Renungkanlah wahai wahabi, kalian sungguh membenci Nabi dan lebih mencintai tradisi musuh Nabi


Begitu gencarnya mereka menyebarkan rasa kebencian kepada kaum awam muslimin. Begitu lantangnya mereka menolak peringatan Maulid Nabi Saw yang merupakan apresiasi kecintaan umat atas anugerah dilahirnkannya seorang Nabi pembawa keselamatan dan rahmat bagi seluruh alam ini. Begitu sadisnya mereka mengatakan rasa syukur ini adalah bid’ah dan syirik bahkan kafir. Begitu lancangnya mereka mengatakan orang-orang yang bersholawat, mendngar nasehat, mendengar kisah Nabi, merasakan beratnya perjuangan Nabi dalam majlis itu sebagai perbuatan buruk yang menyerupai perayaan orang kristen, yahudi dan kafir.

Tapi renungkanlah wahai wahabi, kalian munafiq, kalian dusta, kalian sungguh membenci Nabi dan lebih mencintai tradisi musuh Nabi….kalian membenci Nabi dan malah mencintai kaum kafir. Kalian mengatakan peringatan maulid Nabi tdk ada dasarnya tapi kenapa kalian justru memperingati hari Nasional bahkan menganjurkannya?? apa dasarnya ?? apakah ulama salaf menganjurkannya ???

Coba perhatikan, ucapan dan fatwa ulama wahabi ini; An-Nujaimi mengatakan :

” Merayakan Hari Nasional adalah perkara yang penting, dan kita wajib mengingat-ngingat perayaan mulia ini bagi setiap diri masing-masing…Sungguh bagus sikap Arab Saudi yang telah MENGKHUSUSKAN hari untuk merayakan peringatan hari nasional ini “.

Subhanallah, merayakan hari kelahiran Nabi dilarang dan bid’ah-bid’ahkan tapi merayakan hari Nasional dibilang sangat penting, wajib mengingat-ngingatnya bahkan mengkhususkan harinya….dimana akal kalian wahai salafi manhaj salaf palsu ???

Dan perlu kalian ingat, bahwa kami melakukan peringatan Maulid Nabi tdk mengkhususkan harinya sama sekali, hampir setiap hari dan setiap saat kami melakukannya, kadang pas waktu sebelum akad nikah, sunatan, syukuran, sbelum berangkat haji, walimahan, kadang setiap jum’at, ada yg setiap senin, ada yg setiap kamis, ada yg setiap Rabu, ada yg setiap selasa, ada yg setiap sabtu, kadang saat nyantai di rumah, kadang saat kumpul2 bersama teman…kami mengadakan maulid kapanpun kami mau…Dan acaranya pun kami isi dengan kebaiukan seperti membaca kitab sejarah Nabi (simthud drurar, dhiyaul lami’ dll), membaca al-Quran, bersholaat, ceramah, bersedekah dll.

Tapi lihat acara peringatan Hari Nasional kalian wahai wahabi manhaj salaf palsu, lihat ini, renungkan fakta ini :

Apa itu kalian bilang Islami?? apa itu kalian bilang sunnah salaf ?? apa itu kalian bilang diwajibkan?? apa itu kalian bilang itu perkara penting ?? perhatikan isi acara itu…!! Campur laki perempuan berjoget2 ria, teriak-teriak, memuji kerajaab Arab Saudi…kumpul menari-nari di mall laki dan perempuan dengan menggunakan busana muslim ?? inikah ajaran Islam ??? mana dasarnya ?? Adakah salaf shelaeh melakukan ini ???Mana fatwa kalian yang mengatakan perayaan apapun haram dan bid’ah kecuali perayaan idul fitri dan adha??Mana pengamalan fatwa kalian ini :

” Semua musim dan perayaan bid’ah. karena semua perayaan kaum ahli kitab dan ajam dilarang karena dua sebab : pertama karena menyerupai orang kafiur. kedua karena termasuk perbuatan bid’ah (gak ada dasarnya) “.

Mana konsisten kalian ?? kenapa kalian lupa dengan fatwa kalian itu ??

Jika kalian katakan perayaan maulid tidak ada dasarnya, maka saya katakan siapa salaf kalian dalam melakukan perayaan hari nasional ?? mana dasarnya ?? apa salaf kalian Yahudi, Nashoro, qaramithah atau Rafidhah ?? jika perayaan kalian itu baik sungguh sudah ada salaf yg melakukannya…Sadarlah wahai wahabi atas kemunafikanmu, sadarlah kalian telah menyakiti hati Nabi Saw…sadarlah kalian bahwa ajaran kalian jauh dari ajaran Rasul Saw…

AL-HAFIZH IBNU HAJAR AL-‘ASQALANI :

وقد سئل شيخ الإسلام حافظ العصر أبو الفضل بن حجر عن عمل المولد فأجاب بما نصه: أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة وإلا فلا قال وقد ظهر لي تخريجها على أصل ثابت وهو ما ثبت في الصحيحين من أن النبي صلى الله عليه وسلم قدم المدينة فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم فقالوا هو يوم أغرق الله فيه فرعون ونجى موسى فنحن نصومه شكرا لله تعالى فيستفاد منه فعل الشكر لله على ما من به في يوم معين من إسداء نعمة أو دفع نقمة ويعاد ذلك في نظير ذلك اليوم من كل سنة والشكر لله يحصل بأنواع العبادة كالسجود والصيام والصدقة والتلاوة وأي نعمة أعظم من النعمة ببروز هذا النبي نبي الرحمة في ذلك اليوم_ الكتاب : الحاوي للفتاوي للسيوطي

” Syaikhul Islam Hafizh al-‘Ashr Abu al-Fadhl Ibnu Hajar ditanya tentang maulid nabi. Beliau menjawab:Asal perbuatan malid adalah bid’ah. Tidak ada riwayat dari seorang pun dari kalangan Salafushaleh dari tiga abad pertama tentang itu. Akan tetapi maulid mengandung banyak kebaikan dan lawannya. Siapa yang mencari kebaikan dan menghindari lawannya, maka itu adalah bid’ah hasanah. Jika tidak, maka tidak dapat dianggap bid’ah hasanah. Terlihat jelas bagi saya mengeluarkan hukumnya dari dasar yang kuat, yaitu hadits yang disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa Rasulullah Saw ketika tiba di Madinah, ia dapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Ia bertanya kepada mereka, mereka menjawab, bahwa itu adalah hari Allah menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan Musa. Maka kami berpuasa bersyukur kepada Allah”. Maka dapat diambil pelajaran dari itu bahwa bersyukur kepada Allah pada hari tertentu disebabkan mendapat nikmat atau ditolaknya bala, itu dapat dijadikan perbandingan. Pada hari itu setiap tahun. Syukur kepada Allah dapat diungkapkan dengan berbagai jenis ibadah seperti sujud, berpuasa, sedekah dan membaca al-Qur’an. Adakah nikmat yang lebih besar daripada nikmat dimunculkannya nabi ini, nabi rahmat pada hari itu?”.

READ MORE - Renungkanlah wahai wahabi, kalian sungguh membenci Nabi dan lebih mencintai tradisi musuh Nabi

Muslim Haram Terlibat Natal


Sekarang ini Natal bukan hanya urusannya umat Kristen tetapi telah menjadi urusan umat Islam pula. Kenapa ? Tidak banyak yang menyadari bahwa semakin mewabah dimana-mana umat Islam telah sengaja diprovokasi, dijebak dan dijerumuskan untuk terlibat dalam Natalan. Berikut adalah pernyataan mereka di Majalah Kristen Bahana, Januari 2008 “Gereja bertekad bahwa kebahagiaan Natal haruslah dirayakan dan dibagikan ke sesama, tanpa peduli agama, ras dan suku

Maka Istilah Natal bersama bukan lagi sekedar bermakna kebersamaan perayaan Natal antara umat Kristen Katolik dengan umat Kristen Protestan atau dengan umat Kristen dari aliran/ sekte yang lain, tetapi juga melibatkan umat Islam atau umat non Kristen lainnya.


Permasalahannya  adalah :


1. Natal meskipun sepintas yang tampak adalah kebahagiaan, hakekatnya adalah  malapetaka akherat. Natal semarak dengan aneka dosa yang bisa mengundang murka Allah. Mau tahu sebabnya ? Baca tuntas tulisan ini.


2. Aneka dosa yang melekat pada natal tentulah sudah disadari elite-elite Kristen. Gereja kalau memang komit pada kebenaran, kenapa justru menikmati dan terus menghidup-hidupkan natal ? membiarkan umatnya menangguk dosa ?


3. Untuk apa Gereja bertekad (bernafsu) merayakan natal bersama umat agama lain (Islam dll) ? Apa mereka tidak tahu bahwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) pada tanggal 1 Jumadil Awal 1401 H bertepatan dengan 7 Maret 1981 di Jakarta telah mengeluarkan fatwa mengharamkan umat Islam mengikuti perayaan Natal dan menganjurkan untuk tidak terlibat natal ? Apa para Islamolog mereka tidak tahu kalau di Islam berlaku prinsip  Lakum diinukum waliyadiin (bagimu agamamu, bagiku agamaku) yang menyiratkan larangan bagi umat Islam untuk ikut mengamalkan syariat orang kafir / non Islam ? Atau justru tidak ingin kotor sendiri, gereja menarik umat Islam untuk  merasakan guyuran dosa natal bersama mereka ?


4. Tekad atau lebih tepat disebut kenekadan Gereja bukankan suatu bentuk intoleransi , terorisme akidah, melecehkan prinsip agama Islam dan memprovokasi umat Islam yang justru akan memicu SARA ? Artinya siapa penabuh genderang perang ? Gereja atau umat Islam yang terpanggil berjuang membentengi akidah umatnya ?

BID’AH NATAL


Sudah jelas dan semua orangpun telah maklum bahwa natal bukanlah ajaran Islam, tidak ada petunjuk untuk melaksanakannya baik didalam Al Qur’an maupun As Sunah. Wajar kalau umat Islam banyak kurang paham tentangnya. 


Natal adalah ibadah yang paling sakral, paling populer bagi umat Kristen. Natal sekaligus merupakan perayaan yang paling meriah yang dirayakan oleh mayoritas penduduk  dunia. Setiap tahun umat Kristen tidak pernah absen merayakannya dengan gegap gempita.


Tetapi sungguh ironis bin lucu, ternyata umat Kristen masih banyak yang  tidak tahu menahu, tidak paham bahwa natal itu tidak alkitabiah. Artinya natal  itu tidak relevan bahkan menyimpang dari isi Alkitab.


Mereka tidak menyadari bahwa tidak satu kata “natal” pun tercantum didalam Alkitab yang sering juga disebut Bible atau Injil.  Perayaan paling popular itu ironisnya sama sekali tidak dikenal di Alkitab yang manakala pergi ke gereja mereka selalu tak pernah lupa menentengnya dengan anggunnya. Padahal Alkitab yang mereka yakini sebagai Kitab Suci Firman Tuhan, semestinyalah menjadi acuan, pedoman umat Kristen dalam melakukan perkara apapun apalagi perkara sepenting natal. Dengan kata lain kalau memang natal itu perkara penting dimata Tuhan, tentulah Tuhan memfirmankannya. Lalu bagaimana mungkin gereja dan umat Kristen bisa mengabaikan fakta bahwa “natal” tidak tercantum di Alkitab ?  Untuk apa ada slogan Sola Scriptura ?natal bisa dipastikan bukan peperintah


Tidak adanya kata “natal” di Alkitab mengarahkan kepada kesimpulan perintah Tuhan tetapi hanyalah perintah manusia.  Silahkan umat Kristen merenungkan di Alkitab Kitab Matius pasal 15 ayat 9 yang berbunyi “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." Logikanya kalau umat Kristen taat kepada yang mereka yakini sebagai Firman Tuhan, maka natal yang hanyalah perintah manusia sehingga percuma, haruslah sudah ditinggalkan mereka dulu-dulu.


Natal tidak mungkin sudah dikenal apalagi diajaran oleh “Tuhan” Yesus sewaktu masih hidup, Lebih mustahil lagi jika natal diajarkan oleh Yesus sesudah mati disalib seperti yang mereka yakini. Menurut sejarah, ritual natal memang tidak pernah dirayakan oleh murid-murid Yesus maupun penganut Kristen diabad-abad awal masehi. Natal baru ditradisikan oleh Paus Liberius di Roma sejak abad ke empat, tepatnya  tahun 336 Masehi.


Boleh dibilang ritual natal adalah sesuatu yang baru alias mengada-ada alias orang Kristen bilang bidat. Kalau dalam syariah Islam, ibadah dan perayaan / syiar agama yang mengada-ada, yang tidak ada tuntunannya dari Allah dan Rasul-Nya itu termasuk perkara bid’ah. Nabi Muhammad saw menyatakan bahwa setiap yang bid’ah  (mengada-ada) itu dhalalah /sesat (secara bahasa ada bid’ah hasanah tetapi secara syar’I tidak ada yang namanya bid’ah  hasanah) dan setiap yang sesat itu pastilah bermuara ke neraka.


Menurut isi Alkitab, Yesus selalu mengajarkan umatnya agar hanya mengikuti kehendak Bapa yaitu Allah di sorga yang mengutus Yesus. Kitab Matius  pasal 7 ayat 21 menyatakan : “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga”.  Kitab lain yaitu Yohanes  pasal 5 ayat 30 menyatakan : “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.


Bisa disimpulkan bahwa  ritual perayaan natal bagi umat  Kristen pastilah menyimpang dari kehendak Bapa , berarti juga mendurhakai Yesus yang mereka pertuhankan. Ajaran Yesus untuk selalu mengikuti kehendak Bapa, tidak digubris umat Kristen. Terbukti mereka tetap saja melaksanakan natal setiap tahunnya walaupun bukan kehendak Bapa alias hanya kehendak / ajaran manusia.


Selain tidak mengikutin kehendak Bapa, ritual natal yang tidak ada tuntunannya di Alkitab juga melanggar larangan yang ada di Alkitab untuk tidak menambah atau mengurangi apa yang tercantum di Kitab Suci.  Silahkan buka Alkitab Perjanjian Lama, Kitab Ulangan pasal 12 ayat 32 yang menyatakan : “Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya.” Maka pantaskah kalau natal disebut sebagai suatu bentuk kebaktian kepada Tuhan ? Bahkan melaksanakan natal sendiri adalah bentuk ketidak-taatan kepada kehendak Tuhan dan pelanggaran isi Alkitab yang notabene mereka yakini sebagai Firman Tuhan.

NATAL VS AL WALA’ WAL BARA’


Sangat disayangkan dikalangan umat Islampun banyak sekali yang belum kuat akidahnya. Tidak banyak paham tentang Kristen maupun natal sehingga salah sikap dalam merespon natal. Demi meraih simpati dan dukungan, Politikus : Cagub, Cawali, Cabup, Caleg, Pengurus Partai, ramai-ramai pasang spanduk “Selamat Natal”. Termakan jargon toleransi dan pluralisme, Pejabat dan Tokoh muslim rela jadi penggembira bahkan memberi sambutan dalam Natal . Demi pekerjaan, karyawan pusat perbelanjaan  rela didandani ala  badut sinterklas, Demi bingkisan natal, kaum dhuafa  rela jadi penggembira dan turut bersukacita dalam Natal. Demi bisnis, rumah makan; kantor; toko / ruang bisnis apapun disulap tuk menyemarakkan natal. Demi persahabatan, menjaga relasi, menunjukkan simpati, maka muslim gaul menebarkan : SMS, kartu ucapan dan parcel Natal.


Banyak gambar beredar menunjukkan seorang muslimah berjilbab sowan kepada romo / pastur Katolik untuk berjabat tangan mengucapkan “Selamat Natal”, sebagai wujud kasih sayang, turut bergembira atas lahirnya “Tuhan” Yesus Kristus Sang Juru Selamat Penebus Dosa. Mungkin muslimah tersebut ingin memanfaatkan momentum perayaan natal untuk memperbaiki citra Islam yang selalu distigmatisasi bahwa Islam adalah identik dengan kekerasan dan terorisme. Mungkin juga ia ingin menunjukkan pada dunia bahwa Islam itu rahmatan lil alamin dengan arti seperti yang ia pahami, yaitu harus bersikap baik kepada siapapun, tidak peduli hizbullah atau hizbusy-syaitan, iman atau kafir, hak atau batil, makruf atau munkar, halal mapun haram.


Tapi yang pasti muslimah tersebut tidak pernah memahami atau bahkan menutup mata tentang konsep al wala’ wal bara’, sikap loyal, pembelaan hanya kepada Allah, Rasul dan siapapun orang beriman. Sebaliknya membenci, menolak, berlepas diri, tegas terhadap kekufuran dan siapapun pendukung kekufuran.


Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) -Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. (QS Al Mujaadilah [58]:22 )


Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.   (QS Al Fath [48]:29)


Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah"… (QS Mumtahanah [60]:4)


Al wala’ wal bara’, sikap yang mustahil muncul kecuali memahami dan mengamalkan tauhid dengan benar ini, memang berat dan penuh resiko. Kebanyakan orang terutama para pejabat, tokoh dan siapapun yang lebih memilih dunia sebagai surganya pastilah tidak suka, alergi dan phobi. Lebih lebih dijaman yang sedang getol-getolnya digembar-gemborkan jargon kerukunan, persamaan, kebebasan, demokrasi, pluralisme, multikulturalisme dan seabreg tetek bengek isme-isme yang blas tidak islami sama sekali seperti sekarang ini.


Memang hidup jadi sangat riskan, repot, susah kalau menerapkan seperti Nabi Ibrahim yang menyatakan dengan tegas sikap permusuhan dan berlepas diri dengan kaumnya yang kafir sampai mereka beriman kepada Allah. Pasti banyak manusia mencibir, memusuhi bahkan oleh mereka yang KTP nya juga Islam tapi cari selamat, menggantungkan hidup pada orang kafir tidak merasa bergantung hidup kepada Allah. Padahal sikap Nabi Ibrahim yang tegas memusuhi kekafiran itu mendapat pujian, award, penghargaan bukan sekedar dari presiden, Negara maupun LSM apapun tapi dari Dzat Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT. Sebaliknya sikap Nabi Ibrahim yang memohonkan ampun dosa bapaknya yang oleh kebanyakan manusia dianggap sebagai akhlak yang baik, hormat dan bakti kepada orang tua  justru dicela oleh Allah karena mencoba merobah apa yang telah ditetapkan Allah bahwa bapaknya maupun siapapun orang kafir tidak berhak mendapat ampunan Allah, hanya boleh didoakan mendapat hidayah-Nya sebatas masih hidup.


Muslimah itupun tidak hirau alias tidak mau tahu bahwa apresiasi kepada kekafiran adalah mendukung menyuburkan kekafiran itu. Setiap kali ada orang yang mengikuti, meniru, terinspirasi untuk melakukan perbuatan maksiat kepada Allah seperti yang dilakukan oleh muslimah tersebut, maka sang muslimah akan mendapat bonus dosa akibat perannya sebagai pionir,  teladan, pendorong  kemaksiatan kepada Allah.


Gambar yang tampak humanis di atas memang mengesankan suasana damai, rukun, toleransi dan kebersamaan antar umat beragama.  Sering disebut sebagai suasana yang kondusif  yang tentunya sangat disukai oleh para tokoh dan pemimpin bangsa maupun kebanyakan orang. Namun perlu diketahui bahwa tidak semua yang menyenangkan adalah baik bagi kita, sebaliknya tidak semua yang tidak menyenangkan itu buruk bagi kita. Cobalah simak Firman dari Yang Maha Benar di QS Al Baqarah (2):16 berikut :


Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.


Dosa Musyrik Menuhankan Yesus :

Mengucapkan “Selamat Natal” berarti memberi selamat / mengapresiasi atas keyakinan keliru Kristen telah lahirnya “TUHAN” Yesus. Padahal Yesus jelas-jelas bukan Tuhan. Tuhan itu Maha Hidup, Maha Perkasa mustahil mati disalib, mustahil ada yang kuasa mencabut nyawaNya. Meskipun Tuhan karena keMaha-KuasaanNYA mampu berbuat dan berkehendak apa saja termasuk reinkarnasi menjadi manusia tetapi kalau itu dilakukan akan menafikan keMaha-Sucian Tuhan ketika sebagai manusia Ia makan, minum, dst…. Kalau kelemahan manusiawi Yesus hanyalah terjadi pada sisi kemanusiaan Yesus bukan sisi keilahian Yesus maka hal itupun menafikan kekekalan Tuhan yang mewajibkan setiap saat setiap kondisi Tuhan tidak pernah lepas dari keilahianNya.


Dosa karena mengakui / ikut bergembira atas lahirnya Tuhan selain Allah SWT adalah dosa musyrik, dosa paling besar, menyebabkan terhapusnya seluruh amal shaleh yang telah kita kumpulkan sejak baligh hingga detik itu. Kalau sampai mati tidak bertobat maka dosanya tidak akan terampuni dan jahanamlah tempatnya kelak, haram bagi musyrikin masuk jannah.

Dosa Maksiat Sentuhan Lawan Jenis Bukan Mukhrim

Berjabat tangan dengan orang bukan muhrimnya berarti maksiat. Hadist Nabi mengatakan Seorang diantara kamu ditikam kepalanya dengan jarum besi lebih baik baginya daripada bersentuhan dengan laki-laki yang tidak halal  (HR Tabrani ).

Dosa Bid’ah (Mengada-ada)

Ibadah yang jelas-jelas diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya saja terkadang masih banyak terbengkelai, kenapa ikutan natal yang tidak ada tuntunannya, yang jelas jelas diluar Islam alias langkah setan yang tidak boleh diikuti, karena setan itu musuh yang nyata bagi orang beriman, lihat QS Al Baqarah (2):208.  ingatlah hadist Nabi riwayat Muslim “Barangsiapa beramal tanpa ada perintah dariku maka tertolak.” Dan takutlah akan dimina pertanggung-jawaban oleh Allah sesuai bunyi QS Al Israa’ (17):36 “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”

Dosa Menyerupai Kaum Kafir

Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka termasuk golongan itu. Simak hadist ini : …Barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk golongan mereka.(HR Ahmad no 4868, 4869, 5409) Muslimah yang ikut/terlibat natalan berarti menyerupai kafir Kristen berarti termasuk kafir Kristen. Padahal bagi orang kafir tempatnya Neraka Jahanam dan termasuk seburuk-buruk makhluk (QS Al Bayyinah 98:6)

Natal adalah millah Kristen, millah Nasrani. Siapa yang nekad mengikuti millah mereka maka Allah berlepas diri untuk melindungi / menolongnya. Simak ayat berikut :

 Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS Al Baqarah : 120)

Dosa Pionir/ Inspirator Dosa


Dosa-dosa muslimah tersebut bisa membengkak beranak pinak. Setiap kali siapapun melakukan perbuatan dosa karena meniru, terinspirasi, terdorong oleh perbuatan muslimah tersebut maka ia mendapat bonus dosa seperti penirunya, Semakin membudaya perbuatan tersebut semakin besuar bonus dosa dikumpulkannya.

NATAL,  PLURALISME dan PEMURTADAN


Dari sudut pandang kaum pluralis tentulah hal ini sangat menggembirakan, menunjukkan tumbuh berkembangnya kebersamaan, kerukunan dan toleransi antar umat beragama. Tidak ada ruginya umat Islam ikut natalan bahkan murtad meninggalkan agama Islam, berpindah menganut Kristen pun tidak perlu dirisaukan. Toh bukan hanya Islam yang baik dan benar. Agama-agama lain juga baik, juga benar. Semua agama meskipun dengan jalan dan cara yang berbeda-beda toh sama-sama menuju Tuhan yang sama dan juga sama-sama berhak masuk surga.


Sungguh betapa berbahayanya pandangan kaum pluralis. Demi  perdamaian, kerukunan semu  dan menyenangkan orang yang oleh Allah dicap kafir, penentang Allah dan Rasul-Nya, mereka membutakan mata, menulikan telinga, mematikan nuraninya untuk menerima ayat-ayat Allah yang dengan tegas gamblang menetapkan bahwa satu-satunya agama dari sisi Allah hanyalah Islam (QS 3:19). Satu-satunya agama yang telah sempurna dan diridloi Allah Maha Kuasa (QS 5:3) hanyalah Islam. Selain Islam tegas dikatakan sebagai langkah setan (QS 2:208), ditolak Allah dan diakherat sebagai golongan yang rugi alias penghuni neraka jahanam (QS 3:85).


Sudut pandang Islam yang menyandarkan segala sesuatu berdasar Al Qur’an dan As Sunah ternyata bertolak belakang 180 derajat dibanding sudut pandang kaum pluralis. Meskipun banyak dari mereka digelari cendekiawan muslim tetapi jauh dari nilai-nilai Islami. Mereka apriori mereferensi Al Qur’an dan As Sunah sebaliknya lebih bangga, lebih merasa hebat kalau menyandarkan segalanya kepada apa kata pakar barat yang terkesan lebih ilmiah padahal jauuuh dari hidayah Allah dan kafir alias musuh Allah, musuh Rasul dan musuh orang-orang mukmin.


Menurut Islam, keterlibatan muslim dalam natal hanyalah menimbulkan  kemudlaratan luar biasa ,  Keterlibatan muslim dalam natal bisa dikatakan sebagai wujud kasih sayang , apresiasi dan dukungan terhadap kaum kafir dan kekafiran yang tentu sangat merugikan dan membahayakan akidah umat Islam. Lebih jauh bahkan bisa menjerumuskan mereka kedalam kemurtadan.


Sms berikut adalah tanggapan dari aktifis Gereja GBI Keluarga Allah Widuran Solo atas sms  penulis yang memperingatkan agar umat Kristen tidak mengajak/ memprovokasi umat Islam ikutan natalan. Pembaca bisa menangkap sinyal yang kuat bahwa mereka memang mengakui adanya  kristenisasi / pemurtadan lewat momentum natal.


… Anda itu ya lucu kalau tidak melibatkan or. Islam kaum muslimin dan muslimat, kristenisasi bisa macet to yo. Anda juga telat ngancamnya  tak beri tahu pertengahan nov undangan dah siap, 25 nov dah disebar mulai 1 des kita tinggal follow up sj mngingatkan spy datang gtu ? anda bisa apa !


Lho natal ini sy bawa banyak anak kecil ke greja, ya anaknya ngikut ngaji tpa sih tapi pengin dapat hadiah natal. Jadi sy bilang sj kalau mau ke greja pasti dpt hadiah.…

tdk skedar nyuruh dtg aja tp kita jmput antar pulang, masih kita bri bngkisan smbako, uang dpt makan, or islam mesti mau dong?. Di greja nanti jg pujian, sukacita, saat pas untuk kristenisasi…

URGENSI MEMAHAMI KEBATILAN


Tidaklah berlebihan dan bukan pula usil mengurusi agama lain ketika penulis yang seorang muslim membeberkan aneka kebatilan natal yang mana natal telah  dimanfaatkan oleh gereja sebagai momentum dan sarana kristenisasi bahkan pemurtadan terhadap umat Islam.


Memahami kebatilan apapun termasuk kebatilan natal, diperlukan agar umat Islam mampu mewaspadai dan terhindar dari dampak buruknya. Bagi umat Kristen yang ikut membaca tulisan ini, jangan buru-buru naik pitam tetapi cobalah renungkan benar tidak isinya. Jangan sampai maunya berbakti kepada Tuhan ternyata justru membuat murka Tuhan karena justru menyelisihi kehendak bahkan melanggar larangan Tuhan. Penulis bertanggung jawab dan siap mendiskusikan / berdialog dengan siapapun terkait tulisan ini.


Bagi setiap mukmin dan siapapun orang jujur pecinta kebenaran, mari sebarluaskan seluas-luasnya tulisan ini sebagai wujud tanggung jawab pembentengan akidah yang sangat relevan dengan tugas  mukmin sejati untuk melaksanakan  amar makruf nahi munkar (QS 3:110) , menjaga diri dan keluarga dari neraka (QS 66:6), tidak mencampuradukkan yang hak dengan yang batil (QS 2:42). [Oleh: Pak Nadi,  Peminat Kristologi / muslimdaily.net

READ MORE - Muslim Haram Terlibat Natal

Mengenang Akhlak Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam


Setelah Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya - tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, "Ceritakan padaku akhlak Muhammad!". Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.

Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi.

Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, "Ceritakan padaku keindahan dunia ini!." Badui ini menjawab, "Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini...." Ali menjawab, "Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)"

Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam yang sering disapa "Khumairah" oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur'an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur'an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam itu bagaikan Al-Qur'an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur'an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu'minun [23]: 1-11.

Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.

Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, Aisyah hanya menjawab, "Ah semua perilakunya indah." Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. "Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, 'Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.'" Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.

Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, "Mengapa engkau tidur di sini?" Nabi Muhammmad menjawab, "Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu." Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam mengingatkan, "berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya." Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.

Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam memanggilnya. Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi malah mencium sorban Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tersebut.

Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat ucapan lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.

Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam selalu memujinya. Abu Bakar- lah yang menemani Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam sakit. Tentang Umar, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pernah berkata, "Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain." Dalam riwayat lain disebutkan, "Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta'wil) mimpimu itu? Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam menjawab "ilmu pengetahuan."

Tentang Utsman, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam sangat menghargai Utsman karena itu Utsman menikahi dua putri Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, hingga Utsman dijuluki Dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. "Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya." "Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik."

Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah...ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.

Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam. Buktinya, dalam Al-Qur'an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dan lain – lain, tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam, Allah menyapanya dengan "Wahai Nabi". Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.

Para sahabat pun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam. Mereka ingin Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: "Angkat Al-Qa'qa bin Ma'bad sebagai pemimpin." Kata Umar, "Tidak, angkatlah Al-Aqra' bin Habis." Abu Bakar berkata ke Umar, "Kamu hanya ingin membantah aku saja," Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud membantahmu." Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal- amal kamu dan kamu tidak menyadarinya" (QS. Al-Hujurat 1-2)

Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, "Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia." Umar juga berbicara kepada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam.

Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi'ah. Ia berkata pada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, "Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami"

Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bertanya, "Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?" "Sudah." kata Utbah. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.

Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak Nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan sebenarnya adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah!

Ketika Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bahwa Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam? "Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu." Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam telah menyerap di sanubari kita atau tidak.

Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berkata pada para sahabat, "Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!" Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, "Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini." Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap "membereskan" orang itu. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun melarangnya. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah beliau. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam keheranan ketika Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam berikan pada mereka.

Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berkata, "Lakukanlah!" 


Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan memeluk Nabi seraya menangis, "Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah". Seketika itu juga terdengar ucapan, "Allahu Akbar" berkali-kali. Sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam sebelum Allah memanggil Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam ke hadirat-Nya.

Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia? Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na'udzu billah.....

Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam ketika saat haji Wada', di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, "Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?" Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam melanjutkan, "Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah kusampaikan pada kalian wahyu dari Allah.....?" Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, "Benar ya Rasul!"

Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, "Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah!". Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pembahasan ini saya pun memohon kepada Allah untuk menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah sallAllahu 'alayhi wasallam. "Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah"  (Ustadz KH. Nadirsyah Hosen Dewan Asaatiz Pesantren Virtual )

READ MORE - Mengenang Akhlak Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam

Inilah Sejarah Kalender Hijriyah Yang Sebenarnya


Masyarakat Arab sejak masa silam, sebelum kedatangan Islam, telah menggunakan kalender qamariyah (kalender berdasarkan peredaran bulan). Mereka sepakat tanggal 1 ditandai dengan kehadiran hilal . Mereka juga menetapkan nama bulan sebagaimana yang kita kenal. Mereka mengenal bulan Dzulhijah sebagai bulan haji, mereka kenal bulan Rajab, Ramadhan, Syawal, Safar, dan bulan-bulan lainnya. Bahkan mereka juga menetapkan adanya 4 bulan suci: Dzulqa’dah, Dzulhijah, Shafar Awal (Muharam), dan Rajab. Selama 4 bulan suci ini, mereka sama sekali tidak boleh melakukan peperangan.

Hanya saja masyarakat jazirah Arab belum memiliki angka tahun. Mereka tahu tanggal dan bulan, tapi tidak ada tahunnya. Biasanya, acuan tahun yang mereka gunakan adalah peristiwa terbesar yang terjadi ketika itu. Kita kenal ada istilah tahun gajah , karena pada saat itu terjadi peristiwa besar, serangan pasukan gajah dari Yaman oleh raja Abrahah. Tahun Fijar , karena ketika itu terjadi perang Fijar. Tahun renovasi Ka’bah , karena ketika itu Ka’bah rusak akibat banjir dan dibangun ulang. Terkadang mereka juga menggunakan tahun kematian tokohnya sebagai acuan, semisal; 10 tahun setelah meninggalnya Ka’ab bin Luai. Keadaan semacam ini berlangsung terus sampai zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Khalifah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu . Ketka itu, para sahabat belum memiliki acuan tahun. Acuan yang mereka gunakan untuk menamakan tahun adalah peristiwa besar yang terjadi ketika itu. Berikut beberapa nama tahun di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

1. Tahun izin (sanatul idzni), karena ketika itu kaum muslimin diizinkan Allah untuk berhijrah ke Madinah.

2. Tahun perintah (sanatul amri ), karena mereka mendapat perintah untuk memerangi orang musyrik.

3. Tahun tamhish, artinya ampunan dosa. Di tahun ini Allah menurunkan firmanNya, ayat 141 surat Ali Imran, yang menjelaskan bahwa Allah mengampuni kesalahan para sahabat ketika Perang Uhud.

4. Tahun zilzal (ujian berat). Ketika itu, kaum muslimin menghadapi berbagai cobaan ekonomi, keamanan, krisis pangan, karena perang khandaq. Dst.
(Arsyif Multaqa Ahlul Hadits, Abdurrahman al-Faqih, 14 Maret 2005)

Sampai akhirnya di zaman Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah. Di tahun ketiga beliau menjabat sebagai khalifah, beliau mendapat sepucuk surat dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu , yang saat itu menjabat sebagai gubernur untuk daerah Bashrah (Irak). Dalam surat itu, Abu Musa mengatakan:

ﺇﻧﻪ ﻳﺄﺗﻴﻨﺎ ﻣﻦ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻛﺘﺐ، ﻓﻼ ﻧﺪﺭﻱ ﻋﻠﻰ ﺃﻱٍّ ﻧﻌﻤﻞ، ﻭﻗﺪ ﻗﺮﺃﻧﺎ ﻛﺘﺎﺑًﺎ ﻣﺤﻠﻪ ﺷﻌﺒﺎﻥ، ﻓﻼ ﻧﺪﺭﻱ ﺃﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻧﺤﻦ ﻓﻴﻪ ﺃﻡ ﺍﻟﻤﺎﺿﻲ

“Telah datang kepada kami beberapa surat dari amirul mukminin, sementara kami tidak tahu kapan kami harus menindaklanjutinya. Kami telah mempelajari satu surat yang ditulis pada bulan Sya’ban. Kami tidak tahu, surat itu Sya’ban tahun ini ataukah tahun kemarin.”

Kemudian Umar mengumpulkan para sahabat, beliau berkata kepada mereka:

ﺿﻌﻮﺍ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﺷﻴﺌﺎً ﻳﻌﺮﻓﻮﻧﻪ

“Tetapkan tahun untuk masyarakat, yang bisa mereka jadikan acuan.”

Ada yang usul, kita gunakan acuan tahun bangsa Romawi. Namun usulan ini dibantah, karena tahun Romawi sudah terlalu tua. Perhitungan tahun Romawi sudah dibuat sejak zaman Dzul Qornain (Mahdhu ash-Shawab, 1:316, dinukil dari Fashlul Khithab fi Sirati Ibnul Khatthab, Dr. Ali Muhammad ash-Shalabi, 1:150)

Kemudian disebutkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak, dari Said bin al-Musayib, beliau menceritakan:

Umar bin Khattab mengumpulkan kaum muhajirin dan anshor radhiyallahu ‘anhum , beliau bertanya: “Mulai kapan kita menulis tahun?” Kemudian Ali bin Abi Thalib mengusulkan: “Kita tetapkan sejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah, meninggalkan negeri syirik.” Maksud Ali adalah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Kemudian Umar menetapkan tahun peristiwa terjadinya Hijrah itu sebagai tahun pertama (al-Mustadrak 4287 dan dishahihkan oleh adz-Dzahabi).

Mengapa bukan tahun kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi acuan?

Jawabannya disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar sebagai berikut:

ﺃﻥ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺃﺷﺎﺭﻭﺍ ﻋﻠﻰ ﻋﻤﺮ ﻭﺟﺪﻭﺍ ﺃﻥ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﻤﻜﻦ ﺃﻥ ﻳﺆﺭﺥ ﺑﻬﺎ ﺃﺭﺑﻌﺔ، ﻫﻲ ﻣﻮﻟﺪﻩ ﻭﻣﺒﻌﺜﻪ ﻭﻫﺠﺮﺗﻪ ﻭﻭﻓﺎﺗﻪ، ﻭﻭﺟﺪﻭﺍ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﻭﺍﻟﻤﺒﻌﺚ ﻻ ﻳﺨﻠﻮ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺰﺍﻉ ﻓﻲ ﺗﻌﻴﻴﻦ ﺳﻨﺔ ﺣﺪﻭﺛﻪ، ﻭﺃﻋﺮﺿﻮﺍ ﻋﻦ ﺍﻟﺘﺄﺭﻳﺦ ﺑﻮﻓﺎﺗﻪ ﻟﻤﺎ ﻳﺜﻴﺮﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﺰﻥ ﻭﺍﻷﺳﻰ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ، ﻓﻠﻢ ﻳﺒﻖ ﺇﻻ ﺍﻟﻬﺠﺮﺓ

Para sahabat yang diajak musyawarah oleh Umar bin Khatthab, mereka menyimpulkan bahwa kejadian yang bisa dijadikan acuan tahun dalam kalender ada empat: tahun kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tahun ketika diutus sebagai rasul, tahun ketika hijrah, dan tahun ketika beliau wafat. Namun ternyata, pada tahun kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tahun ketika beliau diutus, tidak lepas dari perdebatan dalam penentuan tahun peristiwa itu. Mereka juga menolak jika tahun kematian sebagai acuannya, karena ini akan menimbulkan kesedihan bagi kaum muslimin. Sehingga yang tersisa adalah tahun hijrah beliau (Fathul Bari, 7:268).

Abu Zinad mengatakan:

ﺍﺳﺘﺸﺎﺭ ﻋﻤﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺎﺭﻳﺦ ﻓﺄﺟﻤﻌﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻬﺠﺮﺓ

“Umar bermusyawarah dalam menentukan tahun untuk kalender Islam. Mereka sepakat mengacu pada peristiwa hijrah (Mahdzus Shawab, 1:317, dinukil dari Fashlul Khithab fi Sirati Ibnul Khatthab, Dr. Ali Muhammad ash-Shalabi, 1:150)

Karena hitungan tahun dalam kalender Islam mengacu kepada hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , selanjutnya kalender ini dinamakan Kalender Hijriah .

Setelah mereka sepakat, perhitungan tahun mengacu pada tahun hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , selanjutnya mereka bermusyawarah, bulan apakah yang dijadikan sebagai bulan pertama.

Pada musyawarah tersebut, Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengusulkan agar bulan pertama dalam kalender Hijriah adalah Muharam . Karena beberapa alasan:
  • Muharam merupakan bulan pertama dalam kalender masyarakat Arab di masa masa silam.
  • Di bulan Muharam, kaum muslimin baru saja menyelesaikan ibadah yang besar yaitu haji ke baitullah.
  • Pertama kali munculnya tekad untuk hijrah terjadi di bulan Muharam. Karena pada bulan sebelumnya, Dzulhijah, beberapa masyarakat Madinah melakukan Baiat Aqabah yang kedua.
(simak keterangan Ibn Hajar dalam Fathul Bari, 7:268)

Sejak saat itu, kaum muslimin memiliki kalender resmi, yaitu kalender hijriyah, dan bulan Muharam sebagai bulan pertama dalam kalender tersebut. Allahu a’lam.
Sumber: konsultasi syariah

READ MORE - Inilah Sejarah Kalender Hijriyah Yang Sebenarnya

The Shafie school of thought is the second largest followed by Muslims worldwide


Muhammad Al-Shafie born in Gaza, Palestine is known as the ‘mujaddid’ (Arabic for revivalist) of the second century thanks to his prescription of the fundamentals of jurisprudence.

The Shafie school of thought is adhered to in southeast Egypt, Somalia, Indonesia, Thailand, Singapore, the Philippines, Yemen, Kurdistan and in Kerala in south India. His school of thought is also officially espoused by the governments of Malaysia and Brunei.

Shafie is a descendant of the Quraish tribe through the Prophet’s Hashemite family. Shafie was orphaned at an early age and was taken by his mother to Makkah, his ancestral town.

He soon developed a knack for mastering the most organic of Arabic literature and history, so he joined the Bedouin tribe of Huthail, who were renowned for their fine standards of Arabic literature, and wandered with them in the desert.

His memory was very sharp. He had memorized the Qur’an by the age of seven.

He later began studying “fiqh” (Islamic jurisprudence) and had covered the work of scholars at Makkah by the age of 20. Shafie then traveled to Madinah to learn from renowned scholars. He borrowed Imam Malik’s Al-Muwatta to read and memorized the entire work, which made him all the more eager to study under him.

He devoted himself fully to Imam Malik and served him for nine years up until his death in 179H. He was very fortunate to meet and learn from the eminent Iraqi scholar, Muhammad ibn Al-Hasan Al-Shaybani, a disciple of Imam Abu Hanifa, who had joined Imam Malik during the last three years of his life.

As such, Imam Shafie essentially emerged from the conjunction of two great schools of thought from both the Hijaz and Iraq.

The first group insisted on absolute reliance on the literal interpretation of the Hadith and the impermissibility of using reason as a means to derive Islamic law.

The other group, known as the “people of reason,” also believed in using Qur’an and Hadith to derive law, but also accepted reason as a source of law. 

Imam Shafie sought to reconcile the two philosophies and introduce a clear methodology for Islamic jurisprudence, known as usool ul-fiqh (Arabic for the fundamentals of jurisprudence), which was defined in his famous book, Al-Risala. In the book, Shafie outlined four main sources from which Islamic law can be derived.

These are the Qur’an, the prophetic Sunnah, ijmaa (consensus, practiced among early Muslims) and qiyas (analogical deduction).

Shafie’s contributions to the fundamental of Islamic jurisprudence were monumental.

He prevented the fraying of the study of fiqh into hundreds of different, competing schools by providing a general philosophy.

His followers codified his legal opinions, which were laid out in another book called “Kitab Al-Umm” after his death in 204H, culminating into the Shafie school of thought.

Today, this school of thought comes second after the Hanafi line of thought and is very popular in Egypt, Palestine, Syria, Yemen, East Africa, and Southeast Asia. In 187H, Shafie visited Syria, and from there, proceeded to Egypt, where he settled. As a student under Imam Malik, he was welcomed with great respect by the people and scholars of Egypt.

In 810 CE, Shafie went to Baghdad, where he would be surrounded by a large number of students who were eager to acquire knowledge of Islamic knowledge and practices from him. One important student there was Ahmad ibn Hanbal.

He would later learn that the new caliph of Baghdad, Al-Ma’mun, held some very unorthodox beliefs about Islam and was known to persecute anyone who disagreed with him.

As a result, in 814 CE., Imam Shafie made his final move, this time to Egypt, where he was able to refine his studies. Baghdad, Cairo and Hijaz were the main centers of Shafie’s activities and it was from these cities that his teachings spread in the ninth century CE.

During the time of Sultan Salahuddin, the Shafie school of thought was the most prominent in Egypt. In fact, the Al-Azhar imams remain Shafie to this day.

His school of thought is thoroughly studied at the Egyptian institution, along with the other three major Sunni schools.

During the course of his life, Shafie also suffered from political intrigues.

He was once sent as the judge of Jazan in Yemen, where he would then be accused of political involvement. In 184H, he was arrested and taken in chains to Baghdad, the seat of the Abbasid Empire.

However, when he met Caliph Harun Al-Rashid, Shafie gave an impassioned and eloquent defense, which had greatly impressed the caliph.

Not only was he released, but Al-Rashid insisted that he stay in Baghdad to help spread Islamic knowledge in the region. Shafie agreed and stayed away from politics. While in Iraq, he was reunited with Shaybani and learned more about the Hanafi school of thought.

He had never met Imam Abu Hanifa, but had great respect for the originator of the study of Islamic jurisprudence and his school of thought. In 199H, Shafie settled in Egypt, where he lived up until his death in 204H.

In Egypt, Shafie was able to edit off his legal opinions and finally organize the study of the fundamentals of Islamic jurisprudence.

Essentially, Shafie had learnt fiqh in Baghdad and memorized Prophetic sayings that were well known in Iraq, but not in Makkah and Madinah.

Shafie authored several books, the most well known of which is “Al-Umm,” which is a collection of his writings and lectures.

Several of his students also collected his writings, lectures and rulings in the form of various books and quoted him in their works.

“I wish people would learn what I have to give without it being attributed to me,” Shafie was quoted as saying.

“It is in this way that I will receive divine reward without praise.”

And it is with this that Imam Shafie became one of the highest-ranking scholars in the Islamic sciences.  
( arabnews )

READ MORE - The Shafie school of thought is the second largest followed by Muslims worldwide
Akhlak (18) Bibel (6) Dakwah (38) Hak Azazi Manusia (13) Islam (23) Jihad (17) Kristen (19) Liberalisme (46) Mualaf (9) Muslimah (15) Natal (2) Orientalis (8) Peradaban (42) Poligami (9) Politik (29) Ramadhan (10) Rasulullah (22) Ridha (4) Sejarah (38) Tasawuf (24) Tauhid (16) Tawakal (3) Teroris (12) Trinitas (8) Yahudi (36) Yesus Kristus (34) Zuhud (8)