Fenomena Media Liberal dan Aliran 'Binatangisme'



Tragedi di masa depan yang sudah terlihat dengan sangat jelas pada hari ini adalah semakin banyaknya kaum nihilis. Mereka bukan hanya terdiri dari kalangan ilmuwan bahkan juga kaum agamawan yang menganut keliaran faham yang layak disebut aliran 'binatangisme'

Sebagaimana namanya, ‘binatangisme’ adalah perilaku yang mengadopsi secara sempurna pola sikap dan perilaku binatang dalam kehidupan pribadi dan kehidupan sosialnya yang ditularkan kepada orang lain agar bisa bersikap dan berperilaku seperti dirinya

Filosofi hidup para penganut aliran liar ‘binatangisme’ ini adalah pemahaman yang menganggap seluruh sikap dan perilaku yang dilakukan oleh seseorang adalah tanggung jawab yang bersangkutan secara mutlak, tata nilai dan sistem sosal yang ada dan berkembang ditengah – tengah masyarakat hanyalah suatu pengekangan terhadap kebebasan berekspresi manusia yang sudah dibawa semenjak manusia itu dilahirkan

Tata nilai dalam kehidupan sosial penganut paham ‘binatangisme’ ini adalah ‘tidak adanya nilai’, sehingga bersikap dan berbuat seperti bintang dan atau sekalian menjadi bintang sekalipun bagi mereka adalah suatu bentuk kebebasan berekspresi yang dilindungi oleh apa yang mereka sebut sebagai Hak Azazi Manusia ( HAM )

Dibawah bendera HAM sebagai agama baru, nilai - nilai moral, sosial, budaya, agama yang selama ini mengatul perilaku sosial ditengah mansyarakat manusia dianggap sudah tidak berlaku lagi, sehingga paham ini juga dikenal dengan aliran ‘nihilisme

Perkebangan paham ‘binatangisme’ dan aliran ‘nihilisme’ ini di Indionesia sudah tumbuh dengan sangat pesat. Hampir setiap hari, melalui media TV kita disuguhi aneka aksi para binatang ini. Acara TV dipenuhi oleh figur-figur yang bergaya waria. Entah dia waria sungguhan atau hanya pura-pura jadi waria. Rasanya, seolah kurang lengkap jika TV tak mengontrak seorang presenter waria alias banci.

Selain itu, sering pula kita jumpai tayangan bejat lainnya seperti kehidupan komunitas para penjaja seks, baik wanita maupun laki-laki (gigolo), pelacuran anak-anak di bawah umur, fenomena 'ayam kampus', kehidupan tante-tante girang dan oom-oom senang, pesta seks (orgy), fenomena tukar pasangan (swinger), serta berbagai gejala penyimpangan seksual lainnya.

Sebetulnya, Apabila ditelisik secara lebih mendalam lagi, ada tiga fenomena mendasar yang kita saksikan dalam perkembangan menghawatirkan sehubungann liarnya media massa di Indonesia belakangan ini.

Pertama, secara sosial, telah terjadi proses rekayasa sosial (social engineering) yang disengaja untuk mentransformasikan masyarakat kita menuju masyarakat sekuler-liberal.

Kedua, secara ekonomi membuktikan kaum kapitalis (pemodal) telah menguasai media demi uang semata tanpa peduli moral masyarakat. 

Ketiga, secara politik menunjukkan pemerintah kita tidak punya tanggung jawab dalam urusan moral umat.

Fenomena media liberal (saya lebih senang menyebutnya liar) membuktikan bahwa masyarakat kita sekarang sedang digiring oleh kekuatan kapitalisme global untuk bertransformasi menuju masyarakat sekuler dan liberal, sebagaimana masyarakat Barat.

Tayangan-tayangan TV yang liar seperti secara halus akan menyusup pada rana publik dan secara sengaja pula menjajakan nilai kebebasan (freedom, liberty). Melalui ruang publik (public sphere) itulah kemudian melahirkan opini umum (public opinion), dan selanjutnya berproses menjadi shared values, yaitu acuan nilai kultural yang disepakati bersama.

Jika dulu kalangan ahli psikologi memasukkan gay dan lesbianisme sebagai salah satu diantara bentul kelainan seks (sexual-dissorder), tetapi kini orang biasa memandangnya, karena media massa –lah yang mengkampanyekanya.

Kebebasan tanpa batas adalah mind-set kaum sekuler-liberal. Bahwa kebebasan adalah nilai ideal yang harus diujudkan dalam suatu masyarakat.

Dalam pidato pelantikannya sebagai presiden tanggal 20 Januari 2005 lalu, George W. Bush mengatakan ,"When you stand for your liberty, we will stand for you." (Jika Anda berjuang untuk kebebasan Anda, maka kami akan bersama Anda).

Bush juga menegaskan, "The best hope for peace is the expansion of freedom." (Harapan terbaik untuk perdamaian, adalah melakukan ekspansi kebebasan) (Newsweek, 31 Januari 2005). Perhatikan pilihan kata Bush, yang menggunakan "ekspansi kebebasan" (expansion of freedom). Jelas, mengindikasikan bahwa kebebasan adalah nilai asing yang dicekokkan secara paksa ke dalam tubuh masyarakat kita yang mayoritas muslim.

Tentu ekspansi kebebasan ini jangan diartikan harfiyah bahwa yang mengusung nilai-nilai kebebasan haruslah orang kulit putih seperti orang Amerika atau Eropa. Bisa jadi, dan ini memang sudah terjadi, yang mengusungnya justru orang kita sendiri yang berkulit sawo matang dan bahkan, beragama Islam. Namun pikiran mereka tentu telah terkotori oleh paham liberal gaya kapitalis.

Anti Moralitas

Secara ekonomi, eksistensi media liberal membuktikan kaum kapitalis adalah pihak yang sungguh tak bertanggung jawab. Karena mereka hanya memikirkan bagaimana mengeruk keuntungan pribadi dengan cara nista.

Ketika banyak pihak mengecam goyang Inul justru media mengangkatnya tinggi-tinggi hanya untuk mengejar rating dan iklan. Uang, adalah Tuhan bagi industri hiburan.

Kata Adam Smith, dalam The Wealth of Nations (1776), jika tukang daging menjual dagingnya kepada Anda, itu bukan karena dia berbelas kasihan atau bersimpati kepada Anda, melainkan karena dia mengejar keuntungannya sendiri. Bicaralah uang karena hidup adalah uang. Itulah cita-cita kapitalisme dan kaum liberalis.

Ciri berkembangnya fenomena sekulerime-liberalisme adalah hadirnya kaum nihilis. Alih-alih sebagai pejuang keadilan, mereka selalu menempatkan kata 'netral' sebagai penyelamat moral. Kaum seperti ini tak pernah bisa membedakan mana yang benar menurut hati nurani dan mana yang salah.

Karena itu, jangan heran bila kemudian muncul jawaban-jawaban seperti; "Kalau tak suka acaranya, matikan saja TV yang Anda tonton."

Logika nihilisi seperti ini tak hanya milik produser TV. Hampir semua orang, para seniman, artis, selebritis dan tak terkecuali para ilmuwan ikut terserat ke dalamnya. Tatkala muncul pro kontra pose bikini Artika Sari Devi --wakil Indonesia dalam Miss Universe— dengan entengnya seniman Sujowo Tejo santai mengomentari,"...Yang bikin porno itu pikiran kita."

Jadi, bagi orang seperti Sujiwo Tejo, atau para pemuja liberalisme, yang salah itu otak kita. Artika tidak salah, media juga tak salah, pemerintah juga tak berdosa. Inilah logika kaum nihilis.

Logika kaum nihilis membolehkan orang bertelanjang berlenggang-kangkung di jalan-jalan, di pasar, di panggung hiburan. Boleh saja di film dan layar TV menjajakan 'ketelanjangan' asalkan otak bisa sopan..

Ketika umat Islam –yang juga mayoritas pemilik negeri ini—dan menjerit-jerit untuk menghentikan 'media liar' melalui RUU Pornografi dan Pornoaksi, para LSM dan suara kaum nihilis justru melawannya beramai-ramai.

Mereka yang menamakan diri "Jaringan Program Legislasi Nasional" (Prolegnas) Pro Perempuan, yang beranggotakan 35 organisasi perempuan --termasuk Komnas Perempuan, Kowani, Puan Amal Hayati, Muslimat NU, Cetro, Aliansi Pelangi Antarbangsa, Kalyanamitra, Pusat Krisis Terpadu RS Cipto Mangunkusumo, LBH Jakarta, dan LBH APIK Jakarta-- menilai RUU tersebut justru berpotensi melahirkan kekerasan aru, menempatkan korban menjadi pelaku, terutama pada korban perempuan dan anak, melanggar kebebasan berekspresi, dan membakukan standar kesusilaan berdasarkan pemahaman satu kelompok saja (Kompas, 2/7/2005).

Seorang anggota jaringan tersebut hanya mempersoalkan salah satu isi pasal pornoaksi berpotensi mengkriminalkan semua perempuan hanya karena ada istilah "dilarang memperlihatkan payudara di muka umum." "Tidak dijelaskan payudara siapa." Katanya sinis. "Bagaimana dengan ibu-ibu yang menyusui bayinya di muka umum? Bagaimana dengan kebiasaan masyarakat mandi dan buang air di kali?" Demikian pertanyaan rewel aktivis itu.

Seorang pengelola pesantren, Abdul Moqsith Ghazali bahkan terkesan menghalang-halangi RUU yang dibutuhkan umat Islam tersebut. Pria yang juga aktifis Islam liberal itu mengugat pasal "dilarang mempertontonkan alat kelamin di muka umum" dengan mengatakan , "Lalu bagaimana dengan orang yang mandi di sungai?" (Kompas, 2/7/2005).

Selera kaum liberalis (sebut saja kaum nihilis) pada akhirnya membolehkan apa saja secara bebas dan liar tanpa adanya otoritas pelarangan baik atas nama pihak berkuasa atau kaum yang sering mereka ledek sebagai kaum moralis. Semua boleh hidup bebas meski itu liar.

Saya teringat George Orwell, pengarang novel "Animal Farm" yang oleh mendiang Mahbub Djunaidi diindonesiakan menjadi novel "Binatangisme". Dalam kehidupan 'Binatangisme' orang boleh hidup semau-gue. Undang-undang kaum 'Binatangisme" adalah 'siapa yang kuat itulah yang menang'.

Bahkan dalam kehidupan 'Binatangisme', seorang anak boleh saja menggauli ibundanya sendiri tanpa harus takut agama atau ditangkap polisi. Ituklah makna kebebasan!.

Tragedi di masa depan, adalah semakin banyaknya kelahiran kaum nihilis berselera 'binatangisme'. Mereka bukan hanya kalangan ilmuwan bahkan kaum agamawan. Mereka bahkan fasih terhadap ayat suci tetapi lupa 'hati-nurani'.

Justru merekalah pendukung utama jalan-jalan 'liar'. Sebab atas nama kebebasan, mereka tak lagi pernah berani mengatakan haq dan batil.

Untuk itu, tak ada kata yang tepat bagi mereka selain ucapan, "Ahlan Wa Sahlan 'Binatangisme'."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Akhlak (18) Bibel (6) Dakwah (38) Hak Azazi Manusia (13) Islam (23) Jihad (17) Kristen (19) Liberalisme (46) Mualaf (9) Muslimah (15) Natal (2) Orientalis (8) Peradaban (42) Poligami (9) Politik (29) Ramadhan (10) Rasulullah (22) Ridha (4) Sejarah (38) Tasawuf (24) Tauhid (16) Tawakal (3) Teroris (12) Trinitas (8) Yahudi (36) Yesus Kristus (34) Zuhud (8)