Brutalisme Yahudi dan Kristen Terhadap Islam - 1



Kebencian dan sikap barbar kaum Yahudi terhadap manusia selain kaumnya, di dalam kitab suci mereka, memiliki landasan hukum dan ideologi. Maka, kita bisa mengerti mengapa helikopter-helikopter perang Israel menjatuhkan rudal-rudalnya ke desa-desa Palestina di kamp pengungsi Tal al-Zatar dan Jabaliya, sebelah utara Gaza, pada hari Rabu (4 Agt 2006). Sebulan sebelumnya, tank-tank dan pasukan infantri Israel itu menggempur kawasan sekitar Bait Hanoun (juga sebelah utara Gaza). Mereka tidak hanya menggempur tetapi juga merampas kebun-kebun dan tanah pertanian warga setempat, dengan alasan untuk dijadikan benteng perlindungan dari serangan para pejuang Palestina.

Sekitar Juli 2006, para Rabi Yahudi bahkan telah memfatwakan dibolehkannya membunuh kaum wanita dan bocah-bocah yang tak berdosa di Lebanon dan Palestina. Antara lain berisi pernyataan: “Orang yang masih menyimpan rasa kasihan terhadap bocah-bocah jalur Ghaza dan Lebanon secara tidak langsung telah bertindak kasar terhadap bocah-bocah Israel.” Menurut mereka, fatwa tersebut telah sesuai dengan ajaran Taurat.

Bahkan Yusrail Roozin seorang rabi ekstrem Yahudi, meminta bangsa Yahudi untuk membentuk sejumlah organisasi teroris yang misinya membunuhi rakyat Palestina. Ia meminta mereka untuk tidak perlu menunjukkan rasa belas kasihan terhadap warga Palestina, siapa pun ia. Pernyataan tersebut dilansir surat kabar El Ghad yang terbit di Yordania, akhir November 2006. Katanya lagi: “Membombardir sekumpulan orang yang memerangi kita merupakan pekerjaan seorang Yahudi penganut ajaran Ibrahim. Kita orang-orang berakhlak tetapi bukan selamanya berarti harus memiliki rasa belas kasihan dan welas asih terhadap Bait Hanun (sebuah kawasan di Palestina)...”

Sebelum tragedi Bait Hanun, telah lebih dulu terjadi tragedi pembantaian di Qana (Lebanon), 30 Juli 2006, berupa serangan bom zionis Israel yang menewaskan 28 warga sipil, termasuk 16 di antaranya anak-anak. Israel memborbardir Qana, meski kawasan sipil ini hanyalah sebuah kota kecil. Tragedi Qana termasuk pelanggaran hukum internasional, termasuk pelanggaran hukum kemanusiaan dan hak-hak asasi manusia internasional, yang dilakukan Israel. Sepuluh tahun lalu, 18 April 1996, Qana juga pernah mengalami hal serupa: rata dengan tanah, 106 rakyat sipil tewas, tubuh bocah tercabik-cabik oleh kebengisan Israel.

Tragedi Qana di Lebanon dan Bait Hanun di Palestina adalah ajang pembuktian tentara Israel yang taat menjalankan perintah agamanya. Mereka tidak sekedar berperang karena alasan politik dan ekonomi, tetapi karena ideologi. Maka tidak heran mereka begitu bernafsu menumpahkan darah ribuan warga Palestina, termasuk Syekh Ahmad Yasin dan Dr Abdul Aziz Ar-Rantisi dua tokoh Hamas pembela rakyat Palestina yang tertindas. Juga ratusan bocah-bocah Palestina di bawah usia 18 tahun, termasuk bayi yang masih menyusui seperti Aiman Jahwu.

Bagaimana sikap AS yang Kristen? - AS menunjukkan keberpihakannya pada kekejaman Zionis Israel dengan memveto draft Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengutuk serangan Israel yang menewaskan 18 warga sipil di Jalur Gaza. Resolusi yang diusulkan Qatar dan mendapat dukungan negara-negara Arab dan non-blok ini, intinya mengutuk operasi militer Israel di Gaza dan meminta Israel menarik seluruh pasukannya dari Gaza serta mengakhiri operasinya di tanah Palestina.

Selain AS, negeri kincir angin juga memberikan dukungan yang kongkrit kepada Israel, antara lain dalam penyerangan ke Libanon. Pemerintah Belanda, terutama kementerian luar negeri dan kementerian ekonomi diduga terlibat dalam mensuplai senjata dan peralatan perang kepada Israel secara diam-diam guna memperkuat serangan Israel terhadap negara Arab.

Mengapa AS (dan Barat pada umumnya) yang Kristen lebih dekat kepada Israel yang Yahudi, padahal Lebih dari separuh penduduk Palestina dan Libanon adalah Kristen?

Masalahnya, meski Kristen, bangsa Palestina dan Lebanon adalah Arab. Ini menunjukkan bahwa Kristen yang ter-Barat-kan, sedangkan Barat telah lebih dulu ter-Yahudi-kan, maka Kristen telah pula ter-Yahudi-kan. Kristen seperti inilah yang masuk ke Indonesia: menjajah, mengeruk kekayaan alam, membodohi rakyatnya.

Minoritas umat Islam di AS diperkirakan berjumlah sekitar 25 juta orang. Muslim pertama di AS adalah warga kulit hitam. Sebelum Perang Dunia Kedua (1 September 1939 – 2 September 1945), jumlah imigran muslim di AS amat sedikit. Usai perang, berdatanganlah imigran dari negara-negara Islam ke AS.

Masjid pertama AS dibangun pada dekade awal abad ke-20. Kini terdapat lebih dari 1300 masjid di berbagai kawasan AS yang umumnya memiliki bangunan besar, dilengkapi dengan berbagai fasilitas, dan aktif dalam melaksanakan berbagai kegiatan. Selain dari masjid, lebih dari 1000 sekolah dasar dan menengah di AS juga memberikan pengajaran nilai-nilai Islam dan Al-Quran. Selain itu, terdapat ratusan lembaga amal yang aktif memberikan pelayanan sosial, kesehatan, kekeluargaan, serta pengajaran umat Islam.

Organisasi Islam tertua di AS adalah Nation of Islam. Sejak tahun 1980 pemimpin kelompok ini adalah Louis Farakhan. Selain itu ada juga CAIR (The Council on American-Islamic Relations), yang didirikan pada tahun 1994. Tujuan utama lembaga ini adalah untuk menyampaikan segala hal yang berkaitan umat Islam AS kepada opini umum dan dunia Islam, serta melindungi hak-hak warga muslim di AS. Lembaga Islam lainnya yang aktif di AS adalah Organisasi Islam AS Utara yang didirikan pada dekade 1970-an oleh umat Islam asal Asia Selatan.

Secara politis posisi umat Islam di AS tidak menguntungkan, siapapun yang berkuasa, apakah dari Partai Republik atau Partai Demokrat. Memori umat Islam masih belum terhapus, AS di bawah Bush junior kerap melakukan aksi militer brutal. Misalnya pada awal Oktober 2006 di Iraq, pasukan pendudukan AS telah membuang bahan-bahan beracun dan kimia ke sungai Dajlah, sungai bersejarah di Iraq.

Sebelumnya, Agustus 2006, masih di Iraq, pasukan pendudukan Amerika menunjukkan arogansinya dengan melakukan tindakan biadab yang tidak berprikemanusiaan. Kamis 10 Agustus 2006, pasukan penjajah itu membunuh seorang wanita hamil dan menyebabkan suaminya mengalami luka yang cukup parah saat keduanya mau pergi menuju rumah sakit kota Ramadi untuk proses kelahiran sang isteri. Biadabnya lagi, pasukan AS juga melarang penduduk keluar rumah meski untuk menarik mayat wanita hamil tersebut atau pun mengangkut suaminya yang mengalami luka parah.

Tidak hanya pasukan AS yang brutal tetapi juga masyarakat sipilnya. Sebuah kasus brutal yang dilakukan warga sipil AS terhadap Muslimah terjadi di Gleenmore, Permount, California. Korbannya, Aliyah Anshari (37 tahun) yang sudah tinggal di Amerika sejak tahun 1985.

Masih dalam suasana Idul Fitri, Kamis 26 Oktober 2006, sekitar pukul 14.30, ba’da Zhuhur waktu setempat, Aliyah Anshari keluar dari rumahnya menuju ke sekolah dasar untuk menemani putrinya yang berusia 3 tahun pulang dari sekolah menuju ke rumah seperti biasanya. Saat berjalan di pinggir jalan raya, tiba-tiba seorang laki-laki warga Amerika turun dari mobilnya sembari mengeluarkan sepucuk pistol lalu menembakkannya ke arah kepala Aliyah sebanyak 6 kali. Biadab! Muslimah itu pun tewas seketika, sedangkan sang penembak melarikan diri.

Aliyah yang telah bersuami dan dikarunia enam orang anak, dikenal tetap konsisten mengenakan hijab dan istiqamah dalam menjalankan ajaran agama Islam. Karena itulah ia tidak disukai. Karena itu, mereka membunuhnya di hadapan putrinya yang baru berusia 3 tahun di negara yang mengklaim sebagai negara kebebasan wanita dan demokrasi ini. Pembantaian sadis terhadap Aliyah tidak menyurutkan Muslimah di sana untuk tetap istiqomah. Suzan Azhim salah seorang di antara teman Aliyah mengatakan,  “Andai para pelaku kriminal itu membunuh semua manusia di muka bumi ini, saya tidak akan meninggalkan hijab dan akan tetap berpegang pada aqidah Islam saya.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Akhlak (18) Bibel (6) Dakwah (38) Hak Azazi Manusia (13) Islam (23) Jihad (17) Kristen (19) Liberalisme (46) Mualaf (9) Muslimah (15) Natal (2) Orientalis (8) Peradaban (42) Poligami (9) Politik (29) Ramadhan (10) Rasulullah (22) Ridha (4) Sejarah (38) Tasawuf (24) Tauhid (16) Tawakal (3) Teroris (12) Trinitas (8) Yahudi (36) Yesus Kristus (34) Zuhud (8)