Peran Istri Pilatus Dalam Penyaliban Yesus Kristus






Penetapan tanggal dan waktu Peristiwa Penyaliban Yesus oleh Pilatus untuk pelaksanaan Penyaliban. Bahkan sebelum dia menetapkan tanggal dan waktu, kita membaca hal-hal lain yang– seseorang seharusnya tidak terkejut untuk mempercayainya– telah memainkan suatu peran penting berkaitan dengan keputusan akhir yang dia buat. Pertama-tama, kita semua tahu, berdasarkan Perjanjian Baru bahwa isteri Pilatus sangat menentang suaminya memberikan keputusan yang memberatkan Yesus akibat sebuah mimpi yang dia lihat pada malam sebelum pengadilan Yesus.

Ia sangat ketakutan karena mimpi itu yang membuatnya percaya bahwa Yesus benar-benar tidak berdosa, sehingga dia merasa wajib untuk turut campur dalam proses pengadilan guna menyampaikan pesan mimpi itu kepada suaminya. ( Matius 27: 19 ) Tampaknya itu merupakan pernyataan penting yang dilakukan isterinya sehingga Pilatus menampakkan sikap ketidak - terlibatannya dalam tanggung jawab penghukuman Yesus :
Ketika Pilatus melihat bahwa segala usahanya sia-sia, malah sudah timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak, dan berkata : "Aku tidak bersalah atas darah orang ini; itu adalah urusan kamu sendiri!" (Matius 27:24)
Hal ini menggenapi sebuah pengakuan di pihaknya bahwa Yesus benar-benar tidak berdosa dan bahwa keputusan keji yang telah dia lakukan adalah di bawah paksaan. Dan Perjanjian Baru cukup jelas bahwa masyarakat Yahudi yang sangat berpengaruh telah berkomplot melawan Yesus dan bermaksud menghukum beliau. Sehingga, keputusan apa pun dari Pilatus yang bertentangan dengan kehendak warga Yahudi akan berakibat kacaunya situasi hukum dan ketertiban. Inilah keterpaksaan yang dihadapi Pilatus sehingga membuatnya tidak berdaya dan hal itu dia tampilkan dalam sikap membasuh tangan. Pilatus juga telah melakukan upaya lain untuk menyelamatkan Yesus. Dia memberikan pilihan kepada khalayak, yakni apakah menyelamatkan hidup Yesus, atau penjahat terkenal yang bernama Barabas ( Matius 27: 15-17 )

Hal ini memberikan petunjuk penting mengenai pertimbangan pikiran Pilatus saat itu. Dia secara cukup nyata menentang penghukuman Yesus. Dalam kondisi perasaan demikianlah dia telah menetapkan hari Jumat petang sebagai hari dan waktu bagi pelaksanaan hukuman. Yang benar-benar telah terjadi, merupakan indikasi jelas bahwa hal itu dia lakukan dengan sengaja, sebab hari Sabat tidak terlalu jauh dari hari Jumat petang, dan dia sebagai petugas hukum, lebih tahu dari siapa pun bahwa sebelum hari Sabat bermula dengan tenggelamnya matahari, tubuh Yesus akan diturunkan; dan itulah yang benar-benar telah terjadi. 

Hal yang secara normal membutuhkan waktu kurang lebih tiga hari tiga malam untuk akhirnya mengakibatkan kematian aniaya terhadap seorang terhukum, telah diterapkan kepada Yesus hanya beberapa jam saja. Orang heran, hal itu tidak mungkin untuk benar-benar membunuh seorang laki-laki seperti Yesus yang kehidupan kerasnya telah membuat fisik beliau kuat.

Dapatkah peristiwa ini menjadi sebuah kunci pemecahan bagi teka-teki [tanda] Nabi Yunus? Sebagaimana kebiasaan umum saat itu, yakni menggantung seorang terhukum di tiang salib selama tiga hari tiga malam, hal ini dapat menimbulkan dalam benak seseorang tentang persamaan antara Yesus dan Yunus, sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Nabi Yunus juga diperkirakan telah bertahan dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam. Mungkin beliau juga telah diselamatkan hidup-hidup oleh rencana Ilahi dalam tempo tiga jam, bukannya tiga hari. Jadi, apa yang telah terjadi dalam kasus Yesus menjadi cermin yang merefleksikan dan memutar ulang drama tragis yang dialami Nabi Yunus.

Sekarang mari kita kembali pada kejadian-kejadian selama Penyaliban. Bahkan pada saat terakhir Yesus tetap teguh dalam pernyataan beliau: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Sungguh tragis hal itu, dan betapa pedihnya ungkapan kekecewaan beliau. Pernyataan itu secara halus menunjuk pada beberapa janji dan kepastian terdahulu yang tentunya telah diberikan Tuhan kepada beliau; jika tidak, tidak ada makna yang dapat terbaca dalam pemyataan tersebut. 

Hal itu merupakan suatu penolakan terhadap keinginan dan kemauan beliau, atas kehendak sendiri, untuk memikul beban dosa orang-orang lain dan terhadap pendapat bahwa beliau menanti - nantikan saat kematian tersebut. Mengapa jeritan penderitaan ini terjadi jika hukuman tersebut memang diingini oleh diri beliau sendiri? Mengapa beliau harus mencela Tuhan, atau bahkan berdoa untuk pembebasan? Pernyataan Yesus itu hendaknya dibaca dalam konteks mengenai apa yang telah terjadi sebelumnya. Beliau telah berdoa panjang-lebar kepada Tuhan agar mengambil cawan pahit itu dari beliau.

Kami, sebagai Muslim Ahmadiyah, percaya bahwa terhadap Yesus yang merupakan seorang tokoh saleh dan suci, tidak mungkin Tuhan tidak mengabulkan doa beliau. Beliau tentu telah diberitahu bahwa doa itu telah dikabulkan. Saya tidak percaya bahwa beliau telah melepaskan nyawa beliau di tiang salib. Bagi saya, tidak ada kontradiksi, dan segala sesuatu berjalan dengan konsisten / tetap. Dugaan kematian beliau hanyalah kesan seorang pengamat yang bukan dokter dan bukan pula seorang yang pernah memperoleh kesempatan memeriksa beliau secara medis. 

Seorang penonton, menatap dengan gelisah dan prihatin kalau-kalau kematian merenggut nyawa guru yang ia cintai, hanya menyaksikan kepala yang terkulai letih dengan dagu yang menempel di dada Yesus. Dan orang itu menyatakan, " Dia telah menyerahkan nyawanya. " Namun, seperti yang telah kami uraikan sebelumnya, ini bukanlah suatu makalah untuk membahas tentang kualitas serta keautentikan pernyataan Bibel dari segi asli atau tidaknya, atau untuk memperdebatkan penafsiran - penafsiran yang dinisbahkan terhadapnya. Kita di sini hanya sedang meneliti falsafah dan dogma Kristen secara kritis, logis dan masuk akal.

Masalah yang timbul terlepas dari apakah Yesus telah pingsan atau telah mati yakni keterkejutan beliau yang sangat memilukan mengenai apa yang bakal terjadi saat itu, dengan kuat membuktikan bahwa beliau tidak mengharapkannya. Jika memang kematianlah yang beliau cari, maka keterkejutan yang beliau tampakkan itu sama sekali tidak tepat. 

Penafsiran kami sebagai, Muslim Ahmadi, Yesus terkejut hanya karena beliau telah dijanjikan pembebasan dari tiang salib oleh Tuhan sewaktu beliau memanjatkan per-mohonan - permohonan pada malam sebelumnya. Namun, Tuhan memiliki rencana lain Dia membuat Yesus tampak pingsan sehingga para pengawal yang bertugas akan terkecoh menganggap beliau telah mati, dan dengan demikian [mereka] menyerahkan tubuh beliau kepada Yusuf Arimatea, untuk disampaikan kepada sanak keluarga beliau. Keterkejutan yang kami dapati pada kata-kata terakhir Yesus Kristus juga dialami oleh Pilatus: "Sudah mati?" adalah tanggapannya ketika peristiwa kematian itu dilaporkan kepadanya ( Markus 15 : 44 )

Pilatus tentu telah memiliki banyak pengalaman dalam hal penyaliban selama menjabat sebagai Gubernur Judea, dan dia tentu tidak mengungkapkan keterkejutannya kecuali kepadanya telah diyakinkan bahwa sungguh janggal apabila kematian merenggut nyawa seorang korban penyaliban dalam waktu singkat yang hanya beberapa jam saja. Walaupun demikian dia mengabulkan permintaan untuk melepaskan jasad [Yesus] dalam suasana yang misterius. Oleh karena itulah Pilatus selamanya dituduh telah melakukan persekongkolan. Diperkirakan, atas pengaruh istrinya dia mengupayakan agar pelaksanaan hukuman terhadap Yesus berlangsung satu jam menjelang hari Sabat. Yang kedua, dia telah mengabulkan permintaan untuk melepaskan jasad [Yesus] walaupun terdapat kejanggalan pada laporan kematian Yesus. Keputusan Pilatus tersebut menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan Yahudi yang telah membuat petisi kepadanya dan menyampaikan keraguan serta kesangsian mereka tentang kematian Yesus ( Matius 27: 62-66 ).

Kita juga mendapatkan dari Bibel bahwa ketika tubuh Yesus diturunkan, kaki beliau tidak dipatahkan, sedangkan kaki dua orang pencuri yang disalib bersama beliau, telah dipatahkan untuk memastikan mereka telah mati ( Yahya 19 : 31, 32 ). Terpeliharanya Yesus seperti itu tentu telah membantu beliau selamat dari keadaan koma tersebut. Kita tidak dapat mengesampingkan sama sekali bahwa para prajurit tampaknya telah diperintahkan oleh beberapa utusan Pilatus untuk tidak mematahkan kaki Yesus Kristus. Mungkin hal itu telah dilakukan sebagai suatu tanda hormat bagi beliau dan warga Kristen yang tidak berdosa [saat itu].

Menurut Bibel, ketika lambung Yesus ditusuk, maka darah dan air segera mengalir keluar.
Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambungnya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. (Yahya 19:33,34).
Jika beliau sudah mati dan jantung beliau telah berhenti berdenyut maka tidak mungkin. terjadi peredaran darah secara aktif seperti itu yang mengakibatkan darah segera mengalir keluar. Paling tidak darah dan plasma yang membeku mungkin telah merembes secara pasif. Namun tidak demikian gambaran yang ditampilkan oleh Perjanjian Baru, justru dikatakan bahwa darah dan air segera mengalir keluar. 

Sejauh yang berkaitan dengan ungkapan tentang air, tidaklah mengherankan bahwa Yesus telah mengalami radang selaput dada ( pleurisy ) selama menjalani saat-saat yang sangat menderita dan menyakitkan selama penyiksaan di tiang salib. Juga, tekanan Penyaliban telah mengakibatkan penetesan dan radang selaput dada itu sehingga menimbulkan kantung-kantung air, yang dalam istilah kedokteran disebut wet pleurisy ( radang selaput dada basah ). Kondisi ini, yang pada sisi lain sebenamya berbahaya dan menyakitkan, tampaknya telah berubah menjadi berguna bagi Yesus, sebab ketika lambungnya ditikam maka radang selaput dada yang membengkak itu dengan mudah telah berperan sebagai bantal yang melindungi organ-organ dada dari tusukan langsung tombak. Air bercampur darah segera mengalir keluar disebabkan jantung yang masih aktif.

Bukti lain adalah sebagai berikut. Menurut keterangan Bibel, setelah tubuh Yesus diserahkan kepada Yusuf Arimatea, tubuh beliau segera dipindahkan ke sebuah pemakaman rahasia, sebuah kuburan yang ruangnya tidak hanya cukup untuk tubuh Yesus tetapi juga bagi dua orang pelayan untuk duduk dan mengurus beliau:
Lalu pulanglah kedua murid itu ke rumah. Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus. (Yahya 20:10-12).

Tidak hanya itu, kita juga mengetahui dari Perjanjian Baru bahwa sejenis ramuan rempah-rempah yang telah disiapkan saat itu, telah dibubuhkan pada luka-luka Yesus ( Tanya 19 : 39, 40 ). Ramuan rempah ini disiapkan oleh murid-murid Yesus, mengandung zat-zat yang dapat mengobati luka serta mengurangi rasa sakit dan sebagainya. Mengapa saat itu susah-payah mengumpulkan 12 jenis bahan langka untuk membuat ramuan tersebut?. Resep yang digunakan itu tertera di banyak buku kuno, misalnya buku kedokteran yang terkenal Al-Qanun oleh Bu Ali Sina. Jadi, apa perlunya saat itu untuk membubuhkan ramuan rempah pada tubuh yang sudah mati?. Hal itu baru akan masuk akal apabila para hawari memiliki alasan-alasan kuat untuk mempercayai bahwa Yesus telah diturunkan dalam kondisi hidup dari tiang salib, bukan mati.

Yahya satu-satunya hawari yang telah berusaha memaparkan keterangan tentang pengadaan dan pembubuhan ramuan rempah pada tubuh Yesus. Hal ini lebih lanjut mendukung fakta bahwa pembubuhan ramuan rempah pada mayat dianggap suatu hal yang sangat ganjil saat itu, yang tidak dapat dipahami oleh mereka yang percaya bahwa Yesus telah mati ketika ramuan tersebut dipakaikan. Untuk hal itulah Yahya telah memaparkan keterangan tersebut. Dia memaparkan bahwa hal itu dilakukan hanya karena merupakan tradisi Yahudi yang membubuhkan sejenis balsem atau ramuan pada jasad orang-orang mereka yang sudah meninggal.

Sekarang, ini merupakan fakta yang sangat penting untuk dicatat bahwa segenap ilmuwan modem yang telah melakukan penelitian di bidang ini sepakat bahwa Yahya bukan berasal dari kalangan Yahudi, dan dia telah membuktikannya melalui keterangannya itu. Telah diketahui secara pasti bahwa orang-orang Yahudi atau Bani Israil tidak pernah memakaikan ramuan dalam bentuk apa pun kepada jasad orang-orang mereka yang sudah meninggal dunia. Dengan demikian, para ilmuwan berpendapat bahwa Yahya tampaknya bukan berasal dari kalangan Yahudi, jika tidak, tentu dia tidak akan begitu naif tentang tradisi-tradisi Yahudi. Jadi, pasti ada alasan lain bagi hal itu.

Ramuan tersebut dipakaikan kepada Yesus adalah untuk menyelamatkan beliau dari kondisi mendekati maut. Penjelasan satu-satunya terletak pada fakta bahwa Yesus saat itu tidak diperkirakan akan mati oleh para hawari, dan tidak pula beliau benar-benar telah mati di tiang salib. Tubuh yang diturunkan itu pasti telah menampakkan tanda - tanda kehidupan yang positif sebelum ramuan tersebut dipakaikan. Jika tidak, hal itu jelas merupakan perbuatan sangat tolol, tidak beralasan, dan sia-sia, pada pihak orang-orang yang turut serta dalam perbuatan tersebut. Tidak mungkin orang-orang itu mempersiapkan ramuan ini seketika tanpa adanya pertanda yang kuat bahwa Yesus tidak akan mati di tiang salib, tetapi akan diturunkan dalam kondisi hidup dengan luka-luka yang sangat serius, sehingga sangat membutuhkan ramuan yang sangat mujarab untuk menyembuhkan.

Harus dicamkan baik-baik dalam ingatan bahwa lokasi kuburan tempat Yesus dibaringkan telah dirahasiakan secara ketat, yang hanya diketahui oleh beberapa murid beliau. Hal ini jelas-jelas dengan pertimbangan bahwa beliau masih hidup saat itu dan belum terlepas dari bahaya.

Mengenai apa yang telah terjadi dalam kubur, merupakan hal yang dapat diperdebatkan dari beberapa segi. Hal itu tidak dapat menampilkan pengujian yang kritis, dan tidak pula hal itu dapat membuktikan bahwa orang yang telah keluar dari situ benar-benar sudah mati dan kemudian telah dibangkitkan. 

Bukti satu-satunya yang kita miliki adalah kepercayaan orang - orang Kristen bahwa Yesus yang telah keluar dari kubur tersebut membawa tubuh sama yang telah mengalami penyaliban, memiliki tanda-tanda dan luka-luka yang sama. Jika beliau telah tampak berjalan dengan tubuh yang sama, maka kesimpulan logis satu - satunya yang dapat diambil adalah, beliau belum pernah mati saat itu.

Bukti lain yang menunjukkan keberlangsungan hidup Yesus adalah sebagai berikut.

Setelah tiga hari tiga malam beliau terlihat, tidak oleh khalayak umum, melainkan hanya oleh hawari (para murid) beliau. Dalam kata lain, oleh orang-orang yang beliau percayai. Beliau menghindari siang, dan hanya bertemu dengan mereka di balik kegelapan malam. Orang dapat mengambil kesimpulan secara aman dari keterangan Bibel bahwa beliau tampaknya berusaha keluar dari pusat bahaya dengan tergesa-gesa dan sembunyi - sembunyi.

Pertanyaannya adalah, jika beliau telah memperoleh hidup yang baru dan abadi setelah kematian pertama beliau, dan bakal tidak akan mengalami penderitaan lain, maka mengapa beliau bersembunyi dari para musuh beliau, yakni dari unsur-unsur penguasa dan masyarakat umum? Beliau seharusnya tampil di hadapan orang-orang Yahudi dan perwakilan Kerajaan Romawi serta mengatakan: "Ini saya, dengan kehidupan abadi, cobalah dan bunuhlah saya lagi jika kalian bisa, kalian tidak akan mampu." Namun, beliau memilih untuk tetap bersembunyi. Bukannya kepada beliau tidak dianjurkan agar tampil di hadapan umum, sebaliknya kepada beliau justru secara khusus dianjurkan agar menampakkan diri kepada dunia, tetapi beliau menolak dan terus jauh meninggalkan Judea sehingga tidak ada yang dapat mengejar beliau:
"Yudas, berkata kepadanya: Tuhan, apakah sebabnya maka engkau hendak menyatakan dirimu kepada kami, dan bukan kepada dunia?" (Yahya 14:22).
Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanannya. Tetapi mereka sangat mendesaknya, katanya: "Tinggallah bersama kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah ia untuk tinggal bersama dengan mereka. (Lukas 24:28,29).
Hal ini dengan sangat kuat menampilkan kasus seorang yang tidak abadi, yang tidak berada di luar jangkauan kematian ataupun luka bagi dirinya. Hal itu hanya membuktikan bahwa Yesus tidak mati dalam makna bahwa beliau telah terpisah dari unsur manusia yang ada dalam diri beliau, melainkan beliau tetap sama dalam kondisi alami beliau, apa pun itu, dan saat itu tidak ada kematian yang telah memisahkan diri lama beliau dari diri yang baru. Inilah yang kami sebut keberlanjutan hidup dalam pengalaman manusia. Suatu ruh yang hidup di dunia lain, sudah pasti tidak bersikap seperti Yesus bersikap selama pertemuan - pertemuan rahasianya di balik kegelapan malam dengan para sahabat dan pengikut-pengikut dekat beliau.

Masalah Yesus sebagai hantu, secara tegas bukannya ditolak oleh orang lain melainkan oleh Yesus sendiri. Ketika beliau tampil di hadapan beberapa hawari beliau, mereka tidak mampu menyembunyikan rasa takut mereka terhadap beliau, sebab mereka percaya bahwa itu bukanlah Yesus, melainkan hantunya Yesus. Yesus Kristus, yang memahami kesulitan-kesulitan mereka itu, telah menghalau rasa takut mereka dengan menyangkal diri sebagai hantu, serta menegaskan bahwa diri beliau adalah wujud Yesus yang sama yang telah disalib, dan bahkan beliau meminta mereka memeriksa luka-luka beliau, yang masih segar ( Yahya 20 : 19-27 ).

Kemunculan beliau di hadapan para murid beliau dan sebagainya, dalam makna apa pun tidak menyatakan kebangkitan beliau dari kematian. Semua itu secara jelas menyatakan telah selamatnya beliau dari kondisi yang mendekati mati.

Seolah-olah untuk menghapuskan kesalahpahaman yang mungkin masih tersembunyi dalam pikiran - pikiran mereka, beliau menanyakan apa yang sedang mereka makan. Ketika beliau diberitahu bahwa mereka sedang makan roti dan ikan, beliau minta sedikit, sebab beliau lapar, dan beliau memakannya sebagian ( Yahya 24 : 41, 42 ).

Hal ini secara meyakinkan merupakan sebuah bukti yang tidak diragukan sedikit pun yang membantah kebangkitan beliau dari kematian, yakni kebangkitan kondisi alami seorang manusia yang pernah mati satu kali dan dihidupkan kembali. Problema-problema yang timbul dari pemahaman hidupnya kembali Yesus Kristus semacam itu, akan jadi berlipat ganda.

Jika Yesus masih merupakan spesies tuhan-manusia, sebagaimana yang dida'wakan tentang diri beliau sebelum beliau disalibkan, maka tentu beliau tidak dapat menghindarkan unsur manusia dari dalam dirinya. Hal ini menampilkan situasi yang sangat rumit dan penuh permasalahan. Apa yang bisa dilakukan oleh kematian terhadap beliau, atau terhadap keduanya, yakni manusia dalam Yesus dan tuhan yang ada dalam dirinya? Apakah ruh manusia dan tuhan, keduanya tercabut bersama-sama dan kembali kepada tubuh kasar semula, setelah masuk neraka bersama-sama; atau apakah hanya ruh tuhan dalam diri Yesus saja yang kembali ke dalam tubuh manusia [Yesus] tanpa ruh manusianya? Di mana pula ruh tersebut menghilang, membuat orang bingung. Apakah perjalanannya ke neraka merupakan perjalanan tanpa kembali. sedangkan ruh tuhan dalam diri Yesus telah tertahan di sana hanya untuk tiga hari tiga malam? Apakah Tuhan merupakan bapak bagi manusia Yesus, ataukah bagi Yesus Sang Anak? Pertanyaan ini masih harus diselesaikan dengan tuntas untuk memberikan gambaran yang jelas bagi kita. Apakah tubuh Yesus itu sebagian merupakan tubuh Tuhan, dan sebagian lagi tubuh manusia?

Konsep tentang Tuhan yang kami peroleh dari penelaahan terhadap Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, adalah wujud gabungan yang tak terbatas, dengan zat yang tidak memiliki peran apa pun dalam penciptaan diri-Nya. Dengan memahami hal itu, mari kita simak kembali Yesus sebagaimana beliau melewati tahap-tahap pertumbuhan yang berbeda sebagai embrio dalam janin Maryam. 

Seluruh zat yang dipakai untuk membentuk Yesus berasal dan ibu manusia tanpa ada sedikit pun yang diberi dari Tuhan Bapak. Memang, Tuhan dapat saja menciptakan beliau secara mukjizat. Namun, dari sudut pandang saya, penciptaan.– secara mukjizat atau pun alamiah – tetap merupakan penciptaan. Kita hanya dapat mengakui seseorang sebagai bapak dari seorang anak apabila zat sang bapak dan zat sang ibu secara seimbang atau sebagian dimiliki [oleh si anak] sehingga paling tidak beberapa zat pada tubuh si anak berasal dari zat sang bapak.

Dari hal ini harus menjadi jelas bagi pembaca bahwa Tuhan tidak memainkan peran apa pun sebagai bapak dalam proses kelahiran embrio manusia, dan seluruh kesatuan tubuh itu dengan jantung, pernapasan, unsur, sel dan sistim saraf pusat, merupakan hasil dari seorang ibu sendiri tanpa bantuan lain. Di mana terletak unsur [tuhan] anak dalam diri Yesus, yang semata-mata wadah bagi ruh Tuhan dan tidak lebih dari itu? Pemahaman baru tentang hubungan antara Tuhan dan Yesus ini dapat secara pantas dinyatakan sebagai hubungan bapak-anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Akhlak (18) Bibel (6) Dakwah (38) Hak Azazi Manusia (13) Islam (24) Jihad (18) Kristen (19) Liberalisme (46) Mualaf (9) Muslimah (15) Natal (2) Orientalis (8) Peradaban (42) Poligami (10) Politik (29) Ramadhan (10) Rasulullah (22) Ridha (4) Sejarah (38) Tasawuf (24) Tauhid (17) Tawakal (3) Teroris (13) Trinitas (8) Yahudi (36) Yesus Kristus (34) Zuhud (8)