Ustad Sedang Shalat, Tolong Jangan Ribut


Ustad Sedang Shalat, Tolong Jangan Ribut. Perkenalkan, kami keluarga besar Ustad Abdul Somad ( UAS ), dari kelompok usia yang lebih muda. Jumlah kami tak banyak. Rata-rata sepantaran. Pernah bermain, belajar, bersama-sama. Waktu Ustad pulang dari Maroko, semua keluarga ngumpul lagi. Padahal sebelumnya jarang sekali bertemu. Kami menetap di rumah bersama keluarga masing-masing di daerah yang terpisah jauh, menjalani aktivitas sehari-hari. Memiliki seseorang seperti UAS di tengah keluarga adalah karunia.

Sejak dulu UAS menonjol. Pintar. Pandai bergaul. Kami saling menghormati. Setelah UAS ditakdirkan sebagai pendakwah, pensyarah, ustad, ulama, datok, rasa hormat berubah cinta. UAS pun mencintai kami tanpa diminta. Beliau dorong kami bikin persatuan keluarga. Punya WA grup, UAS adminnya. Kami rutin gelar pengajian sekali sebulan, lokasinya pindah-pindah rumah. Rumah kami juga. Jalinan kasih sayang tersimpul semakin dalam.

Sebagai putera Riau, UAS punya janji moral yang dia ikrarkan langsung kepada dirinya yang sedang bersujud di hadapan Sang Khalik. Yaitu, berdakwah secara rutin ke masyarakat suku pedalaman Talang Mamak nun di tengah hutan belantara. Kamilah yang diboyongnya sebagai teman. UAS membuka mata hati kami melihat, merasakan, bagaimana beratnya perjuangan dakwah. Butuh pengabdian, kecintaan, totalitas.

Banyak berjalan, banyak dirasa. Tak habis satu kitab menulis sosok UAS. Terkait riuh-rendah pencalonan UAS sebagai cawapres, kami hanya ingin menyampaikan beberapa hal pendek. UAS, Saudara kami ini, menerima takdirnya sebagai ulama yang dikasihi masyarakat. Demi ‘menebus’ Qadarullah itu, dia terapkan standar tinggi dalam menjalani kehidupan pribadinya. Shalatnya, mengajinya, mu’malahnya, semua ditempuh UAS pada level-ekstra. Apapun risikonya.

Bapak Ibu yang pernah langsung berhadapan dengan UAS di luar mimbar insyaallah tahu: bicaranya irit sekali, berbeda jauh saat sedang berdakwah yang begitu mempesona, pandangannya kalau bicara jarang menatap kita, wajahnya selalu terpekur ke bawah. Melihat dia makan, kita yang kasihan. Hanya beberapa kali suap saja. Jangan pernah bawa UAS ke mall, tak pernah tahan dia lebih dari 15 menit. Tak perlu ingatkan UAS perkara syubhat. Kita baru mau bilang ‘jangan’, beliau sudah jauh memunggungi kita di seberang lautan. Semua ekspresi hidup UAS adalah gerak shalat. Sujud, sujud, sujud. Kalau UAS sedang shalat tapi ada yang ribut, beliau bad-mood.

Sudahlah. Jangan ganggu UAS lagi dengan isu pilpres. Beliau kan sudah bilang tak mau, mohon dihargai prinsip orang. Kami awam pengetahuan agama. Tapi heran saja melihat cara kita memperlakukan ulama di Indonesia. Kita seret paksa mereka masuk ke pusaran politik praktis. Kita adu ulama dengan ulama untuk berlaga di arena sabung suara. Apa tak kualat? Seorang tokoh besar membanding-bandingkan survei popularitas UAS dengan calon lain yang notabene Habaib, cucu- cicit Rasulullah. “Lebih nendang statistik UAS,” katanya. Astaghfirullah.

Sedih hati UAS. Beliau sedang tak bahagia sekarang. Shalat-nya ulama, benteng umat yang sangat berharga. Berhentilah ribut-ribut. Tolong jangan ganggu lagi shalat mereka. Jangan nodai sujud ulama-ulama kita. Menyesal kita nanti. Malu kita dengan dunia luar. Harga tertinggi seorang ulama di Indonesia rupanya hanya sebiji kursi kekuasaan berdurasi lima tahun. Masyallah.

Ingat kisah hidup satu-satunya sahabat Nabi yang tersisa pada sebuah masa, yang terpaksa memilih tinggal di tengah padang pasir dalam keadaan lumpuh, buta, sampai akhir hayatnya, hanya karena tak tahu lagi bagaimana cara menghindari ajakan penguasa saat itu agar ia menjadi hakim istana. Kami takkan pernah sudi membiarkan UAS akan berpikir suatu hari nanti lebih memilih mengucilkan diri dari hiruk-pikuk dunia, daripada takut mengecewakan gelora birahi politik praktis sesaat kita.

Kami berupaya semampunya saat ini menghibur UAS, membesar-besarkan hatinya, agar tak larut dalam duka lara. Sebagian dari kami coba mengingatkannya kepada agenda dakwah ke Talang Mamak akhir Agustus ini, sesuatu yang ia cintai. Sebagian yang lain mencoba menghadirkan gelak-tawa dalam diskusi-diskusi WAG kami, seperti biasa. Apa saja dilakukan, yang penting UAS bersemangat lagi.

Oh iya, sebelum kami lupa, nama grup WA kami itu ‘Ukhuwah Angkatan Sembilan-Enam (UAS) UIN Suska, Riau”. Cuma setahun kebersamaan kami dengan UAS di kampus dulu. Lalu beliau merantau ke Mesir dan Maroko. Justru waktu yang sedikit itulah yang membuat silaturahmi kami melangkah sejauh ini. Kami bangga menyebut UAS sebagai keluarga. Keluarga yang saling melindungi. Kalau Bapak Ibu juga menganggap UAS bagian dari keluarga, sebarkan tulisan ini ke keluarga-keluarga kita yang lain.

Saat menyebarkan, tak usah repot-repot membuat tulisan ‘Copas dari Sebelah’, karena sudah kami buat sendiri di atas tulisan ini. Ya, benar, kami meng-copas-nya langsung dari orang di sebelah kami, orang yang sama di sebelah sajadah Bapak Ibu, di sebelah pundak umat, di sebelah siapa saja yang tak hirau dengan pertemuan-pertemuan kekuasaan, karena baginya yang ada hanya pertemuan maha-rindu di kampung akhirat. Siapa dia? Ustad Abdul Somad.

Wassalam

Oleh: Ramon Damora
Majelis UAS (Ukhuwah Angkatan Sembilan-Enam) UIN Suska, Pekanbaru, Riau [ Suara dari Keluarga UAS: “Ustad Sedang Shalat, Tolong Jangan Ribut” ]

READ MORE - Ustad Sedang Shalat, Tolong Jangan Ribut

Mengetahui Dimana letak akal, nafsu dan ruh ?


Allah سبحانه و تعالى sebelum menciptakan manusia, telah terlebih dahulu menciptakan AQAL dan NAFSU, tertera dalam kitab durratun nasihin karangan syeh ustman bin hasan as syakir,dalam hadist qudsi di sebutkan, Saat Allah سبحانه و تعالى menciptakan Aqal, Allah سبحانه و تعالى mengajukan pertanyaan pada Aqal, Yaa ayyuhal aqli, man anta wa man ana, Wahai Aqal, siapakah kamu dan siapakah Aku? ketika menerima pertanyaan, “Siapa kamu dan siapa Aku?” aqal menjawab “Ana A’bdun wa anta Rabbun.” saya hambaMu Dan Engkau Tuhanku.

Di sisi lain, saat Allah سبحانه و تعالى menciptakan Nafsu, dan di ajukan pertanyaan yang sama, nafsu menjawab,Ana ana wa anta anta, Aku ya aku, dan kamu ya kamu, lantas Allah سبحانه و تعالى memasukkan ke neraka panas selama 1000 tahun, setelah itu nafsu di tanya lagi, namun tetap gak kapok juga dengan menjawab hal yang sama, lantas di masukkan ke neraka dingin selama 1000 tahun, setelah itu di tanya lagi, tetap juga sama jawabannya, lalu di masukkan keneraka lapar selama 1000 tahun, lalu di angkat dan di tanya lagi, baru menjawabAna abdun wa Anta Robbun.

Aqal adalah makhluq suci dengan fithrah Illahi, Aqal itu ibarat kusir yang mengendalikan nafsu.

Di manakah letak Aqal dan nafsu….?

Aqal dan nafsu itu terletak di dalam QOLBU, qolbu dalam arti jasmani adalah Organ jantung manusia, di terangkan dalam hadist nabi riwayat muslim,

Nabi bersabda : 

Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah “Qolbu” “. ( Hadis Riwayat Bukhori).

Qolbu dalam bahasa arab artinya jantung, menurut Imam Al-ghozali, perenungan itu dilakukan mulai dari qolbu yang berpusat di dada, bukan dilakukan melalui pemikiran (al-fikri) dalam otak kepala..

Firman Allah SWT :

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَـٰكِن تَعْمَىالْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

afalam yasiiruu fii l-ardhi fatakuuna lahum quluubun ya’qiluuna bihaa aw aatsaanun yasma’uuna bihaa fa-innahaa laa ta’maa l-abshaaru walaakin ta’maa lquluubullatii fii shshuduur

[22:46] maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai qolbu, dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah qolbu yang di dalam dada.

QS. Al-hajj 22:46

Di jelaskan pada ayat di atas, bahwa qulub atau qolbun itu letaknya fis shuduur, di dalam dada, dan yang ada di dada itu adalah jantung (heart), bukan hati / liver, yang berada di bawah dada, di atas perut.

Dalam alqur’an di jelaskan.. Bahwa sesungguhnya ILMU itu letaknya di jantung qolbun fis shuduur, ilmu itu mencakup Aqal dan Nafsu.

Dalam jantung, ada syaraf-syaraf yang bersambung ke otak.

Otak ada dua bagian, yaitu otak kanan yang disebut EQ, tempat syaraf emosional, seperti marah, sedih, senang, takut, dll. DI sinilah yang menghubungkan dengan NAFSU yang berpusat di jantung.

Yang kedua yaitu otak kiri yang menghubungkan syaraf memory, kecerdasan, berfikir, daya ingat, rasional,yang disebut IQ pusat intelegensi, di sinilah PUSAT AQAL yang berhubungan dengan syaraf di jantung.

Jantung bukan sekedar pemompa energy yang berupa darah menuju ke otak, sebab jantung adalah pusat segala energy yang ada, detakan jantung itu tidaklah bekerja otomatis, tapi di kendalikan oleh Sang Maha Pengendali.

Saat manusia menforsir daya otak kiri-nya, maka jantung bereaksi, begitu juga jika perasaan cinta, benci, senang, sedih, di otak kanan bangkit, maka akan bereaksi pada jantung.

Imam ghozali berpendapat dengan dasar ayat alqur’an di atas, bahwa ILMU itu bukan di otak, tapi di dalam qolbu, penglihatan itu bukan pada mata, tapi di dalam qolbu, pendengaran itu bukan pada telinga, tapi di dalam qolbu, pembicaraan itu bukan pada mulut, tapi di jantung qolbu haqiqotun..

Otak, mata, telinga, mulut, itu hanyalah peralatan yang berupa RAGA, yang di kendalikan oleh AQAL dan NAFSU yang terletak dalam JANTUNG QOLBU.

Lalu apakah ruh itu??

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

wayas-aluunaka ‘ani rruuhi quli rruuhu min amri rabbii wamaa uutiitum mina l’ilmi illaa qaliilaa [17:85]

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. QS. al-isra 85

Alqur’an sendiri telah menegaskan, bahwa Ruh itu adalah urusan-Nya, Kita tidak tahu melainkan sedikit, sedikit bagi Allah سبحانه و تعالى akan pengetahuan manusia.

Ruh ibarat Energi, ruh dalam lafadz arab, berasal dari kata “riih” رياح yang maknanya angin.

Dalam ilmu pengetahuan eksak, gerakan angin itu terjadi karena reaksi energi elektromagnetic, yang terus bergerak, energi elektromagnetic ini dalam unsur atom di sebut elektron yang kita rasakan sebagai energi aliran listrik.

Dan ternyata, tiada satupun profesor di dunia yang dapat menjelaskan apakah listrik itu dengan paten, seperti halnya tiada seorang ulama’ yang dapat menjelaskan apakah ruh itu.

Yang kita tahu, hanyalah sebatas pengertian bahwa, ruh itu adalah energi yang dapat menghidupkan benda organik, sedangkan listrik itu adalah energi yang dapat menghidupkan benda anorganik.

Jadi, ruh itu bukanlah seperti di film atau gambar, yang berbentuk bayangan, atau asap, sungguh berlepas diri tentang hal itu.

Begitu juga listrik, bukan lah petir yang berapi, terang, seperti dalam gambar, itu hanyalah reaksi percikan api, yang panas, sedangkan listrik sendiri tidak berwarna, tidak terlihat, juga bukan kalor atau panas.

Kesimpulanya.
RAGA itu di kendalikan oleh AQAL dan NAFSU yang terletak dalam QOLBU yang dapat hidup karena ada RUH dengan KUASA الله سبحانه و تعالى

READ MORE - Mengetahui Dimana letak akal, nafsu dan ruh ?

Membaca Konspirasi AS-Israel di Timur Tengah


Membaca Konspirasi AS-Israel di Timur TengahDari perspektif geopolitik, kita bisa memprediksi bahwa konflik di Timur Tengah bukan saja konflik antara Palestina-Israel an-sich, tapi juga telah merupakan skenario jangka panjang dari gerakan Zionis-Internasional untuk menguasai wilayah Palestina, khususnya, dan Timur Tengah secara lebih luasnya, melalui pembentukan "Israel Raya," yaitu suatu tanah air Yahudi yang dijanjikan di dalam Talmud.

Tulisan ini mencoba menarik garis merah tentang terorisme yang melegenda sejak peristiwa 11 September 2001 lalu dan berbagai implikasi geopolitik di Timur Tengah akibat adanya konspirasi AS-Israel untuk mengontrol, menguasai dan mengendalikan wilayah tersebut.

Dukungan AS terhadap Israel 

Pertanyaan yang paling penting adalah, mengapa AS selalu berada di belakang Israel? Untuk mengetahui jawabannya, kita perlu merujuk pada ucapan Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon, di hadapan parlemen Israel, Knesset, di Tel Aviv, tanggal 3 Oktober 2001, yang mengatakan, "Kamu (Simon Peres) menceritakan kepada saya tentang Amerika akan berbuat ini dan akan berbuat itu. Saya ingin menceritakan kalian sesuatu yang sangat jelas; jangan cemas tentang tekanan AS terhadap Israel. Kami, bangsa Yahudi, mengontrol Amerika. Dan rakyat AS mengetahui hal seperti ini."

Namun malang bagi AS, kaum Zionis Yahudi di AS ternyata lebih loyal kepada negara Israel daripada kepada negara Amerika. Walaupun, yang terjadi sebenarnya menunjukkan, kejahatan negara Israel merupakan sebuah perluasan militer dan politik langsung dari AS sejak 1948. Dimana dibawah kepemimpinan Yitzhak Shamir, Menachem Begin, dan Ariel Sharon, semua tindakan teror yang brutal dari negara Israel melawan bangsa Palestina untuk lebih dari 55 tahun telah didukung secara penuh baik finansial, persenjataan, maupun politik, oleh pemerintahan AS. Suka atau tidak, setiap tahun AS memberikan bantuan keuangan mencapai 5 sampai 12 miliar dolar kepada Israel, yang tentu saja tak pernah dikembalikan lagi.

Kita juga bisa melihat bahwa pelanggaran berkali-kali yang dilakukan oleh Israel (didukung AS) terhadap hukum internasional dan konvensi Jenewa No 181, 194, 242, 338, dan lain-lain, termasuk deklarasi universal HAM melalui eklusivitas rasial, separatisme, pembersihan etnik, dan holocoust terhadap bangsa Palestina selalu didukung oleh kepentingan Yahudi di dalam pemerintahan AS melalui hak veto yang dimilikinya.

Hal itu menandakan bahwa kaum Zionis Yahudi di AS telah mendapat kekuasaan yang berpengaruh di semua lini atau bagian di pemerintahan AS, memiliki profesi yang legal dan menguasai semua tingkat peradilan, universitas, maupun perusahaan media massa yang berpengaruh sekaligus mendominasi keuangan nasional dan internasional. Kekuasaan yang mereka miliki, secara nyata dan jelas, digunakan dalam apa yang disebut sebagai "teori konspirasi" untuk mendukung segala kepentingan dari gerakan Zionis Internasional yang berbasis di AS dan Israel. 

Kelompok parasit ekonomi dan kekuasaan politik dari Zionis Yahudi di dalam pemerintahan AS tersebut, kini mencapai puncaknya pada masa kekuasaan rezim Bush dengan munculnya Dick Cheney (Wakil Presiden), Donald Rumsfeld (Menteri Pertahanan), Richard Perle (Kepala Badan Kebijakan Pertahanan), dan Paul Wolfowitz (Wakil Sekretaris Menteri Pertahanan), yang pada tahun 1997 merancang "Proyek Pengendalian Dunia (PNAC)" untuk menguasai wilayah Timur Tengah. Mereka berkolaborasi dengan kelompok garis keras di Partai Likud-Israel, yang dipimpin oleh Ariel Sharon, untuk terus mempengaruhi dan mengendalikan berbagai kebijakan pemerintah AS. 

Menguasai Timur Tengah

Kita mestinya mengetahui bahwa agenda dan tujuan utama dari konspirasi AS-Zionisme-Israel adalah menempatkan yahudi-yahudi imigran ke Palestina dan mengusir penduduk Palestina dari kampung halamannya ke negara-negara Arab sekitarnya. Kaum Zionis bercita-cita untuk membentuk "Eretz Israel" atau Israel raya, yaitu tanah yang dijanjikan di dalam Talmud, meliputi wilayah Arab Saudi, Suriah, Yordania, Mesir, sampai ke Irak, atau wilayah yang sekarang membentang dari sungai Nil sampai sungai Eufrat. Ini merupakan suatu wilayah paling strategis di dunia sepanjang jalur Mesopotamia. Selain itu, wilayah ini mengandung sumber energi minyak bumi yang paling besar di dunia.

Agar agenda dan tujuan mereka dapat terealisasi, AS dan Israel melakukan konspirasi atau kerja sama, secara terang-terangan ataupun rahasia, untuk mengembangkan apa yang mereka sebut sebagai strategi "pengepungan teritorial" ke dalam wilayah Palestina maupun ke berbagai negara Arab yang punya potensi untuk mengancam eksistensi Israel. Di satu sisi, Israel bekerja keras untuk mengusir rakyat Palestina di wilayah Yerusalem Timur, Tepi Barat, dan Jalur Gaza agar keluar dari Palestina menuju Gurun Sinai dan Yordan. Di sisi lainnya, konspirasi Zionis, Inggris, dan AS berhasil menciptakan kekacauan dalam sistem internasional dengan diabaikannya resolusi PBB dan penolakan perang dari seluruh penjuru dunia ketika sekutu menginvasi dan menguasai Irak. 

Kita lihat, keberhasilan yang cepat dari invasi tersebut menyebabkan kekuatan-kekuatan strategis Arab menjadi semakin lemah. Akibatnya, keseimbangan kekuatan (power of balance) di wilayah Timur Tengah menjadi timpang dengan munculnya dominasi AS dan Israel di Timur Tengah. Dalam konteks strategis dan jangka panjang, mereka juga punya peluang besar untuk mengambil alih penguasaan ekonomi dan militer ke wilayah-wilayah Timur Tengah, Asia Tengah, dan Laut Kaspia yang kaya minyak tersebut. 

Karena itulah kita bisa mencermati adanya benang merah antara kepentingan AS untuk menguasai sumber-sumber energi minyak dunia agar dapat menjamin kelangsungan industri dan ekonomi kapitalistiknya dengan kepentingan Zionis Israel untuk merealisasikan cita-citanya membangun "Israel Raya" yang dapat mengontrol Timur Tengah, khususnya, dan dunia, pada umumnya. Karena, seperti telah disebutkan, wilayah Timur Tengah, selain mengandung sumber minyak terbesar di dunia, juga dikenal sejarah sebagai pusat dari pergolakan peradaban-peradaban besar dunia.

Titik temu dua kepentingan tersebut pada akhirnya menciptakan kombinasi strategis untuk menguasai wilayah Timur Tengah secara keseluruhan antara upaya untuk membungkam dan sekaligus menghancurkan berbagai elemen kekuatan di dalam wilayah Palestina, yang kini dikomandoi oleh Hamas dan Jihad Islam ISLAM dan upaya untuk memperlemah negara-negara basis pendukung perlawanan seperti Lebanon, Suriah, dan Iran yang dinilai dapat mengancam Israel. 

Karena itu "strategi pengepungan" keluar wilayah Palestina melalui serangan ke Suriah dan Lebanon dan pengerahan ribuan tentara Israel ke wilayah Palestina merupakan strategi dari AS dan Israel agar bisa menghancurkan berbagai elemen yang dapat mengancam skenario dan rencana jangka panjang AS-Israel membangun imperium dunia secara hegemonik.

Skenario peta jalan

Tapi kita juga mesti melihat suatu hubungan yang jelas antara rencana invasi AS ke Irak dan, pada saat yang sama, rencana proposal perdamaian "Peta Jalan" (Road Map). Inti dari proposal yang diprakarsai AS tersebut mengusulkan untuk menghentikan pendudukan Israel atas tanah Palestina yang dijajah sejak 1967 berdasarkan keputusan Dewan Keamanan PBB No 242, 338, 1379, dan keputusan KTT Beirut (28 Maret 2002) tentang perdamaian hingga terjadi penyelesaian secara keseluruhan dan universal segala konflik Israel-Palestina di tahun 2005. Walaupun demikian, kita masih bisa menangkap adanya "hidden agenda" dan "main mata" antara AS dan Israel.

Misalnya, proposal "Peta Jalan" yang diawasi tim kuartet tersebut, justru dipakai oleh Israel untuk melegalkan berbagai tindak opresi dan eksekusi terhadap rakyat Palestina dan menjadikannya sebagai instrumen keamanan Israel melalui negosiasi prioritas-prioritas dan kondisi-kondisi seperti diinginkan oleh Sharon dan Paul Mofaz (Menteri Pertahanan). Tipu muslihat politik "belah bambu" mereka adalah agar Israel bisa menciptakan konfrontasi antarfaksi di Palestina ke arah sebuah Perang Sipil antarwarga Palestina sendiri, walaupun rencana licik tersebut akhirnya gagal.

Pada saat yang sama, di tengah upaya perdamaian, Israel tetap melanjutkan pembangunan permukiman barunya bagi para imigran Yahudi dan "Tembok Berlin"-nya yang mengelilingi, menutup, memisahkan, dan membatasi kota-kota dan kampung-kampung di Palestina.

Dari perspektif ini kita bisa menyimpulkan bahwa "Peta Jalan" yang diprakarsai Bush tersebut telah gagal. Hal itu justru sangat diharapkan oleh pihak Israel. Kegagalan "Peta Jalan" menciptakan rasa frustasi yang besar tentang prospek perdamaian di Timur Tengah, tapi sekaligus memberikan Israel suatu "license to kill", seperti ditulis Republika, untuk berbuat apa saja tanpa landasan hukum yang legal. Karena itu Israel kemudian berencana untuk membunuh dan mengusir Arafat dan tokoh-tokoh Islam lainnya seperti Syeikh Ahmad Yasin.

Sayangnya, penolakan DK PBB dan 133 negara anggota Majelis Umum terhadap rencana Israel tersebut ternyata dengan mudah dapat diveto oleh AS dan Israel. Itu menandakan bahwa AS setuju terhadap segala upaya apapun dari Israel untuk menguasai Palestina, bahkan dengan cara membunuh atau mengusir Arafat dan tokoh-tokoh Palestina lainnya. 

Perilaku politik luar negeri AS tersebut merupakan bukti nyata dari opini umum selama ini bahwa sekutu paling kuat dan tepercaya AS di dunia ini hanyalah Israel. Contoh paling aktual dan konkret dari reaksi AS adalah menyalahkan Suriah yang dianggapnya melindungi "kelompok teroris" ketika Israel menyerang teritori Suriah. Padahal kita tahu, serangan militer Israel ke dalam teritori Suriah tersebut sudah memiliki agenda yang jelas, yang juga diketahui dan didukung oleh pemerintah AS. Begitupun dengan aksi militer pesawat-pesawat tempur Israel ke wilayah Lebanon di atas langit Beirut dan Tripoli dan blokade ribuan militer Israel di wilayah Palestina secara nyata dan jelas mendapat restu dari AS. 

Dari analisis dan fakta-fakta tersebut seharusnya kita mengerti bahwa tak ada logika di dalam gerakan Zionis Internasional untuk bersedia menciptakan perdamaian dunia. Di dalam berbagai kasus yang ada, konspirasi AS dan Israel tampaknya telah memasuki wilayah berbahaya sebagai "State-Terorism" yang dapat sangat mengancam perdamaian di Timur Tengah maupun belahan dunia lainnya. Kita mesti waspada terhadap konspirasi AS-Israel tersebut. Karena sebagai "Negara Teroris" (State-Terorism), yang didukung kemampuan finansial dan intelijen yang baik (well organized crime), mereka sedang mengarahkan pedangnya pada upaya penaklukan pusat-pusat kekuatan Islam di Timur Tengah, dan juga tentu saja, negara-negara Islam lainnya termasuk Indonesia. Agenda tersebut, sebenarnya, jauh-jauh hari telah dirancang sejak tahun 1993, ketika seorang Prof Yahudi, Samuel Huntington menulis karya mahadahyat tentang "The Clash of Civilization" pasca-runtuhnya imperium Uni Soviet, 1992. (RioL)
Laknatullah Teroris Faq Oleh : Redaksi 13 Oct 2003 - 9:05 am

READ MORE - Membaca Konspirasi AS-Israel di Timur Tengah

Kisah Aneh dan Unik Ketika Soekarno Dijadikan Nabi


Kisah Aneh dan Unik Ketika Soekarno Dijadikan Nabi - Ada-ada saja keanehan di negara ini. Ada tuhan palsu, kitab suci palsu, agama palsu, dan tak ketinggalan Nabi palsu. Namun dalam jejak sejarah mungkin baru kali ini ada ajaran yang menjadikan Presiden Pertama RI, Soekarno, sebagai Nabi dalam arti sebenarnya dan bukan metafor.

Adalah Ajaran Adari yang memiliki gagasan gila itu. Tidak hanya itu, mereka juga bisa jadi menjadikan para presiden selanjutnya sebagai Nabi, katakanlah Soeharto, Habibie, Megawati bahkan juga tidak mustahil, presiden Indonesia saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurut Rahnip dalam bukunya “Aliran Kepercayaan Dan Kebatinan dalam Sorotan” (Pustaka Progresif: 1997), Ajaran Adari menyatakan bahwa Sang Gusti telah bersatu (manunggal) menjadi satu ke dalam diri Bung Karno. Jadi Tuhan menurut ajaran ini setara dengan Bung Karno, dan Bung Karno setara dengan Tuhan.

Ketika manunggal itu terjadi, maka Bung Karno adalah Gusti adanya. Sehingga segala perbuatan Bung Karno maupun perkataannya adalah perbuatan dan ucapan dari sang gusti.

Adari Sudah Ada Setelah Kemerdekaan

Menurut buku "Mengenal Aliran-Aliran Islam dan Ciri-Ciri Ajarannya" oleh Drs. Muhammad Sufyan Raji Abdullah, Lc, nama Adari tidak lain adalah singkatan dari Agama Djawa Asli Republik Indonesia. Agama paguyuban ini didirikan di Yogyakarta tahun 1948, yang persisnya pada awal tahun kemerdekaan RI, oleh Djojowolu yang mempunyai nama asli S.W.

Mangun Wijoyo, alias Mangun Suwito lahir pada tahun 1882 di Surakarta. Ia membangun ajaran Adari dari keyakinan bahwa tidak ada kitab suci agama samawi seperti Alquran, Taurat, dan Injil, yang dapat dijadikan pegangan. Dalam ritualnya, ajaran ini mengikuti cara ibadah berdasarkan keyakinan sendiri dan menetapkan tanggal satu Syura sebagai hari besarnya.

Menurut Rahnip, Mangun Wijoyo adalah penganut ajaran kebatinan. Namun ia pernah melakukan pelanggran hingga pernah dimasukkan ke dalam sel penjara. Tak lama kemudian ia mendekam di Penjara Wirogunan Yogyakarta. Dalam penjara itulah ia mengadakan perenungan.

Dari balik jeruji besi, Mangun Wijoyo mulai mengembangkan ajaran Adari. Ia menyebut ajarannya lebih sebagai agama dengan prinsip manunggaling Kawula Gusti. Bung Karno kemudian diangkat menjadi Nabi sekaligus titisan tuhan, tanpa sepengetahuan Soekarno sendiri.

Rahnip menjelaskan bahwa pada dasarnya, Adari lebih dekat ke Hindu daripada ke agama Islam dan Kristen. Hal itu diperjelas salah satu klaim teologis dari ajaran Adari yang menuduh munafik para anggotanya yang melangsungkan perkawinan secara Islami maupun Kristen.

Sedangkan bagi yang melakukan acara perkawinannya sesuai ajaran Hindu tidak dicap sebagai munafik oleh pemimpin ajaran Adari.

Narapidana adalah Nista, Padahal Soekarno Sendiri Pernah di Penjara

Mangun Wijoyo sendiri dikatakan hampir saja menjadi titisan Gusti. Namun Gusti urung masuk ke dalam diri Mangun Wijoyo, karena merasa jijik karena Mangun Wijoyo pernah masuk penjara.

Entah apa yang ada di dalam pikiran sang gusti hingga pilih-pilih kasih kepada umatnya, karena kita tahu Soekarno sendiri pernah masuk penjara, bahkan tidak satu-dua kali.

Sejarah mencatat Soekarno pernah mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Sukamiskin pada 1930. Ia divonis empat tahun penjara oleh persidangan Landraat Bandung.

Selain di Sukamiskin, Soekarno juga pernah mendekam di Penjara Bantjeuy (Banceuy) Bandung sekitar delapan bulan setelah ditangkap di Yogyakarta pada 29 Desember 1929 bersama Gatot Mangkupraja, Maskoen dan Soepriadinata dari Partai Nasional Indonesia (PNI).

Kalau sang gusti Adari jijik masuk ke diri Mangun Wijoyo hanya karena Mangun Wijoyo masuk penjara, andai sang gusti tahu Penjara Banceuy sendiri adalah penjara tingkat rendah di zaman Belanda. Penjara ini didirikan pada abad kesembilan belas, keadaannya kotor, bobrok dan tua.

Disana ada dua macam sel. Yang satu untuk tahanan politik, satu lagi untuk tahanan pepetek. Pepetek — sebangsa ikan yang murah dan menjadi makanan orang yang paling miskin — adalah nama julukan untuk rakyat jelata. Pepetek tidur diatas lantai. Sedangkan para tahanan politik tingkat atas, seperti Soekarno, tidur di atas pelbed besi.

Kalau tahu begini gimana gusti? 
Sumber : eramuslim.com

READ MORE - Kisah Aneh dan Unik Ketika Soekarno Dijadikan Nabi

Isra' Mi'raj dan Nilai Kebenarannya Bagi Umat Islam


Isra’ dan Mi’raj merupakan dua peristiwa yang berbeda. Isra’ dan Mi’raj merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam. Karena pada peristiwa ini, Nabi Muhammad Shallahu alaihi Wa Sallam, mendapat perintah untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam.

Isra’Mi’raj terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun 11 kenabian. Artinya, sebelas tahun setelah Muhammad diangkat menjadi seorang rasul. Jika Muhammad menjadi rasul pada usia empat puluh tahun, berarti peristiwa Isra’ Mi’raj itu terjadi pada saat Muhammad berusia kira-kira 51 tahun.

Peristiwa Isra’ Mi’raj dapat dikatakan terbagi dalam dua peristiwa yang berbeda. 

Dalam Isra’, Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wa Sallam, “diberangkatkan” oleh Allah Ta’ala dari Masjidilharam sampai Masjidil Aqsha, dari Makkah ke sampai Jerusalem. 

Lalu, dalam Mi’raj, Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wa Sallam dinaikkan ke langit sampai ke langit tertinggi Sidratul Muntaha. Di sini, ketika nabi samai ke langit tertinggi, Allah Ta’ala menyuruh nabi agar umatnya disuruh melaksanakan salat lima puluh kali sehari.

Pada saat itu, Nabi Musa datang dan berkata bahwa perintah itu terlalu berat dan meminta nabi meminta kepada Allah Ta’ala agar salatnya dikurangi. Dan Allah pun mengabulkannya. Maka salatn ya dikurangi menjadi 45 kali sehari. Maka, Nabi kembali kehadapan Allah Ta’ala masih terlalu berat. Dan Allah mengabulkan hingga menguranginya, tetapi Nabi Musa menyatakan masih kelebihan, sehingga terus dikurangi, hinga salat lima waktu,yaitu Shubuh (2 rakaat), Zhuhur (4 rakaat), Ashar (4 rakaat), dan Maghrib (3 rakaat), dan Isya’ (4 rakaat).

Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah salat lima waktu diwajibkan. Tidak ada nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wa Sallam.

Walaupun begitu peristiwa ini membuat Rasulullah sedih karena banyak orang yang tidak percaya dengan peristiwa ini. Namun, ada sahabat Nabi yang percaya apapun Nabi Muhamad Shallahu alaihi Wa Sallam, yaitu Abu Bakar ra. Dia mengatakan bahwa yang dikatakan Nabi pasti benar dan Abu Bakar digelari As-Shidiq yang artinya percaya pada setiap perkataan Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam. 

READ MORE - Isra' Mi'raj dan Nilai Kebenarannya Bagi Umat Islam

Strategi Global Pengepungan Dunia Islam


Dunia Islam hingga kini terus dilanda oleh persoalannya. Baik karena sebab internal, maupun sebab eksternal. Sebab ekternal yang paling mengancam saat ini datang dari AS dan sekutunya. Telah kita lihat dengan telanjang bagaimana AS menjadikan isu terorisme sebagai senjata pamungkas penghancur seluruh kekuatan gerakan Islam sedunia. Usamah, Taliban dan Al-Qoidah (sampai sejauh, kata George Tenet, Direktur CIA, telah 1000 "anggota Al-Qoidah" dari 60 negara ditahan oleh Amerika), hanyalah tujuan jangka pendek. Tapi rencana strategis mereka akan terus berlangsung dalam jangka menengah dan bahkan jangka panjang.

Rencana jangka menengah dan panjang AS jelas terbaca ketika AS mengumumkan, bahwa mereka tidak akan berhenti memerangi terorisme di Afghanistan; tapi mereka akan terus melacak jaringan Al-Qoidah di berbagai penjuru dunia.

Dengan isu perang melawan teroris ini AS memiliki justifikasi moral, politik, ekonomi dan bahkan militer untuk mengobok-obok seluruh empat regional terpenting Dunia Islam, yakni 
  1. Timur Tengah (terutama Palestina, Iraq, Iran, saudia, Libanon dan Yaman); 
  2. Asia Selatan (Pakistan dan Afghanistan); 
  3. Asia Tenggara (Malaysia, Indonesia); dan melalui Uzbekistan mereka masuk ke regional 
  4. Asia Tengah, terutama mantan Uni Sovyet (Uzbekitan, Kazakstan , Kyrgiztan, Tajikitan, Azerbaijan dan Turkeministan). 
Bahkan Turki sebagai pusat centrum Asia Tengah juga telah disebut-sebut oleh Direktur CIA, Tenet, di hadapan Kongres Amerika: "Sarana diplomatic dan militer AS berada dalam bahaya besar, terutama yang berada di Israel, Arab Saudi dan Turki."

Adapun minoritas muslimin di Barat mereka sudah lebih dahulu mendapatkan represi seketika peristiwa WTC terjadi.

Agaknya inilah masa terberat yang merata di seluruh Dunia Islam dibandingkan dengan era perang Iran-Iraq 1978; Afghanistan-Soviet 1979 dan Iraq-Kuwait 1990. Pada tiga peperangan yang lalu Blok Barat dan Blok Komunis lebih berkonsentrasi ke satu negara atau regional saja; juga dengan isu yang berbeda-beda, dan tarik menarik kepentingan antara AS dan Soviet. Tapi kini (paska WTC) dunia berada dalam satu arus yang sama; menghantam semua regional komunitas Islam, juga dengan isyu yang seragam: "perang melawan terorisme" (baca: terorisme Islam).

Akibat langsung dari WTC melahirkan lima variasi pengepungan terhadap Dunia Islam & kaum Muslimin, yakni:

Pertama: memungkinkan AS dan sekutunya untuk berbuat semena-mena dengan komunitas muslim di Barat. Sebagaimana penangkapan dan pemeriksaan 1100 (seribu seratus) muslimin dan muslimin Arab di AS dampak serangan WTC yang lalu. 

Kedua: ia memungkinkan AS untuk melakukan tekanan ke berbagai pemerintahan dunia untuk bersama-sama AS memerangi musuh bersama; yakni gerakan Islam. Sebagaimana hal ini telah terlihat di Negara India dan tetangga, Filipina. Latihan Gabungan militer AS - Filipina dimulai pada kamis (31/1) 600 pasukan AS diturunkan di sana. 

Pada Selasa (29/1) Dennis Blair, Komanda Pasukan AS di Pasifik, telah menyatakan saat berada di Singapura bahwa Indonesia adalah mata rantai yang lemah dalam konteks dukungan kepada AS dalam memerangi terorisme dunia ,karena gagal mengangkap jaringan Al-Qoidah. Secara implisit berarti Singapura diakui akan peran positifnya dalam memerangi terorisme Islam di negerinya. Atas keberhasilan Singapura pemerintah Singapura menahan 15 orang yang dianggap terlibat dengan Al-Qoidah, maka Menhan AS, Rumsfeld memuji: "kami senang melihat keberhasilan mereka." Singapura kemudian bertindak lebih jauh dengan membredel website Islam anti AS; serta pelarangan siswi berjilbab di sekolah umum.

Ketiga: ia memungkinkan AS untuk melakukan tekanan ke berbagai pemeritahan Dunia Islam; dan untuk kemudian melakukan campur tangan. Sebagaimana yang telah sukses AS lakukan tehadap pemerintahan sementara Afghansitan. Hamid Karzai Pimpinan Afghan pada Rabu 30/1/2002 pukul 09 WIB telah disambut dengan mewah dan penuh kehormatan oleh pemerintah AS, saat Bush memberikan pidato tahunannya di hadapan Kongres. Jelas ini memiliki pesan politik yang dalam. Bahwa Afghan – yang menjembatani Asia Tengah dan Asia Selatan -- akan dijadikan pijakan utama AS di sana. Pada saat yang sama Karzai telah mempersilahkan pasukan AS untuk hadir di seluruh bumi Afhganistan. Itu berarti proyek operasi militer $ 1,8 juta perhari di Afghanistan akan terus berlangsung.

Keempat: ia memungkinkan AS untuk menuding berbagai partai, jemaah, Ormas, dan aktivis Islam di mana saja di belahan dunia Islam sebagai bagian dari rantai Alqoidah. Maka lebih jauh mereka bisa melakukan infiltrasi dan campur tangan ke Negara dan belahan bumi mana saja tanpa kecuali, baik dalam artian politik, militer, maupun ekonomi. Dalam hal ekonomi sumber dana gerakan Islam akan dibuat kering, dibekukan, dan membuat takut para penyumbangnya karena akan terkena tuduhan mendukung terorisme. Hal ini terbukti misalnya ketika Otoritas Palestina (6/2) menulis dalam dokumen setebal 17 halaman, bahwa mereka telah menahan 195 anggota gerakan radikal, membekukan 59 rekening bank dan menutup 15 pabrik amunisi Palestina.

Kelima: musuh terberat kaum muslimin, yakni Israel dan Zionisme internasional (QS.5:82) jelas akan sangat diuntungkan dengan program "Perang melawan terorisme" versi AS. Apalagi AS telah menyatakan bahwa HAMAS, Jihad Islam dan Hizbulloh Libanon adalah bagian dari jaringan terorisme dunia. Bahkan sampai seorang Arafatpun telah tanpa malu untuk menyebut secara terang-terangan di New York Times (3/2/2002) bahwa perlawanan rakyat Palestina adalah teroris. Hal ini mendapat kecaman keras dari HAMAS dalam lembaran resmi Komunike Hamas. Bagaimana mungkin Arafat bisa berkata seperti itu, jika jihad bersenjata akhir-akhir ini juga dilakukan Brigade Al-Aqsho yang nota bene adalah berada di bawah organisasi Fatah milik Arafat.

Makna strategis pengepungan dunia terhadap Islam, bagi Israel, adalah akselerasi realisasi Zionisme sebagai adidaya sejati dunia. Maka Israel tentu akan berperan aktif dalam pengepungan ini, sebagaimana diakui seorang penulis Israel, Geil Hofman, di harian Jerusalem Post (14/9/2001): "Sesungguhnya perbedaan antara koalisi yang dibangun oleh Bush Senior (George Bush) melawan Irak dan koalisi yang dirancang Bush Yunior (George W Bush) melawan terorisme (kali ini) adalah bahwa Israel akan terlibat aktif dalam aksi terakhir yang memungkinkannya untuk memukul Irak, Iran dan Afghanistan."

Belajar dari beberapa maker Israel masa lalu, sangat mungkin situasi kebencian dan ketakutan terhadap "terorisme Islam" ini akan diperparah dengan operasi terorisme Israel yang berkedok Islam. Tengok saja tiga kasus di bawah ini. (www.davidduke.com) 

(1) Lavon Affair

Pada tahun 1954, pemerintah Israel menggelar sebuah operasi teror rahasia terhadap Amerika Serikat dengan sandi Operation Suzannah. Operasi ini memplot membunuh warga Amerika dan meledakkan berbagai instalasi Amerika di Mesir. Rencana Israel adalah meninggalkan barang bukti yang berdampak pada tuduhan AS bahwa rejim Mesir melakukan sabotase ini sehingga Amerika di belakang Israel berperang dengan Mesir. Agen-agen Yahudi berhasil meledakkan sejumlah kantor pos dan perpustakaan Amerika di Kairo dan Alexandria. Ketika akan meledakkan bioskop Amerika, Metro-Goldwyn-Mayer Theater, bom agen Israel meledak premature. Oleh karena itu, baik Mesir dan Amerika berhasil mengungkap dan menghentikan plot ini pada tahap-tahap awal. Menlu Israel, Pinhas Lavon, kemudian dipaksa untuk mengundurkan diri. Pada saat ini, media massa dan penerbitan Amerika yang didominasi Yahudi secara jitu membungkus tindakan subvesi Israel ini terhadap bangsa Amerika. Sehingga sebagian besar orang Amerika tidak mengetahui sama sekali kasus ini.

(2) Serangan Teroris Israel terhadap USS Liberty

Pada tahun 1967, selama Perang Enam Hari, Israel juga melakukan tindakan teroris yang serius terhadap Amerika Serikat. Pada tanggal 8 Juni, Israel mempergunakan pesawat tempur dan kapal-kapal torpedo tanpa identitas untuk melancarakan serangan satu setengah jam terhadap kapal AL Amerika Serikat, USS Liberty yang mengakibatkan tewas 34 orang dan 171 lainnya luka-luka. Israel pertama-tama menyerang tower radio USS Liberty agar Armada Keenam Amerika Serikat tidak mengetahui bahwa pihak Israel adalah pelaku penyerangan ini. Setelah pesawat-pesawat tempur Israel yang tanpa identitas itu dengan gencar membom dan menyerang USS Liberty, kemudian Israel mengirim kapal-kapal torpedo untuk menuntaskan misi ini. Mereka bahkan menembaki dengan senjata mesin perahu-perahu penyelamat yang sudah diturunkan dalam upaya untuk memastikan tidak satupun yang selamat (para saksi) yang dapat mengungkapkan pelaku serangan tersebut. Karena heroisme dan kemampuan kapten dan kru kapal USS Liberty membuat rencana Israel itu gagal total. Mereka mampu mempertahankan kapal itu tetap mengapung dan juga mengkontak dan memberi tahu Armada Keenam bahwa pihak Israel ,bukan Mesir, yang telah menyerang kapal tersebut. Mengetahui rencanannya telah terungkap, Israel menarik mundur dan dengan diam-diam mengklaim serangan itu merupakan kasus salah identifikasi, dikira kapal perang Mesir.

Menlu Amerika Serikat pada waktu itu, Dean Rusk, dan Kepala Staf Gabungan AS, Laksamana Thomas Moorer, keduanya menyatakan serangan itu bukanlah kecelakaan. Buktinya hari itu langit sangat cerah dan kecepatan angin normal serta USS Liberty memasang bendara Amerika yang berukuran besar dan nomor identitas internasional yang ditulis dalam ukuran besar di lambung kapal tersebut. Pesawat-pesawat tempur Israel melintas di atas kapal USS Liberty lama sebelum serangan itu dilakukan, terbang sangat dekat sehingga anggota kru USS Liberty bahkan dapat melihat lambaian tangan-tangan mereka ketika melintas. Media massa Amerika yang didominasi Amerika tidak mengungkapkan kemarahan atas serangan itu dan juga lobi Yahudi dapat mencegah penyelidikan formal Kongres atas serangan itu.

Maka kita tunggu saja makar Zionis Israel lainnya yang terkait dengan eksploitasi isu terorisme Islam saat ini. 

Tiga Tujuan Asasi Propaganda "Terorisme Islam" 

Ada tiga muara yang akan diraih dari propaganda "terorisme Islam ini:

Pertama, Pembentukan opini dunia, bahwa Islam adalah musuh kemanusiaan dan dunia. Inilah persis yang diinginkan oleh Huntington dalam tesis The Clash of Civilizations pada 1993 yang lalu, yang ia tuliskan untuk Deplu AS. Kalimat Huntington dalam tesisnya bahwa "Islam has a bloody border" (Islam memiliki tapal batas yang berdarah), adalah ungkapan lain bahwa Islam adalah agama teroris.

Kedua. Hal di atas akan potensil berdampak menjamurnya mental tertindas, terhina, malu, minder di kalangan muslimin yang lemah iman, untuk kemudian memunculkan fenomena "kemurtadan" terhadap Islam, sebagaimana yang telah disinyalir oleh Al-Quran. "Dan mereka tidak akan pernah berhenti memerangi kalian hingga mereka mampu memurtadkan kalian dari agama kalian , jika mereka mampu". (Qs.2:217)Naudzubillah.

Ketiga, Dua hasil di atas adalah modal utama menguasai dunia dengan leluasa. Karena musuh terbesar paska Komunis, yakni Islam, telah bisa mereka taklukkan. Inilah hal yang diimpikan Zionisme dunia , untuk kemudian menjadikan diri mereka lebih super dari super power AS. Keyakinan ini telah l dimiliki Sharon ketika ia mencela Simon Peres yang terus khawatir akan kehilangan bantuan Amerika bila Israel tidak menghentikan berbagai serangan. Jawab Sharon: “Setiap waktu kita melakukan sesuatu Anda mengatakan kepada saya Amerika akan melakukan ini dan itu . . . Saya tegaskan kepada Anda: Jangan kuatir dengan tekanan Amerika kepada Israel. Kita, bangsa Yahudi, mengontrol Amerika dan bangsa Amerika tahu hal ini” --- Ariel Sharon, 3 Oktober 2001 (berita yang termonitor dari radio Yid Israel pada 3/10/2001).

Kesimpulan

Beberapa kesimpulan yang bisa kita tarik dari uraian di atas adalah:

Pertama, kebencian dan permusuhan dari fihak luar Islam adalah sunatullah yang akan terus berlangsung hingga hari kiamat, sebagaimana diisyaratkan Alquran. Pengepungan dan peperangan mereka terhadap Dunia Islam akan berlangsung secara ekonomi: "Sesungguhnya orang-orang kafir menginfaqkan hartanya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah, maka mereka akan terus menginfaqkan harta mereka" (QS.8:36). Sejumlah $ 40 Milyard Dollar AS telah disetujui oleh Kongres untuk digunakan Bush sebagai dana program peperangan melawan Terorisme Islam.

Peperangan melalui kekuatan SDM telah Allah jelaskan dalam (QS.8:73) "Sesungguhnya orang-orang kafir sebgai adalah penolong sebagian lainnya. Jika kalian tak melakukan hal yang sama, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar".

Peperangan dari sudut militer dan peperangan fisik telah Allah jelaskan dalam (QS.2:217): "dan mereka tak akan pernah berhenti terus memerangi kalian, hingga mereka bisa memurtadkan kalian."

Peperangan dari sudut propaganda ideology telah Allah jelaskan dalam surat As-shof ayat 8: "Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka. Dan Allah menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya"

Kedua, dalam pertarungan ini berbagai kekuatan kuffar akan bersatu padu menghadapi ummat Islam. (QS.2:120; 2:217; 5:82) Dan Israel pada gilirannya akan menjadi musuh utama yang memimpin maker kekuatan kuffar. Oleh karenanya pejuang Palestina akan menjadi kelompok yang terdepan dan terberat dalam pertarungan iman dan keadilan. Karena yang dihadapi langsung biang kekufuran dan kezholiman, dengan dukungan penuh AS dan kegamangan sikap Otoritas Palestina. Bahkan yang terakhir ini cendrung menyerah terhadap tekanan Israel dan AS. 

Ketiga, Kalau ditengah petarungan ini ummat Islam secara umum terasa berada di bawah angina, maka kita harus introspeksi ada apa gerangan yang terjadi pada ummat islam? Mengapa pertolongan Allah terasa jauh? Yang harus dicatat bahwa: 
  1. kekuatan dan kelemahan yang hakiki adalah bersumber dari dalam tubuh ummat, bukanlah factor eksternal. Seperti kata Khalifah Umar "Aku lebih takut kepada maksiat kalian, daripada dengan kekuatan musuh kalian" . Di sini berarti kelemahan ummat adalah karena jauhnya ummat dari Allah; karena banyaknya maksiat ummat kepada perintah Allah; sedikitnya ketaatan kita kepada berbagai perintah Allah dan Rasul-Nya. Inilah juga yang menjadi penyebab ujian/adzab banjir di Negara kita. 
  2. karena keislaman yang kita anut seperti Bani Israel, yang mempermaikan agama sesuai dengan "selera". Yakni sebagian mereka imani, sebagian tidak. 
Ingatlah bahwa sejarah membuktikan keagungan sejarah ummat Islam adalah ketika Islam dibesarkan dan diagungkan oleh ummatnya, bukan diinjak-injak. Ketika ummat menginjak-injak Islam, maka Allah akan membiarkan zaman melindas ummat pada tingkat yang sehina-hinanya, sebagaimana di firmankan Allah pada Surah Al Baqarah 85. "Apakah kalian mengimani sebagian kitab dan mengingkari sebagaian lainnya. Tidak ada balasan orang yang melakukan demikian itu kecuali kehinaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat akandigiring ke azab yang pedih. Tidaklah Allah lalai terhadap apa yang kalian kerjakan."

READ MORE - Strategi Global Pengepungan Dunia Islam

Why Americans Hate Muslims?


Why Americans Hate Muslims? - Two officers sought me from within a crowd at the Seattle-Tacoma International Airport. They seemed to know who I was. They asked me to follow them, and I obliged. Being of Arab background, often renders one’s citizenship almost irrelevant.

In a back room, where other foreigners, mainly Muslims, were holed for 'added security', I was asked numerous questions about my politics, ideas, writing, children, friends and my late Palestinian parents.

Meanwhile, an officer took my bag and all of my papers, including receipts, business cards, and more. I did not protest. I am so used to this treatment and endless questioning that I simply go through the motions and answer the questions the best way I know how.

My first questioning commenced soon after September 11, 2001, when all Muslims and Arabs became, and remain, suspect. "Why do you hate our president," I was asked then, in reference to Bush.

On a different occasion, I was held in a room for hours at JFK International Airport because I had a receipt that revealed my immortal sin of eating at a London restaurant that served Halal meat.

I was also interrogated at an American border facility in Canada and was asked to fill several documents about my trip to Turkey, where I gave a talk at a conference and conducted several media interviews.

A question I am often asked is: “what is the purpose of your visit to this country?”

The fact that I am an American citizen, who acquired high education, bought a home, raised a good family, paid my taxes, obeyed the law and contributed to society in myriad ways are not an adequate answer.

I remain an Arab, a Muslim and a dissident, all unforgivable sins in the new, rapidly changing America.

Truthfully, I never had any illusions regarding the supposed moral superiority of my adopted country. I grew up in a Palestinian refugee camp in Gaza, and have witnessed, firsthand, the untold harm inflicted upon my people as a result of American military and political support of Israel.

Within the larger Arab context, US foreign policy was felt on larger scale. The invasion and destruction of Iraq in 2003 was but the culmination of decades of corrupt, violent American policies in the Arab world.

But when I arrived in the US in 1994, I also found another country, far kinder and more accepting than the one represented - or misrepresented - in US foreign policy. While constantly embracing my Palestinian Arab roots, I have lived and interacted with a fairly wide margin of like-minded people in my new home.

While I was greatly influenced by my Arab heritage, my current political thoughts and the very dialectics through which I understand and communicate with the world - and my understanding of it - are vastly shaped by American scholars, intellectual dissidents and political rebels. It is no exaggeration to say that I became part of the same cultural Zeitgeist that many American intellectuals subscribe to.

Certainly, anti-Arab and Muslim sentiments in the US have been around for generations, but it has risen sharply in the last two decades. Arabs and Muslims have become an easy scapegoat for all of America's failed wars and counter-violence.

Terrorist threats have been exaggerated beyond belief to manipulate a frightened, but also a growing impoverished population. The threat level was assigned colors, and each time the color vacillated towards the red, the nation drops all of its grievances, fights for equality, jobs and health care and unites in hating Muslims, people they never met.

It mattered little that, since September 11, the odds of being killed by terrorism are 1 in 110,000,000, an extremely negligible number compared to the millions who die as a result of diabetes, for example, or shark attacks, for that matter.

'Terrorism' has morphed from being a violent phenomenon requiring national debate and sensible policies to combat it, into a bogeyman that forces everyone into conformity, and divides people between being docile and obedient on the one hand, and 'radical' and suspect, on the other.

But blaming Muslims for the decline of the American empire is as ineffective as it is dishonest.

The Economic Intelligence Unit had recently downgraded the US from a "full democracy' to a "flawed democracy". Neither Muslims nor Islam played any role in that.

The size of the Chinese economy is soon to surpass that of the US, and the powerful East Asian country is already roaring, expanding its influence in the Pacific and beyond. Muslims are hardly the culprits there, either.

Nor are Arabs responsible for the death of the 'American dream', if one truly existed in the first place; nor the election of Donald Trump; nor the utter corruption and mafia-like practices of America's ruling elites and political parties.

It was not the Arabs and Muslims who duped the US into invading Iraq, where millions of Arabs and Muslims lost their lives as a result of the unchecked military adventurism.

In fact, Arabs and Muslims are by far the greatest victims of terrorism, whether state-sponsored terror or that of desperate, vile groups like ISIS and al-Qaeda.

Americans, Muslims are not your enemy. They never have been. Conformity is.

"In this age, the mere example of nonconformity, the mere refusal to bend the knee to custom, is itself a service," wrote John Stuart Mill in 'On Liberty.' The English philosopher, had a tremendous impact on American liberalism.

I read his famous book soon after I arrived in the US. It took me a while to realize that what we learn in books often sharply contradicts reality.

Instead, we now live in the 'age of impunity', according to Tom Engelhardt. In a 2014 article, published in the Huffington Post, he wrote: "For America’s national security state, this is the age of impunity. Nothing it does - torture, kidnapping, assassination, illegal surveillance, you name it — will ever be brought to court."

Those who are "held accountable" are whistleblowers and political dissidents who dare question the government and educate their fellow men and women on the undemocratic nature of such oppressive practices.

Staying silent is not an option. It is a form of defeatism that should be outed as equally destructive as the muzzling of democracy.

"One has a moral responsibility to disobey unjust laws," wrote Dr. Martin Luther King, Jr.

Barring citizens of Muslim countries from travelling to the US is a great act of immorality and injustice. Sadly, many Americans report that such discriminatory laws already make them feel safe, which itself is an indication of how the government and media manipulate consent in this country to produce the desirable results.

A big fan of hating Edward Bernays’ work, yet appreciating his honesty, I realize the question is not that of Trump alone. Bernays, whose writing on propaganda influenced successive governments and inspired various military coups, was versed on manipulating popular consent of Americans nearly a century ago. He perceived the masses as unruly and a burden on democracy, which he believed could only be conducted by the intelligent a few.

The outcome of his ideas, which influenced generation of conformist intellectuals, is in full display today.

America is changing fast, and is certainly not heading in the right direction. Shelving all pressing problems and putting the focus on chasing after, demonizing and humiliating brown skinned men and women is certainly not the way out of the economic, political and foreign policy quagmires which American ruling elites have invited upon their country.

"If liberty means anything at all, it means the right to tell people what they don't want to hear," wrote George Orwell.

No matter the cost, we must adhere to this Orwellian wisdom, even if the number of people who refuse to hear has grown exponentially, and the margins for dissent have shrunk like never before.

*****
Dr. Ramzy Baroud has been writing about the Middle East for over 20 years. He is an internationally-syndicated columnist, a media consultant, an author of several books and the founder of PalestineChronicle. com. His books include “Searching Jenin”, “The Second Palestinian Intifada” and his latest “My Father Was a Freedom Fighter: Gaza’s Untold Story”. His website is www.ramzybaroud. net.

READ MORE - Why Americans Hate Muslims?

Siapakah Ratu Para Bidadari Surga?


Ibnu Qayyim Rahimahullahu, menyebutkan dalam sebuah hadist sahih dalam Musnad Imam Ahmad, bahwa ketika seorang suami beristrikan "Huril ain" (bidadari), kemudian pada saat itu akan datang seorang wanita lain yang mana kecantikan & keelokannya mampu membuat seorang raja melupakan wanita2 lainnya._

Siapa Wanita itu ?

Ternyata wanita tersebut adalah istrinya semasa dia berada di dunia * Itulah keistimewaan para Istri di surga, dia akan menjadi RATU dari para Hur‘ain (bidadari). Lalu, Ibnu Qayyim mengatakan “Apakah seorang raja pernah memikirkan para pelayan-nya di hadapan Ratunya...??!!” 

Tentu tidak! Jadi, Allah akan memberikan kepada para istri kecantikan yg luar biasa,jauh melebihi kecantikan para bidadari.

KIRA2, KENAPA BISA BEGITU ???

Ibnu Qayyim menjelaskan, “Krn Hur‘ain (bidadari) tidak pernah menghadapi kesulitan yang dirasakan wanita dunia. Mereka tidak pernah berjuang di jalan Allah, tidak pernah dicemooh orang karena mengenakan hijab, tidak pernah merasakan sulitnya patuh kepada suami....dan lain2”

Mengenai keistimewaan istri (wanita) di surga dibandingkan Bidadari, Rasulullah Saw melalui haditsnya menyebutkan :

“Sungguh tutup kepala salah seorang wanita surga itu lebih baik daripada dunia & seisinya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Bahkan dalam hadits yang lain disebutkan pula bahwa wanita dunia yang sholihah lebih utama daripada bidadari surga._

Dari Ummu Salamah ra, ia berkata, “Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wanita2 dunia lebih utama daripada bidadari2 yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak (real) daripada apa yang tidak tampak (abstrak).”

Kemudian saya bertanya lagi, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada para bidadari?”

Lalu Beliau menjawab, "Karena shalat mereka, puasa & ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya ke-kuning2-an , sanggulnya mutiara & sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut & tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi & tidak beranjak sama sekali, kami ridha & tidak pernah ber-sungut2 sama sekali. Berbahagialah orang yg memiliki kami & kami memilikinya.”(HR. Ath Thabrani)

Masya Allah... sungguh ini sebuah kemuliaan yg diberikan kepada kaum wanita khususnya para istri, derajat mereka bisa menjadi lebih mulia daripada bidadari surga, mereka akan menjadi 'Ratu2' bidadari surga.

Untuk para kaum wanita ...jangan sia-siakan kesempatan kalian untuk menjadi ratu-ratu bidadari di surga..._

Ingaaaat... setelah mati tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia lagi...!!

Mulai sekarang, bagi para istri, marilah ber-lomba2 agar bisa menjadi istri yang sholihah di dunia...! Aamiin

READ MORE - Siapakah Ratu Para Bidadari Surga?
Akhlak (20) Bibel (6) Dakwah (39) Hak Azazi Manusia (14) Islam (26) Jihad (18) Kristen (19) Liberalisme (46) Mualaf (9) Muslimah (15) Natal (2) Orientalis (8) Peradaban (44) Poligami (10) Politik (32) Ramadhan (10) Rasulullah (22) Ridha (4) Sejarah (38) Tasawuf (25) Tauhid (18) Tawakal (3) Teroris (15) Trinitas (8) Yahudi (38) Yesus Kristus (34) Zuhud (8)