Legenda Seringkali Menggantikan Fakta



Semua penjelasan tentang asal-usul Hari Kasih Sayang menunjuk pada kisah seorang pendeta bernama St. Valentine. Informasi tentang pendeta ini sangat minim dan baru ditulis pada masa yang jauh belakangan.

Dikatakan bahwa St. Valentine mati dieksekusi atas perintah Kaisar Romawi, Claudius II (w. 270), pada tahun 269 atau 270. Temuan arkeologis di sebuah katakombe kota Roma berupa sebuah gereja kuno dan makam Valentine menunjukkan bahwa tokoh ini benar-benar ada. Bagaimanapun, saat berbicara lebih detail tentang sosok ini, sebagaimana disebutkan oleh history.com, ‘legenda seringkali menggantikan fakta’.

Sejak akhir abad ke-5, St. Valentine ditetapkan oleh Paus Gelasius (w. 496) sebagai orang suci, seorang santo. Tanggal kematiannya menjadi sesuatu yang diperingati sejak hari itu. Sebagai seorang santo, ia menjadi tempat memohon bagi orang-orang yang saling menyintai, yang sedang bertunangan, dan yang mengharapkan pernikahan bahagia. Selain itu, mukjizatnya juga diharapkan oleh beberapa pihak lainnya seperti para pemelihara lebah, para pelancong, dan orang-orang yang terkena epilepsi. Pengaitan St. Valentine dengan cinta ada hubungannya dengan kisah legendaris sang pendeta, dan mungkin juga dengan tradisi pra-Kristen, yang akan diceritakan di bawah nanti.

Sebuah situs Katholik (catholic.org) menyebutkan bahwa ‘asal-usul St. Valentine, dan ada berapa St. Valentine sebenarnya, tetap menjadi sebuah misteri. Masih menurut situs yang sama, kisah tertulis tentang St. Valentine baru muncul dua belas abad sejak kematian tokoh itu, yaitu pada akhir abad ke-15. Kisah itu disebutkan dalam Nuremberg Chronicle yang terbit pada tahun 1493. Dikisahkan bahwa sang pendeta ditangkap dan dihukum mati karena ketahuan telah menikahkan sepasang muda-mudi dan karena menolong orang-orang Kristen yang dianiaya pada masa pemerintahan Claudius. Ketika itu pemuda yang belum menikah dianggap sebagai sumber daya yang ideal untuk militer Roma dan menikahkan mereka merupakan sebuah kejahatan. Valentine dihukum mati pada tanggal 14 Februari

Ada beberapa kisah populer lainnya terkait St. Valentine, seperti ‘mukjizat’ penyembuhan yang dilakukannya pada puteri petugas penjara yang buta. Begitu pula surat yang diberikannya untuk gadis itu pada malam sebelum kematiannya dan berisi kata penutup yang terkenal, “Your Valentine”. Semua cerita ini lebih bersifat legenda daripada fakta sejarah. 

Kisah pernikahan yang dilakukan St. Valentine, kalaupun bisa diterima, lebih merupakan upaya menolong manusia di jalan agama ketimbang mengusung romantisisme. Seorang pendeta, Shayne Looper, menulis tentang hal ini di dalam thedailyreporter.com. “Sungguh ironis bahwa St Valentine, yang pernah memerintahkan seorang hakim Romawi untuk menghancurkan dewa pagan-nya, kini hampir disamakan dengan versi kewanita-wanitaan dari dewa Romawi Cupid!” tulis pendeta itu. Tapi penyamaan Valentine’s Day dengan tradisi pagan bukannya tanpa dasar sama sekali. Walaupun tidak disepakati, beberapa penulis dan peneliti menyebutkan bahwa Valentine’s Day hanyalah sebuah bentuk Kristen dari tradisi para penyembah berhala sejak beberapa abad sebelumnya. 

Kelanjutan Lupercalia? 

Pada masa Romawi Kuno, bahkan mungkin sejak masa sebelumya, masyarakat Romawi merayakan festival Lupercalia. Perayaan inimemiliki beberapa tujuan, antara lain untuk memohon kesuburan. Festival yang ditujukan untuk memuja dewa Lupercus atau Faunus ini diadakan pada tanggal 13 hingga 15 Februari. Pada salah satu bagian festival, pendeta pagan akan berkeliling dengan membawa sabuk dari kulit kambing yang telah dikorbankan. Ia akan memecut tangan gadis-gadis dan perempuan yang ada di tepi jalan yang dilaluinya dengan sabuk tadi. Wanita-wanita itu menerima pecutan tersebut karena mereka percaya hal itu akan memberikan kesuburan bagi mereka atau meringankan rasa sakit saat melahirkan. 

Selama festival ini, orang-orang berpesta, bernyanyi, dan berdansa. Nama-nama perempuan yang belum menikah diletakkan di dalam sebuah mangkuk, kemudian kaum lelaki mengambil satu nama secara acak dari dalam mangkuk. Nama yang didapat oleh lelaki itu dianggap sebagai kekasihnya. Pada masa itu, pertengahan Februari juga dianggap sebagai masa yang ideal untuk bercinta (menikah), bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi hewan-hewan. 

Percintaan, kesuburan, pasangan muda-mudi, serta waktu yang bertepatan dengan pertengahan Februari menjadi tema-tema menonjol yang menghubungkan Valentine’s Day dengan Lupercalia. Menariknya lagi, upaya penghapusan tradisi Lupercalia dan penetapan St. Valentine sebagai seorang martir terjadi pada abad yang sama, yaitu abad ke-5, dan oleh tokoh agama yang sama: Paus Gelasius. 

Will Durant dalam The Story of Civilization, Vol. IV, menyebutkan bahwa Lupercalia dan banyak tradisi pagan lainnya dikonversi oleh Gereja menjadi tradisi Kristen. Dewa-dewa pagan diganti dengan orang-orang suci Kristen. “Altar-altar pagan didedikasikan semula untuk pahlawan-pahlawan Kristen,” tulisnya. Hanya saja menurut Durant, Lupercalia diganti oleh Gereja menjadi pesta kelahiran Yesus dan Maria (feast of Nativity), bukan menjadi Valentine’s Day. 

Terlepas dari itu, beberapa karakteristik yang mirip membuat beberapa penulis mempercayai adanya kaitan kuat antara Valentine’s Day dan Lupercalia. Kemiripan ini seperti yang secara tidak langsung dilukiskan oleh Durant sendiri saat menggambarkan pandangan populer tentang Valentine’s Day di Inggris. Orang-orang mempercayai bahwa Valentine’s Day menandai hari yang bahagia saat “burung-burung … berpasang-pasangan dengan sungguh-sungguh di hutan, dan anak-anak muda meletakkan bunga-bunga di ambang jendela gadis-gadis yang mereka cintai.” 

Valentine’s Day dalam banyak hal mengingatkan kita pada tradisi Lupercalia yang dirayakan oleh masyarakat pagan Romawi.

Apapun hal yang sebenarnya melatarbelakangi Valentine’s Day, ia kini telah berkembang menjadi sesuatu yang populer. Kebiasaan mengirimkan kartu ucapan mungkin baru muncul secara terbatas setelah abad ke-14 atau ke-15. Namun seiring dengan makin populernya Valentine’s Day, kartu ucapan Hari Kasih Sayang mulai diproduksi secara besar-besaran pada pertengahan abad ke-19. Sejak saat itu, Valentine’s Day menjadi sebuah bisnis yang sangat menguntungkan. Sebagaimana dikutipoleh Wikipedia dari Asosiasi Kartu Ucapan di Amerika Serikat, jumlah kartu Valentine yang beredar setiap tahunnya bisa mencapai 1 miliar kartu, hanya di Amerika Serikat saja! 

Sebagaimana umum diketahui, sekarang ini ada banyak hal lainnya yang diperdagangkan pada saat Valentine’s Day: coklat, bunga, dan banyak barang lainnya yang bisa diberi warna merah jambu atau dikaitkan dengan cinta. Valentine’s Day pada hari ini merupakan sesuatu yang memiliki nilai bisnis tinggi, yang berjalan beriringan dengan menguatnya budaya konsumerisme masyarakat. 

Lee Williams dalam sebuah tulisannya tentang Valentine’s Day di independent.co.uk tahun 2013 lalu menulis: 
On Valentine’s Day millions of people will buy cards and flowers for their loved one – some with more serious intent than others. All of us who do, however, will be feeding the giant corporate monster that has somehow emerged from the saint’s day of a Christian martyr who wasn’t associated with romantic love in his time …. 
Ya, secara sadar atau tidak, orang-orang yang membeli produk-produk Valentine’s Day telah ikut memperkaya korporasi-korporasi kapitalis. Dan sementara perusahaan-perusahaan itu mendapatkan keuntungan besar setiap tahunnya, banyak orang yang tidak mendapatkan manfaat apa pun dari aktifitas ini selain meningkatnya syahwat pada diri mereka. 14 Februari seperti memberi sebuah legitimasi bagi orang-orang untuk berhubungan lebih bebas dengan pasangan-pasangan mereka, atas nama ‘cinta’. Pada hari itu mereka berpesta, berdansa, minum-minuman keras, dan bersenang-senang. Mereka jatuh dalam tragedi kemaksiatan dan banyak dari mereka yang tenggelam dalam dosa, termasuk dosa besar. 

Kesedihan terbesar kita adalah saat menyaksikan bahwa masih ada anak-anak muda Muslim yang ikut merayakan Valentine’s Day. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, Valentine’s Day sekarang ini merupakan bagian dari budaya kapitalistik yang permisif (serba boleh). Budaya ini bersumber dari tradisi Kristen, bahkan mungkin juga dari tradisi pagan. Tidak ada satu pun dari semua itu yang memiliki kaitan dengan Islam. Lantas dari jalan mana kaum Muslimin hendak ikut-ikutan mengucapkan selamat dan merayakan Valentine’s Day?

*/Kuala Lumpur, 14 Rabiul Akhir 1435/ 14 Februari 2014 
Penulis adalah penulis buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib” kolumnis hidayatullah.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Akhlak (18) Bibel (6) Dakwah (38) Hak Azazi Manusia (13) Islam (23) Jihad (17) Kristen (19) Liberalisme (46) Mualaf (9) Muslimah (15) Natal (2) Orientalis (8) Peradaban (42) Poligami (9) Politik (29) Ramadhan (10) Rasulullah (22) Ridha (4) Sejarah (38) Tasawuf (24) Tauhid (16) Tawakal (3) Teroris (12) Trinitas (8) Yahudi (36) Yesus Kristus (34) Zuhud (8)