Orientalism Dalam Oriental Studies



OrientalismePerbincangan tentang “Orientalisme” ini dengan mengambil kata-kata Edward Said dalam bukunya yang terkenal itu, iaitu “Orientalism” di mana beliau membuat kenyataan:

Americans will not feel quite the same about the Orient, which for them is much more likely to be associated very differently with the Far East (China and Japan, mainly). Unlike the Americans, the French and the British - less so the Germans, Russians, Spanish, Portuguese, Italians and Swiss - have had a long tradition of what I shall be calling Orientalism, a way of coming to terms with the Orient that is based on the Orient’s special place in European Western experience. The Orient is not only adjacent to Europe; it is also the place of Europe’s greatest and richest and oldest colonies, the source of its civilizations and languages, its cultural contestant, and one of its deepest and most recurring images of the Other. In addition, the Orient has helped to define Europe (or the West) as its contrasting image, idea, personality, experience. Yet, none of this Orient is merely imaginative. The Orient is an integral part of the European material civilization and culture. Orientalism expresses and represents that part culturally and even ideologically as a mode of discourse with supporting institutions, vocabulary, scholarship, imagery, doctrines, even colonial bureaucracies and colonial styles … 

It will be clear to the reader (and will become clearer still throughout the many pages that follow) that by Orientalism I mean several things, all of them, in my opinion, interdependent. The most readily accepted designation for Orientalism is an academic one, and indeed the label still serves in a number of academic institutions. Anyone who teaches, writes bout, or researches the Orient --- and this applies whether the person is an anthropologist, sociologist, historian, or philologist --- either in its specific or its general aspects, is an Orientalist, and what he is or she does is Orientalism. Compared with Oriental Studies or area studies, it is true that the term Orientalism is less preferred by specialists to-day, both because it is too vague and general, and because it connotes the high-handed executive attitude of the nineteenth century and early twentieth-century European colonialism. 

Related to this academic tradition, whose fortunes, transmigrations, specializations, and transmissions are in part the subject of his study, is a more general meaning for Orientalism. Orientalism is a style of thought based upon an ontological and epistemological distinction made between “the Orient” and (most of the time) “the Occident”. Thus, a very large mass of writers, among whom are poets, novelists, philosophers, political theorists, economists, and imperial administrators, have accepted the basic distinction between East and West as the starting point for elaborate theories, epics, hovels, social descriptions, and political accounts concerning the Orient, its people, customs, “mind”, “destiny”, and so on. This Orientalism can accommodate Aeschylus, say, and Victor Hugo, Dante and Karl Marx … 

The interchange between the academic and the more or less imaginative meanings of Orientalism is a constant one, and since the late eighteenth century there has been a considerable, quite disciplined - perhaps regulated - traffic between the two. Here I come to the third meaning of Orientalism, which is something more historically and materially defined than either of the other two. Taking the late eighteenth century as a very roughly defined starting point Orientalism can be discussed and analysed as the corporate institution for dealing with the Orient - dealing with it by making statements about it, authorizing views of it, describing it, by teaching it, settling it, ruling over it: in short, Orientalism as a Western style for dominating, restructuring, and having authority over the Orient. I have found it useful here to employ Michel Foucault’s notion of a discourse, as described by him in ‘The Archaeology of Knowledge’ and in ‘Discipline and Punish’ to identify Orientalism. My contentation is that without examining Orientalism as a discourse one cannot possibly understand the enormously systematic discipline by which European culture was able to manage - and even produce - the Orient politically, sociologically, militarily, ideologically, scientifically, and imaginatively during the post-Enlightenment period. Moreover, so authoritative a position did Orientalism have that I believe no one writing, thinking, or acting on the Orient could do so without taking account of the limitations on thought and action imposed by Orientalism. In brief, because of Orientalism the Orient was not (and is not) a free subject of thought or action. This is not to say that Orientalism unilaterally determines what can be said about the Orient, but that it is the whole network of interests inevitably brought to bear on (and therefore always involved in) any occasion when that peculiar entity ‘the Orient’ is in question. How this happens is what this book tries to demonstrate … 

Terjemahannya ialah: 

Orang-orang Amerika akan merasa tidak begitu sama terhadap Timur, yang bagi mereka adalah lebih berkemungkinannya berhubung secara berlainan sekali dengan Timur Jauh (terutamanya China, dan Jepun). Berbeda sekali daripada Orang-orang Amerika, Orang-orang Perancis dan Inggeris - berkurangan lagi Orang-orang Jerman, Russia, Sepanyol, Portugis, Itali dan Swis, - mereka ada mempunyai tradisi yang lama tentang apa yang saya akan sebutkan sebagai Orientalisme, (yaitu) sesuatu cara berhubungan dengan Alam Timur berdasarkan kepada kedudukan Timur itu sendiri dengan kedudukannya yang istimewa dalam pengalaman Orang Barat. Dunia Timur bukan saja bertetangga dekat dengan Eropah, ia juga berupa tempat bagi tanah-tanah jajajahan Eropah yang terbesar, terkaya dan tertua, berupa sumber bagi peradaban-peradaban dan bahasa-bahasanya, sebagai pesaing budayanya, dan satu daripada wajah-wajah yang paling mendalam dan berulang-ulang untuknya berkenaan dengan Pihak Lain itu. Tambahan lagi, Dunia Timur membantu untuk memberi takrifan bagi Eropah (atau Barat) sebagai wajah yang bertentangan dengannya, sebagai idea, keperibadian, pengalaman. Tetapi tidak ada daripada Dunia timur segi ini adalah berupa khayalan semata. Dunia Timur adalah sebahagian yang tidak terpisah daripada peradaban dan kebudayaan kebendaan Eropah. Orientalisme mengungkapkan dan mewakili bahagian itu secara budaya bahkan secara ideologi sebagai cara-cara berwacana dengan institusi-institusi sokongannya, peristilahan, dan kesarjanaan, imageri, doktrin-oktrin, bahkan birokrasi-birokrasi penjajahan dan stailnya … 

Akan menjadi jelas kepada para pembaca (dan ini akan menjadi lebih jelas lagi dalam keseluruhan halaman-halaman yang banyak yang berikutnya) bahwa yang saya maksudkan Orientalisme adalah beberapa perkara, yang pada saya semuanya saling kait-mengait antara satu sama lainnya. Makna yang paling diterima dengan senang Orientalisme ialah segi akademiknya, dan sesungguhnya panggilan itu masih digunakan dalam beberapa institusi akademik. Sesiapa yang mengajar, menulis, membuat penyelidikan, tentang Dunia Timur - dan ini termasuk juga maksudnya samada ada seseorang itu ahli anthropologi, sosiologi, sejarawan, atau ahli filologi, - samada dalam bentuknya yang spesifik atau yang am, ia adalah seorang Orientalis, dan apa yang dilakukannya adalah Orientalisme. Berbanding dengan Pengajian-pengajian Timur, atau pengajian-pengajian lapangan (“Oriental studies or area studies”) adalah benar bahawa Orientalisme kurang digemari oleh para spesialis hari ini, kedua-duanya kerana ia terlalu kabur dan am dan kerana ia memberi arti sikap memaksa pegawai eksekutif abad ke 19 dan awal abad ke-20 kolonialisme Eropah. 

Berkait dengan tradisi akademik ini, yang nasibnya, perpindahan-perpindahannya, dan spesialisasi-spesialisasinya, dan transmisinya adalah pada bahagianya tertentu berupa perkara bagi kajian ini, adalah maksud yang lebih am lagi bagi istlah Orientalisme ini. Orientalisme adalah stail pemikiran berdasarkan kepada perbedaan ontologi dan epistemologi (yaitu perbedaan segi keadaan hakiki dan fahaman tentang ilmu) yang dibuat antara "Alam Timur” (pada kebanyakannya) dengan “Dunia Barat” (“Occident”). Dengan itu maka sangat banyaklah himpunan para penulis, antara mereka itu penyair, novelis, ahli falsafah, ahli-ahli teori politik, ekonomi, dan para pentadbir negeri jajahan, yang menerima pembedaan yang asasi antara Timur dengan Barat sebagai titik permulaan bagi teori-teori yang lanjut, epik-epik, novel-novel, gambaran-gambaran hidup sosial, dan huraian-huraian yang bersifat politik, berkenaan dengan Dunia Timur, tentang para penduduknya, adat kebiasaannya, “minda”, nasib terakhir, dan seterusnya. Orientalisme ini boleh memasukkan ke dalamnya katakanlah Aeschylus, dan Victor Hugo, Dante dan Karl Marx… 

Saling tukar menukar antara makna akademik dan yang lebih kurangnya bersifat imaginatif tentang makna Orientalisme ini berlaku dengan kerapnya, dan semenjak lewat abad ke-18 Masihi ada terdapat perhubungan yang agak berdisiplin, bahkan yang disusun dengan teratur, antara keduanya itu. Di sini saya datang kepada makna ketiga Orientalisme, yaitu sesuatu yang dari segi sejarahnya dan kebendaannya lebih ditakrifkan dengan baik, daripada yang dua takrif sebelum ini. Dengan mengambil lewat abad ke-18 Masihi sebagai titik permulaan secara kasarnya Orientalisme boleh dibincangkan dan dianalisis sebagai institusi korporat bagi berbicara berkenaan dengan Dunia Timur - berbicara dengannya dengan membuat kenyataan-kenyataan tentangnya, menjadi pengarang mengeluarkan pendapat-pendapat tentangnya, memberi gambaran tentangnya, membuat penyelesaian tentangnya, membuat keputusan peraturan tentangnya: ringkasnya, Orientalisme adalah stail Barat bagi mendominasi, merekonstruksi, dan memiliki otoritas ke atas Dunia Timur. Saya dapati di sini adalah berguna bagi kita menggunakan kosep Michel Foucault tentang wacana, sebagaimana yang digambarkan olehnya dalam buku “The Archaeology of Knowledge”, dan dalam bukunya “Discipline and Punish”, bagi mengenali takrifan Orientalisme. Hujah saya ialah tanpa meneliti Orientalisme sebagai wacana seseorang tidak mungkin memahami disiplin yang terlalu amat sistematis sekali itu yang dengannya budaya Eropah berjaya untuk menangani –bahkan menghasilkan - Dunia Timur secara politik, sosiologi, militari, ideologi, saintifik, dan secara imaginatif, dalam masa pasca-Pencerahan (“post-Enlightenment”). Lebih lagi dari itu, menjadi sedemikian berotoritasnya kedudukan Orientalisme itu sehingga saya percaya bahawa tidak ada seorangpun yang menulis, berfikir, atau bertindak berhubung dengan Dunia Timur, boleh melakukan semua itu, tanpa mengambil kira tentang batasan-batasan atas pemikiran dan tindakan yang ditekankan oleh Orientalisme. Ringkasnya, oleh kerana Orientalismelah maka Dunia Timur telah tidak (dan masih tidak) berupa subjek bebas segi pemikiran dan tindakan. Ini bukanlah kita mengatakan bahawa Orientalisme menentukan secara unilateral apa yang boleh dinyatakan tentang Dunia Timur, tetapi maksudnya keseluruhan rangkaian kepentingan secara mestinya mendatangkan kesan (dan oleh itu selalu terlibat di dalamnya) dalam mana-mana keadaan bila entiti khas “Dunia Timur” itu menjadi persoalan. Bagaimana ini boleh berlaku, inilah yang cuba dibuktikan oleh buku ini… 

Tiga Orientalisme: 

Pengajian yang disebut sebagai Oriental Studies atau Pengajian Ilmu-ilmu Timur merupakan pengajian yanmg terhimpun di dalamnya beberapa bidang kajian termasuk filologi, linguistik, ethnografi, dan penafsiran budaya melalui penemuan, penemuan kembali, himpunan, dan penterjemahan teks-teks Dunia Timur. (Ke dalam bidang ini termasuklah pengajian Islam sebagaimana yang dikembang dan dilaksanakan oleh para Orientalis)

Dalam perbincangan Edward Said, yang ditumpukan ialah bagaimana para Orientalis Inggeris, Francis, dan Amerika membuat pendekatan mereka terhadap masyarakat-masyarakat Arab di Afrika Utara, dan Timur Tengah. Para sarjana yang mengulas pengajian tentang pengajian Hebrew, Parsi, Turki dan India tidak dibicarakan, dan demikian juga tidak disentuh sikap Orientalis Jerman, Russia, Itali, Sepanyol dan Portugis. Ruang lingkup yang beliau ambil adalah dengan mengambil kira sastera, buku catitan perjalanan, kajian-kajian keagamaan,dan falsafah, yang melahirkan perspektif yang luas segi sejarah dan perspektif anthropologinya. 

Dalam buku Edward Said yang penting di atas kita dapati tiga kenyataan besar yang dibuat yang pada penulis ini patut diberi pertimbangan yang serius. Kenyataan-kenyataan itu adalah seperti berikut: 

Pertama, bahawa Orientalisme walaupun ia mengaku hendak bersikap objektif dan tidak berkepentingan, sebenarnya ia berkhidmat untuk matlamat-matlamat politik Barat. Dengan itu maka kesarjanaan barat berhubungan dengan Dunia Timur memberi jalan dan menjadi alat yang dengannya orang-orang Eropah boleh mengambil bumi negeri-negeri Timur, termasuklah, sudah tentu negeri-negeri Islam. 

Pemerintahan kolonial disahkan terlebih dahulu oleh Orientalisme, bukan sangat selepas daripada berlakunya. Kata-kata Lord Curzon, Viceroy bagi India, bersetuju bahawa hasil kesarjanaan itu “our familiriaty, not merely with the languages of the people of the East but with their customs, their feelings, their traditions, their history, and religion (had provided) … the sole basis upon which we are likely to be able to maintain in the future the position we have won” - “pengetahuan kita, bukan hanya tentang bahasa-bahasa Orang-orang Timur, bahkan adat kebiasaan mereka, perasaan mereka, tradisi-tradisi mereka, sejarah mereka, dan agama mereka. (ini memberi) .. asas satu-satunya bagi kita yang dengannya kita mampu untuk meneruskan pada masa akan datang kedudukan yang kita mencapai kemenangan mendapatkannya”. 

Dalam lewat abad ke-20 bidang pengajian ini membantu dalam mengekalkan kuasa Amerika di Timur Tengah dan mempertahankan apa yang disebut oleh Said sebagai “the Zionist invasion and the colonization of Palestine” - “serangan Zionist dan penjajahan Palestin”. Dan tentang senario kini, pusat-pusat akademik Amerika adalah lebih berminat untuk memberi nasihat secara langsung kepada pemerintah tentang polisi awamnya. Secara menyeluruhnya Edward Said mengakui bahawa usahanya menunjukkan “metamorphosis of a relatively innocuous philological speciality into a capacity for managing political movements, administering colonies, making nearly apocalyptic statements representing the White Man’s difficult civilizing mission” - “penjelmaan pengkhususan filologi yang secara relatif nampaknya tidak menarik itu menjadi berubah kepada kemampuan untuk mengurus gerakan-gerakan politik, memerintah negeri-negeri di bawah jajahan, membuat kenyataan-kenyataan yang menentukan nasib mewakili matlamat yang sangat sukar, memberi peradaban (kepada Orang Timur) oleh Orang Kulit Putih”. 

Kedua. Said mengakui bahawa Orientalisme membantu dalam memberi takrifan kepada wajah diri Eropah itu sendiri. Katanya “… It has less to do with the Orient than it does with ‘our’ world” - “… ia kurang berhubung dengan Dunia Timur itu sendiri daripada ianya berhubung dengan dunia ‘kita’... ”. Pada Said, pembentukan jatidiri atau “identity” dalam setiap zaman dan masyarakat adalah dengan melibatkan pembentukan “pihak lain” (‘the other’), atau “mereka itu” atau “pihak lain itu”. Ini berlaku kerana “the development and maintenance of every culture require the existence of another different and competing alter ego” -“perkembangan dan penerusan setiap budaya menuntut kewujudan sesuatu alter ego (atau diri yang lain yang berlawanan dengannya) yang berlainan dan bersaingan dengannya”. Maka Orientalisme memandang kebudayaan Islam sebagai statis dari segi masa dan tempatnya, sebagai “abadi, seragam, dan tanpa mempunyai kemampuan untuk memberi takrifan dirinya” - “eternal, uniform, and incapable of defining itself”. Ini memberi kepada Eropah sesuatu kesedaran tentang superioritinya dari segi budaya dan intelektuil. Dengan itu Eropah memandang dirinya sebagai dinamis, inovatif, dan budaya yang berkembang maju, dan menjadi sebagai “penyaksi, hakim dan juri bagi setiap segi perbuatan Dunia Timur”. Ini menjadi sebahagian daripada kebanggaannya sebagai kuasa penakluk. Dalam tahun 1810 penulis Francis Chateaubriand mengajak Eropah mengajar Orang Timur makna kebebasan, yang beliau, dan setiap orang kemudian daripadanya mempercayai bahawa Orang-orang Timur tidak mengetahui apa-apa tentangnya. Dengan itu maka Said berpendapat bahawa kata-kata demikian memberi alasan kepada imperialisme Barat yang boleh ditafsirkan oleh mereka yang melakukannya bukannya sebagai penaklukan tetapi penyelamatan bagi dunia yang rosak. 

Ketiga. Said berhujah bahawa Orientalisme memberi gambaran yang palsu tentang Orang-orang Arab dan agama Islam itu sendiri. Ini boleh berlaku kerana “essentialist nature” dalam usaha yang dilakukan itu - yaitu kepercayaan bahawa adalah mungkin untuk ditakrifkan ciri-ciri asasi (“essential qualities”) Orang-orang Arab dan juga kebudayaan Islam, dan ciri-ciri ini dilihat rata-rata dalam bentuknya yang negatif. Maka Dunia Timur dipandang sebagai tempat yang terpencil daripada arus perdana kemajuan manusiawi dalam bidang sains, sastera, dan perdagangan. Dengan itu maka terserlahlah “sifat sesualitinya, kecenderungannya kepada pemerintahan secara raja berkuasa mutlak (“tendency to despotism”), mentalitinya yang mengembara tidak menentu (“aberrant mentality”), tabiatnya tidak tepat, keadaannya terkebelakang”. Tanggapan Barat tentang Orang Islam menderita tidak berkembang adalah tidak benar, dan ini kenyataan yang mengkebelakangkan kenyataan-kenyataan mutakhir seperti pengalaman penjajahan, imperialisme, dan politik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Akhlak (18) Bibel (6) Dakwah (38) Hak Azazi Manusia (13) Islam (23) Jihad (17) Kristen (19) Liberalisme (46) Mualaf (9) Muslimah (15) Natal (2) Orientalis (8) Peradaban (42) Poligami (9) Politik (29) Ramadhan (10) Rasulullah (22) Ridha (4) Sejarah (38) Tasawuf (24) Tauhid (16) Tawakal (3) Teroris (12) Trinitas (8) Yahudi (36) Yesus Kristus (34) Zuhud (8)