Masuknya Islam Melalui Khilafah


Islam masuk ke Indonesia pada abad 7M (abad 1 H), jauh sebelum penjajah datang. Islam terus berkembang dan mempengaruhi situasi politik ketika itu. Berdirilah kesultanan-kesultanan Islam seperti di Sumatera setidaknya diwakili oleh institusi kesultanan Peureulak (didirikan pada 1 Muharram 225H atau 12 November tahun 839M), Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang; Ternate, Tidore dan Bacan di Maluku (Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440); Kesultanan Sambas, Pontianak, Banjar, Pasir, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Sintang dan Kutai di Kalimantan. Adapun kesultanan di Jawa antara lain: kesultanan Demak, Pajang, Cirebon dan Banten. Di Sulawesi, Islam diterapkan dalam institusi kerajaan Gowa dan Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Sementara di Nusa Tenggara penerapan Islam di sana dilaksanakan dalam institusi kesultanan Bima. Setelah Islam berkembang dan menjelma menjadi sebuah institusi maka hukum-hukum Islam diterapkan secara menyeluruh dan sistemik dalam kesultanan-kesultanan tersebut.

Institusi politik yang ada di Nusantara ini kelihatan memiliki hubungan dengan Khilafah Islamiyah. Diantara yang menunjukkan hal ini adalah saat Islam masuk ke Indonesia diantara para pengemban dakwahnya merupakan utusan langsung yang dikirim oleh khalifah melalui walinya. Misalnya, pada tahun 808H/1404M pertama kali para ulama utusan Sultan Muhammad I (juga dikenal sebagai Sultan Muhammad Jalabi atau Celebi dari Kesultanan Utsmani) ke pulau Jawa (dan kelak dikenal dengan nama Walisongo). Setiap periode ada utusan yang tetap dan ada pula yang diganti. Pengiriman ini dilakukan selama lima periode.

Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim ahli tata pemerintahan negara dari Turki, Maulana Ishaq dari Samarqand yang dikenal dengan nama Syekh Awwalul Islam, Maulana Ahmad Jumadil Kubra dari Mesir, Maulana Muhammad al-Maghrabi dari Maroko, Maulana Malik Israil dari Turki, Maulana Hasanuddin dari Palestina, Maulana Aliyuddin dari Palestina, dan Syekh Subakir dari Persia. Sebelum ke tanah Jawa, umumnya mereka singgah dulu di Pasai.

Adalah Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah penguasa Samudra Pasai antara tahun 1349-1406 M yang mengantar Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Tanah Jawa. Pada periode berikutnya, antara tahun 1421-1436 M datang tiga da’i ulama ke Jawa menggantikan da’i yang wafat. Mereka adalah Sayyid Ali Rahmatullah putra Syaikh Ibrahim dari Samarkand (yang dikenal dengan Ibrahim Asmarakandi) dari ibu Putri Raja Campa-Kamboja (Sunan Ampel), Sayyid Ja’far Shadiq dari Palestina (Sunan Kudus), dan Syarif Hidayatullah dari Palestina cucu Raja Siliwangi Pajajaran (Sunan Gunung Jati). Mulai tahun 1463M makin banyak da’i ulama keturunan Jawa yang menggantikan da’i yang wafat atau pindah tugas. Mereka adalah Raden Paku (Sunan Giri) putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu, Raja Blambangan; Raden Said (Sunan Kalijaga) putra Adipati Wilatikta Bupati Tuban; Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang); dan Raden Qasim Dua (Sunan Drajad) putra Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati, putri Prabu Kertabumi Raja Majapahit. Banyaknya gelar Raden yang berasal dari kata Rahadian yang berarti Tuanku di kalangan para wali, menunjukkan bahwa dakwah Islam sudah terbina dengan subur di kalangan elit penguasa Kerajaan Majapahit. Sehingga terbentuknya sebuah kesultanan tinggal tunggu waktu.

Hubungan tersebut juga nampak antara Aceh dengan Khilafah Utsmaniyah. Bernard Lewis menyebutkan bahwa pada tahun 1563M, penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istambul untuk meminta bantuan melawan Portugis sambil meyakinkan bahwa sejumlah raja di kawasan tersebut telah bersedia masuk agama Islam jika kekhalifahan Utsmaniyah mau menolong mereka. Saat itu kekhalifahan Utsmaniyah sedang disibukkan dengan berbagai masalah yang mendesak, yaitu pengepungan Malta dan Szigetvar di Hungaria, dan kematian Sultan Sulaiman Agung. Setelah tertunda selama dua bulan, mereka akhirnya membentuk sebuah armada yang terdiri dari 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya yang mengangkut persenjataan dan persediaan untuk membantu masyarakat Aceh yang terkepung. Namun, sebagian besar kapal tersebut tidak pernah tiba di Aceh. Banyak dari kapal-kapal tersebut dialihkan untuk tugas yang lebih mendesak yaitu memulihkan dan memperluas kekuasaan Utsmaniyah di Yaman. Ada satu atau dua kapal yang tiba di Aceh. Kapal-kapal tersebut selain membawa pembuat senjata, penembak, dan teknisi juga membawa senjata dan peralatan perang lainnya, yang langsung digunakan oleh penguasa setempat untuk mengusir Portugis. Peristiwa ini dapat diketahui dalam berbagai arsip dokumen negara Turki.

Hubungan ini nampak pula dalam penganugerahan gelar-gelar kehormatan diantaranya Abdul Qadir dari Kesultanan Banten misalnya, tahun 1048 H (1638 M) dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Mekkah saat itu. Demikian pula Pangeran Rangsang dari Kesultanan Mataram memperoleh gelar Sultan dari Syarif Mekah tahun 1051 H (1641 M ) dengan gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami. Pada tahun 1638 M, sultan Abdul Kadir Banten berhasil mengirim utusan membawa misi menghadap syarif Zaid di Mekah. Hasil misi ke Mekah ini sangat sukses, sehingga dapat dikatakan kesultanan Banten sejak awal memang meganggap dirinya sebagai kerajaan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada di bawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul. Sultan Ageng Tirtayasa mendapat gelar sultan dari Syarif mekah.

Hubungan erat ini nampak juga dalam bantuan militer yang diberikan oleh Khilafah Islamiyah. Dalam Bustanus Salatin karangan Nuruddin ar-Raniri disebutkan bahwa kesultanan Aceh telah menerima bantuan militer berupa senjata disertai instruktur yang mengajari cara pemakaiannya dari Khilafah Turki Utsmani (1300-1922). Tahun 1652 kesultanan Aceh mengirim utusan ke Khilafah Turki Utsmani untuk meminta bantuan meriam. Khilafah Turki Utsmani mengirim 500 orang pasukan orang Turki beserta sejumlah besar alat tembak (meriam) dan amunisi. Tahun 1567, Sultan Salim II mengirim sebuah armada ke Sumatera, meski armada itu lalu dialihkan ke Yaman. Bahkan Snouck Hourgroye menyatakan, “Di Kota Makkah inilah terletak jantung kehidupan agama kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darah segar ke seluruh penduduk Muslimin di Indonesia.” Bahkan pada akhir abad 20, Konsul Turki di Batavia membagi-bagikan al-Quran atas nama Sultan Turki. Di istambul juga dicetak tafsir al-Quran berbahasa melayu karangan Abdur Rauf Sinkili yang pada halaman depannya tertera “dicetak oleh Sultan Turki, raja seluruh orang Islam”. Sultan Turki juga memberikan beasiswa kepada empat orang anak keturunan Arab di Batavia untuk bersekolah di Turki. Pada masa itu, yang disebut-sebut Sultan Turki tidak lain adalah Khalifah, pemimpin Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki. Selain itu, Snouck Hurgrounye sebagaimana dikutip oleh Deliar Noer mengungkapkan bahwa rakyat kebanyakan pada umumnya di Indonesia, terutama mereka yang tinggal di pelosok-pelosok yang jauh di penjuru tanah air, melihat stambol [Istambul, kedudukan Khalifah Usmaniyah] masih senantiasa sebagai kedudukan seorang raja semua orang mukmin yang kekuasaannya mungkin agaknya untuk sementara berkurang oleh adanya kekuasaan orang-orang kafir, tetapi masih dan tetap [dipandang] sebagai raja dari segala raja di dunia. Mereka juga berpikir bahwa “sultan-sultan yang belum beragama mesti tunduk dan memberikan penghormatannya kepada khalifah.” Demikianlah, dapat dikatakan bahwa Islam berkembang di Indonesia dengan adanya hubungan dengan Khilafah Turki Utsmani.

Dengan demikian, keterkaitan Nusantara sebagai bagian dari Khilafah, baik saat Khilafah Abbasiyah Mesir dan Khilafah Utsmaniyah telah nampak jelas pada pengangkatan Meurah Silu menjadi Sultan Malikussaleh di Kesultanan Samudra-Pasai Darussalam oleh Utusan Syarif Mekkah, dan pengangkatan Sultan Abdul Kadir dari Kesultanan Banten dan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram oleh Syarif Mekkah. Dengan mengacu pada format sistem kehilafahan saat itu, Syarif Mekkah adalah Gubernur (wali) pada masa Khilafah Abbasiyah dan Khilafah Utsmaniyah untuk kawasan Hijaz. Jadi, wali yang berkedudukan di Mekkah bukan semata penganugerahan gelar melainkan pengukuhannya sebagai sultan. Sebab, sultan artinya penguasa. Karenanya, penganugerahan gelar sultan oleh wali lebih merupakan pengukuhan sebagai penguasa Islam. Sementara itu, kelihatan Aceh memiliki hubungan langsung dengan pusat khilafah Utsmaniyah di Turki.

Pergumulan Islam Politik

Dalam masa penjajahan, Belanda terus menguras kekayaan Indonesia. Dengan menggunakan dalih memajukan pribumi, Belanda mendeklarasikan politik etis atau politik balas budi. Pada 17 September 1901, Ratu Wilhelmina menetapkan kebijakan politik etis, yang meliputi: (1) irigasi (pengairan), (2) emigrasi, dan (3) pengajaran dan pendidikan (edukasi). Namun, dalam prakteknya mereka menggunakan semua itu untuk kepentingan mereka sendiri. Pemerintah Belanda membangun irigasi untuk perkebunan-perkebunan Belanda, dan emigrasi dilakukan dengan memindahkan penduduk ke daerah perkebunan Belanda untuk dijadikan pekerja rodi. Sementara, dengan edukasi mereka mendidik kalangan priyayi hingga memiliki budaya Belanda dan menjadi kaki tangan Belanda dalam memerintah rakyat. Menarik komentar seorang Belanda, Van Kol, “Sesungguhnya tidak ada apa yang disebut politik etis di tanah jajahan, karena tujuan politik colonial ialah eksploitasi bangsa yang terbelakang, walaupun tujuan yang sebenarnya sering disembunyikan di belakang kata-kata indah”.

Selain menjadikan kalangan priyayi terdidik sebagai kaki tangannya, Belanda melakukan depolitisasi melalui Snouck Horgoronye. Salah satu langkah penting yang dilakukannya adalah infiltrasi pemikiran dan politik melalui Snouck Hurgronye. Dia menyatakan dengan tegas bahwa musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama melainkan Islam sebagai doktrin politik. Dalam prakteknya Belanda melakukan: (1) memberangus politik dan institusi politik/pemerintahan Islam dan menghapus kesultanan Islam, (2) Soft power, yakni dengan menyebar para orientalis yang dipelihara oleh pemerintah penjajah. Pemerintah Belanda membuat Kantoor voor Inlandsche zaken yang lebih terkenal dengan kantor agama (penasehat pemerintah dalam masalah pribumi).

Pertarungan Islam dengan sekuler terus berlanjut. Pada tanggal 16 Oktober 1905 berdirilah Sarekat Islam, bergerak secara nasional dan beranggotakan berbagai kalangan rakyat. Inilah mestinya tonggak kebangkitan Indonesia. Tapi, yang kini disebut-sebut sebagai tonggak kebangkitan Indonesia justru Budi Utomo yang berdiri 1908. Padahal, semestinya adalah Sarekat Islam. Sebab, Budi Utomo digerakkan oleh para didikan Belanda dan bergerak hanya di Jawa, Madura, dan Bali. Begitu juga, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah tahun 1912 dengan melakukan gerakan sosial dan pendidikan dengan basis Islam. Sementara Taman Siswa dengan basis sekuler didirikan Ki Hajar Dewantara pada 1922. Sejatinya, KH Ahmad Dahlanlah sebagai bapak pendidikan bukan Ki Hajar Dewantara seperti saat sekarang. Semua ini memberikan gambaran pertarungan Islam dengan sekulerisme untuk mengarahkan Indonesia terus terjadi.

Perjuangan terus berlanjut hingga menjelang kemerdekaan. Terjadilah perdebatan sengit antara pejuang Islam yang menghendaki negara Islam dengan kalangan sekuler yang menolak penyatuan agama dengan negara. Ringkas cerita, yang terjadi adalah kompromi dengan lahirnya Piagam Jakarta 22 Juni 1945 yang menyebutkan bahwa negara dibentuk berdasar kepada, ”Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Sekalipun demikian, Ki Bagus Hadikusumo, pemimpin Muhammadiyah, menegaskan beliau tidak menyetujui rumusan tersebut. Kata-kata ’bagi pemeluk-pemeluknya’ harus dihapus. Cukup, ’dengan kewajiban menjalankan syariat Islam’. Diproklamasikanlah kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Ternyata, usianya hanya 1 hari. Sebab, pada 18 Agustus 1945 tujuh kata ’dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’ dalam Piagam Jakarta dicoret oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Kejadian yang menyolok mata ini, dirasakan umat Islam sebagai suatu permainan sulap yang diliputi kabut rahasia.

Pada masa Soekarno, Islam dipinggirkan. Bahkan, Indonesia hendak diarahkan menjadi Nasakom (nasionalisme, agama dan komunisme). Isu syariat Islam dibungkam. Partai Masyumi yang gigih menyuarakan Islam dipaksa membubarkan diri oleh Presiden Soekarno, pada akhir tahun 1960 melalui Keppres Nomor 200/1960 tanggal 15 Agustus 1960. Di benak orang Masyumi kala itu Soekarno adalah diktator bagi umat Islam. Dalam bukunya berjudul Sarinah, Soekarno menyatakan kekagumannya kepada Musta Kamal yang menerapkan sekulerisme di Turki.

Rezim berganti. Pada masa Soeharto, dibuatlah CSIS (Center for Strategic and International Studies) sebagai lembaga kajian dalam merumuskan dan memback-up konsep-konsep pembangunan Orde Baru dengan berbagai rekayasanya. Islam disebut ekstrim kanan. Partai-partai Islam berfusi dengan tekanan penguasa ke dalam Partai Persatuan Pembangunan. Pancasila dijadikan satu-satunya ideologi bagi semua kekuatan politik dan UUD 1945 menjadi landasan operasionalnya dengan tafsiran ala Orde Baru. Menurut pentolan Orde Baru Ali Moertopo, Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama Pancasila, bukanlah tuhan sebagaimana dipahami agama, melainkan tuhan dalam makna politik. Siapapun yang tegas-tegas menyuarakan Islam dituduh melawan Pancasila, subversif dan dipandang musuh negara. Sekulerisme terus menggempur Islam.

Pertarungan Ideologi

Peta perpolitikan di Indonesia saat ini dan akan datang tidak akan banyak berubah. Pertarungan antara Islam dengan sekulerisme terus terjadi. Dalam realitasnya, sekularisme terwujud dalam dua bentuk, yakni Kapitalisme Liberal, dan Sosialis Kanan (Soska).

1. Kapitalisme Liberal

Dalam bidang politik, penganut idiologi kapitalisme liberal selalu menggunakan demokrasi sebagai jargon dan alat demi mewujudkan dan mempertahankan kemenangan politik. Dalam bidang ekonomi, penganut idiologi kapitalisme liberal (neolib) sangat percaya pada legitimasi pasar bahwa pasar bebas adalah prekondisi yang esensial bagi terlaksananya sebuah distribusi yang adil untuk kesejahteraan dan demokrasi politik. Karena penyerahan diri pada peranan pasar itulah, maka mereka langsung ataupun tidak meminta pemotongan pengeluaran-pengeluaran publik untuk pelayanan-pelayanan sosial. Atas nama efisiensi yang lebih besar, berbagai BUMN, pengelolaan barang dan jasa, sebaiknya diserahkan pada investor-investor swasta. Kemudian, mereka juga umumnya mengeliminasi konsep the public good atau community dan menggantinya dengan konsep individual responsibility.

Kelompok ini, saat ini sedang mengendalikan kekuasaan dan menjadi penopang penguasa sekarang. Secara politik mereka ditopang oleh kelompok pro demokrasi seperti Andi Mallarangeng yang meraih gelar Doctor of Philisophy di bidang ilmu politik dari Northern Illinois University (NIU) Dekalb, Illinois, Amerika Serikat pada tahun 1997 dan Rizal Mallarangeng adiknya yang menyelesaikan MA dan PhD dalam bidang ilmu politik di Universitas Negeri Ohio, Amerika Serikat (1999). Rizal mendirikan Freedom Institute bekerjasama dengan Friedrich Naumann Stiftung, juga (save our nation). Mereka juga ditopang berbagai lembaga riset dan LSM. Secara ekonomi, mereka ditopang oleh kelompok Mafia Berkeley, seperti Poernomo Yusgiantoro, Boediono, Sri Mulyani, dll. Kelompok kapitalisme liberal ini lebih banyak berkiblat ke AS.

2. Sosialis Kanan (Soska)

Dalam bidang politik, Soska sama dengan kapitalisme liberal, menggunakan demokrasi sebagai jargon dan alat untuk mewujudkan dan mempertahankan kemenangan politik. Karenanya, Soska sering dikenal dengan sebutan sosialis demokrat (Sosdem). Sementara itu, dalam bidang ekonomi Soska menggunakan ekonomi sosialisme sebagai pijakan untuk mewujudkan apa yang mereka sebut kesejahteraan rakyat. Kaum sosialis selalu menyatakan mendukung nilai-nilai persamaan, keadilan sosial, kerjasama, kebebasan individu, dan kebahagiaan. Mereka umumnya berusaha mencapai nilai-nilai ini dengan mengabolisi perekonomian privat dan menggantinya dengan “kepemilikan publik”, suatu sistem sosial atau kontrol negara terhadap produksi dan distribusi.

Penopang utama kelompok Soska adalah Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang sampai saat ini orang-orangnya masih aktif dalam percaturan politik dan ekonomi Indonesia. Mereka terus memainkan peran mulai dari orde lama hingga orde reformasi. Penggeraknya antara lain idiolog PSI Rahman Toleng, penggerak media Goenawan Mohammad dan penghuni Watimpres, Adnan Buyung Nasution (bidang hukum), Subur Budi Santoso (sosial budaya), TB Silalahi (pertahanan keamanan), Rachmawati Soekarnoputri (politik), dan Syahrir (ekonomi). Pengamat politik dari Universitas Bengkulu (Unib), Lamhir Syam Sinaga, menilai bahwa pembentukan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) selain sebagai amanat undang-undang juga merupakan salah satu bentuk penetrasi politik. Juga ekonom Rizal Ramli, aktifis angkatan 66 Hariman Siregar dan Arief Budiman serta tokoh-tokoh Indemo Muslim Abdurrahman, Amir Husein Daulay, Sunardi, Bitor, dan Ray Rangkuti. Kelompok Soska umumnya berkiblat ke Uni Eropa. Namun, dalam prakteknya juga tetap menginduk kepada AS.

3. Perseteruan Kapitalisme Liberal, Sosialis Kanan (Soska) dan Islam.

Kapitalis liberal dan Soska secara bersama-sama membela demokrasi dan secara bersama-sama pula berusaha menyingkirkan Islam. Contoh kasus ini adalah sikap kelompok AKKBB dalam mendukung Ahmadiyah hingga terjadi insiden Monas 1 Juni 2008, penolakan terhadap UU perbankan syariah dan penolakan Kelompok 17 terhadap RUU APP sekaligus memproklamirkan Maklumat Keindonesiaan yang menuding Islam sebagai ancaman. Walaupun cara menyikapinya kadang nampak berbeda sesuai kepentingan masing-masing.

Dalam bidang ekonomi, Kapitalis liberal, Soska dan Islam saling bersaing untuk menerapkan sistem ekonomi masing-masing. Kasus berbagai demo kenaikan harga BBM yang berakhir anarkis di DPR adalah contoh perseteruan soska dengan kapitalis liberal. Dengan berbagai demo, Soska berusaha menggusur kekuasaan neolib. Demo BBM yang dilakukan mahasiswa didepan DPR yang berakhir rusuh pertengahan Juni 2008 lalu tampak digerakkan salah seorang aktivis soska yang kini sedang diincar kepolisian. Sebagai contoh, kasus kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Pada tahun 2005 pemerintah menaikkan harga BBM hingga 124 persen sebagai bentuk liberalisasi pasar. Masyarakat umum dan ormas Islam menolak. Namun, pentolan-pentolan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang umumnya mendapat dana dari negara asing mengeluarkan iklan di beberapa koran nasional. Isinya: ’Mendukung kenaikan BBM!’

Pertarungan yang sama terjadi antara Islam dengan sekulerisme liberalisme pada kasus Rancangan Undang-Undang Antipornografi Pornoaksi (RUU-APP). Pada satu sisi, pihak sekuler mengerahkan pelacur, homoseks, lesbian, dan sebagian artis menolak disahkannya RUU-APP. Alasannya, ini penerapan bentuk penerapan syariat Islam dan membahayakan kesatuan. Mereka menamakan diri Aliansi Kebangsaan. Tokohnya banyak tokoh-tokoh yang menandatangani kenaikan BBM tahun 2005. Pada sisi lain, umat Islam yang dipelopori oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Forum Umat Islam (FUI) melakukan aksi dengan kekuatan 1,2 juta umat menyatakan perang terhadap pornografi dan pornoaksi. Namun, hingga kini RUU tersebut belum disahkan. Ketua Pansus RUU-APP Dewan Perwakilan Rakyat mengaku ada beberapa negara yang menekan DPR dan pemerintah untuk tidak mengesahkannya.

Ketika persoalan Ahmadiyah mencuat kembali sejak tahun 2005, pertarungan kembali terjadi. Kelompok sekuler yang pada saat kasus RUU-APP menamakan diri Aliansi Kebangsaan kini menamakan diri Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). AKKBB terdiri dalam kelompok sekuler, liberal, Kristen dan Ahmadiyah. Mereka mendukung Ahmadiyah yang telah nyata-nyata mengacak-acak ajaran Islam denga menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dan buku Tadzkirah sebagai kitab sucinya. Didalamnya juga disebut, siapapun yang menolak kenabian Mirza dia adalah kotor, seperti babi, dilaknat Allah dan musuh Islam. Dalih mereka adalah kebebasan beragama dan Indonesia bukan negara agama. Padahal, alasan sebenarnya adalah ketakutan mereka terhadap syariat Islam dan kesatuan umat dalam khilafah seperti dimuat didalam situs mereka pada tanggal 15 Mei 2008. Begitu juga, iklan mereka di beberapa media massa nasional menyatakan pihak yang menolak Ahmadiyah membahayakan Indonesia. Berseberangan dengan AKKBB, ormas/lembaga/gerakan/partai Islam justru menuntut pemerintah membubarkan Ahmadiyah.

Klimaks perseteruan terkait Ahmadiyah itu terjadi pada 1 Juni 2008. Hari itu terjadi insiden Monas, pihak AKKBB bentrok dengan massa beratribut Front Pembela Islam (FPI). Berdasarkan pengakuan polisi dan peserta di lapangan, insiden ini terjadi karena adanya provokasi dari pihak AKKBB. Yang menarik, menanggapi insiden ini pihak AKKBB menganggap bahwa ini pelecehan terhadap Pancasila, dilakukan oleh kalangan Islam radikal dan membahayakan Indonesia. Padahal, tidak ada satu katapun Pancasila didalam iklan mereka di berbagai koran nasional iru. Bahkan, Goenawan Mohamad (pemilik koran Tempo, penggerak AKKBB) menuntut pembubaran organisasi-organisasi Islam yang disebutnya radikal, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI). Padahal, organisasi-organisasi tersebut tidak terlibat sama sekali dalam insiden. Tuntutan ini persis sama dengan tuntutan mereka saat kasus RUU-APP dan keluarnya fatwa MUI tentang haramnya sekulerisme, pluralisme dan liberalisme. Semua ini memberikan gambaran bahwa yang sebenarnya sedang terjadi adalah pertarungan antara Islam dengan sekulerisme.

Peta Pergerakan Politik

Kekuatan politik di Indonesia setidaknya hingga Juli 2008, pada dasarnya dibagi menjadi beberapa kelompok :

Kelompok Pro Status Quo

Penguasa (Presiden & Wakil presiden), adalah kelompok yang secara konstitusi telah mendapatkan kekuasaan dari rakyat melalui pemilu termasuk kelompok yang berada di lingkaran kekuasaan langsung (anggota kabinet), yang tentu loyal kepada presiden dan wapres yang telah menunjuknya. Kelompok ini terdiri atas seluruh parpol utamanya: Partai Demokrat, Partai Golkar, PKS dan PBB. Namun demikian tidak seluruh unsur partai memiliki loyalitas yang solid, baik secara personal maupun elemen partai. Misalnya pada PAN dan PKB serta PKS dan PBB

Kelompok pragmatis, adalah kelompok yang terlibat dalam lingkaran kekuasaan karena kemampuan atau pengaruhnya. Kelompok ini saat ini menduduki jabatan-jabatan birokrasi di departemen, BUMN dan TNI Polri yang karena pengangkatannya memungkinkan Presiden dan Wapres punya peran dan pengaruh. Termasuk dalam kelompok ini adalah para intelektual, LSM, ormas dan media massa yang telah diuntungkan oleh kekuasaan.

Kelompok Oposisi

  • Kelompok Oposisi Penguasa, adalah kelompok yang secara konstitusi kalah dalam pemilu, yakni utamanya PDIP dan para politisi kritis seperti Drajad Wibowo dsb. Kelompok ini secara konstitusi sesungguhnya juga ikut terlibat dalam pengambilan keputusan melalui kewenangannya dalam parlemen. Sikap oposisional kelompok ini lebih karena dorongan rivalitas politik, bukan karena idealisme tertentu mengingat hal-hal yang dikritisi juga dilakukan di masa Megawati jadi presiden. Karenanya mengharapkan kesungguhan dari kelompok ini akan sia-sia.
  • Kelompok sosialis Nasionalis, adalah kelompok di tengah masyarakat yang dalam perjuangannya diikat oleh ikatan ideologi Sosialis Nasionalis. Jargon yang diusung adalah “anti penjajahan, anti kapitalisme, anti liberalisme, anti intervensi asing.” Diantaranya, sejumlah LSM atau gerakan kiri seperti Jarkot, Forkot dan Kelompok Kajian seperti Prodem atau Indemo. Kelompok sosialis nasionalis umumnya memiliki militansi yang cukup handal (khususnya utk lavel kader lapangannya), rela berkorban, rela diperintah, sehingga untuk mendobrak kebekuan di masyarakat kelompok ini memiliki daya dobrak yang cukup kuat.

Kelompok Islam

  • Kelompok Islam Ideologis adalah kelompok yang secara konsisten berpegang teguh kepada ideologi (fikrah & thariqah) Islam sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Kelompok Islam ideologis memiliki garis perjuangan yang konsisten, dengan menyiapkan kader yang akan menjadi pembela & penegak Islam. Dinamika politik (arus perubahan) yang berkembang di masyarakat dijadikan sebagai momen untuk menyadarkan umat. Kelompok ini secara riil berada di tengah-tengah masyarakat, baik dalam kelompok ormas, jama’ah dakwah, maupun personal. Kelompok ini menjadi kelompok yang akan sangat menentukan di masa yang akan datang.
  • Kelompok Islam Pragmatis adalah kelompok Islam dan atau tokoh Islam di masyarakat yang tidak memiliki garis perjuangan yang jelas. Kelompok dan tokoh Islam ini sangat mudah terpengaruh kepentingan atas dasar pragmatis, baik materi maupun kepentingan lainnya. Kelompok ini meski memiliki semangat Islam tapi tidak didasarkan pada kesadaran ideologi yang kuat. Dalam pertarungan politik cenderung mengambil jalan selamat karena yang penting buat mereka adalah bahwa kepentingan mereka (parpol, ormas, pesantren atau pribadi) tetap terjaga. Dengan tabiat yang seperti ini, bisa terjadi mereka berubah menjadi sangat mendukung perjuangan Islam ideologis bila perjuangan itu sangat prospektif yang nyatanya didukung oleh kekuatan politik signifikan. Tapi sebaliknya pada kadar tertentu, kelompok semacam ini bisa berbahaya, karena secara lahiriyah tampak mewakili kaum muslimin tetapi pada hakekatnya berjuang untuk diri mereka sendiri [Lajnah Siyasi - HTI, Juli 2008].

READ MORE - Masuknya Islam Melalui Khilafah

Ternyata Islam Liberal Tak Lebih dari Sekedar Imajinasi


Akhir-akhir ini para aktivis Islam liberal mulai memperlihatkan watak pemikirannya. Mereka berupaya mencari-cari akar historis liberalisme di berbagai negara termasuk Indonesia. Mereka membuat pengelompokkan siapa saja ulama yang liberal itu. Mereka membuatnya berdasarkan apa yang mereka khayalkan ditambah dengan sedikit data yang mereka peroleh. Berwajah ganda pun sering mereka perlihatkan, di satu sisi mereka mengatakan "A", namun dikesempatan lain mereka mengatakan "B". Pendapat mereka tidak bisa dipegang sama sekali.

Tak urung, karena apa yang mereka lakukan adalah hanya sebatas imajinasi, mereka mereka-reka bahwa tokoh A, B, C, D, dan sebagainya adalah tokoh liberal. Namun pada kenyataannya, sekali lagi ini hanya rekayasa mereka, tokoh-tokoh itu bukanlah tokoh-tokoh Islam Liberal. 

Hanya karena pendapat tokoh itu yang terkesan modern, moderat, dan progresif, maka mereka menganggapnya sebagai tokoh Islam liberal. Sebut saja misalnya, Dr. Yusuf al-Qaradhawi, Dr. Muhammad Natsir, Dr. Hasan Turabi, Dr. Rashid Ghanuchi, dan Dr. Ali Shariati. Padahal tokoh-tokoh itu dikenal sebagai islamiyyun (aktivis Islam) yang memperjuangkan tegaknya nilai-nilai Islam di muka bumi. Dr. Yusuf al-Qaradhawi adalah aktivis jama'ah Ikhwanul Muslimin dan ahli fikih terkemuka dunia, yang sangat jauh dari 'tampang' liberal. Dr. Muhammad Natsir adalah pemuka organisasi Persatuan Islam (Persis), pendiri Partai Islam Masyumi, dan pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Dr. Hasan Turabi adalah muraqib am Ikhwanul Muslimin Sudan dan mantan Sekretaris Jenderal Konferensi Arab dan Islam. Dr. Rashid Ghanuchi adalah pendiri Partai Islam an-Nahdhah di Tunisia, namun dia diusir dari negerinya (kini berada di Inggris) karena memperjuangkan tegaknya syariat Islam dalam negerinya. Dan yang terakhir Dr. Ali Shariati, yang dalam sejumlah karya-karyanya menunjukkan pembelaannya terhadap Islam, bahkan beliau merupakan salah satu penyokong utama Revolusi Islam Iran.

Seringkali aktivis Islam liberal mengambil data yang tidak shahih, tidak valid, dan merekayasa pemikiran seorang ulama agar terkesan liberal. Pernyataan ini bukan tanpa bukti. Bukti di atas sebenarnya sudah lebih dari cukup karena mencakup sebuah grand design pemikiran beberapa ulama yang sudah tidak asing lagi di dunia Internasional. Berbicara satu orang tokoh dan mendudukkannya pada satu golongan, berarti karya-karyanya setidaknya mencerminkan golongan tersebut. Namun perlulah ditambah lagi beberapa bukti bahwa aktivis Islam Liberal adalah orang yang sembrono dan menyimpang dari jalur ilmiah yang semestinya. Tentang Pluralisme misalnya, mereka katakan bahwa paham itu ada di dalam Islam, dan beberapa tokoh ulama – menurut mereka – pernah mengungkapkannya dalam beberapa karyanya. Ulama itu sebut saja Ibnu al-Arabi, dan al-Jîlî (penulis kitab al-Insân al-Kâmil).

Namun setelah diselidiki oleh sejumlah peneliti, tidak menemukan pernyataan Ibnu al-Arabi yang menyetujui paham pluralisme, bahkan yang ada sebaliknya. Menurut Ibnu al-Arabi, sabîl Allâh yang tertera dalam surat Shâd ayat 26 adalah syariat Allah secara khusus kepada seseorang Nabi untuk umatnya, demi kebahagiaan mereka di akhirat (dâr al-qarâr). Bagi Ibnu al-Arabi, istilah khusus 'jalanku' bukan istilah umum 'jalan Allah' (sirâti bukan sekedar sirât Allah) yang diungkapkan al-Quran menunjukkan bahwa ia adalah syariat yang khas (shar' khâss), yang wajib diikuti, yaitu jalan Nabi Muhammad. (Lihat Sani Badron, Jurnal Islamia Thn. 1 No. 3 2004). 

Sedangkan al-Jîlî telah menegaskan supremasi Islam terhadap agama-agama lain. Dengan mengutip ayat al-Quran, al-Jîlî menekankan bahwa muslim adalah umat terbaik yang pernah ada sepanjang sejarah manusia (QS. Ali Imran [3]: 110) karena Nabi mereka, Muhammad Saw., adalah Nabi terbaik dan agama mereka adalah yang terbaik di antara semua agama yang ada. Al-Jîlî menganggap agama lain sebagai agama kesengsaraan (dîn al-shaqâwah) dan penganutnya adalah umat yang sengsara disebabkan ketaatan mereka kepada agama itu dan penolakannya terhadap Islam. (Lihat Wan Azhar Wan Ismail, Jurnal Islamia Thn. 1 No. 3 2004).

Semua ini terjadi karena aktivis Islam Liberal sendiri tidak tahu apa itu Islam Liberal. Hal ini terlihat dalam buku Liberal Islam-nya Charles Kurzman. Menurut Kurzman, ungkapan "Islam liberal" mungkin terdengar seperti sebuah kontradiksi dalam peristilahan (a contradictio in terms). Mungkin ia bingung dengan istilahnya sendiri: Islam kok liberal? Meski ia menjawab di akhir tulisannya bahwa istilah Islam Liberal itu tidak kontradiktif, tapi ketidakjelasan uraiannya masih tampak di sana-sini. 

Islam itu sendiri, secara lughawi, bermakna "pasrah" , tunduk kepada Allah dan terikat dengan hukum-hukum yang dibawa Nabi Muhammad Saw. Dalam hal ini, Islam tidak bebas. Tetapi, di samping Islam tunduk kepada Allah Saw., Islam sebenarnya membebaskan manusia dari belenggu peribadatan kepada manusia atau makhluk lainnya. Bisa disimpulkan, Islam itu "bebas" dan "tidak bebas". (Lihat Adian Husaini, Islam Liberal hlm. 2 2002).

Dengan ketidakjelasan itu, mereka menjadi tidak memiliki paradigma dan batasan-batasan mana yang Islam liberal dan mana yang bukan. Sesungguhnya hal ini terjadi karena Islam liberal tidak memiliki akar dalam tradisi pemikiran Islam. Jika mereka mencari apa itu Islam liberal, mereka mencarinya pada para orientalis dan kemudian membuat rumusan-rumusan tentang Islam liberal dari para orientalis itu. Hal ini dapat dilihat pada pernyataan Sukidi, salah satu dedengkotnya Islam liberal, "Islam Liberal perlu dinisbatkan pada Reformasi Protestan karena inilah gerakan keagamaan yang menandai perubahan ke arah subyektivitas diri yang otonom." (Kompas, 6 Agustus 2006).

Jadi, untuk mereka yang sedang mempelajari dan memahami Islam, tak perlu capek-capek mempelajari pemikiran Islam liberal, karena pemikiran mereka toh bukan diambil dari Islam itu sendiri, justru sebaliknya, diambil dari agama lain.

READ MORE - Ternyata Islam Liberal Tak Lebih dari Sekedar Imajinasi

Antara Label Haram dan Label Halal


Pekan lalu, ba’da Maghrib, saya dan sahabat saya berada di rumah seorang pejabat BUMN di selatan Jakarta. Di ruang tamunya yang asri, kami bertiga asyik berdiskusi tentang berbagai masalah terkini, dari kondisi berbagai BUMN di Indonesia yang menyedihkan sampai krisis global yang pasti dampaknya akan berimbas sampai di negeri ini. Tanpa terasa, malam kian larut. Kami pun pamit.

Di dalam kendaraan menuju pulang, berbagai bahan diskusi masih berkecamuk di benak saya. Salah satunya, yang menarik, adalah kesalahan paradigma yang selama ini dianut oleh kita semua. Masih terngiang di telinga saya, sahabat saya berkata, “Selama ini kita banyak yang salah dalam mempersepsikan pikiran. Contohnya adalah soal label halal. Padahal yang seharusnya adalah label haram. Indonesia adalah negeri Muslim terbesar dunia, sudah seharusnya semua makanan atau produk yang ada di negeri ini memenuhi syarat kehalalan. Jadi, yang perlu ditempeli atau dilabeli adalah produk-produk yang haram dengan label haram.”

Saya dan tuan rumah sempat terhenyak. Baru sadar dengan kesalahan persepsi ini. Walau kelihatan sepele namun sangat prinsipil dan sangat penting untuk diubah. Memang, yang seharusnya dikasih label adalah makanan atau produk yang haram, dengan label “Haram”. 

Saya ingat, beberapa supermarket besar sudah menerapkan hal ini. Di deretan rak-rak yang menjajakan makanan, ada rak khusus yang dilabeli “Mengandung Babi”. Jadi, dengan sendirinya kita yang Muslim ini mengetahui jika makanan yang ditempatkan di sana adalah haram. Sudah seharusnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan juga BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) menyadari kesalahan persepsi ini. Akuilah dengan ksatria, kita selama ini salah dengan persepsi label halal. Jika kita meributkan perlu tidaknya label halal, maka secara tanpa sadar, kita seolah mengakui jika makanan yang beredar diluaran secara defaultnya adalah haram. Ini berbahaya mengingat kiat ini negeri Muslim terbesar dunia. Lain halnya jika kita negeri kafir. 

Sebagai negeri Muslim maka default seluruh produk dan makanan yang beredar di negeri ini haruslah memang memenuhi standar kehalalan. Jika ada produk atau makanan yang diproduksi bukan untuk umat Islam dan mengandung bahan-bahan yang haram bagi umat Islam, maka produk itulah yang harusnya mencantumkan label HARAM. Bukan sebaliknya. 

Kesalahan persepsi ini bisa jadi disebabkan kekhilafan pejabat-pejabat kita. Mudah-mudahan, kesalahan persepsi ini bukan disebabkan unsur kesengajaan, karena bisa jadi memproduksi label halal berserta sertifikat untuk label halalnya akan lebih jauh lebih menguntungkan secara materil, ketimbang memproduksi label haram yang jelas jauh lebih sedikit itemnya. Mudah-mudahan pejabat-pejabat terkait dengan hal ini tidak mendahulukan pendekatan “Imanuhum fi Proyekihim”, mendahulukan proyek ketimbang kemashlahatan umat. Amien.

“Rumah sakit pun demikian,” ujar sahabat saya lagi. “Seharusnya rumah sehat.” Kami bertiga tertawa. Saya jelas mentertawakan kedhaifan saya sendiri yang masih saja, setidaknya sampai malam itu, memelihara kejahilan persepsi saya dalam memandang hal-hal seperti itu. Silaturahim memang selalu bermanfaat. Setiap kali bertemu dengan sahabat, kita akan selalu menemukan kebaikan dan mutiara di sana. Terima kasih ya Allah, Engkau telah begitu baik melimpahkan sahabat-sahabat di sekeliling saya yang begitu perduli dengan al-haq dan mau nasihat-menasihati di dalam kebaikan. Alhamdulilah(rd)

READ MORE - Antara Label Haram dan Label Halal

Manusia Seperti Ini Tidak Lagi Merasa Bersalah


Syeikh Dhirar bin Murrah, seorang ulama sufi kenamaan yang hidup di Kufah (Irak), wafat pada 132 Hijriyah pernah berkata bahwa Iblis mengatakan, ”Jika saya mampu mengusai Bani Adam dalam tiga hal, berarti keinginanku telah tercapai dan saya telah menang, yaitu:
  1. Jika lupa akan dosanya; 
  2. Jika merasa cukup akan amalnya; 
  3. Jika kagum dan bangga akan pendapatnya (merasa pintar).
Sebenarnya ketiga hal (penyakit) pancingan Iblis yang dikhawatirkan Syeikh Dhirar merupakan penjelmaan dari inti ajaran Agama yang banyak ayat dan hadits Nabi SAW secara mantuq dan mafhum yang meminta untuk menjauhkan hal-hal tersebut. Penyakit lupa akan dosa, intinya adalah agar manusia senantiasa ingat dan beristighfar kepada Allah SWT, karena semua manusia tak luput dari dosa.

Ingat dosa, istighfar dan bertaubat adalah sarana untuk menyambut ke depan yang lebih baik dengan penuh asa. Jika manusia lupa akan dosa akan mudah tertutup hatinya karena tidak merasa butuh kepada ampunan Allah, maka rasa keangkuhan akan timbul, pada gilirannya keagungan dan kebesaran Tuhan sudah tidak tampak lagi dihadapannya, karena Allah menghilangkan bukti kebesaran dan keagunganNya dari para mutakabbirin, firman Allah SWT, ”Aku akan memalingkan tanda-tanda kekuasaan-Ku dari orang-orang yang menyombongkan diri (mutakabbir) di muka bumi tanpa alasan yang benar”(QS.7/146).

Manusia seperti ini tidak lagi merasa bersalah jika melakukan maksiat atau dosa, parahnya lagi sudah tidak sungkan untuk terang-terangan dalam maksiat atau mujaharah. Perbuatan dosa yang Mujaharah ini yang sulit diampunkan oleh Maha Pengampun, karena sudah tidak takut dan malu lagi terhadap Allah SWT dan tidak malu pula terhadap manusia. Tidak berpuasa secara terang-terangan, minum-minum keras di depan khalayak, berselingkuh, baca: berzina direkam, sehingga teredarkan.

Orang yang berbuat dosa tapi sembunyi hanya Allah SWT yang tahu, lebih baik ketimbang manusia yang berbuat dosa tapi terang-terangan. Pada saat Allah SWT menutup rahasia dosa manusia agar manusia tersebut suatu ketika bertaubat kepadaNya, sayangnya manusia sendiri mendeklarasikan, bahkan menceritakan dan bangga dengan dosanya! Bagaimana manusia lain dapat menutup aib saudara yang mujaharah, kalau dia sendiri yang menyebarkannya?

Musibah lain yang merupakan penyakit bani Adam yaitu merasa cukup dengan amal (cukup dengan apa yang diketengahkan). Apa yang telah dikerjakan seakan sudah sempurna, sehingga tidak mau mengoreksi dan mengembangkan ke arah lebih baik lagi. Tak pernah bertanya sudah cukupkah amal saya? sudah betulkah ibadahnya, akibatnya tidak mau balajar qiraat al-Qur’an karena sudah merasa betul bacaannya, juga tidak mau belajar hukum taharah, wudhu, salat secara benar karena sudah merasa cukup benar, dan tidak mau pula meningkatkan kerja yang bermanfaat.

Penyakit merasa cukup harus segera ditanggalkan, sebaliknya, harus terus menyempurnakan dan mengembangkan ke arah yang lebih baik lagi, yang dituntut merasa cukup dan qana’ah hanyalah terhadap karunia yang diberikan Allah SWT (rizki) agar jangan menjadi tamak, tentunya setelah berusaha maksimal dan tawakkal! Penyakit lain yang manusia lengah yaitu merasa pintar dan selalu bangga dengan pendapatnya.

Akibatnya, tidak mau lagi mendengar nasihat orang lain dan tidak merasa perlu untuk bermusyawarah kepada orang yang pantas untuk diajak musyawarah. Selalu merasa pendapatnyalah yang paling benar, padahal belum tentu demikian, kalau Nabi SAW saja diminta bermusyawarah kepada para sahabatnya, apalah artinya manusia biasa, tentunya lebih diminta untuk menghormati dan mendengar pendapat orang lain, dengan harapan semoga keputusan yang diadopsi dan diterapkan akan lebih dekat kepada kebenaran.

Semoga kita semua terhindar dari ketiga penyakit yang dikhawatirkan Syeikh Dhirar, yang digambarkan sebagai kemenangan Iblis tersebut!

Kemenangan Iblis

Syeikh Dhirar bin Murrah, seorang ulama sufi kenamaan yang hidup di Kufah (Irak), wafat pada 132 Hijriyah pernah berkata bahwa Iblis mengatakan, ”Jika saya mampu mengusai Bani Adam dalam tiga hal, berarti keinginanku telah tercapai dan saya telah menang, yaitu: 1. Jika lupa akan dosanya; 2. Jika merasa cukup akan amalnya; 3. Jika kagum dan bangga akan pendapatnya (merasa pintar).

Sebenarnya ketiga hal (penyakit) pancingan Iblis yang dikhawatirkan Syeikh Dhirar merupakan penjelmaan dari inti ajaran Agama yang banyak ayat dan hadits Nabi SAW secara mantuq dan mafhum yang meminta untuk menjauhkan hal-hal tersebut. Penyakit lupa akan dosa, intinya adalah agar manusia senantiasa ingat dan beristighfar kepada Allah SWT, karena semua manusia tak luput dari dosa.

Ingat dosa, istighfar dan bertaubat adalah sarana untuk menyambut ke depan yang lebih baik dengan penuh asa. Jika manusia lupa akan dosa akan mudah tertutup hatinya karena tidak merasa butuh kepada ampunan Allah dus rasa keangkuhan akan timbul, pada gilirannya keagungan dan kebesaran Tuhan sudah tidak tampak lagi dihadapannya, karena Allah menghilangkan bukti kebesaran dan keagunganNya dari para mutakabbirin, firman Allah SWT, ”Aku akan memalingkan tanda-tanda kekuasaan-Ku dari orang-orang yang menyombongkan diri (mutakabbir) di muka bumi tanpa alasan yang benar”(QS.7/146).

Manusia seperti ini tidak lagi merasa bersalah jika melakukan maksiat atau dosa, parahnya lagi sudah tidak sungkan untuk terang-terangan dalam maksiat atau mujaharah. Perbuatan dosa yang Mujaharah ini yang sulit diampunkan oleh Maha Pengampun, karena sudah tidak takut dan malu lagi terhadap Allah SWT dan tidak malu pula terhadap manusia.

Tidak berpuasa secara terang-terangan, minum-minum keras di depan khalayak, berselingkuh, baca: berzina direkam, sehingga teredarkan. Orang yang berbut dosa tapi sembunyi hanya Allah SWT yang tahu, lebih baik ketimbang manusia yang berbuat dosa tapi terang-terangan. Pada saat Allah SWT menutup rahasia dosa manusia agar manusia tersebut suatu ketika bertaubat kepadaNya, sayangnya manusia sendiri mendeklarasikan, bahkan menceritakan dan bangga dengan dosanya! Bagaimana manusia lain dapat menutup aib saudara yang mujaharah, kalau dia sendiri yang menyebarkannya? Musibah lain yang merupakan penyakit bani Adam yaitu merasa cukup dengan amal (cukup dengan apa yang diketengahkan). Apa yang telah dikerjakan seakan sudah sempurna, sehingga tidak mau mengoreksi dan mengembangkan ke arah lebih baik lagi.

Tak pernah bertanya sudah cukupkah amal saya? sudah betulkah ibadahnya, akibatnya tidak mau balajar qiraat al-Qur’an karena sudah merasa betul bacaannya, juga tidak mau belajar hokum taharah, wudhu, salat secara benar karena sudah merasa cukup benar, dan tidak mau pula meningkatkan kerja yang bermanfaat. Penyakit merasa cukup harus segera ditanggalkan, sebaliknya, harus terus menyempurnakan dan mengembangkan ke arah yang lebih baik lagi, yang dituntut merasa cukup dan qana’ah hanyalah terhadap karunia yang diberikan Allah SWT (rizki) agar jangan menjadi tamak, tentunya setelah berusaha maksimal dan tawakkal! Penyakit lain yang manusia lengah yaitu merasa pintar dan selalu bangga dengan pendapatnya. Akibatnya, tidak mau lagi mendengar nasihat orang lain dan tidak merasa perlu untuk bermusyawarah kepada orang yang pantas untuk diajak musyawarah.

Selalu merasa pendapatnyalah yang paling benar, padahal belum tentu demikian, kalau Nabi SAW saja diminta bermusyawarah kepada para sahabatnya, apalah artinya manusia biasa, tentunya lebih diminta untuk menghormati dan mendengar pendapat orang lain, dengan harapan semoga keputusan yang diadopsi dan diterapkan akan lebih dekat kepada kebenaran.

Semoga kita semua terhindar dari ketiga penyakit yang dikhawatirkan Syeikh Dhirar, yang digambarkan sebagai kemenangan Iblis tersebut!
Oleh: Amiruddin Thamrin MA, amiruddinthamrin@yahoo.com
Tinggal di Damaskus-Suriah

READ MORE - Manusia Seperti Ini Tidak Lagi Merasa Bersalah

Mereka Pulang Dengan Membawa Luka Yang Tak Terlihat


Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 tengah malam, dan ayah Alyssa tengah berada dalam perjalanan pulang dari Irak bersama dengan sekitar 300 anggota dari Brigade Stryker 4; pasukan tempur AS terakhir yang meninggalkan Irak.

Ratusan anggota keluarga berkumpul di ruang gimnasium di Joint Base Lewis-McChord, dan beberapa ibu yang menggednong anak-anak tersenyum, cemas menyambut seseorang yang sangat mereka kasihi.

Ruangan segera dipenuhi dengan pelukan dan air mata, dan dalam beberapa detik, beberapa orang ayah melihat anak-anak mereka berjalan untuk pertama kalinya.

Saat ia memeluk istri dan dua anaknya, Sersan Jason Evershed hanya merasakan kesenangan yang luar biasa karena ia bisa pulang. "Ini merupakan tahun yang panjang. Ini merupakan tahun yang sangat panjang," katanya terbata-bata, tanpa hendak menunjukkan kekerasannya sebagai seorang tentara.

Istrinya, Courtney, tidak bisa pula menahan air matanya. "Saya lega; saya tidak perlu lagi khawatir tentang dia, dan dia berada di rumah setiap malamnya sekarang," katanya.

"Saya senang ayah saya pulang," kata Alyssa Evershed, enam tahun.

Brigade Evershed adalah bagian dari gelombang pasukan di tahun 2007, tetapi dalam kepulangannya sekarang, mereka sama sekali tidak berbicara tentang perang di Irak atau sesuatu apapun yang menyatakan tentang kemenangan AS di Irak.

Mereka berbicara tentang pelesir ke Disneyland, memasak barbecue dan mencari apartemen baru.

Alyssa, gadis kecil itu, pada ulang tahunnya, mendambakan ayahnya pulang, atau dibolehkan memelihara seekor anak anjing.

"Kini dia mendapatkan salah satu dari dua keinginannya itu," gurau ibunya.

Masa Bulan Madu


Seiring kepulangan pasukan tentara itu dari tugas 12 bulan di medan perang, para ahli memperingatkan bahwa para tentara AS membawa "luka-luka yang tak terlihat."

Depresi, isolasi, stres, kemarahan, perceraian dan bunuh diri hanya bagian dari tantangan emosional yang sekarang akan dihadapi oleh tentara-tentara itu.

Scott Swaim, seorang veteran Perang Teluk dan terapis di Spring Valleys di Washington DC, mengatakan, ketika tentara pertama kalinya pulang, mereka akan menemui "periode bulan madu" mereka terlebih dahulu.

Tapi semua gambar horor yang pernah mereka lihat di medan perang tidak akan mudah hilang dari ingatan mereka.

"Depresi sangat besar dan grafik bunuh diri naik," kata Mr Swaim. "Karena ada banyak stigma dengan penyakit mental. Banyak orang tidak memahaminya dan dalam militer ada stigma ganda – kami adalah tentara—bukan korban."

Sekadar gambaran kasar, Departemen Pertahanan AS melaporkan bahwa antara tahun 2005 dan 2009, lebih dari 1.100 tentara telah bunuh diri.

Swaim mengatakan bahwa setiap tentara yang baru pulang dari medan perang akan merasa sangat sulit untuk berbicara tentang pengalaman mereka. "Bagaimana Anda menggambarkan akibat ledakan bom?"

"Saya biasa tidur di sebelah generator selama perang, jadi ketika saya kembali ke rumah, saya harus tidur di dekat kipas angin karena saya sudah terbiasa dengan kebisingan—itu membuat istri saya menjadi stress!" katanya.

Meskipun Swaim mengatakan banyak tentara yang menunjukkan perubahan perilaku yang jelas seperti kemarahan dan iritasi, dia mengakui bahwa "bunuh diri menjadi sesuatu yang tak pernah Anda selalu ketahui."

"Sulit untuk mengenali tanda-tanda bunuh diri itu. Tapi itu ada. Berapa banyak? Anda tidak tahu apa yang terjadi di dalam pikiran mereka dan itu hal yang menakutkan," kata Mr Swaim.

Tragedi Yang Tak Diharapkan 


Hanya beberapa mil jauhnya dari reuni emosional keluarga militer di Fort Lewis, Washington, veteran Joseph Ramsey berharap ia berada di sana untuk memeluk anaknya sendiri, David Ramsey.

Sebaliknya, Ramsey ingat hari itu, tanggal 7 September 2006, saat sekarang menantunya meneleponnya di tempat kerja untuk memberitahu, "David menembak dirinya sendiri."

David Ramsey adalah seorang Tentara Spesialis. Ia bertugas di Fort Lewis dua minggu sebelumnya setelah menjabat sebagai perawat di rumah sakit Mosul, Irak selama sepuluh bulan.

Sementara di Irak, catatan medis melaporkan bahwa David pernah terlihat mengokang senapannya ke dadanya sendiri. Dia kemudian membatalkan usaha bunuh dirinya, meminta bantuan dan dirawat di rumah sakit untuk konseling.

Akibatnya, kunjungan kerjanya berakhir beberapa minggu lebih awal dari jadwal seharusnya. Ayahnya tidak pernah mendapatkan laporan percobaan bunuh diri itu.

Ramsey mengatakan bahwa tidak ada satupun dari militer yang memeriksa anaknya sekembalinya dari medan perang.

"Awalnya, saya tidak percaya," katanya dengan suara tercekik karena emosi.

"Saya pulang kerja. Kemudian saya melihat mobilnya di jalan, saya memanggil dia, tak ada jawaban. Saya lari ke atas, dan dia terbaring di tempat tidur. Dia sudah menembak dirinya sendiri," katanya.

"Dia masih hidup ketika saya menemukannya. Satu-satunya yang bisa ia katakan adalah ‘Maaf, Ayah. Saya tak bermaksud melukai siapa-siapa.’ Saya mencoba untuk mendapatkan bantuan, dan saya tidak mendapatkannya. Dalam beberapa menit, dia meninggal dunia. "

Pihak militer telah memberikan Ramsey obat untuk mengatasi masalah tidurnya dan tidak pernah memberitahu keluarganya tentang percobaan bunuh dirinya, kata ayahnya.

Sementara di Irak, Ramsey mengatakan kepada ayahnya tentang kepeduliannya karena melihat anak-anak Irak yang terluka. Dia berbicara tentang tubuh tanpa kepala dan anggota badan yang hilang.

Ramsey Senor berpikir perang Irak adalah sia-sia dan bahwa anaknya secara sukarela membantu orang melalui keterampilan medisnya.

Tapi ia menambahkan, "Saya tidak berpikir ia akan menerima bantuan dari tentara."

"Saya harap negara kita melakukan pekerjaan yang lebih baik kepada pasukan tentara. Mereka pantas untuk dilayani seperti jenderal.. Mereka membutuhkan perawatan medis yang baik dan pengobatan yang baik," kata Ramsey pilu. (sa/bbc/eramuslim.com)

READ MORE - Mereka Pulang Dengan Membawa Luka Yang Tak Terlihat

Apa itu Pokemon Go?


Apa itu Pokemon Go? Ini merupakan game berbasis augmented-reality yang dikembangkan oleh Pokemon Company bekerja sama dengan Nintendo dan Niantic.

Pokemon Go merupakan game gratis untuk Android dan iOS, mengizinkan pemainnya untuk menangkap Pokemon yang tersembunyi di berbagai lokasi dunia nyata.

Permainan terbaru yang diluncurkan John Hanke di AS, Australia dan New Zealand ini telah menyedot perhatian dunia, tak terkecuali Indonesia. Yang, meskipun belum rilis secara resmi, Pokemon Go sudah dikejar-kejar oleh gamer di Indonesia.

Di Indonesia, Pokemon Go belum dirilis, namun banyak gamer yang mengunduh aplikasi game ini melalui APK (Android application package) yang disebar di situs-situs teknologi dan game.

Sisi yang mungkin menarik dari Pokemon Go adalah kamera dan GPS harus on, dan gamer mesti jalan-jalan, untuk selanjutnya hunting pokemon yang bisa muncul di kamera mereka dengan bola master yang juga virtual.

Namun, bagaimanakah kita melihat Pokemon Go ini? Berikut untung rugi bermain Pokemon Go.

Keuntungan (masih sangat relatif, apakah bisa disebut benar-benar menguntungkan) bermain Pokemon Go.
  1. Membuat Anda bisa punya aktivitas gerak, yakni dengan jalan-jalan.
  2. Tidak ketinggalan trend.
  3. Mengerti perkembangan teknologi.
Kerugian bermain Pokemon Go.
  1. Memakan waktu, baterai, pulsa internet, alias semakin boros dalam beberapa segi.
  2. Membuat pemain Pokemon Go kurang antusias atau malas mengerjakan tugas, terutama jika di dalam ruang kerja pun masih asyik bermain Pokemon Go
  3. Rawan bahaya berjalan di tempat bebas, apalagi sampai ke tepi jalan raya, tepi jurang atau bahkan tebing.
  4. Bisa menimbulkan rasa ingin terus bermain (kecanduan).
  5. Berpotensi mengganggu orang lain, terutama kala harus mengejar Pokemon ke tempat umum dan tempat orang lain, seperti masuk halaman rumah orang, berdiri di depan pagar orang, dan lain sebagainya.
  6. Bisa kehilangan kontrol diri karena sangat asyik bermain, sehingga abai terhadap keadaan sekitar.
  7. Jika dilakukan sambil mengemudikan roda empat, sangat bisa membahayakan diri dan orang lain.
  8. Melebihi batasan bermain, dimana bermain game bukan lagi karena suka, tapi benar-benar butuh alias tidak bisa kalau tidak main game.
  9. Bermain Pokemon Go ditengarai memberikan data di sekitar kita, termasuk identitas diri kepada pihak asing, karena kita memberikan sinyal tentang diri kita, aktivitas kita, dan lingkungan kita. Pokemon Go dengan sendirinya bisa menghimpun big data dari para user dan lingkungannya untuk keperluan bisnis mereka dan menarik investor serta keperluan peta digital yang lebih detail.
  10. Dan, yang mesti disadari, game diciptakan dengan target utama menyasar kebutuhan psikologi manusia, sehingga mereka akan teringat dan selalu ingin bermain. Inilah yang menjadikan game terus berkembang sesuai dengan ekspektasi mereka yang benar-benar tidak bisa lepas dari game.
Namun sisi yang cukup ironis di negeri ini adalah, media mainstream tidak mau ketinggalan memberitakan Pokemon Go yang menurut Henri Subiakto Staf Ahli Menteri Kominfo semakin media membahas Pokemon Go, semakin mempromosikan Pokemon Go secara gratis untuk bangsa ini. Dengan kata lain, belum apa-apa, sikap kita telah memberikan keuntungan cuma-cuma kepada orang atau bangsa lain.

Terakhir, catatan yang tidak kalah penting untuk kita adalah apa yang disampaikan oleh Pakar Neuropsikologi dalam sebuah talk show di sebuah televisi Ahad (17/07/2016) bahwa seberapapun besar seseorang melakukan kontrol terhadap dirinya, tetap saja ia tidak akan mampu sepenuhnya lepas dari handphone untuk selanjutnya “berperang” dalam otaknya antara memilih main atau tidak.*/Imam Nawawi, berbagai sumber di hidayatullah .com

READ MORE - Apa itu Pokemon Go?

Tahukah Anda Apa Itu Korupsi?


Korupsi. Sudah bukan rahasia lagi kalau negara kita ini termasuk salah satu sarang koruptor paling banyak di dunia. Tidak di mana-mana, pelaku tilep-menilep yang bukan haknya sudah jadi darah daging. Di tingkat sekolah, ada. Tingkat RT, banyak. Tingkat, negara? Wah, itu mah sudah jagonya.

Sepertinya kita memang sudah akrab benar dengan istilah koruptor ini. Tapi belum tentu juga kita tahu benar-benar artinya. Yuk ngaji tentang koruptor ini….

Korupsi diambil dari bahasa Latin. Definisi korupsi dimabil dari kata corruptio dari kata kerja corrumpere yang berarti busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok. Menurut Transparency International¸ korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, yang secara tak wajar dan ilegal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

Dari sudut pandang hukum, perbuatan korupsi mencakup unsur-unsur melanggar hukum yang berlaku, penyalahgunaan wewenang, merugikan negara, memperkaya pribadi atau diri sendiri.

Apa korupsi hanya buat pejabat negara saja? Jelas, tidak. Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Tapi memang semua bentuk pemerintahan rentan korupsi dalam praktiknya. Ingatkan pepatah yang bilang “Power tends to coprrupt?”

Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para pencuri, di mana pura-pura bertindak jujur pun tak ada sama sekali.

Korupsi yang muncul di bidang politik dan birokrasi bisa berbentuk sepele atau berat, terorganisasi atau tidak. Walau korupsi sering memudahkan kegiatan kriminal seperti penjualan narkotika, pencucian uang, dan prostitusi. Korupsi itu sendiri tidak terbatas dalam hal-hal ini saja. Untuk mempelajari masalah ini dan membuat solusinya, sangat penting untuk membedakan antara korupsi dan kejahatan.

Bergantung dari negaranya atau wilayah hukumnya, ada perbedaan antara yang dianggap korupsi atau tidak. Sebagai contoh, pendanaan partai politik ada yang legal di satu tempat namun ada juga yang ilegal di tempat lain.

Dampak korupsi sudah jelas! Korupsi bikin mekanisme pasar tidak berjalan. Proteksi, monopoli dan oligopoli menyebabkan ekonomi biaya tinggi dan distorsi pada distribusi barang dan jasa, dimana pengusaha yang mampu berkolaborasi dengan elit politik mendapat akses, konsesi dan kontrak-kontrak ekonomi dengan keuntungan besar. Persaingan usaha yang harus dimenangkan dengan praktik suap-menyuap mengakibatkan biaya produksi membengkak. Ongkos buruh ditekan serendah mungkin sebagai kompensasi biaya korupsi yang sudah dikeluarkan pelaku ekonomi.
Dan pantaslah jika Indonesia rakyatnya sekarat melulu!
(sa/berbagaisumber)

READ MORE - Tahukah Anda Apa Itu Korupsi?

Balada Negeri Gigolo, Pelacur, Germo, dan Preman


Bejatnya moral sampah masyarakat yang menyebarkan penyakit berbahaya, yakni gigolo, pelacur, germo, dan preman yang tersebar di mana-mana telah meresahkan masyarakat.

Lebih meresahkan lagi ketika mereka ini beroperasinya di alun-alun depan masjid hampir di setiap kota. Semua orang tahu, namun gejala yang sangat meresahkan itu tetap berlangsung. Dibiarkan tingkah busuk itu menyengat perasaan bagi setiap orang yang beriman.

Entah kenapa, apakah memang ada yang memelihara, kadang sampah-sampah masyarakat itu justru tampak berani sekali.

Gejala buruk itu telah meresahkan masyarakat. Bila dibiarkan, maka akan menghancurkan kehidupan masyarakat. Secara akal pun telah tampak bahayanya. Sedang secara agama, maka ada ancaman keras dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللَّهِ .
Apabila zina dan riba telah tampak nyata di suatu kampung (negeri) maka sungguh mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk diri-diri mereka. (HR. Al-Hakim dengan menshahihkannya dan lafadh olehnya, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Al-Albani dan Adz-Dzahabi).

Rusaknya masyarakat akibat “dipeliharanya” gigolo dan pelacur di antaranya tergambar seperti ini: 

Seorang gigolo (lelaki pelacur) di Surabaya mengaku, ia lebih sering mendapat klien perempuan yang berstatus PNS (pegawai negeri sipil) dan wanita karir, berusia 30 hingga 45 tahun, sudah berumah tangga, dan sudah punya anak. 

Isteri gigolo di Bali yang diwawancarai pada film dokumenter Cowboys in Paradise mengaku, sang suami ada kalanya membawa ‘klien’ khususnya ke rumah. Bila hal itu terjadi, maka sang istri mengalah, sama sekali tidak sekamar dengan sang suami yang sedang menjalankan profesinya sebagai gigolo. Hal tersebut bisa berlangsung berhari-hari. 

Dari 1.500 wanita pelacur yang tercatat di kota Denpasar Bali, seperlimanya atau 20 persen di antaranya terindikasi mengidap HIV/AIDS. Selain mengidap HIV/AIDS, ada beberapa pelacur itu terserang penyakit infeksi menular seksual (IMS), kata Sri Mulyanti, asisten koordinator KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Kota Denpasar, Selasa (23/11) 2010 sebagaimana diberitakan hidayatullah.com, Wednesday, 24 November 2010 08:27) 

Tidak sedikit wanita yang berzina kemudian hamil, lalu mereka nekat meneruskan dengan kejahatan baru lagi yakni aborsi (pengguguran kandungan). Penelitian di 10 kota besar dan enam kabupaten di Indonesia memperkirakan sekitar 2 juta kasus aborsi, 50 persennya terjadi di perkotaan. Padahal pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi ada sembilan belas resiko kesehatan dan keselamatan fisik yang akan dihadapi seorang wanita. (lihat nahimunkar.com, February 1, 2009 10:08 pm, Sembilan Belas Bencana Akibat Aborsi, http://www.nahimunkar .com/233/) 

Kampung gigolo

Sebutan Gigolo tak lain dan tak bukan tertuju kepada sosok pelacur pria yang melayani bukan hanya wanita, tetapi juga pria pengidap homoseks (gay). Heboh film dokumenter Cowboys in Paradise, tentang gigolo yang berkeliaran di pantai Kuta (Bali), rupanya menutup fakta lain tentang keberadaan kampung gigolo di kawasan Boyolali, Jawa Tengah.

Boyolali adalah sebuah kabupaten di provinsi Jawa Tengah, yang memiliki 262 desa. Dua desa di antaranya, Cabean dan Bakalan, dikenal sebagai ‘produsen’ gigolo. Sehari-hari, dari pagi hingga siang, para gigolo beraktivitas sebagaimana biasanya, seperti membuat keranjang ayam untuk dijual ke pasar. Namun, begitu senja menjelang, mereka berganti profesi menjadi gigolo.

Pada umumnya, para gigolo ini merupakan pelajar putus sekolah. Mereka menjalankan aktivitas gigolo melalui mucikari atau independen dengan cara langsung terjun menjajakan diri di pinggir jalan. Targetnya, tante girang dan om senang. Di kawasan ini mudah ditemukan sejumlah salon yang berperan ganda sebagai tempat memoles para gigolo.

Karena pagi hingga siang hari para pemeran ganda ini bekerja sebagaimana layaknya pemuda desa, maka keberadaan mereka sebagai gigolo pada malam hari tidak terlalu disadari oleh masyarakat sekitarnya, termasuk aparat desa. Para pemuda belasan yang sudah terlanjur terjerembab ke lembah nista ini umumnya enggan beranjak dari kubangan zina karena sudah terlanjur menikmati mudahnya mendapat uang ratusan ribu rupiah dari ‘klien’ mereka.

Di kedua desa tersebut juga mudah ditemukan sejumlah makelar gigolo, yang peranannya persis mucikari alias germo. Sang germo ini salah satu peranannya adalah memberikan arahan kepada calon gigolo di dalam menghadapi ‘klien’ mereka kelak. Bila sudah dianggap siap, gigolo tersebut tidak hanya dipasarkan di sekitar Boyolali, tetapi hingga ke luar kota, antara lain Semarang.

Sebelum menjalankan praktik, para gigolo ini diperkenalkan dengan dunia perkotaan, diajak ke pusat perbelajaan dan sebagainya, sebelum akhirnya terjun ke dunia penuh nista sebagai gigolo. Di Semarang, misalnya, terdapat sebuah tempat transit para gigolo, yaitu daerah Pos Ponjolo.

Keberadaan kampung gigolo Boyolali, meski pernah diungkap Tim Sigi SCTV pada 24 Maret 2010, namun sepertinya tidak menarik perhatian media massa lainnya, bahkan cenderung ditenggelamkan oleh kampung gigolo Bali. Apalagi, setelah kehadiran film dokumenter berjudul Cowboys in Paradise (sekitar April 2010), yang menggambarkan kehidupan dan aktivitas gigolo di sekitar Pantai Kuta, Bali.

Keberadaan kampung gigolo Boyolali boleh jadi lebih disebabkan oleh faktor kemiskinan semata. Sedangkan di Bali, selain didorong oleh kemiskinan juga disuburkan oleh industri pariwisata yang liberal, permissif, dan tentu saja jauh dari misi menawarkan keindahan alam dan budaya Bali.

Di Boyolali, sosok gigolo pada siang hari tampil sebagaimana pemuda desa umumnya. Barulah pada malam hari, ia bermetamorfosa menjadi penjaja maksiat sebagai gigolo. Terkesan masih ada sikap malu-malu. Berbeda dengan di Boyolali, gigolo di Bali karena dikemas ke dalam paket industri pariwisata, kiprah para gigolo ini hadir dengan terang benderang. Apalagi, ada media penyamaran yang cukup efektif berupa keberadaan komunitas anak pantai yang tidak mencurigakan. Para gigolo ini tampil bagai anak pantai biasa. Atau, mereka yang semula hanya anak pantai kemudian tergiur materi dengan terjun ke lembah nista gigolo.

Lebih memprihatinkan, oleh pihak keluarganya aktivitas penuh maksiat ini diakui sebagai profesi yang setara dengan profesi lain dalam rangka menghidupi keluarga. Antara lain sebagaimana bisa dilihat pada sikap seorang istri gigolo yang diwawancarai pada film dokumenter Cowboys in Paradise. Sang suami ada kalanya membawa ‘klien’ khususnya ke rumah. Bila hal itu terjadi, maka sang istri mengalah, sama sekali tidak sekamar dengan sang suami yang sedang menjalankan profesinya sebagai gigolo. Hal tersebut bisa berlangsung berhari-hari.

Di Bali, terutama di Pantai Kuta, praktik gigolo konon sudah berlangsung sejak 20 tahun lalu. Ciri-ciri gigolo Pantai Kuta ini selain berbadan atletis dan berkulit gelap, juga berambut gondrong. Penampilan mereka khas anak pantai yang jago berselancar, dan mempunyai kemampuan berbahasa asing yang lumayan, terutama bahasa Inggris.

Gigolo Pantai Kuta mempunyai perbedaan dengan gigolo yang mencari mangsa di berbagai café atau tempat hiburan lainnya. Gigolo Pantai Kuta tidak selalu memandu syahwat tetapi juga memandu perjalanan selama ‘klien’ mereka berlibur di Bali atau ke tempat wisata lain di luar Bali. Biasanya, gigolo Pantai Kuta sudah dikontak sebelum ‘klien’ mereka tiba di Bali.

Sedangkan gigolo yang mencari mangsa di café dan tempat hiburan lainnya di Bali, umumnya mereka berinteraksi dalam jangka waktu terbatas, sebagaimana pelacur biasa, dan sama sekali tidak membawa misi pariwisata. Juga, tidak menjalankan fungsi memandu turis mengunjungi objek wisata selain memandu syahwat semata.

Menurut Asana Viebeke Lengkong, tokoh masyarakat Kuta, ada tiga kategori yang dapat menggambarkan sosok gigolo Pantai Kuta. Pertama, gigolo sebagai profesi permanen untuk mendapatkan uang. Gigolo ini bekerja secara profesional untuk memenuhi hasrat para turis. Kedua, gigolo kontemporer. Awalnya, mereka masuk ke dunia gigolo hanya untuk mencoba-coba. Selanjutnya, ada yang menekuni gigolo sebagai profesi, namun ada juga yang tidak. Ketiga, gigolo musiman. Gigolo kelompok ini semata-mata mencari duit dan tidak menjadikan aktivitasnya sebagai profesi. Dari kelompok ini ada yang suka berbuat nekat dan membahayakan, sebagaimana pernah terjadi pada serangkaian kasus terbunuhnya wanita Jepang di Kuta beberapa waktu lalu.

Gigolo Surabaya

Pada hari Selasa tanggal 16 November 2010, di Surabaya aparat kepolisian setempat menangkap Ahmad Mas’ud alias Vino alias Daud (21 tahun) yang berprofesi sebagai germo gigolo. Ia mengelola praktik prostitusi gigolo berusia belasan tahun, umumnya masih menyandang status sebagai pelajar SMA.

Ahmad Mas’ud adalah warga Semamper, Surabaya, Jawa Timur, dan bagian dari jaringan gigolo yang dikendalikan oleh Ahmad Sidik alias Ujang (35 tahun), warga Desa Kamojing Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Praktik prostitusi gigolo ini dikemas Ahmad dalam bentuk layanan pijat 24 jam yang diiklankan melalui media lokal. Pada iklan tersebut, disertakan nomor telepon untuk memudahkan kontak.

Saat tertangkap, Ahmad Mas’ud sedang membawa serta dua gigolo binaannya, yaitu IWG (17 tahun) dan RST (18 tahun). Keduanya masih duduk di bangku SMA kelas XII, dan sudah menjalani praktik prostitusi (pelacuran) ini sejak dua bulan lalu, dengan bayaran antara Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu. Separuh dari tarif itu, masuk ke kantong Ahmad Mas’ud. Berdasarkan Undang Undang Perdagangan Manusia, Ahmad Mas’ud bisa dikenai ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Berbeda dengan gigolo Boyolali yang hampir semuanya terjerumus karena faktor ekonomi, gigolo Surabaya ada pengecualian. Selain faktor ekonomi, juga ada yang didorong oleh desakan kebutuhan seksual yang besar (hiperseks). Menurut Yanto, salah satu germo gigolo Surabaya, sebagian gigolo binaannya ada yang berasal dari keluarga mampu, namun karena mengidap hiperseks, ia terjun menjadi gigolo. Tipe gigolo ini tidak terlalu memilih perempuan, dan uang bukan faktor utama.

Sedangkan gigolo yang berasal dari keluarga tidak mampu, faktor utamanya adalah uang. Biasanya, menurut Yanto, gigolo jenis ini agak rewel dan lebih suka melayani perempuan yang royal. Sebagai germo gigolo Surabaya, Yanto membina gigolo yang belum menikah, masih kuliah, dan berumur antara 20-25 tahun.

Salah satu gigolo Surabaya yang cukup berpengalaman, Hero (28 tahun) mengatakan, tidak semua ‘klien’ menjadikan gigolo sebagai pemuas syahwat semata, tetapi ada juga yang menjadikan gigolo sebagai teman curhat (curahan hati). Hero juga mengaku, ia lebih sering mendapat klien perempuan yang berstatus PNS (pegawai negeri sipil) dan wanita karir, berusia 30 hingga 45 tahun, sudah berumah tangga, dan sudah punya anak. Hero yang sudah jadi gigolo sejak tahun 2009 ini, rata-rata dibayar antara Rp 300 hingga 500 ribu.

Di Surabaya, salah satu cara mendapatkan gigolo, antara lain ditempuh dengan mendatangi kampus-kampus. Bahkan, ada germo gigolo yang sudah lebih dari 5 tahun beroperasi, dalam rangka mencari calon gigolo ia menyusupkan orang-orang kepercayaannya di kampus-kampus swasta ataupun negeri. Bila ada calon yang dianggap cocok, orang-orang ini akan menghubungi sang germo.

Para gigolo Surabaya, agar tetap eksis mereka menempuh berbagai cara, antara lain memanfaatkan internet melalui situs jejaring sosial untuk medapatkan pelanggan. Artinya, mereka bisa medapatkan “klien” yang tidak terbatas dari dalam kota Surabaya saja, tetapi dari kota-kota lain seperti Jakarta, Bali dan sebaganya. Untuk “klien” luar kota, foto gigolo dikirimkan via e-mail. Bila sudah disetujui, gigolo akan diterbangkan ke tempat “klien”. Biaya pesawat ditanggung pemesan.

Fenomena gigolo sudah sedemikian mengindustri. Bahkan, para germo gigolo Surabaya menyediakan fasilitas garansi: uang kembali bila “klien” tidak puas. Astaghfirullah, untuk urusan maksiat mereka begitu serius mengelolanya, seperti penjual mobil profesional yang menyediakan garansi.

Membahayakan kehidupan

Itu masih pula ditambah dengan pelacur dan germo plus preman yang semuanya sangat membahayakan kehidupan. Kasus-kasus dan data berikut ini sebagai bukti nyata.

Dari 1.500 wanita pelacur yang tercatat di kotaDenpasar Bali, seperlimanya atau 20 persen di antaranya terindikasi mengidap HIV/AIDS. Selain mengidap HIV/AIDS, ada beberapa pelacur itu terserang penyakit infeksi menular seksual (IMS), kata Sri Mulyanti, asisten koordinator KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Kota Denpasar, Selasa (23/11) 2010.

Dia menjelaskan, para pelacur menjadi salah satu potensi terbesar penyebaran HIV/AIDS di ibu kota Provinsi Bali ini.

"Karena perilaku mereka paling beresiko menularkan ataupun sebaliknya tertular virus mematikan tersebut," katanya.

Seperti diketahui, ucapnya, penyebab penularan virus HIV/AIDS yang masih tinggi adalah perilaku melakukan hubungan seks berganti-ganti pasangan. Perilaku itulah yang membuat para penjaja seks tersebut, katanya, menjadi salah satu kelompok yang paling beresiko. (lihat hidayatullah.com, Wednesday, 24 November 2010 08:27)

Ketika maksiat jadi dagangan

Ketika maksiat zina dan semacamnya justru dijadikan barang dagangan, maka seolah kejahatan itu dipelihara. Dan memang kemungkinan ada yang memeliharanya. Oleh karena itu ketika kejahatan –yang cepat atau lambat pasti akan merusak dan meresahkan– ini diupayakan untuk diberantas, maka kadang para penjahatnya berani mengamuk. Inilah contoh-contoh kasusnya:

Puluhan Preman ”Ngamuk” di Stasiun Klender, Sejumlah Petugas Stasiun Luka-luka

Fahmi Firdaus – Okezone

JAKARTA – Puluhan preman mengamuk, di Stasiun Kereta Api Klender, Jakarta Timur, Sabtu, malam 11 April 2009 dan merusak sejumlah alat-alat pengatur perjalanan kereta api serta mikrofon yang berada di dalam kantor stasiun.

Aksi pengerusakan itu dipicu oleh penertiban gubuk-gubuk liar di sekitar Stasiun Klender yang dilakukan petugas PT KA beserta Polsek Pulogadung Sabtu siang. Gubuk-gubuk tersebut dibongkar karena menjadi sarang prostitusi di sekitar wilayah Stasiun Klender.

"Tadi malam telah terjadi pengerusakan, penyerangan dan pengroyokan dilakukan oleh puluhan orang yang tidak dikenal dengan senjata kayu balok yang ada paku kepada petugas Stasiun Klender," ujar Achmad Sujadi kepada okezone, Minggu (12/4/2009).

Akibat penyerangan tersebut, kaca meja pelayanan Stasiun juga pecah. Tak hanya itu, HP dan dompet petugas loket juga diambil oleh puluhan preman tersebut.

Akibat penyerangan tersebut, sejumlah karyawan Stasiun Kereta Api Klender mengalami luka parah, di antaranya Tarsano, Pengatur perjalanan Kereta Api, Arif Setiawan Petugas Loket, Sigit Budiarto, Petugas Loket, serta seorang penumpang bernama Agus Suseno, tidak luput dari penyerangan tersebut.

"Semua korban mengalami luka di sekitar kepala, dan dibawa ke Rumah Sakit Persahabatan," ujarnya. Lebih lanjut dia menambahkan, semua korban dipukuli oleh kayu balok yang dipenuhi paku. (Okezone, Minggu, 12 April 2009 – 07:48 wib)

Pelacur dan Germo Perangi Petugas

BOGOR (Pos Kota) – Pembongkaran warung remang-remang (warem) tempat mangkal pelacur di Jalan Raya Parung, Bogor, Senin (20/4) bentrok. Pemilik warem, germo dan pelacur bersatu melawan petugas. Perang batu pun tak terhindarkan.

Pemilik menolak dibongkar karena tak mempunyai pekerjaan dan keahlian, sedangkan germo protes dan menuding petugas tebang pilih. “Jika dibongkar kita lawan!” teriak seorang pemilik warung . Gertakan ini tak membuat nyali petugas menciut. Mereka tetap membongkarnya pakai beko.

Tindakan ratusan petugas gabungan dari Polri, TNI dan Satpol PP Kab. Bogor, membuat marah penguni lokalisai liar ini. Caci maki dilontarkan . Lemparan batu melayang ke arah petugas, disusul lemparan lainnya. Ini yang memicu terjadinya bentrokan.

Satu petugas satpol dikeroyok membuat teman-temannya marah. Oknum aparat desa yang dituduh jadi beking nyaris jadi bulan-bulanan. Untung cepat dilerai aparat Polsek Parung dan Kodim.

Suasanan memanas ketika Ny Nara,36, menghadang petugas di depan rumahnya yang akan dibongkar. Suaminya, Asep,38, berdiri di atap rumah lalu melempar genteng ke arah petugas. Akibatnya Ny Nisa, ibunda Ny Nara, kepalanya bocor tertimpa genteng.

GERMO PROTES

Petugas kembali dihadang Santi 43, germo yang panti pijatnya dirobohkan. Wanita ini berteriak, agar petugas jangan tebang pilih. Sebagian pelacur ikut melawan.

”Kalau mau jujur, semua bangunan di sini menyediakan wanita muda yang siap melayani. Saya protes, kenapa warung sate itu yang menyediakan pelacur, tidak dibongkar ini tidak adil,” teriak Santi.

Petugas merobohkan 85 bangunan dari ratusan bangunan yang berdiri di lokasi tersebut sampai rata dengan tanah.

“Sepanjang jalan di Parung ini berungkali kali kita bongkar, tapi muncul lagi,” jelas Kepala Satpol PP Kab. Bogor, Yasin Zainudin.

Warem tempat praktik prostitusi ini berada di Desa Jambon, Parung, dan Desa Pondok Udik, Kec. Kemang, Kabupaten Bogor.

Menurut informasi, bisnis esek-esek di lokasi itu keuntungannya sangat besar. Tarif pelacur Rp 150-200 ribu dan germo dapat setengahnya. ”Satu warem dihuni sedikitnya 6 pelacur. Belum dari minuman,” sebut satu warga. (yopi/iwan/ird/B) poskota.co.id, Selasa 21 April 2009, Jam: 9:52:00

Terbakarnya 24 gerbong kereta gara-gara pelacur

Terbakarnya 24 gerbong kereta api di Stasiun Rangkasbitung, Banten, 11 Oktober 2010 ternyata gara-gara pelacur yang mangkal di gerbong itu dan ulah orang yang mau memakainya.

Kenapa gerbong dibiarkan ditempati pelacur ya?

Maksiat seharusnya diberantas. Tetapi tampaknya dibiarkan, bahkan dipiara, bahkan dibisniskan. Akibatnya, yang tidak punya modal untuk bermaksiat, berani nekad.

Inilah contoh kasusnya. Seharusnya para pejabat atau yang berwenang merasa tertampar mukanya. Ini baru contoh kasus saja:

Sang Pembakar Kereta Akhirnya Buka Mulut

Liputan 6 – Minggu, 24 Oktober

Liputan6.com, Lebak: Tersangka pembakar kereta Hery alias Saeful sudah mulai tenang saat ditemui wartawan di sela-sela pemeriksaan penyidik Kepolisian Resor Lebak, Banten, Sabtu (23/10). Hery yang kejiwaannya dikenal labil, bahkan menjawab sejumlah pertanyaan wartawan. Termasuk, awal mula pembakaran 24 gerbong kereta api di Stasiun Rangkasbitung, 11 Oktober silam [baca: Polisi Tetapkan Tersangka Pembakar Kereta].

Dalam penjelasannya, Hery mengaku pembakaran kereta dilakukannya antara sengaja dan tidak sengaja. Sekitar jam 11 malam, tukang sapu gerbong kereta ini berusaha merayu Nur, pelacur yang biasa mangkal di gerbong stasiun. Namun karena Hery hanya menjanjikan bayaran Rp 5.000, pekerja seks komersial itu menolak ajakannya. Warga Kabupaten Serang, Banten, ini marah lalu membeli bensin, yang awalnya akan digunakan untuk membuat Nur mabuk. Tapi, lagi-lagi Nur menolak.

Saat berusaha memaksanya meminum bensin itulah sebagian bahan bakar minyak itu dalam kantong plastik tercecer di gerbong tiga, empat, dan lima. Sadar bahwa usahanya gagal, Hery kemudian menumpahkan bensin tersebut di luar gerbong, kemudian membakarnya. Saat itulah, api langsung menyambar ruang dalam gerbong lima dan menjalar ke gerbong lainnya.

Sejauh ini polisi masih belum dapat memastikan motif lain. Namun berdasarkan penyelidikan lanjutan terhadap lebih dari 60 saksi, polisi menduga ada pelaku lain selain Hery. Namun polisi belum mau membuka identitas orang tersebut, yang saat kejadian ada bersama Hery dan berprofesi sebagai preman di Stasiun Rangkasbitung.

Pihak kepolisian menjerat Hery dengan Pasal 187 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang pembakaran dengan ancaman hukuman di atas lima tahun. Bangkai 24 gerbong kereta yang terbakar hingga kini masih tersimpan di Stasiun Rangkasbitung, menunggu proses penyelidikan tuntas. (MRQ/ANS) id.news.yahoo.com

Pengabdi Syetan

Bahaya pelacuran telah sangat nyata. Bahaya yang tidak diperkirakan dan belum pernah terjadi seperti dibakarnya 24 gerbong kereta api pun terjadi gara-gara pelacuran. Gerbong ditempati untuk pelacuran. Namun anehnya, pelacuran dengan aneka sarananya tampak dibiarkan. Bahkan video zina para artis (Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari) yang tersebar ke seantero dunia, sangat memalukan dan mengakibatkan rusaknya moral pun pelaku-pelaku zinanya tidak dihukumi apa-apa mengenai zinanya. Padahal pelakunya mengakui. Astaghfirullah, ini negeri apa? Hanya syetan saja yang tidak mau tahu bahwa zina itu dosa besar dan harus dijatuhi hukuman, serta tidak boleh ada yang membelanya. (Anehnya, Ariel tokoh pezina itu justru dikabarkan ada 10 pembelanya, sedang zinanya pun tidak dipersoalkan).

Ketika suatu negeri justru dihuni oleh pengabdi-pengabdi syetan terutama para pemegang kendalinya, (contohnya ketika mereka ingin meraih jabatan ataupun melanggengkan jabatan dan sebagainya maka mereka minta ke wali-wali syetan yakni para dukun yang kini disebut para normal dan berani mengiklankan diri padahal sejatinya menurut Islam adalah wali-wali syetan, atau meminta ke kuburan-kuburan yang dikeramatkan –itu kemusyrikan, dosa terbesar, bisa mengeluarkan dari Islam, dan bila mati dan belum bertaubat maka bisa kekal di neraka), maka bukannya zina itu diberantas tetapi dijadikan bisnis dan dipiara di mana-mana. Benar-benar pengabdi syetan.

Sebenarnya hukuman bagi pelaku zina itu sudah jelas dan tegas

Lelaki zina yang belum pernah menikah (ghoiru muhshon) didera 100 kali dan dibuang selama setahun. Sedang perempuan zina ghoiru muhshon (belum pernah nikah) cukup didera 100 kali tanpa diusir dari negerinya.

Perkataan Ibnu Umar:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَرَبَ وَغَرَّبَ وَأَنَّ أَبَا بَكْرٍ ضَرَبَ وَغَرَّبَ وَأَنَّ عُمَرَ ضَرَبَ وَغَرَّبَ . (الترمذي)
Bahwasanya Nabi saw telah mendera dan membuangnya. Abu Bakar telah mendera dan membuangnya. Dan Umar pun mendera dan membuangnya. (HR. At-Tirmidzi).

Jika pelaku zina itu lelaki atau perempuan muhshon (telah pernah menikah secara sah dan bersetubuh, lalu melakukan zina) maka dirajam yaitu dilempari batu sampai mati.

Nabi saw pernah merajam wanita Ghamidiyyah dan Ma’iz serta pernah merajam dua orang Yahudi. (dalam Hadits shahih). (Lihat Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Minhajul Muslim, Darul Fikr, halaman 434).

Orang yang melakukan liwath (homoseks atau lesbian, bersetubuh melalui lubang dubur yang bukan suami isteri) hukumannya dirajam sampai mati, tanpa membedakan muhshon atau ghoiru muhshon. Rasulullah SAW bersabda:


وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : { مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ , وَمَنْ وَجَدْتُمُوهُ وَقَعَ عَلَى بَهِيمَةٍ فَاقْتُلُوهُ وَاقْتُلُوا الْبَهِيمَةَ } رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ وَرِجَالُهُ مُوَثَّقُونَ , إلَّا أَنَّ فِيهِ اخْتِلَافًا .
Barangsiapa di antara kalian menemukan orang yang melakukan perbuatan kau Luth (homoseks), maka bunuhlah (kedua-duanya) pelaku dan yang diperlakukan homoskes. Dan barangsiapa kalian temukan dia menyetubuhi binatang maka bunuhlah dia dan bunuh pula binatangnya. (HR. Imam Ahmad dan empat Imam, rijalnya tsiqot/terpercaya, hanya saja ada ikhtilaf, perbedaan pendapat/Subulus Salam, juz 2).

Di samping hukuman di dunia ditegaskan, masih pula ada ancaman:

1. Bencana di dunia

لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ فَيُعْلِنُوا بِهَا إلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا
Tidaklah merajalela kekejian di suatu kaum sama sekali, lantas mereka melakukan kemaksiatan secara terang-terangan kecuali mereka akan dilanda penyakit wabah tha’un (pes) dan penyakit yang belum pernah terjadi pada umat dahulu-dahulunya yang telah lalu. (HR. Ibnu Majah, Abu Nu’aim, Al-Hakim, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Ibnu ‘Asakir, hasan-shahih menurut Syaikh Al-Albani).


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللَّهِ .
Dari Ibnu Abbas rhadhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila zina dan riba telah tampak nyata di suatu kampung maka sungguh mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk diri-diri mereka. (HR. Al-Hakim dengan menshahihkannya dan lafadh olehnya, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Al-Albani dan Adz-Dzahabi).

2. Adzab siksa neraka di akharat kelak.

Dalam hadits shahih yang panjang riwayat Imam Al-Bukhari, diriwayatkan (kami petik potongan-potongannya mengenai zina):

عن أَبي رَجَاءٍ حَدَّثَنَا سَمُرَةُ بْنُ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ لِأَصْحَابِهِ هَلْ رَأَى أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْ رُؤْيَا قَالَ فَيَقُصُّ عَلَيْهِ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُصَّ وَإِنَّهُ قَالَ ذَاتَ غَدَاةٍ إِنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتِيَانِ وَإِنَّهُمَا ابْتَعَثَانِي وَإِنَّهُمَا قَالَا لِي انْطَلِقْ وَإِنِّي انْطَلَقْتُ مَعَهُمَا…..

فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلَى مِثْلِ التَّنُّورِ قَالَ فَأَحْسِبُ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فَإِذَا فِيهِ لَغَطٌ وَأَصْوَاتٌ قَالَ فَاطَّلَعْنَا فِيهِ فَإِذَا فِيهِ رِجَالٌ وَنِسَاءٌ عُرَاةٌ وَإِذَا هُمْ يَأْتِيهِمْ لَهَبٌ مِنْ أَسْفَلَ مِنْهُمْ فَإِذَا أَتَاهُمْ ذَلِكَ اللَّهَبُ ضَوْضَوْا قَالَ قُلْتُ لَهُمَا مَا هَؤُلَاءِ قَالَ قَالَا لِي انْطَلِقْ انْطَلِقْ قَالَ فَانْطَلَقْنَا…

وَأَمَّا الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ الْعُرَاةُ الَّذِينَ فِي مِثْلِ بِنَاءِ التَّنُّورِ فَإِنَّهُمْ الزُّنَاةُ وَالزَّوَانِي…

Dari Abi Raja’, telah menceritakan kepada kami Samurah bin Jundab radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam seringkali mengatakan kepada para sahabatnya; "Apakah diantara kalian ada yang bermimpi?" Kata Samurah; maka ada diantara mereka yang menceritakan kisahnya.Suatu saat ketika subuh, beliau berkata: "Semalam aku didatangi dua orang, keduanya mengajakku pergi dan berujar; ‘Ayo kita berangkat! ‘ Aku pun berangkat bersama keduanya,…’ Maka kami berangkat, hingga kami mendatangi suatu tempat seperti tungku." Kata Abu Raja, seingatku Samurah mengatakan; "Tungku tersebut mengeluarkan suara gemuruh. Lantas kami melihat isinya, tak tahunya disana ada laki-laki dan wanita telanjang, mereka didatangi oleh sulut api dari bawah mereka, jika sulutan api mengenai mereka, mereka mengerang-ngerang. Maka saya bertanya kepada dua orang yang membawaku; ‘apa sebenarnya dengan orang-orang ini? Namun kedua orang yang membawaku hanya berujar; ‘Ayo kita berpindah ke tempat lain! ‘…Adapun laki-laki dan wanita yang telanjang dalam bangunan seperti tungku, mereka adalah laki-laki dan wanita pezina… (Shahih, HR Al-Bukhari nomor 6525)

Semua yang terlibat akan diseret

Siksa itu akan menimpa para pezina yang tidak bertaubat, yang sampai matinya belum bertaubat benar-benar. Bahkan bukan hanya para pezina saja yang akan terkena adzab api di dalam bangunan tungku yang penghuninya telanjang, dibakar api dan mengerang-ngerang itu. Siapa saja yang terlibat maka akan mereka seret agar ikut disiksa.

Di dunia saja, ketika tempat mesum dirobohkan petugas, maka dalam berita itu ada protes yang menyeret temannya:

Germo bernama Santi (43 tahun) berteriak kepada petugas yang merobohkan bangunan tempat mesumnya:

”Kalau mau jujur, semua bangunan di sini menyediakan wanita muda yang siap melayani. Saya protes, kenapa warung sate itu yang menyediakan pelacur, tidak dibongkar, ini tidak adil,” teriak Santi. (poskota.co.id, Selasa 21 April 2009)

Ketika mereka menghadapi siksa yang amat keras kelak, tentunya mereka akan menyeret pula siapa saja yang ketika di dunia terlibat. Mereka harus sama-sama masuk neraka dan disiksa. Dari penyelenggara, pemelihara, pelindung, orang-orang yang pura-pura tidak tahu padahal jadi tanggung jawabnya untuk memberantas, dan sebagainya.

Tidak perduli, dari masyarakat sampai pejabat, siapa saja yang terlibat akan diseret oleh para pezina itu pula ke neraka. Orang yang punya rumah kost yang tahu bahwa kamar kostnya ditempati untuk zina tapi diam saja, maka akan diseret pula. Demikian pula (lebih-lebih) yang justru menjadikan tempatnya memang sengaja untuk jadi ajang zina, entah itu hotel, motel, losmen, villa rumah sewa maupun lainnya.

Demikian pula, tidak perduli, apakah ketika di dunia berjulukan da’i semiliun umat atau apa, bila memang di dunia terlibat maka kelak tidak dapat lagi berkilah. Apalagi kilah dengan istilah yang dibikin-bikin, misalnya islah dan sebagainya.Tidak perduli pula, walau yang terlibat itu tokoh partai berlabel agama sekalipun, ketika bersuara simpati kepada pezina bahkan mau menampungnya, tidak ada kilah-kilah lagi bahwa itu untuk menggelembungkan suara partainya agar mampu melancarkan da’wah lewat parlemen di sana. Tidak bisa. Pokoknya mereka yang terlibat akan diseret pula untuk mempertanggung jawabkan kelakuan dan ucapannya. Betapa ngerinya!

Ancaman yang lebih mengerikan pula adalah terhadap orang-orang yang membiarkan berlangsungnya kekejian (zina). Dalam hadits ditegaskan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَيْهِمْ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالدَّيُّوثُ الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخُبْثَ
Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: "Tiga golongan yang Allah mengharamkan surga atas mereka, pecandu khamer, anak yang durhaka kepada orang tua, dan Dayyuts, yaitu seorang yang merelakan keluarganya berbuat kekejian." (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ nomor 3052, dalam Al-Jami’ As-Shaghir wa ziyadatuh nomor 5363).

Ketika kepala keluarga mendiamkan keluarganya berbuat kekejian, maka dia dayyuts, telah Allah haramkan masuk surga. Bagaimana pula ketika orang menjadi kepala RT (rukun tangga), RW (rukun warga), jadi lurah, camat, bupati, atau walikota, bahkan lebih atas dari itu seperti gubernur dan bahkan penguasa negeri bila membiarkan warganya berbuat kekejian? Maka ancaman dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu perlu difahami benar, dan diyakini benar-benar, hingga jangan sampai termasuk yang diancam itu. Kenyataannya, mereka masih saja seolah tutup mata, padahal banjir maksiat telah melanda di mana-mana.

Tidak takut siksa neraka kah mereka? Dan ingin diharamkan masuk surga kah mereka?

Na’udzubillahi min dzalik! (kami berlindung kepada Allah dari yang demikian).

*Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede, penulis buku Sumber-sumber Penghancur Akhlaq Islam.

READ MORE - Balada Negeri Gigolo, Pelacur, Germo, dan Preman
Akhlak (17) Bibel (6) Dakwah (36) Hak Azazi Manusia (13) Islam (22) Jihad (17) Kristen (19) Liberalisme (46) Mualaf (9) Muslimah (15) Natal (1) Orientalis (8) Peradaban (40) Poligami (9) Politik (29) Ramadhan (10) Rasulullah (21) Ridha (4) Sejarah (36) Tasawuf (24) Tauhid (16) Tawakal (3) Teroris (11) Trinitas (8) Yahudi (34) Yesus Kristus (34) Zuhud (8)