spanduk demi memulihkan citranya yang dihantam "badai sapi dan pustun".

Namun, yang menjadi tanda tanya, usaha nyata apa yang sudah dilakukan PKS untuk menolak kenaikan harga BBM selain aksi pasang spanduk? Padahal di sisi lain, kementerian yang diduduki menteri asal PKS, Kementerian Sosial, malah menyusun program penunjang kenaikan BBM yaitu BSLM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat).

Kesempatan PKS untuk memperjuangkan penolakan kenaikan harga BBM via rapat koalisi pemerintah pun tidak mereka gunakan. Tak ada perwakilan PKS yang hadir dalam rapat terkait kenaikan harga BBM di rumah Wapres Boediono, akhir pekan kemarin. 

Merujuk kenayataan itu, jadi beralasan jika muncul pandangan bahwa isu BBM tak hanya jadi kesempatan PKS memulihkan citra. Isu BBM juga menjadi kesempatan PKS melawan pemerintahan!

Lantas mengapa pula PKS tak juga memilih keluar dari pemerintahan? Terkait pertanyaan ini, banyak kemungkinan jawaban yang muncul. Dari beragam analisis, saya lebih setuju bahwa PKS kini menunggu dikeluarkan ketimbang memilih keluar dari pemerintahan.

Lagi-lagi pilihan itu akan berimplikasi pada citra. Citra bahwa PKS terzalimi. Terzalimi oleh BBM, pustun, dan sapi.
ROL

READ MORE - Pencitraan Tak Selamanya Sesuai Dengan Kenyataan

Tuhan Bertajalli Dan Manusia Pun Akhirnya Harus Bertajalli


Zuhud adalah tahap tajalli. Manusia dicipta untuk bisa mengekspresikan dan mengaktualisasikan sebagai manusia yang berkemanusiaan. Tetapi sejarah manusia tidak linear, tidak berjalan mengikuti garis lurus. Sejarah manusia berjalan melompat-lompat, sehingga ada yang tetap di tempat dan ada yang maju. Ada pula yang berjalan lambat sekali! Bahkan kebanyakan manusia ini terseret arus. Namanya saja terseret; jangan dikata bisa ada di depan.

Islam yang dibangun oleh Nabi sebagai kehidupan yang beretika sosial dan individual dengan semangat demokrasi modern, akhirnya menjadi agama yang penuh kejumudan, kekakuan, kebekuan, atau kebodohan. Takhyul lama [pra-Islam] dibuang, tetapi didatangkan takhyul baru berlimpah-limpah masuk ke dalam umat Islam. Takhyul baru ini malah dibungkus dengan hadis-hadis atau ayat-ayat Al Quran. Dengan takhyul baru ini sebagian besar umat menjadi terbelenggu. Lebih-lebih takhyul ini diajarkan dan diwariskan dengan bingkai dogmatik. Agama yang penuh pencerahan ini akhirnya menjadi agama primitif yang penuh momok. Bahkan di dalam tasawuf pun tak lepas dari takhyul-takhyul baru. Namun, saya tetap menggunakan tasawuf sebagai sarana untuk membangun umat, karena warna takhyul itu tampak jelas dalam dunia tasawuf daripada dalam dunia komunitas islam lainnya. Mengapa demikian? Karena tasawuf ada di titik pusat lingkaran agama.

Takhyul perlu dikupas dalam pembahasan zuhud ini. Karena di dalam zuhud ada hijrah dan jihad pemikiran. Dalam hijrah pemikiran, kita tinggalkan pola-pola pikiran lama yang membelenggu langkah kemajuan manusia. Jika hijrah pemikiran berarti mematahkan belenggunya, maka dalam jihad pemikiran kita cari jalan baru ke depan, jalan yang lempang, jalan yang bisa dilalui hingga samai di maqam Ilahi.

Takhyul adalah keyakinan kosong! Takhyul adalah kepercayaan kepada yang tidak ada [bukan gaib lho!]. Believe to unreal thing! Pada mulanya semua agama tauhid didirikan di atas landasan yang nyata, yang riil, on the real thing. Kemudian dalam perjalanannya, komunitas agama itu menjumpai kejadian dan peristiwa yang ada di luar paradigma agama itu. Maka pengikutnya mulai menerima takhyul dari luar atau malah mengembangkan takhyul itu sendiri dalam agamanya. 

Takhyul ini pun menjadi bagian dari pendidikan agama Islam. Bagaimana kita telah dididik takut sama “momok” sejak kecil. Bagaimana kita dididik untuk dapat mengakui seseorang sebagai ‘wali’ tanpa dididik untuk memahami apa yang dimaksud ‘wali’ dalam Al Quran. Bagaimana ‘jamaah-jamaah’ tertentu dalam Islam melakukan indoktrinasi atau pembaiatan yang tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad itu sendiri. Orang-orang direkrut masuk jamaah dan diwajibkan meyakini bahwa pimpinan jamaah-nya orang mursyid, sudah dibaiat dari guru ke guru hingga Nabi Muhammad Saw. Lalu, anggota jamaahnya disebut ‘telah beriman’, sedangkan yang di luar kelompok [out-group]-nya disebut ‘kafir’. Lhah, ajaran yang seperti ini membuat orang-orang Islam mandek, alias jumud.

Bagaimana tidak jumud? Wong jamaah-jamaah tadi mengajarkan yang tidak benar. Misalnya, keadaan sekarang ini disebut zaman ‘jahiliah’ sehingga pencarian dana dengan jalan yang haram dibenarkan. Ada yang menerima ‘rezeki haram’ dihalalkan asal tidak digunakan untuk makan. Katanya, kalau dimakan harus berasal dari yang betul-betul halal, sedangkan yang untuk kebutuhan duniawi boleh menggunakan uang haram hasil korupsi, komisi, suap dll. 

Ini sih, bukan jihad pemikiran tetapi mundur! Islam tidak membuat dikotomi dunia dan akhirat. Islam mengingatkan, janganlah kita ini terlalu kuat keduniaannya tetapi lupa akhiratnya. Terjerat kepentingan sesaat tetapi lupa kebutuhan jangka panjang. Terjebak kehidupan sekarang, tetapi lupa masa depan! Hal-hal semacam inilah yang diingatkan dalam Al Quran tentang pemahaman dunia dan akhirat. Jadi, bukan dikotomi yang konkret dengan yang abstrak.

Nah, marilah meniti kembali ke jalan yang benar, ke pemikiran yang benar! Yang pertama, kita tinggalkan takhyul. Yang kedua, mari berpikir berlandaskan hal-hal yang nyata dulu. Yang ketiga, kita landasi dengan emosi yang kokoh ? dengan berzikir? agar kita tidak terombang-ambing dalam kehidupan ini. Agar kita bisa hidup tenang dalam menghadapi badai dalam kehidupan ini. Agar kita tidak kebablasan sehingga tercipta takhyul yang baru. 

Nah, dari ketiga tahap jihad pemikiran ini, yang dua sudah dibabar dalam pelajaran yang lalu. Sedangkan meninggalkan takhyul pada pelajaran yang lalu tertinggal. Mari kita simak ayat-ayat tentang ketakhayulan ini.
10:36 Dan kebanyakan mereka mengikuti ‘zhan’ [prasangka] saja. Sesungguhnya prasangka itu tidak dapat mengantarkan kepada kebenaran sedikit pun. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentang perbuatan mereka.


53:28 Dan mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu [malaikat]. Sesungguhnya mereka itu hanya mengikuti prasangka. Padahal, prasangka [zhan] itu tidak berguna sedikit pun untuk mencapai kebenaran.

6:116 Dan jika menuruti sebagian besar orang di bumi, niscaya mereka menyesatkan engkau [Muhammad] dari jalan Allah. Mereka hanyalah memperturutkan prasangka dan tak lain yang mereka perbuat adalah kebohongan semata.

6:148 Orang-orang yang menyekutukan Tuhan berkata: “Jika Allah meng-hendaki niscaya kami dan nenek moyang kami tidak menyekutukan Tuhan, dan kami tidak mengharamkan sesuatu pun. Demikianlah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan para utusan Tuhan hingga mereka tertimpa azab Kami. Katakan: “Apakah kamu mempunyai pengetahuan [tentang tauhid] lalu kamu keluarkan hal itu untuk kami. Kamu hanya mengikuti prasangka dan dusta!”
Nah, mari kita telaah dengan jernih ayat-ayat tersebut! Yang pertama ditegaskan bahwa sebagian besar manusia itu hanya menuruti prasangka atau ‘zhan’. Kata zhan menunjukkan suatu klaim tanpa bukti. Ayat 6:148 lebih jelas lagi kata zhan dipasangkan dengan kebohongan atau dusta. Bohong berarti tidak mengungkapkan yang sebenarnya! Bohong juga berarti menyembunyikan kebenaran.

Ayat pertama menyebutkan bahwa prasangka itu tidak berguna sedikit pun untuk mencapai kebenaran. Bagaimana bisa sampai kepada kebenaran bila landasannya adalah hal yang tidak benar atau tidak nyata. Di zaman mitologi kebenaran memang belum menjadi tolok ukur, yang penting tujuannya benar. Dan, hal ini diwariskan dari nenek-moyang kepada generasi ke generasi berikutnya. Tetapi setelah pemikiran berkembang, tujuan yang benar harus dilandasi oleh hal-hal yang benar! Kalau manusia ingin bisa terbang ke angkasa, ya jangan bermimpi punya sayap. Nanti menjadi takhyul. 

Manusia harus berpikir bagaimana membuat wahana yang bisa terbang, dengan mempelajari objektivitas pada burung. Manusia juga tidak perlu membangun energi bagi dirinya untuk bisa terbang seperti di dalam cerita atau dalam film-film. Apakah hal itu tidak bisa diusahakan? 

Tentu saja bisa! Praktik debus, melompati rumah, merayap di dinding, bisa dilatih dengan olah batin yang dalam. Tetapi energi yang seharusnya digunakan untuk membekali dirinya dalam perjalanan hidup ini hanyalah dibuang untuk pertunjukan atau ‘show’. Manusia harus belajar pada hal-hal yang nyata yang telah digelar Tuhan di alam ini. Bukan berpijak pada mitos dan ‘fancy’ atau takhyul. Dulu boleh, ketika manusia berada di tahap dinamisme, yaitu ketika alam pikiran manusia belum berkembang.

Bumi terus berputar, dan mengelilingi matahari. Populasi manusia telah ratusan kali banyaknya bila dibandingkan dengan ketika agama-agama besar muncul. Macam dan jenis rangsangan yang mempengaruhi hidup manusia semakin banyak dan semakin berbeda. Persoalan yang dihadapi manusia semakin kompleks. Ketika saya di SD belum ada teve di kampung saya, sehingga sehabis maghrib anak-anak SD bisa belajar dengan nyaman [meskipun pakai lampu minyak, bukan listrik]. Dalam alam yang demikian, momok, hantu, sundel bolong [kuntil anak], jurig, wewe gombel, gendruwo, takhyul, dan berbagai cerita tentang makhluk jadian berkembang pesat.

Sebenarnya takhyul harus sudah dibuang di tahap takhalli, tahap pengosongan dari berbagai sifat tercela. Tetapi, membebaskan diri dari belenggu takhyul tidak semudah meninggalkan perilaku yang tercela. Contoh yang paling konkret, 1400 tahun yang lalu, Nabi membebaskan takhyul masyarakat Arab yang berupa 360 patung berhala di sekitar Ka’bah. Tetapi sampai hari ini pun tak terhitung banyaknya orang yang sengaja menghadirkan aneka rupa berhala di rumahnya sebagai pengganti patung berhala yang telah dihancurkan. Mengapa bisa terjadi demikian? Karena pikiran tauhid belum tumbuh baik di kalangan umat.

Membebaskan takhyul memerlukan peningkatan kesadaran. Sadar itu memahami relasi atau hubungan antara objek dengan subjeknya. Mampu mengidentifikasi objek-objek yang ada di sekitar dirinya. Agar tidak terjadi ketakhyulan, kita harus melihat objek secara konkret dulu, sesuatu yang riil yang diketahui melalui pengalaman secara langsung. Ini adalah tataran terendah dalam berpikir. 

Dari pengalaman ini, dapat ditarik suatu kesimpulan, dan lahirlah pengetahuan dan teori. Pengetahuan dibentuk dari kata 

“pe+ke+tahu+an” --> pe + ketahuan. 

Ketahuan adalah hal-hal yang diketahui [dipersepsi oleh indera]. 

Karena itu tingkat keimanan atau keyakinan yang paling rendah adalah keyakinan berdasarkan pengetahuan [ilmu] dan disebut ‘ilmu l-yaqin. Sedangkan bagi yang mengalaminya sendiri berada di tahap ‘ainu l-yaqin. Lha, kalau kita sudah memahami, mengerti apa yang kita alami itu, namanya haqqu l-yaqin. Begitulah tahapan keyakinan dalam Islam. Jadi, bukan keyakinan yang hanya didasarkan pada kepercayaan semata-mata.

Ayat 6:116 menyebutkan bahwa sebagian besar manusia itu mengikuti prasangka atau zhan. Lho, ayat ini ngawur atau sesuai fakta? Berdasarkan penemuan-penemuan, hanya 4 s/d 5 % otak manusia digunakan. Dan, orang jenius hanya menggunakan 5 s/d 6 persen saja dari kapasitas otaknya.

Hanya sekitar 5% dari populasi manusia yang menggunakan pikirannya dalam kehidupan sehari-hari. Lha, yang 95% bagaimana? Hidup hanya memenuhi rutinitas pekerjaan. Artinya, tanpa mikir lagi!

Coba kita perhatikan hidup kita sendiri! Dalam sehari kita hidup selama dua-puluh empat jam atau 1.440 menit. Jika 5% dari hidup ini kita gunakan untuk berpikir, artinya tujuh-puluh dua menit atau 1,2 jam dalam sehari kita berpikir! Apa iya? Ternyata sebagian besar waktu dalam hidup ini kita gunakan sebagai pengganti mesin. Kita kerja mengikuti prosedur yang sudah ada, tanpa mikir lagi. 

Jadi, wajar bila ada ungkapan ? yang menurut sebagian ulama, bukan ungkapan tetapi hadis? berpikir satu jam nilainya lebih besar dari sembahyang 1000 rakaat [dalam teks lainnya disebut beribadah enam-puluh tahun]. Wajar juga, jika kemauan sebagian besar manusia ini dituruti, hidup bisa tersesat. Bagaimana tidak tersesat, wong kebanyakan pandangan itu hasil prasangka! Hanya warisan dari generasi ke generasi. Hal ini khususnya terjadi di masa ‘iptek’ belum berkembang, atau di masyarakat yang sedang berkembang.

Di masyarakat yang sedang berkembang, banyak hal yang direkayasa. Artinya sesuatu dibuat bukan berdasarkan hal-hal yang konkret. Sesuatu dibuat hanya berdasar akal-akalan pikiran. Partai dan organisasi dibuat bukan berlandaskan kenyataan dan untuk kesejahteraan anggotanya. Tetapi, untuk memenuhi kepentingan pribadi pengurus atau panitianya. Demi ambisi jajaran pimpinannya. Lalu bagaimana mungkin bisa mencapai keberhasilan, wong pendiriannya hasil prasangka dan rekayasa.

Nah, sudah waktunya kita memberdayakan pikiran kita. Kita tingkatkan kapasitas penggunaan otak kita! Bukan 4-5 % tetapi 5-6%. Jika semula pikiran kita gunakan untuk mengingat asma, atau nama-nama objek dengan segala ciri dan fungsinya; maka kita tingkatkan penggunaan pikiran ini untuk memperhatikan relasi-relasi di antara objek-objek yang ada. Kita gunakan pikiran untuk memahami kaitan objek dengan ruang dan waktu. Di sini kisah dan sejarah manusia menjadi perlu! Kita lakukan studi perbandingan [komparatif]. Akhirnya kita bisa memperoleh sebuah kesimpulan yang sangat berguna bagi kesejahteraan manusia. Inilah tahap ‘penalaran’, tahapan berpikir lebih lanjut, setelah kita terlatih dalam berzikir!

Marilah kita perhatikan 4 ayat dalam Surat Al Ghasyiyah [Kejadian yang dahsyat] yaitu ayat 17 s/d 20 berikut ini.
  • 88:17 Apakah mereka itu tidak menggunakan nalar mereka bagaimana unta itu diciptakan?
  • 88:18 Dan bagaimana langit ditinggikan?
  • 88:19 Dan bagaimana gunung-gunung ditegakkan?
  • 88:20 Dan bagaimana bumi dibentangkan?

Kata ‘nazhara’ tidak cukup diartikan memperhatikan. Ia mengandung makna penyelidikan, pendataan dan pengamatan terhadap suatu objek. Dalam penalaran ini objek kita kupas dan kita bedah. Kita bukan cuma melihat. Tetapi kita lakukan langkah-langkah untuk mendapatkan informasi tentang objek yang kita perhatikan. Kita tidak lagi percaya bahwa hewan diciptakan berdasarkan “sim sala bim”. Kalau ciptaan itu bersifat “sim sala bim”, perintah tersebut di atas tak pernah ada!

Jika semula ada kepercayaan bahwa bumi itu datar, maka manusia diperintahkan untuk mempelajarinya, apakah betul kepercayaan itu. Manusia harus mempelajari bagaimana bumi ini kok bisa dihuni, bagaimana riwayatnya, dan lain-lain. Untuk apa itu semua? Ya, untuk kesejahteraan manusia itu sendiri! Mengapa tidak Tuhan saja yang membuat kitab ilmu pengetahuan itu lalu diserahkan kepada manusia? Bukankah Tuhan itu Maha Kuasa? Bukankah dengan adanya kitab suci ‘IPTEK’, manusia tinggal mengikuti instruksi dan proses yang dibabar di dalamnya, dan tidak perlu berprasangka? Nah, kita mulai menaiki tangga untuk mengenal Tuhan, siapa sesungguhnya Dia. Kita akhirnya mengerti mengapa perjalanan hidup ini berujung kepada pernyataan “kembali kepada Allah”. Tetapi untuk dapat kembali ke Dia, kita harus berpikir!

Perhatikan kembali ayat 6:148 di atas. Allah menolak pernyataan orang-orang musyrik “Jika Allah menghendaki niscaya kami dan nenek-moyang kami tidak menyekutukan Tuhan”. Pernyataan ini disebut tidak berdasarkan pengetahuan! Ini hanyalah pernyataan yang diwarisi dari nenek-moyang yang belum berkembang alam pikirannya. 

Ini adalah pernyataan yang berdiri di atas prasangka, sesuatu yang tanpa bukti nyata. Sebenarnya pernyataan ini pun ditujukan kepada kita yang tidak musyrik, jika kita masih bersikap seperti orang musyrik, kita berkutat pada masalah “kehendak-menghendaki”. Sehingga banyak di kalangan umat ini yang meyakini bahwa “sesat atau mendapat petunjuk” itu atas kehendak Tuhan.

Dan itulah yang dari awal kajian ini saya tegaskan bahwa Allah memberi petunjuk kepada atau menyesatkan manusia yang menghendakinya [petunjuk atau kesesatan]. Dan, ternyata petunjuk itu harus diperoleh memalui usaha yang dilandasi pemikiran yang benar, yang berdiri di atas fakta-fakta dan bukti nyata. Karena itu sejak awal perkembangan agama Islam, Tuhan memerintah manusia untuk berpikir dengan memperhatikan penciptaan unta, penegakan langit, gunung, dan pembentangan bumi.

Selanjutnya, perlu saya mengingatkan kembali bahwa “Tuhan bukanlah manusia yang maha pandai atau maha kuasa”. Tuhan adalah Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Tahu. Penciptaan alam ini merupakan ‘tajalli’ atau manifestasi Tuhan dalam ruang dan waktu. Jika ‘ruh’-Nya ditiupkan kepada manusia, itu dimaksudkan agar ruh itu bisa kembali kepada-Nya melalui rentangan waktu yang panjang. Untuk itu manusia dilengkapi dengan ‘al-qalam’, suatu alat untuk mengetahui sesuatu yang tidak diketahui sebelumnya.

Tuhan bertajalli dan manusia pun akhirnya harus bertajalli. Di situlah kedua tajalli bertemu, manusia telah bertemu dengan Tuhannya. Hal inilah yang di dalam ajaran tasawuf disebut “wihdatu l-wujud” atau dalam khazanah ajaran Jawa disebut “Manung-galing kawula klawan Gusti”, bersatunya hamba dengan Tuhan. “Inna li l-lahi wa inna ilaihi raji-‘un”, sesungguhnya kita ini berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Nah, dalam bingkai ruang dan waktu ini manusia telah dibekali daya dan kekuatan untuk kembali kepada-Nya, yaitu dengan kehendak untuk kembali, bukan menunggu kehendak Tuhan. Kita bukanlah orang musyrik, jadi tak ada ruang untuk “jika Tuhan menghendaki diriku” [demi kepentinganku].

READ MORE - Tuhan Bertajalli Dan Manusia Pun Akhirnya Harus Bertajalli

Dengan Berzikir Niscaya Hati Menjadi Tenteram, Selanjutnya Apa Lagi ?


Damai dalam pengertiannya dapat menunjuk secara umum ke dalam keadaan tenang - ketiadaan gangguan atau godaan. Damai dalam diri adalah sebuah kondisi pikiran, badan, dan jiwa yang terjadi di dalam diri. Damai dalam diri tidak dibatasi oleh keadaan, ruang dan waktu, orang, ataupun tempat, sehingga setiap individu dapat mengalami kedamaian dalam dirinya dalam keadaan apapun juga

Kedamaian merupakan dasar dari kesuksesan komunikasi dan interaksi dalam hidup. Tanpa kedamaian manusia tidak akan mampu berpikir. Tanpa keadaan damai tak ada kreativitas dalam diri manusia. Tanpa kreativitas manusia akan mencari kedamaian itu dari luar dirinya. Dan jika kedamaian itu harus diperoleh dari luar maka sesungguhnya yang bersangkutan sudah seperti kecanduan narkoba! Yang diperolehnya kedamaian semu! Kekayaan dihabiskan untuk membeli sebuah kedamaian, tetapi yang didapat hanya sesuatu yang semu.

Jihad pemikiran itu menarik garis yang tegas antara dunia manusia dari dunia binatang. Manusia harus berpikir untuk menemukan solusi dalam hidupnya. Manusia harus berpikir untuk bisa hidup bersama secara damai. Binatang hidup damai dengan binatang lainnya dengan mengandalkan kekuatan [fisik]. Ia taklukkan binatang-binatang lainnya, baru merasa hidup damai. Lalu, jika manusia tanpa menggunakan pikirannya dalam hidup ini, apa bedanya dengan binatang?

Dengan berpikir manusia bisa mengetahui apakah yang dimakan atau diminum itu membahayakan tubuhnya atau tidak. Dengan berpikir manusia dapat memahami bahwa judi dan mabuk-mabukan itu tidak sehat bagi kehidupannya. Dengan berpikir manusia dapat mengerti apakah langkah yang diambilnya itu membahayakan atau bermanfaat bagi dirinya. Dengan berpikir pula manusia bisa mengerti manusia lainnya! Apabila manusia sudah dapat mengerti manusia lainnya, maka di situlah demokrasi dapat ditegakkan. Di situlah keadilan di antara manusia bisa diwujudkan.

Ketika Nabi Muhammad Saw dibangkitkan sebagai seorang nabi, beliau pun diperintah oleh Tuhan untuk menyampaikan berita bahwa dirinya adalah manusia biasa. Mari kita perhatikan ayat berikut.
6: 50 Katakan, “Saya tidak mengatakan kepadamu bahwa saya mempunyai perbendaharaan Allah. Saya juga tidak mengetahui yang gaib! Dan saya juga tidak mengatakan kepadamu bahwa saya ini malaikat. Saya tidak mengikuti, kecuali apa yang diwahyukan kepada saya.” Katakan, “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?” Apakah kamu tidak berpikir (tatafakkarun)?
Ayat ini memberi tahu kita bahwa manusia tidak boleh mengkultuskan manusia lainnya. Manusia harus diterima dan dihormati sebagai manusia. Manusia tidak boleh dipandang sebagai malaikat, apalagi Tuhan. Bahwa manusia yang satu punya kelebihan atas yang lainnya adalah benar! Dan itu tidak perlu diingkari. Suatu kelompok atau masyarakat mengangkat mereka yang memiliki kelebihan dari kebanyakan anggotanya adalah hal yang wajar, dan perlu. Tetapi, manusia tidak boleh didewakan, dipertuhankan, atau sejenisnya. 

Rusaknya tatanan pergaulan masyarakat itu karena adanya pengkultusan terhadap orang-orang tertentu. Demokrasi tidak akan terwujud di suatu masyarakat bila masih ada manusia di masyarakat yang bersangkutan didewakan. Karena dasar dari demokrasi adalah egaliter [persamaan] dan kebebasan [liberti]. Keduanya hanya ada dalam perdamaian sejati! Untuk dapat mencapai perdamaian sejati manusia harus terus berpikir. Dan berpikir itu adalah bagian dari amalan manusia.

Lalu, apa sih yang disebut ‘berpikir’ itu? Bukankah banyak orang mengatakan bahwa untuk menjalankan agama tidak perlu menggunakan pikiran? Katanya, banyak hal dalam agama yang tidak masuk akal. Atau, ada yang mendramatisasi bahwa akal ini tidak masuk ke dalam wilayah agama!

Manusia punya otak. Binatang [bertulang belakang] pun punya! Tetapi binatang tidak dapat berpikir. Otak pada binatang hanya sebagai markas koordinasi syarafnya. Sedangkan otak pada manusia juga merupakan alat untuk berpikir. Otak dan pikiran adalah dua hal yang berbeda! Pikiran lebih besar daripada otak, bahkan lebih besar daripada tubuh manusia itu sendiri.

Manusia menggunakan pikirannya untuk memahami berbagai tanda dan gejala di alam ini. Dan proses penggunaan pikiran itu ada di otak. Karena itu, jika kita serius berpikir [dan tidak memperhatikan kondisi kesehatan dan kemampuan otak] kepala kita bisa terasa pening atau pusing. Otak adalah bagian dari organ dalam fisik kita, seperti jantung, hati, ginjal dan lain-lain. Berapa berat beban yang dapat dipikul oleh otak, tidaklah sama antara orang yang satu dengan yang lainnya. Tetapi setiap otak punya batas kekuatan. Ingat, segala sesuatu dicipta oleh Tuhan dengan kadar atau ukuran tertentu.

Perintah berpikir justru untuk mengangkat manusia dari lembah kebinatangannya. Karena itu, agama tumbuh dan berkembang seiring dengan perkembangan alam pikiran manusia. Ketika pikiran manusia belum berkembang, naluri atau ‘insting’ pada manusia yang berfungsi. Dan, naluri ini masih berfungsi pada dunia kanak-kanak dan tentu saja pada dunia binatang. Jadi, kalau kita tidak memberdayakan pikiran kita untuk berpikir, maka tak ubahnya kita ini sebagai kanak-kanak atau kasarnya tak ada bedanya dengan binatang. Lho, apa bedanya antara pikiran dan berpikir?

Kalau kita mau membuka dan menyimak kamus, kita akan mengerti bahwa salah satu makna dari ‘pikiran’ adalah akal. Dan seringkali diucapkan secara bergandengan menjadi ‘akal pikiran’. Baik akal maupun pikiran dalam bahasa Indonesia, berasal dari kata Arab ‘aql’ dan ‘fikr’. Akal adalah kata benda Arab yang berasal dari kata kerja aqala yang berarti mengikat. Sedangkan fikr berasal dari kata fakara yang berarti merenungkan, merefleksikan, mempertimbangkan, memperhatikan, dan menduga.

Jadi, dengan pikirannya manusia dapat memahami makna di balik yang kasat mata. Dengan pikirannya manusia dapat memahami gejala alam. Tetapi dengan pikirannya pula manusia dapat terjebak sejarah.

Kita tak perlu terjebak dalam definisi ‘apa itu akal [pikiran]’. Tetapi kita tahu bahwa dengan akalnya manusia dapat mengingat objek-objek diterima panca indra. Dengan akalnya manusia dapat mengetahui sesuatu yang tidak dapat dimengerti hewan. Dengan akalnya manusia dapat memahami hubungan antar objek yang diamatinya dan menyimpulkannya. Dan bukan sekedar menyimpulkan seperti komputer. Kesimpulan manusia bisa menembus dunia yang abstrak. Manusia bisa menghasilkan pendapat atau ‘ide’, yang tentu saja dibangun dari objek-objek yang diingatnya. Akal pikiran juga bisa membangkitkan imajinasi. Yang dari sini timbullah seni [tari, pahat, sastra, musik, rupa, olah raga, perang, kepemimpinan dll], dan penciptaan teknologi. Tetapi dengan pikirannya pula manusia dapat ‘berprasangka’. Dengan berprasangka, sebenarnya manusia telah menipu dirinya. Karena ia telah memastikan sesuatu yang tidak diketahui-nya. Tentu saja kebanyakan prasangka itu meleset dari kenyataannya.

Kerja pikiran itu bagaikan sebuah bola. Begitu digelindingkan bola itu ingin terus menggelinding. Baru berhenti jika menabrak tanjakan atau karena bergesekan dengan bidang yang dilewatinya. Pikiran juga begitu! Mula-mula bayi dilahirkan tidak dapat berpikir. Lalu, orang-orang di sekelilingnya mendorongnya, entah sengaja atau tidak, untuk berpikir. Nah, begitu pikiran bekerja sulit pikiran itu berhenti. Bahkan tatkala kita beristirahat pun pikiran tetap bekerja, yang menghasilkan ‘lamunan’. Ketika tidur pun pikiran bekerja, dan menghasilkan mimpi.

Pikiran yang bekerja tanpa perintah ini bisa menganggu ketenangan manusianya. Sehingga ada orang yang tidak tenang hidupnya, selalu gelisah, disebut terlalu banyak pikiran. Bila semula pikiran dipahami sebagai ‘akal’, bila ia menjadi beban manusia pikiran telah menjadi negatif bagi kehidupan manusia.

Berpikir, bermenung, berefleksi, berimajinasi, mempertimbangkan, menduga, dan memperhatikan adalah fungsi pikiran. Sedangkan berprasangka dan melamun bukanlah fungsi pikiran. Orang melamun karena pikirannya bekerja di luar kendali kehendaknya. Orang berprasangka karena perasaannya bekerja tanpa ditunjang dengan bukti. 

Bila kita diam atau sembahyang, dan kita tak pernah mendiamkan pikiran, maka pikiran itu akan berkelana ke mana-mana. Pikiran yang bekerja tanpa arah ini dapat mendorong orang untuk curiga, buruk sangka, iri, dengki, dendam, fanatisme, dan berbagai perbuatan negatif lainnya. Baik perasaan maupun pikiran yang bekerja tanpa kendali akan menjadi “setan”. Karena itu setan tidak pernah ada rupanya! Setan (Inggeris, satan) hanyalah atribut bagi perbuatan atau tindakan yang menjauhkan diri dari kebenaran. 

Agar tidak terperangkap setan, manusia harus berpikir. Berpikir adalah tindakan untuk menghubungkan berbagai objek untuk menemukan solusi atau jawaban bagi suatu masalah. Berpikir adalah usaha untuk memahami makna yang terkandung dalam suatu objek. Dan pada akhirnya, berpikir adalah upaya untuk menemukan kebenaran. 

Tanpa berpikir manusia tak akan menemukan jalan hidupnya! Tanpa berpikir agama menjadi tak berarti bagi kesejahteraan hidup manusia. Tanpa berpikir manusia akan tetap primitif dan tak akan menemukan kemanusiaannya. Jadi, wajar jika agama [Islam] memerintahkan manusia berpikir.

Di atas telah dijelaskan bahwa pikiran itu bagaikan bola yang menggelinding. Bila menggelindingnya tanpa arah, tentu tak akan mengena sasarannya. Karena itu, berpikir harus dilatih. Harus ada pelatihan untuk kegiatan berpikir. Tanpa ada pelatihan pikiran akan melompat-lompat tak tentu arah. Imajinasi akan tumbuh menjadi takhyul. Dugaan akan tumbuh menjadi kecurigaan dan prasangka. Refleksi dan perhatian akan berwujud kecemburuan dan kedengkian.

Manusia memang harus dilatih berpikir sebelum dapat dan terampil dalam berpikir. Dan ternyata berpikir itu sendiri bertingkat-tingkat. Dari tingkat berpikir yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Yang pertama adalah usaha untuk merekam atau mengingat objek-objek yang diketahuinya. Dengan kata lain, mengingat atau menghafal asma’ atau nama-nama benda [objek]. Pada tingkat ini kita baru pada tahap mengetahui nama, ciri dan fungsi dari suatu objek. Pelajaran di sekolah dari SD hingga SLTA adalah untuk memenuhi fungsi pikiran yang paling dasar tersebut. Karena itu, tekanannya pada hafalan! Mari kita perhatikan ayat berikut ini.
16: 10 Dia-lah yang menurunkan air dari langit untukmu. Sebagian untuk minumanmu, dan sebagian lainnya untuk kehidupan tumbuhan. Pada tumbuhan itu kamu gembalakan ternak.

16:11 Dengan air itu Dia tumbuhkan bagimu tanaman zaitun, kurma, anggur, dan berbagai macam buah-buahan. Sesungguhnya yang demikian itu adalah ayat bagi orang-orang yang berpikir.
Pada tahap dini ini manusia diajar untuk mengerti bahwa air hujan itu diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Manusia belum dituntut untuk memahami proses hujan itu sendiri. Manusia diberi tahu bahwa air hujan yang jatuh di bumi ini sebagian dijadikan minuman oleh manusia, sebagian lain diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Dan dari tanaman yang tumbuh itu, ada yang bisa dipakai untuk menggembalakan ternak. Ayat berikutnya menjelaskan bahwa dari air hujan tersebut Tuhan menumbuhkan berbagai buah-buahan. Dengan cara ini pikiran didorong dan dirangsang untuk bekerja secara sistematik. Otak kiri diaktifkan lebih dulu!

Yang dibangun pada tahap dini ini adalah objektivitas. Manusia diajar untuk dapat melihat sesuatu apa adanya. Bahasa dasar yang berkembang pada manusia pada tahap ini adalah bahasa notasi. Sifatnya masih konkret! Yang disebut hanyalah yang dapat ditangkap oleh indra dalam ruang manusia berada. Cara ini didahulukan agar manusia tidak terjebak dalam alam takhyul. Pelajaran matematika pada tahap dasar adalah untuk melatih ketrampilan berpikir.

Tahap kedua adalah berzikir! Tahap ini adalah menyalakan fungsi otak kanan yang sangat berperanan dalam mengendalikan emosi. Dengan didahului oleh pelatihan pikiran, maka manusia tidak terjebak dalam khayalan yang tanpa arah. Selanjutnya berzikir berfungsi untuk mengendalikan pikiran dan perasaan. Pikiran tidak berkeliaran lagi. Perasaan menjadi kalem, tenang, tidak agresif. Berzikir mendorong manusia untuk dapat menerima bahwa di alam ini hanya ada satu realitas puncak, hanya ada satu kebenaran. Berzikir itu melatih pikiran kita bekerja yang terarah dan terfokus. Sifat menerima dalam berzikir membuat perasaan tumbuh dengan tenang.

Kata zikir berasal dari kata ‘dzakara’ artinya mengingat, menghafal, atau menuangi. Berzikir mendorong untuk bisa menerima satu realitas puncak. Karena itu, dalam berzikir yang disebut-sebut adalah Sang Realitas Tertinggi itu, yaitu Tuhan. Atau, kalimat-kalimat yang diyakini berasal dari Tuhan. Dengan berzikir pikiran dan perasaan senantiasa dituangi atau diisi dengan asma Tuhan atau kata-kata suci. Rekaman-rekaman pikiran yang tidak bermanfaat secara perlahan-lahan dibuang, dan digantikan dengan kekuatan kata-kata suci. Hasil akhirnya adalah hati [tempat tumbuh dan berkembangnya perasaan] menjadi tenang, atau terpuaskan. Inilah yang disebut dalam Surat Al-Ra’d/13: 27 ? 28.
13: 27 Orang-orang kafir (orang yang ingkar) berkata: “Mengapa tidak diturun-kan kepadanya [Muhammad] mukjizat dari Tuhannya?” Katakan: “Allah niscaya menyesatkan orang yang menghendaki [kesesatan], dan Dia menunjukkan [jalan] kepada-Nya orang yang kembali,

13: 28 yaitu orang-orang yang beriman. Dan hati mereka menjadi tenang dengan berzikir kepada Allah. Perhatikan, hanya dengan berzikir mengingat Allah hati menjadi tenteram.
Dua ayat di atas menunjukkan adanya dikotomi pada manusia. Yang satu disebut sebagai ‘orang kafir’ dan yang lain dinamakan ‘orang beriman’. Ayat di atas tergolong sebagai ayat yang diturunkan kepada Nabi di Madinah, dalam masa transisi hijrah ke Madinah. Dikotomi kafir dan iman menjadi fokus. Karena hijrah merupakan jalan bagi pembentukan komunitas baru, yaitu masyarakat madani. 

Pada tahap awal perkembangan Islam di Madinah ini, yang dimaksud ‘orang kafir’ yaitu orang-orang Qureisy yang mengingkari kenabian Muhammad. Jadi, bukan seperti anggapan kita sekarang ini, bahwa orang kafir adalah para non-muslim. Orang-orang kafir adalah orang-orang yang mengetahui siapa sebenarnya Muhammad itu, tetapi mereka mengingkari kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.

Mereka mengingkari kenabian Muhammad karena mereka beranggapan bahwa seorang nabi itu harus mampu menunjukkan mukjizat bendawi. Mereka berasumsi bahwa nabi itu tidak sama dengan manusia umumnya. Nabi haruslah manusia super dan penuh magis. Mereka tidak bisa menerima bahwa nabi itu juga makan, minum, berumah tangga, dan bekerja seperti manusia lainnya. Inilah pandangan yang tidak berdasar! Mereka tidak memikirkan kebenaran yang disampaikan kepada mereka. Tapi bagaimana bisa berpikir bila hatinya tidak damai?

Pada tahap awal orang masih bisa berpikir dalam keadaan apa pun. Tentu saja yang bisa dilakukan adalah berpikir pada tingkat yang paling rendah. Orang yang terus gelisah, resah, gundah, merasa takut, bingung dan sejenisnya tak mampu berpikir lebih tinggi. Karena itu harus dilandasi dengan ‘zikir’. 

Dalam istilah sekarang, ‘berpikir dengan tenang’ atau kepala dingin. Untuk itu gejolak batin harus diredakan! Dengan hati yang tenteram, jalan ke depan akan terbuka lebar. Jalan menuju ke kebenaran tampak semakin jelas. Dan, orang yang berjuang untuk kembali kepada kebenaran itulah sebenarnya yang disebut “orang beriman” dalam ayat tersebut.

Jadi, iman bukanlah percaya pada “katanya”. Orang beriman adalah orang yang dapat menyaksikan kebenaran itu sendiri. Ingatlah kembali penjelasan tentang ‘ilmu l-yaqin, ‘ainu l-yaqin dan haqqu l-yaqin

Tuhan pasti menunjukkan jalan yang benar bagi orang-orang yang mau kembali kepada-Nya. Where there is a will there is a way, begitulah pepatah orang Inggeris. Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Kemauan harus ditopang dengan langkah-langkah yang benar untuk mencapainya. Kemauan harus didukung dengan batin yang tenang. Dengan cara demikian pintu ke kebenaran semakin terbuka.

Kebanyakan manusia sudah puas dengan berpikir kelas SD dan SLTP. Setelah tercapai hati yang tenang, tidak tahu lagi kemana akan melangkah. Atau, tidak mau lagi untuk melanjutkan perjalanan spiritualnya. Ayat 13:28 ini sudah cukup dijadikan pamungkas dalam hidup. Dan ini bisa kita dengarkan dalam mimbar subuh di radio-radio, dan dapat kita lihat dalam mimbar agama di tv-tv setiap hari.

Marilah kita berzikir dengan cermat dan waspada :
Duduklah yang relaks dengan punggung tegak lurus. dan, pejamkan mata secara ringan [asal tertutup], dan katupkan mulut. Lalu tariklah napas pelan-pelan dengan mengucapkan [dalam hati] kalimat suci “la ilaha illa l-lah” [tiada tuhan selain Allah]. Tahan sebentar napas Anda, kemudian hembuskan perlahan-lahan sampai habis dengan disertai pengucapan [dalam hati] kalimat suci itu lagi. Lakukan selama lima menit saja untuk melatih zikir ini.

READ MORE - Dengan Berzikir Niscaya Hati Menjadi Tenteram, Selanjutnya Apa Lagi ?

Mencari Damai Dalam Kebisingan Dunia


Dalam perjalanan hidupnya, seorang sufi ada melalui tiga tahap kehidupan yaitu takhalli [deconditioning], meninggalkan perilaku yang tidak terpuji, tahalli [conditioning; reconditioning] yaitu membiasakan diri untuk melakukan tindakan yang terpuji, dan tajalli [unconditioning; no mind action] yaitu berbuat dan bertindak yang bebas dari kepentingan pribadi [kelompok].

Pada posisi “sabar” kita mengisi hidup kita dengan perbuatan dan tindakan baik, kita kendalikan emosi kita, dan motivasi hidup kita kita arahkan ke jalan yang benar, jalan yang dibentangkan oleh Tuhan semesta alam. Jika jalan ini yang kita titi, maka kita disebut berjalan menuju Allah. Dan bila kita sudah hidup dijalan-Nya maka kita disebut berada di jalan Allah, fi sabili l-lah. Inilah tahap ‘tajalli’!

Zuhud adalah usaha memasuki tahap tajalli. Di dalamnya kita melalui subterminal iman [yang kokoh], hijrah, dan jihad. Pada era globalisasi ini kita harus melakukan hijrah pemikiran kembali. Disamping kita harus melakukan ‘jihad’ pemikiran yang disebut ‘ijtihad’. Kita tidak boleh terjebak dalam peperangan dan pertempuran fisik. Tetapi kita harus berani melangkah ke dunia yang penuh ‘trick’ atau jebakan ini. Karena di dunia macam inilah kita hidup sekarang ini!, bukankah kita ini ingin hidup damai?

Betul, betul sekali! Manusia, pada umumnya, menginginkan kedamaian hidup. Yang terselip di dalam hati yang paling dalam adalah menuju ‘sorga’ yang penuh kedamaian. Dan Tuhanlah kedamaian itu! Di dalam salah satu doa [dari sebuah Hadis] yang biasa dibaca setelah sembahyang adalah “Allahumma anta s-salam” [Ya Tuhan, Engkau-lah kedamaian itu]. Lalu, doa itu dilanjutkan dengan kalimat “dan kedamaian itu datangnya dari Engkau, dan kepada Engkau kembalinya kedamaian itu!” Sebagai seorang hamba, kita diajari Nabi untuk melanjutkan doa itu dengan kalimat “Fa hayyina rabbana bi s-salam”, ya Tuhan hidupkanlah kami penuh dengan kedamaian.”

Yang kita tuju adalah kedamaian. Tetapi, damai yang ada di bumi ini seperti damai yang ada di dalam hati. Jika di dalam hati damai itu terselip di dalamnya, bahkan di bagian dalam hati; maka di atas bumi ini ‘damai’ juga terselip di tengah-tengah keributan dan kebusukan dunia. Karena itu, kedamaian harus dicari! Kedamaian tidak datang dengan sendirinya. Orang-orang Romawi memiliki semboyan, yang bahasa Indonesianya “Bila kalian ingin hidup damai, bersiap-siaplah untuk perang”. Tentu saja berperang secara fisik. Pada zaman dulu, berperang secara fisik memang jalan satu-satunya untuk memperoleh kedamaian. Sebab, menang perang adalah keadaan yang menjamin kesejahteraan warganya. Pada zaman dulu, orang malu kalau ingin hidup sejahtera dengan cara menyengsarakan rakyat atau bangsanya sendiri. Ini tidak berarti, untuk memperoleh kedamaian kita harus berperang untuk menaklukkan negara lain. Pada zaman sekarang ini kita harus hijrah dan jihad di lapangan pemikiran, ‘ijtihad’. Ijtihad pun tidak hanya terbatas pada dunia fikih atau agama. Kita harus berijtihad untuk menemukan solusi bagi kedamaian dan kesejahteraan hidup.

Sekarang ini kita sering dihadapkan pada pengertian yang salah tentang ‘damai’. Kata damai dikaburkan maknanya menjadi ‘aman’. Padahal aman hanyalah salah satu keadaan yang ada di dalam kata ‘damai’. Keadaan yang aman, artinya tidak ada gangguan atau kekerasan [fisik]. Kalau damai yang ini, berarti cukup dengan tunduk atau takluk pada kekuatan di luar dirinya. Damai yang sejati adalah wujud dari keseimbangan, keselarasan dan keserasian, yang disebut hidup harmoni. Di tengah kedamaian yang sejati inilah terletak kemerdekaan. Damai yang demikian ini yang dilukiskan dalam kamus “Oxford Advanced Learner’s Dictionary” sebagai keadaan yang bebas dari peperangan dan kekerasan, suasananya tenang, dan penuh dengan keharmonisan dan persahabatan.

Nah, ternyata damai harus diperjuangkan. Ingin hidup damai tak ubahnya kita ini mencari intan di tumpukan sampah. Di sinilah harus ada hijrah dan jihad [ijtihad] dalam pemikiran. Ketika Nabi Muhammad Saw menyebarkan risalah keislaman, beliau sebenarnya membangun paradigma berpikir yang baru. Beliau tinggalkan cara-cara berpikir jahiliah dan beliau bangun cara-cara berpikir yang islami. Ada puluhan, bahkan ratusan, ayat Al Quran yang menyeru manusia untuk ‘berpikir’. Perintah berpikir ini disampaikan dalam berbagai bentuk, misalnya tafakkaru, tadzakkaru, nazhara, ta‘qilun, dan lain-lain.

Kita harus memberdayakan pikiran dan emosi kita untuk menciptakan perdamaian dalam kehidupan ini. Bila ada penawaran hidup damai, maka kita harus condong pada perdamaian. Kita tak boleh berprasangka buruk kepada orang-orang yang mengajak hidup damai. Karena itu kebersediaan hidup damai harus disertai dengan sikap tawakal kepada Tuhan. Dan menyeru kepada kehidupan damai harus terus-menerus digiatkan. Ya, mencari kedamaian hidup itu bagaikan mencari intan di tengah onggokan sampah. Bau sampah itu menyengat sehingga mengganggu kita dalam menemukan intan di dalamnya. Sama seperti menyeru hidup damai, bau jejak setan ada di mana-mana. Tapi kita tak boleh putus asa! “Jangan merasa lemah dalam menyeru kepada perdamaian [salm] karena kedudukanmu [yang menyeru damai] itu lebih tinggi. Allah beserta kamu! Dan Allah tidak menghilangkan amalanmu.” (QS 47:35)

Jadi, bukan hanya condong kepada perdamaian, tetapi memprakarsai perdamaian! Dan, damai yang diserukan dalam Al Quran ini bukan ‘damai’ seperti yang dilakukan pelanggar lalu lintas dengan polisi penangkapnya. Kalau yang ini bukan damai namanya tetapi transaksi untuk membebaskan diri dari jeratan hukum. Ini masalah penegakan hukum. Dan saya tak hendak berkomentar dalam hal ini. Damai yang dituju dalam Al Quran adalah keadaan yang aman dan tentram, dan dalam posisi keseimbangan. Tidak terjadi adu kekuatan dan saling menekan di dalam perdamaian. Damai bukanlah aman! Tetapi keamanan terjamin dalam perdamaian.

Pada ayat itu kita diperintahkan untuk menciptakan keadaan hidup yang damai. Ada proses, ada aktivitas untuk mencapai hidup damai. Dalam menyerukan perdamaian kita tidak boleh merasa lemah. Bukankah lemah itu timbul dari pikiran? Lemah adalah jejak setan, langkah setan. “Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena setan itu musuhmu yang nyata,” bunyi QS 2:208. Nah, sebagai konsekuensi bagi orang yang ingin hidup beragama yang benar, kita harus aktif dalam menyerukan perdamaian.

Menyerukan perdamaian tidak sama dengan menebar slogan dan ucapan “mari menempuh hidup damai” atau “mari berdamai” atau “damai itu indah”. Kalau yang ini sih sekadar ungkapan hati, atau tipu daya. Menyerukan perdamaian berarti berusaha keras, memprakarsai hidup damai. Karena itu kita dilarang ‘merasa lemah’ dalam menyerukan perdamaian. Harus ada ijtihad alias jihad pemikiran. Artinya kita harus memeras otak [bukan memeras keringat karena kita tidak melakukan perang fisik] untuk mencari langkah-langkah yang bisa mengantarkan umat manusia menuju hidup damai. Inilah makna perdamaian!
“Orang-orang yang hidup di negara maju [tentu saja ada yang malas] bekerja keras, bekerja dengan cermat, berusaha memenuhi komitmen dalam masyarakat, membuat perjanjian yang melindungi dan menguntungkan semua pihak, menegakkan hukum [bukan cuma penegak hukumnya], dan semua aktivitas untuk menyongsong hari depan yang baik adalah wujud untuk menyerukan perdamaian.”
Orang yang menyerukan perdamaian tidak boleh merasa lemah. Karena penyeru perdamaian itu lebih tinggi kualitasnya. Baik kualitas mental, moral, kecerdasan akal, emosional dan spiritualnya. Yang jelas bukan kualitas fisiknya yang lebih unggul. Kualitas fisik diperlukan, tetapi bukan hal yang terlalu penting. Kekuatan fisik adalah kekuatan pendukung, bukan kekuatan utama. Orang yang cerdas dan cerdik tidak merasa lemah dalam perjuangan hidupnya. Dalam jihad fisik jelas lemah, tetapi dalam jihad pemikiran dia tidak lemah.

Di ayat 47:35 itu disebutkan bahwa Tuhan beserta orang-orang yang menyerukan perdamaian. Apa maksudnya Tuhan menyertai orang-orang yang menyerukan “hidup damai” atau “perdamaian” itu? Menyeru itu lahir dari kehendak orang yang menyeru. Tuhan adalah sumber iradah. Maka iradah atau kehendak Tuhanlah yang menyertai orang-orang yang menyerukan perdamaian. Dan, Tuhan pun tidak menghilangkan daya dari amalan orang-orang yang menyerukan perdamaian. Karena itu, orang yang berniat menyerukan perdamaian tidak boleh merasa lemah.

Dengan demikian jelas sekali bahwa perdamaian atau kedamaian hidup adalah prinsip dibangkitkannya agama Islam. Kalau bukan ini, apa bedanya agama Islam dengan ajaran jahiliah yang mengutamakan keunggulan suku dan sikap mau menang sendiri? Rasul Saw dengan tegas mengatakan: “Sesungguhnya aku ini dibangkitkan untuk mengutamakan budi pekerti yang mulia.”

READ MORE - Mencari Damai Dalam Kebisingan Dunia