I. Malam yang Membuka Rahasia
Malam itu, entah mengapa, aku merasa seperti seseorang yang tersesat di dalam rumahnya sendiri.
Segala sesuatu masih berada pada tempatnya. Dinding papan yang mulai dimakan usia, dipan kayu yang berderit setiap kali tubuhku bergeser, lampu minyak yang nyalanya tinggal separuh, serta jendela tua yang menghadap ke halaman tempat bayang-bayang pohon bergoyang tanpa suara. Tak ada yang berubah. Namun, di antara segala sesuatu yang kukenal itu, mendadak aku merasa asing, seolah baru saja terbangun di sebuah dunia yang selama ini kutempati tanpa pernah benar-benar kuketahui.
Aku duduk di tepi dipan, membiarkan kedua kaki menyentuh lantai yang dingin. Di luar sana, malam masih merentangkan sayapnya. Seekor serangga sesekali menggesekkan suara pada dinding, lalu diam kembali, seperti makhluk kecil yang urung menyampaikan rahasia kepada alam.
Aku menatap nyala lampu minyak.
Kecil sekali nyalanya, tetapi ia sanggup membuat gelap sedikit beringsut. Aku teringat diriku sendiri. Betapa kecilnya aku di hadapan semesta yang entah berapa luasnya, betapa sebentarnya aku di hadapan waktu yang telah mengalir jauh sebelum namaku dikenal, dan betapa sedikitnya yang kupahami dari kehidupan yang setiap hari kujalani seolah-olah aku telah mengenal seluruh rahasianya.
Lalu, tanpa aba-aba, sebuah pertanyaan mengetuk pintu batinku.
Mengapa aku ada?
Aku terdiam.
Pertanyaan itu sederhana, hanya terdiri atas beberapa kata, tetapi malam seolah mendadak menjadi lebih luas daripada sebelumnya. Ada sesuatu yang terbuka di dalam diriku, sesuatu yang selama bertahun-tahun tertutup oleh kesibukan, oleh urusan dunia, oleh keinginan-keinginan kecil yang datang silih berganti dan selalu meminta dipenuhi.
Aku mencoba mengingat, sejak kapan aku mulai menganggap hidup sebagai sesuatu yang sewajarnya berlangsung. Sejak kapan aku bangun pagi tanpa bertanya mengapa hari masih diberikan kepadaku. Sejak kapan aku menghirup udara tanpa pernah merasa sedang menerima sesuatu yang tidak pernah kubuat sendiri.
Aku dilahirkan, kata orang. Aku tumbuh, belajar mengenal nama-nama, mengejar keinginan, mencintai seseorang, membenci yang lain, menanggung luka, mengumpulkan harapan, lalu berjalan dari satu hari ke hari berikutnya.
Tetapi siapa yang sesungguhnya sedang menjalani semua itu?
Aku mengenal namaku, tetapi apakah namaku adalah diriku? Aku mengenal wajahku di dalam cermin, tetapi apakah wajah itu telah menceritakan siapa aku sebenarnya? Aku mengetahui tanggal kelahiranku, tetapi apakah mengetahui kapan aku datang ke dunia sama dengan mengetahui mengapa aku datang?
Pertanyaan demi pertanyaan tumbuh seperti akar pohon tua yang merayap di bawah tanah, mencari sesuatu yang bahkan tidak kuketahui namanya.
Aku memandangi telapak tanganku. Garis-garisnya bersilang, berbelok, dan berakhir di tempat yang tak pernah kupahami. Di balik kulit yang mulai memperlihatkan jejak usia itu, darah terus mengalir, jantung terus mengetuk, dan kehidupan diam-diam bekerja tanpa meminta persetujuanku.
Aneh benar.
Tubuh ini terus hidup, sementara aku bahkan belum mengerti apa arti kehidupan.
Aku mengangkat tangan itu perlahan, seakan-akan sedang memegang sesuatu yang baru kutemukan di tengah jalan.
Apakah aku benar-benar memiliki tubuh ini, ataukah aku hanya sedang menumpang di dalamnya?
Aku segera menggeleng, merasa pertanyaan itu terlalu jauh untuk dipikirkan. Namun, semakin kucoba mengusirnya, semakin ia mendekat. Ia tidak datang seperti tamu yang bisa dipersilakan pulang. Ia datang seperti bayang-bayang yang telah lama mengikuti, hanya saja malam itu aku baru berbalik untuk melihatnya.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa yang paling jauh dariku bukanlah bintang-bintang di langit, bukan pula ujung dunia yang tak pernah kukunjungi.
Melainkan diriku sendiri.
II. Suara yang Mengajakku Tidur
Suara Ego:
“Sudahlah. Untuk apa engkau mengorek-ngorek sesuatu yang sejak semula tak pernah menjadi urusanmu? Engkau dilahirkan, lalu tumbuh sebagaimana manusia lainnya. Bukankah itu sudah cukup? Tidak semua pintu harus dibuka. Tidak semua rahasia harus diketahui. Ada perkara yang lebih baik dibiarkan menjadi rahasia, sebab manusia bisa kehilangan ketenangannya justru karena terlalu ingin mengetahui.”
Aku menghela napas.
Suara itu terdengar akrab. Ia tidak membentak, tidak pula memaksaku. Ia berbicara dengan kelembutan seseorang yang hendak menyelimuti anak kecil agar kembali tidur setelah terbangun oleh mimpi buruk.
Aku mengenalnya. Bukankah suara itu telah menemaniku sepanjang hidup?
Dialah yang selalu mengingatkanku untuk tidak terlalu banyak berpikir ketika dunia telah menyediakan cukup banyak kesibukan. Dialah yang membujukku melupakan kegagalan dengan hiburan, menutupi kesedihan dengan tawa, dan menunda pertanyaan-pertanyaan yang mungkin mengganggu kenyamanan.
“Hidupilah hidup,” katanya lagi. “Jangan habiskan waktumu memikirkan apa yang tidak bisa kauubah. Esok engkau masih harus bekerja. Perutmu masih harus diisi. Tubuhmu masih membutuhkan istirahat. Apakah semua itu tidak cukup nyata dibandingkan pertanyaan-pertanyaanmu yang melayang di udara?”
Aku hampir mengangguk.
Memang benar, bukankah hidup sehari-hari telah memberiku cukup banyak alasan untuk berhenti bertanya? Ada kebutuhan yang harus dipenuhi, pekerjaan yang mesti diselesaikan, harapan yang perlu diperjuangkan, dan orang-orang yang menunggu kehadiranku. Dunia tidak pernah benar-benar kehabisan urusan untuk menyibukkan manusia.
Tetapi tiba-tiba aku teringat sesuatu.
Betapa seringnya aku tertawa tanpa benar-benar merasa bahagia. Betapa seringnya aku berbicara tanpa sungguh-sungguh mendengarkan. Betapa seringnya aku mengejar sesuatu dengan seluruh tenaga, lalu setelah mendapatkannya, aku justru merasa kosong seperti rumah yang pintunya terbuka tetapi penghuninya entah pergi ke mana.
Aku telah berkali-kali sampai di tempat yang kuinginkan, tetapi mengapa hatiku seolah masih tertinggal di suatu tempat yang tak kukenal?
Aku telah memenuhi banyak keinginan, tetapi mengapa selalu ada keinginan lain yang menunggu di belakangnya?
Dan ketika segala yang kuinginkan itu kelak terlepas dari tanganku, apa yang masih tertinggal dari diriku?
Suara Ego:
“Engkau hanya sedang lelah. Tidurlah. Esok, segala sesuatu akan terasa lebih mudah.”
Suara Nurani:
“Barangkali benar engkau lelah. Tetapi pernahkah engkau berpikir bahwa ada kelelahan yang tidak berasal dari tubuh, melainkan dari jiwa yang terlalu lama dipaksa berjalan menjauhi sesuatu yang dirindukannya?”
Aku menegakkan punggung.
Suara Ego:
“Rindu kepada apa? Engkau memiliki rumah, mengenal jalan pulang, dan tahu ke mana kakimu harus melangkah. Apa lagi yang kaucari?”
Suara Nurani:
“Aku tidak tahu. Justru itulah yang membuatku gelisah. Ada sesuatu yang kurindukan, tetapi aku tak sanggup menyebut namanya. Ada sesuatu yang terasa dekat, tetapi setiap kali hendak kuraih, ia seperti menjauh ke balik tabir. Aku tidak tahu apakah aku sedang mencari sesuatu yang hilang, atau sedang berusaha mengenali sesuatu yang sejak awal telah ada.”
Aku menundukkan kepala.
Mungkin selama ini aku memang terlalu sibuk mencari jalan keluar dari kegelisahan, sampai lupa bertanya dari mana kegelisahan itu berasal.
Aku mengira ketenangan akan datang apabila semua urusan selesai, padahal urusan manusia tak pernah benar-benar selesai. Satu keinginan dipenuhi, keinginan lain tumbuh. Satu masalah diselesaikan, masalah lain datang mengetuk. Seolah-olah hidup adalah perjalanan yang terus menjanjikan tempat perhentian, tetapi selalu menyisakan jalan baru di hadapan kaki.
Barangkali bukan dunia yang terlalu ramai.
Barangkali aku sendiri yang terlalu lama bersembunyi di dalam keramaian, takut mendengar apa yang mungkin dikatakan kesunyian.
III. Daun yang Menyadari Dirinya Hanyut
Aku berdiri, lalu melangkah ke jendela. Di luar, pohon tua itu berdiri dalam kegelapan. Daun-daunnya hampir tak bergerak. Aku membayangkan sehelai daun yang terlepas dari ranting, jatuh ke tanah, kemudian terseret angin entah ke mana.
Daun itu tidak bertanya ke mana ia pergi. Ia tidak menyesali ranting yang ditinggalkannya. Ia tidak pula mencemaskan tempat jatuhnya nanti.
Ia hanyut, dan barangkali dalam kehanyutannya itu tidak ada kegelisahan.
Tetapi manusia berbeda.
Aku dapat melihat diriku sedang hanyut, dan justru karena mampu melihatnya, aku ingin mengetahui ke mana arus ini membawaku. Aku dapat merasakan waktu meninggalkanku, dan karena itu aku takut kehilangan hari-hari yang belum sempat kupahami. Aku tahu bahwa segala sesuatu akan berubah, maka aku menggenggamnya erat-erat, seolah-olah kekuatan tanganku sanggup menahan dunia agar tidak bergerak.
Betapa letihnya menjadi manusia.
Kita mengetahui bahwa tubuh akan menua, tetapi tetap terkejut ketika keriput mulai datang. Kita mengetahui bahwa perpisahan adalah bagian dari kehidupan, tetapi selalu berharap orang-orang yang kita cintai akan tinggal lebih lama. Kita mengetahui bahwa dunia tidak menjanjikan keadilan bagi setiap orang, tetapi hati tetap terluka ketika menyaksikan ketidakadilan terjadi di depan mata.
Kita tahu bahwa segala sesuatu akan berlalu, tetapi menjalani setiap kepergian seolah-olah baru kali itu kita mengenal kehilangan.
Lalu, apakah kesadaran ini anugerah atau justru beban?
Mengapa aku diberi kemampuan untuk memahami kefanaan, jika aku sendiri begitu sulit menerima bahwa segala sesuatu memang fana?
Suara Ego:
“Karena engkau manusia. Engkau ingin hidup, ingin memiliki, ingin dikenang. Bukankah itu sudah menjadi tabiatmu?”
Suara Nurani:
“Tetapi jika aku hanya hidup untuk memiliki, mengapa kepemilikan tak pernah sanggup membuatku utuh? Jika aku hanya hidup untuk dikenang, mengapa pujian manusia begitu cepat kehilangan rasanya? Dan jika aku hanya hidup untuk bertahan, mengapa ada saat-saat ketika aku rela kehilangan sesuatu demi menyelamatkan orang lain?”
Aku memejamkan mata.
Ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya dengan menunjuk kepada tabiat manusia. Ada dorongan di dalam diri yang kadang melampaui kepentingan diri sendiri. Ada cinta yang membuat seseorang tetap tinggal ketika pergi jauh lebih mudah. Ada pengorbanan yang dilakukan tanpa tepuk tangan, tanpa saksi, bahkan tanpa harapan akan balasan.
Dari manakah semua itu datang?
Apakah kasih hanyalah cara lain bagi manusia untuk mencari keuntungan yang tersembunyi? Apakah pengorbanan selalu menyimpan pamrih yang belum terbaca? Ataukah di dalam diri manusia memang ada ruang yang tidak sepenuhnya dapat diterangkan oleh keinginan untuk memiliki dan ketakutan untuk kehilangan?
Aku tidak menemukan jawaban yang pasti.
Namun, untuk pertama kalinya, ketidaktahuan itu tidak membuatku ingin segera berpaling.
Aku justru ingin tinggal sedikit lebih lama di hadapannya.
Sebab barangkali kebijaksanaan tidak selalu dimulai ketika manusia menemukan jawaban. Barangkali ia bermula ketika manusia berhenti berpura-pura telah mengetahui segala sesuatu.
IV. Antara Debu dan Nyala
Malam semakin larut. Dari kejauhan terdengar lolongan anjing yang panjang, lalu kembali tenggelam ke dalam kesunyian. Aku duduk lagi, memandang bayanganku yang samar di lantai.
Tiba-tiba aku teringat kuburan.
Entah mengapa, bayangan tentang tanah yang menutup jasad selalu membuat segala kebanggaan manusia tampak begitu kecil. Di sana, gelar-gelar kehilangan suara. Harta tak lagi dapat dipamerkan. Wajah yang dahulu dipuja perlahan kembali menjadi bagian dari tanah. Mereka yang semasa hidupnya berjalan dengan dada membusung, pada akhirnya berbaring dalam diam yang sama dengan mereka yang sepanjang hidupnya menunduk.
Kematian seperti cermin yang tidak mengenal basa-basi.
Ia memperlihatkan betapa banyak hal yang kita anggap penting ternyata tidak ikut menemani kita sampai ke ujung perjalanan.
Tetapi justru di hadapan kematian, aku menemukan sebuah keganjilan yang lain.
Jika pada akhirnya tubuh kembali menjadi tanah, apakah seluruh perjalanan ini berakhir pada sesuatu yang tak berarti? Apakah kasih seorang ibu, air mata seorang anak, kesetiaan seorang sahabat, dan segala pergulatan manusia hanya akan menjadi cerita singkat yang kemudian lenyap ditelan waktu?
Aku tidak ingin meremehkan kehidupan hanya karena ia berakhir. Namun, aku juga tidak ingin menipu diriku sendiri dengan jawaban yang sekadar menenangkan hati.
Aku ingin mengetahui, meski hanya sedikit, apa yang membuat kehidupan layak dijalani meskipun ia tidak dapat dimiliki selamanya.
Suara Ego:
“Engkau terlalu jauh berjalan dengan pikiranmu. Lihatlah kenyataan. Yang hidup akan mati. Yang tumbuh akan layu. Yang datang akan pergi. Bukankah alam telah mengajarkan semuanya tanpa perlu engkau menambahkan rahasia-rahasia yang tak terjangkau?”
Suara Nurani:
“Benar. Tetapi apakah mengetahui bahwa bunga akan layu membuat keindahannya menjadi sia-sia? Apakah mengetahui bahwa senja akan berakhir membuat warna merahnya kehilangan makna? Dan apakah cinta menjadi tidak berharga hanya karena suatu hari dua manusia yang saling mencintai harus berpisah?”
Aku terdiam.
Barangkali aku selama ini terlalu sering mengukur makna dari lamanya sesuatu bertahan. Aku mengira yang abadi pasti berharga, sedangkan yang sementara hanyalah persinggahan. Padahal setetes air dapat menyelamatkan seseorang yang kehausan, meskipun ia segera habis ditelan bumi. Sebuah pelukan dapat menguatkan hati yang remuk, meskipun hanya berlangsung beberapa detik.
Ada hal-hal yang tidak menjadi sia-sia hanya karena tidak berlangsung selamanya.
Mungkin kehidupan pun demikian.
Nilainya tidak semata-mata terletak pada berapa lama aku bernapas, berapa banyak yang berhasil kukumpulkan, atau berapa jauh namaku akan dibawa oleh ingatan orang-orang setelah aku tiada. Barangkali ada ukuran lain yang selama ini luput kupandang: apa yang kulakukan dengan waktu yang dipercayakan kepadaku, bagaimana aku memperlakukan sesama, dan apakah kehadiranku pernah menjadi alasan bagi seseorang untuk tidak menyerah pada kehidupan.
Aku kembali menatap telapak tanganku.
Tangan ini kelak akan kehilangan kekuatannya. Ia akan berhenti menggenggam, berhenti menulis, berhenti menyentuh wajah orang-orang yang kucintai. Namun, selama ia masih dapat kugerakkan, bukankah aku masih memiliki kesempatan untuk mengulurkan pertolongan, menghapus air mata, atau menahan diri agar tidak melukai?
Barangkali pertanyaan tentang makna hidup tidak selalu harus dijawab dengan memandang langit yang jauh.
Kadang-kadang jawabannya menunggu di hadapan kita, dalam sesuatu yang begitu dekat hingga kita tak pernah merasa perlu melihatnya.
V. Siapakah yang Menyalakan Cahaya?
Aku memandang ke arah jendela. Di balik gelap, langit perlahan berubah warna. Belum fajar benar, tetapi hitamnya tidak lagi sepekat tadi.
Aku teringat kepada Tuhan.
Bukan sebagai nama yang sekadar diajarkan kepadaku sejak kecil. Bukan pula sebagai jawaban yang segera kuucapkan setiap kali berhadapan dengan sesuatu yang tidak sanggup kupahami. Malam itu, aku ingin mendekati-Nya dengan pertanyaan yang paling jujur, sekalipun pertanyaan itu memperlihatkan betapa sedikitnya pengetahuanku.
Jika aku berasal dari kehendak-Nya, apakah aku pernah sungguh-sungguh memahami arti menjadi makhluk yang dikehendaki?
Jika hidup ini amanat, mengapa aku begitu sering memperlakukannya seolah-olah ia milikku sepenuhnya?
Jika setiap tarikan napas adalah karunia, mengapa aku lebih banyak mengeluhkan apa yang belum kumiliki daripada mensyukuri apa yang masih diberikan?
Dan jika aku menyebut-Nya sebagai tujuan pulang, apakah selama ini aku benar-benar berjalan menuju-Nya, atau justru sibuk mengitari diriku sendiri sambil menyangka bahwa aku sedang mendekat?
Pertanyaan terakhir itu membuat dadaku terasa sesak.
Aku mengenal banyak kata tentang Tuhan. Aku tahu bagaimana manusia berbicara tentang kebesaran-Nya, tentang kasih sayang-Nya, tentang takdir dan kehendak-Nya. Tetapi mengetahui kata-kata tentang Tuhan tentu tidak sama dengan mengenali-Nya. Sebagaimana seseorang dapat menghafal seluruh jalan menuju sebuah rumah tanpa pernah benar-benar mengetuk pintunya.
Barangkali aku terlalu lama merasa aman karena mengetahui nama jalan, sedangkan kakiku sendiri belum sungguh-sungguh melangkah.
Suara Ego:
“Lalu apa yang hendak kaulakukan? Apakah engkau ingin menemukan Tuhan di dalam dirimu sendiri?”
Suara Nurani:
“Aku tidak tahu di mana aku harus mencari. Aku hanya mulai mengerti bahwa aku tidak boleh tergesa-gesa menyamakan segala yang kurasakan dengan kebenaran. Aku dapat keliru membaca hatiku sendiri. Keinginanku bisa menyamar sebagai petunjuk, ketakutanku bisa menyamar sebagai kebijaksanaan, bahkan kesombonganku bisa bersembunyi di balik kata-kata suci.”
Aku menunduk.
Untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa perjalanan menuju Tuhan mungkin tidak hanya menuntut keberanian untuk mencari, tetapi juga keberanian untuk meragukan kesombongan diri sendiri.
Sebab betapa mudahnya manusia berbicara tentang cahaya, lalu menganggap dirinya telah menjadi cahaya. Betapa mudahnya ia mengucapkan kata-kata tentang cinta, tetapi tetap membiarkan kebencian berdiam di dalam dadanya. Betapa mudahnya ia menyebut dirinya mengenal kebenaran, padahal ia belum sanggup berdamai dengan kenyataan bahwa pengetahuannya sendiri terbatas.
Aku tidak ingin menjadi manusia yang menggunakan nama Tuhan untuk menutupi ketidakjujuran terhadap dirinya sendiri.
Jika memang ada jalan pulang, biarlah aku menempuhnya dengan hati yang bersedia dibersihkan. Jika memang ada cahaya yang harus kutemukan, biarlah aku terlebih dahulu berani melihat kegelapan yang masih kusimpan.
Aku belum tahu bagaimana semuanya akan berlangsung.
Aku hanya tahu bahwa malam ini, sesuatu di dalam diriku telah berhenti merasa cukup dengan jawaban-jawaban yang diwariskan tanpa pernah direnungkan.
Dan mungkin, untuk sementara, itu sudah merupakan langkah pertama.
VI. Fajar yang Tidak Memberi Semua Jawaban
Cahaya tipis mulai menyelinap melalui celah jendela. Warna kelabu perlahan mengambil tempat malam. Di kejauhan, seekor burung mengeluarkan suara pertamanya, disusul burung lain yang seolah menjawab dari arah berbeda.
Aku duduk diam, membiarkan pagi datang tanpa tergesa-gesa.
Pertanyaan itu masih ada.
Mengapa aku ada?
Anehnya, kini aku tidak lagi merasa harus segera membungkamnya. Aku mulai mengerti bahwa pertanyaan tersebut mungkin bukan pintu yang sekali dibuka akan memperlihatkan seluruh isi rumah. Barangkali ia adalah jalan panjang yang hanya menyingkapkan satu tikungan setiap kali aku berani melangkah.
Aku belum mengetahui seluruh maksud keberadaanku. Aku belum memahami mengapa jalan hidup manusia kadang begitu berbeda, mengapa orang baik dapat menanggung luka yang panjang, mengapa sebagian doa seolah menemukan jawaban, sementara sebagian lainnya tetap menggantung dalam kesunyian.
Aku juga belum tahu apakah suatu hari nanti aku akan sampai pada pemahaman yang selama ini kucari.
Tetapi aku mulai menyadari sesuatu: ketidaktahuanku bukan alasan untuk hidup tanpa arah, sebagaimana keterbatasanku bukan alasan untuk berhenti berbuat baik.
Aku mungkin tidak dapat memahami seluruh rahasia kehidupan, tetapi aku masih dapat memilih untuk tidak menambah penderitaan orang lain. Aku mungkin tidak sanggup mengetahui seluruh maksud takdir, tetapi aku masih dapat bertanggung jawab atas keputusan yang berada dalam jangkauanku. Aku mungkin belum mengenali diriku seutuhnya, tetapi aku dapat mulai berhenti berdusta kepada hati nuraniku sendiri.
Barangkali makna hidup tidak selalu turun sebagai jawaban yang lengkap.
Barangkali ia tumbuh perlahan, di antara pilihan-pilihan kecil yang kerap luput dari perhatian: ketika seseorang memilih jujur meskipun kebohongan lebih menguntungkan, ketika seseorang tetap mengulurkan tangan meskipun dirinya sendiri sedang terluka, ketika seseorang menahan amarah karena tidak ingin mewariskan kepedihan yang pernah diterimanya.
Dan barangkali, di antara semua itu, manusia sedang belajar memahami amanat keberadaannya.
Aku berdiri. Lantai kayu terasa dingin di bawah telapak kaki. Kurasakan udara pagi menyentuh wajahku ketika jendela kubuka lebih lebar.
Dunia masih sama. Jalan di depan rumah belum berubah. Pohon tua itu masih berdiri di tempatnya. Tanah masih menyimpan jejak-jejak malam, dan matahari belum sepenuhnya muncul dari balik cakrawala.
Namun, aku tak lagi memandang semuanya dengan cara yang persis sama.
Aku tidak tiba-tiba menjadi manusia yang bijaksana. Aku tidak serta-merta terbebas dari ketakutan, keinginan, dan segala kelemahan yang selama ini menjadi bagian dari diriku. Aku tahu, esok atau lusa, aku mungkin kembali terseret oleh kesibukan, kembali dikuasai kemarahan, bahkan kembali melupakan pertanyaan yang malam ini terasa begitu dekat.
Tetapi setidaknya, kini aku tahu bahwa aku pernah terbangun.
Aku pernah berdiri di hadapan diriku sendiri, mendengar kegelisahan yang selama ini kutenggelamkan dalam kebisingan, dan menyadari bahwa kehidupan bukan sekadar sesuatu yang berlangsung atas diriku, melainkan sesuatu yang menuntut kehadiranku.
Aku menatap telapak tanganku sekali lagi.
Tangan yang sama. Tubuh yang sama. Nama yang sama.
Namun, di dalam kesadaran yang masih rapuh ini, tumbuh keinginan untuk menjalani semuanya dengan lebih sungguh-sungguh.
Aku tidak ingin hanya melewati hari-hari, tetapi belajar memahami apa yang sedang kulewati. Aku tidak ingin hanya mencari kebahagiaan bagi diriku, tetapi juga memahami mengapa kebahagiaan terasa lebih berarti ketika dapat dibagikan. Aku tidak ingin hanya menghindari penderitaan, tetapi belajar agar penderitaan tidak menjadikanku manusia yang kehilangan belas kasih.
Dan jika benar keberadaanku berasal dari kehendak Yang Maha Ada, semoga aku tidak menghabiskan umur hanya untuk memenuhi kehendak-kehendak kecilku sendiri.
Aku menundukkan kepala. Tidak ada kata-kata panjang yang kuucapkan. Tidak ada janji besar yang berani kubuat.
Hanya sebuah bisikan yang nyaris tenggelam oleh suara pagi.
“Ya Tuhan, aku belum mengenal seluruh rahasia keberadaanku. Aku bahkan belum mengenal diriku sendiri sebagaimana mestinya. Tetapi jika hidup ini memang sebuah amanat, ajarilah aku agar tidak mengkhianatinya. Jika perjalanan ini adalah jalan pulang, jangan biarkan aku begitu sibuk mengejar dunia hingga lupa ke mana kakiku seharusnya menuju.”
Aku terdiam cukup lama.
Lalu, di dalam hati, sebuah kalimat muncul tanpa suara.
“Jangan terburu-buru merasa telah sampai. Belajarlah berjalan dengan benar.”
Aku tidak tahu apakah kalimat itu jawaban atau sekadar gema dari pikiranku sendiri. Aku tidak hendak mengakuinya sebagai sesuatu yang lebih daripada yang dapat kupahami. Namun, maknanya tinggal di dalam dada, sederhana dan jernih, seperti embun yang tidak mengumumkan kedatangannya kepada daun.
Aku melangkah menuju pintu.
Di luar, pagi mulai membuka wajahnya. Kehidupan menunggu dengan segala keramaian, kesulitan, dan peristiwa yang tak dapat kutebak. Akan ada hari-hari yang memberiku alasan untuk bersyukur, dan mungkin ada pula malam-malam lain yang kembali membuatku bertanya.
Aku tidak membawa kepastian bahwa semua akan baik-baik saja.
Aku hanya membawa kesediaan untuk tidak lagi hidup sepenuhnya dalam tidur.
Sebelum keluar, aku menoleh sebentar ke arah kamar yang semalam menjadi saksi kegelisahanku. Lampu minyak telah padam. Bayang-bayang yang dahulu memenuhi sudut-sudut ruangan kini tersapu cahaya pagi.
Aku tersenyum tipis.
Barangkali malam tidak pernah benar-benar memberikan jawaban. Barangkali ia hanya mengajariku cara mendengar pertanyaan yang selama ini tak pernah kusadari.
Dan mungkin, itulah yang dibutuhkan seorang pengembara pada permulaan perjalanannya: bukan peta yang menunjukkan seluruh jalan, melainkan keberanian untuk mengakui bahwa ia belum mengetahui ke mana setiap jalan akan membawanya.
Aku melangkah keluar.
Di hadapanku, dunia terbentang sebagaimana adanya, sementara di dalam diriku, sebuah perjalanan baru saja dimulai.
“Aku ada,” bisikku.
Kali ini, aku tidak mengucapkannya sebagai kesimpulan tentang asal-usulku, seolah-olah aku telah memahami seluruh rahasia yang berada di balik kelahiranku.
Aku mengucapkannya sebagai pengakuan.
Bahwa aku berada di sini, bahwa waktu masih memberiku kesempatan, bahwa setiap langkah akan membawa konsekuensi, dan bahwa aku tak lagi ingin menyerahkan seluruh hidupku kepada kebiasaan yang berjalan tanpa kesadaran.
Aku ada.
Dan selama keberadaan ini masih dipercayakan kepadaku, aku ingin belajar menjadi manusia yang sungguh-sungguh hadir di dalamnya.
Di kejauhan, matahari perlahan terbit.
Aku berjalan menyambut pagi, sementara pertanyaan itu tetap tinggal di dalam dada—tidak lagi sebagai jerit yang menakutkan, melainkan sebagai nyala kecil yang mengingatkanku agar tidak tertidur terlalu lama di tengah perjalanan.
Sebab aku mulai mengerti, meskipun belum sepenuhnya memahami, bahwa mungkin tujuan pertama seorang pengembara bukanlah menemukan jawaban atas segala sesuatu.
Melainkan menemukan keberanian untuk memulai pencarian tanpa berpura-pura telah mengetahui akhirnya.
Dan di suatu tempat yang belum kukenal, di balik segala yang tampak dan segala yang masih tersembunyi, aku merasa perjalanan itu sedang menungguku.
Bersambung ke Bagian 2: Siapakah yang Bertanya dalam Diriku?
READ MORE - Jerit Sunyi di Ambang Ada