Masih Adakah Agama Yang Paling Benar Saat Ini ?



Tidak Mungkin Menemukan Agama Paling Benar! – Pertanyaan kritis “Siapakah yang Menciptakan Allah?” sebagaimana dikupas dalam tulisan sebelumnya di hidayatullah.com bukanlah satu-satunya pertanyaan yang dapat ditemui dalam kehidupan di Jerman mengenai agama. Namun masih ada sejumlah pertanyaan-pertanyaan serupa, yang sangat bisa dimaklumi mengingat ciri khas budaya, masyarakat, pendidikan, serta perilaku warga nya yang mengedepankan logika dan rasionalitas. Pertanyaan sejenis tidak jarang pula muncul pada anak-anak muslim Indonesia yang dibesarkan dan bersekolah di Jerman.

Apa manfaat kue Indonesia?

Dalam acara pengajian rutin bapak-bapak warga Indonesia muslim di Hamburg, yang diadakan setiap Jumat malam, ada kisah unik dari tuan rumah tempat diadakannya pengajian itu. Menurut tuan rumah, pernah anaknya yang masih sekolah dasar ditawari untuk menyantap kue khas Indonesia masakan ibunya.

Sang anak tidak serta merta memakannya, tapi bertanya mengapa ia harus memakan makanan itu. Maksudnya apa manfaatnya bagi dia jika dia menyantap kue itu.

Sang orangtua bercerita bahwa dia tidak mampu menjawab pertanyaan anaknya yang masih kecil dan bersekolah di Jerman itu. Apa yang diceritakan orangtua tersebut bisa dimaklumi adanya. Ini karena memang belum semua jajan khas asli Indonesia yang bermacam ragam itu menjadi bahan penelitian ilmiah untuk diteliti secara menyeluruh manfaat kesehatannya atau nilai gizinya.

Singkat kata, karena tidak mendapatkan jawaban yang diminta, maka sang anak pun tidak mau memakan kue khas Indonesia itu. Sang orangtua menambahkan bahwa anaknya itu suka makan yogurt. Ini dikarenakan dia diajari gurunya di sekolah bahwa yogurt itu baik untuk gigi. Barangkali orangtua sang anak itu perlu menunggu kiprah para ilmuwan Indonesia dalam mengungkap aneka manfaat kesehatan dari beragam makanan ringan khas tradisional Indonesia agar dapat meyakinkan sang anaknya itu.

Menemukan agama paling benar

Di Jerman memang sangat penting untuk dapat menjelaskan secara rasional kepada anak yang masih usia sekolah dasar sekalipun, mengapa mereka harus melakukan ini dan itu, mengapa harus berpuasa, sholat, mengapa Tuhan begini dan begitu, dan semacamnya.

Jika usia sekolah dasar saja sudah seperti itu, maka bisa dimaklumi jika kalangan dewasa pun berpola pikir jauh lebih kritis dan rasional.

Berbagai pertanyaan seputar agama, Tuhan dan peribadatan seringkali dilontarkan orang-orang Jerman kepada kolega mereka orang-orang muslim Indonesia. Tidak jarang pertanyaan ini tidak dapat mereka jawab, lantaran memang pertanyaan kritis seperti itu jarang ditemui di Indonesia. Kalaulah ada mungkin dianggap tabu untuk dibicarakan, atau dijawab tidak dengan rasional. Karena itu, di acara-acara pengajian menjadi salah satu ajang bagi sebagian warga Indonesia untuk menanyakan jawaban apa yang mesti mereka berikan atas pertanyaan kritis semacam itu.

Salah satu pertanyaan kritis lain pernah dikisahkan salah seorang remaja putri di forum pengajian Hamburg, salah satu kegiatan warga muslim Indonesia di Hamburg sebagaimana dikisahkan artikel “Siapakah Yang Menciptakan Allah?” sebelumnya. Dia menceritakan di forum pengajian itu bagaimana rekannya di Jerman menanyakan kepadanya, bagaimana mungkin seseorang bisa tahu bahwa salah satu agama, katakanlah Islam yang dipeluknya, adalah yang paling benar.

Temannya itu beralasan, ada banyak sekali agama dan bentuk keyakinan di dunia ini. Usia manusia tidak akan cukup untuk mempelajari semua agama itu, untuk kemudian sampai pada kesimpulan bahwa salah satu agama tertentu itulah yang benar.

Sekilas memang tidak salah juga apa yang dikatakan sang temannya itu. Untuk obyektif, jujur, dan adil, maka orang harus mempelajari semua agama yang ada di dunia ini sebelum menyimpulkan bahwa ada satu yang paling benar. Dan memang mempelajari salah satu agama bisa memakan waktu lama, bahkan seumur hidup. Bisa jadi habis waktu untuk mempelajari agama-agama yang ada, dan manusia keburu meninggal dunia sebelum menemukan kebenaran salah satu agama.

Syukurnya, penceramah waktu itu, yang masih mahasiswa, punya kegemaran menyimak kisah-kisah masuk Islamnya orang-orang di Jerman. Sehingga penceramah pun paham bahwa faktanya tidaklah demikian. Sebab ada orang Jerman yang masuk Islam setelah mendengarkan lantunan ayat Al-Quran yang ia rasakan menyentuh qalbunya. Ada pula yang masuk Islam karena menganggap ajaran Islam itu masuk akal setelah membaca terjemahan Al-Quran bahasa Jerman. Sebagian mereka masuk Islam dalam waktu singkat setelah belajar Islam, sebagian lagi memang perlu waktu beberapa bulan atau tahun.

Sang pembicara menambahkan, hal itu mungkin mirip dengan orang yang ingin menemukan sesuatu seperti barang hilang, jodoh atau cari tempat tinggal. Tiap orang tidak sama dalam hal waktu mendapatkan apa yang dicarinya itu. Dan ini adalah fakta yg diketahui bersama. Yang penting adalah apakah orang itu memang berniat mencari atau tidak, pesimis atau optimis. Jika tidak berniat sunguh-sungguh atau pesimis, maka orang bisa menemukan seribu satu alasan untuk tidak melakukannya. Seperti orang lapar, jika ia paham akan pentingnya makan, maka ia tanpa basa-basi dan banyak alasan akan mencari makanan sekuat tenaga agar dia dapat tetap bertahan hidup.

Nah, kembali ke soal agama, jika seseorang itu memang berniat kuat untuk mencari kebenaran agama, maka tanpa banyak berdalih dia akan mencarinya dengan sungguh-sungguh, dan tidak akan sekedar berkata “tidak mungkin bisa menemukan kebenaran, karena begitu banyak sekali agama, keyakinan, dst. sedang kesibukan dan usia hidup kita terbatas.” Dengan dalih seperti itu, orang tersebut tidak mau mencari agama yang benar. Ini menunjukkan niat yang belum sungguh-sungguh.

Ada kemungkinan memang seseorang berniat kuat dan habis waktu hidupnya untuk mencari agama, dan keburu meninggal dunia sebelum menemukan agama benar yg dicarinya. Untuk masalah ini, Allah mempahalai niat baik seseorang meskipun orang itu tidak sempat menemukannya atau melakukan kebaikan yang diniatkannya itu. Barangkali kisah di bawah cukup menarik, tercantum dalam hadits Rasulullah SAW:

Dari Abu Sa’id, Sa’ad bin Malik bin Sinan al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dulu, pada zaman sebelum kalian, ada seseorang yang telah membunuh 99 orang, kemudia ia mencari orang yang paling pandai di muka bumi ini, maka ditunjukkan kepadanya seorang pendeta (ahli ibadah). Lalu ia sedera mendatanginya dan berkata: ‘Sesungguhnya ia sudah membunuh 99 orang, apakah ia masih mempunyai kesempatan untuk bertaubat?’ ‘Tidak,’ jawab sang pendeta. Maka orang itu pun membunuh pendeta tersebut hingga menggenapkan orang yang dibunuhnya menjadi 100 orang.”

“Setelah itu ia mencari orang yang paling pandai di muka bumi, hingga akhirnya ditunjukkan kepadanya seorang alim. Lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya ia telah membunuh 100 orang, apakah ia masih mempunyai kesempatan untuk bertaubat? Orang itu menjawab, ‘Ya masih, dan siapakah yang dapat menghalangi antara dirinya dan taubat? Berangkatlah engkau ke suatu tempat (negeri), sesungguhnya di sana terdapat orang-orang yang beribadah kepada Allah Ta’ala. Karena itu, beribadahlah engkau bersama mereka, dan janganlah engkau kembali lagi ke negerimu, sebab ia merupakan negeri yang jelek.’ “

“Maka ia pun berangkat sehingga ketika di tengah perjalanan, ia menemui ajalnya. Maka Malaikat rahmat dan Malaikat adzab berselisih pendapat mengenai orang itu. Malaikat rahmat berkata, ‘Ia telah datang dalam keadaan bertaubat, dan dengan hatinya ia telah bertolak menuju Allah Ta’ala.’ Sedang Malaikat adzab berkata, ‘Sesungguhnya ia belum pernah berbuat kebaikan sama sekali.’ Kemudian mereka didatangi Malaikat dalam wujud seorang manusia, kemudian mereka menjadikan Malaikat ini sebagai penengah di antara mereka. Maka Malaikat itu berkata, ‘Ukurlah jarak antara dua daerah itu, maka ke daerah mana yang ia lebih dekat kepadanya maka itulah yang menjadi bagiannya.’ Maka mereka pun melakukan pengukuran hingga akhirnya mereka mendapatkannya lebih dekat dengan daerah yang ditujunya, lalu ia pun diambil oleh Malaikat rahmat.”

Dalam sebuah riwayat di kitab ash-Shahih disebutkan: “Dan ia lebih dekat satu jengkal ke daerah yang lebih baik itu, maka dia dianggap sebagai salah satu penduduknya.” Pada riwayat yang lain juga dalam kitab ash-Shahih: “Maka Allah memerintahkan kepada daerah (yang jelek) itu menjauh dan kepada daerah yang baik untuk mendekat, dan dia berkata: ‘Ukurlah jarak antara kedua daerah itu.’ Ternyata mereka mendapatkannya lebih dekat satu jengkal dengan daerah yang baik itu, sehingga ia pun diberi ampunan.” [Riwayat Bukhari VI/512 dan Muslim no. 2766]. Wallaahu a’lam.
[abuammar/hidayatullah.com]. (Cerita ini dikisahkan langsung oleh Abu Ammar dari Hamburg, Jerman. Fotoby crb)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Akhlak (18) Bibel (6) Dakwah (38) Hak Azazi Manusia (13) Islam (23) Jihad (17) Kristen (19) Liberalisme (46) Mualaf (9) Muslimah (15) Natal (2) Orientalis (8) Peradaban (42) Poligami (9) Politik (29) Ramadhan (10) Rasulullah (22) Ridha (4) Sejarah (38) Tasawuf (24) Tauhid (16) Tawakal (3) Teroris (12) Trinitas (8) Yahudi (36) Yesus Kristus (34) Zuhud (8)