Ayo Pak SBY, Berhentilah Memusihi Rakyatmu Sendiri ... !!!






Buku 'Selalu Ada Pilihan' yang terbilang karya master piece Presiden SBY, belum lagi dibaca oleh seluruh rakyat Indonesia. Buku ini, baru diluncurkan Jumat 17 Januari 2014 di Jakarta Convention Center.

Tapi dari berbagai petikan yang di-'tag' oleh media sosial maupun media utama, isi buku itu sepertinya sarat dengan ketidak-puasan Presiden SBY kepada sejumlah tokoh pengeritiknya.

Buku tersebut diluncurkan untuk sebuah pembelaan diri menghadapi berbagai serangan yang terus mengalir ke arah Presiden SBY plus keluarganya. Kendati berisi pembelaan, isinya bermuatan pesan yang kental dengan aroma permusuhan. SBY memusuhi para pengeritik yang nota bene merupakan rakyat Indonesia, rakyatnya sendiri.

Pertanyaan relevan, patutkah SBY melakukannya? Pantaskah Presiden SBY ‘memusuhi’ rakyatnya sendiri?

Jelas tidak. Karena sebagai pemimpin, SBY harus lebih luas cara berpikirnya. Sebagai Presiden, SBY merupakan Presiden seluruh rakyat Indonesia. Tidak boleh satupun rakyat Indonesia yang dia tempatkan sebagai musuh, apapun alasannya. Semenjak disumpah sampai mengakhiri jabatannya sebagai Presiden, SBY harus berpikir sebagai pelindung bagi seluruh rakyat Indonesia.

Yang terlupakan oleh SBY dengan sikapnya itu, ia secara sadar telah memanfaatkan privilegenya sebagai Orang Nomor Satu di Indonesia. Pemanfaatan dalam kasus seperti ini merupakan tindakan manipulatif.

Dalam kapasitas sebagai Presiden, SBY memvonis, menyalahkan para pengeritiknya, sementara mereka yang dikecamnya, tidak bisa melakukan hal serupa. Misalnya dengan segera menerbitkan buku bantahan kemudian diluncurkan dalam sebuah acara yang memerlukan biaya ratusan juta rupiah.

Dalam buku itu, dikutip, SBY juga membela putera bungsunya Ibas. Sekjen DPP Partai Demokrat ini, belakangan disebut-sebut menerima aliran dana US$200 ribu dari proyek bermasalah, Hambalang. Ibas sudah membantahnya. Melalui sebuah pernyataan resmi, Ibas telah melakukan pembelaan diri. Tapi pembelaan Ibas, bagi SBY nampaknya belum cukup. Maka SBY tampil sebagai ayah.

Pembelaaan seorang ayah terhadap anak, wajar. Tetapi pembelaan Presiden SBY kepada puteranya yang belum disentuh oleh jejaring hukum, merupakan tindakan preventif yang bisa ditafsirkan lain. Yaitu SBY mencoba mempengaruhi penegakan hukum.

SBY lupa, ketika Tommy Soeharto, putera bungsu mendiang Soeharto dituduh terlibat dalam pembunuhan seorang Hakim Agung, Soeharto yang ketika itu sudah tidak berkuasa namun masih punya pengaruh kuat di seluruh lini lembaga kekuasaan, tidak melakukan apa-apa.

Bekas penguasa Orde Baru selama 32 tahun itu, membiarkan proses hukum berjalan dan Tommy pun akhirnya berujung di penjara Nusa Kembangan. Pesan moral dari contoh Tommy Soeharto jelas. Pemimpin apakah itu masih memegang jabatan (formal) atau sudah lengser (informal), harus taat hukum. Tak terkecuali SBY.

Dengan SBY menulis pembelaannya kepada Ibas di buku tersebut sejatinya apa yang dilakukan Presiden SBY merupakan sebuah usaha mempengaruhi lembaga anti rasuah itu. Secara sadar SBY telah menggulirkan opini baru yang sekaligus mengintervensi kewenangan KPK.

Semenjak SBY terpilih sebagai Presiden di 2004, cukup banyak hal yang menarik tentang dirinya yang dibukukan. Lewat buku-buku tersebut, citra SBY sebagai sosok yang kapabel dan demokratis, berhasil dibentuk.

Artinya dari segi normatif literatur, hampir semua sisi kehidupan SBY sudah ditulis. Hanya saja buku-buku tersebut rata-rata hanya menulis sisi positif. Nyaris tidak ada kritikan atau telaah yang lebih kritis tentang SBY plus keluarga besarnya. SBY bagaikan gading yang tak ada retaknya. SBY seperti ingin menjadi Presiden RI yang terbaik di antara lima pendahulunya.

Oleh sebab itu buku 'Selalu Ada Pilihan', sesungguhnya bukan sebuah referensi yang diperlukan. Penerbitannya bisa dibilang sebagai sebuah langkah mubazir atau upaya yang telah melampaui ambang batas ketertarikan. Buku yang hanya menonjolkan hal-hal positif dari diri seseorang, tidak beda dengan minuman manis di dalam gelas. Sudah manis tapi masih diberi tambahan gula atau pemanis lainnya. Hasilnya atau rasanya, akhirnya sudah tidak sedap lagi.

Lain halnya kalau buku 'Selalu Ada Pilihan', mengungkap atau menjelaskan hal-hal yang belum pernah ditulis. Misalnya jawabannya atas tudingan yang menyebut SBY sudah pernah menikah dan punya dua anak, sebelum dia menikahi Ibu Negara sekarang ini.

Oleh sebab itu penerbitan buku kali ini semakin tidak relevan. Ditambah dengan sikap SBY yang hanya bermaksud menjawab semua kritikan melalui buku, keputusan Presiden kali ini semakin tak sesuai dengan apa yang diharap rakyat darinya. Yang ditunggu rakyat dari SBY, hal yang konkrit, kinerja nyata yang hasilnya bisa dirasakan. Bukan wacana-wacana melalui literatur.

Jika Presiden SBY ingin menjawab semua kritikan, maka yang paling tepat, bila hal itu dilakukannya setelah masa jabatan kepresidenannya berakhir 20 Oktober 2014. Sebab dari sisa jabatan sekitar 9 bulan ke depan, tidak ada jaminan, Presiden SBY akan bebas dari berbagai kritikan. Bahkan bukan mustahil, sisa 9 bulan terakhir yang bakal banyak diisi oleh berbagai kegiatan politik, kritik-kritik politik kepada SBY dan keluarganya, semakin intens, meraja lela dan lebih tajam serta pedas.

Simak saja tulisan seorang blogger bernama Vita Sinaga. Yang begitu berani, tanpa tedeng aling-aling 'menguliti' Ibu Negara Ani Yudhoyono. Pujian sarkartis Sinaga, muncul di saat buku 'Selalu Ada Pilihan' baru saja diluncurkan. Media yang memuatnya pun bukan dari kelompok media 'abal-abal'. Tapi media warga milik grup Kompas yakni "Kompasiana". Hal ini semakin menunjukkan, yang pantas bersuara kecewa itu, justru rakyat Indonesia. Bukan sang Presiden.

Nah apakah lantas setiap kali ada kritikan, lalu SBY harus memanfaatkan waktu luangnya untuk menulis? Atau apakah pekerjaan SBY dalam 9 bulan ke depan, tinggal terfokus pada menulis dan menulis buku? Tentu saja tidak.

Berhubung penerbitan buku sudah terlanjur dilakukan dan tak mungkin membatalkannya lagi, mau tidak mau SBY harus bersiap diri menghadapi reaksi baru dari masyarakat khususnya para pengeritiknya - sebagai reaksi atas penerbitan 'Selalu Ada Pilihan'.

Sebab hampir dapat dipastikan, dengan kinerja Presiden SBY belakangan ini, termasuk caranya menghadapi bencana alam nasional, siapapun akan terus memantau semua gerik geriknya, sekaligus mencari titik lemahnya.

Adigium yang ada saat ini seperti sedang bersuara: "Tiada Hari Tanpa Kritikan Buat SBY". Atau 'Selalu Ada Cela', dalam diri Presiden SBY dan keluarga Cikeasnya. Itulah yang mungkin akan dijadikan dasar para mengeritiknya untuk terus melanjutkan sorotan mereka.

Ayo Pak SBY, hentikanlah perputaran adrenalin rakyatmu sendiri. Buanglah sikap yang merasa "selalu bisa" dan "selalu benar". ( inilah.com )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Akhlak (18) Bibel (6) Dakwah (38) Hak Azazi Manusia (13) Islam (24) Jihad (18) Kristen (19) Liberalisme (46) Mualaf (9) Muslimah (15) Natal (2) Orientalis (8) Peradaban (42) Poligami (10) Politik (29) Ramadhan (10) Rasulullah (22) Ridha (4) Sejarah (38) Tasawuf (24) Tauhid (17) Tawakal (3) Teroris (13) Trinitas (8) Yahudi (36) Yesus Kristus (34) Zuhud (8)