Tampilkan postingan dengan label Teroris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teroris. Tampilkan semua postingan

Malam Bekasi dan Bayang-Bayang yang Bergerak: Membaca Risiko Kota dari Arah yang Tak Terlihat


Malam Bekasi dan Bayang-Bayang yang Bergerak: Membaca Risiko Kota dari Arah yang Tak Terlihat. Tidak semua malam di Bekasi diciptakan sama.

Ada malam yang penuh tawa dari warung kopi, ada malam yang dipenuhi suara mesin pabrik, dan ada pula malam yang menyisakan ruang lengang—ruang kosong tempat kerawanan perlahan muncul tanpa pengumuman. Kota ini berkembang cepat, tapi seperti kota mana pun yang tumbuh lebih cepat dari dirinya sendiri, ada celah yang tak bisa segera tertutup. Celah itulah yang kadang dimasuki oleh niat buruk.

Di banyak kecamatan, warga memahami bahwa antara 23.00 hingga 05.00, ritme Bekasi berubah menjadi lebih sunyi. Bukan karena semua aktivitas berhenti, tetapi karena kota bergeser ke mode istirahat yang setengah sadar. Dalam kondisi seperti itu, apa pun bisa terjadi sebelum kita sempat menyadarinya.

Ketika Jalan Menjadi Sunyi, Risiko Mengambil Alih

Kota yang ramai membuat orang merasa aman, tapi ketika arus kendaraan menipis dan suara klakson menyusut menjadi gaung jauh, jalan berubah sifat. Jalan yang tadinya netral perlahan menjadi ruang yang mudah diprediksi oleh pelaku kriminal. Mereka tahu kapan warga berhenti beraktivitas. Mereka tahu kapan pengawasan melemah. Mereka tahu koridor-koridor mana yang jarang dilewati setelah pukul 01.00.

Bekasi bukan kota yang berbahaya dalam arti absolut. Namun ia menjadi vulnerable pada jam tertentu, terutama di titik yang pencahayaannya buruk, aksesnya memanjang, atau perumahannya terletak sedikit lebih jauh dari ruas utama. Curanmor, begal, aksi kelompok motor, hingga intimidasi kecil-kecilan bisa muncul sebagai efek domino dari situasi lengang.

Yang membuatnya lebih sulit dibaca adalah: kerawanan ini sering muncul tidak di titik besar, tetapi pada kantong-kantong kecil yang tidak selalu masuk laporan resmi.

Kerawanan Berpindah Mengikuti Perubahan Lingkungan

Satu hal yang jarang disadari warga adalah bahwa kerawanan kota selalu bergerak mengikuti perubahan kecil: lampu jalan mati, satu ruko baru buka, pos ronda tidak aktif seminggu, atau satu gang mendadak lebih sepi karena renovasi rumah di ujung jalan.

Di Bekasi, perubahan semacam ini sering menciptakan efek mikro yang berdampak pada keamanan malam. Ketika lampu padam di satu tikungan, pengendara motor melambat tanpa sadar. Ketika mobil harus mengurangi kecepatan, ruang manuver pelaku kriminal makin luas. Ketika perumahan baru dihuni separuhnya, jalan-jalan di dalamnya menjadi ruang yang setengah hidup—cukup terang untuk dilewati, tetapi cukup kosong untuk menciptakan rasa waswas.

Kerawanan tidak pernah diam. Ia selalu mencari ruang kosong.

Tanda-Tanda yang Bisa Dibaca Mereka yang Mau Memperhatikan

Sebelum sebuah kejadian terjadi, sering ada tanda-tandanya. Tanda itu tidak selalu kasat mata, tetapi cukup sering untuk disebut pola:
  • Motor yang bolak-balik tanpa arah jelas.
  • Sekelompok pemuda yang tidak dikenal nongkrong di jam tidak biasa.
  • Aktivitas kecil yang muncul mendadak di spot gelap.
  • Kendaraan yang berhenti tanpa alasan jelas, lalu hilang begitu saja.
  • Rombongan motor yang melintas cepat seperti sedang memetakan rute.
Tanda-tanda itu tidak selalu berakhir buruk, tetapi dalam banyak kejadian kriminal, tanda itulah yang muncul lebih dulu sebelum berita menyebar.

Peran Warga: Antara Kewaspadaan dan Kepedulian

Kota yang besar membuat orang mudah hanya memikirkan dirinya sendiri. Namun keamanan kota tidak bekerja seperti itu. Ia lahir dari kolaborasi: orang menjaga rumah orang lain tanpa harus bersepakat, lampu rumah dinyalakan untuk memberi cahaya ke jalan, dan satu laporan kecil bisa mencegah satu kejadian besar.

Di banyak lingkungan Bekasi, warga mulai menyadari bahwa menjaga lingkungan bukan lagi tugas RT atau satpam semata. Ada gerakan kecil yang mulai tumbuh: obrolan malam di pos jaga, ronda kecil tanpa seremonial, hingga grup WhatsApp yang bergerak cepat ketika seseorang melihat aktivitas mencurigakan.

Semua itu kecil, tapi dampaknya panjang.

Patroli Kepolisian Saja Tidak Cukup

Aparat telah meningkatkan patroli di beberapa titik yang dikenal rawan. Namun ruang Bekasi terlalu luas untuk hanya mengandalkan satu kekuatan. Polisi bisa menutup satu titik, namun kerawanan bisa pindah ke titik lain yang tidak terjaga.

Karena itu, warga yang aktif melapor bukan hanya membantu, tetapi menjadi sensor awal yang membuat risiko dapat dipetakan ulang. Tanpa laporan warga, banyak kejadian hanya menjadi percakapan tetangga, bukan bagian dari data yang memengaruhi kebijakan patroli.

Bekasi membutuhkan keduanya: aparat yang bergerak, dan warga yang peduli.

Mencintai Kota dengan Cara Menjaganya

Bekasi adalah kota yang sibuk mengejar masa depan. Namun masa depan itu tidak akan terasa berarti bila warganya ragu pulang larut malam atau takut melewati jalan yang seharusnya aman. Keamanan kota bukan sekadar menekan angka kriminalitas, tetapi membangun psikologi aman bagi mereka yang tinggal di dalamnya.
Dan psikologi aman itu hanya tumbuh ketika warga merasa saling menjaga.

Ketika rumah-rumah menyalakan lampu luar. Ketika jalan tidak sepenuhnya gelap. Ketika satu orang memperhatikan apa yang orang lain tidak sempat lihat.

Bekasi tidak sedang menunggu pahlawan. Ia hanya butuh warganya sendiri yang memutuskan bahwa kota ini layak dijaga—bahkan pada jam-jam yang tidak nyaman.
Karena pada akhirnya, malam hanyalah ruang kosong yang bisa diisi cahaya—selama ada yang mau menyalakannya.

READ MORE - Malam Bekasi dan Bayang-Bayang yang Bergerak: Membaca Risiko Kota dari Arah yang Tak Terlihat

Kerusakan Yang Ditimbulkan Media


Karena seringnya membaca, melihat, dan mendengar hal-hal yang haram melalui berbagai media, rasa malu pun akan terkikis dari hati, bahkan bisa jadi hilang sama sekali. Padahal rasa malu adalah unsur pokok yang menghidupkan hati.

Islam datang membawa syariat yang mulia lagi sempurna. Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam kitab-Nya,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberitakan tentang misi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah ‘azza wa jalla,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

(HR. Ahmad, Malik, dan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah (1/75)

Akan tetapi, kemuliaan dan kesempurnaan syariat Islam tidak akan disadari dan diyakini selain oleh orang-orang yang diberi hidayah taufik dari Allah ‘azza wa jalla.

Apalagi di zaman sekarang, yang disebut era globalisasi dan teknologi informasi. Cepat dan dahsyatnya informasi ternyata tidak identik dengan kemajuan pada bidang yang lain. Terkhusus bidang agama, moral dan spiritual kaum muslimin secara umum dan generasi mudanya secara khusus telah dirusak oleh berbagai asupan yang bersumber dari media massa, baik elektronik maupun cetak.

Media massa yang ada saat ini umumnya dimiliki oleh Yahudi dan Nasrani. Kalaupun ada yang dimiliki oleh kaum muslimin, tetap tidak terlepas dari berbagai hal mungkar yang terjadi di dalamnya. Karena itu, berbagai bentuk media penyaji informasi tersebut dimanfaatkan untuk menghancurkan moral dan agama bangsa ini, terkhusus generasi muda kaum muslimin. Perhatikanlah acara-acara televisi, terkhusus film, sinetron, hiburan, iklan, dan bahkan berita yang disajikan pun mengandung kemungkaran.

Hal ini diperparah oleh ketersediaan layanan internet yang mudah, murah, dan cepat; yang bisa diakses melalui ponsel pintar yang tergenggam di tangan generasi muda muslimin. Belum lagi kalau kita mengengok media cetak, seperti majalah, koran, dan tabloid, yang dipenuhi gambar-gambar tidak pantas yang membangkitkan nafsu syahwat. Akibatnya, tidak ada yang selamat dari kerusakan yang ditimbulkan oleh media massa selain orang-orang yang dijaga oleh Allah ‘azza wa jalla.

Di antara bentuk kerusakan moral terbesar yang ditimbulkan oleh media massa adalah sebagai berikut.

Hilangnya Rasa Malu

Karena seringnya membaca, melihat, dan mendengar hal-hal yang haram melalui berbagai media, rasa malu pun akan terkikis dari hati, bahkan bisa jadi hilang sama sekali. Padahal rasa malu adalah unsur pokok yang menghidupkan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

“Rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan keutamaan rasa malu melalui sabdanya,

الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ

“Rasa malu tidaklah mendatangkan selain kebaikan.” ( Muttafaqun alaih dari Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Di antara hukuman akibat perbuatan dosa adalah hilangnya rasa malu yang merupakan unsur pokok yang menentukan hidupnya hati. Rasa malu adalah dasar seluruh kebaikan. Maka dari itu, hilangnya rasa malu akan menyebabkan sirnanya seluruh kebaikan.” (ad-Da’ wad-Dawa’ hlm. 105)

Berdasarkan penjelasan di atas, barang siapa yang sudah tidak memiliki rasa malu disebabkan oleh kemaksiatannya, dia akan melakukan berbagai kemaksiatan yang lain tanpa rasa malu pula. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya, di antara perkataan nubuwah terdahulu yang masih didapatkan oleh manusia ialah apabila engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. al-Bukhari dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan, “Perintah dalam hadits ini (‘berbuatlah sesukamu’) bermakna berita. Artinya, barang siapa tidak memiliki rasa malu, dia akan berbuat semaunya. Sebab, yang menghalangi seseorang berbuat jelek adalah rasa malu. Jadi, ketika seseorang tidak memiliki rasa malu, niscaya dia akan bersemangat melakukan seluruh perbuatan keji dan mungkar.” (Jami’ al-‘Ulum wal Hikam 1/498)

Di antara akibat buruk yang ditimbulkan oleh hilangnya rasa malu dalam kehidupan masyarakat ialah sebagai berikut.

Campur baur lelaki dan perempuan yang bukan mahram (ikhtilath)

Hal ini terjadi di sekolah, perguruan tinggi, kantor, dan tempat lainnya. Mereka bercampur baur dengan berbagai bentuk penampilan, dandanan, dan wewangian, meniru apa yang dilihat di televisi.

Hal ini tentu akan menimbulkan berbagai keburukan dan godaan terhadap lawan jenis. Padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman kepada Nabi-Nya dan istri-istri beliau—yang menjadi teladan bagi kaum muslimah,

وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu.” (al-Ahzab: 33)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam tafsirnya, “Tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian, karena hal itu lebih selamat dan lebih menjaga kehormatan. Janganlah kalian sering keluar rumah dalam keadaan bersolek dan memakai wewangian sebagaimana halnya kebiasaan orang-orang jahiliah sebelum kedatangan Islam yang tidak memiliki ilmu dan agama. Sebab, semua hal itu akan menyeret ke dalam berbagai kejelekan dan sebabnya.”

Pacaran telah menjadi hal yang biasa

Di antara fitnah yang terjadi karena ikhtilath ialah khalwat (pacaran), terkhusus di tempat-tempat hiburan/wisata. Ini pun mereka lakukan karena meniru apa yang mereka dapatkan dari berbagai media.

Perlu diketahui, ikhtilath dan khalwat akan menyeret kepada perbuatan keji yang lain, seperti onani, zina, dan pemerkosaan. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla melarang berbagai hal yang menyeret manusia menuju zina.

وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢

Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (al-Isra: 32)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang umatnya melakukan khalwat,

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ

“Janganlah salah seorang di antara kalian berkhalwat dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya.” (Muttafaqun alaih dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan hadits di atas, “Yang dimaksud adalah wanita yang bukan mahramnya, seperti anak perempuan bibi atau paman, atau yang tidak memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan Anda. Jadi, berdua-duaan dengan wanita yang seperti ini hukumnya haram. Tidaklah seseorang lelaki berkhalwat dengan perempuan kecuali setan akan menjadi pihak yang ketiga. Bagaimana menurut Anda tentang orang yang berkhalwat (berpacaran) yang disertai oleh setan? Sungguh, kita yakin keduanya akan menceburkan diri ke dalam kejelekan. Kita memohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 4/167)

Karena itu, benarlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنْ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Ditetapkan bagian dari perbuatan zina bagi anak Adam, dia pasti akan mendapatkannya, tidak mungkin selamat.

Dua mata zinanya dengan melihat (halhal yang haram dilihat), dua telinga zinanya dengan mendengarkan (hal-hal yang haram didengar). Lisan zinanya dengan mengucapkan (hal-hal yang keji). Tangan zinanya dengan menyentuh/meraba. Adapun kalbu menginginkan dan berangan-angan (melakukan zina). Yang akan membenarkan atau mendustakannya adalah kemaluan.” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Perzinaan dan pemerkosaan

Ikhtilath dan khalwat yang terjadi di tengah-tengah masyarakat sudah menjadi adat kebiasaan. Bahkan, sebagian orang tua mengkhawatirkan anak mereka yang sudah menginjak dewasa namun belum punya pacar. Mereka khawatir, jangan-jangan anaknya memiliki kelainan. Na’udzu billah min dzalik.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh pergaulan bebas dan pacaran ialah merebaknya perzinaan. Padahal, Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang semua itu sebagai bentuk kasih sayang kepada para hamba. Allah ‘azza wa jalla menyebutkan salah satu sifat calon penghuni surga Firdaus,

وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَٰفِظُونَ ٥ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ ٦ فَمَنِ ٱبۡتَغَىٰ وَرَآءَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡعَادُونَ ٧

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (al-Mukminun: 5—7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الْفَمُ وَالْفَرَجُ

“Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah mulut dan kemaluan.” (HR. ar-Tirmidzi)

Ketika menerangkan hadits,

لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ الثَّيِّبُ الزَّانِي وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ

“Tidak halal darah seorang muslim, yang bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah dan bahwa aku adalah Rasulullah, ditumpahkan kecuali dengan tiga sebab, zina muhshan, membunuh jiwa (qishash), dan yang meninggalkan agamanya, memisahkan diri dari jamaah.” (HR. Muslim)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Hadits ini menyebutkan perbuatan zina beriringan dengan kekafiran dan membunuh jiwa, sebagaimana surat al-Furqan ayat 68. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dengan menyebutkan dosa yang paling banyak dilakukan, kemudian yang berikutnya. Jadi, zina adalah perbuatan dosa yang paling sering dilakukan dibandingkan dengan membunuh jiwa. Membunuh jiwa lebih sering dilakukan dibandingkan dengan kemurtadan.

Penyebutan perbuatan dosa dalam hadits ini dimulai dari yang besar menuju yang lebih besar lagi. Kerusakan yang ditimbulkan oleh perbuatan zina bertentangan dengan kepentingan umat manusia. Ketika berbuat zina, seorang wanita telah memasukkan aib yang memalukan dalam keluarga, suami, dan kerabatnya. Dia menyebabkan kepala mereka tertunduk malu di hadapan masyarakatnya. Terlebih lagi apabila sampai hamil karena zina, lalu dia membunuh bayinya. Dia telah mengumpulkan dua macam dosa, yaitu zina dan membunuh jiwa.

Apabila dia mengaku-aku bahwa hamilnya adalah karena suami, berarti dia menyisipkan anak hasil zina tersebut ke dalam keluarga suaminya, padahal anak tersebut bukan bagian dari mereka. Selanjutnya, anak tersebut akan mendapat warisan dari mereka padahal dia tidak berhak. Selain itu, anak tersebut akan melihat, bercampur, dan dinasabkan kepada keluarga suaminya, padahal sama sekali bukan bagian dari mereka. Masih banyak lagi kerusakan lain yang disebabkan oleh perbuatan zina seorang wanita.

Jika lelaki yang berbuat zina, akan mengakibatkan tercampurnya nasab, merusak wanita yang sudah bersuami, dan menyebabkan kerusakan serta kebinasaan wanita yang dizinainya. Jadi, perbuatan dosa besar yang satu ini akan menghancurkan urusan dunia dan agama.” (ad-Da’ wad-Dawa’, hlm. 232)

Tasyabbuh

Di antara kerusakan yang timbul karena gencarnya media massa baik elektronik maupun cetak adalah kekaguman mayoritas kaum muslimin terkhusus generasi muda terhadap tokoh yang sering ditampilkan di media massa, baik bintang iklan, bintang sinetron/film, bintang sepak bola, maupun lainnya.

Mereka mengagumi cara berpakaian, penampilan, gaya hidup, gaya bicara, dll. Bahkan, tidak sedikit pula kaum muslimin yang kagum dengan gaya hidup orang kafir atau fasik di suatu negara/wilayah sehingga mayoritas kaum muslimin terkena penyakit “tasyabuh” (penyerupaan yang diharamkan dalam agama).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 6149)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada umat tentang akan terjadinya wabah tasyabuh ini dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَذْوَ الْقُذَّةِ بِالْقُذَّةِ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوهُ. قاَلُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

“Sungguh, akan ada di antara kalian orang-orang yang mengikuti cara/adat orang-orang sebelum kalian sebagaimana bulu anak panah terhadap yang lainnya. Sampai-sampai jika mereka masuk ke dalam liang kadal padang pasir, sungguh kalian akan ikut memasukinya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah maksudnya orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Siapa lagi?” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Jenis tasyabuh yang diharamkan ialah sebagai berikut.

Tasyabuh laki-laki terhadap perempuan dan sebaliknya, baik dalam hal pakaian, gerakan, maupun penampilan.

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat para laki-laki yang menyerupai perempuan dan para perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR. al-Bukhari no. 5885 dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian perempuan dan perempuan yang memakai pakaian laki-laki.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud no. 3454)

Jika kita perhatikan kehidupan masyarakat, betapa banyak orang yang berhak mendapat laknat Rasulullah dengan sebab ini. Laki-laki berpenampilan seperti perempuan, baik berambut panjang, memakai perhiasan wanita, dsb. Wanita menyerupai laki-laki dalam hal potongan rambut, bahkan sampai botak, demikian pula cara berpakaian dan berpenampilan. Semua hal tersebut terjadi salah satu sebabnya adalah pengaruh media massa.

Tasyabuh dengan orang fasik.

Di antara dampak negatif media massa, terkhusus televisi, ialah menyebabkan kaum muslimin tasyabuh dengan orang-orang fasik. Misalnya, bermudah-mudahan dalam kawin-cerai sebagaimana yang dilakukan oleh para selebritis dalam kehidupan rumah tangga mereka. Jika salah satu pasangan tidak cocok atau salah paham, ujungnya adalah perceraian. Dampaknya, sebagian kaum muslimin meniru mereka ketika menghadapi problem rumah tangga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat,

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang suami membenci istrinya (secara total). Apabila dia membenci salah satu perangai istrinya, dia akan senang terhadap perangai yang lainnya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِكُمْ

“Orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR. at-Tirmidzi, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Contoh lain, seorang istri berani membentak suaminya, bahkan memukulnya lantaran istri sering menonton sinetron. Padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman,
ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (lakilaki) atas sebagian yang lain (wanita).” (an-Nisa’: 34)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia kecuali calon istrinya dari bidadari-bidadari akan berkata, ‘Jangan engkau sakiti dia, mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla memerangimu,’ hanya saja dia (suamimu) itu ibarat tamu di sisimu yang hampir-hampir akan berpisah denganmu menuju kami.” (HR. at-Tirmidzi)

radhiallahu ‘anhuma. Tasyabuh dengan orang kafir dan setan

Melalui media massa inilah ditanamkan simpati, kecintaan, dan pembelaan terhadap orang-orang kafir. Dengan gencar dipropagandakan bahwa peradaban modern adalah peradaban Barat. Tidak jarang kita dapatkan sikap dan perbuatan yang menyerupai orang kafir Barat.

Allah ‘azza wa jalla telah memperingatkan,

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ ١٢٠

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (al-Baqarah: 120)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Firman Allah ‘azza wa jalla ini memuat larangan keras mengikuti hawa nafsu orang Yahudi dan Nasrani. Selain itu, terkandung pula larangan menyerupai mereka, terkhusus dalam hal agama. Walaupun ditujukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, larangan ini juga tertuju kepada kaum muslimin. Sebab, pelajaran itu diambil dengan sebab keumuman makna, bukan karena kekhususan yang diajak bicara. Hal ini sebagaimana pelajaran itu diambil dengan sebab keumuman lafal, bukan kekhususan sebab.” (Tafsir as-Sa’di, hlm. 65)

Tasyabuh yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin terhadap Barat terjadi dalam banyak hal. Sampai-sampai dalam urusan pakaian dan rambut pun meniru mereka, misalnya gaya berpakaian dan rambut punk. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya,

نَهَى رَسُولُ اللهِ عَنِ الْقَزَعِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari al-qaza’.” (Muttafaqun alaih)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Al-Qaza’ bermakna mencukur sebagian rambut kepala dan membiarkan sebagian yang lainnya. Sama saja apakah pada satu sisi kepala atau seluruh sisi, baik dari sebelah atas, sebelah kanan, maupun sebelah kiri; sisi belakang ataupun depan. Yang jelas, mencukur sebagian rambut kepala dan membiarkan sebagian yang lain, itulah qaza’ yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 4/174)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang tasyabuh terhadap setan,

لاَ تَأْكُلُوا بِالشِّمَالِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

“Jangan kalian makan dengan tangan kiri, karena setan makan dan minum dengan tangan kiri.” (HR. Muslim)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sungguh, engkau heran terhadap suatu kaum pada masa kini yang membaur dengan orang kafir dan menyaksikan kehidupan mereka (lewat media massa), lantas meniru pimpinan mereka, yaitu setan, dalam hal makan dan minum dengan tangan kiri. Engkau heran terhadap sekelompok muslimin yang makan dan minum dengan tangan kiri, padahal mereka mendakwahkan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, mereka justru menyerupai setan dan orang kafir. Mereka tidak mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, justru menyelisihi petunjuk dan sunnah beliau.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 4/172)

Tulisan ini hanyalah contoh kecil kerusakan yang ditimbulkan oleh media massa. Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla akan senantiasa menjaga kita, keluarga, dan anak-anak kita secara khusus dan kaum muslimin secara umum dari berbagai hal yang menghancurkan moral dan agama. Amin

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan : sumber majalah Asy Syariah edisi 105 : Dibagikan ulang : Kerusakan Yang Ditimbulkan Media

READ MORE - Kerusakan Yang Ditimbulkan Media

Membaca Konspirasi AS-Israel di Timur Tengah


Membaca Konspirasi AS-Israel di Timur Tengah - Dari perspektif geopolitik, kita bisa memprediksi bahwa konflik di Timur Tengah bukan saja konflik antara Palestina-Israel an-sich, tapi juga telah merupakan skenario jangka panjang dari gerakan Zionis-Internasional untuk menguasai wilayah Palestina, khususnya, dan Timur Tengah secara lebih luasnya, melalui pembentukan "Israel Raya," yaitu suatu tanah air Yahudi yang dijanjikan di dalam Talmud.

Tulisan ini mencoba menarik garis merah tentang terorisme yang melegenda sejak peristiwa 11 September 2001 lalu dan berbagai implikasi geopolitik di Timur Tengah akibat adanya konspirasi AS-Israel untuk mengontrol, menguasai dan mengendalikan wilayah tersebut.

Dukungan AS terhadap Israel 

Pertanyaan yang paling penting adalah, mengapa AS selalu berada di belakang Israel? Untuk mengetahui jawabannya, kita perlu merujuk pada ucapan Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon, di hadapan parlemen Israel, Knesset, di Tel Aviv, tanggal 3 Oktober 2001, yang mengatakan, "Kamu (Simon Peres) menceritakan kepada saya tentang Amerika akan berbuat ini dan akan berbuat itu. Saya ingin menceritakan kalian sesuatu yang sangat jelas; jangan cemas tentang tekanan AS terhadap Israel. Kami, bangsa Yahudi, mengontrol Amerika. Dan rakyat AS mengetahui hal seperti ini."

Namun malang bagi AS, kaum Zionis Yahudi di AS ternyata lebih loyal kepada negara Israel daripada kepada negara Amerika. Walaupun, yang terjadi sebenarnya menunjukkan, kejahatan negara Israel merupakan sebuah perluasan militer dan politik langsung dari AS sejak 1948. Dimana dibawah kepemimpinan Yitzhak Shamir, Menachem Begin, dan Ariel Sharon, semua tindakan teror yang brutal dari negara Israel melawan bangsa Palestina untuk lebih dari 55 tahun telah didukung secara penuh baik finansial, persenjataan, maupun politik, oleh pemerintahan AS. Suka atau tidak, setiap tahun AS memberikan bantuan keuangan mencapai 5 sampai 12 miliar dolar kepada Israel, yang tentu saja tak pernah dikembalikan lagi.

Kita juga bisa melihat bahwa pelanggaran berkali-kali yang dilakukan oleh Israel (didukung AS) terhadap hukum internasional dan konvensi Jenewa No 181, 194, 242, 338, dan lain-lain, termasuk deklarasi universal HAM melalui eklusivitas rasial, separatisme, pembersihan etnik, dan holocoust terhadap bangsa Palestina selalu didukung oleh kepentingan Yahudi di dalam pemerintahan AS melalui hak veto yang dimilikinya.

Hal itu menandakan bahwa kaum Zionis Yahudi di AS telah mendapat kekuasaan yang berpengaruh di semua lini atau bagian di pemerintahan AS, memiliki profesi yang legal dan menguasai semua tingkat peradilan, universitas, maupun perusahaan media massa yang berpengaruh sekaligus mendominasi keuangan nasional dan internasional. Kekuasaan yang mereka miliki, secara nyata dan jelas, digunakan dalam apa yang disebut sebagai "teori konspirasi" untuk mendukung segala kepentingan dari gerakan Zionis Internasional yang berbasis di AS dan Israel. 

Kelompok parasit ekonomi dan kekuasaan politik dari Zionis Yahudi di dalam pemerintahan AS tersebut, kini mencapai puncaknya pada masa kekuasaan rezim Bush dengan munculnya Dick Cheney (Wakil Presiden), Donald Rumsfeld (Menteri Pertahanan), Richard Perle (Kepala Badan Kebijakan Pertahanan), dan Paul Wolfowitz (Wakil Sekretaris Menteri Pertahanan), yang pada tahun 1997 merancang "Proyek Pengendalian Dunia (PNAC)" untuk menguasai wilayah Timur Tengah. Mereka berkolaborasi dengan kelompok garis keras di Partai Likud-Israel, yang dipimpin oleh Ariel Sharon, untuk terus mempengaruhi dan mengendalikan berbagai kebijakan pemerintah AS. 

Menguasai Timur Tengah

Kita mestinya mengetahui bahwa agenda dan tujuan utama dari konspirasi AS-Zionisme-Israel adalah menempatkan yahudi-yahudi imigran ke Palestina dan mengusir penduduk Palestina dari kampung halamannya ke negara-negara Arab sekitarnya. Kaum Zionis bercita-cita untuk membentuk "Eretz Israel" atau Israel raya, yaitu tanah yang dijanjikan di dalam Talmud, meliputi wilayah Arab Saudi, Suriah, Yordania, Mesir, sampai ke Irak, atau wilayah yang sekarang membentang dari sungai Nil sampai sungai Eufrat. Ini merupakan suatu wilayah paling strategis di dunia sepanjang jalur Mesopotamia. Selain itu, wilayah ini mengandung sumber energi minyak bumi yang paling besar di dunia.

Agar agenda dan tujuan mereka dapat terealisasi, AS dan Israel melakukan konspirasi atau kerja sama, secara terang-terangan ataupun rahasia, untuk mengembangkan apa yang mereka sebut sebagai strategi "pengepungan teritorial" ke dalam wilayah Palestina maupun ke berbagai negara Arab yang punya potensi untuk mengancam eksistensi Israel. Di satu sisi, Israel bekerja keras untuk mengusir rakyat Palestina di wilayah Yerusalem Timur, Tepi Barat, dan Jalur Gaza agar keluar dari Palestina menuju Gurun Sinai dan Yordan. Di sisi lainnya, konspirasi Zionis, Inggris, dan AS berhasil menciptakan kekacauan dalam sistem internasional dengan diabaikannya resolusi PBB dan penolakan perang dari seluruh penjuru dunia ketika sekutu menginvasi dan menguasai Irak. 

Kita lihat, keberhasilan yang cepat dari invasi tersebut menyebabkan kekuatan-kekuatan strategis Arab menjadi semakin lemah. Akibatnya, keseimbangan kekuatan (power of balance) di wilayah Timur Tengah menjadi timpang dengan munculnya dominasi AS dan Israel di Timur Tengah. Dalam konteks strategis dan jangka panjang, mereka juga punya peluang besar untuk mengambil alih penguasaan ekonomi dan militer ke wilayah-wilayah Timur Tengah, Asia Tengah, dan Laut Kaspia yang kaya minyak tersebut. 

Karena itulah kita bisa mencermati adanya benang merah antara kepentingan AS untuk menguasai sumber-sumber energi minyak dunia agar dapat menjamin kelangsungan industri dan ekonomi kapitalistiknya dengan kepentingan Zionis Israel untuk merealisasikan cita-citanya membangun "Israel Raya" yang dapat mengontrol Timur Tengah, khususnya, dan dunia, pada umumnya. Karena, seperti telah disebutkan, wilayah Timur Tengah, selain mengandung sumber minyak terbesar di dunia, juga dikenal sejarah sebagai pusat dari pergolakan peradaban-peradaban besar dunia.

Titik temu dua kepentingan tersebut pada akhirnya menciptakan kombinasi strategis untuk menguasai wilayah Timur Tengah secara keseluruhan antara upaya untuk membungkam dan sekaligus menghancurkan berbagai elemen kekuatan di dalam wilayah Palestina, yang kini dikomandoi oleh Hamas dan Jihad Islam ISLAM dan upaya untuk memperlemah negara-negara basis pendukung perlawanan seperti Lebanon, Suriah, dan Iran yang dinilai dapat mengancam Israel. 

Karena itu "strategi pengepungan" keluar wilayah Palestina melalui serangan ke Suriah dan Lebanon dan pengerahan ribuan tentara Israel ke wilayah Palestina merupakan strategi dari AS dan Israel agar bisa menghancurkan berbagai elemen yang dapat mengancam skenario dan rencana jangka panjang AS-Israel membangun imperium dunia secara hegemonik.

Skenario peta jalan

Tapi kita juga mesti melihat suatu hubungan yang jelas antara rencana invasi AS ke Irak dan, pada saat yang sama, rencana proposal perdamaian "Peta Jalan" (Road Map). Inti dari proposal yang diprakarsai AS tersebut mengusulkan untuk menghentikan pendudukan Israel atas tanah Palestina yang dijajah sejak 1967 berdasarkan keputusan Dewan Keamanan PBB No 242, 338, 1379, dan keputusan KTT Beirut (28 Maret 2002) tentang perdamaian hingga terjadi penyelesaian secara keseluruhan dan universal segala konflik Israel-Palestina di tahun 2005. Walaupun demikian, kita masih bisa menangkap adanya "hidden agenda" dan "main mata" antara AS dan Israel.

Misalnya, proposal "Peta Jalan" yang diawasi tim kuartet tersebut, justru dipakai oleh Israel untuk melegalkan berbagai tindak opresi dan eksekusi terhadap rakyat Palestina dan menjadikannya sebagai instrumen keamanan Israel melalui negosiasi prioritas-prioritas dan kondisi-kondisi seperti diinginkan oleh Sharon dan Paul Mofaz (Menteri Pertahanan). Tipu muslihat politik "belah bambu" mereka adalah agar Israel bisa menciptakan konfrontasi antarfaksi di Palestina ke arah sebuah Perang Sipil antarwarga Palestina sendiri, walaupun rencana licik tersebut akhirnya gagal.

Pada saat yang sama, di tengah upaya perdamaian, Israel tetap melanjutkan pembangunan permukiman barunya bagi para imigran Yahudi dan "Tembok Berlin"-nya yang mengelilingi, menutup, memisahkan, dan membatasi kota-kota dan kampung-kampung di Palestina.

Dari perspektif ini kita bisa menyimpulkan bahwa "Peta Jalan" yang diprakarsai Bush tersebut telah gagal. Hal itu justru sangat diharapkan oleh pihak Israel. Kegagalan "Peta Jalan" menciptakan rasa frustasi yang besar tentang prospek perdamaian di Timur Tengah, tapi sekaligus memberikan Israel suatu "license to kill", seperti ditulis Republika, untuk berbuat apa saja tanpa landasan hukum yang legal. Karena itu Israel kemudian berencana untuk membunuh dan mengusir Arafat dan tokoh-tokoh Islam lainnya seperti Syeikh Ahmad Yasin.

Sayangnya, penolakan DK PBB dan 133 negara anggota Majelis Umum terhadap rencana Israel tersebut ternyata dengan mudah dapat diveto oleh AS dan Israel. Itu menandakan bahwa AS setuju terhadap segala upaya apapun dari Israel untuk menguasai Palestina, bahkan dengan cara membunuh atau mengusir Arafat dan tokoh-tokoh Palestina lainnya. 

Perilaku politik luar negeri AS tersebut merupakan bukti nyata dari opini umum selama ini bahwa sekutu paling kuat dan tepercaya AS di dunia ini hanyalah Israel. Contoh paling aktual dan konkret dari reaksi AS adalah menyalahkan Suriah yang dianggapnya melindungi "kelompok teroris" ketika Israel menyerang teritori Suriah. Padahal kita tahu, serangan militer Israel ke dalam teritori Suriah tersebut sudah memiliki agenda yang jelas, yang juga diketahui dan didukung oleh pemerintah AS. Begitupun dengan aksi militer pesawat-pesawat tempur Israel ke wilayah Lebanon di atas langit Beirut dan Tripoli dan blokade ribuan militer Israel di wilayah Palestina secara nyata dan jelas mendapat restu dari AS. 

Dari analisis dan fakta-fakta tersebut seharusnya kita mengerti bahwa tak ada logika di dalam gerakan Zionis Internasional untuk bersedia menciptakan perdamaian dunia. Di dalam berbagai kasus yang ada, konspirasi AS dan Israel tampaknya telah memasuki wilayah berbahaya sebagai "State-Terorism" yang dapat sangat mengancam perdamaian di Timur Tengah maupun belahan dunia lainnya. Kita mesti waspada terhadap konspirasi AS-Israel tersebut. Karena sebagai "Negara Teroris" (State-Terorism), yang didukung kemampuan finansial dan intelijen yang baik (well organized crime), mereka sedang mengarahkan pedangnya pada upaya penaklukan pusat-pusat kekuatan Islam di Timur Tengah, dan juga tentu saja, negara-negara Islam lainnya termasuk Indonesia. Agenda tersebut, sebenarnya, jauh-jauh hari telah dirancang sejak tahun 1993, ketika seorang Prof Yahudi, Samuel Huntington menulis karya mahadahyat tentang "The Clash of Civilization" pasca-runtuhnya imperium Uni Soviet, 1992. (RioL)
Laknatullah Teroris Faq Oleh : Redaksi 13 Oct 2003 - 9:05 am

READ MORE - Membaca Konspirasi AS-Israel di Timur Tengah

Strategi Global Pengepungan Dunia Islam


Dunia Islam hingga kini terus dilanda oleh persoalannya. Baik karena sebab internal, maupun sebab eksternal. Sebab ekternal yang paling mengancam saat ini datang dari AS dan sekutunya. Telah kita lihat dengan telanjang bagaimana AS menjadikan isu terorisme sebagai senjata pamungkas penghancur seluruh kekuatan gerakan Islam sedunia. Usamah, Taliban dan Al-Qoidah (sampai sejauh, kata George Tenet, Direktur CIA, telah 1000 "anggota Al-Qoidah" dari 60 negara ditahan oleh Amerika), hanyalah tujuan jangka pendek. Tapi rencana strategis mereka akan terus berlangsung dalam jangka menengah dan bahkan jangka panjang.

Rencana jangka menengah dan panjang AS jelas terbaca ketika AS mengumumkan, bahwa mereka tidak akan berhenti memerangi terorisme di Afghanistan; tapi mereka akan terus melacak jaringan Al-Qoidah di berbagai penjuru dunia.

Dengan isu perang melawan teroris ini AS memiliki justifikasi moral, politik, ekonomi dan bahkan militer untuk mengobok-obok seluruh empat regional terpenting Dunia Islam, yakni 
  1. Timur Tengah (terutama Palestina, Iraq, Iran, saudia, Libanon dan Yaman); 
  2. Asia Selatan (Pakistan dan Afghanistan); 
  3. Asia Tenggara (Malaysia, Indonesia); dan melalui Uzbekistan mereka masuk ke regional 
  4. Asia Tengah, terutama mantan Uni Sovyet (Uzbekitan, Kazakstan , Kyrgiztan, Tajikitan, Azerbaijan dan Turkeministan). 
Bahkan Turki sebagai pusat centrum Asia Tengah juga telah disebut-sebut oleh Direktur CIA, Tenet, di hadapan Kongres Amerika: "Sarana diplomatic dan militer AS berada dalam bahaya besar, terutama yang berada di Israel, Arab Saudi dan Turki."

Adapun minoritas muslimin di Barat mereka sudah lebih dahulu mendapatkan represi seketika peristiwa WTC terjadi.

Agaknya inilah masa terberat yang merata di seluruh Dunia Islam dibandingkan dengan era perang Iran-Iraq 1978; Afghanistan-Soviet 1979 dan Iraq-Kuwait 1990. Pada tiga peperangan yang lalu Blok Barat dan Blok Komunis lebih berkonsentrasi ke satu negara atau regional saja; juga dengan isu yang berbeda-beda, dan tarik menarik kepentingan antara AS dan Soviet. Tapi kini (paska WTC) dunia berada dalam satu arus yang sama; menghantam semua regional komunitas Islam, juga dengan isyu yang seragam: "perang melawan terorisme" (baca: terorisme Islam).

Akibat langsung dari WTC melahirkan lima variasi pengepungan terhadap Dunia Islam & kaum Muslimin, yakni:

Pertama: memungkinkan AS dan sekutunya untuk berbuat semena-mena dengan komunitas muslim di Barat. Sebagaimana penangkapan dan pemeriksaan 1100 (seribu seratus) muslimin dan muslimin Arab di AS dampak serangan WTC yang lalu. 

Kedua: ia memungkinkan AS untuk melakukan tekanan ke berbagai pemerintahan dunia untuk bersama-sama AS memerangi musuh bersama; yakni gerakan Islam. Sebagaimana hal ini telah terlihat di Negara India dan tetangga, Filipina. Latihan Gabungan militer AS - Filipina dimulai pada kamis (31/1) 600 pasukan AS diturunkan di sana. 

Pada Selasa (29/1) Dennis Blair, Komanda Pasukan AS di Pasifik, telah menyatakan saat berada di Singapura bahwa Indonesia adalah mata rantai yang lemah dalam konteks dukungan kepada AS dalam memerangi terorisme dunia ,karena gagal mengangkap jaringan Al-Qoidah. Secara implisit berarti Singapura diakui akan peran positifnya dalam memerangi terorisme Islam di negerinya. Atas keberhasilan Singapura pemerintah Singapura menahan 15 orang yang dianggap terlibat dengan Al-Qoidah, maka Menhan AS, Rumsfeld memuji: "kami senang melihat keberhasilan mereka." Singapura kemudian bertindak lebih jauh dengan membredel website Islam anti AS; serta pelarangan siswi berjilbab di sekolah umum.

Ketiga: ia memungkinkan AS untuk melakukan tekanan ke berbagai pemeritahan Dunia Islam; dan untuk kemudian melakukan campur tangan. Sebagaimana yang telah sukses AS lakukan tehadap pemerintahan sementara Afghansitan. Hamid Karzai Pimpinan Afghan pada Rabu 30/1/2002 pukul 09 WIB telah disambut dengan mewah dan penuh kehormatan oleh pemerintah AS, saat Bush memberikan pidato tahunannya di hadapan Kongres. Jelas ini memiliki pesan politik yang dalam. Bahwa Afghan – yang menjembatani Asia Tengah dan Asia Selatan -- akan dijadikan pijakan utama AS di sana. Pada saat yang sama Karzai telah mempersilahkan pasukan AS untuk hadir di seluruh bumi Afhganistan. Itu berarti proyek operasi militer $ 1,8 juta perhari di Afghanistan akan terus berlangsung.

Keempat: ia memungkinkan AS untuk menuding berbagai partai, jemaah, Ormas, dan aktivis Islam di mana saja di belahan dunia Islam sebagai bagian dari rantai Alqoidah. Maka lebih jauh mereka bisa melakukan infiltrasi dan campur tangan ke Negara dan belahan bumi mana saja tanpa kecuali, baik dalam artian politik, militer, maupun ekonomi. Dalam hal ekonomi sumber dana gerakan Islam akan dibuat kering, dibekukan, dan membuat takut para penyumbangnya karena akan terkena tuduhan mendukung terorisme. Hal ini terbukti misalnya ketika Otoritas Palestina (6/2) menulis dalam dokumen setebal 17 halaman, bahwa mereka telah menahan 195 anggota gerakan radikal, membekukan 59 rekening bank dan menutup 15 pabrik amunisi Palestina.

Kelima: musuh terberat kaum muslimin, yakni Israel dan Zionisme internasional (QS.5:82) jelas akan sangat diuntungkan dengan program "Perang melawan terorisme" versi AS. Apalagi AS telah menyatakan bahwa HAMAS, Jihad Islam dan Hizbulloh Libanon adalah bagian dari jaringan terorisme dunia. Bahkan sampai seorang Arafatpun telah tanpa malu untuk menyebut secara terang-terangan di New York Times (3/2/2002) bahwa perlawanan rakyat Palestina adalah teroris. Hal ini mendapat kecaman keras dari HAMAS dalam lembaran resmi Komunike Hamas. Bagaimana mungkin Arafat bisa berkata seperti itu, jika jihad bersenjata akhir-akhir ini juga dilakukan Brigade Al-Aqsho yang nota bene adalah berada di bawah organisasi Fatah milik Arafat.

Makna strategis pengepungan dunia terhadap Islam, bagi Israel, adalah akselerasi realisasi Zionisme sebagai adidaya sejati dunia. Maka Israel tentu akan berperan aktif dalam pengepungan ini, sebagaimana diakui seorang penulis Israel, Geil Hofman, di harian Jerusalem Post (14/9/2001): "Sesungguhnya perbedaan antara koalisi yang dibangun oleh Bush Senior (George Bush) melawan Irak dan koalisi yang dirancang Bush Yunior (George W Bush) melawan terorisme (kali ini) adalah bahwa Israel akan terlibat aktif dalam aksi terakhir yang memungkinkannya untuk memukul Irak, Iran dan Afghanistan."

Belajar dari beberapa maker Israel masa lalu, sangat mungkin situasi kebencian dan ketakutan terhadap "terorisme Islam" ini akan diperparah dengan operasi terorisme Israel yang berkedok Islam. Tengok saja tiga kasus di bawah ini. (www.davidduke.com) 

(1) Lavon Affair

Pada tahun 1954, pemerintah Israel menggelar sebuah operasi teror rahasia terhadap Amerika Serikat dengan sandi Operation Suzannah. Operasi ini memplot membunuh warga Amerika dan meledakkan berbagai instalasi Amerika di Mesir. Rencana Israel adalah meninggalkan barang bukti yang berdampak pada tuduhan AS bahwa rejim Mesir melakukan sabotase ini sehingga Amerika di belakang Israel berperang dengan Mesir. Agen-agen Yahudi berhasil meledakkan sejumlah kantor pos dan perpustakaan Amerika di Kairo dan Alexandria. Ketika akan meledakkan bioskop Amerika, Metro-Goldwyn-Mayer Theater, bom agen Israel meledak premature. Oleh karena itu, baik Mesir dan Amerika berhasil mengungkap dan menghentikan plot ini pada tahap-tahap awal. Menlu Israel, Pinhas Lavon, kemudian dipaksa untuk mengundurkan diri. Pada saat ini, media massa dan penerbitan Amerika yang didominasi Yahudi secara jitu membungkus tindakan subvesi Israel ini terhadap bangsa Amerika. Sehingga sebagian besar orang Amerika tidak mengetahui sama sekali kasus ini.

(2) Serangan Teroris Israel terhadap USS Liberty

Pada tahun 1967, selama Perang Enam Hari, Israel juga melakukan tindakan teroris yang serius terhadap Amerika Serikat. Pada tanggal 8 Juni, Israel mempergunakan pesawat tempur dan kapal-kapal torpedo tanpa identitas untuk melancarakan serangan satu setengah jam terhadap kapal AL Amerika Serikat, USS Liberty yang mengakibatkan tewas 34 orang dan 171 lainnya luka-luka. Israel pertama-tama menyerang tower radio USS Liberty agar Armada Keenam Amerika Serikat tidak mengetahui bahwa pihak Israel adalah pelaku penyerangan ini. Setelah pesawat-pesawat tempur Israel yang tanpa identitas itu dengan gencar membom dan menyerang USS Liberty, kemudian Israel mengirim kapal-kapal torpedo untuk menuntaskan misi ini. Mereka bahkan menembaki dengan senjata mesin perahu-perahu penyelamat yang sudah diturunkan dalam upaya untuk memastikan tidak satupun yang selamat (para saksi) yang dapat mengungkapkan pelaku serangan tersebut. Karena heroisme dan kemampuan kapten dan kru kapal USS Liberty membuat rencana Israel itu gagal total. Mereka mampu mempertahankan kapal itu tetap mengapung dan juga mengkontak dan memberi tahu Armada Keenam bahwa pihak Israel ,bukan Mesir, yang telah menyerang kapal tersebut. Mengetahui rencanannya telah terungkap, Israel menarik mundur dan dengan diam-diam mengklaim serangan itu merupakan kasus salah identifikasi, dikira kapal perang Mesir.

Menlu Amerika Serikat pada waktu itu, Dean Rusk, dan Kepala Staf Gabungan AS, Laksamana Thomas Moorer, keduanya menyatakan serangan itu bukanlah kecelakaan. Buktinya hari itu langit sangat cerah dan kecepatan angin normal serta USS Liberty memasang bendara Amerika yang berukuran besar dan nomor identitas internasional yang ditulis dalam ukuran besar di lambung kapal tersebut. Pesawat-pesawat tempur Israel melintas di atas kapal USS Liberty lama sebelum serangan itu dilakukan, terbang sangat dekat sehingga anggota kru USS Liberty bahkan dapat melihat lambaian tangan-tangan mereka ketika melintas. Media massa Amerika yang didominasi Amerika tidak mengungkapkan kemarahan atas serangan itu dan juga lobi Yahudi dapat mencegah penyelidikan formal Kongres atas serangan itu.

Maka kita tunggu saja makar Zionis Israel lainnya yang terkait dengan eksploitasi isu terorisme Islam saat ini. 

Tiga Tujuan Asasi Propaganda "Terorisme Islam" 

Ada tiga muara yang akan diraih dari propaganda "terorisme Islam ini:

Pertama, Pembentukan opini dunia, bahwa Islam adalah musuh kemanusiaan dan dunia. Inilah persis yang diinginkan oleh Huntington dalam tesis The Clash of Civilizations pada 1993 yang lalu, yang ia tuliskan untuk Deplu AS. Kalimat Huntington dalam tesisnya bahwa "Islam has a bloody border" (Islam memiliki tapal batas yang berdarah), adalah ungkapan lain bahwa Islam adalah agama teroris.

Kedua. Hal di atas akan potensil berdampak menjamurnya mental tertindas, terhina, malu, minder di kalangan muslimin yang lemah iman, untuk kemudian memunculkan fenomena "kemurtadan" terhadap Islam, sebagaimana yang telah disinyalir oleh Al-Quran. "Dan mereka tidak akan pernah berhenti memerangi kalian hingga mereka mampu memurtadkan kalian dari agama kalian , jika mereka mampu". (Qs.2:217)Naudzubillah.

Ketiga, Dua hasil di atas adalah modal utama menguasai dunia dengan leluasa. Karena musuh terbesar paska Komunis, yakni Islam, telah bisa mereka taklukkan. Inilah hal yang diimpikan Zionisme dunia , untuk kemudian menjadikan diri mereka lebih super dari super power AS. Keyakinan ini telah l dimiliki Sharon ketika ia mencela Simon Peres yang terus khawatir akan kehilangan bantuan Amerika bila Israel tidak menghentikan berbagai serangan. Jawab Sharon: “Setiap waktu kita melakukan sesuatu Anda mengatakan kepada saya Amerika akan melakukan ini dan itu . . . Saya tegaskan kepada Anda: Jangan kuatir dengan tekanan Amerika kepada Israel. Kita, bangsa Yahudi, mengontrol Amerika dan bangsa Amerika tahu hal ini” --- Ariel Sharon, 3 Oktober 2001 (berita yang termonitor dari radio Yid Israel pada 3/10/2001).

Kesimpulan

Beberapa kesimpulan yang bisa kita tarik dari uraian di atas adalah:

Pertama, kebencian dan permusuhan dari fihak luar Islam adalah sunatullah yang akan terus berlangsung hingga hari kiamat, sebagaimana diisyaratkan Alquran. Pengepungan dan peperangan mereka terhadap Dunia Islam akan berlangsung secara ekonomi: "Sesungguhnya orang-orang kafir menginfaqkan hartanya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah, maka mereka akan terus menginfaqkan harta mereka" (QS.8:36). Sejumlah $ 40 Milyard Dollar AS telah disetujui oleh Kongres untuk digunakan Bush sebagai dana program peperangan melawan Terorisme Islam.

Peperangan melalui kekuatan SDM telah Allah jelaskan dalam (QS.8:73) "Sesungguhnya orang-orang kafir sebgai adalah penolong sebagian lainnya. Jika kalian tak melakukan hal yang sama, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar".

Peperangan dari sudut militer dan peperangan fisik telah Allah jelaskan dalam (QS.2:217): "dan mereka tak akan pernah berhenti terus memerangi kalian, hingga mereka bisa memurtadkan kalian."

Peperangan dari sudut propaganda ideology telah Allah jelaskan dalam surat As-shof ayat 8: "Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka. Dan Allah menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya"

Kedua, dalam pertarungan ini berbagai kekuatan kuffar akan bersatu padu menghadapi ummat Islam. (QS.2:120; 2:217; 5:82) Dan Israel pada gilirannya akan menjadi musuh utama yang memimpin maker kekuatan kuffar. Oleh karenanya pejuang Palestina akan menjadi kelompok yang terdepan dan terberat dalam pertarungan iman dan keadilan. Karena yang dihadapi langsung biang kekufuran dan kezholiman, dengan dukungan penuh AS dan kegamangan sikap Otoritas Palestina. Bahkan yang terakhir ini cendrung menyerah terhadap tekanan Israel dan AS. 

Ketiga, Kalau ditengah petarungan ini ummat Islam secara umum terasa berada di bawah angina, maka kita harus introspeksi ada apa gerangan yang terjadi pada ummat islam? Mengapa pertolongan Allah terasa jauh? Yang harus dicatat bahwa: 
  1. kekuatan dan kelemahan yang hakiki adalah bersumber dari dalam tubuh ummat, bukanlah factor eksternal. Seperti kata Khalifah Umar "Aku lebih takut kepada maksiat kalian, daripada dengan kekuatan musuh kalian" . Di sini berarti kelemahan ummat adalah karena jauhnya ummat dari Allah; karena banyaknya maksiat ummat kepada perintah Allah; sedikitnya ketaatan kita kepada berbagai perintah Allah dan Rasul-Nya. Inilah juga yang menjadi penyebab ujian/adzab banjir di Negara kita. 
  2. karena keislaman yang kita anut seperti Bani Israel, yang mempermaikan agama sesuai dengan "selera". Yakni sebagian mereka imani, sebagian tidak. 
Ingatlah bahwa sejarah membuktikan keagungan sejarah ummat Islam adalah ketika Islam dibesarkan dan diagungkan oleh ummatnya, bukan diinjak-injak. Ketika ummat menginjak-injak Islam, maka Allah akan membiarkan zaman melindas ummat pada tingkat yang sehina-hinanya, sebagaimana di firmankan Allah pada Surah Al Baqarah 85. "Apakah kalian mengimani sebagian kitab dan mengingkari sebagaian lainnya. Tidak ada balasan orang yang melakukan demikian itu kecuali kehinaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat akandigiring ke azab yang pedih. Tidaklah Allah lalai terhadap apa yang kalian kerjakan."

READ MORE - Strategi Global Pengepungan Dunia Islam

Why Americans Hate Muslims?


Why Americans Hate Muslims? - Two officers sought me from within a crowd at the Seattle-Tacoma International Airport. They seemed to know who I was. They asked me to follow them, and I obliged. Being of Arab background, often renders one’s citizenship almost irrelevant.

In a back room, where other foreigners, mainly Muslims, were holed for 'added security', I was asked numerous questions about my politics, ideas, writing, children, friends and my late Palestinian parents.

Meanwhile, an officer took my bag and all of my papers, including receipts, business cards, and more. I did not protest. I am so used to this treatment and endless questioning that I simply go through the motions and answer the questions the best way I know how.

My first questioning commenced soon after September 11, 2001, when all Muslims and Arabs became, and remain, suspect. "Why do you hate our president," I was asked then, in reference to Bush.

On a different occasion, I was held in a room for hours at JFK International Airport because I had a receipt that revealed my immortal sin of eating at a London restaurant that served Halal meat.

I was also interrogated at an American border facility in Canada and was asked to fill several documents about my trip to Turkey, where I gave a talk at a conference and conducted several media interviews.

A question I am often asked is: “what is the purpose of your visit to this country?”

The fact that I am an American citizen, who acquired high education, bought a home, raised a good family, paid my taxes, obeyed the law and contributed to society in myriad ways are not an adequate answer.

I remain an Arab, a Muslim and a dissident, all unforgivable sins in the new, rapidly changing America.

Truthfully, I never had any illusions regarding the supposed moral superiority of my adopted country. I grew up in a Palestinian refugee camp in Gaza, and have witnessed, firsthand, the untold harm inflicted upon my people as a result of American military and political support of Israel.

Within the larger Arab context, US foreign policy was felt on larger scale. The invasion and destruction of Iraq in 2003 was but the culmination of decades of corrupt, violent American policies in the Arab world.

But when I arrived in the US in 1994, I also found another country, far kinder and more accepting than the one represented - or misrepresented - in US foreign policy. While constantly embracing my Palestinian Arab roots, I have lived and interacted with a fairly wide margin of like-minded people in my new home.

While I was greatly influenced by my Arab heritage, my current political thoughts and the very dialectics through which I understand and communicate with the world - and my understanding of it - are vastly shaped by American scholars, intellectual dissidents and political rebels. It is no exaggeration to say that I became part of the same cultural Zeitgeist that many American intellectuals subscribe to.

Certainly, anti-Arab and Muslim sentiments in the US have been around for generations, but it has risen sharply in the last two decades. Arabs and Muslims have become an easy scapegoat for all of America's failed wars and counter-violence.

Terrorist threats have been exaggerated beyond belief to manipulate a frightened, but also a growing impoverished population. The threat level was assigned colors, and each time the color vacillated towards the red, the nation drops all of its grievances, fights for equality, jobs and health care and unites in hating Muslims, people they never met.

It mattered little that, since September 11, the odds of being killed by terrorism are 1 in 110,000,000, an extremely negligible number compared to the millions who die as a result of diabetes, for example, or shark attacks, for that matter.

'Terrorism' has morphed from being a violent phenomenon requiring national debate and sensible policies to combat it, into a bogeyman that forces everyone into conformity, and divides people between being docile and obedient on the one hand, and 'radical' and suspect, on the other.

But blaming Muslims for the decline of the American empire is as ineffective as it is dishonest.

The Economic Intelligence Unit had recently downgraded the US from a "full democracy' to a "flawed democracy". Neither Muslims nor Islam played any role in that.

The size of the Chinese economy is soon to surpass that of the US, and the powerful East Asian country is already roaring, expanding its influence in the Pacific and beyond. Muslims are hardly the culprits there, either.

Nor are Arabs responsible for the death of the 'American dream', if one truly existed in the first place; nor the election of Donald Trump; nor the utter corruption and mafia-like practices of America's ruling elites and political parties.

It was not the Arabs and Muslims who duped the US into invading Iraq, where millions of Arabs and Muslims lost their lives as a result of the unchecked military adventurism.

In fact, Arabs and Muslims are by far the greatest victims of terrorism, whether state-sponsored terror or that of desperate, vile groups like ISIS and al-Qaeda.

Americans, Muslims are not your enemy. They never have been. Conformity is.

"In this age, the mere example of nonconformity, the mere refusal to bend the knee to custom, is itself a service," wrote John Stuart Mill in 'On Liberty.' The English philosopher, had a tremendous impact on American liberalism.

I read his famous book soon after I arrived in the US. It took me a while to realize that what we learn in books often sharply contradicts reality.

Instead, we now live in the 'age of impunity', according to Tom Engelhardt. In a 2014 article, published in the Huffington Post, he wrote: "For America’s national security state, this is the age of impunity. Nothing it does - torture, kidnapping, assassination, illegal surveillance, you name it — will ever be brought to court."

Those who are "held accountable" are whistleblowers and political dissidents who dare question the government and educate their fellow men and women on the undemocratic nature of such oppressive practices.

Staying silent is not an option. It is a form of defeatism that should be outed as equally destructive as the muzzling of democracy.

"One has a moral responsibility to disobey unjust laws," wrote Dr. Martin Luther King, Jr.

Barring citizens of Muslim countries from travelling to the US is a great act of immorality and injustice. Sadly, many Americans report that such discriminatory laws already make them feel safe, which itself is an indication of how the government and media manipulate consent in this country to produce the desirable results.

A big fan of hating Edward Bernays’ work, yet appreciating his honesty, I realize the question is not that of Trump alone. Bernays, whose writing on propaganda influenced successive governments and inspired various military coups, was versed on manipulating popular consent of Americans nearly a century ago. He perceived the masses as unruly and a burden on democracy, which he believed could only be conducted by the intelligent a few.

The outcome of his ideas, which influenced generation of conformist intellectuals, is in full display today.

America is changing fast, and is certainly not heading in the right direction. Shelving all pressing problems and putting the focus on chasing after, demonizing and humiliating brown skinned men and women is certainly not the way out of the economic, political and foreign policy quagmires which American ruling elites have invited upon their country.

"If liberty means anything at all, it means the right to tell people what they don't want to hear," wrote George Orwell.

No matter the cost, we must adhere to this Orwellian wisdom, even if the number of people who refuse to hear has grown exponentially, and the margins for dissent have shrunk like never before.

*****
Dr. Ramzy Baroud has been writing about the Middle East for over 20 years. He is an internationally-syndicated columnist, a media consultant, an author of several books and the founder of PalestineChronicle. com. His books include “Searching Jenin”, “The Second Palestinian Intifada” and his latest “My Father Was a Freedom Fighter: Gaza’s Untold Story”. His website is www.ramzybaroud. net.

READ MORE - Why Americans Hate Muslims?

Renungkanlah wahai wahabi, kalian sungguh membenci Nabi dan lebih mencintai tradisi musuh Nabi


Begitu gencarnya mereka menyebarkan rasa kebencian kepada kaum awam muslimin. Begitu lantangnya mereka menolak peringatan Maulid Nabi Saw yang merupakan apresiasi kecintaan umat atas anugerah dilahirnkannya seorang Nabi pembawa keselamatan dan rahmat bagi seluruh alam ini. Begitu sadisnya mereka mengatakan rasa syukur ini adalah bid’ah dan syirik bahkan kafir. Begitu lancangnya mereka mengatakan orang-orang yang bersholawat, mendngar nasehat, mendengar kisah Nabi, merasakan beratnya perjuangan Nabi dalam majlis itu sebagai perbuatan buruk yang menyerupai perayaan orang kristen, yahudi dan kafir.

Tapi renungkanlah wahai wahabi, kalian munafiq, kalian dusta, kalian sungguh membenci Nabi dan lebih mencintai tradisi musuh Nabi….kalian membenci Nabi dan malah mencintai kaum kafir. Kalian mengatakan peringatan maulid Nabi tdk ada dasarnya tapi kenapa kalian justru memperingati hari Nasional bahkan menganjurkannya?? apa dasarnya ?? apakah ulama salaf menganjurkannya ???

Coba perhatikan, ucapan dan fatwa ulama wahabi ini; An-Nujaimi mengatakan :

” Merayakan Hari Nasional adalah perkara yang penting, dan kita wajib mengingat-ngingat perayaan mulia ini bagi setiap diri masing-masing…Sungguh bagus sikap Arab Saudi yang telah MENGKHUSUSKAN hari untuk merayakan peringatan hari nasional ini “.

Subhanallah, merayakan hari kelahiran Nabi dilarang dan bid’ah-bid’ahkan tapi merayakan hari Nasional dibilang sangat penting, wajib mengingat-ngingatnya bahkan mengkhususkan harinya….dimana akal kalian wahai salafi manhaj salaf palsu ???

Dan perlu kalian ingat, bahwa kami melakukan peringatan Maulid Nabi tdk mengkhususkan harinya sama sekali, hampir setiap hari dan setiap saat kami melakukannya, kadang pas waktu sebelum akad nikah, sunatan, syukuran, sbelum berangkat haji, walimahan, kadang setiap jum’at, ada yg setiap senin, ada yg setiap kamis, ada yg setiap Rabu, ada yg setiap selasa, ada yg setiap sabtu, kadang saat nyantai di rumah, kadang saat kumpul2 bersama teman…kami mengadakan maulid kapanpun kami mau…Dan acaranya pun kami isi dengan kebaiukan seperti membaca kitab sejarah Nabi (simthud drurar, dhiyaul lami’ dll), membaca al-Quran, bersholaat, ceramah, bersedekah dll.

Tapi lihat acara peringatan Hari Nasional kalian wahai wahabi manhaj salaf palsu, lihat ini, renungkan fakta ini :

Apa itu kalian bilang Islami?? apa itu kalian bilang sunnah salaf ?? apa itu kalian bilang diwajibkan?? apa itu kalian bilang itu perkara penting ?? perhatikan isi acara itu…!! Campur laki perempuan berjoget2 ria, teriak-teriak, memuji kerajaab Arab Saudi…kumpul menari-nari di mall laki dan perempuan dengan menggunakan busana muslim ?? inikah ajaran Islam ??? mana dasarnya ?? Adakah salaf shelaeh melakukan ini ???Mana fatwa kalian yang mengatakan perayaan apapun haram dan bid’ah kecuali perayaan idul fitri dan adha??Mana pengamalan fatwa kalian ini :

” Semua musim dan perayaan bid’ah. karena semua perayaan kaum ahli kitab dan ajam dilarang karena dua sebab : pertama karena menyerupai orang kafiur. kedua karena termasuk perbuatan bid’ah (gak ada dasarnya) “.

Mana konsisten kalian ?? kenapa kalian lupa dengan fatwa kalian itu ??

Jika kalian katakan perayaan maulid tidak ada dasarnya, maka saya katakan siapa salaf kalian dalam melakukan perayaan hari nasional ?? mana dasarnya ?? apa salaf kalian Yahudi, Nashoro, qaramithah atau Rafidhah ?? jika perayaan kalian itu baik sungguh sudah ada salaf yg melakukannya…Sadarlah wahai wahabi atas kemunafikanmu, sadarlah kalian telah menyakiti hati Nabi Saw…sadarlah kalian bahwa ajaran kalian jauh dari ajaran Rasul Saw…

AL-HAFIZH IBNU HAJAR AL-‘ASQALANI :

وقد سئل شيخ الإسلام حافظ العصر أبو الفضل بن حجر عن عمل المولد فأجاب بما نصه: أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة وإلا فلا قال وقد ظهر لي تخريجها على أصل ثابت وهو ما ثبت في الصحيحين من أن النبي صلى الله عليه وسلم قدم المدينة فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم فقالوا هو يوم أغرق الله فيه فرعون ونجى موسى فنحن نصومه شكرا لله تعالى فيستفاد منه فعل الشكر لله على ما من به في يوم معين من إسداء نعمة أو دفع نقمة ويعاد ذلك في نظير ذلك اليوم من كل سنة والشكر لله يحصل بأنواع العبادة كالسجود والصيام والصدقة والتلاوة وأي نعمة أعظم من النعمة ببروز هذا النبي نبي الرحمة في ذلك اليوم_ الكتاب : الحاوي للفتاوي للسيوطي

” Syaikhul Islam Hafizh al-‘Ashr Abu al-Fadhl Ibnu Hajar ditanya tentang maulid nabi. Beliau menjawab:Asal perbuatan malid adalah bid’ah. Tidak ada riwayat dari seorang pun dari kalangan Salafushaleh dari tiga abad pertama tentang itu. Akan tetapi maulid mengandung banyak kebaikan dan lawannya. Siapa yang mencari kebaikan dan menghindari lawannya, maka itu adalah bid’ah hasanah. Jika tidak, maka tidak dapat dianggap bid’ah hasanah. Terlihat jelas bagi saya mengeluarkan hukumnya dari dasar yang kuat, yaitu hadits yang disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa Rasulullah Saw ketika tiba di Madinah, ia dapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Ia bertanya kepada mereka, mereka menjawab, bahwa itu adalah hari Allah menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan Musa. Maka kami berpuasa bersyukur kepada Allah”. Maka dapat diambil pelajaran dari itu bahwa bersyukur kepada Allah pada hari tertentu disebabkan mendapat nikmat atau ditolaknya bala, itu dapat dijadikan perbandingan. Pada hari itu setiap tahun. Syukur kepada Allah dapat diungkapkan dengan berbagai jenis ibadah seperti sujud, berpuasa, sedekah dan membaca al-Qur’an. Adakah nikmat yang lebih besar daripada nikmat dimunculkannya nabi ini, nabi rahmat pada hari itu?”.

READ MORE - Renungkanlah wahai wahabi, kalian sungguh membenci Nabi dan lebih mencintai tradisi musuh Nabi