Anta Maqshudi wa Ridhaka Mathlubi!


Pelajaran tasawuf seperti anak tangga, tangga yang bawah merupakan landasan bagi tangga yang lebih atas. Karena itu orang-orang beriman harus terus menerus mencari ilmu, hingga diperoleh keyakinan yang benar, haqqu l-yaqin.

Yang disebut ilmu, bukanlah sebatas apa yang kita pelajari dari kitab-kitab suci dan hadis. Ingat, kitab suci adalah pelita, bukan obyek yang kita amati. Ia adalah petunjuk! Yang dengan petunjuk itu kita dapat melangkah untuk memahami semua obyek. Nah, selanjutnya yang kita pelajari itu adalah gejala-gejala, sifat-sifat dan ciri-ciri alam. Baik alam itu ada di luar maupun di dalam diri kita! Dengan cara demikian kita bisa berjalan di atas jalan yang benar.

Jika kita sudah berjalan di atas jalan yang benar, maka kita akan sampai pada tujuan yang benar. Tujuan yang benar, itulah Allah! Inna li l-lahi wa inna ilaihi raji-‘un, “sesungguhnya kita ini berasal [kepunyaan] Allah dan sesungguhnya kita kembali kepada-Nya”. Jadi, jelas sekali bahwa cepat atau lambat kita pasti kembali kepada-Nya. 

Dan kembali kepada-Nya tidak berarti kembali kepada “sosok” di suatu tempat. Yang membutuhkan tempat itu bukan Allah. Ia cuma makhluk seperti kita, meskipun mungkin jauh lebih hebat daripada manusia. 

Dalam kalangan sufi, kalimat tauhid “la ilaha illa l-lah”, tiada tuhan keculai Allah diuraikan menjadi 3 ungkapan kalimat thayyibah.

Pertama, “la maujuda illa l-lah”, eksistensi yang sebenarnya adalah Allah. Jadi, kenyataan yang sebenarnya adalah Allah. Lalu, kita, makhluk hidup lainnya dan benda-benda yang ada ini apa? Bukankah kita ini sebuah ‘kenyataan’? Semua wujud di alam ini adalah manifestasi dari kenyataan dan bukan kenyataan itu sendiri.

Segala sesuatu ini hanya ‘nyata’ sesaat, kemudian berubah menjadi ‘kenyataan’ yang lain. Meskipun Anda mengenali wajah saya saat ini, tetapi sebenarnya wajah saya terus berubah. Hanya saja perubahan saya ini tak terdeteksi dalam waktu yang relatif pendek. Walaupun Anda tidak mampu mendeteksi perubahan wujud saya, tetapi 10 tahun kemudian Anda akan mengenali adanya gurat-gurat ketuaan di wajah saya.

Jadi, apa yang nyata saat ini sebenarnya sesaat lagi telah berubah, tidak lagi persis sama dengan sesaat yang lalu. Karena itu, tiada yang maujud, tiada yang betul-betul eksis di alam ini, kecuali Tuhan. Orang Buddha menggambarkan alam ini seperti pikiran. Ia selalu datang dan pergi! Ia tak kekal. Artinya, tak punya wujud yang kekal. Nah, menapaki jalan tasawuf sebenarnya melangkah ke depan untuk menemukan yang Maha Kekal, yang benar-benar Maujud. 

Kedua, “la ma’buda illa l-lah”, tak ada yang patut diibadahi [diabdi] kecuali Allah. Jadi, hidup yang sebenarnya itu cuma untuk mengabdi kepada Tuhan. Karena itu, dalam surat Al Fatihah dinyatakan dengan tegas ‘hanya kepada Engkau kami mengabdi’. Dan, ayat ini dirangkai dengan ‘dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan’. Lho, kenyataannya kita ini saling menolong, jadi tidak benar dong jika hanya kepada Tuhan kita minta pertolongan?

Petunjuk yang kita peroleh dari surat Al Fatihah adalah “kami” dan bukan “aku”. Jadi, pengabdian kepada Allah itu ada dalam bentuk komunitas, dan bukan sendirian. Islam mengajarkan bahwa pengabdian itu bersifat ‘jamaah’ bukan perorangan. Lalu, apa yang dimaksud dengan pengabdian kepada Allah? Ingat, makna mengabdi adalah melayani. Mengabdi kepada Allah berarti melayani Allah. Jangan diartikan secara harfiah! Karena hakikatnya Allah tidak membutuhkan apa-apa [termasuk pelayanan] dari hamba-hamba-Nya. Yang memerlukan pelayanan, ya kita-kita ini!

Nah, agar kita bisa saling melayani, maka kita harus mengerti aturan dan mekanisme yang telah dibangun oleh Allah. Aturan dan mekanisme itu telah ditetapkan-Nya di alam raya ini. Bukan aturan yang dihasilkan oleh hawa nafsu atau kepentingan seseorang/sekelompok orang! Untuk itu marilah kita baca ayat-ayat di bawah ini.
28:88 Dan jangan memohon [menyeru] ilah-ilah selain Allah. Tak ada ilah selain Dia. Segala sesuatu bersifat binasa [fana] kecuali Wajah-Nya. Hukum itu kepunyaan-Nya, dan kepada-Nya kamu semua dikembalikan.  
55:26 Dan segala sesuatu yang ada di bumi bersifat fana. 
27 Dan Yang Kekal adalah Wajah Tuhan engkau. Tuhan yang memiliki keperkasaan dan kemuliaan. 
29 Semua yang ada di langit dan di bumi memerlukan-Nya. Setiap saat Dia ada dalam urusan [kesibukan]. 
28:83 Itulah negeri akhirat! Kami menyediakan negeri akhirat itu bagi orang-orang yang tidak berkehendak untuk menyombongkan diri [arogan], dan tidak pula menghendaki kerusakan di bumi. Dan akibat yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa.  
10:101 Katakanlah: “Perhatikanlah apa-apa yang ada di langit dan di bumi. Dan ayat-ayat serta peringatan itu tidak berguna bagi orang-orang yang tidak beriman.”
Perhatikan ayat-ayat tersebut dengan seksama! Pada 28:88 diinformasikan bahwa hukum [law] itu kepunyaan-Nya. Dia yang menciptakan dan Dia pula yang menetapkan aturan dan kadarnya. Dan ternyata segala sesuatu itu bersifat fana, tidak tetap [kekal], tetapi terus berubah dan akhirnya lenyap. 

Semua sel yang membangun tubuh kita pada waktu bayi, sudah lenyap. Tak satu pun sel kita pada waktu bayi yang masih hidup sekarang ini. Apa yang kekal di alam ini? Wajah-Nya! Mengapa tidak dinyatakan saja “yang kekal Diri-Nya”? Karena Wujud Allah itu Maha Abstrak! Tak ada yang serupa dengan-Nya. Dia tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Semua yang tampak eksis ini sebenarnya manifestasi-Nya. Apa yang eksis ini adalah wujud dari Cipta-Nya, atau Amar (Kehendak)-Nya [QS 7:54]. Hanya Tuhan yang mempunyai kemampuan untuk mencipta dan beramar. Semua wujud yang dicipta melalui suatu proses kejadian. Sedangkan semua eksistensi yang mewujud karena amar-Nya, tanpa melalui proses. Malaikat dan ruh adalah contoh amar-Nya. Namun, toh, semua itu fana. Semua ada hanya untuk menunjukkan “keberadaan-Nya”. Karena itu yang kekal adalah Wajah-Nya! Karena itu Eksistensi sejati hanyalah Dia. Dan pelayanan di antara sesama makhluk seharusnya hanya karena Dia.

Setiap saat Dia sibuk melayani hamba-hamba-Nya. Jantung kita bekerja karena pelayanan-Nya. Kita merasa mempunyai jantung itu, tetapi kita tak pernah merasa merawatnya. Paru-paru kita bekerja di luar kontrol kita. Malah Dia yang bekerja untuk kita ini. Karena itu, kita harus berusaha menjadi hamba yang “ridha”. Dengan kata lain, kita harus ridha menjadi hamba, atau abdi-Nya! Ungkapan tasawuf ini tentu saja jangan dipertentangkan dengan lagu “padamu negeri kami mengabdi”. Karena kata-kata dalam lagu itu sifatnya emosional, membangkitkan emosi penyanyinya, bukan hakiki. Jadi, kita harus dewasa dalam menimbangnya. Jangan karena “hanya kepada Tuhan kita mengabdi”, lantas kita memandang syirik lagu tersebut.

Nah, ternyata untuk mencapai keridhaan-Nya kita tidak boleh bertingkah laku arogan, dan tidak boleh pula membuat kerusakan di bumi ini. Kita harus perhatikan dengan seksama gejala-gejala dan peringatan yang ada di langit dan di bumi. Untuk apa? Untuk memahami rahasia dan hukum-hukum-Nya. Agar kita bisa berjalan sesuai dengan hukum-Nya. Agar kita bisa kembali kepada-Nya! 

Tetapi sekarang lihatlah lingkungan hidup kita. Bagaimana hutan kita bisa menjadi gundul. Sungai-sungai menjadi dangkal. Asap menebal dan merusak atmosfer. Di Timur Tengah perebutan tanah melibatkan emosi keagamaan. Kelaparan menyebabkan pertikaian antar suku. Semua ini menunjukkan bahwa sedikit sekali [dapat diabaikan] orang yang ridha menjadi hamba Tuhan. Seharusnya kalau kita tahu bahwa kita ini sama-sama hamba Tuhan, sama-sama manusia maka kita tidak perlu saling menguasai. Akibat saling menguasai adalah kerusakan. 

Ketiga, “la maqshuda illa l-lah”, tujuan itu hanyalah Allah. Jadi, tujuan, aim at, intended, intensional bagi orang-orang mukmin adalah Allah. Yang lain-lain itu adalah jembatan menuju Allah. Orang berbuat baik kepada orang lain, tolong-menolong dalam kebajikan, berkasih-sayang sesama manusia, memberikan perlindungan kepada mereka yang lemah, bertutur kata yang arif, dll, semuanya itu adalah jalan-jalan menuju Allah. Karena tujuan akhir itu hanya kepada Allah maka kita dilarang menjadi ilah selain-Nya. Apa artinya ini? Ya, kita jangan menghakimi keimanan seseorang atau kita jangan memaksakan kehendak dan pendapat kita. 

Dalam tasawuf ada kalimat thayyibah yang senantiasa dilakukan oleh orang-orang yang berzikir. Kalimat ini dibaca ketika memulai zikir. Bunyinya demikian: “Ya ilahi anta maqshudi wa ridhaka mathlubi”, Wahai Tuhanku, Engkaulah yang menjadi tujuanku, dan keridhaan Engkau yang aku cari. 

Yang dicari adalah Allah. Tetapi Allah bukanlah obyek! Dia adalah subyek yang meliputi segala sesuatu, omni present. Ya, Dia memang hadir di mana-mana. Tetapi kita tak menyadari kehadiran-Nya. Karena itu kita harus melatih diri untuk mencari-Nya. Untuk apa? Bukankah berbuat baik [beramal saleh] sudah cukup? 

Mari kita lihat lagi landasan hidup ini. Apa itu? Paduan iman dan amal saleh [imas]! Dengan kata lain, iman dan amal saleh tak dapat dipisahkan. Ia merupakan satu paket. Perbuatan boleh jadi baik, tetapi motif yang melandasinya buruk. Orang Jawa memberikan contoh tentang perbuatan baik tapi motifnya buruk, yaitu “tulung menthung”. Kelihatannya dia menolong seseorang, tetapi tujuannya untuk menjatuhkan orang yang ditolongnya itu. Seperti orang yang meminjami uang kepada seseorang, tetapi bunganya membuat orang itu semakin miskin.

Begitu pula iman yang tidak pernah diwujudkan dalam bentuk amal saleh, bukan iman namanya. Itu cuma kepercayaan! Iman tidak sama dengan kepercayaan. Kata “iman” memiliki unsur yang sama dengan “aman” dan “amin”. Yang diharapkan dari keimanan adalah rasa aman di dalam diri. Dan puncak dari keimanan adalah menemukan Allah! Buah dari haqqu l-yaqin adalah ma’rifatullah, mengenal Allah. Karena itu, pernyataan sufi adalah “Engkau tujuanku, dan keridhaan [kerelaan]-Mu yang aku cari”. Jadi, tujuan hidup itu sejalan dengan “inna li l-lahi wa inna ilaihi raji-‘un”

Pada bagian sebelumnya telah diterangkan bahwa kata ‘ridha’ yang biasa juga diterjemahkan menjadi ‘rela’, juga mempunyai arti pasrah atau berserah-diri. Ridha menjadi hamba Tuhan, berarti rela untuk melayani-Nya. Yang juga berarti ‘berserah diri’ kepada-Nya. Anda tentunya kenal dengan istilah “islam, iman, dan ihsan”. Secara mudahnya, ihsan adalah perbuatan yang lahir dari sikap merasa terus-menerus diawasi oleh Tuhan. Singkatnya, ihsan adalah perbuatan yang lahir dari kewaspadaan. Jika kita telah mampu melakukan ‘waskat’ [pengawasan melekat], maka kita memilih hidup ridha. Dan jiwa orang yang bersikap ridha ini disebut juga ‘jiwa muthma-innah’. Nah, di sini kita bertemu dengan ayat QS 89:27-30.
89:27 Hai jiwa yang damai,
28 kembalilah kepada Tuhan dikau dengan ridha dan diridhai.
29 Masuklah ke dalam hamba-hamba-Ku,
30 Dan masuklah ke dalam taman-Ku.
Inilah panggilan terhadap jiwa yang sudah damai, tenang. Ini bukan panggilan sesudah kiamat nanti. Tetapi sekarang! Pencarian Tuhan bukan setelah kita mati. Tetapi sekarang ini, ketika hayat masih dikandung badan. Ingat, Al Quran adalah pelita bagi orang yang hidup di dunia ini. Ia bukan petunjuk untuk hidup di akhirat nanti. Ia benar-benar petunjuk untuk manusia yang hidup di dunia ini, dan implikasinya di alam yang akan datang. Karena itu, jangan menunggu di sapa atau dipanggil Tuhan nanti setelah mati. Kita harus temukan Tuhan sekarang, di dunia ini. Anta maqshudi wa ridhaka mathlubi!

Di awal telah dijelaskan bahwa “dengan berzikir hati menjadi damai”. Bilamana hati kita telah damai, maka panggilan Tuhan itu akan terdengar semakin nyaring. Panggilan untuk kembali kepada-Nya dengan rela, dan akhirnya pun Tuhan merelai. Tuhan rela agar yang dipanggil itu masuk ke dalam komunitas hamba-hamba-Nya [jamaah pelayan-Nya]. Lalu, jiwa dituntun-Nya memasuki taman-Nya! Taman yang penuh kedamaian dan kekekalan. 

Nabi Isa as datang ke bumi bukan untuk dilayani, tetapi dia datang untuk melayani. Muhammad saw datang dengan memproklamirkan diri bahwa dia adalah hamba-Nya, ‘abduhu. Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, Muhammad hamba dan pesuruh-Nya. Baik Nabi Isa maupun Nabi Muhammad saw, tidak segan untuk memproklamirkan dirinya sebagai hamba, abdi, atau pelayan! Sekarang ini malahan kita tidak mau menjadi abdi.

Kita malah berebut menjadi majikan ‘agama’. Kita ingin agama kita paksakan untuk diterima oleh orang lain. Jadi, kita bukan datang untuk melayani orang sehingga orang pada tertarik kepada agama kita. Tetapi orang kita paksa untuk menerima syariat yang kita tawarkan. Kita lupa bahwa “la ik-raha fi d-din”, tidak ada paksaan dalam agama [QS 2:256]. Agama memang bukan untuk dipaksakan. Agama adalah nasihat, petuah. Agama adalah jalan yang benar! Sesuatu yang benar itu jelas batasnya dengan yang salah. Karena itu agama tak perlu dipaksakan. 

Sekarang ini banyak orang yang mencoba memaksakan agama. Ayat tersebut diberi footnote [catatan kaki]: tidak dipaksakan mengikuti agama, tetapi bila sudah menga-nutnya harus dipaksa melaksanakannya. Aha....., ini dia catatan yang melanggar makna kebebasan yang diberikan Tuhan. Padahal Nabi sendiri datang untuk menjadi abdi dan pesuruh-Nya. Sebagai abdi Nabi diperintah Tuhan untuk memberikan teladan yang luhur. Sebagai pesuruh Nabi diperintah untuk menebarkan rahmat, kasih-sayang. Biarkan orang meneladani beliau dengan sepenuh kesadarannya.

Ayat 2:256 itu sebenarnya mengajak manusia untuk bersikap ridha. Agar kita bisa memahami secara utuh ayat tersebut, saya cuplikkan ayat tersebut di bawah ini.
Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan kegelapan. Barangsiapa yang mengingkari ‘tagut’, dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang teguh pada tali yang kuat dan tak akan putus. Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
Mengapa agama tidak boleh dipaksakan? Agama adalah jalan! Jalan yang benar itu jelas bedanya dari yang salah, jalan kegelapan. Orang yang mengingkari tagut, hal-hal yang melampaui batas, dengan kata lain orang yang beramal saleh, dan beriman kepada Tuhan, maka dia sebenarnya telah berpegangan pada tali yang kuat, yang tak akan putus. ‘Tagut’ dari kata ‘thagha’, melampaui. Jadi, tagut adalah perbuatan atau tindakan yang melampaui batas. Juga biasa diterjemahkan ‘setan’

Jadi, kalau orang tidak memperturutkan hawa nafsunya, tidak berlebihan, tidak melampaui batas-batas kemanusiaan, tidak menyelewengkan amanat, tidak sewenang-wenang, tidak mau menang sendiri, tidak berbuat demi kepentingannya sendiri/kelompoknya; maka orang itu telah mengingkari tagut. Tak perlu lagi agama dipaksakan kepada-Nya.

Bagaimana kalau dia tidak menjalankan syariat? Bukankah dia harus dipaksa karena telah menerima Islam? Di sini kita harus hati-hati! Islam bukanlah sesuatu yang harus diterima atau tidak. Islam adalah jalan, penyerahan diri, submission. Ia diwujud-kan dengan cara mengingkari tagut dan beriman kepada Tuhan. Atau dengan kata lain, Islam diwujudkan melalaui iman dan amal saleh. Syariat adalah bentuk riyadhah atau training untuk mewujudkan iman dan amal saleh [imas] tadi. 

Karena ia merupakan program pelatihan, maka syariat tak pernah lepas dari pendapat ulama. Syariat yang dijalankan oleh warga NU ya mengikuti ulamanya. Muhammadiyah, Persis, Syi’ah dll juga begitu. Di dalam masyarakat Islam yang plural, pemaksaan syariat akan menimbulkan gaduh. Bahkan mungkin malah terjadi pertikaian. Masing-masing pihak akan mengklaim syariatnya yang benar! Kalau sudah demikian, syariat bukan lagi sebagai program pelatihan untuk hidup beragama, tetapi menjadi berhala. Tuhan telah disingkirkan, dan diganti dengan paksaan manusia. 

Sekali lagi, mari kita jadikan agama sebagai jalan, din, landasan untuk hidup kita. Agama bukan Tuhan, dan bukan pula suku atau kerangkeng kehidupan. Bila kita sudah mampu menempatkan agama sebagai jalan, maka ikatan emosional dengan agama akan hilang. Sehingga suatu peristiwa atau kejadian tidak dikaitkan dengan agama. Misalnya, kejadian yang menimpa WTC dan Pentagon, jangan dikaitkan dengan Islam. Itu semua akibat perseteruan antar manusia, karena mereka yang berseteru itu belum ridha menjadi manusia, hamba Tuhan. Kata arif dari Jawa, ‘manungsa iku manunggaling rasa’, manusia itu bila dapat menyatukan rasa sama-sama sebagai manusia. Sama-sama ridha sebagai manusia! 

Manusia harus banyak berzikir agar hatinya damai, pikirannya tenang. Dengan hati yang damai manusia akan ridha memenuhi panggilan Tuhannya. Nah, sebagai tips mari kita tingkatkan mutu zikir kita.
  1. Cari waktu yang sepi, misalnya bangun pagi sebelum masuk subuh.
  2. Duduk di tempat yang nyaman, dan lakukan duduk yang relaks.
  3. Lakukan istighfar [astaghfirullah] secukupnya, 3 atau 7 kali.
  4. Baca tasbih, tahmid, dan takbir.
  5. Pejamkan mata yang relaks.
  6. Ucapkan ya ilahi anta maqshudi.....
  7. Sekarang katupkan kedua bibir dengan ujung bawah lidah menempel ke langit-langit.
  8. Pusatkan perhatian pada kedua ujung lubang hidung sambil menarik napas, disertai ucapan dalam hati “la ilaha illa l-lah”, dan tahan sejenak di dalam perut Anda.
  9. Kemudian lepas pelan-pelan napas tersebut dibarengi ucapan tahlil dalam hati, dan kita awasi napas tersebut sampai ujung lubang hidung.
Lakukan tarik dan hembus napas itu minimal 17 kali. 

Artikel Terkait...!!!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Akhlak (18) Bibel (6) Dakwah (38) Hak Azazi Manusia (13) Islam (23) Jihad (17) Kristen (19) Liberalisme (46) Mualaf (9) Muslimah (15) Natal (2) Orientalis (8) Peradaban (42) Poligami (9) Politik (29) Ramadhan (10) Rasulullah (22) Ridha (4) Sejarah (38) Tasawuf (24) Tauhid (16) Tawakal (3) Teroris (11) Trinitas (8) Yahudi (35) Yesus Kristus (34) Zuhud (8)