Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan

Ikhlas dan Perjalanan Hati — Tentang Melepaskan, Bertumbuh, dan Mencintai Tanpa Syarat


Ikhlas dan Perjalanan Hati — Tentang Melepaskan, Bertumbuh, dan Mencintai Tanpa Syarat

Ada perjalanan yang tidak ditulis oleh langkah kaki, melainkan oleh getar hati yang perlahan belajar menerima hidup apa adanya. Ikhlas dan Perjalanan Hati adalah kisah tentang bagaimana manusia pulih — bukan dengan melupakan, tapi dengan memahami setiap luka sebagai bagian dari cinta yang lebih luas.

Dalam rangkaian lima seri puitis-romantis ini, pembaca diajak menelusuri jalan sunyi menuju kedewasaan rasa. Dari titik di mana kita belajar melepaskan tanpa kehilangan diri, menatap kehilangan tanpa tenggelam, hingga menemukan keberanian untuk mencintai lagi setelah hati remuk oleh waktu. Semua berjalan lembut, seperti aliran sungai yang tidak pernah tergesa namun selalu sampai di laut.

Ikhlas digambarkan bukan sebagai pasrah tanpa daya, melainkan kebijaksanaan batin yang tumbuh dari pengalaman. Ia adalah kemampuan untuk memeluk yang pernah menyakitkan tanpa membenci, untuk mencintai tanpa menggenggam, dan untuk berdiri tegak meski dunia tidak selalu memihak. Setiap seri membuka pintu makna baru—tentang kesendirian yang menenangkan, tentang cinta yang memberi ruang, tentang keberanian yang tumbuh dari kesabaran.

Luka dan kehilangan tidak lagi dilihat sebagai kutukan, tapi sebagai guru yang lembut. Dari keduanya, kita belajar membangun rumah di dalam diri sendiri—tempat hati bisa pulang kapan pun tanpa takut kehilangan arah. Di sanalah kita mengerti bahwa cinta sejati tidak mengikat, tapi menguatkan; tidak menuntut balasan, tapi menyalakan cahaya agar kita tetap mampu berjalan.

Serial ini bukan hanya tentang cinta romantis, melainkan juga tentang hubungan kita dengan hidup, dengan waktu, dan dengan diri sendiri. Ia mengajarkan keseimbangan antara memberi dan menjaga batas, antara pasrah dan berjuang, antara menerima dan berani memulai lagi. Setiap halaman terasa seperti cermin: kadang jujur hingga membuat kita menunduk, kadang lembut hingga membuat kita tersenyum di tengah perih.

Dan pada akhirnya, Ikhlas dan Perjalanan Hati mengingatkan kita bahwa keindahan sejati tidak terletak pada akhir yang sempurna, tetapi pada keberanian untuk tetap mencintai meski pernah patah. Bahwa di balik setiap luka, selalu ada cahaya kecil yang menuntun kita pulang — ke diri sendiri, ke cinta yang tulus, ke harapan yang tidak pernah benar-benar padam. 


Disarikan dari: Jingganews.com


READ MORE - Ikhlas dan Perjalanan Hati — Tentang Melepaskan, Bertumbuh, dan Mencintai Tanpa Syarat

Antara Allah dan Tuhan


Eksistensi Tuhan adalah salah satu masalah paling fundamental manusia, karena penerimaan maupun penolakan terhadapnya memberikan konsekuensi yang fundamental pula. Alam luas yang diasumsikan sebagai produk sebuah Kekuatan Yang Maha Sempurna dan Maha Bijaksana dengan tujuan yang sempurna berbeda dengan alam yang diasumsikan sebagai akibat dari kebetulan atau insiden. Manusia yang memandang alam sebagai hasil penciptaan Tuhan Yang Maha Bijaksana adalah manusia yang optimis dan bertujuan. Sedangkan manusia yang memandang alam sebagai akibat dari serangkaian peristiwa acak (chaos) adalah manusia yang pesimis, nihilis, absurd, dan risau akan kemungkinan-kemungkinan yang tak dapat diprediksi. 

Umat manusia sejak awal kehadirannya di atas pentas sejarah telah memberikan nama yang berbeda-beda, sesuai dengan bahasa yang digunakan masing-masing, kepada kausa prima alam keberadaan. Orang Persia menyebutnya Yazdan atau Khoda. Orang Inggris menyebutnya Lord atau God. Kita menyebutnya Tuhan atau Sang Hyang. Dialah Tuhan Yang Maha Sempurna. Kepercayaan pada “yang adikodrati,” merupakan bagian integral dari kehidupan manusia, baik terbentuk dalam sebuah lembaga transendental yang disebut “agama” maupun tidak diagamakan. Kendati demikian, konsep dan keyakinan tentang Tuhan telah berkembang dan terpecah dalam beberapa aliran ketuhanan. 

Tuhan sejak babak pertama peradaban sampai sekarang telah menjadi objek pengimanan dan penolakan. Manusia, sebelum dibagi dalam kelompok agama, bahkan sebelum dibagi dalam kelompok monoteis dan politeis, telah terbagi dalam dua aliran besar, ateisme dan teisme. Istilah ini berasal dari kata Yunani atheos (tanpa Tuhan), dari a (tidak) dan Theos (Tuhan). Ia adalah aliran yang menolak adanya Tuhan Pencipta alam semesta. Dalam bahasa Arab disebut al-Ilhad.

Kata yang memberikan signifikansi Wujud Pencipta dalam al-Quran sangat banyak. Semuanya dapat dibagi dalam beberapa dimensi dan konteks.

Pertama, kata yang menunjuk Tuhan dipergunakan sebagai nama umum atau atribut universal.

Kedua, kata yang menunjuk Tuhan digunakan dalam dua bentuk sekaligus, universal dan personal.

Ketiga, kata yang menunjuk Tuhan digunakan sebagai nama umum semata.

Keempat, kata yang mengandung arti kesempurnaan dan kebaikan (Asmaul Husna). Kata “Tuhan,” misalnya, yang bila digunakan sebagai nama umum, maka huruf “t” di depannya dikecilkan (tuhan), dan bila digunakan untuk menunjuk nama khusus, maka huruf “t” di depannya dibesarkan (Tuhan). Demikian pula “God” dalam bahasa Inggris atau “Khoda” dalam bahasa Parsi. Karena itu, bila ada yang mengartikan la ilaha illallah dengan “tiada tuhan selain Tuhan” bisa ditolerir.

Kelima, kata yang menunjuk “Tuhan” digunakan sebagai nama personal (alam syakhshi) semata. Dalam bahasa Arab, kata “Allah” sebagai lafzhul jalalah (nama kebesaran) dipergunakan dan ditetapkan sebagai nama personal (alam syakhshi). Sedangkan ar-Rahman ditetapkan sebagai predikat khusus. Selain dari kata Allah (yang merupakan nama khusus) dan kata ar-Rahman (yang merupakan sifat khusus), tidak bersifat khusus.(1) Itulah sebabnya, mengapa kata “rabb,” “ilah,” “khalik” digunakan untuk selain Allah, bahkan “ra’uf” dan “rahim” digunakan untuk Nabi saw, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu. Sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu. Amat belas kasihan, lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin.” (QS. at-Taubah [9]: 128).

Atas dasar itu, kata “Allah,” baik berupa kata baku (jamid) atau pun kata olahan (musytaq), ditetapkan sebagai sebuah “nama personal,” dan ia tidak mempunyai arti selain Zat Yang Adikodrati Swt. Namun, tatkala Zat Kudus tersebut tidak dapat diinderakan, maka untuk mengenali arti “Allah,” mereka menggunakan sebuah simbol yang berkonotasi secara eksklusif pada Allah seperti “Zat Yang Menghimpun sifat-sifat kesempurnaan,” bukan berarti kata “Allah” ditetapkan untuk mengartikan rangkaian pengertian-pengertian ini. Dengan demikian, jelaslah bahwa pembahasan seputar materi dan bentuk kata ini tidak akan dapat membantu kita untuk memahami artinya sebagai sebuah nama personal (alam syakhshi).

Kata personal “Allah” karena oleh sebagian besar mufasir dianggap sebagai ism ma’rifah dengan alif dan lam (kata tertentu), menurut kaidah kesusasteraan, kurang tepat dikaitkan dengan sebutan panggilan “ya.” Karena itulah, bisa dipastikan kalimat “Ya Allah” (Wahai Allah) tidak terdapat dalam al-Quran.(2) Kata “Ya” diganti dengan huruf mim yang di-syaddah-kan dan di-fathah-kan pada bagian akhir kata Allah, maka jadilah “Allahumma.” Kata panggilan khas ini ditemukan satu kali dalam surah Ali Imran ayat 26, satu kali dalam surah al-Maidah ayat 114, satu kali dalam surah al-Anfal ayat 32, satu kali dalam surah Yunus ayat 10, dan satu kali dalam surah az-Zumar ayat 46.(3)

Namun kata “Allah” menurut sebagian ulama bukanlah bentuk ma’rifah dari kata ilah. Kata ini dianggap berasal dari bahasa Ibrani yang diadaptasi ke dalam bahasa Arab. Kata ini menurut mereka juga yang berarti Zat Tuhan Yang Mahaesa. Oleh karena itu, dalam Agama Ortodoks Suriah, bahkan sekte-sekte Kristen lainnya, diyakini sebagai kata atau nama personal Tuhan Bapa.4(4)

Dalam kitab suci al-Quran, kata yang juga memberikan signifikansi pada Allah adalah “ilah” dan “rabb.” Kata “ilah” juga digunakan dalam syahadat, la ilaha illallah. Kata “ilah” adalah bentuk kata yang mengikuti wazan “fi’al” yang berarti “maf’ul.” Ilah berarti “ma’bud” (yang disembah), seperti “kitab” yang berarti “maktub” (yang ditulis). Dengan demikian, la ilaha illallah dapat diartikan “tiada yang layak disembah selain Allah.”(5)

Kata “Tuhan” dalam bahasa Indonesia, misalnya, hampir memiliki arti yang berdekatan dengan “tuan” yang berarti “majikan” atau “pemilik,” seperti tuan rumah yang berarti pemilik rumah  (6)  atau kata “Hyang” yang memiliki arti berdekatan dengan “eyang’ yang berarti kakek atau nenek. Hanya saja, yang perlu diperjelas, apakah “Tuhan” menunjuk “Sang Pencipta” (Khalik) ataukah menunjuk “Yang disembah” (al-ilah, al-ma’bud). Kata “tuhan” dalam bahasa Indonesia memiliki arti yang lebih dekat dengan “ar-rab” dalam bahasa Arab yang berarti “Maha Pengatur.” Seandainya “Tuhan” atau “Ilah” berarti “Pencipta” (Khalik), maka syahadat la ilaha illallah berarti “tiada pencipta selain Allah.” Tentu syahadat dengan arti seperti ini tidak mengecualikan seluruh kaum Quraisy penyembah berhala dan kaum musyrik lainnya, yang sejak semula meyakini Allah sebagai Pencipta. (QS. Lukman: 25)

Dalam al-Quran, kata “Allah” disebutkan sebanyak 930 kali (7) sedangkan kata “ilah” (tanpa dhamir) disebutkan sebanyak 80 kali.(8)

Arti “ilah” dalam rangkaian syahadat (kalimah at-tahlil) bisa berarti “al-ma’bud” atau yang disembah, dan bisa pula berarti al-ma’bud bil haq.(9) Apabila arti pertama dipilih, maka setiap sesuatu yang dalam kenyataan disembah selain Allah dapat dianggap sebagai ilah. Apabila arti kedua yang dipilih, maka berarti ilah hanya bisa disandang oleh Allah, sebab al-ma’budiyah (ke-tersembah-an) merupakan derivasi dari ar-rububiyah.

Kata “rabb” dalam al-Quran disebutkan sebanyak 84 kali. Satu dalam surah al-Fatihah, satu dalam surah al-Baqarah, satu dalam surah al-Maidah, empat dalam surah al-An’am, enam dalam surah al-A’raf, satu dalam surah at-Taubah, dua dalam surah Yunus, satu dalam surah ar-Ra’d, satu dalam surah al-Isra, satu dalam surah al-Kahfi, satu dalam surah Maryam, satu dalam surah Thaha, dua dalam surah al-Anbiya, tiga dalam surah al-Mukminun, lima belas dalam surah asy-Syu’ara, empat dalam surah an-Naml, satu dalam surah al-Qashash, satu dalam surah as-Sajdah, satu dalam surah Saba, satu dalam surah Yasin, enam dalam surah ash-Shaffat, satu dalam surah Shad, satu dalam surah az-Zumar, tiga dalam surah Ghafir, satu dalam surah Fushshilat, tiga dalam surah az-Zukhruf, dua dalam surah ad-Dukhan, tiga dalam surah al-Jatsyiyah, satu dalam surah adz-Dzariyat, satu dalam surah an-Najm, dua dalam surah ar-Rahman, satu dalam surah al-Waqi’ah, satu dalam surah al-Hasyr, satu dalam surah al-Haqqah, satu dalam surah al-Ma’arij, satu dalam surah al-Muzzammil, satu dalam surah an-Naba, satu dalam surah at-Takwir, satu dalam surah al-Muthaffifin, satu dalam surah al-Quraisy, satu dalam surah al-Falaq, dan satu dalam surah an-Nas.(10)

Selain berupa kata personal Allah, ilah, dan rabb, Tuhan juga merupakan entitas penghimpun semua nama-nama terbaik (Asmaul Husna). Kata Asmaul Husna disebutkan empat kali dalam al-Quran, satu dalam surah al-A’raf ayat 180, satu dalam surah al-Isra ayat 110, satu dalam surah Thaha ayat 8, dan satu dalam surah al-Hasyr ayat 24.(11) Dengan demikian, nama dan sifat yang memberikan signifikansi kebaikan dan kesempurnaan maksimum adalah milik Allah. Karenanya, nama dan sifat manusia berasal dari Allah sebagai Pemilik Absolut nama-nama terbaik. Dalam sebuah hadis, Nabi saw memerintahkan kita untuk berakhlak dengan akhlak Allah. Dalam al-Quran terdapat sejumlah ayat yang menekankan tentang posesi atau kepemilikan Tuhan atas semua nama terbaik. (QS. al-Hadid [57]: 4; QS. al-A’raf [7]: 180; QS. Thaha [20]: 8; QS. al-Isra [17]: 110; dan QS. al-Hasyr [59]: 24) 

الله لااله الاهو, له الاسماء الحسنى

.ولله الاسماء الحسنى فادعوه بها 

Menurut sebagian mufasir mutakhir, tidak ada dalil qath’i (definitif) tentang ketentuan jumlah Asmaul Husna, meskipun yang populer dalam riwayat disebutkan berjumlah 99.(12) Setiap nama (ism) dalam alam keberadaan adalah sebaik-baik nama (Ahsanul Asma). Semuanya adalah milik Allah Swt. Karena itulah, jumlah nama Allah tidaklah terbatas.(13)

Dengan nama-nama terbaik yang banyak dan mencakup spektrum dimensi dan nilai kesempurnaan maksimal itulah, hamba-hamba-Nya berpeluang untuk berkomunikasi dengan Allah. Seorang yang papa dan dirundung kemiskinan dapat memanggil-Nya dengan nama al-Karim, ar-Raziq, dan ar-Razzaq. Seseorang yang bergelimang dosa dapat memohon ampunan-Nya dengan memanggil-Nya “al-Ghaffar.” Seseorang yang ingin mendapatkan petunjuk dapat menyeru-Nya dengan nama al-Hadi dan sebagainya.

Yang patut diketahui ialah bahwa kata asma juga dapat diartikan sebagai sifat-sifat, karena ism dalam Ilmu Sharf mencakup ismul fa’il dan ash-shifat al-musyabbahah. Menurut Allamah Thabathaba’i, Asmaul Husna adalah setiap kata yang menunjukkan arti predikatif seperti ilah, al-hayy, dan lainnya. Sedangkan kata “Allah,” adalah alam syakhshi (nama personal) atau alam adz-dzat, yang merupakan nama personal bagi Tuhan.(14)

Kata ism yang dikaitkan (diidhafahkan) dengan Allah dan Rabb, berjumlah 18 kali, yaitu empat dalam surah al-An’am, satu dalam surah al-Maidah, lima dalam surah al-Hajj, satu dalam surah ar-Rahman, dua dalam surah al-Waqi’ah, satu dalam surah al-Haqqah, satu dalam surah al-Muzzammil, satu dalam surah al-Insan, satu dalam surah Hud, dan satu dalam surah al-Naml. Jika Bismillâhirrahmânirrahîm dianggap sebagai pembuka dan bagian dari setiap surah, kecuali surah al-Bara’ah, maka jumlah keseluruhan ism yang kaitkan pada Allah dan Rabb berjumlah 131.(15)

Ismul A’zham (nama kebesaran), menurut opini masyarakat Arab, adalah ismul lafzhi yang merupakan salah satu dari asma Allah, yang bila diseru dalam doa, maka dikabulkan. Namun, anehnya, ia tidak tergolong dalam Asmaul Husna yang populer, dan tidak pula dianggap sebagai bagian dari lafzhul jalalah. Menurut mereka, Ismul A’zham terdiri atas huruf-huruf tak dikenal (huruf majhulah) dengan komposisi yang tak dikenal pula. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa kata Allah dalam basmalah itulah yang dimaksud dengan Ismul A’zham.(16)

Asma Allah atau Asmaul Husna kadangkala dikaitkan dengan sifat-sifat Allah (shifatullah). Menurut Sayid Quthub, firman Allah itu mengandung makna bahwa manusia dibenarkan memanggil atau menyeru dan menamakan Tuhan mereka sekehendak mereka sesuai dengan nama-nama-Nya yang paling baik (Asmaul Husna). Firman itu juga merupakan sanggahan terhadap kaum Jahiliyah yang mengingkari nama “ar-Rahman,” selain nama “Allah.”(17)

Berkenaan dengan alasan turunnya firman itu, tafsir-tafsir klasik menuturkan adanya hadis dari Ibnu Abbas, bahwa di suatu malam Nabi saw beribadah, dan dalam bersujud beliau mengucapkan, “Ya Allah, Ya Rahman.” Ketika Abu Jahal, tokoh musyrik Mekah yang sangat memusuhi kaum beriman, mendengar tentang ucapan Nabi saw dalam sujudnya itu, ia berkata, “Dia (Muhammad) melarang kita menyembah dua tuhan, dan sekarang ia sendiri menyembah Tuhan yang lain lagi.” Ada juga penuturan bahwa ayat itu turun kepada Nabi saw karena kaum Ahlulkitab pernah mengatakan kepada beliau, ‘Engkau (Muhammad) jarang menyebut nama ar-Rahman, padahal Allah banyak menggunakan nama itu dalam Taurat.’”(18)

Maka turunnya ayat itu tidak lain ialah untuk menegaskan bahwa kedua nama itu sama saja, dan keduanya menunjuk kepada Hakikat, Zat atau Wujud yang satu dan sama. Zamakhsyari, Baidhawi dan Nasafi menegaskan bahwa kata ganti nama “Dia” dalam kalimat “maka bagi Dia adalah nama-nama yang terbaik” dalam ayat itu mengacu tidak kepada nama “Allah” atau “ar-Rahman,” melainkan kepada sesuatu yang dinamai, yaitu Zat (Esensi) Wujud Yang Mahamutlak itu sendiri. Sebab, suatu nama tidaklah diberikan kepada nama yang lain, tetapi kepada suatu zat atau esensi. Jadi, Zat Yang Mahaesa itulah yang bernama “Allah” dan atau “ar-Rahman” serta nama-nama terbaik lainnya, bukannya “Allah” bernama “ar-Rahman” atau “ar-Rahim.”

Jadi yang bersifat Mahaesa itu bukanlah nama-Nya, melainkan Zat atau Esensi-Nya, sebab Dia mempunyai banyak nama. Karena itu, Baidhawi menegaskan bahwa paham Tauhid bukanlah ditujukan kepada nama, melainkan kepada esensi. Maka Tauhid yang benar ialah “Tawhid adz-Dzat” bukan “Tawhid al-Ism” (Tauhid Esensi, bukan Tauhid Nama).(10)

Pandangan ketuhanan yang sangat mendasar ini diterangkan dengan jelas sekali oleh Imam Ja’far Shadiq as, guru dari para imam dan tokoh keagamaan besar dalam Sejarah Islam, baik untuk kalangan Ahlusunah maupun Syiah. Dalam sebuah penuturan, ia menjelaskan nama “Allah” dan bagaimana menyembah-Nya secara benar sebagai jawaban atas pertanyaan Hisyam, “Allah” (kadang-kadang dieja, “Al-lah”) berasal “ilah” dan “ilah” mengandung makna “ma’luh,” (yang disembah), dan nama (ism) tidaklah sama dengan yang dinamai (al-musamma). Maka barangsiapa menyembah nama tanpa makna, ia sungguh telah kafir dan tidak menyembah apa-apa. Barangsiapa menyembah nama dan makna (sekaligus), maka ia sungguh telah musyrik dan menyembah dua hal. Dan barangsiapa menyembah makna tanpa nama maka itulah Tauhid. Engkau mengerti, wahai Hisyam?” Hisyam mengatakan lagi, “Tambahilah aku ilmu.” Imam Ja’far Shadiq as menyambung, “Bagi Allah Yang Mahamulia dan Mahaagung, ada sembilan puluh sembilan nama. Kalau seandainya nama itu sama dengan yang dinamai, maka setiap nama itu adalah suatu tuhan. Tetapi Allah Yang Mahamulia dan Mahaagung adalah suatu Makna (Esensi) yang dirujuk oleh nama-nama itu, sedangkan nama-nama itu sendiri seluruhnya tidaklah sama dengan Dia…”(20)

Kalau kita harus menyembah Makna atau Esensi, dan bukan menyembah Nama seperti yang diperingatkan dengan keras sebagai suatu bentuk kemusyrikan oleh Imam Ja’far Shadiq as itu, berarti kita harus menunjukkan penyembahan kita kepada Dia yang menurut al-Quran memang tidak tergambarkan, dan tidak sebanding dengan apa pun. Berkenaan dengan ini, Imam Ali bin Abi Thalib ra mewariskan penjelasan yang amat berharga kepada kita, dia mengatakan, “Allah” artinya “Yang Disembah” (al-Ma’bud), yang mengenai Dia itu makhluk merasa tercekam (ya’lahu) dan dicekam (yu’lahu) oleh-Nya. Allah adalah Wujud dan tertutup dari kemampuan penglihatan, dan yang terdinding dari dugaan dan benih pikiran.(21)

Dan Imam Muhammad Baqir ra menjelaskan, “Allah” maknanya “Yang Disembah” yang agar makhluk (aliha, tidak mampu atau bingung) mengetahui Esensi-Nya (Mahiyah) dan memahami Kualitas-Nya (Kaifiyah). Orang Arab mengatakan, ‘Seseorang tercekam (aliha) jika ia merasa bingung (tahayyara) atas sesuatu yang tidak dapat dipahaminya, dan orang itu terpukau (walaha) jika ia merasa takut (fazi’a) kepada sesuatu yang ia takuti atau khawatirkan.’”[icc-jakarta.com ; "ALLAH dan TUHAN" ; Katagori : Kajian Pemikiran Islam ; Oleh : Redaksi 16 Aug 2008 - 10:45 pm ; Oleh Muhsin Labib "]

Catatan Kaki :
1. M. Fuad Abdul-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Quran, hal. 62-63, Muassasah al-A’lami li al-Mathbu’at, 1991.
2. Dalam kaidah gramatika Arab, tidak dibenarkan seseorang memanggil dengan Ya al-‘Alim, misalnya, dengan tidak membuang alif dan lam.
3. Op.Cit., Muhammad Fuad Abdul-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras, hal.96, Istanbul.
4. Summa Theologica, Ia, q. 2, a.l. Louis Leahy SJ, Filsafat Ketuhanan Kontemporer, hal. 141, Pustaka Filsafat.
5. M. Taqi Misbah Yazdi, Ma’arif al-Quran, vol.1, hal.26, Jami’ah Mudarrisin, Qom, 1987.
6. Kamus Besar Bahasa Indonesia, hal. 963, Balai Pustaka.
7. Yaitu sebanyak 107 kali dalam QS. al-Baqarah, 116 kali dalam QS. Ali Imran, 32 kali dalam QS. an-Nisa, 38 kali dalam QS. al-Maidah, 41 kali dalam QS. al-An’am, 6 kali dalam QS. al-A’raf, 35 kali dalam QS. al-Anfal, 67 kali dalan QS. at-Taubah, 20 kali dalam QS. Yunus, 5 kali dalam QS. Hud, 28 kali dalam QS. Yusuf, 1 kali dalam QS. ar-Ra’d, 10 kali dalam QS. Ibrahim, 29 kali dalam QS. an-Nahl, 3 kali dalam QS. al-Isra, 8 kali dalam QS. al-Kahfi, 2 kali dalam QS. Maryam, 5 kali dalam QS. Thaha, 1 kali dalam QS. al-Anbiya, 15 kali dalam QS. al-Hajj, 4 kali dalam QS. al-Mukminun, 37 kali dalam QS. an-Nur, 4 kali dalam QS. ar-Furqan, 7 kali dalam QS. an-Naml, 9 kali dalam QS. al-Qashash, 13 kali dalam QS. al-Ankabut, 9 kali dalam QS. ar-Rum, 3 kali dalam QS. Lukman, 1 kali dalam QS. as-Sajdah, 34 kali dalam QS. al-Ahzab, 2 kali dalam QS. as-Saba, 7 kali dalam QS. Fathir, 2 kali dalam QS. Yasin, 4 kali dalam QS. ash-Shaffat, 1 kali dalam QS. Shad, 24 kali dalam QS. az-Zumar, 18 kali dalam QS. Ghafir, 2 kali dalam QS. Fushshilat, 19 kali dalam QS. Syura, 1 kali dalam QS. az-Zukhruf, 1 kali dalam QS. ad-Dukhan, 6 kali dalam QS. al-Jastiyaah, 1 kali dalam QS. al-Ahqaf, 15 kali dalam QS. Muhammad, 21 kali dalam QS. al-Fath, 7 kali dalam QS. al-Hujurat, 1 kali dalam QS. at-Thur, 2 kali dalam QS. an-Najm, 8 kali dalam QS. al-Hadid, 18 kali dalam QS. al-Mujadalah, 9 kali dalam QS. al-Hasyr, 9 kali dalam QS. al-Mumtahanah, 1 kali dalam QS. ash-Shaf, 4 kali dalam QS. al-Jumu’ah, 6 kali dalam QS. al-Munafiqun, 9 kali dalam QS. at-Taghabun, 8 kali dalam QS. ath-Thalaq, 8 kali dalam QS. at-Tahrim, 2 kali dalam QS. al-Mulk, 3 kali dalam QS. Nuh, 1 kali dalam QS. al-Jinn, 1 kali dalam QS. al-Muzzammil, 3 kali dalam QS. al-Muddatstsir, 2 kali dalam QS. al-Insan, 1 kali dalam QS. an-Nazi’at, 1 kali dalam QS. at-Takwir, 1 kali dalam QS. al-Insyiqaq, 2 kali dalam QS. al-Buruj, 1 kali dalam QS. al-Ghasyiyah, 1 kali dalam QS. at-Tin, 1 kali dalam QS. al-Bayyinah, dan 1 kali dalam QS. al-Ikhlas.
8. Empat kali dalam QS. al-Baqarah, lima kali dalam QS. Ali Imran, dua kali dalam QS. an-Nisa, dua kali dalam QS. al-Maidah, empat kali dalam QS. al-An’am, lima kali dalam QS. al-A’raf, dua kali dalam QS. at-Taubah, satu kali dalam QS. Yunus, empat kali dalam QS. Hud, satu kali dalam QS. ar-Ra’d, satu kali dalam QS. Ibrahim, tiga kali dalam QS. al-Nahl, satu kali dalam QS. al-Kahfi, satu kali dalam QS. Thaha, empat kali dalam QS. al-Anbiya, satu kali dalam QS. al-Hajj, lima kali dalam QS. al-Mukminun, enam kali dalam al-Nahl, enam kali dalam QS. al-Qashash, satu kali dalam QS. Fathir, satu kali dalam QS. ash-Shaffat, satu kali dalam QS. Shad, satu kali dalam QS. az-Zumar, empat kali dalam QS. Ghafir, satu kali dalam QS. Fushshilat, dua kali dalam QS. az-Zukhruf, satu kali dalam QS. ad-Dukhan, satu kali dalam QS. Muhammad, satu kali dalam QS. ath-Thur, dua kali dalam QS. al-Hasyr, satu kali dalam QS. at-Taghabun, satu kali dalam QS. al-Muzzamil, dan satu kali dalam QS. an-Nas.
9. M. Fuad Abdul-Baqi, Mu’jam al-Mufahras, vol.14, hal.122, Muassasah al-A’lami li al-Mathbu’at, 1991.
10. Ibid., hal.362-365.
11. Ibid., hal.459.
12.Lihat, ad-Durrul Manstur; al-Mustadrak; Sunan Thabarani; dan Sunan Baihaqi.
13. Berdasarkan pendapat ini, jumlah Asmaul Husna yang dapat ditemukan dalam al-Quran sebanyak 127, yaitu: al-Ilah, al-Ahad, al-Awwal, al-Akhir, al-A’la, al-Akram, al-A’lam, ar-Rahman ar-Rahimin, Ahkam al-Hakimin, Ahsan al-Khaliqin, Ahl at-Taqwa, Ahl al-Maghfirah, at-Tawwab, al-Jabbar, al-Jami’, al-Hakim, al-Halim, al-Hayy, al-Haq, al-Hamîd, al-Hasîb, al-Hafîzh, al-Khafi, al-Khabir, al-Khaliq, al-Khallaq, al-Khair, Khair al-Hakimin, Khair al-Makirin, Khair ar-Raziqin, Khair al-Fashilin, Khair al-Fatihin, Khair al-Ghafirin, Khair al-Waritsin, Kahir ar-Rahimin, Khair al-Munzilin, Dzu al-‘Arsy, Dzu ath-Thaul, Dzu al-Intiqam, Dzu al-Fadhl al-Azhim, Dzu ar-Rahmah, Dzu al-Quwwah, Dzu al-Jalal wa al-Ikram, Dzu al-Ma’arij, ar-Rahman, ar-Ra’uf, ar-Rabb, ar-Rafi’ ad-Darajat, ar-Razzaq, ar-Raqib, as-Sami’, as-Salam, as-Sari’ al-Hisab, Sari’ al-‘Iqab, asy-Syahid, asy-Syakir, asy-Syakur, Syadid al-‘Iqab, Syadid al-Mihal, ash-Shamad, azh-Zhahir, al-‘Alim, al-Aziz, al-‘Afwu, al-‘Aliy, al-‘Azhim, ‘Allam al-Ghuyub, ‘Alim al-Ghayb wa asy-Syahadah, al-Ghaniy, al-Ghafur, al-Ghalib, Ghafir adz-Dzam, al-Ghaffar, Faliq al-Ishbah, Faliq al-Habb wa an-Nawa, al-Fathir, al-Fattah, al-Qawiy, al-Quddus, al-Qayyum, al-Qahir, al-Qahhar, al-Qarib, al-Qâdir, al-Qadîr, Qabil at-Tawb, al-Qa’im ‘ala Kulli Nafs bima Kasabat, al-Kabir, al-Karim, al-Kafi, al-Lathif, al-Malik, al-Mu’min, al-Muhaimin, al-Mutakabbir, al-Mushawwir, al-Majîd, al-Mujib, al-Mubin, al-Mawla, al-Muhith, al-Muqit, al-Muta’al, al-Muhyi, al-Mutabayyin, al-Mutaqaddir, al-Musta’an, al-Mubdiy’, Malik al-Mulk, al-Nashîr, an-Nur, al-Wahhab, al-Wahid, al-Walîy, al-Wâliy, al-Wasiy’, al-Wakil, al-Wadud, al-Hadiy. Lihat, al-Mu’jam al-mufahras, vol.8, hal.361-363.
14. Ibid., hal.124.
15. Fuad Abdul-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras, hal.459, Istanbul.
16. M.H. Thabathaba’i, al-Mizan fi Tafsir al-Quran, vol.8, hal.359, Muassasah al-Alami li al-Mathbu’at, Beirut, 1991.
17. QS. al-Isra [17]: 110.
18. Sayid Quthub, Fi Zhilal al-Quran, jil.5, juz.15, hal.73, Dar asy-Syuruq, Kairo, 1987.
19. Untuk pembahasan ini, lihat tafsir ayat bersangkutan dalam kitab-kitab tafsir klasik: Baidhawi, Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta’wil; Zamaksyari, al-Kasysyaf; Bagdadi, Tafsir al-Khazin; dan Nasafi, Madarik at-Tanzil wa Haqaiq at-Ta’wil, dan lain-lain.
20. Yaitu keterangan dari Ali ibn Abi Thalib ra, menurut sebuah penuturan; [tulisan Arab].
21. Ibid. 

READ MORE - Antara Allah dan Tuhan

Science proves the existence of Allah


Every point in the universe is filled with matchless manifestations of Allah’s creative artistry. Everywhere we look at reflects His infinite might and greatness. All the delicate structures and balances on Earth and all the countless physical and cosmic laws that pervade it, the Milky Way, the Solar System, the light emitted by the Sun, the rate of expansion of the universe, the level of viscosity of water, Earth’s position in the Milky Way, the distance between the Earth and Moon, the proportions of gasses in the atmosphere and countless other such physical data, together with entities such as the seas, the oceans, the mountains, butterflies, squirrels, deer, tigers, cats and countless others all clearly reveal the existence of our Sublime and Almighty Lord. 

Whichever order in the universe or living thing around them human beings may examine, they see the evidence of an extraordinary mind in it. A tiny insect or fish swimming in the blackness of the oceans contains countless details regarding a sublime Creation. 

This great mind that pervades every point in the universe is of course proof of the existence of an Almighty Creator Who rules all things. 

This Creator is Allah. Allah has created all things with extraordinary characteristics and thus given mankind manifest evidence of His own existence and might. 

There is no need for biochemical laboratories or the results from geological excavations in order to see this. Indeed, the existence of Allah is evident to even the smallest child. 

Anyone who reflects on the sky, the mountains, the stars, plants, seeds, animals and the creation of the countless things in existence all around for even a short time will witness the creative artistry of Allah and thus recognize and turn to our Lord, Who created him and the whole universe out of nothing. 

The existence of Allah pervades all places

Some people imagine that they themselves, matter and the world around them have absolute existence. They think of Allah (surely He is beyond that) as an illusion overlaying that absolute matter. Or else, since they cannot see Allah with their own eyes, they say, “Allah must be somewhere we cannot see, far off in space or the heavens.” (Surely Allah is beyond that.) But these are all grave errors. 

That is because Allah is everywhere, not just in the heavens. As the only absolute being, Allah pervades the entire universe, all human beings, the Earth, the sky and everywhere, and He is manifested everywhere in the universe. 

It must not be forgotten that Allah is unfettered by time and space. His Own Being is different but His manifestations are everywhere. If someone enters a room and says that Allah is not there he is denying Allah. 

It is revealed in several verses of the Qur’an that Allah enfolds everywhere, that He is closer to us than our own jugulars and that wherever we look we see the Face of Allah. In verse 255 of Surat Al-Baqara, for instance, Allah says “... His Kursi encompasses the heavens and the earth....” Verse 92 of Surah Hud reads, “... My Lord encompasses everything that you do,” thus revealing that Allah also pervades people’s deeds. 

The reality revealed in the Qur’an is clear: Allah is not just in the sky. Allah pervades all places. We are told this through the Qur’an. Telling people of the secret behind matter will be instrumental in these verses being better grasped and understood. 

People who realize that matter has no absolute existence will realize that Allah is present in all places and at all times, that He sees and hears them at every moment, that He witnesses all things, that He is closer to them than their own jugulars and that He hears their every prayer. Allah creates all things, and one must control one’s own mind in order not to forget this.

Science proves the existence of Allah

“Science” is the way to investigate the universe and everything in it and to decipher Allah’s creative artistry and describe it to people. The religion therefore favors science as a path to unlocking the details in Allah’s creation, and therefore strongly encourages it.

In the same way that religion encourages scientific research, so scientific research directed according to the truths revealed by religion will bring very swift and certain results. 

That is because religion is the only reference source to provide the most accurate and certain answer to the question of how the universe and living things came into being. 

As Albert Einstein, regarded as one of the greatest scientists of the 20th Century, said, “science without religion is lame.” In other words, there can be no scientific progress down a path not led by religion. Either it takes a long time to obtain results or else, and more frequently, no results are forthcoming at all. 

Allah calls on people to research and investigate such subjects as the sky, rain, plants, animals, birth and geographical features. Some of the matters that Allah tells us to reflect on are revealed as follows in verses: “Have they not looked at the sky above them: How We structured it and made it beautiful and how there are no fissures in it? And the earth: How We stretched it out and cast firmly embedded mountains onto it and caused luxuriant plants of every kind to grow in it, an instruction and a reminder for every penitent human being. And We sent down blessed water from the sky and made gardens grow by it and grain for harvesting and soaring date-palms with layered spathes.” (Surah Qaf, 6-10)

“Man has only to look at what he was created from?” (Surat at-Tariq, 5) The facts obtained as the result of scientific research introduce people to the secret of Creation and the infinite knowledge, mind and power of Allah. And that is why a great many scientists who have rendered huge services to mankind over the course of history have been believers; because science is a means of appreciating the might of Allah… 

READ MORE - Science proves the existence of Allah

Memandang Tuhan Dalam Segelas Kopi


Pencarian yang paling serius manusia sepanjang sejarah adalah pencarian Tuhan atau mencari eksistensi Tuhan yang bisa benar-benar dikenal sehingga akan bisa disembah dan dicintai dengan benar.

Konsep Tuhan pada semua agama adalah sama, bahwa Dia adalah pencipta seluruh alam, mengatur segalanya dan Dia ada Pemilik Kekuatan Maha Dahsyat, kekuatan super diluar kemampuan manusia.

Seluruh manusia tanpa kecuali menyadari ada sesuatu diluar dirinya yang mempunyai kekuatan luar biasa, kekuatan itu kemudian disebut Tuhan.

Karena keterbatasan manusia, maka apapun gambaran tentang Tuhan merupakan hasil dari imajinasi dan pemikirannya sehingga diseluruh dunia konsep tentang Tuhan berbeda-beda.

Di dalam Islam sendiri pemahaman tentang Tuhan juga berbeda walaupun pada hakikatnya sama. Syariat yang merupakan hukum tertulis tentang agama hanya bisa menjelaskan tentang “ciri-ciri” Tuhan, kita hanya bisa diajarkan tentang nama-nama-Nya (asmaul husna), tentang sifat-sifat-Nya namun ketika sampai pembasahan kepada Dzat Allah Yang Maha Agung, maka syariat akan menjadi buntu.

Guru-guru yang belajar agama hanya pada tataran lahiriah tidak bisa menjelaskan kepada kita secara memuaskan tentang Dzat Allah, maka cara yang paling mudah untuk menenangkan para murid adalah dengan argument-argumen yang menyatakan bahwa Dzat Allah tidak boleh ditanyakan sama sekali.

Kenapa demikian, karena memang syariat bukanlah ilmu yang bisa digunakan agar manusia sampai kepada Dzat Allah, syariat hanya menjelaskan kepada kita tentang konsep Ketuhanan, sifat dan namanya yang kemudian dikenal dengan ilmu Tauhid, ilmu Meng-Esa-kan Tuhan.

Ilmu yang bisa mengantarkan manusia kepada Dzat Allah adalah ilmu tasawuf. Karena ilmu tasawuf sangat halus dan dikhawatirkan bisa dipahami secara keliru, maka diperlukan penyambung antara ilmu syariat dan tasawuf sebagai ilmu hakikat, penyambung itu lah ilmu tauhid.

Belajar ilmu tauhid tanpa belajar tasawuf lewat bimbingan Guru Mursyid tidak ada bedanya dengan belajar ilmu filsafat yang juga mengajarkan konsep Ketuhanan yang pada akhirnya akan berujung kepada pencarian tanpa batas atau ujung ya kaaaannn.

Di kalangan sufi, mereka tidak lagi berbicara tentang “mengenal”, tapi sudah pada tahap jatuh cinta, rindu, mabuk akan Tuhan yang kesemua itu bisa kita baca pada karya-karya sufi klasik seperti Abu Yazid al-Bisthami, Rabi’ah al-Adawiyah, Jalaludin Rumi dan lain-lain.

Tidak mungkin manusia bisa sampai kepada tahap Mabuk kepada Tuhan sebelum dia benar-benar pernah meminum anggur Tuhan. Jatuh cinta secara mendalam seperti yang diungkapkan oleh para tokoh sufi hanya bisa terjadi pada orang yang sudah mengenal Tuhan secara sempurna, memandang wajah-Nya dan berkomunikasi dengan mesra lewat ibadah-ibadah yang dilakukannya setiap saat.

Bagaimana mungkin kita bisa jatuh cinta pada sosok Janda muda yang tidak dikenal sama sekali, pada sosok yang konon kabarnya berada di langit sana. Karena meyakini Tuhan berada di langit barangkali yang menyebabkan manusia setiap berdoa wajahnya memandang ke atas.

Kalau kita bahas langit secara hakikat, tentu saja bukan langit yang Nampak biru ketika siang dan hitam ketika malam, karena di langit itu tidak ada apa-apa selain awan, bintang, planet dan galaksi.

Masih saya ingat Waktu saya kecil, ada seorang ulama yang sangat tidak percaya bahkan menolak dengan keras tentang kemampuan manusia sampai ke bulan. Beliau menjelaskan bahwa langit itu ada pintu dan setiap pintu di jaga oleh malaikat dengan demikian tidak mungkin orang kafir yang tidak pernah mengambil wudhuk bisa melawati pintu langit yang di jaga malaikat. Setelah saya berguru kepada seorang Auliya Allah dan melakukan suluk, baru saya paham perbedaan antara langit tempat berada arwah para Nabi dengan langit zahir yang terlihat setiap hari. Jadi langit 7 lapis yang dimaksud oleh Nabi bukanlah langit yang terlihat.

Pencarian Tuhan lewat akal pikiran dan perenungan hanya bisa membawa kita kepada keyakinan bahwa Tuhan itu memang ada di dunia ini, namun untuk bisa sampai kehadirat-Nya diperlukan seorang Master, Pembimbing yang sudah berulang kali bolak balik kesana sehingga jalan yang kita tempuh bukan jalan keliru yang membawa kita kepada kesesatan.

Tidak mungkin manusia yang tercipta bisa sampai kepada Sang Pencipta, tidak mungkin manusia yang baharu sampai kepada Allah yang Maha Qadim, kecuali lewat bimbingan para Nabi dan Para Wali yang diberi ilmu oleh Allah untuk membimbing manusia kejalan-Nya.

Tujuan Tuhan menurunkan agama tidak lain agar manusia bisa mengenal dan berkomunikasi sempurna dengan Allah, sehingga manusia mengetahui dengan pasti apa sebenarnya yang dikehendaki Tuhan kepada dirinya.

Satu hal yang harus di pahami bahwa ibadah, shalat dan lain-lain bukanlah sarana untuk mengenal Allah, ibadah adalah sarana untuk menyembah-Nya, tentu saja untuk bisa menyembah terlebih dahulu kita harus mengenal yang kita sembah agar penyembahan kita tidak keliru.

Kalau sampai hari ini di dalam ibadah kita tidak menemukan getaran Ilahi, tidak berefek apa-apa pada jasmani dan rohani kita berarti adalah yang salah dalam ibadah yang kita lakukan.

Agama pada hakikatnya adalah ilmu eksak, ilmu pasti bukan ilmu menduga atau mencoba-coba. Kalau Rasulullah SAW, Para sahabat bisa akrab dengan Tuhan memakai suatu ilmu tentu saja ketika kita memakai ilmu dan rumus yang sama maka hasilnya akan sama, itu PASTI loh.

Ketika belum sampai kepada tahap PASTI, berarti kita baru belajar agama secara zahir yang bisa dipelajari oleh siapapun karena pelajaran agama zahir merupakan pelajaran akal pikiran yang akan hilang ketika manusia meninggal dunia.

Manusia harus meng-upgrade ilmu agamanya sehingga bukan hanya jasmaninya yang beragama tapi juga rohani karena nanti yang kembali kepada Allah bukanlah jasmani tapi rohani.

Ketika manusia belum mengenal Allah, dalam ibadah formal yang sangat tenang sekalipun dia tidak akan bisa mendapatkan apa-apa selain kekosongan dan kehampaan serta menduga-duga bahwa dia sedang berhadapan dengan Allah.

Ketika ilmu agamanya telah di upgrade dibawah bimbingan Guru Yang Ahli, dan ketika kita telah mengenal Tuhan dengan sebenar kenal tanpa keraguan sedikitpun, maka dimanapun kita bisa menjumpai-Nya, tidak hanya ketika melakukan ibadah formal saja, ketika menghirup segelas kopi pun akan ada wajah-Nya disana….

READ MORE - Memandang Tuhan Dalam Segelas Kopi

Isra' Mi'raj dan Nilai Kebenarannya Bagi Umat Islam


Isra’ dan Mi’raj merupakan dua peristiwa yang berbeda. Isra’ dan Mi’raj merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam. Karena pada peristiwa ini, Nabi Muhammad Shallahu alaihi Wa Sallam, mendapat perintah untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam.

Isra’Mi’raj terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun 11 kenabian. Artinya, sebelas tahun setelah Muhammad diangkat menjadi seorang rasul. Jika Muhammad menjadi rasul pada usia empat puluh tahun, berarti peristiwa Isra’ Mi’raj itu terjadi pada saat Muhammad berusia kira-kira 51 tahun.

Peristiwa Isra’ Mi’raj dapat dikatakan terbagi dalam dua peristiwa yang berbeda. 

Dalam Isra’, Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wa Sallam, “diberangkatkan” oleh Allah Ta’ala dari Masjidilharam sampai Masjidil Aqsha, dari Makkah ke sampai Jerusalem. 

Lalu, dalam Mi’raj, Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wa Sallam dinaikkan ke langit sampai ke langit tertinggi Sidratul Muntaha. Di sini, ketika nabi samai ke langit tertinggi, Allah Ta’ala menyuruh nabi agar umatnya disuruh melaksanakan salat lima puluh kali sehari.

Pada saat itu, Nabi Musa datang dan berkata bahwa perintah itu terlalu berat dan meminta nabi meminta kepada Allah Ta’ala agar salatnya dikurangi. Dan Allah pun mengabulkannya. Maka salatn ya dikurangi menjadi 45 kali sehari. Maka, Nabi kembali kehadapan Allah Ta’ala masih terlalu berat. Dan Allah mengabulkan hingga menguranginya, tetapi Nabi Musa menyatakan masih kelebihan, sehingga terus dikurangi, hinga salat lima waktu,yaitu Shubuh (2 rakaat), Zhuhur (4 rakaat), Ashar (4 rakaat), dan Maghrib (3 rakaat), dan Isya’ (4 rakaat).

Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah salat lima waktu diwajibkan. Tidak ada nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wa Sallam.

Walaupun begitu peristiwa ini membuat Rasulullah sedih karena banyak orang yang tidak percaya dengan peristiwa ini. Namun, ada sahabat Nabi yang percaya apapun Nabi Muhamad Shallahu alaihi Wa Sallam, yaitu Abu Bakar ra. Dia mengatakan bahwa yang dikatakan Nabi pasti benar dan Abu Bakar digelari As-Shidiq yang artinya percaya pada setiap perkataan Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam. 

READ MORE - Isra' Mi'raj dan Nilai Kebenarannya Bagi Umat Islam

Siapakah Ratu Para Bidadari Surga?


Ibnu Qayyim Rahimahullahu, menyebutkan dalam sebuah hadist sahih dalam Musnad Imam Ahmad, bahwa ketika seorang suami beristrikan "Huril ain" (bidadari), kemudian pada saat itu akan datang seorang wanita lain yang mana kecantikan & keelokannya mampu membuat seorang raja melupakan wanita2 lainnya._

Siapa Wanita itu ?

Ternyata wanita tersebut adalah istrinya semasa dia berada di dunia * Itulah keistimewaan para Istri di surga, dia akan menjadi RATU dari para Hur‘ain (bidadari). Lalu, Ibnu Qayyim mengatakan “Apakah seorang raja pernah memikirkan para pelayan-nya di hadapan Ratunya...??!!” 

Tentu tidak! Jadi, Allah akan memberikan kepada para istri kecantikan yg luar biasa,jauh melebihi kecantikan para bidadari.

KIRA2, KENAPA BISA BEGITU ???

Ibnu Qayyim menjelaskan, “Krn Hur‘ain (bidadari) tidak pernah menghadapi kesulitan yang dirasakan wanita dunia. Mereka tidak pernah berjuang di jalan Allah, tidak pernah dicemooh orang karena mengenakan hijab, tidak pernah merasakan sulitnya patuh kepada suami....dan lain2”

Mengenai keistimewaan istri (wanita) di surga dibandingkan Bidadari, Rasulullah Saw melalui haditsnya menyebutkan :

“Sungguh tutup kepala salah seorang wanita surga itu lebih baik daripada dunia & seisinya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Bahkan dalam hadits yang lain disebutkan pula bahwa wanita dunia yang sholihah lebih utama daripada bidadari surga._

Dari Ummu Salamah ra, ia berkata, “Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wanita2 dunia lebih utama daripada bidadari2 yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak (real) daripada apa yang tidak tampak (abstrak).”

Kemudian saya bertanya lagi, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada para bidadari?”

Lalu Beliau menjawab, "Karena shalat mereka, puasa & ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya ke-kuning2-an , sanggulnya mutiara & sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut & tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi & tidak beranjak sama sekali, kami ridha & tidak pernah ber-sungut2 sama sekali. Berbahagialah orang yg memiliki kami & kami memilikinya.”(HR. Ath Thabrani)

Masya Allah... sungguh ini sebuah kemuliaan yg diberikan kepada kaum wanita khususnya para istri, derajat mereka bisa menjadi lebih mulia daripada bidadari surga, mereka akan menjadi 'Ratu2' bidadari surga.

Untuk para kaum wanita ...jangan sia-siakan kesempatan kalian untuk menjadi ratu-ratu bidadari di surga..._

Ingaaaat... setelah mati tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia lagi...!!

Mulai sekarang, bagi para istri, marilah ber-lomba2 agar bisa menjadi istri yang sholihah di dunia...! Aamiin

READ MORE - Siapakah Ratu Para Bidadari Surga?

Nikmatnya Sensasi Menangis karena Allah


Hati ibarat cermin. Semakin bening maka semakin baik melihat. Jika terkotori maka akan semakin buram. Hati bisa karatan, bisa juga buram. Maka seorang Muslim harus membersihkan dan mengasahnya selalu dengan kedekatan kepada Allah dan berbagai macam ketaatan.

Berikut perkara-perkara yang melembutkan dan melunakkan hati:

1. Mengenal Allah, keagungan nama, sifat dan ciptaan-Nya.

Mengenal dalam arti memahami dan mengetahui sebenar-benarnya (ma’rifat) akan keagungan-Nya. Ma’rifat ini akan melahirkan cinta, berharap bertemu dan takut kepada-Nya. Orang cinta menangis karena rindu kepada kekasihnya.

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan,” (QS Az-Zumar: 67).

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus[1039], yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu,” (QS An-Nur: 35).

2. Membaca Al-Qur’an, merenungi maknanya dan meresapkannya dalam hati

{ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُواْ الْعِلْمَ مِن قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلاْذْقَانِ سُجَّدًا . وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبّنَا إِن كَانَ وَعْدُ رَبّنَا لَمَفْعُولاً . وَيَخِرُّونَ لِلاْذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا } [ الإسراء :107-109  .


“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur wajah mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami, Sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi." Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyu',”(QS Al-Israa': 107-109).


Al-Qur'an sebagai kitab suci dan paling indah dari segala sisi seharusnya dibaca dengan baik dan benar serta direnungi maknanya, sehingga bacaan itu meresap ke hati dan memberikan sensasi kedekatan kepada Allah.

Karena itu, diriwayatkan bahwa Rasulullah membaca bismilllah dan diulang-ulang hingga 20 kali. Ini agar maknanya benar-benar meresap di hati dan meresponnya.

Karena itu pula sebagian salaf mengatakan, “Setiap ayat yang tidak aku pahami dan tidak berpengaruh ke hati maka aku menganggapnya tidak berpahala.” Sebagian ulama salaf ketika membaca ayat namun tidak membekas di hati maka dia mengulangnya lagi. Jika mereka melewati ayat tasbih maka mereka bertasbih, jika melewati ayat takbir mereka bertakbir, jika melewati doa dan istighfar, mereka berdoa dan meminta ampun, jika melewati ayat yang menjelaskan ketakutan, mereka meminta perlindungan kepada Allah.

Inilah makna ayat:

(يَتْلُونَهُ حقَّ تِلاَوَتِه) البقرة:121

“Mereka membacanya dengan sebenar-benar membaca,” (QS Al-Baqarah: 121).

Rasulullah saw bersabda, “Al-Qur'an ini diturunkan dengan kesedihan, maka jika kalian membaca maka bersedihlah atau buatlah bersedih,” (HR. Baihaqi, Albani mengatakan hadits ini dhaif).

Sebab di dalamnya ada ancaman siksa dan perjanjian dengan Allah yang mengharuskan untuk menangis dan bersedih.

3. Banyak dzikir kepada Allah

Tujuh golongan yang mendapatkan naungan adalah yang berdzikir kepada Allah kemudian menangis.  Jika bersungguh-sungguh melawan hawa nafsunya di kala sepi, maka ia berhak mendapatkan naungan dari Allah.

Ibnu Qayyim berkata, “Hati itu ada kerasnya, yang tidak akan bisa meleleh kecuali dengan dzikir kepada Allah.”

4. Memperbanyak ketaatan kepada Allah

Dari Abu Muawiyah Al-Aswad, berkata Ahmad bin Sahal, “Barangsiapa yang banyak jujur kepada Allah maka air matamu akan keluar dan Allah akan menjawab doamu.”

5. Mengingat mati

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَاذِمِ اللَّذَاتِ الْمَوْتِ»

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Perbanyaklah mengingat hal yang memutus kenikmatan, yakni kematian,” (HR. Ahmad ).

6. Mengonsumsi yang halal
Dalam pandangan Islam, antara hati dan makanan halal memiliki kaitan erat.

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى  الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعىَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ  لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ   مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ  أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ [رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan ad-Din dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati,“ (Hadits Riwayat Bukhori dan Muslim).

7. Mendengarkan nasihat dengan seksama

عن العرباض بن سارية قال : وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما بعد صلاة الغداة موعظة بليغةً ذرفت منها العيون ووجلت منها القلوب فقال رجل إن هذه موعظة مودع فماذا تعهد إلينا يا رسول الله قال : ” أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبد حبشي فإنه من يعش منكم يرى اختلافا كثيراً وإياكم ومحدثات الأمور فإنها ضلالة فمن أدرك ذلك منكم فعليه بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ ” .رواه الترمذي ( 2676 ) وقال : هذا حديث حسن صحيح ، وأبو داود ( 4607 ) وابن ماجه ( 42 ) ، وصححه الألباني في ” السلسلة الصحيحة ” ( 2735 ) .

Dari Al ‘Irbadh bin Sariyah ra, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  menasihatkan kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati-hati kami dan air mata pun berlinang karenanya. Maka ketika itu kami mengatakan,’ Wahai Rasulullah, nasihat ini seperti nasihat orang yang mau mengucapkan selamat tinggal, karena itu berilah wasiat kepada kami.’ Beliau pun bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian bertakwa kepada Allah, untuk mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian itu seorang budak. Dan barangsiapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku, niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Karena itu wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnahnya Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Pegang erat-erat sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hati kalian dari perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru (bid‘ah) itu sesat,” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, disahihkan oleh Albani).

8. Mengingat hari kiamat, minimnya bekal dan takut kepada Allah

Abu Hurairah menangis di saat ia sakit. Ia ditanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Dia berkata, “Saya tidak menangisi dunia kalian ini. Saya menangis karena panjangnya perjalanan ini dan sedikitnya bekal yang kumiliki. Ketika masuk di sore hari saya tidak tahu apakah saya dimatikan untuk surga atau neraka.”

9. Ziarah kubur

عن أنس رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزوروها ؛ فإنها ترق القلب وتدمع العين وتذكر الآخرة ولا تقولوا هجراً ” . ‌
رواه أحمد ( 13075 ) وصححه الشيخ الألباني في ” صحيح الجامع ” ( 4584 ) .

Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Dulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah kalian ke kuburan karena itu akan melembutkan hati, mengalirkan air mata, mengingatkan kalian kepada akhirat dan tidak mengatakan yang buruk,” (HR. Muslim dari Buraidah bin Hushaib).

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : زار النبي صلى الله عليه وسلم قبر أمه فبكى , وأبكى من حوله (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata, “Nabi berziarah kubur ibunya kemudian beliau menangis dan membuat orang di sekelilingnya menangis,” (HR Muslim) 
(Ahmad Tarmudli/Spirit/salam-online)

READ MORE - Nikmatnya Sensasi Menangis karena Allah

Muslims must live by Qur’an


IT happened at an international inter-faith conference. The organizers decided to end the conference with readings from the scriptures of major religions, done by followers of other religions. An Arab Christian turned out to be a very good reciter of the Qur’an, as he read few verses from the Holy Book.

Every one seemed to be moved by his heart-rending reading, including the reciter himself. Later, a prominent Indian Muslim thinker and writer, Maulana Waheeduddin Khan, who narrated this story, asked him: “Do you think Qur’an is the Word of God?” In a moment of truth, he said: “Yes.” But, then, he had second thoughts, so he added: “But only for the Arabs.”

The Qur’an has arguably been the only Book that kept moving millions to the message of Allah all through the ages and all across the world. Its Words stirred up souls of many people who might not know even a word of the Arabic language.

Famous Egyptian reciter Qari Abdul Basit reportedly once accompanied then President Gamal Abdul Nasser to a meeting with the Soviet leaders. During a break in the meeting, Nasser asked him to recite the Qur’an before the top Soviet leaders. When he finished the recitation, Qari Abdul Basit saw at least four of them shedding tears.

“We don’t know what it was,” they later explained. But there was some thing touching in those Words!

Ironically at that time Qur’an was the forbidden tree for the Muslims in the Soviet Union. Reading, teaching, or even possessing a copy of the Qur’an resulted in the most severe punishments. The KGB was always on the lookout. Its agents could enter any house, any time, if they suspected anyone inside of reading Qur’an or offering prayers. Religious leaders were drafted for compulsory labor. Mosques and Islamic schools were closed down and turned into cinema houses, factories and offices. One could not find a copy of the Qur’an anywhere.

The ruthless state machinery did everything within its power to extinguish the flame of Qur’an in the empire. Yet during those 70 dark years, Muslims kept the flame burning. They developed elaborate camouflage mechanisms, at tremendous risks, to teach Qur’an to their children. Little children had to stay away from their parents for months at a time as they retired to secret hujras (rooms) where they memorized Qur’an and received religious instructions without ever having looked at a printed page. Their stories remain a neglected but extremely bright part of our recent history.

What kind of book can command such devotion and sacrifices? Only the Book that begins by asserting: “This is the Book; in it is guidance sure, without doubt, to those who fear Allah.” (Qur’an, 2:2)

And then each and every line of it attests to that assertion. It declares: “The Most Gracious! It is He Who has taught the Qur’an.” (Qur’an, 55:1-2)

It challenges: “Say If the whole of mankind and Jinn were to gather together to produce the like of this Qur’an, they could not produce the like thereof, even if they backed up each other with help and support.” (Qur’an, 17:88)

It says: “Verily it is We Who revealed the Remembrance and verily We are its guardians.” (Qur’an, 15:9)

Qur’an is the first document in the Arabic language. There is no other language of the world that has withstood a time span of 1400 years. Over the centuries, rivers change courses, civilizations rise and fall, and languages become extinct making way for the new ones. Consider the expression “faeder ure on heofonum” in a Bible of 900 CE (Matthew, 6)

The writing from that time cannot be read by an English-knowing person today. But anyone having the knowledge of Arabic can read the Qur’an and understand its message. As did all the people in the intervening centuries!

Prominent scholar Dr. Hamidullah tells of an effort in Germany by the Christian scholars to gather all the Greek manuscripts of Bible as the original Bible in Aramaic is extinct.

They gathered all manuscripts in the world and after having examined all of them, reported: “Some 200,000 contradictory narrations have been found... of these one-eighth are of an important nature.” Following the publicaton of the report, an Institute for Qur’anic Research was established too in Munich with the similar goal of examining the Book as it was done in case of the Bible.
A gigantic research project was started that continued for three generations. By 1933 CE, 43,000 photocopies of Qur’anic manuscripts were collected. A report published shortly before World War II that showed the results of the examination of these manuscripts. While some minor mistakes of calligraphy were found, not a single discrepancy in the text could be discovered!

Of course the love, devotion and care that Muslim showed toward the Qur’an, and that became the immediate cause of its miraculous preservation, was inspired by the Prophet Muhammad (pace be upon him). On one occasion he asked the companions in Suffa: Which of you would like to go out every morning to Buthan or Al-Aqiq (two markets near Madinah) and bring two large she-camels without being guilty of sin or without severing the ties of kinship? Camels were the valuable commodity of the time, she-camels even more so. As they showed their interest, Prophet Muhammad (peace be upo him) explained: “To teach or recite two verses of the Qur’an is better than getting two she-camels. And three verses are better than three she-camels.” (Muslim).

And so, for centuries this ummah displayed an unprecedented love and devotion for the Book of Allah Almighty. It began the education of its children by teaching them how to read Qur’an. It began its day by reciting from the Qur’an, which was divided into seven parts, each called a manzil, so it could be read completely every week. It was divided into 30 parts, each called a juz, so it could be read completely every month. Qur’an is the most read and memorized book in the world!

Today, though, we see a change. Thanks to the twin scourges of a colonial education system and the television, today we find millions of Muslim children for whom learning to read the Qur’an is not part of their education. We find millions of Muslim homes where Qur’an is read only on special occasions, when someone dies, for example. This despite the fact that in most parts of the world today, unlike the Soviet Union of yesterday, reading the Qur’an is no longer a high risk proposition.

How unfortunate is the person who dies of thirst while holding the refreshing glass of water in his hands! How unfortunate is the person who dies of disease while holding the perfect medicine in his hands!

We must read it, understand it, and put it into practice. But we must also remember that reading with full deference and proper etiquettes is a pre-requisite for understanding the Qur’an, just as understanding its message is a pre-requisite for practicing it. Our goal must be to live by the Qur’an. For only then we truly live. Otherwise we only pretend to live.

Courtesy: ummah.com

READ MORE - Muslims must live by Qur’an

Keyakinan Isa adalah Tuhan (anak Tuhan) menjadi peyebab utama perbedaan Islam dengan Kristen


Keyakinan Isa adalah Tuhan (anak Tuhan) menjadi peyebab utama perbedaan Islam dengan Kristen. Perbedaanya sangat bertolak belakang, yakni 180 derajat. Demikian juga Yahudi meyakini Uzair anak Tuhan. Seperti itu juga yang terjadi dengan kaum Musyirikin yang menyekutukan Allah dengan berbagai berhala yang direka-reka oleh nenek moyang mereka.

Islam hanya mengenal dan mengakui konsep Tauhid, yakni mengesakan Allah. Dan Allah bersih dari klaim berbagai tuhan yang mendampingi-Nya, baik dalam bentuk rububiyyah (penciptaan), uluhiyyah/ ubudiyyah (ketaatan pada sistem) maupun asma’ (nama-nama) dan sifat-sifat-Nya.


قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (1) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu (2) Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan (3)dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (4)

Tentang keyakinan orang Yahudi dan Nasrani tersebut Allah membantahnya bahwa yang demikian itu tidak lebih dari ucapan kosong belaka yang tidak dapat dibuktikan secara faktual. Sebuah keyakinan yang diyakini turun temurun begitu saja tanpa dapat dicerna oleh akal sehat dan fitrah yang bersih. Sebuah keyakinan yang didasari ikut-ikutan pada orang-orang kafir sebelum mereka yang tidak berpegang pada wahyu Allah. Allah berfirman :


وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (30

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah.” Demikian itu hanya ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka, bagaimana mereka sampai berpaling (dari ajaran Tauhid)?

Keyakinan dan presepsi yang diyakini turun temurun itu semakin mapan dan parah akibat mereka mengagumi dan mengkultuskan para tokoh agama (ulama) mereka (Ahbar dan Ruhban), sehingga menjadi berhala-berhala dan syuyukh dholal wa mudhillin (tokoh-tokoh sesat dan menyesatkan) yang disembah (lihat tulisan : Berhala Abad 21/ Nasehat Ulama). Penyebabnya tak lain adalah, para tokoh agama itu tidak mau komitmen penuh dengan wahyu apa adanya, atau dengan bahasa sekarang “kehilangan trust” terhadap wahyu Allah, Taurat dan Injil. Allah menjelaskan dalam surat At-taubah ayat 31 :


اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Ketika masyarakat bodoh dan tidak mau menuntut ilmu sehingga pemahaman agama hanya berdasarkan presepsi dan dugaan belaka, maka para tokoh-tokoh agama itu dengan mudah mengelabui mereka dan mengarang-ngarang wahyu seakan datang dari Allah, padahal hasil tulisan mereka sendiri. Allah membongkar kejahatan para tokoh agama itu dalam firman-Nya surat Al-baqarah : 77 – 79) :


أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ (77) وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ (78) فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ


لْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ (79)

Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan? (77) Dan diantara mereka ada yang ummiyyun (buta huruf), tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga (78) Maka neraka wail-lah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.(79).

Prilaku pemuka agama Nasrani dan Yahudi itu semakin aneh dan tak masuk akal, sampai-sampai mereka menjelaskan pada umat bahwa mereka tidak akan masuk neraka kecuali hanya beberapa hari saja. Mereka begitu berani dan nekatnya demi meyakinkan para pengikut dan umat terhadap ajaran agama yang kebanyakannya mereka karang sendiri. Allah menjelaskan dalam surat Al-baqarah ayat 80 – 81 :


وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (80) بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (81)

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”(80) (Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah dibalut oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.(81).

Berbagai klaim pemuka agama yahudi dan Nasrani mampu meyihir umat mereka sehingga mereka percaya begitu saja tanpa mau merujuk kepada Taurat dan Injil yang sesungguhnya. Saat umat mereka tidak mau bersusah payah menghidupkan tradisi ilmu dan lebih memilih berfikir instan dan mengandalkan nasib pemahaman agama kepada para pemuka agama sambil meninggalkan Kitabullah, di saat itulah para pemuka agama tersebut dengan leluasa mengarang ajaran agama sesuai syahwat dan persepsi mereka belaka. Mereka berani mengklaim bukan hanya Uzair dan Isa saja anak Allah, akan tetapi mereka (Yahudi dan Nasrani) itu juga anak Allah. Allah menjelaskan dalam surat Al-Maidah ayat 18 – 19 :


وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ (18) يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَى فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلَا نَذِيرٍ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (19)

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). (18) Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami (Muhammad Saw), menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: “Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.” Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(19)

Begitulah prilaku para pemuka agama di kalangan Yahudi dan Nasrani. Mereka sangat leluasa mengarang ajaran agama dengan cara; mencampur adukkan al-haq (kebenaran) dengan al-bathil (kebatilan), menyembunyikan al-haq (QS.2 : 42 dan 3 : 71), menyimpangkan ayat dari pengertian yang sebenarnya (QS.4 : 46 dan 5 : 13 dan 41), pandai menyuruh umat berbuat baik, namun diri mereka melupakannya (QS. 2 : 44) dan lain sebagainya.

Al-Qur’an sebagai Kitab Allah yang terakhir diturunkan untuk umat manusia, tentunya mencakup kaum Ahlil Kitab (Yahudi dan Nasrani), membongkar motivasi para tokoh agama Yahudi dan Nasrani berbuat senekat itu. Motivasi utamanya ternyata adalah kepentingan dunia berupa harta dan menumpuk tabungan (uang). Allah memperingatkan umat Nabi Muhammad agar para tokoh agamanya (ulamanya) tidak berprilaku seperti itu, seperti yang dijelasakan dalam surat Attaubah ayat 34 -35


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ (35)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,(34) pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.”(35)

Sebuah fenomena yang menarik dan aneh bahwa berbagai ajaran menyimpang yang dikembangkan para pemuka agama Yahudi dan Nasrani tersebut telah membentuk karakter bangsa Yahudi dan Nasrani menjadi bangsa yang suka mengingkari janji, kafir pada ayat-ayat Allah, termasuk pada Al-Qur’an, membunuh para Nabi, sikap keras kepala, menuduh Maryam dengan tuduhan palsu, mengkalim berhasil membunuh Isa, berbuat berbagai kezaliman di muka bumi, menghalangi manusia dari jalan Allah, suka makan riba dan memakan harta manusia dengan jalan yang bathil, kecuali mereka yang mendalam ilmumnya tetang Taurat dan Injil seperti Waraqah Bin Naufal dan sebagainya. (QS. 4 : 155 – 162)

Membunuh para Nabi dan memerangi mereka, termasuk Nabi Muhammad dan para pengikutnya, tentulah perbuatan yang amat tercela dan bahkan merupakan tindakan terorisme yang tidak dibenarkan sama sekali oleh Allah Ta’ala. Sikap itu pula yang sekarang dipertontonkan oleh kaum yahudi di Palestina dan Nasrani di Irak dan Afghanistan. Sebab itu, tidak heran jika mereka selalu melancarkan serangan dan peperangan terhadap umat Nabi Muhammad sepanjang masa. Para Nabi saja mereka perangi dan bunuh, apalagi umat Nabi Muhammad Saw? Allah menjelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 120 :


وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ


Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

Memperhatikan prilaku dan ajaran kaum Ahlul Kitab yang sangat menyimpang itu, termasuk umat Nasrani sepanjang masa, khususnya terkait tentang ketuhanan, ibadah, mu’amalah dan sebagainya timbul beberapa pertanyaan mendasar : Apa benar yang demikian itu ajaran tuhan Isa? Kalau benar, apakah pantas Isa menjadi tuhan yang penuh kebencian dan kebengisan? Mana kasih sayang yang dikalim itu? Kok Tuhan malah dibunuh? Dan banyak lagi pertanyaan lain yang mendasar.

Sesungguhnya Isa tidak pantas jadi tuhan hanya karena ia lahir tanpa bapak. Kalau Isa lahir tanpa bapak sudah pantas jadi tuhan, maka Adam lebih berhak jadi tuhan karena lahir tanpa ibu dan bapak seperti yang dijelaskan Allah dalam surat Ali Imran, ayat 59 :


إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آَدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah sama seperti Adam. Dia menciptakannya (Adam) dari tanah, kemudian Dia berkata padanya : jadilah! Maka jadilah ia.

Jadi, kalau Isa bukan tuhan dan dia hanyalah seorang Nabi sebagaimana nabi-nabi Allah yang lain, termasuk nabi terakhir Muhammad Saw. timbul pertanyaan : Ajaran trinitas yang menyekutukan Allah itu ajaran siapa sebenarnya? Apakah ajarn Isa, atau hanya rekaan para tokoh agama saja? Allah menjawabnya dalam surat Al-maidah ayat 116 – 188 berikut :


وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (117) إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (118)


Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?.” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.”(116) Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.(117) Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(118).

Berdasarkan analisah di atas, kita dapat menyimpulan bahwa Isa itu bukan tuhan. Dia adalah salah seorang Nabi Allah yang membawa ajaran Tauhid, sama dengan ajaran tauhid Nabi Muhammad Saw, yang sama-sama meneruskan ajaran Tauhid bapak/moyang mereka Ibrahim alaihissalam.

Kalau demikian halnya, agama Islam dan Kristen (Nasrani) – termasuk juga Yahudi dan musyrikin lainya – tidaklah sama. Islam berdasarkan Tauhid, sedangkan agama yang lainnya berdasarkan syirik. Maka, hati-hatilah wahai kaum Muslimin dalam menerima undangan menyambut tahun baru dan hari natal… Wallahul Muwaffiq wal Hadi ila sawa-issabiil…
Oleh : Fathuddin Ja’far di eramuslim.com

READ MORE - Keyakinan Isa adalah Tuhan (anak Tuhan) menjadi peyebab utama perbedaan Islam dengan Kristen