Bertasawuf Adalah Kemampuan Untuk “bertindak yang mencerahkan”


Ridha adalah buah dari pohon mahabbah, pohon cinta. Artinya, ridha tak akan ada bila tidak didahului oleh rasa cinta. Orang yang mencintai kekasihnya, ia akan rela melakukan dan memenuhi apa yang diminta oleh sang kekasih. Tetapi, ridha bukanlah hasil dari cinta buta. Ia adalah hasil dari suatu prestasi spiritual!

Orang yang ridha telah menapaki jalan objektif rasional. Ia tidak berangkat dari tataran subjektif, semata-mata terhanyut oleh perasaannya. Ya, menapaki kehidupan tasawuf memang harus sehat pikirannya. Tak ada dualisme dalam menapaki tasawuf. Jangan dibuat dikotomi antara kehidupan dunia dan tasawuf. Kita sekarang ini memang hidup di dunia. Dengan semua komponen intelegensi [IQ, EQ dan SQ] kita menapaki kehidupan yang objektif dan rasional. Keyakinan yang kita bangun pun berasal dari keyakinan yang objektif rasional, yaitu diawali dengan keyakinan berdasarkan ilmu, ilmu l-yaqin. Lalu, ditingkatkan ke ‘ainu l-yaqin, dan selanjutnya ke haqqu l-yaqin. Jadi, pendekatan yang dilakukan dalam kehidupan beragama, khususnya tasawuf, harus dimulai dari tahu dulu, dan bukan yakin dulu!

Memang, sudah menjadi pendapat umum bahwa dalam kehidupan beragama orang harus yakin dulu. Inilah pendapat yang salah kaprah! Bahkan ada yang menganalogkan dengan naik kapal atau pesawat terbang; yang penting yakin selamat dulu, dan bukan cari tahu kapal atau pesawat itu akan selamat atau tidak. Ini adalah analog yang sama sekali tidak benar. Sadar atau tidak, sebenarnya calon penumpang itu sudah menyimpul-kan bahwa kapal yang akan ditumpanginya itu aman. Darimana kesimpulan itu datang? Tentu saja dari keberadaan kapal yang akan ditumpanginya itu. Coba Anda pikirkan, bagamaina sekiranya lebih banyak pesawat yang jatuh daripada yang selamat hingga di tujuan. Tentu lebih banyak orang yang takut naik pesawat daripada yang berani. Hal ini lain dengan hidup beragama. Hampir semua orang tidak tahu [dengan pasti] apa yang sesungguhnya terjadi di balik kematian.

Nah, hidup ini ternyata menyongsong suatu misteri. Orang hidup ini [hampir semuanya] antri memasuki dunia yang tidak diketahuinya, dunia yang masih gelap! Jika orang beragama itu yakin akan masuk surga [menurut keyakinan agamanya], terus terang itu hasil dari keyakinan buta. Lho, hidup beragama kan mengikuti nabi dan rasul [yang membawa agama], bagaimana mungkin dikatakan mengikuti keyakinan buta? Nah, nah, di sini yang perlu diluruskan! Ketika nabi, rasul atau utusan Tuhan itu masih hidup, maka benarlah pernyataan “mengikuti nabi”. Tetapi setelah nabi atau rasulnya tidak lagi di tengah-tengah umatnya, maka pemeluk suatu agama sebenarnya mengikuti “katanya”. Agar tidak masuk dalam kategori “katanya”, maka kita dituntut untuk mempelajari ajaran yang dibawa nabi itu secara objektif rasional. Untuk menjadi pengikut seorang nabi, tidak cukup hanya yakin, tetapi harus menelaah, merenungkan, dan mencoba memahami makna yang terkandung di dalam ayat-ayat kitab sucinya. Dan, ini baru tahap ilmu l-yaqin, suatu keyakinan berdasarkan pengetahuan.

Pengetahuan agama yang diperolehnya itu digunakan sebagai landasan beramal. Baik amalan itu untuk dirinya dan keluarganya, maupun untuk orang lain. Tentu saja amalan itu harus bermanfaat kepada lingkungan hidupnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Amalan yang demikianlah yang disebut “amal saleh”. Kebiasaan beramal saleh ini akan membawa manusia kepada tahap ‘ainu l-yaqin. Ditopang dengan sikap sabar dan zuhud, insya Allah kita bisa memasuki dunia yang terang, bukan dunia yang gelap lagi. Dunia yang dimasuki ini tidak misteri lagi, sudah terbuka selubungnya. Keyakinan pada tahap ini adalah haqqu l-yaqin.

Ketika seseorang sudah mencapai keyakinan yang haq, maka runtuhlah tembok penyekat diri dan Tuhannya. Iri dan dengki telah terkelupas dari hatinya. Baku hantam karena berebut kebenaran tidak ada lagi. Bukan karena dibuat-buat, tetapi memang sudah kasyaf. Hakikat objek-objek di sekeliling kita telah tersingkap! Pohon cinta, atau sajaratul mahabbah, tumbuh dengan suburnya. Dari pohon cinta inilah lahir “ridha”! Orang rela untuk memenuhi permintaan Sang Kekasih, karena dia yakin dengan haq bahwa Kekasihnya itu tidak membawa ke alam derita atau alam neraka.

Sebaliknya, jika kita masih berebut kebenaran, berebut “agamaku” yang benar dan bukan “agamamu” yang benar, berarti kita masih di tahap keyakinan buta. Wujud dari keyakinan buta adalah menganggap praktik keagamaannya yang paling benar. Orang semacam ini, paling tinggi masih berada di tahap keyakinan berdasarkan ilmu atau katanya. Pada tahap ini agama tidak dijadikan pegangan hidup, tetapi hanya sebagai identitas. Pada tahap ini orang menjalankan salat, puasa, zakat dan haji hanya untuk membangun identitas diri. Yang dalam bahasa sehari-hari disebut menjalankan kewajiban agama. Dengan telah memenuhi kewajibannya itu, biasanya dia yakin akan masuk surga. Karena dia telah merasa menjadi kekasih Tuhan! Dan terus terang, di milis-milis agama sekarang ini, kita masih berkutat pada klaim-klaim kebenaran agama. Kita tak mempedulikan lagi apakah praktik keagamaan kita ini sudah bisa mengantarkan ke tingkat haqqu l-yaqin atau belum.

Marilah kita menelaah dua butir ayat di bawah ini, agar kita tidak mudah saling klaim terhadap kebenaran agama.
2:94 Katakanlah [Muhammad], “Jika tempat tinggal di akhirat, di sisi Allah itu, khusus buat kalian dan bukan buat orang lain, maka carilah kematian bila kalian orang yang benar.”
62:6 Katakanlah: “Hai orang-orang Yahudi, jika kamu mengira bahwa kamu kekasih Allah, dan bukan orang lain, maka carilah kematian bila kamu adalah orang-orang yang benar.”
Kedua ayat tersebut ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang tinggal di Jazirah Arab, di Madinah khususnya. Dan, ini tidak berarti hanya buat orang Yahudi. Ayat ini hakikatnya ditujukan kepada seluruh manusia yang bersikap seperti Yahudi tersebut. Nabi diperintah Tuhan untuk menyampaikan bantahan kepada mereka. Pada waktu itu, orang-orang Yahudi mengklaim bahwa merekalah manusia-manusia yang benar, yang menjadi kekasih Allah. Sehingga mereka mengklaim sebagai manusia yang paling layak menghuni surga. Bagaimana dengan orang lain? Mereka menganggap orang lain itu berada di jalan yang salah, dan bukan kekasih Tuhan.

Bantahan apa yang perlu disampaikan oleh Nabi Muhammad? Bantahannya: jika memang hidupnya benar di dunia ini, ya cari saja kematian. Buat apa hidup di dunia yang penuh derita ini jika sudah pasti masuk surga di akhirat nanti. Kan lebih baik buru-buru ke sana, buat apa menunggu ajal menjemput? Tapi nyatanya mereka tidak berani mati segera. Mengapa tidak berani mati? Ya, karena kebenaran yang diakui itu hanya sebatas “katanya”. Coba kalau kita tahu bahwa kalau kita mati pasti masuk surga, wah kita mungkin tak perlu nunggu hari esok untuk mati. Coba kalau kita tahu dengan pasti ada juru selamat bagi kita yang menyelamatkan kita di balik kematian, tentu kita lomba cepat-cepatan untuk dapat mati.

Makanya, dalam kehidupan beragama ini kita dididik dan dilatih untuk dapat meningkatkan kemampuan spiritual kita. Untuk apa? Agar kita bisa lolos dari kegelapan di dunia yang akan datang. Ibadah tidak lagi dilakukan untuk membangun identitas. Justru ibadah dilakukan untuk berlatih, riyadhah, untuk meningkatkan kecerdasan kita [IQ, EQ dan SQ]. Untuk apa kecerdasan perlu ditingkatkan? Ya, untuk memecahkan persoalan hidup, baik hidup di dunia sekarang ini maupun dalam kehidupan nanti! Kita tidak boleh spekulasi. Ingat, spekulasi itu ‘gambling’, judi, jauh dari kebenaran. Tanpa berbekal kecerdasan kita tak akan mampu menjawab teka-teki kehidupan ini.

Dalam kehidupan tasawuf, kita tidak dididik untuk menghafal teori “wajib, sunat, haram, makruh dan mubah”. Salat dilakukan bukan untuk membebaskan dari kewajiban dan juga bukan untuk membebaskan diri dari dosa. Salat dilakukan seperti yang dinyata-kan dalam Surat Thaha/20:14, “Dirikanlah salat untuk berzikir kepada-Ku”. Jadi, jelas sekali bahwa salat itu merupakan pelatihan diri untuk berzikir kepada Tuhan. Kembali pada pelajaran sebelumnya, berzikir itu untuk meningkatkan?baik kualitas maupun kuantitas?energi kita. Dan, salah satu bentuk energi adalah kecerdasan. Juga ditegaskan dalam Surat Al-Ankabut/29:45, “...dan dirikanlah salat, sesungguhnya salat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. Sungguh berzikir kepada Allah itu paling besar nilainya. Dan Allah mengetahui apa saja yang kamu lakukan.” Jadi, jelaslah bahwa sasaran salat: pertama, untuk berzikir kepada Tuhan; kedua, untuk mencegah perbuatan keji dan munkar. Artinya apa? Salat kita efektif bila ada buahnya!

Karena itu, dalam hidup bertasawuf, bukan pencerahan yang kita harapkan, tetapi kemampuan kita untuk “bertindak yang mencerahkan”. Ya, tindakan yang membuat kita cerah dalam hidup ini, dan juga orang lain menjadi cerah karena perbuatan dan tindakan kita. Kalau tak ada lagi kekejian dan kemungkaran yang kita lakukan, tentu saja sisi positifnya yang akan muncul, yaitu amal saleh dan syukur.

Di atas telah disebutkan bahwa kecerdasan diperlukan dalam hidup sekarang ini dan nanti, dunia dan akhirat. Dengan kecerdasannya manusia mampu mempelajari dan memahami realita alam raya ini. Dengan kecerdasannya manusia dapat memahami cara-cara dunia ini bekerja, mekanisme alam ini bekerja. Jika kita tidak dapat memahami di alam sekarang ini, maka jangan berharap bisa memahami cara kerjanya alam di hari nanti. Marilah kita simak ayat-ayat berikut ini.
17:72 Wa man kana fi hadzihi a‘ma fa huwa fi l-akhirati a‘ma wa adhallu sabila.

[Barangsiapa buta batinnya di dunia ini, niscaya di akhirat lebih buta lagi, dan bahkan jalan yang ditempuhnya lebih sesat]
30:07 Mereka itu hanya mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia ini, tetapi mereka lalai tentang kehidupan akhirat.
Manusia terdiri dari unsur lahiri dan batini. Pancaindra adalah komponen lahiri bagi manusia untuk menangkap kesan-kesan objek di sekitarnya. Tetapi, apa yang dapat ditangkap oleh pancaindra tak akan mempunyai arti apa-apa bila tidak dipahami oleh komponen batini [hati, pikiran, dan lubuk hati] manusia. Bagi anak kecil yang umurnya di bawah dua tahun, tak akan mengerti bahayanya menyeberangi jalan raya, meskipun dia tahu di jalan banyak mobil lalu-lalang. Orang yang tidak memahami akibat berbuat keji dan munkar, seperti berbuat zalim, menyakiti orang lain, membuat orang lain hidup menderita, akan seenaknya bertindak dalam kehidupan ini.

Jika sekarang orang itu sudah buta batinnya, maka di alam akhirat akan lebih buta lagi. Jika sekarang sudah bertindak bodoh dalam kehidupan ini, maka di akhirat akan lebih bodoh lagi jadinya. Ia tidak tahu lagi jalan mana yang harus ditempuh. Salat, haji, puasa dan zakat tak ada artinya bila kekejian dan kemunkaran menjadi kebiasaannya. Dunia dan akhirat adalah garis kontinum. Dunia dan akhirat bukan dua hal yang terpisah. Tak ada dikotomi, yang ini buat kehidupan di dunia dan yang ini buat yang di akhirat. Dikotomi ini yang membuat orang hidup dengan kepribadian terbelah. Di satu sisi rajin ke rumah ibadah, tetapi di sisi lain turut berkiprah dalam kemunkaran. Lalu ditimbang sendiri bahwa ibadahnya lebih banyak daripada kemunkarannya. Ini namanya spekulasi! Bukan tahu, tapi cuma prasangka.

Coba kita perhatikan kehidupan umat Islam di dunia sekarang ini. Kemiskinan merajalela di mana-mana, tetapi orang pergi haji semakin tahun menyebabkan Padang Arafah semakin tak mampu menampung. Jurang antara si kaya dan si miskin di dunia Islam semakin lebar. Kebekuan atau kejumudan dalam berpikir melanda umat Islam. Anarkisme banyak terjadi di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Negara-negara Islam hanya menjadi objek konsumerisme negara-negara maju. Mengapa hal ini terjadi? Karena umat Islam lalai tentang kehidupan akhiratnya! Umat Islam lalai terhadap masa depannya. Umat Islam hanya terpaku pada kehidupan formal lahiriah. Syariat agama hanya dipahami secara mentah.

Umat telah kehilangan pijakan. Kehidupan akhirat dipisahkan dari kehidupan dunia. Kehidupan batiniah dipisahkan dari kehidupan lahiriah. Seakan-akan dunia dan akhirat merupakan dua jalan yang berbeda. Dunia fisik dan dunia spiritual dipandang terpisah. Masing-masing didekati dengan cara yang berbeda. Akhirnya lahirlah sosok-sosok dengan kepribadian yang terbelah. Dan, runtuhnya peradaban Islam disebabkan oleh dikotomi-dikotomi. Seolah-olah ada ilmu akhirat yang sifatnya ‘fardhu ain’, dan ada ilmu dunia yang sifatnya ‘fardhu kifayah’. Sehingga jika ada orang yang belajar ilmu listrik atau pertanian dipandang remeh bila dibandingkan belajar Al Quran dan Hadis. Sungguh berbahaya cara pandang demikian!

Jika kita masih terjebak dikotomi dunia dan akhirat, maka jangan harap kita bisa meraih maqam ridha. Bukankah kita ini adalah khalifah di bumi? Bagaimana mungkin kita cuma menghargai ilmu-ilmu untuk hidup di bumi ini sebagai kewajiban kifayah, atau kewajiban yang bisa ditinggalkan bila sudah ada seseorang yang mengerjakannya? Lha bagaimana kalau orang yang mengerjakan itu bodoh? Apa tidak babak-belur kehidupan umat? Sedangkan ilmu-ilmu agama dihargai sebagai fardhu ain, yaitu yang harus dilakukan oleh setiap orang. Seolah-olah dengan belajar ilmu agama terus kita bisa masuk surga! Dan dengan gampangnya ilmu-ilmu kealaman dinyatakan bukan ilmu agama. Inilah dikotomi!

Jika kita mau menyimak Surat At-Taubah/9:122, maka tahulah kita bahwa orang-orang mukmin diseru untuk memperdalam pengetahuan agama. Tetapi ternyata yang dimaksud dengan pengetahuan agama pada masa itu berbeda dengan yang dipahami sekarang ini. Pengetahuan agama, ketika Al Quran masih diturunkan kepada Nabi, dimaksudkan untuk menjaga diri dalam kehidupan ini. Sekali lagi, untuk menjaga diri! Menjaga diri di mana? Di bumi ini untuk memenuhi peranannya sebagai khalifah, wakil Tuhan di bumi ini.

Manusia harus memperdalam ilmu sesuai dengan bakatnya. Kemudian diintegrasi-kan dalam kehidupan agamanya. Sehingga kehidupan masyarakat terjaga! Inilah pesan ayat tersebut. Karena itu ketika perang berkecamuk hebat, setiap golongan masyarakat [firqah] diperintah untuk mengirimkan serombongan warganya guna menuntut ilmu agama. Ilmu yang bisa difungsikan untuk menjaga kehidupan masyarakat.

Memang jenis ilmu pada waktu itu sangat terbatas, cuma berupa ketrampilan menunggang kuda, memanah, berenang, dan menyulam [bagi perempuan]. Sedangkan ilmu humaniora baru berupa pemahaman hukum-hukum agama untuk kehidupan bersama. Nah, Al Quran sebenarnya adalah pelita. Ia pelita bagi orang yang mencari ilmu.

Sejak awal pelajaran tasawuf ini telah saya jelaskan bahwa Al Quran adalah peta bagi perjalanan hidup. Ia merupakan lampu dalam perjalanan hidup. Peta atau lampu tak ada gunanya jika kita tidak membacanya dengan seksama. Meskipun petanya jelas, lampunya terang, tetap tidak ada gunanya jika kita sendiri tidak mau menempuh per-jalanan. Lihatlah kembali dalil “inna li l-lahi wa inna ilaihi raji-‘un”, sesungguhnya kita ini berasal dari [atau, kepunyaan] Allah, dan sesungguhnya kita ini kembali kepada-Nya. Lha, kalau kita tidak mau ambil pusing dengan khitah kita dulu, kita tidak mau melakukan perjalanan, ya apa kita bisa sampai yang dituju?

Lalu, apa hubungannya kita mencari ilmu dengan ridha? Ilmu adalah cahaya bagi kita untuk berbuat atau bertindak. Ilmu adalah petunjuk pelaksanaan [juklak] bagi kita untuk bekerja yang benar dalam hidup ini. Supaya kita tidak bekerja secara ngawur atau sembarangan. Jika kita ngawur dalam menjalankan pekerjaan, tidak akan membuahkan hasil [seperti yang diharapkan]. Atau, kalau toh ada hasilnya, amat jauh dari memadai. Karena itu kita mencari ilmu! Dan, itu harus terintegrasikan dalam kehidupan beragama seperti yang dipesankan pada ayat 9:122.

Dengan demikian, ilmu merupakan cahaya bagi kita dalam menjalani kehidupan bertasawuf yang benar. Dengan ilmu itu kita dapat bersabar, berzuhud yang didalamnya terkandung iman, hijrah dan jihad. Bila yang kita lakukan itu benar maka kita akan sampai pada puncak keyakinan yaitu haqqu l-yaqin. Tak ada lagi keraguan! Tidak syak lagi terhadap permintaan Sang Kekasih. Kita rela, ridha. Pada saat kita ridha itu cahaya kesadaran memancar di dalam diri kita. Ya, kita menjadi sadar bahwa kita sebenarnya berdiri dan bergerak di hadapan Ilahi.

Untuk itu, marilah kita simak ayat penutup pelajaran hari ini. Yaitu Surat Fathir, ayat 27 ? 28. Ayat ini biasanya dipenggal ujungnya, sehingga berbunyi “yang paling takut di antara hamba-Nya adalah ulama”. Kenyataannya sangat banyak ulama yang tidak takut, alias tidak menyadari Tuhannya. Bagaimana bisa disebut takut, bila mereka tetap berkolaborasi dengan kekuasaan demi kesejahteraan hidup mereka sendiri?
35:27 Apakah engkau tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu dengan air itu Kami tumbuhkan buah-buahan yang beraneka macam warnanya. Dan, di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka warna. Dan, ada yang sangat hitam.
35:28 Demikian pula yang terjadi pada manusia, hewan melata, dan binatang ternak, beraneka macam warna dan bentuknya. Sesungguhnya yang betul-betul sadar [takut] terhadap Allah di antara hamba-Nya adalah para orang yang berilmu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa dan Maha Melindungi.
Perhatikan ayat-ayat tersebut dengan seksama. Manusia dituntut untuk memahami tanda-tanda dan gejala-gejala di alam. Untuk apa? Agar kita mengetahui dengan pasti bagaimana alam itu bekerja. Sehingga kita tidak ngawur dalam bertindak. Sehingga kecintaan kita pada Sang Kekasih berbuah ridha. Nah, ujung ayat itu memberi tahu bagi pencari ilmu, pencari kebenaran, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang yang sadar terhadap keberadaan Allah. Yang sadar terhadap Allah itu bukan para “ulama” yang kita kenal sekarang ini. Yang dimaksud ayat ini bukan “ulama” sebagai jabatan, tetapi orang-orang yang dikaruniai ilmu oleh Tuhan.

Artikel Terkait...!!!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Akhlak (18) Bibel (6) Dakwah (38) Hak Azazi Manusia (13) Islam (23) Jihad (17) Kristen (19) Liberalisme (46) Mualaf (9) Muslimah (15) Natal (1) Orientalis (8) Peradaban (42) Poligami (9) Politik (29) Ramadhan (10) Rasulullah (22) Ridha (4) Sejarah (38) Tasawuf (24) Tauhid (16) Tawakal (3) Teroris (11) Trinitas (8) Yahudi (35) Yesus Kristus (34) Zuhud (8)