Wajah Wakil Rakyat Tergantung Rakyatnya



Hari Pemilihan Sudah Dalam Hitungan Hari. Pada 9 April 2014 mendatang, kita akan melaksanakan pesta demokrasi serentak secara nasional dalam rangka memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk di lembaga dewan perwakilan rakyat baik tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun pusat. 

Para calon wakil rakyat pun sudah sibuk turun ke daerah pemilihan mereka masing-masing ”mempromosikan” diri dengan berbagai cara dan pendekatan dalam rangka menarik simpati masyarakat agar berkenan memberikan suara untuk mereka. 

Akankah pemilu legislatif kali ini melahirkan wakil-wakil rakyat yang betul-betul berkualitas dan amanah? Jawabannya ada di tangan rakyat sendiri. Karena rakyatlah yang akan memilih calon wakil-wakil mereka. 

Bagaimana wajah para wakil rakyat sangat ditentukan oleh wajah rakyat mereka.

Secara doktrinal, keberadaan pemimpin baik legislatif maupun eksekutif wajib hukumnya berdasarkan kaidah ushul fiqh yang menyatakan maa laa yatimmu al-wajib illa bihi fahuwa al-wajib (sesuatu yang tidak sempurna kewajiban kecuali dengannya, maka ia menjadi wajib)

Keteraturan, ketertiban, kenyamanan dan kemaslahatan merupakan cita-cita bersama dari suatu masyarakat. Dan semua itu tidak akan terwujud kecuali dengan adanya kepemimpinan. 

Tanpa kepemimpinan, maka yang akan terjadi di tengah-tengah masyarakat adalah tindakan kesewenang-wenangan dan prilaku main hakim sendiri. 

Bahkan Imam al-Mawardi dalam kitabnya al-Ahkam al-Sulthaniyyah mengatakan keharusan adanya pemimpin merupakan kewajiban kolektif umat Islam

Artinya apabila orang yang berhak telah diangkat atau memangku jabatan sebagai pemimpin, maka gugurlah hukum wajib bagi muslimin yang lain, sebaliknya jika tidak ada seorang pun yang menjalankan tugas itu maka seluruh kaum muslimin berdosa.

Tinggal lagi persoalan yang selalu dialami mayoritas masyarakat berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah adalah banyak para wakil rakyat yang duduk di lembaga terhormat dan bergengsi yang bernama DPR itu tidak mampu menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. 

Sebagian besar mereka terjebak pada sikap pragmatisme absolut dan prilaku yang tidak sehat serta kurang terpuji sehingga apa yang menjadi harapan masyarakat pada umumnya yang telah memberikan mandat kepada mereka kandas di tengah jalan.

Potret buruk kepemimpinan politik ini, kesalahan sepenuhnya tidak bisa dialamatkan hanya kepada para wakil rakyatnya yang duduk di DPR saja, tapi juga ada kontribusi masyarakat di dalamnya karena masyarakatlah yang memilih mereka. 

Dalam hubungannya dengan ini, suatu pernyataan menarik dari Ibn Qayyim al-Jauziyah patut untuk direnungkan, yaitu bahwa 
prilaku rakyat seakan-akan merupakan cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka

Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zalim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zalim
Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkan hikmah Allah SWT, seorang penguasa atau pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. 

Oleh karena itu, untuk mengubah keadaan suatu kepemimpinan yang buruk agar menjadi baik, maka hendaklah setiap indvidu mau mengoreksi dan mengubah dirinya sendiri terlebih dahulu, kalau masyarakat sudah mampu mengubah sikap dan prilaku politik mereka, maka dengan sendirinya pemimpin yang baik akan lahir dari masyarakat itu. 

Sebaliknya selagi tabiat masyarakat itu buruk, maka pemimpin yang muncul adalah pemimpin yang bertabiat buruk pula. Pesan inilah yang bisa ditangkap dalam firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS Ar Ra’du: 11). 

Dalam kaitannya dengan ini, satu hal yang harus diubah oleh masyarakat adalah sikap mereka dalam memilih pemimpin. 

Sudah bukan merupakan rahasia lagi bahwa pemilihan umum sangat sulit bisa dilepaskan dari praktik politik uang (money politic) yang dilakukan oleh sebagian besar para caleg. 

Bentuknya bisa bermacam-macam ada yang langsung membagi-bagikan uang, atau bisa juga berupa barang yang diberikan secara gratis kepada masyarakat. 

Bila masyarakat betul-betul menginginkan para wakil mereka yang akan duduk di lembaga legislatif merupakan orang-orang yang berkualitas dan profesional, maka aspek materi jangan dijadikan tolok ukur satu-satunya dalam menentukan pilihan. 

Pertimbangkan juga aspek kepribadiannya dan sejauhmana kemampuannya untuk mengemban amanah dan tanggung jawabnya sebagai wakil rakyat. 

Jikalau tidak demikian, maka wakil rakyat yang betul-betul memperjuangakan kepentingan masyarakat banyak akan sulit didapat. Konsekuensinya wajah DPR akan selamanya suram dan ”memprihatinkan” hanya orang-orangnya saja yang berganti sementara prilaku-prilaku politiknya tetap sama.

Jika prilaku politik masyarakat itu tidak juga bisa berubah, hanya ada satu cara lagi yang bisa dilakukan, yaitu dengan selalu memanjatkan doa kepada Allah secara berjamaah. Karena doa untuk kebaikan para pemimpin merupakan sebab mereka menjadi baik sehingga kita juga akan ikut baik. 

Ingatlah pula bahwa doa seseorang kepada saudaranya dalam keadaan saudaranya tidak mengetahuinya adalah salah satu doa yang terkabulkan. 
“Doa seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang memiliki tugas mengaminkan doanya kepada saudarany). Ketika dia berdoa kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata: Amin, engkau akan mendapatkan yang sama dengannya.” (HR. Muslim No 2733)
Sampai di sini, pemimpin yang baik akan muncul apabila melalui proses pemilihan yang baik pula. Bila kita ingin mendapatkan pemimpin yang baik, maka terlebih dahulu kita harus mengubah sikap dan prilaku politik kita yang cenderung menentukan pilihan atas dasar pertimbangan materi semata-mata. Karena potret pemimpin pada hakikatnya merupakan gambaran dari keadaan masyarakatnya. Jangan sampai karena hujan sehari, kita menderita kemarau selama lima tahun.
sumber : riaupos.co | Amrizal | Ketua Nahdlatul Ulama dan dosen STAI Bengkalis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Akhlak (18) Bibel (6) Dakwah (38) Hak Azazi Manusia (13) Islam (23) Jihad (17) Kristen (19) Liberalisme (46) Mualaf (9) Muslimah (15) Natal (2) Orientalis (8) Peradaban (42) Poligami (9) Politik (29) Ramadhan (10) Rasulullah (22) Ridha (4) Sejarah (38) Tasawuf (24) Tauhid (16) Tawakal (3) Teroris (12) Trinitas (8) Yahudi (36) Yesus Kristus (34) Zuhud (8)