Perasaan ketidakadilan di Timur Tengah mempengaruhi pemuda di Eropa secara negatif


Ribuan diaspora Yahudi di seluruh dunia juga berpartisipasi dalam konflik di Timur Tengah berkontribusi sebagai pejuang asing di Gaza, Suriah, dan Iraq.

Grup seperti Lone Soldier Center yang didirikan pada tahun 2009 di Yerusalem, menawarkan banyak kesempatan menarik bagi mereka yang ingin berpartisipasi dalam Angkatan Pertahanan Israel, terutama dari luar negeri.

Menurut Lone Soldier Center, 45 persen dari 5.700 dalam struktur Angkatan Pertahanan Israel merupakan kalangan muda Yahudi yang berada di berbagai wilayah dunia dan secara sukarela berjuang untuk Zionis Israel.

Sekitar 50 persen dari ‘Lone Soldiers’ adalah anak yatim atau anak-anak dari keluarga dengan pendapatan rendah (dengan latar belakang ekonomi rendah). Beberapa ahli mengatakan, anak-anak ini dipaksa bergabung dengan tentara setelah menemukan diri mereka dikeluarkan dari komunitas mereka.

Kebutuhan dari ‘Lone Prajurit’ ini dipenuhi oleh tentara Israel, dan satu prajurit menerima gaji 250 dolar (sekitar Rp 2,9 juta) per bulan.

Anak-anak ini, yang sebagian besar dari dari Amerika Serikat, Prancis, Kanada, Inggris, Rusia, dan Argentina, melihat kedatangan mereka untuk bergabung sebagai kebutuhan untuk membayar utang spiritual ke Israel.

Mendiang Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin, perdana menteri asli kelahiran Israel, pernah mengucapkan terima kasih kepada ‘Lone Soldiers’. Ia mengatakan, mereka mendukung Israel ketika orang-orang Israel memang membutuhkannya, terutama saat perang pembentukan Israel di tahun 1948.

“Bantuan mereka itu menentukan, apakah akan ada atau tidak Negara Yahudi,” katanya.

Organisasi non-politik dan nirlaba, Sar-el, merupakan salah satu yayasan di banyak negara yang membantu orang menjadi relawan untuk Angkatan Pertahanan Israel. Organisasi ini antara lain ada di Belanda, Kanada, dan Australia.

Organisasi ini didirikan pada tahun 1982, dan telah membantu 75.000 orang untuk menjadi relawan Angkatan Pertahanan Israel.

Yayasan ini mengatakan, tujuannya untuk membantu Israel melalui tangan para sukarelawan untuk membangun hubungan yang langgeng antara Israel, diaspora Yahudi, dan teman-teman lain dari Israel.

Yayasan itu mengatakan, program rutin selalu berlangsung selama tiga minggu. “Kadang satu minggu ada satu program. Relawan dapat tinggal di program untuk maksimal tiga bulan, jika disetujui oleh Sar-El dan asalkan mereka memiliki visa yang sah dan asuransi valid.”

“Setiap orang yang sehat dapat berpartisipasi dalam program ini, ditujukan untuk para petualang sempurna di antara kita yang ingin membantu Israel,” bunyi AD-ART yayasan.

John Kerry Mendukung

‘Lone Soldiers’ ikut ambil bagian dalam serangan terakhir Israel di Gaza, di mana lebih dari 2.000 warga Palestina tewas.

Max Steinberg, seorang tentara yang datang ke Israel dari Amerika Serikat, tewas dalam serangan terhadap Gaza. Di antara 20.000 orang yang berpartisipasi dalam pemakaman tentara asal California ini, juga hadir Menteri Luar Negeri AS John Kerry yang dalam pidato pemakaman menyebutkan dia bangga menghadiri pemakaman tersebut.

Media The Huffington Post mengatakan, ratusan anak-anak muda Yahudi Amerika Serikat dan Kanada melakukan perjalanan dari Amerika Utara lantas ke Tel Aviv selama konflik Gaza pada bulan Agustus.Media itu juga memuat foto-foto anak-anak muda Yahudi di pesawat dengan bendera Israel.

Menurut organisasi berbasis di New York, “Friends of Soldiers Israel,” yang didedikasikan untuk kesejahteraan para pria dan wanita yang melayani di Angkatan Pertahanan Israel dan keluarga mereka yang ditinggalkan, sekitar 750 warga AS membantu tentara Israel.

Mitra dalam Kejahatan

Hanine Hassan, akademisi Palestina yang menjadi peneliti di Colombia University, mengatakan, relawan warga negara non-Israel tapi dengan latar belakang Yahudi, telah berpartisipasi di garis depan dalam konflik militer Israel setelah mendapat pelatihan singkat.

Dia mengatakan, dua warga AS, satu warga negara Prancis dan satu Rusia, tewas dalam serangan Gaza.

“Para pejuang Barat yang datang ke wilayah (Gaza) tersebut untuk memperkuat tentara Israel adalah mitra dalam perbuatan kejahatan,” kata Hassan.

Ia menambahkan, mereka juga bertanggung jawab untuk kejahatan pembersihan etnis terhadap warga Palestina, pembunuhan massal, dan mendukung kejahatan-kehatan lainnya.

Meningkatnya jumlah Muslim Eropa bergabung dengan jajaran kelompok pejuang ISIS di Iraq dan Suriah, telah menyebabkan keprihatinan mendalam di kalangan komunitas Muslim di Eropa.

Beberapa pemimpin komunitas Muslim di Eropa dan perwakilan masyarakat sipil telah berbicara kepada Anadolu Agency tentang masalah ini.

“Orang-orang menonton insiden di Suriah dari televisi. Mereka menyaksikan tangisan perempuan dan anak-anak untuk membantu. Kami baru saja mengalami hal ini di Gaza. Perasaan ketidakadilan di Timur Tengah mempengaruhi pemuda di Eropa secara negatif,” kata Dr Omer El-Hamdoon, presiden Asosiasi Muslim Inggris.

Didirikan pada tahun 1997, asosiasi ini dikenal aktif berpartisipasi dalam protes menentang perang Iraq.

Dengan menyatakan bahwa asosiasi ini terus mengikuti berita tentang meningkatnya jumlah warga Eropa bergabung dengan ISIS, Hamdoon mengatakan: “remaja ini ingin bereaksi menentang perang dan ketidakadilan di negara-negara Muslim yang dilanda perang.”

Hamdoon juga mengatakan, sebagian dari pemuda Muslim Inggris pergi ke Timur Tengah untuk membantu orang dan upaya memberi bantuan kemanusiaan, bukan untuk berjuang bersama kelompok ekstremis.

“Namun, beberapa pemuda lainnya memilih cara lain untuk membantu kelompok pejuang. Mereka berpikir tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk saudara-saudara Muslim mereka. Mereka tidak menemukan cara lain, dan memutuskan untuk pergi dan berjuang bersama ISIS,” katanya.

Dia mengkritik media Inggris yang hanya menargetkan komunitas Muslim di Inggris.

“Memang benar bahwa ISIS melakukan propaganda melalui internet untuk menarik kaum muda Muslim di Inggris. Namun, kaum muda yang bergabung dengan mereka tidak hanya para “pengangguran” dan kelompok yang “marah”. Mereka memberikan reaksi emosional terhadap insiden terbaru di Tengah timur.”

Diskriminasi terhadap Muslim

Bekir Yilmaz, kepala Komunitas Turki di Berlin, mengatakan, alasan utama kehadiran mereka ke kelompok-kelompok seperti ISIS adalah akibat diskriminasi terhadap masyarakat Muslim di Jerman, Prancis, dan Inggris.

“Adanya masalah keluarga dan sosial, serta diskriminasi terhadap mereka, membuat pemuda di negara-negara (Eropa) mencari posisi memuaskan di dunia. Ketika mereka bergabung dengan ISIS, mereka merasa penting dan istimewa,” kata Yilmaz.

Dia menyarankan keluarga Eropa untuk lebih memperhatikan anak-anak mereka. “Kita harus mengajarkan anak-anak kita filosofi dasar Islam bahwa ‘membunuh seorang manusia sama dengan membunuh seluruh umat manusia.'”

Ebubekir Ozture, kepala Badan Kontak bagi umat Islam dan Pemerintah Belanda, juga menyebutkan persoalan diskriminasi sebagai alasan yang paling penting.

“Kita harus sampai ke akar masalah dan menyelesaikannya sepenuhnya. Artinya keluarga dan asosiasi Islam memiliki tanggung jawab yang besar,” katanya.

Ia menekankan bahwa masalah tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan langkah-langkah hukum belaka, masyarakat harus merangkul pemuda-pemuda yang merasa terasing tersebut.

Presiden Komunitas Islam Fuat SANAC di Austria mengatakan, semua agama memiliki beberapa sisi ekstrimis. “Namun, perbuatan militan ISIS tidak boleh disamakan terhadap semua Muslim. Yahudi dan Kristen juga pergi ke luar negeri untuk berjuang.”

Dia menolak persepsi bahwa banyak umat Islam mendukung ISIS. “Ini hanya propaganda negatif terhadap umat Islam,” katanya.
Sumber : hidayullah.com

Artikel Terkait...!!!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Akhlak (18) Bibel (6) Dakwah (38) Hak Azazi Manusia (13) Islam (23) Jihad (17) Kristen (19) Liberalisme (46) Mualaf (9) Muslimah (15) Natal (2) Orientalis (8) Peradaban (42) Poligami (9) Politik (29) Ramadhan (10) Rasulullah (22) Ridha (4) Sejarah (38) Tasawuf (24) Tauhid (16) Tawakal (3) Teroris (11) Trinitas (8) Yahudi (35) Yesus Kristus (34) Zuhud (8)