Manusia Yang Berbuat, Iblis Yang Disalahkan ..!?






Di Indonesia manusia korupsi, manusia menikmati zina, manusia selingkuh, manusia berjudi, manusia minum, manusia menumpuk harta riba, manusia berdusta, manusia menzalimi orang lain, dan bahkan membunuh, selalu yang disalahkan iblis.

Padahal manusia itu sendiri, yang sudah berubah menjadi iblis. Manusia yang wujudnya manusia itu, sejatinya sudah berubah menjadi iblis. Manusia yang raganya berbentuk sebagai mana yang ada, tetapi sifatnya dan karakternya sudah berubah menjadi iblis.

Segala tindakan dan perbuatan yang dilakukan, tak lain perbuatan iblis yang terkutuk. Tetapi, manusia tidak pernah menyadari, bahwa perbuatan yang dilakukannya itu, benar-benar perbuatan iblis.

Tak aneh. Dari waktu ke waktu di Indonesia, para pengikut iblis alias setan, bukan semakin sedikit, tetapi semakin banyak. Manusia berlomba-lomba menjadi pengikut iblis. Menikmati gaya hidup iblis. Menikmati kebiasaan iblis. Menikmati kesukaan iblis. Hidup bersama dengan komunitas iblis. Seraya merasa bahagia dengan para iblis.

Hidup dengan penuh kenistaan malah menjadi kebanggaan, dan manusia yang nista masih bisa menyombongkan diri. Lihat wajah-wajah para koruptor? Tidak ada nampak sedikitpun terbersit di wajah mereka, rasa penyesalan dan malu. Mereka tetap tertawa-tawa di depan kamera wartawan. Mereka memberikan keterangan dengan lancar. Tanpa ragu. Betapa nurani mereka sudah benar-benar mati.

Orang yang melakukan zina dengan perempuan, sesudah itu membunuh perempuan yang dizinai dengan dimutilasi, kemudian menzinai anaknya, dan membakar anaknya, tetapi tak nampak sedikitpun penyesalan atas perbuatannya. Tetap bisa bicara dengan lancar. Tak ada hambatan apapun berbicara. Artinya melakukan perbuatan terkutuk itu, sangat dinikmatinya, dan tidak merasa bersalah sedikitpun.

Begitu pula pejabat sudah gagal, korup, menzalimi rakyat, berdusta, tukang cari sensasi, tetapi masih berani mengumbar senyum. Ke mana-mana mengumbar senyum. Sudah jelas-jelas korup, masih berani menolak, dan tetap menganggap dirinya sebagai manusia suci. Lagi-lagi yang disalahkan iblis.

Di Indonesia kekuasaan iblis sudah sangat hegemonik. Kekuasaan iblis sudah sistemik. Merambah ke seluruh lini kehidupan. Tetapi, anehnya manusia masih belum merasa, bahwa dirinya menjadi iblis, bahkan masih merasa sebagai manusia suci.

Agama (Islam) yang disampaikan para ulama dan da'i, seperti masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Ibarat angin lalu. Tak berbekas. Tak ada sedikitpun atsarnya (bekasnya).

Semua orang berlari dan berlomba mengikuti jalan iblis, bukan jalan al-haq. Manusia-manusia yang sudah kalah dengan iblis. Manusia sudah mjenjadi budak iblis. Di Indonesia, jalan hidup iblis sudah mengalahkan manusia-manusia, yang rela dan ridho, tunduk dan patuh kepada iblis, bukan lagi kepada Rabbul Alamin.

Baginda Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, sudah mewanti-wanti,diakhir zaman memegang agama al-haq (al-Islam), diibaratkan seperti memegang bara api. Betapa beratnya. Tetap berkomitmen kepada al-haq seperti memegang bara api, dan Allah Azza Wa Jalla menjanjikan kemenangan.

Tetapi, hari ini betapa sedikitnya manusia yang yakin akan janji Allah Azza Wa Jalla, tetap istiqomah di jalan-Nya, berjuang diatas manhaj-Nya, dan menghadapi iblis dengan penuh ketegaran, dan tidak mau bertekuk lutut dihadapan para iblis terlaknat itu.
Disalin dari : voa-islam.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Akhlak (18) Bibel (6) Dakwah (38) Hak Azazi Manusia (13) Islam (24) Jihad (18) Kristen (19) Liberalisme (46) Mualaf (9) Muslimah (15) Natal (2) Orientalis (8) Peradaban (42) Poligami (10) Politik (29) Ramadhan (10) Rasulullah (22) Ridha (4) Sejarah (38) Tasawuf (24) Tauhid (17) Tawakal (3) Teroris (13) Trinitas (8) Yahudi (36) Yesus Kristus (34) Zuhud (8)