Tampilkan postingan dengan label Rasulullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rasulullah. Tampilkan semua postingan

Silsilah Keturunan Nabi Muhammad SAW


Nabi Muhammad s.a.w. merupakan Nabi dan Rasul yang terakhir diutuskan oleh Allah SWT bagi menjadi MANUSIA TERMULIA untuk seluruh alam serta kedatangannya juga adalah untuk “Menyempurnakan Akhlak” (Makarrimal Akhlak) manusia.

Nabi Muhammad SAW merupakan keturanan kepada Nabi Allah Ismail dan Nabi Allah Ibrahim.

Berikut merupakan kronologi salasilah keturunan berikut diterangkan nama-nama yang merupakan Datuk KAKEK moyang kepada Baginda Nabi Muhammad SAW:
  • Nabi Muhammad s.a.w. (Muhammad bin Abdullah)
  • Abdullah bin Abdul Mutallib
  • Abdul Mutallib bin Hashim
  • Hashim bin Abdul Manaf
  • *Abdul Manaf bin Qusai
  • Qusai bin Kilab
  • Kilab bin Murrah
  • Murrah bin Kaab
  • Kaab bin Luay
  • Luay bin Ghalib
  • Ghalib bin Fahr
  • Fahr bin Malik
  • Malik bin An-Nadr
  • An-Nadr bin Kinanah
  • Kinanah bin Khuzaimah
  • Khuzaimah bin Mudrikah
  • Mudrikah bin Elyas
  • Elyas bin Mudar
  • Mudar bin Nizar
  • Nizar bin Ma’ad
  • Ma’ad bin Adnan
  • Adnan bin Add (diriwayatkan merupakan Pemerintah Pertama bagi kota suci Makkah)
  • Add bin Humaisi
  • Humaisi bin Salaman
  • Salaman bin Aws
  • Aws bin Buz
  • Buz bin Qamwal
  • Qamwal bin Obai
  • Obai bin Awwam
  • Awwam bin Nashid
  • Nashid bin Haza
  • Haza bin Bildas
  • Bildas bin Yadlaf
  • Yadlaf bin Tabikh
  • Tabikh bin Jahim
  • Jahim bin Nahish
  • Nahish bin Makhi
  • Makhi bin Ayd
  • Ayd bin Abqar
  • Abqar bin Ubayd
  • Ubayd bin Ad-Daa
  • Ad-Daa bin Hamdan
  • Hamdan bin Sanbir
  • Sanbir bin YathRabi
  • YathRabi bin Yahzin
  • Yahzin bin Yalhan
  • Yalhan bin Arami
  • Arami bin Ayd
  • Ayd bin Deshan
  • Deshan bin Aisar/Aizar
  • Aisar bin Afnad
  • Afnad bin Aiham
  • Aiham bin Muksar
  • Muksar bin Nahith
  • Nahith bin Zarih
  • Zarih bin Sani
  • Sani bin Wazzi
  • Wazzi bin Adwa’
  • Adwa’ bin Aram
  • Aram bin Haidir
  • Haidir bin Ismail (anak Nabi Allah Ismail) (dipanggil Kedar dalam Injil Kristian)
  • Ismail bin Ibrahim (Ishmael bin Abraham) (Nabi Ismail a.s.)
Nabi SAW telah bersabda :

Demi Allah yang jiwaku ada dalam genggamannya tidaklah kamu beriman hingga aku (Nabi Muhammad SAW.,) lebih ia cintai dari pada kedua orang tuanya, anak–anaknya atau yang lainnya" (HR.Ahmad asnad imam ahmad 3/177 HR.Bukhari,Shahih Bukhari 1/14)

Cinta seseorang akan hilang bila ia disakiti, demikian juga halnya bila kita mengatakan hal-hal yang jelek tentang kedua orang tua nabi SAW., maka beliau akan tersakiti, Allah berfirman :

"Dan mereka yang menyakiti Rasulullah akan mendapatkan azab yang pedih". ( At-Taubah 61 )

"Sesungguhnya orang–orang yang menyakiti Allah dan Rasulnya, akan mendapatkan laknat Allah di dunia dan akhirat, dan Allah akan menyiapkan untuk mereka azab yang menghinakan."( Al-Ahzab : 57 ).

TELAH jelas Allah SWT., melarang kita untuk menyakiti Rasulullah SAW.,

Perlu kita ketahui, walaupun ada keterangan bahwa kakek moyang Nabi SAW., musyrik, sebenarnya mereka tidaklah musyrik. Karena pada saat mereka hidup Rasulullah SAW., belum diutus.

PARA ULAMA Ahli Sunnah Wal-Jama’ah meyakini bahwa siapa saja yang hidup pada masa transisi antara satu Nabi dengan Nabi yang lain ( masa Fatrah / kekosongan Rasul ) walaupun jika mereka menyekutukan Allah atau megganti syariat tauhid, mereka tidak diazab. 

Allah berfirman :

"Kami tidak akan mengazab suatu kaum hingga Kami mengutus seorang Rasul "(Al-Isra : 16).

"Tuhanmu tidak akan menghancurkan suatu daerah hingga ia mengutus dari mereka seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat kami pada mereka. Tidaklah kami hancurkan suatu daerah kecuali bila penghuninya melakukan perbuatan zhalim". (Al-An’am :131).

Dari ayat diatas jelaslah bahwa kedua orang tua Nabi SAW., tidaklah diazab, bukan karena mereka orang tua Nabi SAW., tapi karena memang mereka termasuk orang-orang yang hidup pada masa tidak diutusnya seorang Nabi.

KARENA JELAS NABI saw MENDAPAT KAN RISALAH UNTUK MENJADI SEORANG RASUL DI UMUR 40 th . . dan dalam keadaan tsb KEDUA ORANG TUA NABI SAW TELAH LAMA MENINGGAL DUNIA ..

Secara khusus ada dalil yang menunjukan bahwa kedua orang tua Nabi SAW., tidak diazab tanpa menggunakan dalil "Al-‘am Al-khas ". Karena mereka hidup pada masa transisi para nabi ( masa FATRAH )

firman Allah SWT., :

"Wa nuqollibuka fissajidiin" (As-Syuara:219)
artinya : "Dan pergerakan MU ( Muhammad saw ) pada orang yang sujud".

Dlm menafsirkan ayat ini Ibnu Abbas berkata :

"Pergerakanmu dalam shulbi (tulang punggung ) Adam, Nuh, Ibrahim, hingga Allah mengeluarkanya dan menjadikannya seorang Nabi. (Tafsir IMAM Qurthubi 13/144. Tafsir IMAM Thabari 7/287).

Dari Watsilah bin Asqa’ Nabi bersabda :"Allah memilihku dari keturunan IBRAHIM , ISMAIL , dari Keturunan Ismail Allah memilihku dari suku Kinanah, dari Bani Kinanah Allah memilihku dari suku Quraisy, dari suku Quraisy Allah mengutuskku dari Bani Hasyim," (HR. Ahmad, musnad Imam Ahmad, 4/107. HR. Muslim, shohih muslim 4/1782).

Dari Ibnu Abbas Nabi SAW., bersabda : Ketika Allah mencipta manusia, allah menciptakanku dari keturunan yang terbaik diantara mereka, zaman yang terbaik, suku yang terbaik dan rumah yang terbaik. Maka aku adalah orang yang terbaik dan dari rumah tangga yang terbaik diantara mereka. (HR.Ahmad, Musnad Imam Ahmad, 4/165. HR. Tirmizdi, Sunan Tirmizdi, 5/ 584).

Dalam hadits-hadits tadi Rasulullah SAW., menyebutkan bahwa beliau berasal dari keturunan yang terbaik dan mulia, hal ini bertolak belakang dengan sifat kufur atau syirik.
Allah swt juga berfirman :

"Sesungguhnya orang Musyrik itu adalah najis ".(At-Taubah :28)

BAGAIMANA MUNGKIN MANUSIA TERMULIA DI DUNIA DAN AKHIRAT DI SIMPAN DALAM RAHIM ORANG MUSYRIK ?? Sebagai mana KEYAKINAN PARA KAUM SESAT WAHABI !!! . .

Golongan yang mengatakan bahwa kedua orang tua Nabi musyrik, karena mereka salah memahami dua hadits ahad.

Dua hadits itu adalah :

Pertama : Rasulullah SAW., bersabda : "Aku meminta izin pada Allah, agar memohon ampunan buat ibuku, Allah tidak mengizinkanku, lalu aku memohon agar bisa menziarahi kuburannya, Allah mengizinkan ku. (HR.Muslim, Shahih Muslim, 2/671).

Seorang laki-laki berkata pada Rasulullah SAW., : "Wahai Rasulullah dimana ayahku?", Rasul SAW., menjawab :"di dalam neraka" sebelum laki-laki itu menjauh dari Rasulullah, Rasul memanggilnya kembali dan berkata : "Ayahku ( abi ) dan ayahmu ada di dalam neraka." (HR. Muslim, Shohihnya, 1/191).

Bantahan terhadap pendapat mereka :

Pada hadist pertama tidak ada keterangan secara jelas bahwa ibu Rasulullah SAW., ada di dalam neraka. Disana hanya diterangkan bahwa Allah tidak mengizinkan beliau untuk memohon ampunan buat ibunya. Hal ini tidak menunjukkan bahwa ibu beliau adalah musyrik, kalaulah ibunya musyrik Allah tidak akan membolehkan beliau untuk menziarahinya. Karena menziarahi kuburan orang musyrik tidaklah dibolehkan.

KEBODOHAN WAHABI PENGIKUT DAJJAL MEMAHAMI HADITS SECARA HARFIAH

Bukti bahwa ibunda nabi Saw bukanlah orang musyrik dan ahli neraka adalah Allah mengidzinkan Nabi Saw untuk menziarahinya. Sedangkan kita tahu bahwa Allah melarang kita berdiri di sisi kuburan orang-orang kafir. Allah Swt berfirman :

ولاتصل على احد منهم مات ابدا ولا تقم على قبره انهم كفروا بالله ورسوله وماتوا وهم فاسقون

“ Dan janganlah kamu mensholati seorang dari mereka yang wafat selama-lamanya, dan janganlah kamu berdiri di sisi kuburnya. Sesungguhnya mereka mengkufuri Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam kedaan fasiq “
Maksud hadits kedua bisa jadi paman Nabi SAW., paman beliau Abu Thalib wafat setelah beliau diutus menjadi Rasul. Terkadang orang arab menyebut paman mereka dengan ayah ( abi ).

Seperti firman Allah SWT., :

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

"Dan ingatlah tatkala Ibrahim berkata pada pada ayahnya : "Mengapa engkau menjadikan berhala tuhan ?". (Al-An’am :74).

Ibnu Katsir dan ahli tafsir lainnya mengatakan bahwa ayah kandung nabi Ibrahim adalah Tarih atau Tarikh.

Ulama hadits Al-Khatib Al-Baghdadi telah berkata mengenai kaedah ini, beliau berkata : "Apabila ada hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang dapat dipercaya, sanadnya bersambung, tetapi isinya bertetangan dengan Al-Qur’an atau hadist mutawatir. Maka hadits itu tidak bisa diamalkan atau mansukh. (Faqiih Wal Mutafaqqih, Baghdadi, 132).

Jika ada riwayat hadits bertentangan dengan Al-Qur’an dan ijma’ ULAMA kaum muslimin. Bila hadits ahad bertentangan dengan Al-Quran dan ijma’ maka wajib ditinggalkan.(Al-Majmu’, An-Nawawi 4/222).

Maka golongan yang mengatakan bahwa orang tua Nabi SAW., berada dalam neraka hendaklah memilih dua hal berikut ini :

1 - Men-takwil : menafsirkan hadits bahwa kata ayah maksudnya adalah paman. Hal ini lebih selamat karena tidak bertentangan dengan Al-Quran.

2 - Menolak kedua hadits ahad tadi, karena bertentangan dengan Al-Quran yang qoth’i. inilah yang banyak dilakukan oleh para .

Bagaimanapun juga sudah jelas bahwa kedua orang tua Nabi SAW., dan seluruh nenek moyang beliau selamat dari neraka.

Semoga Allah menganugrahkan kita rasa cinta pada NabiNya dan memahami kemulian-Nya.

Wa Akhiru Da’wana Anil Hamdulillahi Rabbil A’lamiin.

READ MORE - Silsilah Keturunan Nabi Muhammad SAW

Rasulullah Pun Mengizinkan Para Sahabat Berijtihad


Ketika Nabi Saw kembali dari Khandaq, tidak lama setelah meletakkan senjata dan mandi, Jibril datang kepadanya lalu berkata, "Apakah kamu sudah meletakkan senjata? Demi Allah, kami belum meletakkannya. Berangkatlah kepada mereka!"

Nabi Saw bertanya, "Kemana?" Jibril menjawab, "Ke sana," seraya menunjuk ke arah perkampungan Bani Quraidhah. Nabi Saw kemudian berangkat mendatangi mereka.

Nabi Saw memerintahkan kaum Muslimin supaya tidak seorang pun di antara mereka melaksanakan shalat Ashar kecuali setelah tiba di kampung Bani Quraidhah. Di Tengah jalan, tibalah waktu shalat Ashar. Sebagian berkata, "Kami tidak akan shalat sehingga kami sampai di sana." Sebagian yang lainnya berkata, "Kami akan melakukan shalat karena bukan itu yang dimaksudkan Nabi Saw." Mereka kemudian melaporkan kejadian itu kepada Nabi Saw, tetapi Beliau tidak mengecam atau menegur terhadap salah seorang pun di antara mereka.

Bagian ini membahas perselisihan para sahabat dalam memahami ucapan Rasulullah Saw, "Janganlah ada seorang pun yang shalat Ashar kecuali setelah sampai di Bani Quraidhah."

Tidak adanya seorang pun diantara mereka yang dikecam atau disalahkan oleh Nabi Saw merupakan dalil penting bagi salah satu prinsip syariat yang agung ini. Apa? Yaitu ketetapan prinsip perbedaan pendapat dalam masalah-masalah furu (cabang) dengan menganggap masing-masing dari kedua belah pihak yang berselisih pendapat mendapatkan pahala dan termaafkan (kesalahannya), baik kita kataan bahwa pihak yang benar itu hanya satu maupun bisa lebih dari satu. Sebagaimana ia juga menyimpulkan prinsip ijtihad dalam menyimpulkan hukum-hukum syariat. 

Di samping itu, peristiwa ini menunjukkan bahwa menuntaskan perselisihan dalam masalah-masalah furu yang timbul dari dalil-dalil dzanni adalah sesuatu yang tidak mungkin karena Allah memperhamba para hamba-Nya dengan dua macam taklif (kewajiban).

Pertama, menerapkan perintah-perintah tertentu dan jelas yang berkaitan dengan akidah dan perilaku (suluk).

Kedua, mencari dan mengerahkan segenap upaya untuk memahami prinsip-prinsip dan hukum-hukum fariyah dari dalil-dalil yang umum dan beraneka macam. Seseorang yang mendapati waktu shalat di suatu pedalaman dan tidak mengetahui arah kiblat secara pasti, tidaklah dituntut lebih dari tercerminnya ubudiyah kepada Allah dalam mengerahkan segenap usahanya untuk mengetahui arah kibat sesuai dengan apa yang dipahaminya dan atas tanda-tanda yang dilihatnya. Bila ia sudah yakin akan arah kiblat yang dicarinya, ia boleh shalat menghadap kepadanya dengan tenang.

Selain itu, terdapat beberapa hikmah dari adanya dalil-dalil dan nash-nash syariat yang zhanniyud dilalah (tidak tegas penunjukannya). Yang terpenting diantaranya, agar ijtihad-ijtihad yang berlainan mengenai suatu masalah itu seluruhnya memiliki hubungan yang erat dengan dalil-dalil yang mutabarah secara syari sehingga kaum Musimin memiliki keleluasaan untuk mengambil dalil yang mana saja yang mereka kehendaki sesuai dengan tuntutan situasi dan kemaslahatan mereka. Hal ini termasuk salah satu bentuk rahmat Allah Swt kepada para hamba-Nya di setiap zaman dan waktu.

Dengan demikian, usaha-usaha untuk menghapuskan perbedaan pendapat (khilafiyah) dalam masalah-masalah furu adalah bertentangan dengan hikmah Rabbaniah dan tadbir (rekayasa) Ilahi dalam syariat-Nya, di samping merupakan salah satu jenis kesia-siaan. Sebab, bagaimana anda akan menghapuskan adanya perbedaan pendapat selama dalilnya bersifat zhanni dan mengandung beberapa kemungkinan (muhtamal)? 

Seandainya hal itu terjadi pada suatu masa, niscaya sudah terjadi di masa Rasulullah Saw, dan orang yang paling pantas untuk tidak berbeda pendapat adalah para sahabat. Ternyata mereka juga berselisih pendapat sebagaimana kita lihat dalam peristiwa ini. Wallahu alam. (Sumber : mozaik.inilah.com)

READ MORE - Rasulullah Pun Mengizinkan Para Sahabat Berijtihad

Mengenang Akhlak Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam


Setelah Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya - tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, "Ceritakan padaku akhlak Muhammad!". Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.

Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi.

Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, "Ceritakan padaku keindahan dunia ini!." Badui ini menjawab, "Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini...." Ali menjawab, "Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)"

Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam yang sering disapa "Khumairah" oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur'an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur'an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam itu bagaikan Al-Qur'an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur'an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu'minun [23]: 1-11.

Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.

Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, Aisyah hanya menjawab, "Ah semua perilakunya indah." Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. "Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, 'Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.'" Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.

Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, "Mengapa engkau tidur di sini?" Nabi Muhammmad menjawab, "Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu." Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam mengingatkan, "berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya." Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.

Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam memanggilnya. Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi malah mencium sorban Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tersebut.

Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat ucapan lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.

Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam selalu memujinya. Abu Bakar- lah yang menemani Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam sakit. Tentang Umar, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pernah berkata, "Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain." Dalam riwayat lain disebutkan, "Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta'wil) mimpimu itu? Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam menjawab "ilmu pengetahuan."

Tentang Utsman, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam sangat menghargai Utsman karena itu Utsman menikahi dua putri Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, hingga Utsman dijuluki Dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. "Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya." "Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik."

Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah...ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.

Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam. Buktinya, dalam Al-Qur'an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dan lain – lain, tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam, Allah menyapanya dengan "Wahai Nabi". Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.

Para sahabat pun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam. Mereka ingin Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: "Angkat Al-Qa'qa bin Ma'bad sebagai pemimpin." Kata Umar, "Tidak, angkatlah Al-Aqra' bin Habis." Abu Bakar berkata ke Umar, "Kamu hanya ingin membantah aku saja," Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud membantahmu." Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal- amal kamu dan kamu tidak menyadarinya" (QS. Al-Hujurat 1-2)

Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, "Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia." Umar juga berbicara kepada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam.

Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi'ah. Ia berkata pada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, "Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami"

Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bertanya, "Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?" "Sudah." kata Utbah. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.

Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak Nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan sebenarnya adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah!

Ketika Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bahwa Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam? "Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu." Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam telah menyerap di sanubari kita atau tidak.

Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berkata pada para sahabat, "Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!" Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, "Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini." Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap "membereskan" orang itu. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun melarangnya. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah beliau. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam keheranan ketika Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam berikan pada mereka.

Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berkata, "Lakukanlah!" 


Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan memeluk Nabi seraya menangis, "Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah". Seketika itu juga terdengar ucapan, "Allahu Akbar" berkali-kali. Sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam sebelum Allah memanggil Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam ke hadirat-Nya.

Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia? Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na'udzu billah.....

Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam ketika saat haji Wada', di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, "Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?" Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam melanjutkan, "Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah kusampaikan pada kalian wahyu dari Allah.....?" Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, "Benar ya Rasul!"

Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, "Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah!". Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pembahasan ini saya pun memohon kepada Allah untuk menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah sallAllahu 'alayhi wasallam. "Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah"  (Ustadz KH. Nadirsyah Hosen Dewan Asaatiz Pesantren Virtual )

READ MORE - Mengenang Akhlak Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam

Hargailah Nabimu sallAllahu 'alayhi wasallam


Wahai Muslim, wahai orang-orang yang beriman, hari-hari berlalu, minggu dan pekan pun berlalu, bulan-bulan berlalu, tahun-tahun pun berlalu, dan setiap orang suatu hari nanti akan meninggalkan segala sesuatunya di belakangnya dan pergi… Tak seorang pun yang akan tertinggal di belakang. Apa pun yang berusaha kita lakukan, kita akan pergi dan meninggalkannya. Allah SWT-lah yang memiliki diri kita. Kita tidak memiliki diri kita sendiri. Allah SWT telah menciptakan kita dan Allah mencintai ciptaan-Nya.

Seseorang yang menulis suatu kaligrafi yang indah, tulisan atau seni yang indah, ia pun begitu bangga dengan apa yang telah ia hasilkan. Ia menginginkan orang untuk menyukainya pula, Ia ingin orang untuk menghargai dan mengapresiasinya pula, yaitu terhadap karya seninya. Dan kita sebagai Muslim, percaya bahwa Allah SWT telah menciptakan diri kita. Dan tentu saja, Allah SWT mencintai kita, dan tentu saja Allah SWT ingin kita untuk menghargai Diri-Nya yang telah menciptakan kita, dan Ia membawa kita ke kehidupan ini untuk mengenal-Nya, mengetahui Diri-Nya.

Allah SWT berfirman (dalam hadits Qudsi), “Kuntu kanzan makhfiyya, fa aradtu an u’raf fa khalaqtu al-khalq” “Aku adalah Harta yang tersembunyi, Aku ingin untuk diketahui maka Kuciptakan makhluq”. Allah menciptakan kita untuk mengenal-Nya. Maka, penghargaan itu, bahwa Allah SWT telah menciptakan kita ditunjukkan dengan jalan ibadah. Bagaimanakah kita akan menghargai seseorang? Seorang anak menghargai perbuatan baik ayah atau ibunya padanya, dengan menunjukkan cintanya pada mereka. Sang anak menunjukkan rasa hormatnya dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang tuanya, khususnya bagi anak yang berbakti pada orang tuanya. Jadi, sebagai Muslim, kita pun berbakti kepada Allah SWT. Dan jalan terbaik untuk menunjukkan pada-Nya penghargaan kita tersebut, adalah dengan ibadah.

Dan Allah SWT berfirman, “Wa maa khalaqtu al-jinna wa l-insa illa liya’buduuni” “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” [QS 51:56]. Dan ibadah bisa dalam berbagai bentuk, di samping lima bentuk kewajiban yang harus kalian lakukan (dalam rukun Islam). Ibadah bisa ditunjukkan dengan berbagai cara yang berbeda: dengan mengunjungi orang yang sakit, dengan menolong orang lain, dengan melakukan sesuatu buat orang lain, membantu mereka dalam hidup mereka, membantu tunawisma, memberikan zakat, dan lain-lain. Inilah jenis-jenis penghargaan kita terhadap apa yang Allah SWT telah berikan pada kita.

Dan yang paling penting, hari ini, Allah SWT ingin kita untuk memberikan penghargaan dan apresiasi kita pada apa yang telah Ia ciptakan bagi kita. Dan Ia telah memilihnya untuk menjadi Yang Terbaik, untuk menyampaikan pesan-pesan Islam. Saya akan menunjukkan penghargaan bagi Nabi kita tercinta, Sayyidina Muhammad ‘alaihi afdalus salaatu wassalaam. Allah ingin kita menunjukkan penghargaan pada Nabi ‘alaihi afdalus salaatu wassalaam, karena “Man athaa’ar Rasuul faqad athaa’allah” “Barang siapa taat pada Rasul sungguh dia telah taat pada Allah” [1]. Allah telah menjadikan Nabi-Nya sebagai pintu gerbang, sebagai jembatan atau sebagai jalan raya bebas hambatan untuk mencapai Hadirat Allah. Jika kalian akan menyangkal jalan itu, yaitu “ittiba’ khuthar Rasuul” “mengikuti jejak langkah Nabi, maka itu berarti kalian tidak menghargai apa yang telah diberikan Allah SWT pada kita. 

Dengan alasan itulah, Allah SWT berfirman dalam Quran Suci, “Innallaha wa malaa-ikatahu yushalluuna ‘alan Nabiy. Yaa Ayyuhal ladziina Aamanuu shallu ‘alaihi wasallimuu tasliiman.” “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [QS 33:56]. Dia berfirman “Yaa Ayyuhal ladziina Aamanuu” “Wahai Orang Beriman” Dia mengkhususkan pada orang beriman (mu’min). Tidak setiap muslim adalah mu’min, tapi setiap mu’min adalah muslim. Muslim bisa menjadi seorang muslim, tapi mungkin ia tidak salat, ia mengatakan “Laa ilaaha illa-Allah Muhammadun Rasulullah”. Dia seorang Muslim. Kalian tidak bisa mengatakan padanya, “Kau bukan seorang Muslim”. Ia mungkin berbuat dosa dan dosa, dia meninggalkan salat, dan meninggalkan salat, tapi kalian tidak bisa mengatakan padanya, “Hei kamu bukan Muslim.” Tapi seorang Mu’min sejati adalah seorang Muslim sejati. Karenanya, Allah SWT berfirman, “Yaa Ayyuhal ladziina Aamanuu” “Kalian, kalian yang Mu’min, kalian tahu, dan kalian dapat menghargai apa yang telah Ku-berikan padamu, kalian tidak lagi berada di Taman Kanak-Kanak.” Seperti kita, Muslim, kita masih berada di Taman Kanak-Kanak, kita masih berusaha untuk belajar. Tapi, ketika kita telah mencapai tingkatan Iman, itu selesai. Kita tahu kini kewajiban kita, kita tahu tugas kita. “Maka, wahai Mu’min! Shalluu ‘alan Nabiy, Yaa Ayyuhal ladziina Aamanuu shalluu ‘alaihi” “Bersalawatlah bagi Nabi!” Ini suatu perintah! Karena dalam salawat atas Nabi ada barakah bagi kita. 

Lihatlah apa yang Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam katakan. “Fa ’anil Bara’ ibn ‘Azm r.a., annan Nabiyya sall-Allahu ‘alaihi wasallam qoola, ‘Man salla ‘alayya marratan’ “Barangsiapa yang mendoakan (bersalawat) untukku satu kali” dan ini adalah untuk Mu’min. Bagi mu’min ini adalah suatu tugas, suatu kewajiban. Untuk Muslim, kita masih berjuang sebagai Muslim, kita belum mencapai derajat Mu’min. Mu’min berarti ia yang telah mencapai derajat tertinggi dari Iman, kita tidak lagi berbohong, kita tak lagi menipu, tak lagi berkhianat. Muslim sedang berjuang untuk mencapai kesempurnaan dalam tingkatan iman. Beliau bersabda, “Man salla ‘alayya marratan” “Barangsiapa bersalawat atasku satu kali” “kataballahu ta’ala lahu ‘asyru hasanaat” “Allah akan menuliskan baginya sepuluh kebaikan” “Wa mahha ‘anhu ‘asyru sayyiaat” ”Dan Allah menghapuskan darinya sepuluh keburukan” “wa rafa’ahullah ‘asyru darajaat” “Dan Allah meninggikannya” Ke mana Allah SWT meninggikannya? Beliau mengatakan “meninggikannya” Ke mana? Ini berarti ada derajat-derajat yang Allah sediakan untuk meninggikan Mu’min, atau Muslim, saat mereka mengucapkan salawat atas Nabi, saat mereka mendoakan Nabi. Allah SWT meninggikannya “sepuluh derajat”. “wa kunna lahu adlu ‘asyru riqaab” “dan akan ada sepuluh derajat ini ketika ia melakukan salawat itu seakan-akan ia membebaskan sepuluh orang dari perbudakan”. Berapa banyak di zaman Nabi SAW terdapat perbudakan, saat mana Nabi SAW biasa membebaskan mereka dari perbudakan, dari siksaan tuan mereka? Berapa banyak orang menderita akibat perbudakan? “Seakan-akan ia telah membebaskan sepuluh budak.” Tidak hanya dari perbudakan, tapi juga dari api neraka. Itu hanya untuk satu kali salawat atas Nabi SAW.

“An ‘Aa-isyata radhiyallahu ‘anha” suatu hadist lain. Sayyidah ‘Aisyah ra berkata bahwa Nabi SAW bersabda, “Maa min ‘abdin salla ‘alayya salaatan” “Tidaklah seorang hamba bersalawat atasku satu kali” “illa kharaja bihaa malikun” ”melainkan seorang Malaikat akan keluar darinya” “yajii-u biha wajhur Rahman” “dan membawa salawat itu ke Hadirat Allah” “fa yaquulu Rabbuna Tabaraka wa Ta’ala” “maka Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala akan berfirman pada malaikat yang membawa salawat atas Nabi itu” “idz-habu bihaa ilaa qabri ‘abdii” “bawalah salawat itu dan pergilah ke kubur hamba-Ku itu di masa depan di saat dia akan masuk ke kubur itu” "tastaghfiru li shaahibihaa wa tuqirru bihaa ‘aynuhu” Jika orang itu di dunia bersalawat satu kali atas Nabi SAW sebagaimana dikatakan ‘Aisyah ra, maka malaikat yang membawa salawat itu pergi ke hadirat Allah SWT, dan Allah akan mengatakan pada malaikat itu, “Jika hamba-Ku mati, bawalah salawaat itu dan pergi ke kuburnya. Salawat itu akan memintakan ampunan bagi hamba-Ku yang ada di kubur itu hingga ia akan berbahagia.” "Tuqirru bihaa ‘aynuhu” berarti matanya akan amat berbahagia atas apa yang akan ia terima sebagai balasan atas salawat yang telah ia lakukan.

Wahai Muslim, inilah cara menunjukkan penghargaan pada Allah SWT, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Quran Suci kepada Nabi SAW, “qul la as-alukum ‘alayhi ajran illa l-mawaddata fi l-qurba” [QS 42:23]. Allah berfirman pada Nabi untuk mengatakan pada kita, “Katakanlah: ’Wahai Muslim aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali agar kalian menjaga keluargaku, agar kalian menjaga sukuku, agar kalian menjagaku’". Dan bagaimanakah kita menunjukkan penghargaan kita dan menjaga Nabi? Kita tidak bisa menjaga beliau, beliaulah yang harus menjaga kita, tapi kita menunjukkan cinta kita pada beliau dengan salawat. Dan karena itulah, salawat itu akan menjadi penyelamat diri kita di Hari Penghakiman. “Man salla ‘alayya, wa jawad lahu syafaa’atii” “Barangsiapa bersalawat atasku Allah SWT akan memberiku kekuatan padaku untuk bersyafa’at baginya di hari Pembalasan”.

Ibn Dawud meriwayatkan dari Abu Bakr as-Shiddiq berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW dalam Haji Wada’ bersabda, ’Innallaha ‘azza wa Jalla qad wahaba lakum dzunuubakum ‘indal istighfar’” “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla, qad wahaba lakum dzunuubakum” bermakna “Ia memberikan dosamu kembali kepadamu, berkata, ‘wahai hamba-Ku dosa ini kini ada ditanganmu sekarang. Beristighfarlah pada-Ku, dan Ku-ampuni dirimu. Kuberikan semua dosa ini padamu seakan-akan dosa itu tak pernah terjadi. Kau bisa menghapusnya dengan tanganmu’”. Dan itulah maknanya “qad wahaba lakum dzunuubakum ‘indal istighfar” Artinya secepat kalian beristighfar, Allah SWT akan menghapuskan seluruh dosa kalian. “fa man istaghfara bi niyyatin saadiqaa” “Dan barangsiapa memohon ampun bertaubat kepada Allah SWT dengan niyyat yang sungguh-sungguh” “ghufiro lahu” “Allah SWT akan mengampuninya”. “Wa man qoola Laa ilaaha ill-Allahu” “Dan barangsiapa pernah mengucapkan dalam hidupnya Laa ilaaha illallah” “rozaha l-miizaan” “timbangan kebaikannya di Hari Kiamat akan menjadi berat”. Artinya jika dosa kalian berat, saat kalian mengucap Laa ilaaha illallah di dunia, kebaikan kalian akan menjadi lebih berat. Selalu kebaikan kalian akan lebih berat dari dosa kalian. Lalu apakah cara yang mudah untuk mengucap Laa ilaha illallah? Mengapa orang-orang merasa sulit untuk mengucapkan Laa ilaha ill-Allah saat mereka mengendarai mobil mereka, setiap hari, saat menuju tempat kerja mereka? Apa sulitnya mengucapkan Laa ilaha ill-Allah? Buatlah lidah kalian selalu bergerak dengan dzikrullah! Dan beliau bersabda di akhir hadits, “Wa man salla ‘alayya” “Dan barangsiapa bersalawat atasku”, Sayyidina Muhammad alaihi afdalus salaati wassalam bersabda, “kuntu syafii’uhu yaumal Qiyamah” “aku akan menjadi perantaranya, aku akan minta pada Allah SWT untuk menyelamatkan orang itu di Hari Kiamat jika ia mendoakan dan memujiku”. “Wa man salla ‘alayya kuntu syafii’uhu yaumal Qiyamah” ”Siapa yaang memujiku dan mendoakan diriku, Allah SWT akan memberiku kekuatan untuk memohon-Nya untuk menyelamatkan orang itu dan mengirimkannya ke surga.”

Wahai Muslim, penghargaan, apresiasi, adalah indah, sebagaimana telah kami katakan di awal Jum’ah. Penghargaan atas apa yang telah diberikan Allah SWT kepada kita adalah indah dan baik. Dan karena itu Ia SWT berkata, “Untuk menghargai Diri-Ku yang telah menciptakanmu, hargailah utusan-Ku,” Sayyidina Muhammad ‘alaihi afdalus salaati wassalaam, “Melalui dia, dirimu dapat masuk surga. Tanpa dia, bagaimana dirimu dapat masuk ke dalam surga? Dia adalah Kekasih-Ku”. “Man athaa’ar Rasuul faqad athaa’allah” “Barang siapa taat pada Rasul sungguh dia telah taat pada Allah SWT.”

Dan akan saya akhiri, diriwayatkan oleh Tirmidzi (dalam sahihnya), “An Anas r.a. annan Nabiyya SallaAW qoola, ‘aulan naasi wubiya yaumal qiyaamati aktsaruhum ‘alayya sholaatan.’” “Orang pertama yang akan mendapat syafa’at dariku adalah ia yang bersalawat atasku paling banyak.” Beliau bersabda, “Aktsaruhum ‘alayya salaatan” “siapa yang PALING BANYAK bersalawat atasku selama hidup mereka”. Artinya siapa yang paling banyak melakukan salawat, akan menjadi yang pertama memperoleh syafa’at beliau. Yang paling banyak kedua melakukan salawat, akan menjadi yang kedua pula menerima syafa’at dari beliau SAW. Jadi, kalau ada yang mengatakan bahwa “bersalawat atas Nabi banyak-banyak” tidak pernah disebutkan, atau tidak diperbolehkan, tidak! Hal ini disebutkan dalam Sahih at-Tirmidzi. Beliau bersabda, “Mereka yang paling banyak bersalawat atasku, berlebihan dalam bersalawat atasku mereka akan menjadi yang pertama memperoleh syafa’atku”. 

Wahai Muslim, itulah yang telah Allah SWT karuniakan pada kita dengan seorang Nabi yang beliau senang dan merasa paling terhormat untuk mengatakan, “Innii ‘Abdullah” “Aku adalah hamba Allah” ketika Allah SWT menceritakan tentang beliau, “Subhanalladzii asraa bi ‘abdihi” “Maha Suci Dia yang memperjalankan hamba-Nya” [QS 17:1]. Tak pernah Nabi SAW melampaui batas kehambaan ini. Beliau tahu batasan beliau. Dan seluruh Muslim di seluruh dunia, TAK PERNAH seorang Muslim pun, dengan salawatnya yang berlebihan dan banyak atas Nabi SAW, berpikir sekali pun, bahwa Nabi SAW lebih dari seorang hamba, seorang hamba yang sempurna bagi Tuhannya.

Wahai Muslim, berdoalah bagi Nabimu. “Sallu ‘alan Nabiy!”, bersalawatlah atas Nabimu. Dengan salawat atasnya, adalah seperti semerbak parfum yang wangi yang dengannya Allah SWT akan memakaikan padamu, pakaian kesempurnaan, pakaian parfum yang wangi, yang akan melepaskan diri kalian dari segala macam kesulitan.
Dan Insya Allah, di waktu lain, kita akan melanjutkan untuk menjelaskan betapa pentingnya pujian dan salawat atas Nabi, yang akan menyelamatkan diri kita dari segala kesulitan dan membuat Allah SWT mendukung diri kita, memberi kita berbagai macam rizki yang kita butuhkan dalam hidup kita. 

Catatan kaki:
[1] Dalam Al Quran surat AN NISAA' (4:80) Man yuti’i r-rasuula faqad ataa’a Allah “Barangsiapa yang menta'ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta'ati Allah.” 
* Syekh Muhammad Hisyâm Kabbânî ialah penulis dan ulama yang terkemuka di dunia. Ia telah mengabdikan hidupnya untuk mengampanyekan prinsip-prinsip Islam seperti perdamaian, toleransi, dan penentangan ektremisme dalam segala bentuknya. Sang syekh dibesarkan dalam keluarga ulama yang terhormat. Di antara mereka ada yang pernah menjadi Ketua Persatuan Ulama Lebanon dan kini menjabat sebagai Mufti Agung Lebanon—yakni pemangku otoritas agama tertinggi negara itu.
Di Amerika, Syekh Kabbânî menjabat sebagai Ketua Dewan Tinggi Islam Amerika; pendiri Tarekat Naqsyabandi Amerika; Ketua Yayasan Al-Sunnah Amerika; Ketua Organisasi Wanita Islam Kamilat; dan pendiri serta Ketua The Muslim Magazine.
Syekh Kabbânî sangat piawai baik sebagai saintis Barat maupun pakar Islam klasik. Ia memperoleh gelar sarjana muda pada bidang kimia (American University in Beirut), dan mempelajari ilmu kedokteran (Catholic University of Leuven, Belgia). Di samping itu, ia juga menyandang gelar sarjana pada bidang hukum Islam (Universitas Al-Azhar cabang Damaskus, Syria), dan, atas izin dari Syekh ‘Abd Allâh Daghestani, mengajar, mengarahkan, dan membimbing para murid yang belajar spiritualitas Islam dari Syekh Muhammad Nâzim ‘Adil al-Qubrusî al-Haqqânî al-Naqsyabandî, pemimpin besar tarekat Naqsyabandî-Haqqânî.
Buku-buku yang pernah beliau tulis adalah: Remembrance of God Liturgy of the Sufi Naqshbandi Masters (1994); The Naqshbandi Sufi Way (1995); Angels Unveiled (1996); Encyclopedia of Islamic Doctrine (7 jilid, 1998); Encyclopedia of Muhammad’s Women Companions and the Traditions They Related (1998, bersama Dr. Laleh Bakhtiar); dan Classical Islam and the Naqshbandi Sufi Order (akan diterbitkan bulan November 2003).
Dalam usaha jangka panjangnya untuk memperkenalkan pemahaman yang lebih baik tentang Islam klasik, Syekh Kabbânî telah menyelenggarakan dua konferensi internasional di Amerika, dengan menghadirkan para pakar dari berbagai dunia muslim. Sebagai pembawa suara Islam tradisional, komentarnya dikutip oleh para wartawan, akademisi, maupun pejabat pemerintahan. (sumber : muslimdelft.nl)

READ MORE - Hargailah Nabimu sallAllahu 'alayhi wasallam

Kemuliaan dan Kedudukan Aisyah di Sisi Rasulullah


Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyahbinti Abu Bakr, Shiddiqah binti Shiddiqul Akbar, istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Beliau lahir empat tahun setelah diangkatnya Muhammad menjadi seorang Nabi.

Ibu beliau bernama Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Abdi Syams bin Kinanah yang meninggal dunia pada waktu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam masih hidup yaitu tepatnya pada tahun ke-6 H.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menikahi Aisyah dua tahun sebelum hijrah melalui sebuah ikatan suci yang mengukuhkan gelar Aisyah menjadi ummul mukminin, tatkala itu Aisyah masih berumur enam tahun.

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membangun rumah tangga dengannya setelah berhijrah, tepatnya pada bulan Syawwal tahun ke-2 Hijriah dan ia sudah berumur sembilan tahun. Aisyah menceritakan, "Rasulullah shallallahu alaihi wa sallammenikahiku pasca meninggalnya Khadijah sedang aku masih berumur enam tahun, dan aku dipertemukan dengan Beliau tatkala aku berumur sembilan tahun. Para wanita datang kepadaku padahal aku sedang asyik bermain ayunan dan rambutku terurai panjang, lalu mereka menghiasiku dan mempertemukan aku dengan Nabishallallahu alaihi wa sallam." (Lihat Abu Dawud: 9435). Kemudian biduk rumah tangga itu berlangsung dalam suka dan duka selama 8 tahun 5 bulan, hingga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meninggal dunia pada tahun 11 H. Sedang Aisyah baru berumur 18 tahun.

Aisyah adalah seorang wanita berparas cantik berkulit putih, sebab itulah ia sering dipanggil dengan "Humaira". Selain cantik, ia juga dikenal sebagai seorang wanita cerdas yang Allah Subhanahu wa Taala telah mempersiapkannya untuk menjadi pendamping Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam mengemban amanah risalah yang akan menjadi penyejuk mata dan pelipur lara bagi diri beliau. Suatu hari Jibril memperlihatkan (kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam) gambar Aisyah pada secarik kain sutra berwarna hijau sembari mengatakan, "Ia adalah calon istrimu kelak, di dunia dan di akhirat." (HR. At-Tirmidzi (3880), lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi (3041))

Selain menjadi seorang pendamping setiap yang selalu siap memberi dorongan dan motivasi kepada suami tercinta di tengah beratnya medan dakwah dan permusuhan dari kaumnya, Aisyah juga tampil menjadi seorang penuntut ilmu yang senantiasa belajar dalam madrasah nubuwwah di mana beliau menimba ilmu langsung dari sumbernya.

Beliau tercatat termasuk orang yang banyak meriwayatkan hadits dan memiliki keunggulan dalam berbagai cabang ilmu di antaranya ilmu fikih, kesehatan, dan syair Arab. Setidaknya sebanyak 1.210 hadits yang beliau riwayatkan telah disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim dan 174 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari serta 54 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Sehingga pembesar para sahabat kibar tatkala mereka mendapatkan permasalahan mereka datang dan merujuk kepada Ibunda Aisyah.

Kedudukan Aisyah di Sisi Rasulullah

Suatu hari orang-orang Habasyah masuk masjid dan menunjukkan atraksi permainan di dalam masjid, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memanggil Aisyah, "Wahai Humaira, apakah engkau mau melihat mereka?" Aisyah menjawab, "Iya." Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdiri di depan pintu, lalu aku datang dan aku letakkan daguku pada pundak Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan aku tempelkan wajahku pada pipi beliau." Lalu ia mengatakan, "Di antara perkataan mereka tatkala itu adalah, Abul Qasim adalah seorang yang baik."

Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengatakan, "Apakah sudah cukup wahai Aisyah?" Ia menjawab: "Jangan terburu-buru wahai Rasulullah." Maka beliau pun tetap berdiri. Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengulangi lagi pertanyaannya, "Apakah sudah cukup wahai Aisyah?" Namun, Aisyah tetap menjawab, "Jangan terburu-buru wahai Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, " Aisyah mengatakan, "Sebenarnya bukan karena aku senang melihat permainan mereka, tetapi aku hanya ingin memperlihatkan kepada para wanita bagaimana kedudukan Nabi shallallahu alaihi wa sallam terhadapku dan kedudukanku terhadapnya." (HR. An-Nasai (5/307), lihat Ash Shahihah (3277))

Canda Nabi kepada Aisyah

Aisyah bercerita, "Suatu waktu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam datang untuk menemuiku sedang aku tengah bermain-main dengan gadis-gadis kecil." Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepadaku, "Apa ini wahai Aisyah." Lalu aku katakan, "Itu adalah kuda Nabi Sulaiman yang memiliki sayap." Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallampun tertawa. (HR. Ibnu Saad dalam Thabaqat (8/68), lihat Shahih Ibnu Hibban (13/174))

Suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berlomba lari dengan Aisyah dan Aisyah menang. Aisyah bercerita, "Nabi shallallahu alaihi wa sallam berlari dan mendahuluiku (namun aku mengejarnya) hingga aku mendahuluinya. Tetapi, tatkala badanku gemuk, Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengajak lomba lari lagi namun beliau mendahului, kemudian beliau mengatakan, "Wahai Aisyah, ini adalah balasan atas kekalahanku yang dahulu." (HR. Thabrani dalamMujamul Kabir23/47), lihatAl-Misykah(2.238) [ ]
Sumber:Majalah Al-Furqon,Edisi 06 Tahun kiadhan 1427 H / Oktober 2006

READ MORE - Kemuliaan dan Kedudukan Aisyah di Sisi Rasulullah

Prophet Muhammad would always forgive non-Muslims


Prophet Muhammad would always forgive non-Muslims - ALLAH Almighty has described Prophet Muhammad (peace be upon him) as a “Mercy for all the Worlds,” as He said in the Qur’an: “We have sent you as a mercy for all the worlds.” (Qur’an, 21:107)

This means that the Prophet’s characteristic of being merciful was not just limited to the Muslim Ummah or nation, but it also extended to non-Muslims, despite the fact that some of them (non-Muslims) made every effort to harm the Prophet and his mission. This mercy and forgiveness are clearly demonstrated in several instances when the Prophet (peace be upon him), despite having opportunities to take revenge, never did so and always forgave even his staunch enemies. 

Ayesha said that the Prophet (peace be upon him) never took revenge on his own behalf on anyone. She also said that he never returned evil for evil, but he would forgive and pardon. This will, God willing, become clear after a deep analysis of the following accounts of his life.

In the earlier portion of his mission, the Prophet (peace be upon him) traveled to the city of Taif, a city located in the mountains nearby to Makkah, in order to invite them to accept Islam. The leaders of Taif, however, were rude and discourteous in their treatment of the Prophet (peace be upon him). 

Not being content with their insolent attitude toward him (peace be upon him), they even encouraged unruly urchins of the town to abuse and harass the Prophet (peace be upon him). The riffraff followed the Prophet shouting at and abusing him, and throwing stones at him, until he was compelled to take refuge in an orchard. 

Thus the Prophet (peace be upon him) had to endure even more obstacles in Taif than he had had to face in Makkah. These ruffians, stationed either side of the path, threw stones at him until he was deeply injured with his shoes smeared with blood. 

These oppressions so grievously dejected the Prophet and plunged him into in such a state of depression that a prayer, citing his helplessness and pitiable condition and seeking the aid of God, spontaneously came from his lips: “O God, to You I complain of my weakness, lack of resources and humiliation before these people. You are the Most Merciful, the Lord of the weak and my Master. To whom will You consign me? To one estranged, bearing ill will, or an enemy given power over me? If You do not assign me any worth, I care not, for Your favor is abundant upon me. I seek refuge in the light of Your countenance by which all darkness is dispelled and every affair of this world and the next is set right, lest Thy anger should descend upon me or Your displeasure light upon me. I need only Your pleasure and satisfaction for only You enable me to do good and evade the evil. There is no power and no might but You.”

The Lord then sent the angel of mountains, seeking the permission of the Prophet (peace be upon him) to join together the two hills and crush the city of Taif, between which it was located. Out of his great tolerance and mercy, the Messenger of God replied, “No! For, I hope that God will bring forth from their loins people who will worship God alone, associating nothing with Him.” (Saheeh Muslim)

His mercy and compassion was so great that on more than one occasion, God, Himself, reprimanded him for it. One of the greatest opponents of Islam and a personal enemy, was Abdullah bin Ubayy, the leader of the hypocrites of Madinah. Outwardly proclaiming Islam, he surreptitiously inflicted great harm to the Muslims and the mission of the Prophet (peace be upon him). 

Knowing his state of affairs, the Prophet Muhammad (peace be upon him) still offered the funeral prayer for him and prayed to God for his forgiveness. The Qur’an mentions this incident in these words: “And never (O Muhammad) pray for one of them who dies, nor stand by his grave. Lo! They disbelieve in God and His Messenger, and they died while they were evil doers.” (Qur’an, 9:84)

Abdullah bin Ubayy worked all his life against the Prophet Muhammad (peace be upon him) and Islam and left no stone unturned so as to bring him into disrepute and try to defeat his mission. He withdrew his three hundred supporters in the battle of Uhud and thus almost broke the backbone of the Muslims at one stroke. He engaged in intrigues and acts of hostility against the Prophet of Islam and the Muslims. It was he who tried to bring shame to the Prophet by inciting his allies to falsely accuse the Prophet’s wife, Ayeha, of adultery in order to discredit him and his message.
source : islamreligion.com

READ MORE - Prophet Muhammad would always forgive non-Muslims

The 20th century scientists have found that the Qur’anic verses are true


The 20th century scientists have found that the Qur’anic verses are true - While discussing the prophethood of Muhammad Mustafa (peace be upon him), we need to go into the backdrop in which the Qur’an was revealed.

Sixth century Arabia was steeped in darkness, as the modern science then was unknown to mankind. The traces of knowledge that were still there were in the shape of Torah, the Psalms of David, and the Bible. The original versions of these Books were lost, and the Jewish and Christian scholars would write them on their own. The books were nothing but scattered pieces of historical events of few prophets (peace be upon them all) carrying no chain of evidence in their narrations. 

The Babylon, Egyptian and the Greek cultures were buried. Traces of fine arts speaking of the cultures like those of Egyptian pyramids were available. Ruins could be seen of the Roman culture. 

After Islam’s advent, the Muslim scholars revived the philosophy of Plato, Aristotle and Socrates, many of which were proved wrong by science. In short, nothing was known of them before Islam. 

Man did not know, 1400 years ago, the matter and its elements; they never had any telescope to see the stars; and thus wrongfully fancied that stars ruled the destinies of the people. They thought earth was a plain surface; it never occurred to them that it was round. Few worshipped the sun and called it sun god. They thought that it rises, it sets and emits heat, it runs right east to west and to them only a god could emit heat and make such a long run. They were not aware of the effects of the winds nor did they know the layers of the atmosphere. Arabian Peninsula in particular had no record of any knowledge then. 

In such a background, Allah Almighty sent Prophet Muhammad (peace be upon him). He was unlettered. The angel Gabriel (peace be upon him) gave him with first revelation: “He has taught man that which he knew not.” (Qur’an, 96:5)
Glory be to God, He taught mankind through his Prophet. He revealed many facts in His Book, the Qur’an, which could be unveiled only after modern scientific development i.e. almost 1,000 or more after the revelation of the Qur’an proving it undoubtedly to be a Book of God.

Qur’an is the book, which brought humanity from pre-scientific age to the age of rationalism. It invited mankind to observe and contemplate the phenomena of nature, including life and death, the creation of the heavens and the earth, the alteration of the day and night, sailing of the ships, the rains which, is sent down from the sky and in the animal life, the changing of the winds, the trailing of the clouds between the sky and the earth. All this phenomena of nature contains the signs of God to believe in his Divine Omnipotence.

The very first line that the Prophet received, “Read in the name of thy Lord, Who created man from something that clings.” (96:1-4) invited our attention to the Lord, the Creator and to His creation. There are other verses too, which explain the processing of the embryo I quote here few of them: “Verily We created man from a drop of mingled liquids to test him, So We make him hearing and knowing.” (76:2)
“He made all things good which He had created and He began the creation of man from clay. Then He made his (i.e. man’s) progeny from a quintessence of despised liquid, Then He fashioned him and breathed into him of His spirit; and He gave you hearing and sight and hearts.” See this verse (32:7-9)
“Thinketh man that he is to be left in vain? Was he not a drop fluid (sperm out of semen) which gushed forth? Thereafter he became ‘Alaqua’ (i.e. something that clings) And made of him a pair, the male and female. Has He not the power to bring back the dead to life.” (75:36-40)
“He it is Who created you from dust, then from a sperm drop then from something which clings then bringeth you forth as a child.” (40/67)
The beauty in the description of the above Qur’anic verses is that modern science could not add any such fact, which relates to the processing, of embryo in the womb and Qur’an does not mention the same.

Before we discuss the truth of these verses, it may be noted that the views of Aristotle (384-322CE) were predominant. He was of the view that actual creation and formation of the embryo was from the menstrual blood. To him the process resembled the curdling of milk into cheese.

The Qur’anic verse (76:2) as mentioned above ultimately proved Aristotle wrong. Explaining the word ‘Amshaj’ (mingled liquids), Ibn Kathir said, “Its root is from ‘Mashaja’ means to mix and ‘Masheej’ means (gamete) mixed with another. Ibn Abbas said, “It means the semen of the man and woman intermingled and then it passes through various stages. God said, “He created you in diverse stages.” (71:14)

However, Europe remained stuck to the unfounded notions of Aristotle, until 1668 when Redi dealt a blow to his theory. Pasteur in 1864 wrote the final obituary to the doctrine of spontaneous generation. In 1883 Van Banden proved that both male and female participated equally in the formation of human zygote.

Thus, what the Qur’an said was finally upheld by the scientists after about 1300 years of scientific ignorance regarding the creation of man. 

The 20th century scientists have found that the Qur’anic verses are true and confirm to modern science after a long denial of about 1300 years.

It was impossible for a man living in the early 7th century to have expressed such facts, so it is absurd to say that Muhammad (peace be upon him) wrote the Qur’an. The science confirmed not only the truth of Allah’s Book the Qur’an; it also confirmed the prophethood of Muhammad (peace be upon him).
 Courtesy: thequranandscience.com

READ MORE - The 20th century scientists have found that the Qur’anic verses are true

But the prophet of Islam changed the whole strategy of the battlefield


Prophet Muhammad was human to the marrow of his bones. To serve man, to elevate man, to purify man, to educate man, to humanize man - this was the object of his mission. In thought, in word, in action he had the good of humanity as his sole inspiration.

In the desert of Arabia was Muhammad born, according to Muslim historians, on April 20, 571. The name means highly praised. He is to me the greatest mind among all the sons of Arabia. He means so much more than all the poets and kings that preceded him in that impenetrable desert of red sand.

When he appeared Arabia was a desert -- a nothing. Out of nothing a new world was fashioned by the mighty spirit of Muhammad -- a new life, a new culture, a new civilization, a new kingdom which extended from Morocco to Indies and influenced the thought and life of three continents -- Asia, Africa and Europe.

When I thought of writing on Muhammad the prophet, I was a bit hesitant because it was to write about a religion I do not profess and it is a delicate matter to do so for there are many persons professing various religions and belonging to diverse school of thought and denominations even in same religion. Though it is sometimes, claimed that religion is entirely personal yet it can not be gain-said that it has a tendency to envelop the whole universe seen as well unseen. It somehow permeates something or other our hearts, our souls, our minds their conscious as well as subconscious and unconscious levels too. The problem assumes overwhelming importance when there is a deep conviction that our past, present and future all hang by the soft delicate, tender silked cord. If we further happen to be highly sensitive, the center of gravity is very likely to be always in a state of extreme tension. Looked at from this point of view, the less said about other religion the better. Let our religions be deeply hidden and embedded in the resistance of our innermost hearts fortified by unbroken seals on our lips.

But there is another aspect of this problem. Man lives in society. Our lives are bound with the lives of others willingly or unwillingly, directly or indirectly. We eat the food grown in the same soil, drink water, from the same the same spring and breathe the same air. Even while staunchly holding our own views, it would be helpful, if we try to adjust ourselves to our surroundings, if we also know to some extent, how the mind our neighbor moves and what the main springs of his actions are. From this angle of vision it is highly desirable that one should try to know all religions of the world, in the proper sprit, to promote mutual understanding and better appreciation of our neighborhood, immediate and remote.

Further, our thoughts are not scattered as appear to be on the surface. They have got themselves crystallized around a few nuclei in the form of great world religions and living faiths that guide and motivate the lives of millions that inhabit this earth of ours. It is our duty, in one sense if we have the ideal of ever becoming a citizen of the world before us, to make a little attempt to know the great religions and system of philosophy that have ruled mankind.

In spite of these preliminary remarks, the ground in these field of religion, where there is often a conflict between intellect and emotion is so slippery that one is constantly reminded of fools that rush in where angels fear to tread. It is also not so complex from another point of view. The subject of my writing is about the tenets of a religion which is historic and its prophet who is also a historic personality. Even a hostile critic like Sir William Muir speaking about the Holy Quran says that. "There is probably in the world no other book which has remained twelve centuries with so pure text." I may also add Prophet Muhammad is also a historic personality, every event of whose life has been most carefully recorded and even the minutest details preserved intact for the posterity. His life and works are not wrapped in mystery.

My work today is further lightened because those days are fast disappearing when Islam was highly misrepresented by some of its critics for reasons political and otherwise. Prof. Bevan writes in Cambridge Medieval History, "Those account of Muhammad and Islam which were published in Europe before the beginning of 19th century are now to be regarded as literary curiosities." My problem is to write this monograph is easier because we are now generally not fed on this kind of history and much time need be spent on pointing out our misrepresentation of Islam.

The theory of Islam and Sword for instance is not heard now frequently in any quarter worth the name. The principle of Islam that there is no compulsion in religion is well known. Gibbon, a historian of world repute says, "A pernicious tenet has been imputed to Muhammadans (Muslims), the duty of extirpating all the religions by sword." This charge based on ignorance and bigotry, says the eminent historian, is refuted by Quran, by history of Muslim conquerors and by their public and legal toleration of Christian worship. The great success of Muhammad's life had been effected by sheer moral force, without a stroke of sword.

But in pure self-defense, after repeated efforts of conciliation had utterly failed, circumstances dragged him into the battlefield. But the prophet of Islam changed the whole strategy of the battlefield. The total number of casualties in all the wars that took place during his lifetime when the whole Arabian Peninsula came under his banner, does not exceed a few hundreds in all. But even on the battlefield he taught the Arab barbarians to pray, to pray not individually, but in congregation to God the Almighty. During the dust and storm of warfare whenever the time for prayer came, and it comes five times every day, the congregation prayer had not to be postponed even on the battlefield. A party had to be engaged in bowing their heads before God while other was engaged with the enemy. After finishing the prayers, the two parties had to exchange their positions. To the Arabs, who would fight for forty years on the slight provocation that a camel belonging to the guest of one tribe had strayed into the grazing land belonging to other tribe and both sides had fought till they lost 70,000 lives in all; threatening the extinction of both the tribes to such furious Arabs, the Prophet of Islam taught self-control and discipline to the extent of praying even on the battlefield. In an aged of barbarism, the Battlefield itself was humanized and strict instructions were issued not to cheat, not to break trust, not to mutilate, not to kill a child or woman or an old man, not to hew down date palm nor burn it, not to cut a fruit tree, not to molest any person engaged in worship. His own treatment with his bitterest enemies is the noblest example for his followers. At the conquest of Mecca, he stood at the zenith of his power. The city which had refused to listen to his mission, which had tortured him and his followers, which had driven him and his people into exile and which had unrelentingly persecuted and boycotted him even when he had taken refuge in a place more than 200 miles away, that city now lay at his feet. By the laws of war he could have justly avenged all the cruelties inflicted on him and his people. But what treatment did he accord to them? Muhammad's heart flowed with affection and he declared, "This day, there is no REPROOF against you and you are all free." "This day" he proclaimed, "I trample under my feet all distinctions between man and man, all hatred between man and man."

This was one of the chief objects why he permitted war in self defense, that is to unite human beings. And when once this object was achieved, even his worst enemies were pardoned. Even those who killed his beloved uncle, Hamazah, mangled his body, ripped it open, even chewed a piece of his liver.

The principles of universal brotherhood and doctrine of the equality of mankind which he proclaimed represents one very great contribution of Muhammad to the social uplift of humanity. All great religions have preached the same doctrine but the prophet of Islam had put this theory into actual practice and its value will be fully recognized, perhaps centuries hence, when international consciousness being awakened, racial prejudices may disappear and greater brotherhood of humanity come into existence.

Miss. Sarojini Naidu speaking about this aspect of Islam says, "It was the first religion that preached and practiced democracy; for in the mosque, when the minaret is sounded and the worshipers are gathered together, the democracy of Islam is embodied five times a day when the peasant and the king kneel side by side and proclaim, God alone is great." The great poetess of India continues, "I have been struck over and over again by this indivisible unity of Islam that makes a man instinctively a brother. When you meet an Egyptian, an Algerian and Indian and a Turk in London, it matters not that Egypt is the motherland of one and India is the motherland of another."

Mahatma Gandhi, in his inimitable style, says "Some one has said that Europeans in South Africa dread the advent Islam -- Islam that civilized Spain, Islam that took the torch light to Morocco and preached to the world the Gospel of brotherhood. The Europeans of South Africa dread the Advent of Islam. They may claim equality with the white races. They may well dread it, if brotherhood is a sin. If it is equality of colored races then their dread is well founded."

Every year, during the Hajj, the world witnesses the wonderful spectacle of this international Exhibition of Islam in leveling all distinctions of race, color and rank. Not only the Europeans, the African, the Arabian, the Persian, the Indians, the Chinese all meet together in Medina as members of one divine family, but they are clad in one dress every person in two simple pieces of white seamless cloth, one piece round the loin the other piece over the shoulders, bare head without pomp or ceremony, repeating "Here am I O God; at thy command; thou art one and alone; Here am I." Thus there remains nothing to differentiate the high from the low and every pilgrim carries home the impression of the international significance of Islam.

In the opinion of Prof. Hurgronje "the league of nations founded by prophet of Islam put the principle of international unity of human brotherhood on such Universal foundations as to show candle to other nations." In the words of same Professor "the fact is that no nation of the world can show a parallel to what Islam has done the realization of the idea of the League of Nations."

The prophet of Islam brought the reign of democracy in its best form. The Caliph Ali and the son in-law of the prophet, the Caliph Mansur, Abbas, the son of Caliph Mamun and many other caliphs and kings had to appear before the judge as ordinary men in Islamic courts. Even today we all know how the black Negroes were treated by the civilized white races. Consider the state of BILAL, a Negro Slave, in the days of the prophet of Islam nearly 14 centuries ago. The office of calling Muslims to prayer was considered to be of status in the early days of Islam and it was offered to this Negro slave. After the conquest of Mecca, the Prophet ordered him to call for prayer and the Negro slave, with his black color and his thick lips, stood over the roof of the holy mosque at Mecca called the Ka'ba the most historic and the holiest mosque in the Islamic world, when some proud Arabs painfully cried loud, "Oh, this black Negro Slave, woe be to him. He stands on the roof of holy Ka'ba to call for prayer." At that moment, the prophet announced to the world, this verse of the Holy Quran for the first time.

"O mankind, surely we have created you, families and tribes, so you may know one another.
Surely, the most honorable of you with God is MOST RIGHTEOUS AMONG you. 

Surely, God is Knowing, Aware."
And these words of the Holy Quran created such a mighty transformation that the Caliph of Islam, the purest of Arabs by birth, offered their daughter in marriage to this Negro Slave, and whenever, the second Caliph of Islam, known to history as Umar the great, the commander of faithful, saw this Negro slave, he immediately stood in reverence and welcomed him by "Here come our master; Here come our lord." What a tremendous change was brought by Quran in the Arabs, the proudest people at that time on the earth. This is the reason why Goethe, the greatest of German poets, speaking about the Holy Quran declared that, "This book will go on exercising through all ages a most potent influence." This is also the reason why George Bernard Shaw says, "If any religion has a chance or ruling over England, say, Europe, within the next 100 years, it is Islam".

It is this same democratic spirit of Islam that emancipated women from the bondage of man. Sir Charles Edward Archibald Hamilton says "Islam teaches the inherent sinlessness of man. It teaches that man and woman and woman have come from the same essence, posses the same soul and have been equipped with equal capabilities for intellectual, spiritual and moral attainments."

The Arabs had a very strong tradition that one who can smite with the spear and can wield the sword would inherit. But Islam came as the defender of the weaker sex and entitled women to share the inheritance of their parents. It gave women, centuries ago right of owning property, yet it was only 12 centuries later , in 1881, that England, supposed to be the cradle of democracy adopted this institution of Islam and the act was called "the married woman act", but centuries earlier, the Prophet of Islam had proclaimed that "Woman are twin halves of men. The rights of women are sacred. See that women maintained rights granted to them."

Islam is not directly concerned with political and economic systems, but indirectly and in so far as political and economic affairs influence man's conduct, it does lay down some very important principles to govern economic life. According to Prof. Massignon, it maintains the balance between exaggerated opposites and has always in view the building of character which is the basis of civilization. This is secured by its law of inheritance, by an organized system of charity known as Zakat, and by regarding as illegal all anti-social practices in the economic field like monopoly, usury, securing of predetermined unearned income and increments, cornering markets, creating monopolies, creating an artificial scarcity of any commodity in order to force the prices to rise. Gambling is illegal. Contribution to schools, to places of worship, hospitals, digging of wells, opening of orphanages are highest acts of virtue. Orphanages have sprung for the first time, it is said, under the teaching of the prophet of Islam. The world owes its orphanages to this prophet born an orphan. "Good all this" says Carlyle about Muhammad. "The natural voice of humanity, of pity and equity, dwelling in the heart of this wild son of nature, speaks."

A historian once said a great man should be judged by three tests: Was he found to be of true metel by his contemporaries ? Was he great enough to raise above the standards of his age ? Did he leave anything as permanent legacy to the world at large ? This list may be further extended but all these three tests of greatness are eminently satisfied to the highest degree in case of prophet Muhammad. Some illustrations of the last two have already been mentioned.

The first is: Was the Prophet of Islam found to be of true metel by his contemporaries?

Historical records show that all the contemporaries of Muhammad both friends foes, acknowledged the sterling qualities, the spotless honesty, the noble virtues, the absolute sincerity and every trustworthiness of the apostle of Islam in all walks of life and in every sphere of human activity. Even the Jews and those who did not believe in his message, adopted him as the arbiter in their personal disputes by virtue of his perfect impartiality. Even those who did not believe in his message were forced to say "O Muhammad, we do not call you a liar, but we deny him who has given you a book and inspired you with a message." They thought he was one possessed. They tried violence to cure him. But the best of them saw that a new light had dawned on him and they hastened him to seek the enlightenment. It is a notable feature in the history of prophet of Islam that his nearest relation, his beloved cousin and his bosom friends, who know him most intimately, were not thoroughly imbued with the truth of his mission and were convinced of the genuineness of his divine inspiration. If these men and women, noble, intelligent, educated and intimately acquainted with his private life had perceived the slightest signs of deception, fraud, earthliness, or lack of faith in him, Muhammad's moral hope of regeneration, spiritual awakening, and social reform would all have been foredoomed to a failure and whole edifice would have crumbled to pieces in a moment. On the contrary, we find that devotion of his followers was such that he was voluntarily acknowledged as dictator of their lives. They braved for him persecutions and danger; they trusted, obeyed and honored him even in the most excruciating torture and severest mental agony caused by excommunication even unto death. Would this have been so, had they noticed the slightest backsliding in their master?

Read the history of the early converts to Islam, and every heart would melt at the sight of the brutal treatment of innocent Muslim men and women.

Sumayya, an innocent women, is cruelly torn into pieces with spears. An example is made of "Yassir whose legs are tied to two camels and the beast were are driven in opposite directions", Khabbab bin Arth is made lie down on the bed of burning coal with the brutal legs of their merciless tyrant on his breast so that he may not move and this makes even the fat beneath his skin melt. "Khabban bin Adi is put to death in a cruel manner by mutilation and cutting off his flesh piece-meal." In the midst of his tortures, being asked weather he did not wish Muhammad in his place while he was in his house with his family, the sufferer cried out that he was gladly prepared to sacrifice himself his family and children and why was it that these sons and daughters of Islam not only surrendered to their prophet their allegiance but also made a gift of their hearts and souls to their master? Is not the intense faith and conviction on part of immediate followers of Muhammad, the noblest testimony to his sincerity and to his utter self-absorption in his appointed task?

And these men were not of low station or inferior mental caliber. Around him in quite early days, gathered what was best and noblest in Mecca, its flower and cream, men of position, rank, wealth and culture, and from his own kith and kin, those who knew all about his life. All the first four Caliphs, with their towering personalities, were converts of this period.

The Encyclopedia Britannica says that "Muhammad is the most successful of all Prophets and religious personalities".

But the success was not the result of mere accident. It was not a hit of fortune. It was a recognition of fact that he was found to be true metal by his contemporaries. It was the result of his admirable and all compelling personality.

The personality of Muhammad! It is most difficult to get into the truth of it. Only a glimpse of it I can catch. What a dramatic succession of picturesque scenes. There is Muhammad the Prophet, there is Muhammad the General; Muhammad the King; Muhammad the Warrior; Muhammad the Businessman; Muhammad the Preacher; Muhammad the Philosopher; Muhammad the Statesman; Muhammad the Orator; Muhammad the reformer; Muhammad the Refuge of orphans; Muhammad the Protector of slaves; Muhammad the Emancipator of women; Muhammad the Law-giver; Muhammad the Judge; Muhammad the Saint.

And in all these magnificent roles, in all these departments of human activities, he is like, a hero..

Orphan-hood is extreme of helplessness and his life upon this earth began with it; Kingship is the height of the material power and it ended with it. From an orphan boy to a persecuted refugee and then to an overlord, spiritual as well as temporal, of a whole nation and Arbiter of its destinies, with all its trials and temptations, with all its vicissitudes and changes, its lights and shades, its up and downs, its terror and splendor, he has stood the fire of the world and came out unscathed to serve as a model in every face of life. His achievements are not limited to one aspect of life, but cover the whole field of human conditions.

If for instance, greatness consist in the purification of a nation, steeped in barbarism and immersed in absolute moral darkness, that dynamic personality who has transformed, refined and uplifted an entire nation, sunk low as the Arabs were, and made them the torch-bearer of civilization and learning, has every claim to greatness. If greatness lies in unifying the discordant elements of society by ties of brotherhood and charity, the prophet of the desert has got every title to this distinction. If greatness consists in reforming those warped in degrading and blind superstition and pernicious practices of every kind, the prophet of Islam has wiped out superstitions and irrational fear from the hearts of millions. If it lies in displaying high morals, Muhammad has been admitted by friend and foe as Al Amin, or the faithful. If a conqueror is a great man, here is a person who rose from helpless orphan and an humble creature to be the ruler of Arabia, the equal to Chosroes and Caesars, one who founded great empire that has survived all these 14 centuries. If the devotion that a leader commands is the criterion of greatness, the prophet's name even today exerts a magic charm over millions of souls, spread all over the world.

He had not studied philosophy in the school of Athens of Rome, Persia, India, or China. Yet, He could proclaim the highest truths of eternal value to mankind. Illiterate himself, he could yet speak with an eloquence and fervor which moved men to tears, to tears of ecstasy. Born an orphan blessed with no worldly goods, he was loved by all. He had studied at no military academy; yet he could organize his forces against tremendous odds and gained victories through the moral forces which he marshaled. Gifted men with genius for preaching are rare. Descartes included the perfect preacher among the rarest kind in the world. Hitler in his Mein Kamp has expressed a similar view. He says "A great theorist is seldom a great leader. An Agitator is more likely to posses these qualities. He will always be a great leader. For leadership means ability to move masses of men. The talents to produce ideas has nothing in common with capacity for leadership." "But", he says, "The Union of theorists, organizer and leader in one man, is the rarest phenomenon on this earth; Therein consists greatness."

In the person of the Prophet of Islam the world has seen this rarest phenomenon walking on the earth, walking in flesh and blood.

And more wonderful still is what the reverend Bosworth Smith remarks, "Head of the state as well as the Church, he was Caesar and Pope in one; but, he was pope without the pope's claims, and Caesar without the legions of Caesar, without an standing army, without a bodyguard, without a palace, without a fixed revenue. If ever any man had the right to say that he ruled by a right divine It was Muhammad, for he had all the power without instruments and without its support. He cared not for dressing of power. The simplicity of his private life was in keeping with his public life."

After the fall of Mecca, more than one million square miles of land lay at his feet, Lord of Arabia, he mended his own shoes and coarse woolen garments, milked the goats, swept the hearth, kindled the fire and attended the other menial offices of the family. The entire town of Medina where he lived grew wealthy in the later days of his life. Everywhere there was gold and silver in plenty and yet in those days of prosperity many weeks would elapse without a fire being kindled in the hearth of the king of Arabia, His food being dates and water. His family would go hungry many nights successively because they could not get anything to eat in the evening. He slept on no soften bed but on a palm mat, after a long busy day to spend most of his night in prayer, often bursting with tears before his creator to grant him strength to discharge his duties. As the reports go, his voice would get choked with weeping and it would appear as if a cooking pot was on fire and boiling had commenced. On the very day of his death his only assets were few coins a part of which went to satisfy a debt and rest was given to a needy person who came to his house for charity. The clothes in which he breathed his last had many patches. The house from where light had spread to the world was in darkness because there was no oil in the lamp.

Circumstances changed, but the prophet of God did not. In victory or in defeat, in power or in adversity, in affluence or in indigence, he is the same man, disclosed the same character. Like all the ways and laws of God, Prophets of God are unchangeable.

An honest man, as the saying goes, is the noblest work of God, Muhammad was more than honest. He was human to the marrow of his bones. Human sympathy, human love was the music of his soul. To serve man, to elevate man, to purify man, to educate man, in a word to humanize man-this was the object of his mission, the be-all and end all of his life. In thought, in word, in action he had the good of humanity as his sole inspiration, his sole guiding principle.

He was most unostentatious and selfless to the core. What were the titles he assumed? Only true servant of God and His Messenger. Servant first, and then a messenger. A Messenger and prophet like many other prophets in every part of the world, some known to you, many not known you. If one does not believe in any of these truths one ceases to be a Muslim. It is an article of faith.

"Looking at the circumstances of the time and unbounded reverence of his followers" says a western writer "the most miraculous thing about Muhammad is, that he never claimed the power of working miracles." Miracles were performed but not to propagate his faith and were attributed entirely to God and his inscrutable ways. He would plainly say that he was a man like others. He had no treasures of earth or heaven. Nor did he claim to know the secrets of that lie in womb of future. All this was in an age when miracles were supposed to be ordinary occurrences, at the back and call of the commonest saint, when the whole atmosphere was surcharged with supernaturalism in Arabia and outside Arabia.

He turned the attention of his followers towards the study of nature and its laws, to understand them and appreciate the Glory of God. The Quran says,

"God did not create the heavens and the earth and all that is between them in play. He did not create them all but with the truth. But most men do not know."

The world is not illusion, nor without purpose. It has been created with the truth. The number of verses inviting close observation of nature are several times more than those that relate to prayer, fasting, pilgrimage etc. all put together. The Muslim under its influence began to observe nature closely and this give birth to the scientific spirit of the observation and experiment which was unknown to the Greeks. While the Muslim Botanist Ibn Baitar wrote on Botany after collecting plants from all parts of the world, described by Myer in his Gesch. der Botanikaa-s, a monument of industry, while Al Byruni traveled for forty years to collect mineralogical specimens, and Muslim Astronomers made some observations extending even over twelve years. Aristotle wrote on Physics without performing a single experiment, wrote on natural history, carelessly stating without taking the trouble to ascertain the most verifiable fact that men have more teeth than animal. Galen, the greatest authority on classical anatomy informed that the lower jaw consists of two bones, a statement which is accepted unchallenged for centuries till Abdul Lateef takes the trouble to examine a human skeleton. After enumerating several such instances, Robert Priffault concludes in his well known book The making of humanity, "The debt of our science to the Arabs does not consist in starting discovers or revolutionary theories. Science owes a great more to Arabs culture; it owes is existence." The same writer says "The Greeks systematized, generalized and theorized but patient ways of investigation, the accumulation of positive knowledge, the minute methods of science, detailed and prolonged observation, experimental inquiry, were altogether alien to Greek temperament. What we call science arose in Europe as result of new methods of investigation, of the method of experiment, observation, measurement, of the development of Mathematics in form unknown to the Greeks. That spirit and these methods, concludes the same author, were introduced into the European world by Arabs."

It is the same practical character of the teaching of Prophet Muhammad that gave birth to the scientific spirit, that has also sanctified the daily labors and the so called mundane affairs. The Quran says that God has created man to worship him but the word worship has a connotation
source : islamicity.com

READ MORE - But the prophet of Islam changed the whole strategy of the battlefield