Ridha Adalah Buah Dari Rasa Cinta Yang Paling Mulia


Kata ridha sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “rela”. Yang artinya berbuat atau bertindak dengan suka hati tanpa pamrih. Rela juga berarti dengan kemauan sendiri dan tanpa paksaan. Nah, ‘ridha’ sebenarnya memiliki makna yang lebih dalam daripada ‘rela’. Dengan kata lain, rela hanyalah bagian dari ‘ridha’. Walaupun dalam kamus bahasa Indonesia, kata ridha disamakan dengan rela.

Ridha [yang di dalam kamus ditulis juga ‘ridlo’] adalah suatu maqam, posisi, atau tingkatan dalam perjalanan spiritual (tasawuf). Mengapa oleh pakar atau ahli tasawuf ‘ridha’ tidak ditempatkan pada tangga pertama? Jika ridha menjadi tangga pertama, maka ia akan berkonotasi ‘tindakan yang dilakukan karena kekalahan’. Ridha bukan lagi sebagai perjuangan untuk mendaki dalam perjalanan spiritual, tetapi berserah diri karena suatu paksaan. Karena itu, orang yang ridha bukan orang yang berserah diri karena kekalahan, tetapi orang yang menang dan berserah diri.

Konteks ridha tidak dapat dipisahkan dengan ‘kecintaan kepada Allah’. Pada awal pelajaran tasawuf telah disampaikan makna dan perwujudan cinta, yang bersandar pada ayat 3:31, “Katakan [Muhammad] kepada mereka, ‘jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah (beritibaklah) kepadaku, niscaya Allah mencintai kalian dan menutupi dosa-dosa kalian. Sesungguhnya Allah itu Maha Pelindung dan Maha Penyayang.’” 

Sudah dijelaskan pula bahwa ‘mengikuti’ tidak sama dengan meniru atau taklid. Mengikuti berarti memperhatikan keteladanan yang ditampilkan oleh Rasul saw lalu diterapkan dalam kehidupan sehari. Bukan karena Rasul berjenggot dan bergamis, terus kita pun ikut berjenggot dan bergamis. Kalau itu, anak kecil pun dapat mengikutinya, tak perlu memahami ayat-ayat Al Quran. Padahal banyak ayat di dalam Al Quran yang memerintahkan kita untuk memperhatikan dan memahami ayat-ayat-Nya yang ada di dalam kitab-kitab-Nya maupun yang kauniyah, yang digelar oleh Tuhan di alam raya ini. Jadi, mengikuti Rasul tidak identik dengan meniru beliau.

Mengikuti keteladannya harus disertai dengan aktif berfikir dan berzikir. Orang Islam harus pandai menimbang bagaimana mengimplementasikan ajaran Islam dalam situasi dan kondisi yang ada sekarang berdasarkan teladan dari beliau. Sehingga orang yang mengikuti keteladanan beliau betul-betul hidup dalam ‘naungan’ Ilahi.

Dalam pandangan ahli makrifat, ridha adalah buah dari mahabbah, cinta, yang paling mulia. Apa sebabnya? Karena pecinta [orang yang sudah jatuh cinta] harus selalu merelakan apa yang diperbuat oleh kekasihnya. Dan ketahuilah, yang dicinta itu adalah Dia Yang Maha Agung, yang melindungi para pecintanya. Saya tidak menggunakan kata “pencinta”, tetapi “pecinta”

Pencinta adalah orang yang mencintai pada saat tertentu. Sedangkan ‘pecinta’ adalah orang yang betul-betul mencintai tanpa terikat oleh ruang dan waktu. Jadi, yang mendapat perlindungan dari Allah adalah para ‘pecinta-Nya’ dan bukan ‘pencinta-Nya’.

Dalam sebuah Hadis Qudsi disebutkan:
“Man lam yardha bi qadha-i wa lam yashbir ‘ala bala-i falyaltamis rabban siwaya.”
[Barangsiapa tidak rela terhadap ketetapan-Ku, niscaya dia tidak akan sabar terhadap ujian dari-Ku. Jika sudah begitu, biarlah dia mencari Tuhan selain Aku.]
Nah, ridha ternyata terkait dengan kerelaan untuk menerima “qadha” atau ketetapan Tuhan. Ketetapan yang mana? Bukankah Tuhan itu Maha adil? Tuhan jelas Maha Adil. Tetapi keadilan Tuhan tidak sewenang-wenang, atau bersifat zalim. Hal ini sudah disampaikan pada bagian yang lalu. Jadi, ketetapan yang harus kita terima dengan rela hati adalah ketetapan yang sudah kita setujui sebelum kita lahir.

Contohnya seperti apa ketetapan yang kita setujui sebelum kelahiran kita? Ya, kita dikandung oleh ibu yang melahirkan kita. Itu pilihan kita! Meskipun kita tidak mampu mengingatnya. Sehingga ada orang yang protes, ‘salahnya siapa mau melahirkanku, kan bukan aku yang minta dilahirkan’

Protes itu benar bagi orang-orang yang hanya mampu memahami kulit sebuah objek. Tetapi protes itu salah bagi mereka yang mampu memahami makna yang terkandung dalam suatu objek. Bagi anak kecil, suatu benda hanya dikenal kulitnya atau bentuk luarnya. Dia tidak mengerti bahwa suatu benda itu mengandung energi potensial dan energi kinetik jika bergerak.

Seperti yang telah diuraikan, seseorang tidak akan sabar terhadap sesuatu jika dia tidak mengerti rancangan atau program yang terkandung dalam sesuatu yang sedang dihadapinya itu. Sama halnya dengan kehidupan kita ini. Bila kita tidak memahami bahwa dahulu sebelum kita lahir ini sudah teken kontrak dengan Tuhan, kita pun tak akan rela dengan ketetapan yang ada. Dan akhirnya, kita pun tak akan sabar terhadap berbagai hal yang menimpa kita. Karena itu, disindir oleh Tuhan, “jika begitu yaa biar-lah dia mencari Tuhan selain Aku”.

Setiap manusia yang dilahirkan di dunia ini, sebenarnya sudah teken kontrak sebelumnya. Yaitu, di ‘alam nafs’ atau ‘alam jiwa’. Dalam kalimat Al Quran hal ini dinyatakan cukup sederhana, hanya dengan kalimat “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”

Di alam nyata, meskipun berupa alam nafsani, ya betul-betul suatu kerelaan untuk menempuh kehidupan di dunia ini dengan segenap pertanggungjawabannya. Namun hal ini tidak bisa saya ceritakan di tulisan ini. Mengapa sulit? Karena yang diceritakan ini sebuah kenyataan yang hanya bisa dialami.

Untuk memudahkan, saya berikan gambaran tentang keyakinan. Yang kita terapkan pada hal yang nyata. Telah kita ketahui bahwa ada tiga tingkatan keyakinan, yaitu, ilmu l-yaqin, ‘ainu l-yaqin, dan haqqu l-yaqin

Banyak orang yang secara teoritis hafal tahapan ini. Tetapi, bila diminta untuk menunjukkan perbedaannya dalam kehidupan sehari-hari, dia mengalami kesulitan. Hal ini terjadi, karena dia tidak memahami apa yang dimaksud dengan tahap ilmu, ‘ain, dan haq. Terutama, biasanya kesulitan membedakan antara yang ‘ain dengan yang haq

Nah, sekarang saya beri contohnya dalam kehidupan sehari-hari. 

Berdasarkan pengetahuan yang ada kita tahu adanya minuman kopi. Tetapi, berdasarkan pengetahuan semata-mata, kita dapat salah dalam memastikan suatu minuman itu kopi atau bukan. Nah, setelah kita meminumnya, kita bertambah yakin bahwa yang diminumnya itu kopi atau bukan. Pengalaman minum kopi ini disebut ‘ainul-yaqin

Hanya pernah minum kopi, dan tidak pernah menghayati dalam meminumnya, kita tidak akan mengetahui jenis kopi apa yang diminum itu. Kita pun tidak mengetahui kopi tersebut berasal dari daerah mana. Seseorang yang sudah dapat membedakan ini jenis robusta, atau arabika, dari Indonesia atau dari Afrika, maka dia disebut sudah ada di tahap haqqul-yaqin.

Hidup juga melalui tahapan demikian. Ketika kita mengetahui ayat-ayat Tuhan hanya karena diajar oleh orang lain, maka keyakinan kita baru pada tahap ‘ilmul-yaqinSetelah kita merasakan pahit getirnya hidup ini, maka kita masuk ke tahap ‘ainul-yaqin

Nah, apabila kita sudah sanggup mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada diri kita, kita bisa merasakan hal-hal yang terjadi pada diri kita, maka kita sebenarnya ada di tahap haqqul-yaqin. Masing-masing mempunyai jangkauan atau kedalaman tertertentu. Misalnya, ada orang yang tahu sedikit ilmu. Tetapi, ada pula orang yang tahu banyak ilmu. Selama belum merasakan atau mempraktikkan sendiri, kedua orang itu ada pada tahap yang sama, yaitu ilmul-yaqin.

Al-Quran memberitahu kita bahwa kita telah teken kontrak dengan Tuhan. Hal ini dikemukakan pada Surat Al-A’raf/7:172 dan Surat
Rum/30:30.
7:172 Dan ketika Tuhan dikau menjadikan lahirnya keturunan bani Adam, dari zuhur mereka, dan membuat persaksian atas diri mereka sendiri: “Bukankah Aku ini Tuhan kalian?” Mereka menjawab: “Ya, kami menyaksikan Engkau.” Kita semua bersaksi. [Persaksian itu dibuat] agar pada Hari Kiamat kalian tak berkata: “Sesungguhnya kami telah lalai tentang hal ini.”
7:173 Atau, kalian tak berkata: “Sesungguhnya orangtua-orangtua kami dulu juga menyekutukan Engkau. Sedangkan kami ini hanya mereka. Apakah Engkau membinasakan kami lantaran perbuatan [orangtua-orangtua kami] yang batil itu?”

30:30 Maka hadapkan wajah engkau kepada landasan yang benar. Allah telah menciptakan manusia berdasarkan fitrah. Tak ada perubahan dalam ciptaan Allah. Itulah landasan yang benar! Tetapi sebagian besar manusia tidak mengetahui.

30:31 [Hakikatnya] manusia kembali kepada-Nya. Karena itu, bertakwalah kepada-Nya, dan tegakkan salat dan jangan menjadi orang-orang musyrik.
30:40 Allah adalah Yang telah menciptakan kalian. Kemudian memberi kalian rezeki. Kemudian membuatmu mati. Kemudian membuatmu hidup lagi. Adakah sekutu kalian yang dapat berbuat sesuatu yang demikian ini? Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan.
Ayat pertama memberitahu kita bahwa sebelum manusia lahir, jiwa-jiwa mereka telah mengadakan persaksian dengan Tuhan. Kapan itu? Ketika jiwa-jiwa itu bangkit dari [jalur tulang] punggung. Dalam agama-agama India atau Cina, jalur tempat bangkit jiwa ini dikenal sebagai jalur “qi”, chi. Jalur ini memanjang dari tulang ekor hingga ubun-ubun. Bagi mereka yang menguasai pusat-pusat energi yang disebut “chakra”, maka tulang punggung [tulang belakang] adalah letak titikpusat-titikpusat chakra. 

Dari jalur itulah tumbuhnya kehidupan. Al-Quran hanya memberitahukan globalnya saja. Dan kitalah yang harus berusaha menyelaminya, sehingga kita mengerti peranan dari tulang punggung tersebut dalam kehidupan ini.

Tuhan membuat persaksian atas diri mereka, atas nafs-nafs mereka. Dengan kata lain, Tuhan membuat nafs manusia bersaksi atas dirinya ketika sudah bangkit dari tulang punggung kedua orangtua mereka, yaitu ketika embrio terbentuk. Nafs-nafs itu bersaksi, mengakui adanya Satu Kekuatan, yaitu Allah. 

Nafs-nafs itu bersaksi atas ketetapan yang harus mereka penuhi ketika sudah lahir sebagai manusia. Dan, kita semua, nafs-nafs dan Tuhan bersaksi atas ikrar tersebut. Untuk apa? Agar manusia tak melakukan pengingkaran terhadap kesaksian itu pada Hari Kebangkitan. 

Kalau Anda mencermati ayat berikutnya, tahulah Anda bahwa yang dimaksudkan dengan kata “Hari Kebangkitan” adalah saat bangkitnya kita di alam kematian. Ingatlah kembali Hadis Nabi, 
“Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan tidur, dan ketika mati sesungguhnya dia bangun.” Mari kita simak lagi Surat Qaf/50:22, “Sesungguhnya engkau telah melalaikan hal [kematian] ini. Kini Kami membuka tabir yang menutupi engkau, maka pada hari ini penglihatan engkau menjadi tajam.”
Ketika mati pandangan manusia menjadi tajam. Persaksian yang telah dibuat pada saat jiwa memasuki embrio tampak kembali. Manusia melihat dirinya sebagai pemain sandiwara dalam kehidupan ini. Jadi, manusia tak bisa mengelak lagi. Manusia tidak bisa menyandarkan perbuatannya pada orangtuanya. 

Dan ayat 7:173 menunjukkan dengan jelas bahwa peristiwa kebangkitan itu pada saat kematian. Perhatikan kalimat akhirnya, “apakah Engkau membinasakan kami lantaran perbuatan orangtua yang batil?” 

Kalau peristiwa ini terjadi setelah kiamat semesta, tentu saja ucapan ini menjadi berantai dari orang berdosa ke orangtua berdosa ke orangtuanya orangtua berdosa dan seterusnya tak ada akhir. Hal ini memang sulit sekali untuk diterangkan jika kita masih ada di tahap ‘ilmul-yaqin.

Ayat 30:30 mempertegas proses kehidupan manusia. Manusia diperintah untuk melihat landasan yang benar dalam kehidupan ini. Yaitu, landasan bagi penciptaan dirinya yang disebut ‘fitrah’. Ada kekeliruan dalam mengartikan ‘fitrah’. Seringkali fitrah diartikan “suci”

Fitrah diartikan sebagai kehidupan tanpa noda. Jika manusia semua lahir suci, tanpa noda, maka hasil yang diperoleh dari suatu pengaruh kehidupan yang sama, seharusnya sama. Misalnya, kalau ada seratus bayi, dididik dalam ruang yang sama dan cara yang sama, seharusnya hasilnya pun sama. Ini namanya suci! Jika hasilnya tidak sama berarti kualitas asalnya tidak sama. Wong perlakuannya sama kok hasilnya berbeda. Berarti bibitnya tidak sama kualitasnya.

Lalu apa fitrah itu? Fitrah berasal dari kata “fa-tha-ra”, yang artinya membuat sesuatu terjadi. Contohnya demikian, ada tepung terigu, gula, telor, air, soda, lalu kita campur dan kita lakukan adukan dan setelah dioven terbentuklah “roti”. Dengan bahan yang sama tetapi dengan komposisi kandungan yang berbeda, terjadilah roti yang berbeda. 

Nah, fitrah adalah sifat-sifat dasar yang dimiliki oleh komposisi bahan tadi. Dan bahan untuk penciptaan manusia tidak berubah. Yaitu, fisiknya terdiri dari tanah, air, udara, api dan cahaya. Kemudian dimasukkan nafs dan ruh kedalamnya. Nafs yang tekor energi metafisiknya [akibat hutang sebelumnya] bersaksi untuk memilih lahir di tengah-tengah keluarga miskin. Ingat, Tuhan tidak pernah menzalimi hamba-Nya! Dan, hal ini sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya.

Agar Anda tidak lupa, maka kembali ditampilkan kembali beberapa ayat yang jelas-jelas menyatakan bahwa Allah tidak menzalimi manusia. 
  1. Sesungguhnya Tuhan tidak berbuat zalim terhadap manusia sedikit pun, tetapi manusialah yang berbuat zalim terhadap dirinya [QS 10:44]. 
  2. Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seorang pun meskipun sebesar debu, dan jika ada kebaikan sebesar debu niscaya Dia melipatganda-kan dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya [QS 4:40]. 
  3. Dan Tuhan engkau tidak menganiaya seorang juapun [QS 18:49]. 
Jadi, jelas sekali yang menyebabkan seseorang itu lahir dalam kehidupan yang penuh kesusahan itu berasal dari dirinya sendiri. Justru Tuhan dengan kasih-Nya melipatgandakan kebaikan yang dilakukan oleh manusia. Tuhan tak pernah korup terhadap kebaikan manusia.

Lho, kalau kita pernah berbuat sebelum ini, mengapa kita tidak ingat? Justru manusia tidak ingat itu Tuhan memberi kabar tentang hal ini di 7:172-173. Dan tentu saja, meyakini kebenaran ayat tersebut baru pada tahap ‘ilmul-yaqin. Wong baru tahu karena membaca sendiri ayatnya atau diberi tahu orang lain. Dan, penutup ayat itu pun menyebutkan bahwa “sebagian besar manusia tidak mengetahui [tentang landasan penciptaan yang benar itu]”. Kalau masih pada tahap ‘ilmul-yaqin’, manusia sulit untuk bisa memasuki maqam ridha.

Kita sering mendengar orang yang mengatakan “semuanya ini takdir Tuhan”. Kaya atau miskin, selamat atau tertimpa musibah, semuanya merupakan takdir Tuhan. Manusia lupa bahwa Tuhan tidak berbuat zalim sedikit pun terhadap manusia. Ucapan tersebut lahir dari kekalahan manusia dalam menghadapi tantangan hidupnya. Akhirnya, Tuhan menjadi kambing hitam dalam kenestapaan hidup manusia. 

Manusia lupa bahwa Tuhan telah membuat semua organnya berfungsi dengan baik ketika dilahirkan. Manusia lupa bahwa lahir sebagai orang Indonesia, Cina, India, Arab, atau Barat, itu adalah pilihan hidupnya. Manusia lupa bahwa sambil menjalani peran hidupnya yang sudah dipersaksikan itu, seharusnya dia menyiapkan masa depannya, akhiratnya. Baik itu untuk dinikmati dalam kehidupan sekarang ini, maupun kehidupan nanti.!!

Nah, kita jangan mudah mengklaim bahwa apa yang terjadi pada kita adalah takdir Tuhan. Padahal itu semua adalah our destiny, takdir kita sendiri. Tuhan justru memfasilitasi kehidupan manusia, supaya ia dapat hidup sejahtera. Itulah sebabnya, disebutkan bahwa “kebaikan sebesar debu [zarah]” akan dilipatgandakan nilainya, dan mendapat pahala yang besar. Dan, sistem inilah yang disebut fitrah itu! Jadi, Tuhan tidak merugikan manusia walaupun sebesar debu. Tetapi, bila ada kebaikan, nilainya dilipatgandakan 10 kali lipat hingga 700 kali, tergantung kualitas perbuatannya.

Perhatikanlah ayat 30:31, dinyatakan dengan tegas bahwa hakikatnya manusia itu kembali kepada Allah, kembali kepada jalan Allah, jalan yang benar. Inilah jalan yang ditempuh manusia dari zaman ketika manusia belum bisa disebut manusia hingga jadi manusia Homo sapiens sapiens. Dan agar dapat kembali kepada-Nya manusia diperintah untuk selalu bertakwa, selalu memelihara dirinya di jalan yang benar. 

Manusia harus menegakkan salat, selalu berhubungan dengan Tuhan Yang Mahaesa, dan tidak menjadi manusia musyrik, manusia yang mementingkan egonya. Ingat, mengabdi kepada berhala? berupa apapun? adalah akibat manusia mementingkan egonya. Apa yang disebut ‘ibadah’ pun bisa menjadi berhala bila itu lahir dari dorongan hawa nafsu untuk dirinya sendiri, dan memutuskan hubungannya dengan lingkungannya [biotik dan abiotik, baik yang hidup maupun lingkungan bukan-hidup].

Manusia harus ingat siklus hidupnya! Ada kehidupan, ada kematian, dan kembali hidup lagi. Dengan adanya sistem rezeki yang dibuat Tuhan, manusia terfasilitasi untuk menempuh proses hidup dan mati hingga menemukan jalan Tuhan. Dengan proses hidup dan mati itu manusia mampu menapaki keyakinannya dari tingkatan ilmu hingga yang haq, hingga yang hakikat dalam hidup ini.

Jika kita belum bisa menapaki keyakinan hingga puncaknya maka kita masih mungkin mengalami hidup dalam kejiwaan yang terbelah. Di satu sisi, kita yakin akan adanya kehidupan di masa depan. Di sisi lain, kita berbuat zalim. Padahal Tuhan tidak akan mau menunjuki orang-orang yang berbuat kezaliman. Bahkan, jika kita melihat keadaan bangsa kita yang mudah diprovokasi, mudah terseret ke dalam krisis, gampang ikutan dalam beraksi negatif; menunjukkan kurangnya orang-orang kuat yang berada di maqam ridha. Padahal adanya elite-elite di maqam ini kita dambakan sekali, sehingga mereka betul-betul tanpa pamrih membangun negeri ini.

Artikel Terkait...!!!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Akhlak (18) Bibel (6) Dakwah (38) Hak Azazi Manusia (13) Islam (23) Jihad (17) Kristen (19) Liberalisme (46) Mualaf (9) Muslimah (15) Natal (1) Orientalis (8) Peradaban (42) Poligami (9) Politik (29) Ramadhan (10) Rasulullah (22) Ridha (4) Sejarah (38) Tasawuf (24) Tauhid (16) Tawakal (3) Teroris (11) Trinitas (8) Yahudi (35) Yesus Kristus (34) Zuhud (8)