I. Ada Orang Asing di Dalam Diriku
Pagi telah datang, tetapi malam rupanya belum benar-benar pergi dari dalam diriku.
Cahaya matahari merayap melewati celah jendela, jatuh di atas lantai, menyentuh kaki meja, lalu berhenti pada sepasang sandal tua yang sejak semalam tergeletak miring. Dari luar terdengar suara pedagang lewat, bunyi kendaraan yang sesekali memecah jalan, dan percakapan dua orang tetangga yang entah sedang membicarakan apa.
Dunia telah kembali kepada kesibukannya.
Hanya aku yang masih tertinggal di antara pertanyaan-pertanyaan semalam.
Aku bangkit dari pembaringan, membasuh muka, kemudian berdiri cukup lama di hadapan cermin. Wajah yang kulihat adalah wajahku sendiri. Garis-garis yang kukenal, sepasang mata yang telah menemaniku bertahun-tahun, rambut yang mulai menyimpan tanda usia, dan sepasang bibir yang terlalu sering mengatakan sesuatu sebelum sempat kupikirkan baik-baik.
Aku mengenali semuanya.
Namun, entah mengapa, pagi itu aku merasa sedang memandangi seseorang yang belum sepenuhnya kukenal.
Siapakah engkau?
Pertanyaan itu muncul begitu saja.
Aku tersenyum kecil, merasa agak ganjil kepada diriku sendiri. Bukankah aku sudah mengenal siapa diriku? Aku tahu namaku, tempat kelahiranku, jalan-jalan yang pernah kutempuh, orang-orang yang pernah kucintai, juga luka-luka yang kusimpan seperti surat lama di dasar peti.
Aku tahu apa yang kusukai dan apa yang kubenci. Aku tahu hal-hal yang membuatku marah, perkara-perkara yang membuatku bangga, serta kenangan yang kadang membuatku terjaga hingga larut malam.
Bukankah semua itu cukup untuk mengatakan bahwa aku mengenal diriku?
Tetapi cermin tidak menjawab.
Ia hanya mengembalikan wajahku, sementara pertanyaan itu tetap tinggal di belakang mataku.
Barangkali selama ini aku terlalu sibuk mengenali segala sesuatu yang melekat padaku, sampai lupa bertanya apakah semua yang melekat itu benar-benar diriku.
Nama yang diberikan orang tua kepadaku. Gelar yang pernah kubanggakan. Kedudukan yang pernah kuperjuangkan. Pendapat yang kupertahankan mati-matian. Bahkan cerita tentang siapa diriku yang berulang-ulang kusampaikan kepada orang lain, seolah-olah dengan menceritakannya berkali-kali aku dapat memastikan bahwa aku memang orang yang sama.
Lalu, jika semua itu suatu hari tanggal dariku, apa yang tersisa?
Aku mengusap wajah.
Ada sesuatu yang bergerak di dalam dada, seperti seseorang yang telah lama duduk di ruangan gelap, mendengar langkah kakiku dari kejauhan, tetapi baru sekarang memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
Aku tidak tahu siapa dia.
Yang kutahu, sejak pagi itu, aku mulai curiga bahwa selama bertahun-tahun aku telah tinggal bersama diriku sendiri tanpa sungguh-sungguh berkenalan dengannya.
II. Suara yang Selalu Ingin Menang
Aku keluar rumah dan berjalan menyusuri jalan kecil yang masih basah oleh embun. Di tepi jalan, seorang lelaki tua sedang menyapu halaman. Daun-daun kering berkumpul di hadapannya, diterbangkan angin, lalu kembali berhamburan ketika sapunya menyentuh tanah.
Ia menyapu lagi.
Angin datang lagi.
Ia tidak mengumpat, tidak pula menantang angin. Ia hanya meneruskan pekerjaannya dengan gerakan yang sederhana.
Aku berhenti sejenak memperhatikannya.
Tiba-tiba aku teringat betapa seringnya aku menghabiskan tenaga untuk melawan sesuatu yang tidak dapat kuubah. Perkataan orang yang telanjur menyakitiku, masa lalu yang tak mungkin kembali, keputusan seseorang yang tidak sejalan dengan keinginanku. Aku memikirkannya berulang-ulang, menyusun jawaban yang terlambat, memenangkan perdebatan yang tak lagi berlangsung, bahkan menciptakan percakapan dalam kepala dengan orang-orang yang mungkin telah melupakan perkara itu sejak lama.
Di dalam pikiranku, aku selalu ingin menang.
Kalaupun mulutku diam, pikiranku tetap berdebat.
Kalaupun tubuhku telah meninggalkan suatu tempat, sebagian diriku masih tertinggal di sana, menuntut pengakuan, menagih penjelasan, atau berharap seseorang akhirnya menyadari bahwa akulah yang benar.
Aku membawa pulang pertengkaran yang sebenarnya sudah selesai.
Aku memberi makan luka dengan mengulang perkataan yang melukainya.
Aku menyebutnya sebagai usaha mencari keadilan, padahal kadang-kadang yang kucari hanyalah kesempatan untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah.
Siapakah yang begitu takut dikalahkan di dalam diriku?
Aku melanjutkan langkah.
Suara itu segera muncul, seakan-akan tidak senang karena aku mulai memperhatikannya.
Kalau engkau tidak membela dirimu, orang akan menginjak-injakmu.
Aku mengenal suara itu. Ia telah menemaniku sejak lama. Ia selalu datang dengan alasan yang masuk akal. Ia mengajariku untuk berhati-hati, mengingatkan agar aku tidak mudah percaya, mendorongku agar tidak dipandang rendah, dan menyuruhku menjaga apa yang telah susah payah kudapatkan.
Tidak semua perkataannya salah.
Aku memang harus menjaga diri. Aku memang tidak boleh menyerahkan hidupku kepada kehendak setiap orang. Aku memang perlu berdiri ketika ketidakadilan datang dan berbicara ketika kebenaran hendak dibungkam.
Tetapi suara itu tidak pernah tahu kapan harus berhenti.
Ia mengubah kewaspadaan menjadi kecurigaan. Ia mengubah keberanian menjadi keangkuhan. Ia mengubah pembelaan diri menjadi keinginan untuk membalas.
Jika seseorang memujiku, ia berbisik bahwa aku memang pantas mendapatkannya.
Jika seseorang mengkritikku, ia segera mencari kesalahan orang itu.
Jika aku berhasil, ia menyuruhku melihat orang-orang yang belum berhasil.
Jika aku gagal, ia mengingatkanku kepada orang-orang yang pernah meremehkanku, seolah-olah kegagalanku belum cukup menyakitkan sebelum dibandingkan dengan keberhasilan mereka.
Ia selalu menemukan sesuatu untuk dipertahankan.
Dan sesuatu itu hampir selalu bernama aku.
Barangkali itulah ego: bukan semata-mata keinginan untuk menjadi besar, melainkan keinginan untuk terus menjadi pusat dari segala sesuatu. Ia ingin dunia mengakui keberadaannya, manusia memahami maksudnya, keadaan mengikuti rencananya, dan waktu mengembalikan apa yang pernah diambil darinya.
Bahkan ketika ia mengucapkan kata-kata tentang keikhlasan, diam-diam ia masih ingin dikenal sebagai orang yang ikhlas.
Bahkan ketika ia menolong, ia kadang menunggu agar pertolongannya diingat.
Bahkan ketika ia memaafkan, ada bagian dirinya yang ingin suatu hari mendengar pengakuan bahwa ia telah menjadi pihak yang lebih mulia.
Betapa halus cara keakuan menyembunyikan dirinya.
Ia dapat mengenakan pakaian kebajikan, berdiri di antara orang-orang saleh, berbicara tentang kerendahan hati, dan tetap berbisik dari sudut hati, Lihatlah, betapa rendah hatinya aku.
Aku menghela napas panjang.
Ternyata tidak semua yang terdengar di dalam diriku pantas disebut kebenaran hanya karena suaranya datang dari dalam diriku sendiri.
III. Aku Bukan Setiap Pikiran yang Melintas
Menjelang siang, aku duduk di sebuah kedai kecil di pinggir jalan. Secangkir kopi diletakkan di hadapanku. Asapnya naik perlahan, lalu menghilang di udara.
Di meja sebelah, seorang anak kecil menangis karena es yang dibelinya jatuh ke tanah. Ibunya mencoba menenangkan, tetapi tangis itu justru semakin keras. Bagi orang dewasa, peristiwa itu mungkin tidak berarti apa-apa. Sebentar lagi ibunya dapat membelikan es yang lain, dan kesedihan itu akan berlalu.
Namun bagi si anak, dunia seolah-olah baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Aku tersenyum melihatnya.
Bukankah aku pun sering demikian?
Sebuah perkataan yang tidak menyenangkan dapat merusak seluruh hariku. Sebuah pesan yang tak kunjung dibalas dapat membuat pikiranku mengarang berbagai kemungkinan. Satu kegagalan dapat membuatku merasa tidak berguna. Satu keberhasilan dapat membuatku lupa bahwa esok hari aku masih mungkin jatuh.
Pikiranku mengambil sebuah kejadian, lalu membangun dunia di sekelilingnya.
Sesuatu yang belum terjadi dibuat seolah-olah telah menjadi kenyataan. Sesuatu yang telah berlalu dipanggil kembali, diberi warna baru, lalu diperlakukan seperti luka yang baru saja terbuka.
Aku tidak hanya mengalami kehidupan; aku juga mengalami cerita yang diciptakan pikiranku tentang kehidupan.
Dan sering kali, cerita itulah yang lebih menyakitkan daripada peristiwanya sendiri.
Aku menatap kopi yang mulai kehilangan asapnya.
Jika sebuah pikiran datang dan berkata bahwa aku tidak berharga, apakah aku harus mempercayainya?
Jika pikiran lain berkata bahwa aku lebih baik daripada orang lain, apakah aku harus mengikutinya?
Jika satu suara menyuruhku menyerah, sementara suara lain mendesakku untuk membuktikan sesuatu kepada dunia, apakah salah satunya pasti merupakan diriku yang sejati?
Selama ini aku mengira setiap pikiran yang muncul adalah perintah yang harus kuturuti. Jika aku marah, aku merasa harus melampiaskannya. Jika aku takut, aku merasa harus menghindar. Jika aku iri, aku membiarkan diriku membandingkan kehidupan. Jika aku terluka, aku menganggap diriku berhak melukai kembali.
Seakan-akan aku hanyalah daun yang terseret ke mana pun angin bertiup.
Padahal ada jeda kecil di antara datangnya pikiran dan tindakanku. Jeda yang begitu tipis sehingga selama ini nyaris tak kusadari. Di sana ada kesempatan untuk melihat sebelum bereaksi, memahami sebelum menghakimi, dan memilih sebelum mengikuti dorongan pertama.
Aku mulai mengenali bahwa kemarahan dapat hadir tanpa harus menjadi tanganku yang memukul.
Ketakutan dapat datang tanpa harus menjadi kakiku yang mundur.
Kesedihan dapat memenuhi dada tanpa harus menghapus seluruh alasan untuk melanjutkan hidup.
Pikiran dapat melintas seperti burung yang terbang di langit. Tidak semua burung harus kutangkap. Tidak semua yang hinggap harus kubiarkan membuat sarang.
Aku boleh mendengarkan pikiranku tanpa menyerahkan seluruh diriku kepadanya.
Aku boleh mengakui perasaanku tanpa menjadikan perasaan itu hakim atas segala sesuatu.
Dan aku boleh berkata, Aku sedang marah, tanpa harus berkata, Aku adalah kemarahan.
Ada perbedaan yang tampak kecil, tetapi mengubah banyak hal.
Sebab jika aku adalah kemarahanku, ke mana aku pergi ketika kemarahan itu reda?
Jika aku adalah kesedihanku, siapa yang masih tinggal ketika air mata telah kering?
Jika aku adalah pikiranku, siapakah yang menyadari bahwa pikiranku sedang berubah?
Aku tidak menemukan jawaban yang sempurna di kedai itu. Kopiku telah dingin, anak kecil tadi telah berhenti menangis, dan ibunya sedang merapikan barang-barang mereka.
Namun untuk pertama kalinya, aku merasa tidak harus segera memberikan nama kepada segala sesuatu yang terjadi di dalam diriku.
Aku cukup memperhatikannya.
Dan dalam memperhatikan itu, ada ruang yang terbuka.
IV. Saksi yang Tidak Banyak Bicara
Malam berikutnya, aku kembali duduk sendirian.
Aku mematikan lampu utama, menyisakan cahaya kecil di sudut ruangan. Di luar, suara kendaraan mulai jarang terdengar. Seekor serangga mengeluarkan bunyi berulang dari balik pot bunga, sementara angin sesekali menyentuh tirai.
Aku mencoba duduk tanpa melakukan apa-apa.
Ternyata diam bukan perkara mudah.
Begitu tubuhku berhenti bergerak, pikiranku justru berlarian ke segala arah. Ia mengingat pekerjaan yang belum selesai, perkataan seseorang yang membuatku tersinggung, perkara yang belum memperoleh kepastian, dan rencana-rencana yang harus kususun untuk hari esok.
Aku mengingat wajah-wajah lama. Aku menyesali beberapa keputusan. Aku membayangkan kemungkinan yang belum tentu terjadi.
Lalu muncul suara yang lain.
Untuk apa engkau duduk seperti ini? Bukankah masih banyak yang harus dikerjakan?
Aku hampir bangkit.
Tetapi entah dari mana datangnya, aku teringat kepada secangkir kopi di kedai tadi, kepada burung yang melintas di langit pikiranku, dan kepada jeda kecil yang baru saja kukenal.
Maka aku tetap duduk.
Aku tidak berusaha mengusir pikiran-pikiran itu. Semakin keras aku mengusirnya, semakin gaduh pula mereka. Aku membiarkannya datang, seperti orang-orang yang melintas di depan sebuah rumah. Ada yang berjalan cepat, ada yang berhenti sebentar, ada yang membuat suara berisik, dan ada pula yang berlalu tanpa meninggalkan apa-apa.
Aku memperhatikan.
Pikiran tentang masa lalu datang, kemudian pergi.
Rasa khawatir muncul, lalu berubah menjadi bayangan lain.
Sebuah kenangan yang menyenangkan membuatku tersenyum, tetapi sesaat kemudian senyum itu digantikan oleh rasa kehilangan karena orang-orang dalam kenangan tersebut kini telah jauh berubah, atau mungkin tidak lagi berada di dunia.
Aku tidak bisa mempertahankan satu pun dari semuanya.
Namun aku menyadari bahwa setiap kali satu pikiran pergi, masih ada kesadaran bahwa pikiran itu tadi pernah datang.
Ada sesuatu dalam diriku yang mengetahui perubahan tersebut.
Aku tidak hendak buru-buru menyebutnya jiwa, apalagi menganggap telah menemukan rahasia terdalam keberadaanku. Aku hanya tahu bahwa di balik riuhnya pikiran, ada kemampuan untuk menyaksikan keramaian itu tanpa harus selalu ikut berlari bersamanya.
Seperti langit yang tetap menjadi langit ketika awan datang dan pergi.
Awan hitam tidak membuat langit kehilangan seluruh keluasan dirinya. Badai dapat menutupi pandangan, hujan dapat membuat bumi gelap, tetapi langit tidak berubah menjadi hujan. Ia menaungi datang dan perginya segala cuaca.
Mungkin kesadaranku pun memiliki keluasan yang selama ini tidak pernah kuberi kesempatan untuk kurasakan.
Aku terlalu sibuk menjadi tokoh utama dalam setiap pikiran, sampai lupa bahwa aku juga dapat memandang pikiran itu dari kejauhan.
Namun ada bahaya lain yang perlu kuwaspadai.
Aku tidak ingin menjadikan kesadaran sebagai pakaian baru bagi kesombonganku. Aku tidak ingin merasa lebih tinggi hanya karena mulai belajar mengamati diri. Sebab keakuan rupanya pandai menyamar; ketika satu topeng dilepas, ia dapat muncul dengan wajah yang lebih halus.
Kemarin aku bangga karena merasa paling benar.
Hari ini aku mungkin bangga karena merasa paling sadar.
Kemarin aku merendahkan orang yang tidak memahami apa yang kupahami.
Hari ini aku mungkin merendahkan orang yang belum mengenal istilah-istilah yang baru kupelajari.
Padahal, jika benar aku sedang belajar mengenal diri, semestinya aku semakin berhati-hati dalam menilai orang lain, bukan semakin gemar menempatkan diriku di atas mereka.
Aku menundukkan kepala.
Barangkali tanda pertama kesadaran bukanlah kemampuan melihat kesalahan orang lain dengan lebih tajam, melainkan keberanian melihat gerak tersembunyi dalam diri sendiri tanpa buru-buru mencari alasan untuk membenarkannya.
Dan malam itu, aku tidak menemukan seorang guru yang berdiri di hadapanku.
Aku hanya menemukan sebuah keheningan kecil yang selama ini tertutup oleh suaraku sendiri.
V. Siapakah yang Bertanya?
Pertanyaan itu kembali datang.
Siapakah yang bertanya dalam diriku?
Apakah si penanya adalah akal yang ingin memahami segala sesuatu? Apakah ia nurani yang terus mengetuk ketika aku menyimpang? Apakah ia jiwa yang merindukan sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh tangan? Ataukah pertanyaan itu sendiri hanyalah gerakan lain dari pikiran yang sedang mencari tempat untuk berlabuh?
Aku mencoba menelusurinya.
Ketika aku berkata, Aku ingin bahagia, siapakah yang menginginkan kebahagiaan itu?
Ketika aku berkata, Aku terluka, siapa yang sedang merasakan luka?
Ketika aku berkata, Aku ingin mengenal Tuhan, siapa yang sesungguhnya sedang mencari?
Semakin jauh kutelusuri, semakin banyak pintu yang terbuka, dan di balik setiap pintu seolah ada lorong lain yang menunggu untuk dimasuki.
Aku teringat kepada seorang tua yang pernah kutemui dalam perjalanan. Ia tinggal di sebuah rumah sederhana di kaki bukit, jauh dari keramaian pasar. Pada suatu sore, ketika kami berbincang di beranda, ia pernah berkata bahwa manusia sering kali mencari dirinya sendiri dengan cara yang sama seperti seseorang mencari kunci yang hilang di dalam rumahnya.
Ia menggeledah setiap ruangan, memindahkan barang, membuka lemari, bahkan memeriksa tempat-tempat yang sebenarnya telah diketahuinya.
Lalu, ketika seseorang bertanya di mana kunci itu terakhir kali terlihat, ia baru menyadari bahwa sejak tadi kunci tersebut terselip di tangannya.
Aku dahulu tertawa mendengar perumpamaan itu.
Sekarang aku tidak lagi yakin bahwa aku telah memahaminya.
Mungkin aku terlalu lama mencari diriku di luar diriku sendiri: dalam pengakuan orang lain, dalam keberhasilan, dalam cinta yang kuharapkan, dalam jabatan yang kuperoleh, dalam pandangan orang terhadap namaku.
Aku mengira semakin banyak orang mengenal namaku, semakin jelas pula siapa diriku.
Aku mengira semakin banyak hal yang berhasil kukumpulkan, semakin lengkaplah keberadaanku.
Aku mengira jika semua orang akhirnya mengakui kebenaranku, kegelisahan di dalam dada akan berhenti.
Namun kegelisahan itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti alasan.
Ketika satu keinginan terpenuhi, keinginan lain muncul. Ketika satu pertanyaan terjawab, pertanyaan lain menunggu. Ketika satu kemenangan kuraih, aku mulai takut kehilangan apa yang telah kudapatkan.
Aku berlari untuk sampai ke suatu tempat, lalu segera mencari tempat berikutnya.
Seperti seseorang yang mengejar cakrawala, tanpa pernah menyadari bahwa cakrawala itu menjauh seiring langkahnya.
Mungkin bukan dunia yang terlalu jauh dari jangkauanku. Mungkin aku sendiri yang terus bergerak menjauhi tempat di mana aku seharusnya berhenti sejenak dan melihat.
Tetapi apakah berarti aku harus berhenti mencari?
Tidak.
Aku tidak ingin menjadikan pertanyaan-pertanyaan ini alasan untuk meninggalkan kehidupan. Aku masih harus bekerja, makan, berbicara dengan manusia, menepati janji, dan menghadapi akibat dari setiap pilihanku. Aku masih harus meminta maaf ketika bersalah, melawan ketidakadilan ketika berhadapan dengannya, serta merawat mereka yang dipercayakan kepadaku.
Mengenal diri bukan berarti melarikan diri dari dunia.
Justru aku mulai curiga bahwa selama ini aku terlalu sering hadir di tengah dunia tanpa benar-benar hadir bersama diriku sendiri.
Tubuhku berada di hadapan seseorang, tetapi pikiranku sibuk menyusun jawaban.
Telingaku mendengar keluhannya, tetapi aku lebih sibuk menunggu giliran untuk berbicara.
Tanganku memberi sesuatu, tetapi hatiku diam-diam mencatat siapa yang telah menerima.
Aku menyebut diriku hadir, padahal sebagian besar diriku sedang mengembara ke tempat lain.
Mungkin langkah pertama mengenal diri bukanlah menemukan nama bagi sesuatu yang tersembunyi di kedalaman batin. Mungkin ia dimulai ketika aku berhenti berbohong tentang apa yang sedang terjadi di dalam diriku.
Mengakui iri tanpa menyamarkannya sebagai kritik.
Mengakui takut tanpa menyebutnya kebijaksanaan.
Mengakui keinginan untuk dipuji tanpa membungkusnya dengan kata pengabdian.
Mengakui bahwa aku belum memahami sesuatu, tanpa merasa harga diriku runtuh karenanya.
Betapa sederhana bunyinya, tetapi betapa panjang jalan yang harus kutempuh untuk melakukannya.
Sebab manusia dapat membohongi dunia dengan perkataan, tetapi kebohongan yang terus-menerus diulang kepada diri sendiri akan tumbuh menjadi rumah. Lama-kelamaan ia lupa bahwa rumah itu dibangunnya sendiri. Ia tinggal di dalamnya, mempertahankannya, lalu menyebut setiap jendela yang terbuka sebagai ancaman.
Aku ingin keluar dari rumah semacam itu.
Namun aku tahu, pintunya tidak akan terbuka hanya karena aku telah menemukan sebuah kalimat yang indah.
Aku harus menjalani kehidupan dengan mata yang lebih jernih, sedikit demi sedikit, hari demi hari.
Dan mungkin, setiap kali aku gagal, aku harus kembali bertanya.
Bukan untuk menghukum diriku sendiri, melainkan untuk memahami suara mana yang sedang menggerakkan langkahku.
VI. Di Hadapan Yang Maha Mengetahui
Menjelang tengah malam, aku mengambil air wudu dan berdiri untuk berdoa.
Tidak ada kejadian luar biasa. Tidak ada cahaya yang turun dari langit-langit, tidak ada suara yang tiba-tiba menyebut namaku. Ruangan itu tetap ruangan yang sama. Dindingnya masih menyimpan bekas cat yang mulai pudar, dan dari luar masih terdengar bunyi angin menyentuh daun.
Aku mengangkat tangan.
Di hadapan Tuhan, segala pertanyaan yang sepanjang hari kubangun terasa berubah bentuk.
Aku tidak lagi terlalu ingin membuktikan bahwa aku mampu memahami diriku sendiri. Aku mulai menyadari betapa banyak hal tentang diriku yang bahkan belum sanggup kuakui.
Aku dapat menjelaskan niatku kepada manusia, tetapi apakah aku selalu jujur terhadap niat itu?
Aku dapat menyebut suatu keputusan sebagai pengorbanan, tetapi apakah di baliknya tersembunyi keinginan untuk dikenang?
Aku dapat mengaku memaafkan, tetapi apakah hatiku benar-benar telah berhenti menagih?
Aku dapat mengatakan bahwa aku menerima takdir, tetapi mengapa aku masih marah ketika hidup tidak berjalan sesuai kehendakku?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak membuatku merasa lebih mulia.
Sebaliknya, aku merasa seperti seseorang yang berdiri di hadapan sebuah keluasan yang tak mungkin dikelilinginya dengan kata-kata.
Aku teringat kepada orang-orang yang pernah kusakiti tanpa kusadari. Kepada mereka yang pernah kuhakimi hanya dari sepenggal cerita. Kepada seseorang yang mungkin telah menunggu permintaan maafku, sementara aku terlalu sibuk menyusun pembelaan.
Aku teringat kepada kebaikan-kebaikan kecil yang pernah kulakukan, tetapi juga kepada kebaikan yang diam-diam kuharapkan menjadi utang bagi orang lain.
Aku tidak mampu menyembunyikan semua itu dari Tuhan dengan merapikan kalimat-kalimat doaku.
Lalu untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak berusaha menjadikan doa sebagai tempat untuk meminta agar segala sesuatu berjalan sesuai keinginanku.
Aku hanya ingin datang dengan keadaanku yang sebenarnya.
Dengan pengetahuan yang sedikit, kesalahan yang banyak, niat yang belum selalu lurus, dan hati yang kadang-kadang lebih sibuk menjaga harga diri daripada menjaga kebenaran.
Aku tidak tahu apakah malam itu aku menjadi lebih baik.
Aku tidak ingin tergesa-gesa mengumumkan perubahan yang bahkan belum teruji oleh kehidupan.
Barangkali besok aku akan kembali tersinggung oleh perkataan seseorang. Barangkali aku akan kembali merasa iri, kembali menginginkan pujian, kembali membenarkan kesalahan sendiri dengan alasan yang terdengar masuk akal.
Namun setidaknya sekarang aku mulai mengenali jalan masuknya.
Aku tahu bahwa suara yang paling keras belum tentu suara yang paling benar.
Aku tahu bahwa perasaan yang paling kuat belum tentu harus menjadi keputusan.
Aku tahu bahwa pikiran yang datang bukanlah selalu kebenaran, dan keyakinan yang kupegang erat belum tentu bebas dari keinginan untuk melindungi ego.
Dan aku tahu bahwa mengenal diri bukanlah perjalanan untuk membangun patung baru bernama aku yang telah tercerahkan.
Ia lebih menyerupai pekerjaan membersihkan jendela: perlahan, berulang-ulang, tanpa pernah benar-benar selesai. Kadang kaca tampak jernih, lalu debu datang lagi. Kadang aku merasa telah memahami sesuatu, lalu sebuah peristiwa kecil menunjukkan betapa banyak yang belum kupahami.
Barangkali memang demikianlah jalan seorang hamba.
Bukan berjalan dengan dada yang selalu tegak karena merasa telah sampai, melainkan berjalan dengan hati yang semakin tahu betapa ia membutuhkan petunjuk.
Aku menundukkan kepala lebih lama.
Di dalam keheningan itu, aku tidak menemukan jawaban yang dapat kubawa pulang sebagai milikku.
Yang kutemukan justru kesadaran bahwa tidak semua yang benar harus kumiliki sebagai pengetahuan, dan tidak semua yang belum kupahami harus kutakuti.
Ada rahasia yang hanya dapat kudekati dengan kerendahan hati.
Ada kebenaran yang menuntutku membersihkan diri sebelum berani berbicara tentangnya.
Dan ada Tuhan yang tidak menjadi lebih besar hanya karena aku berhasil memahami-Nya, sebagaimana Dia tidak menjadi lebih kecil ketika akalku terbentur batas-batasnya.
Aku hanyalah seorang pengembara.
Aku dapat mengetuk pintu, membersihkan langkah, menjaga niat, dan memohon agar tidak tersesat oleh kesombonganku sendiri. Tetapi aku tidak berhak menganggap bahwa setiap pintu yang terbuka adalah tanda bahwa aku telah menguasai seluruh rumah.
Malam semakin larut.
Aku mengakhiri doa tanpa merasa telah menyelesaikan pencarian.
Di luar, angin berjalan melewati pepohonan. Daun-daun bergerak dalam gelap, sebagian bergesekan, sebagian terlepas, sebagian lagi tetap bertahan pada rantingnya.
Tidak satu pun meminta agar malam segera menjelaskan makna keberadaannya.
Mereka hanya berada di sana, menjalani bagiannya masing-masing dalam keluasan ciptaan.
Aku duduk kembali di tepi pembaringan.
Untuk sesaat, pertanyaan itu muncul sekali lagi.
Siapakah yang bertanya dalam diriku?
Kali ini aku tidak buru-buru menjawab.
Aku membiarkannya tinggal.
Sebab mungkin, selama ini, aku terlalu sibuk mencari jawaban sampai lupa bahwa pertanyaan yang jujur pun dapat menjadi sebuah jalan. Bukan jalan yang membawaku menjauh dari kehidupan, melainkan jalan yang membuatku kembali menjalaninya dengan lebih sadar.
Aku belum mengenal diriku sepenuhnya.
Aku masih dapat tersesat di antara suara-suara yang saling berebut tempat. Aku masih dapat keliru mengira keinginan sebagai panggilan, ketakutan sebagai kebijaksanaan, dan kesombongan sebagai harga diri.
Tetapi sekarang aku mulai belajar berhenti sejenak sebelum mempercayai semuanya.
Aku ingin mendengar tanpa harus mengikuti setiap suara.
Aku ingin melihat tanpa buru-buru memberi hukuman.
Aku ingin menjalani kehidupan tanpa terus-menerus menjadikannya panggung bagi keakuanku.
Dan jika kelak aku kembali lupa, semoga ada sesuatu di dalam diriku yang mengetuk lagi—pelan, sabar, tanpa memaksaku untuk segera menjadi sempurna.
Barangkali itulah permulaan pengembaraan yang sesungguhnya.
Bukan ketika aku akhirnya mampu berkata, Aku telah mengenal diriku.
Melainkan ketika aku cukup jujur untuk mengakui, Aku belum mengenal diriku, tetapi aku tidak ingin lagi hidup dengan mata terpejam.
Di luar jendela, malam masih membentang.
Dan di dalam dadaku, seseorang masih bertanya.
Aku tidak tahu apakah ia akan segera menemukan jawaban.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus memaksanya.
Sebab ada perjalanan yang tidak dimulai dengan kepastian, melainkan dengan keberanian untuk tidak lagi berdusta kepada diri sendiri.
Dan malam itu, aku belajar satu hal yang sederhana: aku tidak harus mempercayai setiap suara yang berbicara atas namaku.
Aku hanya perlu belajar mengenali suara mana yang membuatku semakin jauh dari kebenaran, dan suara mana yang mengajakku pulang—kepada hati yang lebih jernih, kepada sesama yang lebih layak kucintai, dan kepada Tuhan yang selama ini kusebut dalam doa, tetapi belum selalu kuhadirkan dalam cara hidupku.
Aku memadamkan lampu.
Gelap kembali memenuhi ruangan.
Namun kali ini, aku tidak merasa sendirian di dalamnya.
Judul selanjutnya: BAGIAN 3: Menjadi Asing Di Tengah Keramaian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar