Yesus Kristus, Antara 'Tuhan Anak' dan 'Anak Tuhan' ( 1 )


Hubungan "Bapak-Anak" antara Tuhan dan Yesus Kristus adalah intisari agama Kristen. Marilah kita pertama-tama memahami makna sebagai anak secara harfiah. Apabila kita memusatkan perhatian pada makna (kaitan) sebagai anak secara harfiah kepada bapak secara harfiah, banyak hal yang mulai terungkap yang memaksa kita untuk memperbaiki pandangan kita tentang kedudukan Yesus sebagai "Anak Tuhan." Apakah yang dimaksud dengan seorang anak?

Ketika ilmu pengetahuan belum maju dan belum menemukan bagaimana seorang anak lahir, pertanyaan ini hanya dapat terjawab secara samar-samar. Orang-orang zaman dahulu berpikir, sangat mungkin bagi Tuhan untuk mendapatkan seorang anak melalui kelahiran manusia. Ini kepercayaan yang merata hampir di seluruh masyarakat pagan yang terdapat di berbagai tempat di dunia.

Mitologi Yunani dipenuhi oleh kisah-kisah semacam itu dan mitologi Hindu pun tidak jauh ketinggalan di belakang. Apa yang dinamakan sebagai dewa-dewa memiliki anak laki-laki dan anak perempuan sebanyak yang mereka sukai, pada kenyataannya tidak pernah ditantang secara sungguh-sungguh oleh akal sehat manusia.

Namun, sekarang ilmu pengetahuan telah berkembang sampai ke suatu jenjang di mana proses kelahiran manusia telah diuraikan dalam rincian mendalam yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Masalah ini telah menjadi sangat rumit dan bagi mereka yang masih mempercayai bahwa anak laki-laki dan anak-anak perempuan secara harfiah dapat lahir dari Tuhan, mereka menghadapi problem-problem sangat serius untuk dipecahkan serta menemui beberapa pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab.

Dasar Ilmiah Kedudukan Orang Tua

Pertama-tama dapat saya ingatkan kepada anda, bahwa ibu dan bapak terlibat secara seimbang dalam menghasilkan seorang anak. Sel-sel manusia mengandung 46 kromosom, yang membawa gen-gen atau plasma-plasma pembawa sifat kehidupan. Ovum (sel telur) seorang ibu memiliki hanya 23 kromosom. Itu adalah separuh dari jumlah 46 kromosom yang terdapat dalam diri setiap laki-laki dan perempuan.

Ketika ovum ibu siap dan sedia untuk pembuahan, separuh kromosom yang tidak dia miliki disediakan oleh sperma lakilaki, yang menyatu dan membuahinya. Demikianlah rancangan Tuhan; jika tidak, jumlah kromosom akan berlipat dua pada setiap generasi. Akibat pelipatan tersebut, generasi kedua akan memiliki 92 kromosom; sehingga manusia-manusia akan berubah menjadi raksasa-raksasa dan seluruh proses pertumbuhan akan kacau-balau.

Tuhan dengan sangat indah telah merencanakan dan merancang fenomena keberlangsungan hidup makhluk-makhluk, yakni pada tahapan-tahapan produktif dari sel-sel regenerasi, kromosom jumlahnya terbagi dua. Ovum ibu mengandung 23 kromosom dan demikian juga dengan sperma bapak.

Dalam kondisi demikian seseorang secara logika dapat memperkirakan bahwa separuh gen pembawa sifat pada anak disediakan oleh perempuan sedangkan separuhnya lagi oleh pasangan laki-lakinya. Inilah yang dimaksud dengan anak dalam makna sebenarnya. Di dalam kelahiran manusia tidak ada definisi lain yang dapat diterapkan tentang anak harfiah. Memang terdapat beberapa variasi dalam metode kelahiran, tetapi tidak ada pengecualian dalam ketentuan dan dasar-dasar yang baru saja dijelaskan.

Dalam kita memusatkan perhatian kepada kelahiran Yesus, marilah kita susun sebuah skenario mengenai apa yang tampaknya telah terjadi dalam kasus beliau. Kemungkinan pertama yang dapat diterima secara ilmiah adalah, sel telur Maryam yang belum dibuahi telah menyediakan 23 kromosom sebagai andil ibu dalam pembentukan embrio/janin. Jika demikian, pertanyaan akan timbul, bagaimana sel telur itu telah dibuahi dan dari mana datangnya ke-23 kromosom penting lainnya?

Tidak mungkin untuk mengatakan sel-sel Yesus hanya memiliki 23 kromosom. Tidak ada bayi manusia normal yang dapat lahir hidup-hidup walau hanya dengan 45 kromosom. Walaupun seandainya seorang manusia kekurangan 1 kromosom saja dari 46 yang mutlak diperlukan untuk pembentukan manusia normal, hasilnya akan kacau-balau.

Secara ilmiah, Maryam tidak dapat menyediakan ke-46 kromosom seorang diri; yang 23 harus datang dari pihak lain. Jika Tuhan adalah bapak beliau, maka hal itu akan menimbulkan beberapa kemungkinan.

Pertama, tentu Tuhan juga memiliki kromosom sama seperti yang dimiliki manusia, yang dalam kasus ini tampaknya telah dimasukkan dengan cara tertentu ke dalam rahim Maryam. Hal itu tidak dapat dipercaya dan tidak dapat diterima; jika Tuhan memiliki kromosom-kromosom manusia, berarti Dia bukan lagi Tuhan. Jadi, akibat mempercayai Yesus sebagai anak hakiki Tuhan, status Ketuhanan Sang Bapa pun terancam bahaya.

Kemungkinan kedua adalah, Tuhan telah menciptakan kromosom-kromosom tambahan sebagai suatu gejala penciptaan supernatural. Dengan kata lain, kromosomkromosom itu benar-benar bukan milik Tuhan secara pribadi tetapi telah diciptakan secara mukjizat. Hal ini dengan sendirinya membuat kita menolak hubungan Yesus dengan Tuhan sebagai seorang anak terhadap bapak, dan menyebabkan hal yang sama terhadap hubungan keterikatan antara alam semesta dengan Tuhan, yakni hubungan setiap makhluk ciptaan dengan Pencipta-nya.

Apakah Mungkin Ada Anak Hakiki Tuhan?

Maka jelaslah, anak hakiki Tuhan tidaklah mungkin ada, sebab seorang anak hakiki harus memiliki separuh kromosom yang berasal dari bapaknya dan separuh lagi dari kromosomkromosom ibunya. Jadi, satu masalah lagi muncul, anak tersebut akan merupakan separuh manusia dan separuh tuhan. Namun, mereka yang percaya terhadap keberadaan anak hakiki, menda'wakan dan menegaskan bahwa Kristus adalah seorang manusia sempuma serta tuhan yang sempurna.

Jika kromosom-kromosomnya separuh dari jumlah yang dibutuhkan, maka tidak ada masalah yang menghadang kita, sebab tidak ada bayi yang akan lahir demikian. Kalaupun ada, bayi itu akan merupakan separuh manusia. Jangankan membicarakan ke-23 kromosom yang hilang itu, sebuah gen cacat yang terdapat dalam satu kromosom saja dapat menimbulkan kerusakan, yakni bayi akan lahir dengan suatu cacat bawaan. Ia bisa saja buta, tidak memiliki anggota badan, tuli dan bisu. Bahaya-bahaya yang timbul pada kerusakan semacam itu tidaklah terbatas. Orang harus realistis; tidaklah mungkin Tuhan memiliki kromosom manusia atau lainnya.

Oleh sebab itu dengan terbukti tidak adanya peran fisik Dzat Tuhan, jika seorang anak telah dilahirkan oleh Maryam yang hanya memiliki gen-gen pembawa sifat yang berasal dari sel telur Maryam, apa pun hasilnya, dia sama sekali bukanlah merupakan "Anak" Tuhan. Paling tidak, kita dapat menyebutnya sebagai suatu keganjilan alam, yakni separuh manusia dan tidak lebih dari itu.

Jika organ-organ reproduksi Maryam sama seperti wanita lainnya dan sel telurnya harus dibuahi sendiri, perkiraan maksimum yang dapat dilakukan seseorang adalah kelahiran sesuatu yang hanya memiliki separuh sifat manusia. Adalah sangat buruk untuk menyebutkan sesuatu itu sebagai "Anak" Tuhan.

Jadi, bagaimana Yesus telah dilahirkan? Kita paham bahwa penelitian mengenai kelahiran melalui seorang ibu tanpa keterlibatan seorang laki-laki, sedang dikembangkan di banyak negara maju di dunia. Namun sejauh ini pengetahuan manusia baru berada pada tahap ketika penelitian ilmiah belum mencapai tingkat kemajuan di mana bukti positif yang tak terbantahkan mengenai kelahirankelahiran dari wanita-wanita perawan di kalangan manusia telah diperoleh. Akan tetapi, segala macam kemungkinan masih terbuka.

Pada kehidupan makhluk-makhluk rendah terdapat dua gejala yang diakui secara ilmiah: Hermaphroditisme dan Parthenogenesis. Dengan demikian, kelahiran ajaib Yesus melalui Maryam dapat dipahami berasal dari kenyataan alamiah yang sama tetapi merupakan gejala yang sangat langka, yaitu batas-batas yang masih belum dimengerti sepenuhnya oleh manusia.

Berikut ini uraian-uraian ringkas mengenai gejala Hermaphroditisme dan Parthenogenesis. Para pembaca yang tertarik pada penanganan ilmiah lebih lanjut terhadap persoalan tersebut, yang berlandaskan pada pemahaman saat ini, dapat merujuk pada link ini : " Parthenogenesis"

Hermaphroditisme

Hermaphroditisme tampil apabila organ-organ kedua jenis kelamin terdapat dalam satu makhluk betina dan kromosom kromosomnya menunjukkan sifat-sifat jantan maupun betina secara beriringan. Percobaan-percobaan laboratorium telah mengungkapkan kasus-kasus seperti mengenai seekor kelinci hermaphrodit, yang pada suatu tahap, melayani beberapa betina dan menjadi bapak bagi lebih dari 250 anak kelinci jantan maupun betina, sementara pada tahap lain, ia menjadi hamil dalam kondisi diisolasi/diasingkan dan melahirkan 7 ekor anak jantan dan betina yang sehat. Ketika diotopsi/dibedah, kelinci tersebut menunjukkan dua indung-telur yang berfungsi, dan dua buah-zakar yang subur, sementara ia berada dalam kondisi hamil. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa gejala semacam itu adalah mungkin, langka, di kalangan manusia juga.

Parthenogenesis

Parthenogenesis adalah perkembang-biakkan sebuah sel-telur betina tanpa hubungan seksual menjadi suatu individu, tanpa bantuan pihak jantan. Hal ini ditemukan di kalangan makhluk hidup rendah seperti aphids dan juga ikan.

Artikel Terkait...!!!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Akhlak (18) Bibel (6) Dakwah (38) Hak Azazi Manusia (13) Islam (23) Jihad (17) Kristen (19) Liberalisme (46) Mualaf (9) Muslimah (15) Natal (2) Orientalis (8) Peradaban (42) Poligami (9) Politik (29) Ramadhan (10) Rasulullah (22) Ridha (4) Sejarah (38) Tasawuf (24) Tauhid (16) Tawakal (3) Teroris (11) Trinitas (8) Yahudi (35) Yesus Kristus (34) Zuhud (8)