Berdirinya Muhammadiyah tidak bisa dipisahkan dari keberadaan dan perkembangan pesat Freemasonry


Pemahaman yang menganggap bahwa semua agama itu sama telah ada di Indonesia sejak lama. Setiap agama diposisikan memiliki kebenaran yang sama, semua menjanjikan kebaikan, membawa keselamatan, mengajarkan kehidupan penuh kasih sayang, dan sebagainya. Pemahaman ini pada giliran selanjutnya menafikan kebenaran absolute dari sebuah agama demi mencapai kehidupan bersama yang toleran. Ketika sebuah agama dianggap memiliki nilai kebenaran yang sama dengan agama lain maka hakikat kebenaran itu sendiri pada gilirannya menjadi absurd dan debatable. Di antara pandangan yang berasas demikian pada era ini antara lain diwakili dengan berkembangnya pluralisme agama. Sedangkan pada masa lampau, paham yang serupa telah disebarluaskan oleh kelompok theosofi.

Theosofi merupakan gerakan trans-nasional yang diijinkan beroperasi di Nusantara dalam masa penjajahan Pemerintah Hindia Belanda. Theosofi ini memiliki kaitan erat dengan organisasi yang dimotori kaum Yahudi yang bernama Freemasonry. Di Hindia Belanda kelompok theosofi ini awalnya bernama Nederlandsch Indische Theosofische Vereeniging (Perkumpulan Theosofi Hindia Belanda) yang merupakan cabang dari perkumpulan theosofi yang bermarkas di Adyar, Madras, India.[1] Di Hindia Belanda kelompok ini didirikan oleh Ir. A. E. Van Blomestein pada 31 Mei 1909. Baru pada 12 November 1912, organisasi ini mendapat pengakuan dari Pemerintah Kolonial Belanda sebagai rechtspersoon (badan hukum) dan anggaran dasarnya dimuat dalam Staatblaad No. 543.[2]

Paham theosofi ini menganggap bahwa semua agama memiliki titik persamaan kebenaran. Dalam menjelaskan paham kesamaan agama ini theosofi sendiri berusaha mengukuhkan posisinya. Theosofi mengklaim bahwa ia berada di atas semua kebenaran agama tersebut. Di satu sisi ajaran theosofi berusaha mengembangkan paham kesamaan dari semua agama dan menjalankan persaudaraan dengan mengabaikan perbedaan agama tersebut. Paham pluralisme agama tercermin secara langsung melalui aplikasi pengelompokkan dan adopsi ” Kebenaran” dari semua agama dunia. Namun demikian, umumnya, ajaran Islam terabaikan pada ”sudut mati” dan sekaligus diposisikan sebagai lawan. Pada wilayah ini theosofi menganggap bahwa ajarannya merupakan ”sari pati” dari agama dan oleh karenanya memiliki posisi lebih tinggi dari agama.

Sebagaimana pluralisme agama, theosofi mengambil ”inti sari” ajaran dari berbagai agama sebagai legitimasi dan justifikasi ajaran sendiri. Upaya ini bukan dilakukan untuk mendukung pengembangan keagamaan yang ada, namun theosofi mengambil langkah ini untuk membuka jalan bagi pencapaian agendanya sendiri terkait kehidupan keagamaan. Tidak jarang interaksi yang dilakukan oleh theosofi bersifat mengaburkan ajaran suatu agama dan perbedaannya dengan agama lain. Prof. Dr. (Buya) Hamka, seorang ulama muslim Indonesia, menganggap bahwa jargon ”penyatuan agama” termasuk dalam ajaran theosofi hanya merupakan upaya trial and error belaka. Karena tidak dibawa oleh nabi dan terbentuk oleh dialektika filosofis spekulatif, maka tidak memiliki ajaran yang kokoh mengakar kuat.[3] Dr. B.M. Schuurman, akademisi Kristen, menyatakan bahwa theosofi sebagai produk olahan dengan dan melalui ”nalar luhur” manusia, tidak akan mampu menemukan kebenaran sejati. Kebenaran menurut theosofi tunduk sebagai hasil pergulatan ”nalar luhur”, sedangkan kebenaran sejati harusnya bersumber dari kehendak Allah, bukan dari nalar sebagai ciptaan. Oleh karenanya theosofi tetap tidak mampu memberikan penjelasan terhadap ”rahasia kehidupan” secara tuntas sebagaimana konsep yang dimiliki oleh agama.[4] Dalam hal ini Schuurman mencoba berdialektika dengan menganggap bahwa ajaran Kristen lebih bermutu tinggi daripada ajaran theosofi.

THEOSOFI DI JAWA

Di Jawa theosofi berusaha merekrut anggotanya dari kalangan terpelajar, bangsawan keraton, orang-orang berpengaruh, dan juga bangsa asing yang ada di Indonesia. Aliran kebatinan Yahudi ini, nyatanya bukan hanya menjangkau kalangan elit masyarakat namun secara langsung maupun tidak langsung turut mewarnai pula rakyat kalangan bawah.

Sejumlah buku berbahasa Jawa telah diterbitkan guna mempublikasikan ajaran theosofi. Adapun  buku-buku tersebut umumnya menggunakan carakan Jawa (aksara Jawa). Diantara buku-buku yang memuat doktrin theosofi berbahasa Jawa tersebut antara lain adalah Serat Weddasatmaka (4 jilid), Kitab Makrifat (2 Jilid), dan Babad Theosofie. Serat Weddasatmaka dan Kitab Makrifat banyak berbicara tentang masalah ”ketuhanan” dan pencapaian ”keutamaan” sejati. Sedangkan Babad Theosofie mengisahkan tentang awal mula berdirinya Perhimpunan Theosofie di Amerika Serikat sampai menjadi ajaran yang menyebar ke seluruh penjuru dunia. Penerbitan ajaran Theosofi ke dalam Bahasa Jawa ini sudah tentu merupakan salah satu upaya agar ajaran ini mampu terinternalisasi oleh warganya. Sekaligus sebagai upaya untuk memperlihatkan kepada umat Islam di Jawa bahwa Theosofi tidak berbeda jauh dengan ”tasawuf”. Yang terakhir ini jelas merupakan sebuah upaya theosofi untuk mendekati dan menarik simpati pemeluk agama Islam.

Selain terbitan – terbitan dengan menggunakan aksara Jawa tersebut, juga terdapat publikasi lain yang umumnya menggunakan Bahasa Melayu, Bahasa Inggris dan Bahasa Belanda. Kitab Makrifat di atas juga termasuk yang diterbitkan dalam Bahasa Melayu, selain menggunakan Bahasa Jawa. Juga termasuk Majalah ”Pewarta Theosofie”, Majalah ”Theosofie di Hindia Belanda”, dan lain sebagainya. Media dalam bahasa asing juga beredar di Hindia Belanda misalnya Theosofische Maandblad, De Pioner, The Theosophist, Theosophia, The Adyar Bulletin, The Herald of Star, dan Zeithchrift fur Parapsychologie.[5] Hal ini menunjukkan bahwa theosophy mencoba menarik perhatian dari sejumlah kalangan, baik warga bumi-putera maupun bangsa asing.

Di antara buku-buku dan produk terbitan tersebut, telah diungkapkan tentang keberadaan Babad Theosofie. Babad yang ditulis pada tahun 1815 ini merupakan sebuah buku yang diterbitkan dalam rangka memperingati 40 tahun berdirinya Perhimpunan Theosofi.[6] Buku yang ditulis dengan menggunakan aksara Jawa tersebut menceritakan tentang perjalanan organisasi Perhimpunan Theosofi yang didirikan pada 17 November 1875 di Amerika Serikat. Juga memberikan sanjungan kedua tokoh yang aktif mengembangkan ajaran Theosofi melalui perkumpulan tersebut yaitu Kolonel Henry Steel Olcott dan Helena Petrovna Blavatsky[7] (biasa disingkat HPB). Kolonel Henry Steel Olcott (1832-1907) adalah mantan tentara Amerika yang kemudian bekerja sebagai lawyer. Ia adalah presiden pertama Theosofi yang menjabat selama 32 tahun. Ia merupakan salah satu anggota freemasonry, sebuah gerakan rahasia pendukung zionisme, yang kerap melakukan kampanye bagi persaudaraan universal (universal brotherhood). Sedangkan Helena Petrovna Blavatsky (1831-1891) adalah wanita berdarah Yahudi dan aristokrat Rusia yang berkecimpung dalam dunia occultisme sejak masih remaja. Petualangan Blavatsky untuk mengungkap spiritisme, kabarnya telah membawa dirinya untuk mempelajari doktrin Kabbalah dari seorang rabi Yahudi.[8] Pengalaman-pengalaman ini kemudian tercermin jelas dalam karya-karya yang dihasilkan oleh Blavatsky, termasuk pendiriannya dalam perumusan tentang theosofi. Di antara pujian yang ditulis pengarang babad untuk kedua tokoh theosofi di atas adalah sebagai  para minulya ingkang darajadipun wonten sanginggiling manungsa[9] (golongan orang mulia yang derajadnya berada di atas manusia).

Meskipun banyak memanfaatkan dalil dan ritual agama, namun pada akhirnya agama dianggap tidak penting untuk menjadi titik pertemuan dalam persaudaraan manusia. Ajaran theosofi sendiri berusaha untuk meminggirkan agama sedemikian rupa. Babad Theosofie menggambarkan proses ini secara kentara dalam proses pendidikan anak sejak dini sesuai dengan salah satu cita-cita theosofi yaitu ambudi pamredining lare, boten mawi gepokan agami, … [10] (mengusahakan pendidikan anak-anak dengan mengabaikan persentuhan dengan agama). Agama dalam pandangan ini ditempatkan bukan sebagai kebenaran absolut sehingga dalam mempelajari agama masing-masing, anggota theosofi diharapkan tidak menganggap ajaran agamanya paling benar. Melainkan terdapat juga kebenaran dalam agama lain yang bisa dihayati. Babad Theosofi mengungkapkan proses ini dilakukan dengan menganjurkan agar warganya bukan sekedar melakukan kajian pendalaman terhadap agama yang dianut oleh masing-masing anggotanya melainkan juga melakukan proses perbandingan dengan agama lain. Hal tersebut diungkapkan sebagai berikut:

Angajengaken pambudining kawruh agami sarana agaminipun piyambak-piyambak, tuwin nenandhing agami[11]

Artinya:

Memajukan pembelajaran agama melalui agama masing-masing dengan melakukan proses perbandingan agama.

MENAWARKAN AJARAN TERSENDIRI

Theosofi sendiri juga menawarkan ”keyakinan baru” kepada anggotanya yang bersifat majemuk dalam hal keagamaan tersebut. Dengan demikian theosofi tidak sepenuhnya mencoba menguatkan dan memperkaya pemahaman masing-masing anggota dengan ajaran agamanya masing-masing, melainkan juga menawarkan sebuah sistem ”agama” yang baru. Tidak jarang pada akhirnya lahir praktik ”keagamaan” yang bersifat sinkretis sebagai konsekuensi logis sikap theosofi terhadap entitas agama. Di Jawa nampaknya sempat terjadi ”sedikit” masalah dalam awal-awal pengenalan ajaran yang diadopsi oleh theosofi dari sejumlah kebudayaan Timur, terutama dari India. Penganut Agama Islam yang bergabung dalam Perhimpunan Theosofi kurang bisa menerima ajaran tentang karma dan reinkarnasi yang dipublikasikan melalui ceramah-ceramah dalam pertemuan rutin penganut theosofi. Babad Theosofie mengungkapkan tanggapannya terhadap hal tersebut sebagai berikut:

. ungel kula ingkang maratelakaken manawi theosofi boten purun mengku dhateng tiyang, pikajeng kula ingkang kula tembungaken makaten wau, warga boten kapeksa kedah pitados dhateng ingkang kawulangaken ing pakempalan, tiyang lumebet dados warga boten prelu kedah pitados dhateng piwulang ingkang sapunika sampun kalimrah namapi[12] wulang theosofi, ingkang kedah nyanggemi dhateng pasadherekanipun sadaya manungsa. Sarta niyat tumut ambudi sagedipun kalampahan, ewadene piwulang sarta pamanggih kados punapa kemawon nyumanggakaken anggen jengandika nganggep, ingkang meh sampun boten kenging dipun pisah kaliyan theosofi. Nanging samangke kula pitaken upami boten wonten piwulang, punapa tiyang angraosaken theosofi boten mawi nyangkut bab karma tuwin tumimbal lair, kados boten saged, ewadene miturut pangandikanipun Kolonel Olcott ngatos dumugi warsa 1879 Kolonel Olcott kaliyan HPB, dereng nate mireng prakawis punika. Sanadyan sampun mireng nanging boten anginten bilih punika badhe dados satunggaling bab ingkang yektos nama raos theosofi.[13]

Artinya :

Ucapan saya yang menyatakan bahwa theosofi tidak bersedia mengekang manusia, maksud saya adalah warga tidak dipaksa harus percaya kepada apa yang diajarkan dalam perkumpulan, orang yang masuk menjadi warga tidak harus percaya dengan pelajaran yang sudah lumrah diterima dari ajaran theosofi, yang harus bertanggungjawab kepada persaudaraan semua manusia. Serta niat ikut berupaya terlaksananya , namun demikian  pelajaran serta pendapat seperti apa pun dipersilakan, yang sudah tidak dapat dipisahkan dari theosofi. Tetapi sekarang saya bertanya jika tidak ada pelajaran, apakah manusia bisa merasakan theosofi tanpa melibatkan bab karma dan kelahiran kembali, sepertinya tidak bisa, meskipun demikian menurut pernyataan Kolonel Olcott sampai tahun 1879  Kolonel Olcott dan Helena Petrovna Blavatsky belum pernah mendengar permasalahan tersebut. Walaupun sudah mendengar namun belum mengira bahwa hal itu akan menjadi salah satu bab yang sesungguhnya menjadi rasa theosofi.

Sang pengarang Babad Theosofi seolah-olah menyerahkan bahwa masalah kepercayaan terhadap ajaran theosofi menjadi pilihan ”bebas” bagi anggota untuk menentukan. Namun ungkapan Nanging samangke kula pitaken upami boten wonten piwulang, punapa tiyang angraosaken theosofi boten mawi nyangkut bab karma tuwin tumimbal lair, kados boten saged (tetapi sekarang saya bertanya jika tidak ada pelajaran, apakah manusia bisa merasakan theosofi tanpa melibatkan bab karma dan kelahiran kembali, sepertinya tidak bisa) di atas merupakan penegasan diplomatis bahwa seseorang tidak dapat merasakan theosofi tanpa mempercayai semua aspek dalam sistem ajarannya, termasuk keyakinan tentang karma dan reinkarnasi.

Kepercayaan yang diadopsi dari Agama India, yaitu Hindhu dan Budha berupa ajaran tentang karma dan reinkarnasi memang menjadi salah satu ajaran khas yang dimiliki oleh theosofi.[14] Oleh karenanya, kepercayaan terhadap kedua hal ini tidak dapat ditinggalkan oleh penganut ajaran theosofi. Warga theosofi yang menganut agama Islam, tidak ada pilihan lain kecuali terikat pula kepada doktrin tersebut. Padahal ajaran tentang keberadaan karma dan reinkarnasi, jelas tidak mendapatkan justifikasi maupun legitimasi dari sumber-sumber hukum Islam. Menjadi anggota theosofi sekaligus seorang muslim kaffah adalah pilihan yang mustahil. Sebab pada tataran ini, menampakkan dua sistem ajaran yang berbeda secara diametral. H. P. Blavatsky, penggagas mula-mula theosofi, sendiri sejak awal telah melakukan kajian yang cukup mendalam terhadap eksistensi karma dan reinkarnasi sebagai ”jiwa” theosofi.[15]

Ajaran tentang karma dan reinkarnasi hanya sebagian kecil dari pengajaran theosofi yang bertentangan dengan nilai keislaman. Di luar itu masih terdapat ajaran lain yang tidak dapat disejajarkan dengan praktik ritual keislaman, misalnya ajaran theosofi menyangkut kehidupan setelah mati. Juga ritual pemanggilan makhluk halus yang sering dipraktikkan di loge-loge theosofi. Babad Theosofie mengambarkan bahwa pada awal-awal pendirian theosofie di Amerika Serikat ritual pemanggilan setan ini sudah mulai diperkenalkan. G. H. Felt, seorang pakar tentang mistik dan proporsi bangunan Mesir kuno, telah mencoba memperkenalkan ritual tersebut kepada anggota theosofi.[16] Meskipun upaya pemanggilan makhluk halus ini gagal dilaksanakan dan sempat membuat theosofi ditinggalkan anggotanya, namun pada masa-masa selanjutnya menjadi ritual penting. Keberadaan upacara memanggil arwah atau setan ini tidak jauh berbeda dengan ritual yang dilakukan oleh pengikut freemasonry. Keberadaan ritual pemanggilan makhluk halus (setan) menyebabkan loge (dijawa disebut loji) milik theosofi, terutama di Jawa, sering dicap dengan atribut sebagai ”gedung setan” atau ”rumah setan”. Oleh karena itu theosofi yang dewasa ini berkembang di Indonesia tidak lagi menyebut tempat ritualnya sebagai loji, melainkan dinamakan ”sanggar”.[17] Praktik-praktik ritual theosofi ini sudah tentu tidak dapat dijalankan oleh seorang muslim yang memiliki komitmen keislaman yang kuat. Seorang pengabdi Allah, pada saat bersamaan tidak seharusnya menjalankan kemusyrikan dengan menjadi pemuja setan. Mengadopsi kedua entitas tersebut secara bersamaan jelas akan melahirkan perilaku dan praktik keagamaan yang paradoksal.

Pada sisi yang lain, theosofi seringkali menampakkan diri sebagai ajaran tasawuf di Jawa.[18] Hal ini merupakan bagian dari upaya yang dilakukan oleh gerakan theosofi untuk merangkul pengikut dan menarik simpati, terutama dari kalangan elit Jawa yang umumnya beragama Islam. Pendekatan dengan mengidentikkan ajarannya sebagai tasawuf ini dapat dilihat secara gamblang dalam kitab-kitab resmi ajaran theosofi berbahasa Jawa seperti Serat Weddasatmaka dan Serat Makrifat. Kedua kitab ini berusaha mengetengahkan konsepsi theosofi dengan meminjam sejumlah terminologi dan sistem yang berasal dari ajaran tasawuf. Hasilnya, jelas bukan tasawuf yang mendasarkan pandangannya kepada sumber-sumber Islam berupa Al Quran dan Sunnah, melainkan bersifat kontradiktif dan tidak jarang antinomis terhadap ajaran Islam itu sendiri. Serat Weddasatmaka sebagai contoh, mengakui bahwa eksistensi tujuh langit sebagaimana dalam konsepsi Islam (Qs. Albaqarah :29). Hanya saja serat ini kemudian mendefinisikan sendiri ketujuh langit tersebut dengan menggunakan keyakinan yang lain. Definisi langit ketujuh, misalnya, dalam buku tersebut dianggap bukan langit dalam makna yang sesungguhnya (harfiah). Langit ketujuh secara alegoris dimaknai sebagai alam yang ada dalam diri manusia dan wujud halusnya (roh).[19]

Dengan memahami keberadaan sejumlah ajaran seperti di atas, maka dapat diketahui bahwa munculnya paham pluralisme yang menganggap semua agama sama dalam theosofi, bukan dalam rangka memperbaiki dan memperkaya nilai-nilai agama apalagi mempertinggi kualitasnya. Demikian juga anjuran untuk memperbandingkan semua bentuk ajaran agama. Tidak lain hal itu lebih sebagai upaya pendekatan yang dilakukan oleh theosofi untuk bersentuhan dengan pemeluk agama dan memenangkan ”keunggulan” ajarannya sendiri. Theosofi bukan saja mengambil semua ”Kebenaran” dari agama, melainkan bermaksud mengokohkan posisinya berada di atas agama dan merusak sistem ajaran yang ada di dalam agama yang bersangkutan.

S. Joedosoetardjo, seorang penganut theosofi dari Semarang, dalam majalah ”Brahmawidya”, salah satu terbitan berkala theosofi, mengungkapkan bahwa theosofi sendiri bukanlah agama. Hal ini didasarkan kepada beberapa alasan. Diantaranya, theosofi tidak memiliki ”syahadat” yang mengikat manusia untuk percaya kepada sistem ajaran dalam theosofi. Theosofi juga tidak memiliki Nabi, ajarannya tidak diwiridkan saja namun diamalkan guna mencapai kemajuan. Theosofi juga mengajarkan bahwa manusia tidak hanya hidup sekali saja melainkan berkali-kali sehingga manusia tersebut dapat mencapai kesempurnaan Tuhan dan sejumlah argumentasi lainnya.[20] Tulisan Joedosoetardjo tersebut nampaknya berusaha untuk mendefinisikan bahwa theosofi adalah ”kehidupan kebatinan” yang berbeda dari agama, utamanya Islam.

Buku “Babad Theosofie” mengakui bahwa kaum theosofi telah melakukan sejumlah upaya untuk mempengaruhi spiritualisme di dunia timur dimana salah satunya adalah dengan memasukkan unsur-unsur ajaran theosofi dalam kitab-kitab primbon.[21] Maka tidak mengherankan bila terdapat kitab-kitab primbon kebatinan di Jawa yang mengedepankan ajaran mistik dan klenik, ternyata kental pula dengan pandangan theosofi. Contoh primbon yang dimaksud masih dapat dijumpai misalnya dalam buku “Pustaka Radja Mantrayoga” yang dikarang oleh “Sang Harumdjati”,[22] yang dimungkinkan sebagai nama samaran. Oleh karena itu tidak mengherankan jika terdapat kitab-kitab primbon yang memiliki “jiwa Islam” namun tidak murni lagi karena masuknya sinkretisme ajaran yang dipopulerkan oleh kaum theosofi, yang seringkali mengambil apa yang disebut sebagai “kebijaksanaan” dari semua agama. Hal ini merupakan cara yang cukup halus dalam menghilangkan ajaran Islam dari kehidupan “batin” masyarakat Jawa.

SINIS TERHADAP AGAMA

Theosofi sendiri memiliki pandangan yang cukup sinis terhadap eksistensi ajaran agama. Ajaran theosofi senantiasa menekankan urgensi persaudaraan antar manusia tanpa memandang agama, ras, jenis kelamin, dan perbedaan yang bersifat manusiawi lainnya. Agama dalam posisi ini dianggap sebagai salah satu pemantik konflik, bukan hanya konflik antar agama bahkan umat seagama pun juga mengalaminya. Perbedaan ajaran antar agama maupun perbedaan pendapat antar umat seagama seringkali diposisikan sebagai sumber konflik utama. Babad Theosofie mengungkapkan bahwa salah satu tujuan theosofi adalah sebagai berikut:

Amabeni sawarnining lampah ingkang nyamar, nadyan ingkang nunggil utawi boten nunggil agami, saben sulaya kalayan pamanggihipun kadosta pitadosipun dhateng kaelokan ingkang mrojol sangking wewaton, mangka sampun katitipriksa ngantos salesih bilih tetela manawi kalentu.[23]

Artinya :

(Menjaga sejumlah tindakan yang mengkhawatirkan, walaupun satu agama maupun berbeda agama, setiap ada konflik dengan pendapatnya seperti kepercayaan terhadap keajaiban yang berada di luar akal, padahal sudah diperiksa dengan teliti bahwa hal itu keliru).

Namun demikian nampaknya Perhimpunan Theosofi sendiri tidak mencoba mawas diri untuk self-evaluation dengan mengaca kepada sejarah perjalanan theosofi itu sendiri. Konflik-konflik yang berkembang di tubuh penganut theosofi seringkali berujung kepada perpecahan serius. Perebutan kedudukan sebagai presiden theosofi antara dua tokoh penting paham ini, yaitu Dr. Annie W. Besant (1847-1933) dari Inggris dan William Quan Judge (1851-1896) dari Amerika telah menimbulkan adanya perseteruan antara keduanya dan merembet pada pengikut masing-masing. Pasca Annie Besant menjadi presiden Theosofi, loge-loge di Amerika tidak mau tunduk lagi kepada kepemimpinan Besant. Gerakan ”perlawanan” ini dimotori oleh tokoh theosofi wanita bernama Katherine Tingley, pengarang buku “Theosophy : the Path of Mistic”. Untuk memperkuat posisinya maka Annie Besant kemudian menghubungkan theosofi dengan menggandeng gerakan freemasonry, dimana ia sebelumnya telah menjadi anggota dari perkumpulan pendukung zionisme ini.[24] Ramalan-ramalan Annie Besant tentang datangnya ”Guru Besar” bagi manusia yaitu ”Khrisnamurti”, juga menyebabkan penentangan dan perpecahan tersendiri. Rudolf Steiner, pemikir theosofi dari Jerman, merupakan tokoh yang berusaha menyangkal ”nubuatan” Besant tersebut.[25] Penyangkalan-penyangkalan ini pada masa selanjutnya menyebabkan keorganisasian theosofi dan ajarannya tidak pernah menyatu.

Menanggapi konflik-konflik ini, pengarang Babad Theosofie nampaknya kurang percaya diri untuk menjelaskan kronologis perseteruan yang terjadi antar kubu tersebut. Namun demikian pengarang babad, sebagaimana umumnya penganut theosofi di nusantara, kebanyakan merujuk kepada kepemimpinan dan pemikiran Annie Besant. Sang pengarang babad berdalih bahwa konflik yang menyebabkan theosofi banyak kehilangan anggota tersebut merupakan hal yang biasa terjadi. Bahkan konflik yang terjadi sangat bermanfaat sebagai mekanisme penyaring untuk memunculkan anggota-anggota yang benar-benar berkualitas. Hal ini diungkapkan oleh sang pengarang secara diplomatis dan apologis sebagai berikut:

Serat-serat pawartosipun theosofi asring nyariyosaken, manawi pakempalan mentas katempuh prahara ageng, pakempalan malah katingal ngrembaka, mila manawi pakempalan kataman pakewet, ngatos wonten warga ingkang medal, punika ingkang kandel manahipun, lajeng sami mungel : Para warga theosofi dipun irigi, dados pundi ingkang alit manahipun inggih dhawah.[26]

Artinya:

Tulisan-tulisan berita theosofi sering menceritakan, jika perkumpulan baru saja mengalami prahara besar, maka perkumpulan justru terlihat berkembang, maka jika perkumpulan mendapatkan kesulitan, sampai ada warga yang keluar, biasanya anggota yang teguh hatinya akan mengatakan: Para warga theosofi sedang disaring, jadi siapa yang kecil hatinya akan jatuh ke bawah …

Peristiwa perebutan kekuasaan di atas hanya merupakan sebagian kecil saja konflik yang terjadi dalam tubuh theosofi. Kehadiran theosofi nyatanya juga melahirkan konflik baru bagi agama-agama yang telah ada baik dalam internal agama maupun dengan agama lainnya. Sejarawan M.C. Ricklefs menggambarkan bahwa gerakan-gerakan intelektual yang bersifat anti Islam yang sempat berkembang di Indonesia pasca tahun 1900 umumnya memiliki kaitan dengan gerakan dan paham theosofi. Ricklefs menggambarkan bahwa paham theosofi ini berusaha mengkombinasikan antara budi dan buda. Budi merepresentasikan sifat intelektual dalam pemikiran ilmiah Barat. Sedangkan Buda merupakan ajaran yang berkembang sebelum masuknya Islam.[27] Kemunculan kombinasi tersebut tidak lepas dari upaya menyingkirkan eksistensi dan peran Islam dari kehidupan masyarakat ”intelektual” di Hindia Belanda. Munculnya oknum-oknum anti-Islam dari tubuh theosofi ini jelas memberikan ”pekerjaan rumah” baru bagi umat Islam di Indonesia.

Ajaran theosofi yang menganggap bahwa ia berada di atas agama, bukannya tanpa problem. Theosofi yang berusaha menghilangkan batas-batas antar agama, pada gilirannya tidak jarang melahirkan pola hubungan antar agama yang justru kurang harmonis. Dalam tahapan ini pandangan theosofi hanya menciptakan keruwetan baru bagi hubungan antar agama yang sebelumnya tidak selalu diwarnai konflik. Sekaligus membuktikan bahwa ajaran theosofi yang menekankan urgensi persaudaraan antar manusia hanya merupakan jargon belaka. Sebab sebagaimana kehadiran paham pluralisme agama, praktik theosofi justru melahirkan keruwetan-keruwetan baru bagi eksistensi sebuah agama dan pola hubungannya dengan agama lain. Alih-alih menciptakan kerukunan dan persaudaraan antar sesama manusia, yang terjadi justru menjadi bahan bakar dan sekaligus pemantik konflik.

PENUTUP

Sebagaimana pluralisme yang menganggap bahwa semua agama memiliki kebenaran yang sama, theosofi juga memiliki cara pandang serupa. Pluralisme saat ini telah berkembang menjangkau negeri-negeri berpenduduk muslim termasuk Indonesia dengan menawarkan pemahamannya. Demikian juga theosofi saat ini mulai memperlihatkan tanda-tanda kebangkitannya kembali. Meskipun keduanya memiliki tujuan untuk mempersatukan semua agama dalam suatu persaudaraan universal, namun kedua paham tersebut tetap berpijak pada suatu agenda, kepentingan, dan cara pandangnya sendiri. Agenda yang digulirkan bukan dalam rangka memperbaiki kehidupan keagamaan, melainkan bersifat destruktif terhadap sejumlah ajaran agama yang paling mendasar.

Agama dalam pandangan theosofi, juga dalam pluralisme, hanyalah merupakan suatu alat justifikasi dan legitimasi bagi kokohnya sebuah argumentasi dan kepentingan. Tujuan theosofi yang berusaha menciptakan suatu pola hubungan dan persaudaraan antar manusia tanpa memandang suku, ras, agama, jenis kelamin, dan perbedaan alamiah hanya berhenti saja sebagai jargon. Sebab praktik-praktik theosofi yang berkembang justru paradoksal dengan ungkapan tersebut. Theosofi pada satu sisi merupakan paham yang bersifat merusak agama. Pada sisi yang lain juga menimbulkan keresahan akibat sejumlah ajarannya yang kontroversial dan menyimpan potensi konflik bagi praktik keagamaan yang ada.

Sejatinya Theosofi merupakan hasil perpaduan secara sinkretis antara spiritualisme Timur dan Barat dengan menggunakan kaca mata Barat. Hakikatnya, proses tersebut tidak murni sebagai usaha mengangkat dan menghidupkan kembali ”budaya” atau ”spiritualitas” Timur, melainkan merupakan bagian dari mekanisme pembaratan yang sedang berjalan. Demikian juga pluralisme seringkali memanfaatkan dan menggunakan ”kearifan lokal” sebagai unsur pembangun argumentasinya. Namun demikian tetap saja worldview Barat sukar dipisahkan dari entitas ajaran tersebut. Sebab argumentasi yang bersifat demikian hanya sekedar mencari ”akar” dan tidak pernah benar-benar ”mengakar”. (***)

[Makalah ini ditulis bersama oleh Susiyanto dan Fathurrahman Kamal. Susiyanto adalah pegiat Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI). Fathurrahman Kamal adalah dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan anggota Divisi Dakwah Pelajar-Mahasiswa Majlis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PP Muhammadiyah. Makalah ini dimuat dalam buku M. Amin Rais, M. Syukriyanto, dkk. “1 Abad Muhammadiyah: Istiqomah Membendung Kristenisasi dan Liberalisasi” yang diterbitkan secara resmi oleh Majlis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam rangka Muktamar 1 Abad Muhammadiyah 3-8 Juli 2010 di Yogyakarta, Dipublikasikan ulang seizin penulis dari www.susiyanto.wordpress.com]
http://muslimdaily.net/artikel/home/dari-theosofi-menuju-pluralisme-agama.html

FOOTNOTE  :
[1] Lihat Adian Husaini, MA. Penyesatan Opini: Sebuah Rekayasa Mengubah Citra. Cetakan II. (Gema Insani Press, Jakarta, 2005). Hal. 32-33. Juga Ridwan Saidi dan Rizki Ridyasmara. Fakta dan Data Yahudi di Indonesia Dulu dan Kini. (Khalifa, Jakarta, 2006).  Hal. 6-8
[2] Ridwan Saidi dan Rizki Ridyasmara. Fakta dan Data Yahud i… Hal. 7
[3] Lihat Prof. Dr. Hamka. Tasauf : Perkembangan dan Pemurniannya. Cetakan IX. (Yayasan Nurul Islam, Jakarta, 1981). Hal. 149
[4] Dr. B. M. Schuurman. Pambijake Kekeraning Ngaurip: Jaiku Paugerane Pratjaja Kristen. Cetakan III. (Badan Penerbit Kristen, Jakarta, 1968). Hal. 90-92
[5] Lihat Majalah “Theosofie di Hindia Belanda”. Tahun ke–32 No. 4/ April 1939. (NITV, Batavia Centrum). Hal. 10
[6] Bakta. Babad Theosofie: Reringkesanipun Babating Pakempalan Theosofie. (Swastika, Surakarta, 1815). Hal. 3
[7] Nama aslinya adalah Helena Petrovna Hahn. Ia lahir di Ekaterinoslow, Rusia bagian Selatan tahun 1831. Pada 7 Juli 1848, ia menikah dengan Jendral Nikifor Blavatsky. Usia pernikahannya tidak lama, setelah 3 tahun mereka akhirnya bercerai. Namun demikian, ia tetap menggunakan nama Blavatsky pasca perceraiannya, sehingga ia dikenal dengan nama Helena Petrovna Blavatsky. Lihat Arthur Lillie. Madam Blavatsky and Her ”Theosophy” : A Study. (Swan Sonnenschein & Co, London, 1895). Hal. 1. Juga Dr. D.C. Mulder, Dr. J. Verkuyl, dan Ir. P. Telder. Geredja dan Aliran-aliran Modern. (Badan Penerbit Kristen, Jakarta, 1966). Hal. 35
[8] Artawijaya. Gerakan Theosofi di Indonesia: Menelusuri Jejak Aliran Kebatinan Yahudi Sejak Masa Hindia Belanda Hingga Era Reformasi. (Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2010). Hal. 21-30
[9] Lihat Bakta. Babad Theosofie … Hal. 8
[10] Bakta. Babad Theosofie … Hal. 44
[11] Bakta. Babad Theosofie …. Hal. 47
[12] Mungkin aksara Jawa dari tulisan tersebut telah salah tulis. Mungkin maksudnya “nampi”
[13] Bakta. Babad Theosofie … Hal. 49-50
[14] Lihat buku-buku tentang ajaran theosofi, misalnya William  Q. Judge. The Ocean of Theosophy. Edisi Kedua. (The Theosophical Publishing Society, London, 1893). Hal. 60-69, 89-98. Juga Irving S. Cooper. Theosophy Simplified. (The Theosophical Book Concern, California, 1915). Hal. 46-55. Juga Dr. Rudolf Steiner. Theosophy: An Introduction to the Supersensible Knowledge of the World and the Destination of Man. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dari Bahasa Jerman oleh E. D. S. (Rand McNally & Company Publishing, Chicago-New York, 1910). Hal. 59-86. Juga L. W. Rogers. Elementary Theosophy. (Theosophical Book Concern, Los Angeles, 1917). Hal. 103-166
[15] Lihat selengkapnya karya H.P. Blavatsky. The Key to Theosophy : Being a Clear Exposition, in the Form of Question and Answer, of the Ethics, Science, and Philosophy for the Study of Which the Theosophical Society has been Founded. (The Theosophical Publishing Company Limited, London – New York, tth). Hal 197-223
[16] Bakta. Babad Theosofie…Hal.  13 -18
[17] Artawijaya. Gerakan Theosofi …. Hal.12. Bandingkan Ridwan Saidi dan Rizki Ridyasmara. Fakta dan Data …. Hal. 4 -5. Juga Herry Nurdi. Jejak Freemason dan Zionisme di Indonesia. Cetakan III. (Cakrawala Publisihing, Jakarta, 2007). Hal. 17
[18] Ridwan Saidi dan Rizki Ridyasmara. Fakta dan Data … Hal. 63
[19] Lihat Noname. Serat Weddasatmaka utawi Pepakeming Tiyang Agesang. Jilid III. (H. A. Benjamins, Semarang, 1905). Hal. 50
[20] Selengkapnya lihat artikel S. Joedosoetardjo. Theosofie itu Bukan Agama. Dalam Majalah ”Brahmawidya-Widya Pramana” terbit 1 Desember 1954 Tahun V. Hal. 1142
[21] Lihat Bakta. Babad Theosofie …. Hal. 11
[22] Lihat dan baca Sang Harumdjati. Pustaka Radja Mantrayoga. Cetakan IV. (Sadu-Budi, Surakarta, tth)
[23] Bakta. Babad Theosofie … Hal. 42
[24] Selengkapnya lihat Ir. P. Telder. Theosofi. Dalam Dr. D. C. Mulder, Dr J. Verkuyl, dan Ir. P. Telder. Geredja dan Aliran …. Hal. 37-40
[25] Ir. P. Telder. Theosofi … Hal. 43
[26] Bakta. Babad Theosofie … hal. 35
[27] M.C. Ricklefs. A History of Modern Indonesia Since c. 1200. Edisi III. (Palgrave, Hampshire, 2001). Hal. 168



READ MORE - Berdirinya Muhammadiyah tidak bisa dipisahkan dari keberadaan dan perkembangan pesat Freemasonry

Menyimak Jejak Langkah Ulama Nusantara di Timur Tengah


Penulis benar-benar terkesiap ketika melihat mata rantai (sanad, silsilah) mufti agung Mesir, Dr. Ali Gum’ah, yang meriwayatkan kitabHâsyiah Jawharah al-Tawhîd(karangan Syaikh Ibrahim al-Bayjuri) dari seorang ulama Nusantara asal Padang, yaitu Syaikh Muhammad Yasin ibn ‘Isa al-Fadani (Yasin Padang).

Semasa belajar di pesantren dulu, mata rantai beberapa kitab yang di ‘aos’ oleh penulis juga menyambung kepada Syaikh Yasin Padang. Urutannya demikian: penulis; KH. Abdullah Kafabihi Mahrus (murabbi penulis);KH. Mahrus ‘Ali Lirboyo;Syaikh Yasin Padang. Berangkat dari pertemuan mata rantai inilah, jejaring dan jejak ulama Nusantara di Timur Tengah serta pengaruhnya di Tanah Air menjadi menarik untuk dianalisa dan dikaji lebih jauh.

Sejatinya, jejak gerakan ulama Nusantara di Timur Tengah (utamanya Hijâz dan Mesir) dapat dilacak sejak abad ke-17 M. Di antara nama-nama ulama yang populer adalah Abd al-Raûf al-Jâwi (w. 1693), Nûruddîn al-Raniri (w. 1658), Arsyad al-Banjari (1710), dan lain-lain.

Dulu, perkumpulan ulama-ulama tersebut dikenal dengan komunitas Jawi, atau Jamâ’ah al-Jâwiyyîn. Nisbat ini tidak sekedar meliputi teritorial ulama yang datang dari Jawa Dwipa saja, tetapi dari seluruh Nusantara (termasuk Melayu, Pattani, dan Philipina Selatan). Kita bisa melacak nisbat ini di salah ruangan masjid al-Azhar (ruwwâq jâwah).

Abad ke-19 M (dan awal abad 20) adalah puncak dari geliat intelektual ulama Nusantara di Timur Tengah. Mereka bukan sekadar berkiprah dan memberi kontribusi untuk Tanah Air saja, tetapi juga mempunyai peran besar di ranah internasional, khususnya di Timur Tengah. Beberapa ulama Nusantara menjadi sosok intelektual berkampium dunia. Mereka mengarang kitab-kitab yang dijadikan rujukan penting.

Di antara nama-nama ulama Nusantara yang populer adalah Syaikh Muhammad Nawawi ibn ‘Umar al-Bantani (Tanara, Serang, Banten, w. 1879), yang mengarang beberapa kitab dalam berbagai cawangan ilmu agama, semisal Tîjân al-Durarî (tawhid), Sullam al-Najât, Kâsyifah al-Sajâ, Sullam al-Tawfîq, al-Tsamrah al-Yâni’ah ‘ala Riyâdh al-Badî’ah, Tawsyîkh ‘alâ Fath al-Qarîb, Nihâyah al-Zain (fikih), Qatr al-Ghayts, Tanqîh al-Qawl (hadits), Minhâj al-’Ibâd (tasawuf), ‘Uqûd al-Lujayn (psikologi rumah tangga),Murâh Labîd aw al-Tafsîr al-Munîr (tafsir) dan lain-lain. Syaikh Nawawi menjadi pengajar di salah satu pintu Masjid al-Haram dan di perguruan Dâr al-‘Ulûm, Mekkah, selain pernah memberikan pengajian di masjid al-Azhar, Mesir, atas undangan Syaikh Ibrahim al-Bayjuri, mufti agung Mesir kala itu.

Selain Syaikh Nawawi Banten, dikenal juga Syaikh Mahfuzh al-Turmusi (Tremas, Pacitan, Jawa Timur), pengarang beberapa hâsyiah (komentar atas komentar, atau great comment) atas beberapa kitab fikih induk mazhab Syafi’iy, semisal al-Minhâj, Fath al-Wahhâb, al-Iqnâ‘, dan lain-lain. Beberapa hâsyiahkarangan beliau kelak dikenal dengan Hâsyiah al-Turmusî yang ditulis berjilid-jilid. Beliau juga menulis al-Siqâyah al-Mardhiyyah fî Asmâ al-Kutub al-Fiqhiyyah li Ashhâb al-Syâfi’iyyah (ensiklopedi kitab-kitab fikih mazhab Syafi’iy), Manhaj Dzaw al-Nazhar fi Manzhûmah Ahl al-Âtsâr (metodologi hadits), al-Fawâid al-Turmusiyyah fi Asmâ al-Qirâ’ah al-’Asyriyyah (tajwid-qira’ah sepuluh).

Dua Syaikh di atas tercatat yang paling berpengaruh dan melahirkan beberapa murid yang juga menjadi ulama besar, semisal Syaikh Ihsan Dahlan al-Jamfasi al-Kadiri (Jampes, Kediri, Jawa Timur), penulis kitab Sirâj al-Thalibîn ‘alâ Minhâj al-’Âbidîn (kitab dua jilid berisi komentar atas karya tasawuf Imam al-Ghazali)—konon kitab ini pernah dijadikan salah satu muqarrar di Universitas al-Azhar, dan Manâhij al-Amdâd (tasawuf). Atau Syaikh Muhammad Yasin ibn ‘Isa al-Fadani (Padang), guru besar hadits dan ushul fikih di perguruan Dâr al-‘Ulûm Mekkah, penulis kitab al-Fawâid al-Janniyyah ‘alâ al-Farâ’id al-Bahiyyah fî al-Qawâ’id al-Fiqhiyyah, Hâsyiah ‘alâ al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir fi al-Furû’ al-Fiqhiyyah (ushul dan kaidah fikih), Fath al-’Allâm Syarh Bulûgh al-Marâm (hadits fikih setebal empat jilid), dan al-Durr al-Mandhûd fî Syarh Sunan Abî Dâwud (setebal dua puluh jilid).

Istimewanya, para masyâyikh di atas mempunyai genealogi keilmuan berupa silsilah yang dapat dipertanggungjawabkan ketsiqqah-annya. Mereka rata-rata belajar kepada Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, seorang ulama besar mazhab Sunni di Hijâz, yang silsilahnya menyambung kepada Syaikh Ibrahim al-Bayjuri (Mesir), Muhammad al-Sanusi, al-Iji, Fakhr al-Din al-Razi, al-Ghazali, al-Juwayni (imam Haramayn), Abu Bakar al-Baqilani, Abu Abdillah al-Bahili, Abu Hasan al-Asy’ari, dan seterusnya.

Pertanyaannya sekarang: dimana dan bagaimanakah nasib manuskrip (makhthûthât) kitab-kitab yang telah mereka tulis itu? Jawabannya mungkin sedikit menjadikan hati kita merasa miris: mayoritas manuskrip karya ulama Nusantara tempo doeloe tersimpan dan terawat dengan baik di beberapa museum dan universitas Barat, seperti Leiden (Belanda), Oxford (Inggris), Bonn (Jerman), ANU (Australia), dan lain-lain. Pun, yang lebih intens mengkaji sejarah ulama Nusantara adalah beberapa sarjana Barat, bukan sarjana Muslim. Sejarah ulama Nusantara yang hebat dan agung itu seolah dilupakan dan disia-siakan oleh anak bangsanya sendiri. Barangkali, inilah salah satu akibat terfatal dari keengganan sebagain orang Muslim untuk belajar sejarah.

Beruntung, para masyâyikh di atas mempunyai beberapa murid yang boyong dan mengabdi di Nusantara. Di antara murid-murid mereka yang populer adalah KH. Muhammad Kholil (Bangkalan), KH. Hasyim Asy’ari (Jombang), KH. As’ad Syamsul ‘Arifin (Situbondo), KH. Abbas dan Anas (Cirebon), dan lain-lain. Para kyai tersebut kelak mempunyai beberapa murid semisal KH. Abdul Karim, KH. Marzuqi Dahlan, KH. Mahrus Ali (Lirboyo, Kediri), KH. Jazuli Utsman (Ploso, Kediri), KH. Wahhab Hasbullah (Jombang), KH. Zubair (Sarang, Rembang), KH. ‘Alwi (Senori, Tuban), KH. Faqih (Langitan, Tuban), KH. ‘Aqil Siraj, KH. Sanusi (Ciwaringin, Cirebon), KH. Dimyathi (Banten), KH. Mukhtar Bogor, KH. Rukhiyat (Cipasung, Tasikmalaya), KH. Abdul Halim (Leuwimunding, Majalengka) dan beberapa rama kyai lain.

Dulu, para ajengan-kyai mendirikan beberapa pesantren sebagai sarana untuk mengajarkan dan menyebarkan (ilmu-ilmu) Islam. Beberapa kitab yang telah dianggit oleh masyâyikh di atas pun dijadikan pegangan wajib—khususnya bagi kalangan pemula (mubtadi’în), dan banyak dijadikan bahan rujukan. Pesantren (khususnya pesantren tradisional-salaf NU) mempunyai jasa besar, sebab telah menjaga, melestarikan, dan mengajarkan kitab-kitab karangan ulama Nusantara yang tak ternilai harganya itu, sekalipun pesantren kurang dapat mengembangkan semangat produktivitas dan geliat keilmuan yang telah diwariskan oleh ulama Nusantara tersebut, bahkan tak sedikit yang jatuh kedalam kubangan taqlid dan taqdis di hadapan kitab-kitab tersebut.

Lalu bagaimana dengan peran pelajar Nusantara di (atau lulusan) Timur Tengah sekarang ini? Apakah mereka bisa melampaui apa yang telah dicapai oleh para ulama Nusantara di atas? Atau justeru sebaliknya?

(Oleh : Ahmad Ginandjar Sya’ban, (Mhs. Universitas Al-Azhar) di eramuslim )

READ MORE - Menyimak Jejak Langkah Ulama Nusantara di Timur Tengah

Ustad Sedang Shalat, Tolong Jangan Ribut


Ustad Sedang Shalat, Tolong Jangan Ribut. Perkenalkan, kami keluarga besar Ustad Abdul Somad ( UAS ), dari kelompok usia yang lebih muda. Jumlah kami tak banyak. Rata-rata sepantaran. Pernah bermain, belajar, bersama-sama. Waktu Ustad pulang dari Maroko, semua keluarga ngumpul lagi. Padahal sebelumnya jarang sekali bertemu. Kami menetap di rumah bersama keluarga masing-masing di daerah yang terpisah jauh, menjalani aktivitas sehari-hari. Memiliki seseorang seperti UAS di tengah keluarga adalah karunia.

Sejak dulu UAS menonjol. Pintar. Pandai bergaul. Kami saling menghormati. Setelah UAS ditakdirkan sebagai pendakwah, pensyarah, ustad, ulama, datok, rasa hormat berubah cinta. UAS pun mencintai kami tanpa diminta. Beliau dorong kami bikin persatuan keluarga. Punya WA grup, UAS adminnya. Kami rutin gelar pengajian sekali sebulan, lokasinya pindah-pindah rumah. Rumah kami juga. Jalinan kasih sayang tersimpul semakin dalam.

Sebagai putera Riau, UAS punya janji moral yang dia ikrarkan langsung kepada dirinya yang sedang bersujud di hadapan Sang Khalik. Yaitu, berdakwah secara rutin ke masyarakat suku pedalaman Talang Mamak nun di tengah hutan belantara. Kamilah yang diboyongnya sebagai teman. UAS membuka mata hati kami melihat, merasakan, bagaimana beratnya perjuangan dakwah. Butuh pengabdian, kecintaan, totalitas.

Banyak berjalan, banyak dirasa. Tak habis satu kitab menulis sosok UAS. Terkait riuh-rendah pencalonan UAS sebagai cawapres, kami hanya ingin menyampaikan beberapa hal pendek. UAS, Saudara kami ini, menerima takdirnya sebagai ulama yang dikasihi masyarakat. Demi ‘menebus’ Qadarullah itu, dia terapkan standar tinggi dalam menjalani kehidupan pribadinya. Shalatnya, mengajinya, mu’malahnya, semua ditempuh UAS pada level-ekstra. Apapun risikonya.

Bapak Ibu yang pernah langsung berhadapan dengan UAS di luar mimbar insyaallah tahu: bicaranya irit sekali, berbeda jauh saat sedang berdakwah yang begitu mempesona, pandangannya kalau bicara jarang menatap kita, wajahnya selalu terpekur ke bawah. Melihat dia makan, kita yang kasihan. Hanya beberapa kali suap saja. Jangan pernah bawa UAS ke mall, tak pernah tahan dia lebih dari 15 menit. Tak perlu ingatkan UAS perkara syubhat. Kita baru mau bilang ‘jangan’, beliau sudah jauh memunggungi kita di seberang lautan. Semua ekspresi hidup UAS adalah gerak shalat. Sujud, sujud, sujud. Kalau UAS sedang shalat tapi ada yang ribut, beliau bad-mood.

Sudahlah. Jangan ganggu UAS lagi dengan isu pilpres. Beliau kan sudah bilang tak mau, mohon dihargai prinsip orang. Kami awam pengetahuan agama. Tapi heran saja melihat cara kita memperlakukan ulama di Indonesia. Kita seret paksa mereka masuk ke pusaran politik praktis. Kita adu ulama dengan ulama untuk berlaga di arena sabung suara. Apa tak kualat? Seorang tokoh besar membanding-bandingkan survei popularitas UAS dengan calon lain yang notabene Habaib, cucu- cicit Rasulullah. “Lebih nendang statistik UAS,” katanya. Astaghfirullah.

Sedih hati UAS. Beliau sedang tak bahagia sekarang. Shalat-nya ulama, benteng umat yang sangat berharga. Berhentilah ribut-ribut. Tolong jangan ganggu lagi shalat mereka. Jangan nodai sujud ulama-ulama kita. Menyesal kita nanti. Malu kita dengan dunia luar. Harga tertinggi seorang ulama di Indonesia rupanya hanya sebiji kursi kekuasaan berdurasi lima tahun. Masyallah.

Ingat kisah hidup satu-satunya sahabat Nabi yang tersisa pada sebuah masa, yang terpaksa memilih tinggal di tengah padang pasir dalam keadaan lumpuh, buta, sampai akhir hayatnya, hanya karena tak tahu lagi bagaimana cara menghindari ajakan penguasa saat itu agar ia menjadi hakim istana. Kami takkan pernah sudi membiarkan UAS akan berpikir suatu hari nanti lebih memilih mengucilkan diri dari hiruk-pikuk dunia, daripada takut mengecewakan gelora birahi politik praktis sesaat kita.

Kami berupaya semampunya saat ini menghibur UAS, membesar-besarkan hatinya, agar tak larut dalam duka lara. Sebagian dari kami coba mengingatkannya kepada agenda dakwah ke Talang Mamak akhir Agustus ini, sesuatu yang ia cintai. Sebagian yang lain mencoba menghadirkan gelak-tawa dalam diskusi-diskusi WAG kami, seperti biasa. Apa saja dilakukan, yang penting UAS bersemangat lagi.

Oh iya, sebelum kami lupa, nama grup WA kami itu ‘Ukhuwah Angkatan Sembilan-Enam (UAS) UIN Suska, Riau”. Cuma setahun kebersamaan kami dengan UAS di kampus dulu. Lalu beliau merantau ke Mesir dan Maroko. Justru waktu yang sedikit itulah yang membuat silaturahmi kami melangkah sejauh ini. Kami bangga menyebut UAS sebagai keluarga. Keluarga yang saling melindungi. Kalau Bapak Ibu juga menganggap UAS bagian dari keluarga, sebarkan tulisan ini ke keluarga-keluarga kita yang lain.

Saat menyebarkan, tak usah repot-repot membuat tulisan ‘Copas dari Sebelah’, karena sudah kami buat sendiri di atas tulisan ini. Ya, benar, kami meng-copas-nya langsung dari orang di sebelah kami, orang yang sama di sebelah sajadah Bapak Ibu, di sebelah pundak umat, di sebelah siapa saja yang tak hirau dengan pertemuan-pertemuan kekuasaan, karena baginya yang ada hanya pertemuan maha-rindu di kampung akhirat. Siapa dia? Ustad Abdul Somad.

Wassalam

Oleh: Ramon Damora
Majelis UAS (Ukhuwah Angkatan Sembilan-Enam) UIN Suska, Pekanbaru, Riau [ Suara dari Keluarga UAS: “Ustad Sedang Shalat, Tolong Jangan Ribut” ]

READ MORE - Ustad Sedang Shalat, Tolong Jangan Ribut

Mengetahui Dimana letak akal, nafsu dan ruh ?


Allah سبحانه و تعالى sebelum menciptakan manusia, telah terlebih dahulu menciptakan AQAL dan NAFSU, tertera dalam kitab durratun nasihin karangan syeh ustman bin hasan as syakir,dalam hadist qudsi di sebutkan, Saat Allah سبحانه و تعالى menciptakan Aqal, Allah سبحانه و تعالى mengajukan pertanyaan pada Aqal, Yaa ayyuhal aqli, man anta wa man ana, Wahai Aqal, siapakah kamu dan siapakah Aku? ketika menerima pertanyaan, “Siapa kamu dan siapa Aku?” aqal menjawab “Ana A’bdun wa anta Rabbun.” saya hambaMu Dan Engkau Tuhanku.

Di sisi lain, saat Allah سبحانه و تعالى menciptakan Nafsu, dan di ajukan pertanyaan yang sama, nafsu menjawab,Ana ana wa anta anta, Aku ya aku, dan kamu ya kamu, lantas Allah سبحانه و تعالى memasukkan ke neraka panas selama 1000 tahun, setelah itu nafsu di tanya lagi, namun tetap gak kapok juga dengan menjawab hal yang sama, lantas di masukkan ke neraka dingin selama 1000 tahun, setelah itu di tanya lagi, tetap juga sama jawabannya, lalu di masukkan keneraka lapar selama 1000 tahun, lalu di angkat dan di tanya lagi, baru menjawabAna abdun wa Anta Robbun.

Aqal adalah makhluq suci dengan fithrah Illahi, Aqal itu ibarat kusir yang mengendalikan nafsu.

Di manakah letak Aqal dan nafsu….?

Aqal dan nafsu itu terletak di dalam QOLBU, qolbu dalam arti jasmani adalah Organ jantung manusia, di terangkan dalam hadist nabi riwayat muslim,

Nabi bersabda : 

Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah “Qolbu” “. ( Hadis Riwayat Bukhori).

Qolbu dalam bahasa arab artinya jantung, menurut Imam Al-ghozali, perenungan itu dilakukan mulai dari qolbu yang berpusat di dada, bukan dilakukan melalui pemikiran (al-fikri) dalam otak kepala..

Firman Allah SWT :

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَـٰكِن تَعْمَىالْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

afalam yasiiruu fii l-ardhi fatakuuna lahum quluubun ya’qiluuna bihaa aw aatsaanun yasma’uuna bihaa fa-innahaa laa ta’maa l-abshaaru walaakin ta’maa lquluubullatii fii shshuduur

[22:46] maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai qolbu, dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah qolbu yang di dalam dada.

QS. Al-hajj 22:46

Di jelaskan pada ayat di atas, bahwa qulub atau qolbun itu letaknya fis shuduur, di dalam dada, dan yang ada di dada itu adalah jantung (heart), bukan hati / liver, yang berada di bawah dada, di atas perut.

Dalam alqur’an di jelaskan.. Bahwa sesungguhnya ILMU itu letaknya di jantung qolbun fis shuduur, ilmu itu mencakup Aqal dan Nafsu.

Dalam jantung, ada syaraf-syaraf yang bersambung ke otak.

Otak ada dua bagian, yaitu otak kanan yang disebut EQ, tempat syaraf emosional, seperti marah, sedih, senang, takut, dll. DI sinilah yang menghubungkan dengan NAFSU yang berpusat di jantung.

Yang kedua yaitu otak kiri yang menghubungkan syaraf memory, kecerdasan, berfikir, daya ingat, rasional,yang disebut IQ pusat intelegensi, di sinilah PUSAT AQAL yang berhubungan dengan syaraf di jantung.

Jantung bukan sekedar pemompa energy yang berupa darah menuju ke otak, sebab jantung adalah pusat segala energy yang ada, detakan jantung itu tidaklah bekerja otomatis, tapi di kendalikan oleh Sang Maha Pengendali.

Saat manusia menforsir daya otak kiri-nya, maka jantung bereaksi, begitu juga jika perasaan cinta, benci, senang, sedih, di otak kanan bangkit, maka akan bereaksi pada jantung.

Imam ghozali berpendapat dengan dasar ayat alqur’an di atas, bahwa ILMU itu bukan di otak, tapi di dalam qolbu, penglihatan itu bukan pada mata, tapi di dalam qolbu, pendengaran itu bukan pada telinga, tapi di dalam qolbu, pembicaraan itu bukan pada mulut, tapi di jantung qolbu haqiqotun..

Otak, mata, telinga, mulut, itu hanyalah peralatan yang berupa RAGA, yang di kendalikan oleh AQAL dan NAFSU yang terletak dalam JANTUNG QOLBU.

Lalu apakah ruh itu??

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

wayas-aluunaka ‘ani rruuhi quli rruuhu min amri rabbii wamaa uutiitum mina l’ilmi illaa qaliilaa [17:85]

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. QS. al-isra 85

Alqur’an sendiri telah menegaskan, bahwa Ruh itu adalah urusan-Nya, Kita tidak tahu melainkan sedikit, sedikit bagi Allah سبحانه و تعالى akan pengetahuan manusia.

Ruh ibarat Energi, ruh dalam lafadz arab, berasal dari kata “riih” رياح yang maknanya angin.

Dalam ilmu pengetahuan eksak, gerakan angin itu terjadi karena reaksi energi elektromagnetic, yang terus bergerak, energi elektromagnetic ini dalam unsur atom di sebut elektron yang kita rasakan sebagai energi aliran listrik.

Dan ternyata, tiada satupun profesor di dunia yang dapat menjelaskan apakah listrik itu dengan paten, seperti halnya tiada seorang ulama’ yang dapat menjelaskan apakah ruh itu.

Yang kita tahu, hanyalah sebatas pengertian bahwa, ruh itu adalah energi yang dapat menghidupkan benda organik, sedangkan listrik itu adalah energi yang dapat menghidupkan benda anorganik.

Jadi, ruh itu bukanlah seperti di film atau gambar, yang berbentuk bayangan, atau asap, sungguh berlepas diri tentang hal itu.

Begitu juga listrik, bukan lah petir yang berapi, terang, seperti dalam gambar, itu hanyalah reaksi percikan api, yang panas, sedangkan listrik sendiri tidak berwarna, tidak terlihat, juga bukan kalor atau panas.

Kesimpulanya.
RAGA itu di kendalikan oleh AQAL dan NAFSU yang terletak dalam QOLBU yang dapat hidup karena ada RUH dengan KUASA الله سبحانه و تعالى

READ MORE - Mengetahui Dimana letak akal, nafsu dan ruh ?

Membaca Konspirasi AS-Israel di Timur Tengah


Membaca Konspirasi AS-Israel di Timur TengahDari perspektif geopolitik, kita bisa memprediksi bahwa konflik di Timur Tengah bukan saja konflik antara Palestina-Israel an-sich, tapi juga telah merupakan skenario jangka panjang dari gerakan Zionis-Internasional untuk menguasai wilayah Palestina, khususnya, dan Timur Tengah secara lebih luasnya, melalui pembentukan "Israel Raya," yaitu suatu tanah air Yahudi yang dijanjikan di dalam Talmud.

Tulisan ini mencoba menarik garis merah tentang terorisme yang melegenda sejak peristiwa 11 September 2001 lalu dan berbagai implikasi geopolitik di Timur Tengah akibat adanya konspirasi AS-Israel untuk mengontrol, menguasai dan mengendalikan wilayah tersebut.

Dukungan AS terhadap Israel 

Pertanyaan yang paling penting adalah, mengapa AS selalu berada di belakang Israel? Untuk mengetahui jawabannya, kita perlu merujuk pada ucapan Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon, di hadapan parlemen Israel, Knesset, di Tel Aviv, tanggal 3 Oktober 2001, yang mengatakan, "Kamu (Simon Peres) menceritakan kepada saya tentang Amerika akan berbuat ini dan akan berbuat itu. Saya ingin menceritakan kalian sesuatu yang sangat jelas; jangan cemas tentang tekanan AS terhadap Israel. Kami, bangsa Yahudi, mengontrol Amerika. Dan rakyat AS mengetahui hal seperti ini."

Namun malang bagi AS, kaum Zionis Yahudi di AS ternyata lebih loyal kepada negara Israel daripada kepada negara Amerika. Walaupun, yang terjadi sebenarnya menunjukkan, kejahatan negara Israel merupakan sebuah perluasan militer dan politik langsung dari AS sejak 1948. Dimana dibawah kepemimpinan Yitzhak Shamir, Menachem Begin, dan Ariel Sharon, semua tindakan teror yang brutal dari negara Israel melawan bangsa Palestina untuk lebih dari 55 tahun telah didukung secara penuh baik finansial, persenjataan, maupun politik, oleh pemerintahan AS. Suka atau tidak, setiap tahun AS memberikan bantuan keuangan mencapai 5 sampai 12 miliar dolar kepada Israel, yang tentu saja tak pernah dikembalikan lagi.

Kita juga bisa melihat bahwa pelanggaran berkali-kali yang dilakukan oleh Israel (didukung AS) terhadap hukum internasional dan konvensi Jenewa No 181, 194, 242, 338, dan lain-lain, termasuk deklarasi universal HAM melalui eklusivitas rasial, separatisme, pembersihan etnik, dan holocoust terhadap bangsa Palestina selalu didukung oleh kepentingan Yahudi di dalam pemerintahan AS melalui hak veto yang dimilikinya.

Hal itu menandakan bahwa kaum Zionis Yahudi di AS telah mendapat kekuasaan yang berpengaruh di semua lini atau bagian di pemerintahan AS, memiliki profesi yang legal dan menguasai semua tingkat peradilan, universitas, maupun perusahaan media massa yang berpengaruh sekaligus mendominasi keuangan nasional dan internasional. Kekuasaan yang mereka miliki, secara nyata dan jelas, digunakan dalam apa yang disebut sebagai "teori konspirasi" untuk mendukung segala kepentingan dari gerakan Zionis Internasional yang berbasis di AS dan Israel. 

Kelompok parasit ekonomi dan kekuasaan politik dari Zionis Yahudi di dalam pemerintahan AS tersebut, kini mencapai puncaknya pada masa kekuasaan rezim Bush dengan munculnya Dick Cheney (Wakil Presiden), Donald Rumsfeld (Menteri Pertahanan), Richard Perle (Kepala Badan Kebijakan Pertahanan), dan Paul Wolfowitz (Wakil Sekretaris Menteri Pertahanan), yang pada tahun 1997 merancang "Proyek Pengendalian Dunia (PNAC)" untuk menguasai wilayah Timur Tengah. Mereka berkolaborasi dengan kelompok garis keras di Partai Likud-Israel, yang dipimpin oleh Ariel Sharon, untuk terus mempengaruhi dan mengendalikan berbagai kebijakan pemerintah AS. 

Menguasai Timur Tengah

Kita mestinya mengetahui bahwa agenda dan tujuan utama dari konspirasi AS-Zionisme-Israel adalah menempatkan yahudi-yahudi imigran ke Palestina dan mengusir penduduk Palestina dari kampung halamannya ke negara-negara Arab sekitarnya. Kaum Zionis bercita-cita untuk membentuk "Eretz Israel" atau Israel raya, yaitu tanah yang dijanjikan di dalam Talmud, meliputi wilayah Arab Saudi, Suriah, Yordania, Mesir, sampai ke Irak, atau wilayah yang sekarang membentang dari sungai Nil sampai sungai Eufrat. Ini merupakan suatu wilayah paling strategis di dunia sepanjang jalur Mesopotamia. Selain itu, wilayah ini mengandung sumber energi minyak bumi yang paling besar di dunia.

Agar agenda dan tujuan mereka dapat terealisasi, AS dan Israel melakukan konspirasi atau kerja sama, secara terang-terangan ataupun rahasia, untuk mengembangkan apa yang mereka sebut sebagai strategi "pengepungan teritorial" ke dalam wilayah Palestina maupun ke berbagai negara Arab yang punya potensi untuk mengancam eksistensi Israel. Di satu sisi, Israel bekerja keras untuk mengusir rakyat Palestina di wilayah Yerusalem Timur, Tepi Barat, dan Jalur Gaza agar keluar dari Palestina menuju Gurun Sinai dan Yordan. Di sisi lainnya, konspirasi Zionis, Inggris, dan AS berhasil menciptakan kekacauan dalam sistem internasional dengan diabaikannya resolusi PBB dan penolakan perang dari seluruh penjuru dunia ketika sekutu menginvasi dan menguasai Irak. 

Kita lihat, keberhasilan yang cepat dari invasi tersebut menyebabkan kekuatan-kekuatan strategis Arab menjadi semakin lemah. Akibatnya, keseimbangan kekuatan (power of balance) di wilayah Timur Tengah menjadi timpang dengan munculnya dominasi AS dan Israel di Timur Tengah. Dalam konteks strategis dan jangka panjang, mereka juga punya peluang besar untuk mengambil alih penguasaan ekonomi dan militer ke wilayah-wilayah Timur Tengah, Asia Tengah, dan Laut Kaspia yang kaya minyak tersebut. 

Karena itulah kita bisa mencermati adanya benang merah antara kepentingan AS untuk menguasai sumber-sumber energi minyak dunia agar dapat menjamin kelangsungan industri dan ekonomi kapitalistiknya dengan kepentingan Zionis Israel untuk merealisasikan cita-citanya membangun "Israel Raya" yang dapat mengontrol Timur Tengah, khususnya, dan dunia, pada umumnya. Karena, seperti telah disebutkan, wilayah Timur Tengah, selain mengandung sumber minyak terbesar di dunia, juga dikenal sejarah sebagai pusat dari pergolakan peradaban-peradaban besar dunia.

Titik temu dua kepentingan tersebut pada akhirnya menciptakan kombinasi strategis untuk menguasai wilayah Timur Tengah secara keseluruhan antara upaya untuk membungkam dan sekaligus menghancurkan berbagai elemen kekuatan di dalam wilayah Palestina, yang kini dikomandoi oleh Hamas dan Jihad Islam ISLAM dan upaya untuk memperlemah negara-negara basis pendukung perlawanan seperti Lebanon, Suriah, dan Iran yang dinilai dapat mengancam Israel. 

Karena itu "strategi pengepungan" keluar wilayah Palestina melalui serangan ke Suriah dan Lebanon dan pengerahan ribuan tentara Israel ke wilayah Palestina merupakan strategi dari AS dan Israel agar bisa menghancurkan berbagai elemen yang dapat mengancam skenario dan rencana jangka panjang AS-Israel membangun imperium dunia secara hegemonik.

Skenario peta jalan

Tapi kita juga mesti melihat suatu hubungan yang jelas antara rencana invasi AS ke Irak dan, pada saat yang sama, rencana proposal perdamaian "Peta Jalan" (Road Map). Inti dari proposal yang diprakarsai AS tersebut mengusulkan untuk menghentikan pendudukan Israel atas tanah Palestina yang dijajah sejak 1967 berdasarkan keputusan Dewan Keamanan PBB No 242, 338, 1379, dan keputusan KTT Beirut (28 Maret 2002) tentang perdamaian hingga terjadi penyelesaian secara keseluruhan dan universal segala konflik Israel-Palestina di tahun 2005. Walaupun demikian, kita masih bisa menangkap adanya "hidden agenda" dan "main mata" antara AS dan Israel.

Misalnya, proposal "Peta Jalan" yang diawasi tim kuartet tersebut, justru dipakai oleh Israel untuk melegalkan berbagai tindak opresi dan eksekusi terhadap rakyat Palestina dan menjadikannya sebagai instrumen keamanan Israel melalui negosiasi prioritas-prioritas dan kondisi-kondisi seperti diinginkan oleh Sharon dan Paul Mofaz (Menteri Pertahanan). Tipu muslihat politik "belah bambu" mereka adalah agar Israel bisa menciptakan konfrontasi antarfaksi di Palestina ke arah sebuah Perang Sipil antarwarga Palestina sendiri, walaupun rencana licik tersebut akhirnya gagal.

Pada saat yang sama, di tengah upaya perdamaian, Israel tetap melanjutkan pembangunan permukiman barunya bagi para imigran Yahudi dan "Tembok Berlin"-nya yang mengelilingi, menutup, memisahkan, dan membatasi kota-kota dan kampung-kampung di Palestina.

Dari perspektif ini kita bisa menyimpulkan bahwa "Peta Jalan" yang diprakarsai Bush tersebut telah gagal. Hal itu justru sangat diharapkan oleh pihak Israel. Kegagalan "Peta Jalan" menciptakan rasa frustasi yang besar tentang prospek perdamaian di Timur Tengah, tapi sekaligus memberikan Israel suatu "license to kill", seperti ditulis Republika, untuk berbuat apa saja tanpa landasan hukum yang legal. Karena itu Israel kemudian berencana untuk membunuh dan mengusir Arafat dan tokoh-tokoh Islam lainnya seperti Syeikh Ahmad Yasin.

Sayangnya, penolakan DK PBB dan 133 negara anggota Majelis Umum terhadap rencana Israel tersebut ternyata dengan mudah dapat diveto oleh AS dan Israel. Itu menandakan bahwa AS setuju terhadap segala upaya apapun dari Israel untuk menguasai Palestina, bahkan dengan cara membunuh atau mengusir Arafat dan tokoh-tokoh Palestina lainnya. 

Perilaku politik luar negeri AS tersebut merupakan bukti nyata dari opini umum selama ini bahwa sekutu paling kuat dan tepercaya AS di dunia ini hanyalah Israel. Contoh paling aktual dan konkret dari reaksi AS adalah menyalahkan Suriah yang dianggapnya melindungi "kelompok teroris" ketika Israel menyerang teritori Suriah. Padahal kita tahu, serangan militer Israel ke dalam teritori Suriah tersebut sudah memiliki agenda yang jelas, yang juga diketahui dan didukung oleh pemerintah AS. Begitupun dengan aksi militer pesawat-pesawat tempur Israel ke wilayah Lebanon di atas langit Beirut dan Tripoli dan blokade ribuan militer Israel di wilayah Palestina secara nyata dan jelas mendapat restu dari AS. 

Dari analisis dan fakta-fakta tersebut seharusnya kita mengerti bahwa tak ada logika di dalam gerakan Zionis Internasional untuk bersedia menciptakan perdamaian dunia. Di dalam berbagai kasus yang ada, konspirasi AS dan Israel tampaknya telah memasuki wilayah berbahaya sebagai "State-Terorism" yang dapat sangat mengancam perdamaian di Timur Tengah maupun belahan dunia lainnya. Kita mesti waspada terhadap konspirasi AS-Israel tersebut. Karena sebagai "Negara Teroris" (State-Terorism), yang didukung kemampuan finansial dan intelijen yang baik (well organized crime), mereka sedang mengarahkan pedangnya pada upaya penaklukan pusat-pusat kekuatan Islam di Timur Tengah, dan juga tentu saja, negara-negara Islam lainnya termasuk Indonesia. Agenda tersebut, sebenarnya, jauh-jauh hari telah dirancang sejak tahun 1993, ketika seorang Prof Yahudi, Samuel Huntington menulis karya mahadahyat tentang "The Clash of Civilization" pasca-runtuhnya imperium Uni Soviet, 1992. (RioL)
Laknatullah Teroris Faq Oleh : Redaksi 13 Oct 2003 - 9:05 am

READ MORE - Membaca Konspirasi AS-Israel di Timur Tengah
Akhlak (20) Bibel (6) Dakwah (39) Hak Azazi Manusia (14) Islam (27) Jihad (18) Kristen (19) Liberalisme (46) Mualaf (9) Muslimah (15) Natal (2) Orientalis (9) Peradaban (44) Poligami (10) Politik (32) Ramadhan (10) Rasulullah (22) Ridha (4) Sejarah (38) Tasawuf (25) Tauhid (18) Tawakal (3) Teroris (15) Trinitas (8) Yahudi (38) Yesus Kristus (34) Zuhud (8)