Mengenal Dukun Berlabel Ustadz



Awas, Dukun Berkedok Ustadz! Sekarang dukun dengan embel-embel “ustadz” di depan namanya tambah mewabah. Bahkan mereka tampil di sejumlah stasiun televisi. Menggunakan nama “Ustadz” di depan namanya, padahal dukun penipu tulen. Setiap ada pasien yang datang selalu dikatakan kena sihir dan wajib dibekam. Ketika dibekam setiap pasien keluar benda-benda sihir (padahal trik sulap). Terapinya pun tidak murni membaca Al-Qu’an, melainkan hanya diberi banyak benda-benda yang harus dibawa pulang.

Tak sedikit pula dukun yang menyebut terapi ruqyahnya dengan ditambahi kata syar’i. Supaya dianggap terapi ruqyahnya sesuai dengan syariah. Meskipun ada di antaranya yang mendekati kebenaran, tapi hati-hati, kebanyakan adalah dukun berkedok ustadz. Dan, sudah tak aneh lagi jika banyak stasiun TV yang menanggap mereka. Kasihan umat ini, disuguhi tontonan yang bukan tuntunan.

Berikut adalah kesaksian para pasien yang tertipu, yang pengobatannya diliput secara khusus oleh televisi, dimana korban penipuan dan pengerukan uang ini akhirnya kapok “berobat” ke tempat sang “ustadz”. (Pada beberapa bagian pengantar dan kesaksian ini kami edit seperlunya).

Kesaksian Pertama:

Ane (saya, red) cuma mau sharing pengalaman berobat di pengobatan seorang “ustadz” (yang rutin tampil di sebuah stasisun televisi). Ini benar-benar saya rasakan dan alami, kakak ane sakit sudah 3 tahun, sudah berobat banyak, ke dokter dan pengobatan alternatif.

Ane dan keluarga berikhtiar berobat ke sana (masih di Jakarta). Pas datang, di sana diterima oleh satpammya dan langsung menunjuk pihak manajemennya. Di sana ditanya mau berobat GRATIS (tiap malam Jumat ikut dzikir akbar) atau yang PAKET (bayar), paket kisaran mulai dari 999 ribu sampai 6,9 juta rupiah.

Kita bersepakat dengan keluarga memilih paket. Saat dipriksa penyakitnya, kata “ustadz”, penyakitnya berat dan ada yang ngirim dari orang lain, kemudian diminta uang paket 6,9 juta rupiah. Karena cuma bawa 1 juta, ane pulang dulu ambil sisanya.

Setelah datang lagi, malah diminta 7 juta, berarti total 8 juta rupiah. Kami nurut aja. Katanya, penyakitnya berat, kemudian diminta lagi 500 ribu (ane sudah mulai curiga). Pengobatannya, kakak ane dikasih ramuan-ramuan herbal di botol (yang ane sudah tahu, itu jamu widoroputih, banyak dijual di tukang jamu), air yang telah dikasih doa, garam, kelapa ijo, kurma, telur, kemudian dibekam keluar batu sebesar kerikil (saat itu ane gak lihat, karena nunggu di luar).

Hari kedua keluar logam tipis sepeti emping tapi kecil. Hari ketiga keluar seperti kawat kail pancingan. Metode bekamnya, pasien oleh asisten sang “ustadz’ dari depan diberi energi, terus di belakang dibekam, darah bekamnya dilap dengan kapas yang selanjutnya bersamaan keluar benda-benda tersebut.

Asisten yang memberi energi sambil memegang kabel trafo yang dialiri listrik kakinya pakai sendal jepit (ya, jelas aja dapat energi, kita jadi kena setrum). Pasien dan pengantar pasien gak boleh pakai sandal. Pasien dan pengantar berpegangan, kemudian disentuh oleh aliran listik dari tangannya, tempat eksekusi bekam dan transfer “energi” di dapur yang ditutupi hordeng cuma kaki yang terlihat oleh pasien yang lain.

Oh iya, asisiten sang “ustadz” berkali-kali minta tidak boleh menceritakan penyakitnya gimana, yang ditemukan di penyakitnya juga gak boleh diceritakan. Katanya, “aib”.

Saat pengobatan ke-3, pas malam minggu pasien masih banyak menunggu untuk diobati. Tiba-tiba jam 9-an malam istri “ustadz” menjemput. Dengan tak ada rasa penyesalan meninggalkan pasien yang masih banyak menunggu , si “ustadz” hanya berkata sambil bergurau, “Saya mau pergi malam mingguan sama istri saya ya…”

Sungguh hebat sekali. Pasien yang sudah menunggu dari siang ditinggal begitu saja. Pasien-pasien pun pulang dengan menyimpan rasa kecewa sendiri-sendiri, tetapi gak diungkapkan dengan verbal ke sesama pasien.

Puncaknya di hari dimana kami memutuskan untuk menyudahi pengobatan tersebut. Kami datang dari siang dan menunggu sampai malam. Saat itu malam Jumat,sekitar jam 9-an malam juga, seorang “habib” datang masuk ke ruang pengobatan membawa pasien bawaannya, entah keluarga atau kerabatnya, yang seenaknnya menyelak antrian pasien yang telah menunggu lama.

Pas jam 9.30-an (malam) asisten “ustadz” menyuruh pasien-pasien pulang dan datang lagi nanti setelah hari libur dan akan dihubungi lagi. Kecewa sungguh kecewa. Kami memutuskan untuk selesai sepihak saja.

Yang mesti digarisbawahi dan disimpulkan, banyak pasien yang sudah lebih dari 10 kali berobat tidak ada perubahan. Diketahui setelah bertanya-tanya sesama pasien yang tadinya tidak mau cerita akhirnya cerita juga.

Kemudian yang menambah keyakinan akan keraguan dari pengobatan sang ‘ustadz’, kami mendengar sendiri dari tetangga ane, dia seorang supir yang dahulu sering mengantarkan majikannya berobat sudah lebih dari 10 kali dan sudah KELUAR BANYAK UANG tetapi TIDAK ADA PERUBAHAN PADA PENYAKITNYA. Ane nganter berobat (kakak) 5kali, juga gak ada perubahan.

Semoga sharing cerita ane sebagai renungan dan introspeksi. Untuk berobat itu yang lebih mujarab meminta langsung ke Yang Maha Mengobati Allah SWT.Kini pertanyaannya, apakah pengobatan alternatif itu harus berorientasikan ke UANG? Bagaimana dengan orang yang tidak mampu berobat? Hanya Allah yang Maha Mengetahui segalanya…

Kesaksian Kedua:

Ini adalah sebuah pengalaman yang benar-benar terjadi pada seorang teman saya dari Kalimantan ketika berobat pada seorang “ustadz” di Jakarta.

Namanya sang “ustadz” cukup terkenal. Kejadiannya sekitar setahun yang lalu. Berbekal informasi dari iklan di layar TV, maka kami sekeluarga (berlima, termasuk ibu saya) berangkat ke Jakarta untuk menemani adik perempuan saya berobat.

Sehari setelah tiba di Jakarta, dengan menyewa mobil carteran, kami melacak alamat tersebut. Beruntung supir yang kami pakai cukup paham Jakarta, sehingga tidak terlalu sulit menuju lokasi yang dimaksud.

Singkat cerita, sampailah kami di padepokan “ustadz” tersebut. Dua wanita penjaga meja pendaftar menyambut kami dengan ramah. Kecurigaan saya mulai muncul saat menanyakan tarif/biaya berobat. Penerima pendaftaran tersebut tidak mau memberikan penjelasan yang transparan mengenai tarifnya.Kami hanya disuruh membayar biaya pendaftaran sekitar Rp 350.000, dan urusan biaya berobat akan diberitahukan setelah terapi selesai dilakukan.

Setelah shalat zuhur (tapi saya bertanya-tanya, kok kebanyakan pegawainya tidak bergegas untuk shalat juga ya???) kami dipersilakan untuk memasuki ruang terapi pengobatan. Di ruangan tersebut telah menunggu kami beberapa orang asisten “ustadz” (kalau tidak salah ingat, 3 orang laki-laki dan 2 orang wanita). Kembali saya bertanya-tanya, kok wanita bercampur-baur dengan laki-laki ya? Namun tanda tanya tersebut, saya tepis, “Oh mungkin mereka saudara kandung atau suami istri yang tentu saja sudah menjadi mahram.”

Sebelum mereka melakukan pengobatan, sikap kehati-hatian saya kembali muncul. Tarif/biaya pengobatan kembali saya tanyakan, namun jawaban yang saya dapatkan tetap sama seperti saat di meja pendaftaran tadi, “Nanti Mas setelah pengobatan selesai.”

Saya tetap ngotot mengatakan bahwa kami perlu transparansi biaya untuk menyesuaikan dengan kantong/kemampuan kami. Namun jawabannya tetap sama.Akhirnya saya mengalah setelah kakak saya mencolek pinggang saya sebagai isyarat untuk mengikuti saja prosedur mereka.

Singkat cerita, pengobatan pun selesai, secarik kertas kami terima… Alamaaak… Saya terperanjat demi melihat angka-angka yang tertera di secarik kertas tersebut: Rp 9.900.000 adalah harga yang harus kami bayar untuk pengobatan singkat tersebut. Modalnya haya 6 butir telur mentah yang entah bagaimana caranya di dalam telur tersebut setelah dipecahkan terdapat rambut-rambut kaku yang mereka diagnosis sebagai “hasil perbuatan” orang yang ingin “mencelakai” adik perempuan saya.

Saya ungkapkan keberatan dengan dalih bahwa kami tidak diberi penjelasan sebelumnya kalau harga yang ditetapkan akan semahal itu. Mereka lalu memberi alasan, karena penyakit adik saya sangat berat dan dilakukan oleh orang-orang dari suku Kalimantan yang sangat terkenal ilmu hitamnya. (Ada-ada aja pikir saya, apakah kalau saya tidak jujur mengatakan bahwa kami dari kalimantan, mereka tetap mengatakan hal yang sama?).

Tak kehabisan ide, saya beri mereka penjelasan lagi, bahwa meskipun kami dari Kalimantan, belum tentu kami adalah orang kaya. Namun mereka tetap bersikukuh bahwa biaya tersebut harus segera kami bayar jika adik kami ingin sembuh. Bahkan trik saya berikutnya yang mencoba untuk “ngeles” dengan mengatakan kami cuma membawa uang 5 juta saat itu, namun mereka lebih cerdas lagi, dengan mengatakan sebaiknya ada salah seorang dari kami untuk mengambil uang di ATM untuk membayar sisanya.

Na’uudzubillah…ini benar-benar praktik pemerasan. Jargon “menolong sesama” rupanya hanya isapan jempol belaka. (Belum lagi penyakit tetap bersemayam alias tak ada perubahan).

Waspada, BANYAK USTADZ palsu berkeliaran …! Dengan kata lain, dukun berkedok Ustadz! Embel-embel Ustadz di depan namanya, supaya publik percaya! 
(metafisis.wordpress/salam-online)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Akhlak (18) Bibel (6) Dakwah (38) Hak Azazi Manusia (13) Islam (23) Jihad (17) Kristen (19) Liberalisme (46) Mualaf (9) Muslimah (15) Natal (2) Orientalis (8) Peradaban (42) Poligami (9) Politik (29) Ramadhan (10) Rasulullah (22) Ridha (4) Sejarah (38) Tasawuf (24) Tauhid (16) Tawakal (3) Teroris (12) Trinitas (8) Yahudi (36) Yesus Kristus (34) Zuhud (8)