Antara PKI dan NU



Pada awal-awal berdirinya, Ansor, yang merupakan organisasi kepemudaan NU, selalu membela Islam dari penjajah dan musuh-musah Islam lainnya. Ansor dulu tidak pernah menjadi antek penjajah.

KH. Wahid Hasyim pada acara reuni Pengurus Besar Ansor Nadlatul Ulama (nama lama GP Ansor) pada 14 Desember 1949 di Surabaya mengemukakan pentingnya membangun kembali organisasi Pemuda Ansor karena dua hal: (1) Untuk membentengi perjuangan umat Islam Indonesia; (2) Untuk mempersiapkan diri sebagai kader penerus NU.

Pada tanggal 23 Oktober 1945 Ansor ikut serta rapat bersama Rais Akbar NU, KH. Hasyim Asy’ari, membahas tentang seruan jihad melawan penjajah yang menduduki Surabaya. Rais Akbar KH. Hasyim Asy’arie menyampaikan amanatnya berupa pokok kaidah kewajiban umat islam dalam berjihad membela tanah air.

Rapat yang dipimpin Ketua Besar KH. Abdul Wahab Hasbullah itu kemudian menyimpulkan satu keputusan dalam bentuk resolusi, yang diberinama “Resolusi Jihad Fii Sabilillah”. Intinya, mewajibkan setiap umat Islam (Fardlu ‘Ain) mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari serangan musuh. Resolusi jihad tersebut telah membakar semangat perjuangan arek-arek Suroboyo dan menjadi sumber inspirasi dan motifasi dalam mengusir penjajah.

Pada saat PKI (Partai Komunis Indonesia) memberontak kepada pemerintah RI, lagi-lagi Ansor berada di depan. Bahkan Ansor dianggap musuh besar PKI pada saat itu. Perlawanan NU terhadap penganut komunis ini dilakukan secara all out. Baik secara fisik maupun kultural.

Peristiwa G/30/PKI merupakan sejarah suram bangsa yang tidak bisa dilupakan oleh Ansor terutama NU. Sebab, pengalaman pahit yang menimpa warga NU (Pemuda Ansor) dalam aksi PKI di Madiun 1948, puluhan bahkan ratusan warga NU menjadi korban keganasan palu arit. Karma itu seperti dikemukakan oleh KH.Saefuddin Zuhri, Perlawanan NU terhadap PKI di lakukan di semua medan juang.

Antara PKI dan NU berhadapan sebagai lawan. PKI menggerakkan massanya, NU mengorganisasi Pemuda Ansor dan Banser-nya. PKI mengerakkan Lekranya, NU mengaktifkan Lesbuminya. PKI menyajikan lagu Genjer-genjer yang penuh hasutan dan sindiran, NU mengobarkan Shalawat Badar. NU mengobarkan semangat perlawanan terhadap PKI sebagai kelanjutan peristiwa aksi PKI di Madiun 1948.

Beginilah semangat perjuangan Ansor, tidak pernah absen menolong kaum Muslimin Indonesia di saat peristiwa-peristiwa penting. Jika kini oknum Ansor absen bahkan berbalik menolong barisan musuh, berarti Ansor telah keluar dari tradisi ke-Ansor-an dan e-NU-an. Melawan arus pemikiran ulama NU dan ulama Ahlus Sunnah dari dahulu hingga sekarang. Mereka tidak pernah mengajarkan liberalisme. Justru sejak lahir, ajaran NU anti aliran-aliran sesat.*/bersambung.. KH Hasyim tegas terhadap orang kafir, lembut pada sesama Muslim

Tegas terhadap orang Kafir

Perhatikan pesan KH. Hasyim Asy’ari yang pernah berwasiat untuk tetap taat kepada syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassallam sampai hari kiamat. Dalam kitabnya al-Durar al-Muntasirah fi Masa’il al-Tis’a ‘Asyara, beliau pernah ditanya bagaiamana hukum orang yang berkata: ‘Sejak tahun 1357 H (1938 M) syariat Nabi Muhammad Saw sudah tidak terpakai, al-Qur’an tidak ada faidahnya?

Beliau menjawab: Syariat junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassallam masih tetap terpakai sampai kiamat, dan orang yang berkata demikian (syariat Nabi Muhammad Saw sudah tidak berlaku) rusak Islamnya. Juga rusak Islamnya orang yang mengikuti dan membenarkan ucapan tersebut. Keterangan dari Nadzam Bad’ul Amaliy: Wajib dalam sahnya iman adalah mengi’tiqadkan kekekalan syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassallam sepanjang waktu sampai hari kiamat dan sampai saat orang-orang berangkat ke padang Mahsyar’ (KH. Hasyim Asy’ari, al-Durar al-Muntasirah fi Masa’il al-Tis’a ‘Asyara, hal. 17).

Terhadap orang kafir beliau tegas, dan lembut kepada sesama Muslim. Beliau pernah mengatakan: ‘Wahai manusia, di antara kalian terdapat orang-orang kafir yang memenuhi dataran Negara ini. Maka bangkitlah kalian, membahas mereka dan serius memberi petunjuk’ (Hasyim Asy’ari,Risalah fi Ta’akkudil Akhdi Bimadzhabil aimmah al-Arba’ah, hal. 33).

Kepada para ulama ia menasihati: ‘Wahai para ulama, apabila kamu melihat orang yang melakukan amalan yang mengikuti pendapat salah satu ulama madzhab yang telah diakui jika tidak sesuai dengan amalan kamu maka jangan bersikap keras dengannya, tuntunlah dengan kelembutan. Jika ia tidak mau mengikuti kamu maka janganlah menjadikan ia sebagai musuh’ (Risalah fi Ta’akkudil Akhdi Bimadzhabil aimmah al-Arba’ah, hal. 34).

Dalam Qonun Asasai organisasi NU didirikan untuk menegakkan akidah Islam, memadamkan api fitnah, dan menghilangkan keyakinan-keyainan yang tidak sesuai dengan para salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah. KH. Hasyim Asy’ari menuliskan pesan bahwa para ulama yang terhimpun dalam organisasi ini adalah ulama-ulama yang ‘adil, yang harus bisa menghilangkan kepalsuan ahli kebatilan, takwil sesat orang bodoh dan menghilangkan distorsi orang-orang yang ekstrim.

Kepada pemuda, khususnya pemuda NU, KH. Hasyim Asy’ari memberi semangat: ‘Ketauhilah wahai pemuda Muslim, Anda adalah seorang tentara di antara tentara-tentara Allah yang dinisbatkan kepada umat yang mulya. Memiliki sejarah yang agung, penuh dengan kehebatan amal dan akhlak. Sungguh merupakan aib bagi siapa yang memiliki leluhur hebat seperti Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali namun hidupnya cuma untuk mencari makan, minum dan tidur. Harusnya, mereka bangkit meneruskan perjuangan leluhurnya. Jika kamu ingin menjadi anak-anak orang hebat tersebut maka kamu harus mengikuti jalan mereka. Semboyan mereka adalah bersatu, menyiapkan kekuatan untuk hadapi orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya’ (Irsyadul Mu’minin Ila Sirati Sayyidil Mursalin, hal. 38).

Beginilah pemuda-pemuda dan Ansor-Ansor yang dicita-citakan oleh KH. Hasyim Asy’ari. Sejarah, petuah, nasihat dan kaidah yang telah ditulis dengan baik oleh pendiri NU itu sepatutnya menjadi semacama ‘Aswaja Terapan’ (istilah Faris Khoirul Anam) dalam menertibkan kader-kader muda Ansor. Disiplin organisasi wajib ditegakkan. Agar tidak kesusupan oknum-oknum liberal yang mencabik-cabik ajaran dan perjuangan KH. Hasyim Asy’ari. ( hidayatullah.com )
Penulis : Kholili Hasib adalah santri NU dan anggota MIUMI Jawa Timur

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Akhlak (18) Bibel (6) Dakwah (38) Hak Azazi Manusia (13) Islam (23) Jihad (17) Kristen (19) Liberalisme (46) Mualaf (9) Muslimah (15) Natal (2) Orientalis (8) Peradaban (42) Poligami (9) Politik (29) Ramadhan (10) Rasulullah (22) Ridha (4) Sejarah (38) Tasawuf (24) Tauhid (16) Tawakal (3) Teroris (12) Trinitas (8) Yahudi (36) Yesus Kristus (34) Zuhud (8)