Antara Missionary, Tablig dan Islamphobia


Islam merupakan agama yang berkembang paling cepat, sekaligus merupakan agama yang paling universal. Dari semenanjung Arab, Asia, Afrika, Amerika Utara, Tengah dan Selatan, dan bahkan Eropa Barat dan Timur sekalipun, Islam menjadi fenomena yang sangat unik. Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Islam telah menjadi agama terbesar dunia, jika Kristen dan Katolik dipilah menjadi dua entity yang berbeda, dan sekaligus menjadi agama terpopuler masa kini. Tragedi 11 September membuka peluang manis bagi warga Amerika untuk mengenal agama ini lebih dekat. Kenyataannya, dilandasi oleh motivasi yang berbeda-beda, masyarakat Amerika semakin mengenal Islam yang sesungguhnya. Islam, sebagaimana juga agama Kristen, diyakini oleh pemeluknya sebagai agama yang harus disampaikan kepada seluruh umat manusia.

Pertautan antara semangat memperkenalkan Islam dan kebesaran Islam itu sendiri menjadikan Islam berkembang dengan sangat cepat. Kenyataan ini telah mambangun sebuah kesadaran kepada sesama umat beragama untuk saling mengenal, serta menyokong kepada kebaikan bersama (common interests), yang terealisasikan dalam bentuk kunjungan-kunjungan persahabatan, dialog konstruktif, dan bahkan melakukan kegiatan-kegiatan sosial bersama.

Di Amerika Serikat, gereja-gereja, sekolah-sekolah, dan bahkan institusi-insitusi pemerintahan sekalipun, membuka diri bagi para Imam untuk memberikan ceramah-ceramah tentang Islam. Sebaliknya, mesjid-mesjid juga semakin ramai dikunjungi oleh para non Muslims.

Islamic Cultural Center of New York misalnya, menerima tidak kurang dari 15 kunjungan grup non Muslims setiap bulannya. Dari kunjungan-kunjungan tersebut biasanya terbangun kontak-kotak pribadi antara Imam dan anggota grup tadi, yang tidak jarang berakhir dengan "Syahadah". Di Islamic Cultural Center pula, untuk dua bulan terakhir saja, ada 17 orang yang menyatakan menerima Islam sebagai agamanya. Belum lagi pendekatan-pendekatan pribadi para orang Islam di tempat kerja, sekolah, dan lain-lain. Sebagai catatan, hampir di semua universitas AS sekarang ini telah berdiri MSA (Muslim Student Association). Semua ini merupakan indikasi nyata akan perkembangan Islam yang sangat dahsyat di Negara adi daya.

Sebuah Perbandingan

Barangkali menarik untuk kita bandingkan antara fenomena da'wah Islam di dunia barat dan missionary Kristen pada negara-negara Muslim. Hampir semua yang masuk Islam di AS adalah karena sebuah kesadaran yang sejati. Hampir 70% di antara mereka memeluk Islam karena didahului oleh keragu-raguan terhadap agamanya sebelum menjadi Muslim. Pada saat yang sama, propaganda-propaganda jahat terhadap Islam justeru menjadi motivasi bagi mereka untuk mencari tahu realita Islam yang sesungguhnya. Dan pada akhirnya, didukung oleh semangat kejujuran dan keterbukaan, mereka menerima Islam sebagai agama kebenaran. Kenyataannya, tidak jarang setelah menjadi Muslim justeru lebih kuat dan kokoh dalam beragama ketimbang mereka yang ditakdirkan lahir sebagai Muslim.

Sebaliknya, missionary Kristen datang ke berbagai negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, seperti Indonesia, baik secara kuantitas maupun kualitas, penerimaan terhadap ajaran mereka tidak sebanding dengan penerimaan ajaran Islam di dunia non Muslim. Belum pernah kita dengar misalnya di suatu kampung warga Muslim masuk ke dalam agama lain secara berombongan, atau seorang Muslim secara terang-terangan menyatakan meninggalkan agama Islam dan memeluk agama yang baru. Perbedaan yang paling penting adalah bahwa boleh jadi seorang Muslim pindah agama, tapi tidak karena sebuah kesadaran yang sejati, melainkan karena dorongan-dorongan lain. Maka tidak aneh misalnya, jika di negara tertentu terjadi suap menyuap untuk menerima agama baru.

Seringkali juga kelompok agama tertentu atau pemeluk agama tertentu melakukan pembohongan publik dalam menyebarkan agama. Propaganda pembaptisan seorang tokoh Muslim baru-baru ini adalah satu contoh ketidak jujuran yang dilakukan oleh kelompok tertentu dalam penyebaran agamanya. Padahal kebohongan seperti ini tidak saja tertolak belakang dengan norma-norma ajaran agama, tapi juga merupakan pengkhianatan terhadap kebenaran agama itu sendiri.

Kewajiban Tablig dan Toleransi Beragama

Pemeluk kedua agama besar ini meyakini bahwa baik Islam maupun Kristen menganut faham missionary (tablig). Artinya, kedua agama ini mewajibkan umatnya untuk menda'wahkan ajarannya kepada seluruh umat manusia. Konsekwensinya adalah keduanya harus berpacu, berlomba, dan tidak mustahil akan terjadi persaingan.

Namun, perlombaan yang terjadi di antara dua pemeluk agama besar dunia ini harus elegan, jujur serta mengikut kepada norma-norma hubungan antar pemeluk agama. Keyakinan beragama adalah sebuah kesadaran tertinggi dari seorang individu dan langsung bersentuhan dengan nurani yang paling dalam. Oleh karenanya, keyakinan ini hanya mungkin bisa tumbuh dengan kesadaran pribadi tanpa adanya intervensi eksternal selain "divine intervention" berupa petunjuk Tuhan. Agama yang disampaikan dengan iming-iming material, atau mungkin dengan sebuah ketidakjujuran dan paksaan sekaligus, hanya melahirkan pemeluk agama yang munafik.

Untuk itu, fungsi agama yang tertinggi adalah membangun kesadaran dengan landasan pemahaman yang baik. Dan inilah yang menjadikan banyak penduduk yang terdidik di negara-negara maju, termasuk AS, masuk ke dalam agama Islam.

Islam memberikan kebebasan kepada semua pemeluk agama untuk melakukan kewajiban-kewajibannya. Rasulullah di Madinah tetap melestarikan sekolah-sekolah Yahudi, Midras, agar mereka mampu menjaga kelestarian agama mereka. Ketika utusan bangsa Nejran, sebuah kota di Yaman ketika itu, mendatangi Rasulullah untuk berdebat selama 3 hari dan 3 malam, beliau menerima mereka dan memberikan izin kepada mereka untuk tidur, makan, dan bahkan beribadah sesuai keyakinan mereka di dalam mesjid. Bahkan Rasulullah SAW menegaskan: "Barangasiapa yang menyakiti non Muslim (dalam sebuah Negara mayoritas Muslim), maka saya akan menjadi musuhnya pada hari Kiamat". Inipun dipraktekkan oleh para sahabat agung beliau. Ketika Umar masuk ke kota Jerusalem untuk menerima kunci kota itu, beliaulah yang memerintahkan agar tempat ibadah kaum Yahudi yang telah lama menjadi tempat sampah bagi kaum Kristen, kembali dibersihkan dan diberikan hak kaum Yahudi untuk melakukan ibadah mereka.

Ketika umat Islam berkuasa di Spanyol, semua pemeluk agama, termasuk Kristen dan Yahudi terlindungi hak-haknya. Tapi ketika umat Kristen di bawah pimpinan Ratu Isabella kembali menaklukkan Spanyol, semua warga non Kristen, termasuk Yahudi dan Muslim dibasmi habis. Kekejaman ini dikenal dalam sejarah dengan "inkuisasi". Orang-orang Yahudi ketika itu melarikan diri mencari perlindungan, dan hanya menemukan perlindungan di negara-negara yang dikuasai oleh umat Islam. Hingga hari ini kita temukan orang-orang Yahudi di Aljazair, Turkey, Tunis, dan juga Yaman. Merekalah pada zaman dulu melarikan diri dari kekejaman penguasa Kristen di Spanyol dan melarikan diri untuk mendapatkan perlindungan dari penguasa Muslim di bawah khilafa Utsmania. Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menjelek-jelekkan, menfitnah, atau melakukan kebohongan atas agama lain. Bahkan umat Islam diperintahkan:

"Jangan engkau mencaci atau menjelekkan apa-apa yang mereka sembah selain Allah, karena dengan itu, mereka akan mencaci atau menjelekkan Allah atas dasar kejahilan. Demikianlah Kami hiasi amalan setiap umat, kemudian kepada Allah tempat kembali mereka dan Allah akan memberitahu akan amalan-amalan mereka" (QS 6:107).

Allah juga mengingatkan:
"Dan ajaklah mereka ke jalan Tuhanmu dengan bijakdan nasehat yang baik, serta berdialoglah dengan mereka dengan cara yang terbaik" (QS 16: 125).

Maka jika ada umat Islam yang menjelekkan atau mencaci maki keyakinan orang lain, sungguh itu adalah sebuah pelanggaran yang nyata terhadap ajaran Islam itu sendiri.

Kegagalan dan Keputus-asaan

Akhir-akhir ini, sekelompok kecil dari agama tertentu dengan dukungan luas dari kalangan mass media, dunia entertainment, maupun corporate melancarkan upaya-upaya pembunuhan karakter terhadap agama Islam. Islam digambarkan sebagai agama yang tidak mengajarkan moralitas dengan propaganda yang sistimatis dan komprehensif. Seolah agama ini hanya penuh dengan ajaran-ajaran immoralitas, pembunuhan, terorisme, dan berbagai ajaran-ajaran syetan (evil teachings) lainnya. Tidak jarang, kelompok ini berkongkalikong dengan kekuasaan, sehingga pada akhirnya seolah semakin mendapat angin segar dan secara illutif menyangka mendapatkan kemenangan. Hakikat inilah sesungguhnya yang digambarkan oleh AlQuran:

"Mereka ingin memadamkan cahaya Allah (Islam), namun Allah menyempurnakan cahayaNya kendati orang-orang yang ingkar membencinya" (QS 61:8).

Bagi saya pribadi, sebagai aktifis Muslim yang menjalin hubungan dekat dengan sesama umat beragama, sikap kelompok ini adalah pengkhianatan terhadap norma agama, sekaligus pengkhianatan terhadap upaya perdamaian yang dibangun di atas dasar saling mengenal dan I'tikad baik. Tuduhan-tuduhan dan propaganda murahan yang dilalukan oleh para pendeta Evangelist di AS misalnya, juga merupakan ketakutan terhadap Islam (Islamphobia) sekaligus merupakan indikasi kegagalan dan keputus asaan mereka.

M. Syamsi Ali :Syamsi Ali adalah seorang Imam Muslim dari Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat dan menjadi Imam Masjid Al Hikmah di Queens, New York.
source: milist JMP

Artikel Terkait...!!!



1 komentar:

  1. Orang muslim dan orang kristen yang gak punya dasar kristen, melihat saksi Yehovah sebagai misionaris kristen, mirip sih emang tapi sebenernya mereka pengikut iblis.

    Missionaris kristen tidak pernah memaksa pindah agama, karena mereka hanya menyebarkan kabar baik, kabar keselamatan (sertifikat masuk surga) yang sudah didapat dan ditebus Tuhan Yesus dengan mati di kayu salib.

    Jadi kalau ada "kristen" yang memaksa orang pindah agama, itu bukan missionaris. Missionaris hanya menyampaikan kabar, setelah itu urusan yang denger.

    Bagi kristen yang punya dasar kekristenan mengerti kalau keselamatan (masuk surga) didapat secara gratis dari Tuhan Yesus. Yang mau silahkan ambil, yang gak mau ya udah gak apa. Dengan kata lain sehebat apapun kita berbuat baik, berdoa, berpuasa, menyebarkan agama, menolong orang, menyumbang, atau apapun, itu gak akan pernah membuat kita masuk surga. Tapi menyebarkan kabar baik memang menjadi tugas bagi pengikut sejati Kristus, bukan buat masuk surga, karena sertifikat masuk surga didapat secara gratis, tapi tugas itu dilakukan karena itu hati Tuhan. Kami sayang Tuhan Yesus, kami gak mau Tuhan capek capek menjelma jadi manusia, mengosongkan diri, menghinakan diri dan mati di kayu salib dan semua sia sia. Kalau yang mendengar kabar keselamatan yang sudah diberitakan tetap gak mau terima sertifikat masuk surga itu secara gratis, ya udah itu rugi dia sendiri. Missionaris Kristen sejati gak akan maksa kok. Karena memang kami tau, keselamatan itu anugrah.

    BalasHapus

Akhlak (18) Bibel (6) Dakwah (38) Hak Azazi Manusia (13) Islam (23) Jihad (17) Kristen (19) Liberalisme (46) Mualaf (9) Muslimah (15) Natal (2) Orientalis (8) Peradaban (42) Poligami (9) Politik (29) Ramadhan (10) Rasulullah (22) Ridha (4) Sejarah (38) Tasawuf (24) Tauhid (16) Tawakal (3) Teroris (11) Trinitas (8) Yahudi (35) Yesus Kristus (34) Zuhud (8)